Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2019

DI ERA FOUNDING FATHERS, PANCASILA TERNYATA BUKAN HARGA MATI

Propaganda “kefinalan dan kehargamatian Pancasila dan NKRI” adalah propaganda a historis, sarat dengan nuansa politis, serta sikap berlebih-lebihan terhadap Pancasila dan NKRI. +++ . DI ERA FOUNDING FATHERS, PANCASILA TERNYATA BUKAN HARGA MATI . . Siapa saja yang menelusuri sejarah Pancasila dan NKRI di kala para founding fathers-nya masih berkuasa, niscaya ia akan berkesimpulan bahwasanya keduanya bukanlah harga mati. . Sejarah ini berawal tatkala pemerintah Jepang meminta tokoh-tokoh nasional membentuk Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (Dokuritsu Zumbiy Tioosakai). Dalam waktu yang singkat, dibentuklah BPUPKI yang diketuai oleh Dr. KRT Rajiman Widyodiningrat. . BPUPKI segera bersidang dengan agenda merumuskan dasar negara. Pada Sidang BPUPKI I, 29 Mei 1945, diketengahkan rumusan dasar negara versi Mr Mohammad Yamin. Pada 31 Mei dibacakan rumusan dasar negara oleh Mr Soepomo. Baru pada 1 Juni 1945, Soekarno menyampaikan pandangan-pandangannya mengenai d...

KEADILAN ISLAM MENGINTEGRASIKAN PAPUA

Syariah Islam akan menjaga keamanan dan menjamin kesejahteraan rakyat tanpa pandang bulu; tidak melihat suku, bangsa, warna kulit maupun agama. Kebijakan politik ekonomi Islam berlaku sama untuk menjamin pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan setiap individu rakyat; juga menjamin pendidikan dan kesehatan gratis bagi seluruh rakyat. +++ . KEADILAN ISLAM MENGINTEGRASIKAN PAPUA (Yahya Abdurrahman, pengamat politik) . . Organisasi Papua Merdeka terus meningkatkan eksistensinya. Jika dulu mereka bergerak di luar negeri, kini mereka berani secara terang-terangan membuka kantor di dalam negeri. Sayangnya, reaksi pemerintah tak memadai. . Seberapa seriuskah OPM? Mengapa mereka begitu berani? Untuk mengungkapkanya wartawan Tabloid Media Umat Joko Prasetyo mewawancarai pengamat politik Yahya Abdurrahman. Berikut petikannya. . . BAGAIMANA TANGGAPAN ANDA DENGAN PEMBUKAAN KANTOR UNITED LIBERATION MOVEMENT FOR WEST PAPUA (ULMWP) DI PAPUA? . Itu setidaknya mengindikasikan empat ...

KHILAFAH AJARAN ISLAM, LEGAL UNTUK DISYIARKAN

KHILAFAH AJARAN ISLAM, LEGAL UNTUK DISYIARKAN . . Setiap aktivitas yang seorang hamba lakukan wajib terikat dengan hukum syara’. Baik dalam aspek pendidikan, ekonomi, muamalah, maupun bernegara; Islam memberikan perintah, larangan, maupun batasan-batasan. Termasuk di dalamnya adalah bentuk institusi dan sistem pemerintahan negara itu sendiri. . Rasulullah SAW telah mewariskan sistem yang wajib umat Islam adopsi karena hanya dengan sistem itulah, seluruh hukum syara’ yang Allah perintahkan dapat terwujud dengan sempurna. Sistem itu bernama Khilafah, dan wajib untuk diperjuangkan oleh umat Islam sekalian. . Khilafah akhir-akhir ini menjadi buah bibir masyarakat Indonesia dan dunia, bahkan terakhir disebutkan dalam pembacaan Ijtima' Ulama ke IV, 5 Agustus 2019. Walaupun kini cita-cita pendiriannya dikriminalisasi dengan sedemikian rupa. Organisasi penyerunya didiskriminasi, ulama dipersekusi dan lain sebagainya. Namun semuanya itu tidak mampu membalikkan fakta bahwa Khilafah a...

PAPUA MEMBARA JOKOWI FOYA-FOYA ?

PAPUA MEMBARA JOKOWI FOYA-FOYA ? Oleh : Nasrudi Joha Ditengah ketidakjelasan sikap Pemerintah terhadap isu Papua, semakin meningginya tuntutan Papua dari referendum hingga penyelesaian melibatkan internasional, muncul kabar Jokowi mau beli mobil baru. Pengadaan mobil dinas baru yang diajukan sejak Maret itu, untuk menteri kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo yang bahkan anggarannya mencapai angka Rp 147 miliar. Saat ditanya wartawan ihwal Papua, Jokowi aa uu, hanya menyatakan untuk saling memaafkan. Miskin solusi. Videonya beredar luas, banyak yang 'gemes' menonton video wawancara ini. Padahal, sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan, bahkan dalam konstelasi sistem presidensil, Jokowi memiliki wewenang luar biasa besar dan dapat menyelesaikan persoalan Papua dengan kewenangannya itu. Kalau yang ditanya wartawan itu Nasjo dan Nasjo miskin solusi, wajar saja karena Nasjo tak punya kekuasaan. Geng pendukung Jokowi, baik dari partai atau kelompok kepenting...

IRONI INFRASTRUKTUR

IRONI INFRASTRUKTUR Akhirnya, ada juga yang berterus terang seperti ini. Dan dia adalah Gubernur Papua, disampaikan di acara yang banyak menarik minat pemirsa : Mata Najwa! Konyolnya lagi : Najwa Shihab yang selama ini dikenal sebagai jurnalis cerdas yang suka menyudutkan tamu yang diundangnya, ternyata sudut pandangnya terhadap pembangunan infrastruktur di era pemerintahan Jokowi ini, tidak jauh beda dengan cara pandang para "kecebong", pendukung Jokowi yang kerjanya hanya memuja-muji infrastruktur tanpa paham apakah membawa nilai tambah yang signifikan atau tidak, masyarakat sekitar merasakan manfaatnya dan menikmati hasilnya atau tidak. Najwa sempat 2x mencecar Gubernur Papua soal apakah pembangunan infrastruktur itu tidak cukup bagi masyarakat Papua. Dan jawaban telak Gubernur Papua seharusnya membuat Najwa malu dengan cara berpikirnya yang pendek : bangunkan infrastruktur, maka rakyat akan senang, puas! Pak Gubernur blak-blakan bahwa warga Papua sendiri TIDAK ...

HUJJATUL ISLAM ABU HAMID AL-GHAZALI ASY-SYAFI'I (W. 505 H)

*13. HUJJATUL ISLAM ABU HAMID AL-GHAZALI ASY-SYAFI'I (W. 505 H):* _"Penjelasan Tentang Wajibnya Mengangkat Khalifah*_ _Tidak sepatutnya anda mengira bahwa kewajiban mengangkat Khalifah bersumber dari akal. Sungguh kami telah menjelaskan bahwa kewajiban tersebut bersumber dari Syara'. Hanya saja itu bisa ditafsirkan bahwa yang wajib adalah perbuatan yang di dalamnya ada manfaat dan meninggalkannya akan menyebabkan madharat. Pada yang demikian itu tidak diingkari akan wajibnya mengangkat Khalifah, karena di dalamnya memang ada manfaat dan mencegah madharat di dunia. Akan tetapi kami hendak menegaskan dalil syara' yang qath'i (pasti) atas kewajiban tersebut, tanpa mencukupkan diri dengan ijma' umat di dalamnya. Bahkan kami mengingatkan bagi orang yang bersandar pada ijma', kami katakan: sistem agama (Islam) secara pasti merupakan tujuan daripada diutusnya Rasulullah (shahibusy syara'), ini adalah proposisi yang kebenarannya pasti yang tidak mungkin ad...

PERLUKAH UAS MEMINTA MAAF ?

PERLUKAH UAS MEMINTA MAAF? Tadi pagi, di tempat tongkrongan driver online. Komunitas kami terbentuk dari berbagai etnis. Ada bermacam suku dan bermacam agama di dalamnya. Saat menunggu orderan masuk, sambil minum pagi. Seorang teman Nasrani berkata. "Kena laporin juga UAS ya. Itulah, harusnya kita saling menjaga omongan. Jangan sampai menyinggung umat beragama. Akhirnya kena laporkan juga kan." Saya paham, maksud teman ini ingin mengajak diskusi atas permasalahan UAS. Sebagai umat kristiani, dia pasti merasa pilu atas perkataan UAS. Sata letakkan hp dan mulai menanggapinya. "Jadi, UAS salah menurut mu?" "Jelas lah, perkataannya itu yang salah. Gak pantas seorang ulama memberikan kata2 seperti itu" Saya memberikan ilustrasi pada dirinya. Misal, saya dan teman berbicara bahasa Minang. Dimana bahasa Minang itu, kamu mengerti artinya. Saat saya berkata "ciek, duo, tigo, Ampek dan limo...", Kamu protes pada saya. Kamu bilang, seharusny...

TAK USAH KAU AJARI KAMI UNTUK MELINDUNGI ORANG KAFIR!

TAK USAH KAU AJARI KAMI UNTUK MELINDUNGI ORANG KAFIR! Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani Orang-orang liberal memang suka mencari sensasi, ingin selalu tampil beda dengan yang lainnya. Di saat mayoritas umat Islam semangat mendakwahkan kebenaran Islam, mereka justru menyatakan bahwa semua agama sama. Ketika umat Islam meyakini akan kekafiran orang-orang di luar agamanya, mereka justru bersuara bahwa tidak ada orang kafir di Indonesia. Secara psikologis mereka tampak jumawa, seolah merekalah yang mempunyai intelektualitas di atas rata-rata. Merasa paling paham sejarah, paling mengerti dalil-dalil syara’ dan paling mumpuni memahami kontekstualitas yang ada. Hal tersebut paling tidak bisa dilihat dari sikapnya yang keras kepala, anti kritik dan merasa paling toleran dengan pandangannya. Siapa saja yang berani mengkritik keputusan mereka akan disebut juhala, tak peduli sekalipun yang mengkritik juga adalah para senior sendiri di organisasinya. Lebih lucunya lagi, mereka yang ingin sel...

TUKANG FITNAH ITU BUKAN AHLUSSUNNAH WALJAMA'AH

TUKANG FITNAH ITU BUKAN AHLUSSUNNAH WALJAMA'AH Peringatan Keras Kepada Para Pendusta Dan Tukang Fitnah Dengan Melemparkan Tuduhan Jahat Lagi Keji Terhadap Hizbut Tahrir Dan Para Syababnya. Seperti Hizbut Tahrir Mengingkari Qodar, Takdir, Qodho-Qodar, Azab Kubur, Membolehkan Neraba-Raba Dan Mencium Wanita Bukan Mahrom, Hizbut Tahrir Didanai Oleh Negara Kafir Inggris, Dan Seterusnya. Bismillaahir Rohmaanir Rohiim Kita telah meyakini, bahwa Ahlussunnah Waljama’ah ala Rasulillah SAW dan sahabatnya adalah Firqah Nâjiyah (kelompok yang selamat dari neraka), dimana mengenai mereka, Muhammad bin Abdul Karîm bin Abu Bakar Ahmad Asysyahrastani dalam kitabnya, Almilal Wannihal, menuturkan : Akhbaro Annabiyyu ... ﺃَﺧْﺒَﺮَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓُ ﻭَﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ : ﺳَﺘَﻔْﺘَﺮِﻕُ ﺃُﻣِّﺘِﻲ ﻋَﻠَﻰ ﺛَﻼَﺙٍ ﻭَﺳَﺒْﻌِﻴْﻦَ ﻓِﺮْﻗَﺔً ، ﺍَﻟﻨَّﺎﺟِﻴَﺔُ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٌ ، ﻭَﺍْﻟﺒَﺎﻗُﻮْﻥَ ﻫَﻠْﻜَﻰ . ﻗِﻴْﻞَ : ﻭَﻣَﻦْ ﺍَﻟﻨَّﺎﺟِﻴَﺔُ ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﺃَﻫْﻞُ ﺍﻟﺴُّﻨَّﺔِ ﻭَﺍْﻟﺠَﻤَﺎﻋَﺔِ . ﻗِﻴْﻞَ : ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻫْﻞُ ﺍﻟﺴُّﻨَّﺔ...

REFERENDUM PAPUA, BANSER SOLUSINYA!

REFERENDUM PAPUA, BANSER SOLUSINYA! _______ Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani NKRI Harga Mati. Itulah slogan yang selalu diulang-ulang oleh Banser NU. Artinya, tidak boleh sejengkal pun tanah di wilayah Kesatuan Indonesia terlepas darinya. Dari Sabang sampai Merauke harus benar-benar dipertahankan dengan sekuat tenaga, tidak boleh ada yang melepaskan diri, karena NKRI Harga Mati. Gerakan Referendum untuk Papua jelas-jelas sedang coba memisahkan wilayah tersebut dari Indonesia. Padahal sudah berkali-kali disampaikan, bahwa NKRI Harga Mati. Sayangnya, sepertinya OPM tetap menutup telinga dengan slogan itu, sehingga tetap saja mereka ngotot ingin memisahkan bumi Papua dari Indonesia. Sepertinya ada yang aneh dari mereka, gerakan Papua Merdeka, bukankah Jokowi sudah mensejahterakan mereka, sehingga di Pemilu periode kedua ia menang telak lagi di sana. Itu artinya masyarakat Papua puas dengan kinerja kepemimpinan Jokowi. Tapi kenapa mereka masih menuntut referendum, memisahkan diri dar...

PAPUA MEMBARA, MAHFUD MD KOK BUNGKAM ?

PAPUA MEMBARA, MAHFUD MD KOK BUNGKAM ? Oleh : Nasrudin Joha NKRI dirongrong di Papua, Pancasila dilecehkan di Papua, sang Saka Merah Putih di bakar di Papua. Hanya, saya merasa terheran-heran kenapa Begawan BPIP semua bungkam ? Mana suara Megawati ? Mana suara Try Sutrisno ? Mana suara Syafii Maarif ? Mana suara Said Aqil Siradj ? Mana suara Ma'aruf Amin ? Mana suara Sudhamek ? Mana suara Andreas Anangguru Yewangoe ?Mana suara Wisnu Bawa Tenaya? Dan yang lebih penting MANA SUARA BEGAWAN BPIP PALING GIGIH, MAHFUD MD ? Kalau urusan umat Islam, bendera tauhid, syariah Islam, mereka ini paling cerewet berkomentar. Syafi'i Ma'arif yang sudah udzur saja, nyinyir kepada wacana NKRI bersyariah, apalagi Mahfud MD. Tuding dana dari Arab ke pesantren untuk radikslisme, tuding pesantren di Jogja dan Magelang radikal. Tapi giliran di Papua, kok Ga ada satupun kalimat Twitt Mahfud yang membara menyebut OPM radikal ? Lantas, apa solusi Pancasila untuk mengatasi masalah separatis...

NESTAPA PAPUA KARENA KAPITALISME

NESTAPA PAPUA KARENA KAPITALISME . Oleh : Agung Wisnuwardana . Benny Wenda (Tokoh Papua Merdeka) mengatakan kepada The Guardian, Senin (12/8/2019), bahwa pelanggaran HAM dan penindasan sipil yang saat ini merusak provinsi Papua Barat adalah "kanker di kanker di dalam hati orang-orang Pasifik" . Ungkapan Wenda disampaikan menjelang pertemuan Forum Kepulauan Pasifik yang akan mengangkat isu HAM dan Papua Merdeka . Tak berselang lama kemudian muncul kerusuhan di asrama mahasiswa Papua, Jalan Kalasan No.10, Surabaya, Jawa Timur pada Jumat (16/8/2019) sore . Isu yang mencuat di publik adalah rusuh di Surabaya bernuansa rasis karena adanya teruakan "mahasiswa Papua monyet" . Dan kemudian hari senin (19/8/2019) terjadi kerusuhan di Manokwari yang berujung pada pembakaran kantor DPRD dan bendera merah putih . Kejadian-kejadian tersebut seperti berurut dan ada nuansa pengkondisian . Dan ini sangat terkait dengan proses internasionalisasi isu HAM dan Papua Me...

ISLAM SEBAGAI MABDA’ (IDEOLOGI

ISLAM SEBAGAI MABDA’ (IDEOLOGI) Pendahuluan Disadari atau tidak, pengertian “agama” yang dipahami masyarakat luas saat ini adalah “agama” dalam pengertian Barat yang sekularistik. Agama dalam kamus Barat, hanya menyangkut hubungan privat antara manusia dengan Tuhan, dan tidak berhubungan dengan seluruh aspek kehidupan manusia. Kalaupun mengatur hubungan antar manusia, agama hanya mengatur pada aspek yang terbatas, misalnya ibadah ritual (worship) dan akhlak (moral), tidak mengatur seluruh aspek kehidupan secara total dan menyeluruh (Abdul Aziz Thaba, Islam dan Negara dalam Politik Orde Baru, Jakarta : GIP, hal. 33). Para intelektual Barat, dalam mendefinisikan agama, kadang dipengaruhi oleh latar belakang mereka yang beragama Kristen, di samping tentunya terpengaruh paham sekularisme. Misalnya, Emile Durkheim dalam bukunya Les Formes Elementaries de La Vie Religiese [Bentuk-Bentuk Elementer dalam Kehidupan Beragama], mengatakan : “Religion is an interdependant whole composed o...

Kalau Syariah Sudah Ada Dalam Pancasila, Kok Menolak Islam Diterapkan

Kalau Syariah Sudah Ada Dalam Pancasila, Kok Menolak Islam Diterapkan ? Oleh: Zainab Ghazali Baru-baru ini Menhan Ryamizard Ryacudu mengatakan, nilai-nilai syariat Islam sudah tertuang dalam sila pertama Pancasila, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Menurutnya, Pancasila merupakan kompromi yang sudah final antara kelompok Islam, kelompok nasionalis, dan kelompok kebangsaan. Bahkan katanya, para kyai dan ulama pejuang bangsa yang mengajukan penerapan syariah dalam Piagam Jakarta pun menyepakati bahwa sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa sudah sama dengan syariah Islam. Dengan demikian menurut Menhan, umat Islam mempunyai hak menjalankan keyakinan agamanya tanpa perlu mendiskriminasi keyakinan agama lain. Di titik inilah katanya, menjalankan Pancasila sama dengan mempraktikan syariat Islam dalam konsep hidup berbangsa dan bernegara. Sehingga tidak ada sikap intoleransi dalam kehidupan berbangsa, atas nama suku, agama, dan lain-lain. Begitu katanya. Nampaknya, Pak Menhan dan para t...