Skip to main content

PENJAJAH BERTOPENG HUMANIS

PENJAJAH BERTOPENG HUMANIS
_______
Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa lamanya bangsa ini dijajah oleh Belanda di antaranya disebabkan banyaknya pribumi yang bermental budak. Tanpa adanya pencerahan yang disampaikan oleh Para Pahlawan bangsa, mereka tidak mempunyai keberanian untuk menentang penjajah. Mereka akan tetap berada pada kondisinya yang tertindas di bawah telapak kaki Belanda. Apalagi mereka mencitrakan diri sebagai kaum yang humanis dan peduli kepada pribumi.

Bayangkan, tiga ratus lima puluh tahun lamanya bangsa ini diperas oleh Belanda. Sebuah rentang waktu yang tidak sebentar. Apabila kita hitung saja dengan perjalanan hidup seseorang, maka minimalnya itu sudah lebih dari tujuh keturunan. Berarti sudah tujuh generasi negeri ini dijajah.
Lalu kemana saja rakyat Indonesia selama itu? Tidak adakah perlawanan mereka terhadap Belanda? Sebenarnya ada perlawanan dari rakyat nusantara terhadap penjajah, tetapi jumlahnya hanya beberapa saja. Pribumi yang acuh dengan keadaan lebih banyak daripada mereka yang lantang menggelorakan semangat perlawanan.

Mereka yang tidak peduli pada umumnya, selain karena takut melawan, juga karena mempunyai prinsip ‘Siapa saja yang menjadi pemimpin yang penting bisa bekerja. Tidak peduli apakah itu orang asing, orang kafir, yang penting bisa memimpin.’ Apalagi dibuktikan bahwa Belanda mampu membangun infrastruktur berupa transportasi kereta api dan jalan raya.
Begitulah mental budak yang ada pada sebagian pribumi di masa lalu, yang membuat penjajah bisa bertahan lama mencengkeram Nusantara. Lebih-lebih, sebagian dari mereka ada yang menjadi pegawai Belanda, menjadi demang, yang diberikan tunjangan hidup olehnya. Tidak peduli Belanda itu asing, kafir, yang penting ia sudah mendapat pekerjaan darinya.
Saya tidak tahu, seandainya rakyat Indonesia yang saat ini hidup ditempatkan pada suasana penjajahan (fisik) dahulu, mereka akan berada di kubu siapa. Apakah di kubu Pangeran Diponegoro yang berani menentang kebijakan-kebijakan Belanda, atau justru di kubu penjajah, dengan alasan tidak apa-apa Belanda kafir juga, yang penting bisa bekerja.

Terlebih lagi, Belanda pada saat itu sudah mencengkeram kuat sebagian besar keraton di Nusantara, yang kala itu pemerintahan yang sah bagi pribumi. Andai orang Indonesia yang saat ini diposisikan pada zaman itu, adakah di antara mereka yang berani menentang kerajaannya, atau justru mereka bersikap lembek dengan alasan bahwa biar bagaimanapun juga Raja-raja itu adalah ulim amri yang sah dan wajib ditaati. Tidak peduli sekalipun keratonnya sudah menjadi kaki tangan penjajah.

Semua itu adalah imajinasi saya, yang terpantik dari sebuah realita, bahwa saat ini pun banyak orang yang tidak peduli dengan aturan kepemimpinan dalam Islam. Tidak masalah seseorang kafir ataupun bukan, yang penting bisa bekerja maka ia akan mendukungnya. Tidak peduli aseng, asing atau bukan, asalkan bisa memberi modal maka ia akan memuliakannya.
Seperti itulah mental budak yang menjangkiti sebagian pribumi. Tidak berani menentang, apalagi melawan. Asalkan masih bisa makan, masih bisa ibadah, siapapun pemimpinnya, kafir, asing, aseng ataupun bukan, maka ia akan menjadi kacung setianya. Andai saja dahulu negeri ini semua rakyatnya semacam itu, saya yakin Belanda tidak akan pernah hengkang seperti sekarang ini.

# Alumni212
# ReturnTheKhilafah
Cirebon, 13 Februari 2019
__________
___________
Alhamdulillah, Penulis telah selesai menyusun Naskah Buku yang berjudul "Ketika Kiai Dipertuhankan" (Fenomena Hancurnya Agama2 Samawi), Terbitan Al-Azhar Press, Bogor.
Untuk pemesanan dan bedah buku silahkan hubungi no. 0817 011 7771

Comments

Popular posts from this blog

Tulisan bantahan Syaikh Utsman Bakhasy (Hizbut Tahrir) atas tulisan tanggapan pengasuh situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid (Ulama Salafi)

 Tulisan bantahan Syaikh Utsman Bakhasy (Hizbut Tahrir) atas tulisan tanggapan pengasuh situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid (Ulama Salafi) -------------- *Pemberontakan Muhammad bin Abdul Wahab dan Keluarga Saud Terhadap Negara Khilafah Utsmani* Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dengan sebenar-benarnya pujian atas kebaikan dan berkah-Nya, yang tak terhingga jumlahnya, memenuhi langit dan bumi, serta semua yang ada. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasul yang diutus dengan membawa rahmat untuk seluruh alam, yaitu Muhammad bin Abdillah, keluarganya, para sahabatnya, serta siapa saja yang senantiasa setia dan mengikutinya denga cara yang baik hingga hari kiamat. Waba’du. Dalam situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid terdapat sebuah pertanyaan: “Apakah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab memberontak terhadap Khilafah Utsmaniyah, dan menjadi pen...

π“π€π“πŠπ€π‹π€ πƒπ€π‹πˆπ‡-πƒπ€π‹πˆπ‡ ππ„πŒπ„π‘πˆππ“π€π‡ π”ππ“π”πŠ πŒπ„πŒππ”ππ€π‘πŠπ€π π‡π“πˆ π“π„π‘ππ€π“π€π‡πŠπ€π

 π“π€π“πŠπ€π‹π€ πƒπ€π‹πˆπ‡-πƒπ€π‹πˆπ‡ ππ„πŒπ„π‘πˆππ“π€π‡ π”ππ“π”πŠ πŒπ„πŒππ”ππ€π‘πŠπ€π π‡π“πˆ π“π„π‘ππ€π“π€π‡πŠπ€π https://www.facebook.com/joko.prasetyo.457609/posts/pfbid02qjxJndqbLy1EpcAYSitShA3dEcmucHZZEdJwKAbXKHv264jz4oDxxhkF5KVQiEgwl . Sesaat setelah Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengumumkan rencana pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia, sontak saja HTI langsung menjadi β„Žπ‘’π‘Žπ‘‘π‘™π‘–π‘›π‘’ di berbagai media massa baik televisi, cetak, radio maupun portal berita daring dan menjadi buah bibir berbagai kalangan masyarakat baik pro maupun kontra.  . “Pemerintah perlu mengambil langkah–langkah hukum secara tegas untuk membubarkan HTI," ujar Wiranto saat jumpa pers, Senin, 8 Mei 2017 di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat. Saat membacakan keputusan tersebut, Wiranto memaparkan tiga alasan pembubaran. .  Ketiga alasan pembubaran tersebut dinilai Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto tidak memiliki dasar sama sekali.  . “...

Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah

 Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah Penulis: Ustaz Yuana Ryan Tresna Muslimah News, SYARAH HADIS — Hadis yang mengabarkan berita gembira tentang kembalinya Khilafah sangatlah banyak. Tidak benar bahwa hadis bisyarah nabawiyyah (kabar gembira kenabian) akan datangnya Khilafah hanya didasarkan pada hadis riwayat Imam Ahmad. Masih banyak hadis lain yang secara makna sejalan dengan hadis tersebut. Misalnya hadis riwayat Muslim, Ahmad, dan Ibnu Hibban tentang khalifah di akhir zaman yang akan “menumpahkan” harta yang tidak terhitung jumlahnya; hadis tentang akan datangnya Khilafah di Baitulmaqdis (HR Abu Dawud, Ahmad, ath-Thabarani, al-Baihaqi); juga hadis tentang kekuasaan umat Nabi Muhammad yang akan melingkupi dari timur hingga barat (HR Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud). Hadis-hadis ini didukung banyak hadis lain dengan makna yang sama, seperti masuknya Islam ke setiap rumah, al-waraq al-mu’allaq, hijrah setelah hijrah, penaklukan Kota Roma, dan seterusnya. Makna hadis kembalinya Khil...