Jawaban atas Syubhat: "Bagaimana keabsahan Khilafah Abbasiyah, Utsmaniyah, dan Khilafatul Muslimin?" Pertanyaan Abu Jaysh tersebut sekilas tampak ilmiah, tetapi sebenarnya mencampuradukkan beberapa kasus sejarah yang sama sekali berbeda. #Pertama, Khilafah Abbasiyah di bawah Bani Buwaih dan Seljuk Khilafah Abbasiyah tetap merupakan Daulah Islam yg telah berdiri berabad2 sebelumnya. Ketika kekuatan politik khalifah melemah dan sebagian kekuasaan militer berada di tangan Bani Buwaih atau Seljuk, yg diperdebatkan para ulama adalah apakah kekuasaan khalifah menjadi lemah atau terbatas, bukan apakah khilafahnya masih memiliki daulah. Faktanya: tetap ada khalifah, tetap ada wilayah kekuasaan, tetap ada Baitul Mal, tetap ada para qadhi, tetap ada pengangkatan gubernur, tetap ada administrasi negara, tetap ada hubungan internasional. Jadi persoalannya adalah khalifah yang lemah di dalam sebuah negara yang tetap eksis, bukan khalifah tanpa negara. Ini sangat berbeda dengan mengklaim...
PEMIKIRAN TJOKROAMINOTO TENTANG KHAL1FAH Banyak yang mengira isu Khilaf4h di Indonesia baru ramai dibicarakan belakangan. Padahal, lebih dari 100 tahun lalu, H.O.S. Tjokroaminoto telah membahasnya secara serius. Bagi Tjokroaminoto, Khilaf4h bukan sekadar simbol keagamaan, melainkan menyangkut arah politik dan persatuan umat Islam. 1. Tahun 1924 menjadi titik guncangan besar bagi dunia Islam. Pada 3 Maret 1924, Khil4fah Utsmaniyah resmi dihapus oleh pemerintah Turki. Bagi banyak Muslim saat itu, peristiwa ini bukan sekadar pergantian sistem pemerintahan. Ini dipandang sebagai hilangnya simbol persatuan dan otoritas politik terakhir umat Islam di tingkat global. 2. Bahkan sebelum runtuh, Khilaf4h Utsmaniyah masih memiliki pengaruh simbolik yang kuat. Meskipun secara politik melemah, banyak Muslim di luar wilayah Utsmaniyah tetap menaruh loyalitas moral kepadanya. Mengapa? Karena Kh1lafah dipandang sebagai lambang kedaulatan Islam yang masih bertahan di tengah dominasi kolonial Barat...