Sunday, March 15, 2026

TELAAH KITAB TAKATTUL HIZB PART 4 : TATSQIF SANG LABORATORIUM SPIRITUAL

 TELAAH KITAB TAKATTUL HIZB PART 4 : TATSQIF SANG LABORATORIUM SPIRITUAL 


Perubahan sejati tidak lahir dari gemuruh massa yang menggelegar dalam satu malam, lalu surut ditelan fatamorgana. Ia adalah anak kandung kesabaran, disusui oleh ketekunan, dan dibesarkan dalam disiplin yang ketat menapaki tahapan-tahapan yang terukur. Seperti dahulu Sang Nabi membangun peradaban berdasarkan tuntunan wahyu dari kesunyian gua Hira, lalu rumah Arqam bin Abi Arqam, kebangkitan masa kini pun harus menyusuri labirin yang sama, sebuah rekonstruksi sistematis mengikuti jejak langkah Rasulullah SAW yang penuh hikmah.


Marhalah Pertama: Tatsqif – Kawah Candradimuka Para Pelayan Umat


Di sini, di ruang yang sunyi dari gemerlap dunia, dimulailah proses kimiawi spiritual yang paling rahasia dan menentukan. Ini bukan sekadar pengajian, melainkan pembentukan “Sel Pertama” (Halaqah Ula), sebuah nukleus kehidupan baru. Bayangkan sebuah laboratorium tersembunyi di mana unsur-unsur jiwa yang masih terpapar karat jahiliyah modern : sekulerisme, materialisme, demokrasi dan nasionalisme, diolah dalam reaktor iman dan ilmu.


Tujuannya satu, mencetak manusia baru. Bukan manusia dengan sertifikat kelulusan biasa, melainkan manusia dengan Syakhshiyah Islamiyah (Kepribadian Islam) yang utuh. Sebuah kepribadian yang bagai batu intan, terbentuk di bawah tekanan dan suhu tinggi, dengan setiap sisinya memantulkan cahaya aqidah yang kokoh, ibadah yang tulus, akhlaq yang mulia, dan pemikiran yang jernih.


Dalam laboratorium yang steril ini, tidak boleh ada kontaminan. Udara yang dihirup harus murni dari oksigen tauhid. Setiap konsep yang masuk diperiksa di bawah mikroskop naqli dan aqli. Racun-racun pemikiran seperti demokrasi yang menuhankan suara manusia, nasionalisme sempit yang memecah-belah ukhuwah, atau sekularisme yang mengasingkan agama dari kehidupan, harus disingkirkan bagai menyaring virus mematikan. Sel yang terkontaminasi, jika tidak dapat dimurnikan, harus diisolasi. Sebab, satu sel yang sakit berpotensi merusak seluruh organisme pergerakan di masa depan.


Keberhasilan tahap ini bukan diukur oleh jumlah massa yang berkumpul atau gegap gempita orasi. Ia terlihat ketika seorang kader telah mencapai kematangan berpikir yang membuatnya mampu “terbang di atas awan”. Dari ketinggian itu, ia melihat dunia bukan dengan pandangan reaktif dan emosional, melainkan dengan pandangan strategis dan mendalam. Ia memahami akar penyakit umat, bukan hanya gejalanya. Hawa nafsu pribadi telah tunduk pada visi pelayanan. Ia tidak lagi mencari posisi, tetapi mempersiapkan diri menjadi pelayan umat yang ikhlas seperti akar pohon yang menghujam ke bumi, tak terlihat, tetapi menghidupi setiap dahan, daun, dan buahnya.


Dari rahim Halaqah Ula inilah, sel-sel baru yang telah dimurnikan dan diperkuat itu siap untuk membelah, berkembang biak, dan secara organisme membentuk jaringan. Mereka adalah benih-benih dari sebuah pohon besar yang kelak akan rindang, bernama Marhalah Tasqif (Pembinaan). 


Tahap di mana sel-sel yang telah sempurna itu mulai menyusun diri menjadi organ, menyusun kerangka, dan akhirnya mewujud menjadi sebuah jasad hidup yang siap bergerak, berjuang, dan mengubah wajah zaman.


Editorial Rumah Tsaqofah | Dirancang untuk: Kesadaran Umat

Epstein File Menelanjangi Peradaban Barat

 Epstein File Menelanjangi Peradaban Barat 


Sebuah nama mengguncang dunia, Jeffrey Epstein. Sebuah pulau menjadi simbol. Ratusan dokumen tersebar.

Apakah ini sekadar skandal seks terbesar abad ini, kisah para elit yang bermain di balik pintu tertutup? Atau adakah yang lebih gelap dan lebih dalam yang sedang tersingkap?


Mereduksi kasus Epstein hanya sebagai “skandal moral” atau jaringan penyimpangan adalah kesalahan fatal. Ini bukan lagi tentang individu-individu yang rusak. Ini adalah tentang sebuah peradaban yang sedang menelanjangi dirinya sendiri.


Bayangkan. Foto-foto, kesaksian, fakta yang melibatkan politisi puncak, taipan keuangan, raja media, dan intelektual ternama, semua terjerat dalam lingkaran pelecehan terhadap anak-anak. Apakah ini penyimpangan? Tidak. 


Dalam sistem yang telah lama memisahkan manusia dari fitrahnya, yang menjadikan kebebasan tanpa batas sebagai tuhan baru, ini adalah manifestasi yang logis. 


Mereka bukan anomali. Mereka adalah representasi sistem itu sendiri. Mereka adalah para pemimpin, pembawa panji, dan pengambil keputusan dari peradaban yang kini terbukti busuk.


Barat tidak sedang mengalami krisis moral. Barat membangun rumah peradabannya di atas puing-puing moral. Agama disingkirkan, nilai-nilai kesakralan dicabut, keluarga dianggap belenggu. Ketika kebebasan dilepaskan dari agama dan fitrah, yang lahir bukan manusia merdeka, melainkan monster tanpa kendali.


Maka, jangan heran Kejahatan Epstein sepenuhnya selaras dengan sistem yang melegalkan penyimpangan, memasarkan dekadensi, dan memandang semua batas sebagai “kebiadaban”. Sebuah peradaban yang gemar menuduh, sambil menyembunyikan mayat di lemari besinya sendiri.


Dan ironi paling pahit? Merekalah yang tangannya tercemar noda keji, yang paling lantang berpidato tentang “hak asasi manusia”, “perlindungan anak”, dan “pemberdayaan perempuan”. 


Merekalah yang mendanai gerakan-gerakan di negeri-negeri Muslim, untuk mencabut identitas kita, merusak fitrah generasi muda kita, dan meruntuhkan benteng nilai Islam dalam jiwa kita. Ini bukan kemunafikan biasa. Ini adalah peperangan peradaban yang berlanjut.


Dan wajah apakah ini?

Ini Wajah yang sama dari peradaban yang membakar Gaza, mendukung pendudukan, melegalkan pembantaian, dan memberi para pembunuh perlindungan politik dan hukum. Dari pulau Epstein ke Gaza, dari pesta pora tersembunyi ke pemboman terbuka, benang merahnya satu yaitu sebuah peradaban tanpa nurani.


Lalu, di tengah terbukanya semua kebusukan ini, pertanyaannya bukan lagi “Apa yang harus dilakukan Barat?”. 


Pertanyaan yang harus kita gumamkan pada diri kita sendiri adalah: “Apa yang akan KITA lakukan?”


Kita, umat Islam. Pemilik warisan peradaban teragung. Pemegang proyek peradaban final yaitu Khilafah. 


Sebuah sistem yang mendefinisikan ulang manusia, mengaitkan kebebasan dengan penghambaan kepada Allah, martabat dengan tanggung jawab, dan kekuatan dengan keadilan.


Solusi itu tidak kurang. Ia ada, lengkap dan sempurna. Yang kurang adalah kemauan dan keputusan untuk bangkit dan menerapkannya.


Dunia hari ini tidak membutuhkan tata nilai Barat yang sudah telanjur bangkrut dan berdarah-darah. Dunia justru merintih, menunggu Islam untuk mengembalikan fitrah manusia, menegakkan keadilan yang sejati, dan menata kehidupan dengan cahaya Ilahi. Islam yang diturunkan sebagai Rahmat bagi seluruh alam.


Tidak ada keselamatan baik bagi kaum Muslim maupun bagi kemanusiaan yang terperangkap dalam kegelapan ini, kecuali dengan kembali kepada Islam. Bukan sebagai ritual semata, tetapi sebagai sistem hidup, sebagai peradaban, sebagai panduan bagi dunia.


Pulau Epstein adalah cermin. Dan di depan cermin yang penuh noda itu, hanya cahaya Islam yang bisa membersihkan dan menunjukkan jalan keluar.(fjn)


Editorial Rumah Tsaqofah | Dirancang untuk: Kesadaran Umat & Kemanusiaan

TELAAH KITAB NIDA' HAAR PART 1: DARI DIAGNOSIS MENUJU KEBANGKITAN

 TELAAH KITAB NIDA' HAAR PART 1: DARI DIAGNOSIS MENUJU KEBANGKITAN 


Ada sebuah diagnosa yang disampaikan dengan berani, tepat di jantung zaman kita. Seorang pemikir, Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam kitab Nida' Haar, menggambarkan sebuah kondisi yang mungkin kita rasakan dalam diam, tapi enggan diucapkan dengan lantang.


Ia menyatakan, umat telah mencapai titik paling rendah. Kemerosotan ruhani yang membuat jiwa kita gersang. Keterbelakangan materi yang membelenggu potensi kita. Ketertinggalan pemikiran yang membutakan arah. Dan kehinaan politik yang menjadikan kita bidak di papan catur orang lain.


Tidak ada yang bisa membantahnya. Lihatlah sekitar kita. Jalinan-jalinan hidup yang dahulu dirajut dengan benang keimanan, ukhuwah dan tolong-menolong telah tercabik. Digantikan oleh transaksi kering kapitalisme, di mana nilai manusia diukur dari apa yang ia miliki, bukan dari ketakwaannya.


Ikatan persaudaraan seiman yang pernah membentang dari Maroko hingga Marauke telah terputus. Dikotak-kotakkan oleh tembok tinggi nasionalisme dan fanatisme kesukuan. Bahkan, dalam satu daratan yang sama, kita terpecah oleh ikatan sempit ‘tanah air’ yang sering kali dijadikan alat untuk memusuhi saudara sendiri.


Apa yang tersisa dari Islam dalam kehidupan kolektif kita? Hanya ritual-ritual individual. Shalat, puasa dan haji, tapi terpisah dari aturan hidup yang menyeluruh. Perasaan keagamaan kita menyempit menjadi sekadar perasaan ritualistik yang kaku, kehilangan ruhnya yang membebaskan dan mempersatukan.


Ini semua, seterang matahari di siang bolong. Musuh kita melihatnya. Dunia menyaksikannya. Dan dalam hati kecil, kita pun mengakuinya.


Namun, ada bahaya yang lebih besar, yang mungkin luput dari penglihatan kita, tapi sangat jelas dalam teropong musuh-musuh Islam.


Bahaya kepunahan.


Bukan kepunahan fisik, tapi kepunahan ruh, identitas dan keagungan.


Bayangkan sebuah umat yang kehilangan ciri khasnya. Laksana air laut yang tawar. Keutamaan-keutamaannya yang mulia tergantikan oleh nilai-nilai rendahan. Kepribadian kolektifnya yang kuat menjadi rusak dan tak berwajah. Pola pikirnya menyimpang, mengagungkan yang remeh dan meremehkan yang agung. Identitas Islamnya perlahan melebur, lenyap ditelan arus globalisasi yang garang.


Dan yang paling mengkhawatirkan, jumlah orang yang menjadikan loyalitas kepada Islam di atas segalanya semakin menipis. Pencinta sejati Allah dan Rasul-Nya, yang menempatkan hukum Syara' sebagai puncak nilai hidup menjadi semakin langka. “lebih langka daripada belerang merah,” begitu kata Syaikh Taqiyuddin An Nabhani.


Rasa pedih dan malu karena kekalahan di hadapan kaum yang mendustakan Allah, itu pun hampir mati. Hanya tersisa pada segelintir suara yang dianggap ‘asing’, yang tidak lagi didengar, apalagi diikuti.


Lalu, apa yang harus kita perbuat? Apakah ungkapan ini hanya untuk meratapi nestapa?


Tidak. Sama sekali tidak.


Pengakuan adalah langkah pertama penyembuhan. Diagnosa yang akurat adalah separuh dari obat. Syaikh An Nabhani bukan hanya menunjukkan luka, tapi juga dalam seruannya ingin membangkitkan kita dari amnesia kolektif ini.


Kita harus bangkit dari tidur panjang ini. Mari kita genggam kembali benang ukhuwah yang terputus. Kita rebut kembali ranah pemikiran yang telah ditinggalkan. Kita pulihkan ruhiyah yang telah merosot. Dan kita bangun kembali kepribadian Islam yang unggul, bukan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan nyata dalam kehidupan kita.


Jangan biarkan cahaya identitas Islam ini padam. Jangan biarkan umat yang agung ini hanya menjadi catatan sejarah. Kebangkitan dimulai dari kesadaran. Dan kesadaran itu harus segera bergerak menjadi aksi.


“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’d: 11). ( fjn)


Editorial Rumah Tsaqofah | Dirancang untuk: Kesadaran Umat

KRISIS BURSA DAN SOLUSI FUNDAMENTAL

 KRISIS BURSA DAN SOLUSI FUNDAMENTAL


Dari balik layar monitor dan grafik bursa saham yang anjlok, sebuah drama kekuasaan sedang mempertaruhkan nasib perekonomian kita. Laporan Tempo mengungkapkan, Menteri Pertahanan Letjen (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin dan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, dua pilar dekat Istana tak lagi seirama. Mereka terlibat tarik-ulur sengit, yang satu mendorong penegakan hukum pidana bagi pengurus bursa dan otoritas keuangan, yang lain menolak khawatir badai akan menjadi tsunami.


Dampaknya langsung terasa. Sebuah mundur massal. Pejabat tinggi Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan meletakkan jabatan. Alasannya tanggung jawab moral. Pemicunya, laporan Morgan Stanley Capital International yang mengungkap bayang-bayang manipulasi. IHSG pun terjun bebas, perdagangan terpaksa dibekukan sementara.


Namun, pukulan kedua mungkin lebih telak, datang dari langit dunia keuangan global. Moody’s Investors Service menurunkan prospek perekonomian Indonesia menjadi ‘negatif’. Mereka memandang kebijakan fiskal pemerintah tak meyakinkan, tak stabil. Sebuah paradoks pahit, di saat BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi 5,11 persen.


Lalu, terlintaskah di benak kita sebuah pertanyaan getir, sudah sedemikian hilangkah kredibilitas kita di mata dunia?


Ini bukan sekadar kisruh teknis pasar modal. Ini adalah gejala. Gejala dari sebuah sistem yang rapuh. Sistem yang membiarkan kepentingan individu dan kelompok beradu, sementara kemaslahatan rakyat terombang-ambing. Lalu, adakah cara pandang lain untuk membaca krisis ini?


akar masalahnya adalah sistem Kapitalisme yang meniscayakan kebebasan kepemilikan yang tanpa batas.


Sistem ekonomi kapitalis telah menjadikan pasar uang dan saham sebagai ‘kandang judi’ yang dilegalkan. Di mana spekulasi, ghorar (ketidakpastian yang merusak) dan monopoli informasi menjadi makanan sehari-hari. Ketika aturan main dibangun di atas prinsip ‘mencari keuntungan sebesar-besarnya’, maka keadilan, transparansi dan stabilitas sejati akan selalu dikorbankan.


Apa yang terjadi antara Sjafrie dan Dasco, adalah konflik dalam sistem yang sakit. Satu ingin penumpasan pidana (yang mungkin dilihat sebagai upaya ‘pembersihan’ secara keras), satunya lagi ingin menjaga stabilitas sistem (status quo) yang rapuh. Keduanya berdebat di atas meja judi, bukan memperdebatkan keabsahan meja judi itu sendiri.


Islam menawarkan solusi yang bersifat fundamental, yaitu Sistem Ekonomi Islam dalam naungan khilafah. Di mana:


1. Uang adalah alat tukar, bukan komoditas yang diperjualbelikan secara spekulatif. Bursa saham spekulatif yang penuh ghorar tak memiliki tempat.


2. Negara (Khilafah) adalah penjaga aktif yang bertanggung jawab penuh atas kemaslahatan ekonomi rakyat. Otoritas tidak akan dibiarkan tumpang-tindih atau dimanfaatkan oleh kepentingan segelintir orang.


3. Setiap pelaku ekonomi, apapun jabatannya, tunduk pada hukum syariat yang jelas dan tegas. Hukum pidana Islam (seperti hukum bagi pelaku korupsi dan perusak ekonomi) akan ditegakkan tanpa pandang bulu, bukan sebagai alat politis, tapi sebagai penjaga keadilan.


4. Kebijakan fiskal dibangun di atas sumber-sumber penerimaan negara yang sah dan halal (seperti harta milik umum, zakat, kharaj, fa’i, dll) serta dibelanjakan secara transparan untuk kepentingan publik. Hal ini akan menciptakan kepercayaan (trust) yang kokoh,


Jadi, ketika Moody’s meragukan kebijakan fiskal kita dan Morgan Stanley mengungkap manipulasi, itu adalah sinyal kegagalan sistemik. Bukan sekadar salah orang per orang. krisis seperti ini adalah buah yang dipetik dari pohon Kapitalisme sekuler.


Pertanyaannya kembali, Apakah kita akan terus memperbaiki yang rusak di permukaan atau berani menggali sampai ke akar, merenungkan tawaran sistem alternatif yang dibangun di atas nilai-nilai keadilan, transparansi, dan tanggung jawab di hadapan Sang Pencipta? (fjn)


Editorial Rumah Tsaqofah dari berbagai sumber | Dirancang untuk: Kesadaran Umat

Telaah Kitab Nida' Haar Part 2 : Hakikat dan Benturan Ideologi - ideologi

 Telaah Kitab Nida' Haar Part 2 : Hakikat dan Benturan Ideologi - ideologi


Sejak berabad-abad, denyut sejarah manusia diwarnai oleh sebuah konflik yang tak pernah padam. Bukan hanya konflik perbatasan atau perebutan tahta. Ini adalah konflik yang lebih dalam, lebih hakiki yaitu konflik antara Cahaya dan Kegelapan Ideologi.


Dalam kitab Nida’ Haar, Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani menggambarkannya dengan tajam, Sejak tiga belas abad lamanya konflik antara Islam sebagai agama sekaligus metode kehidupan dengan kekufuran terus berkecamuk. Bentuk dan medannya silih berganti, namun hakikatnya satu, Pertarungan antara kebenaran yang menyeluruh dengan kebatilan yang mengklaim diri sebagai kebenaran.


Islam, menurut An-Nabhani, tak pernah datang sebagai agama spiritual semata. Ia adalah pandangan hidup komprehensif yang mengatur segitiga suci hubungan yaitu manusia dengan Rabb-nya, manusia dengan dirinya sendiri dan manusia dengan sesamanya. Karena sifatnya yang total inilah, konfliknya dengan sistem kufur menjadi sesuatu yang niscaya, tak terelakkan.


Lalu, memasuki abad ke-13 Hijriah atau abad ke-19 Masehi, muncullah sebuah tantangan baru dengan wajah yang sangat berbeda. Ia bernama Kapitalisme. Tantangan ini tulis An-Nabhani, bukan sekadar tantangan militer atau ekonomi. Ini adalah tantangan pemikiran dan perasaan yang paling berbahaya. Kapitalisme tak puas hanya menjajah tanah, ia ingin menjajah pikiran, mengganti standar nilai dan mencabut akar perasaan Islami dari jiwa kaum Muslim.


Serangannya sistematis dan brutal. Mereka menyerang pemikiran Islam, mendistorsi hukum-hukum syariat dan meracuni perasaan yang lahir dari akidah. Dan sayangnya, serangan itu berhasil. Kaum Muslim mengalami kekalahan pemikiran yang amat telak. Kekalahan pikiran itu berujung pada kekalahan politik. Negeri-negeri Islam runtuh, syariat disingkirkan, Khilafah diluluhlantahkan.


Tapi, dengarkan penegasan Syaikh Taqiyuddin: “Islam tidak pernah kalah dan tidak akan pernah kalah, karena Islam adalah kebenaran itu sendiri.” Yang kalah adalah kaum Muslimnya, saat mereka lalai bahwa mereka sedang berada di medan pertarungan ideologi.


Lalu, seperti apa bentuk serangan kapitalisme terhadap bangunan pemikiran Islam? Syaikh An-Nabhani menjabarkannya dengan contoh concret yang sampai hari ini masih kita dengar. Mari kita simak satu per satu:


Pertama, Poligami. Mereka menyerangnya dengan jargon “martabat wanita” dan “kebiadaban”. Poligami dianggap barbar, merendahkan perempuan. Mereka mempropagandakan monogami sebagai puncak peradaban sambil menutup mata pada realita fitrah manusia dan kehancuran sistem pergaulan bebas yang mereka ciptakan.


Kedua, Talak. Dicap sebagai pengkhianatan dan perusak keluarga. Mereka ingin memenjarakan sebuah pernikahan yang sudah mati dalam formalitas, seolah-olah itu lebih manusiawi daripada memberikan jalan keluar yang syar’i.


Ketiga, Khilafah. Ini adalah target utama. Khilafah difitnah sebagai sistem diktator abad pertengahan, kekuasaan satu orang yang sewenang-wenang. Mereka menuduhnya anti-demokrasi, namun diam-diam menikmati sistem oligarki kapitalis yang kekuasaannya justru lebih tersembunyi dan lebih kejam.


Keempat, Jihad. Dihitamkan sebagai aksi terorisme dan pembantaian. Padahal, merekalah yang menjadikan militer sebagai alat ekspansi global, membunuh atas nama “demokrasi” dan “hak asasi”, yang sejatinya adalah kepentingan ekonomi.


Kelima, Qadha dan Qadar. Iman kepada takdir dituding sebagai biang kemalasan dan fatalisme. Mereka tak paham bahwa justru dari iman inilah lahir pahlawan-pahlawan yang tidak takut mati, ilmuwan yang gigih meneliti sunnatullah, dan pejuang yang tak gentar oleh kemustahilan.


Lalu, apa sebenarnya tujuan final dari semua serangan pemikiran ini? Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam Nida’ al-Haar menjawab tegas. Ini bukan debat akademis. Ini adalah upaya untuk menggugurkan Islam sebagai ideologi. Setiap pertanyaan “Apa solusi Islam untuk masalah ini?” seringkali bukan untuk mencari jawaban, tapi untuk menyimpulkan: “Lihat, Islam tidak punya solusi. Maka, tinggalkanlah!”


Tantangan kapitalisme adalah tantangan total. Ia mengepung kita dari film, kurikulum pendidikan, berita media hingga gaya hidup. Dan kekalahan terbesar kita terjadi ketika kita, kaum Muslim, tidak menyadari bahwa kita sedang berada di medan perang pemikiran ini.


Maka, dari telaah kitab Nida’ al-Haar karya Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani ini, kita diingatkan, Konflik ini nyata. Pertarungan antara Islam dan Kapitalisme adalah pertarungan dua pandangan hidup yang bertolak belakang. Kemenangan akan datang bukan dengan mengeluh, tetapi dengan kembali memahami Islam secara kaffah, menyadari posisi kita dalam konflik peradaban dan bergerak menyebarkan pemikiran Islam yang jernih sebagai senjata utama. (fjn)


Editorial Rumah Tsaqofah | Dirancang untuk: Kesadaran Umat

MENCARI KEPALA YANG HILANG

 MENCARI KEPALA YANG HILANG


Bayangkan sebuah ilustrasi ayam tanpa kepala !


Makhluk itu tubuhnya tegap, bulu-bulunya masih berkilau, kakinya bergerak lincah. Ia bahkan bisa berlari, melompat, mengais-ngais tanah. Tapi matanya kosong atau lebih tepatnya, tempat matanya yang seharusnya ada kini hanya menjadi rongga yang menganga. Ia bergerak, tetapi tidak tahu ke mana ia melangkah. Ia bereaksi, tetapi tidak mengerti mengapa. Ia hidup, tetapi hanya sisa-sisa naluri yang menggerakkan otot-ototnya, sementara pusat kendali, akal, dan visinya telah lenyap. Ia bergerak dalam lingkaran setan, mengira sedang maju, padahal hanya berputar-putar di tempat yang sama, hingga akhirnya jatuh kehabisan darah dan makna.


Inilah keadaan kita.


Kita adalah tubuh yang perkasa. Jumlah kita berlimpah, tersebar dari timur hingga barat. Masjid-masjid kita menjulang, suara azan menggema, hafalan Al-Qur'an di dada anak-anak kita mengalahkan gemercik air sungai. Tapi di manakah kepala kita? Di manakah pusat kepemimpinan yang menyatukan gerak, yang memberikan arah, yang memancarkan cahaya pemikiran dan visi bagi seluruh tubuh ini?


Kita telah kehilangan Khilafah. Bukan sekadar kehilangan sebuah institusi politik, bukan sekadar runtuhnya sebuah istana. Kita kehilangan kepala kita. Maka, sejak saat itu, tubuh yang perkasa ini pun mulai berjalan tanpa arah. Kita masih bergerak, bahkan sangat sibuk bergerak, tetapi ke mana?


Kita menyelaraskan diri dengan politik kufur, menganggapnya sebagai “kecerdasan praktis”. Kita mengikuti aturan permainan yang bukan kita yang buat, di papan catur yang bukan kita yang rancang. Lalu dengan sibuknya kita mencari-cari dalil, mengutip sepenggal ayat, memelintir sebuah hadits, hanya untuk membenarkan bahwa duduk di kursi permainan mereka adalah “jihad”, bahwa kompromi atas prinsip adalah “hikmah”, bahwa diam terhadap kemungkaran adalah “kesabaran”. Kita menjadi ahli justifikasi.


Lalu, kita pun mulai melupakan jati diri. Identitas agung kita yaitu Muslim, kita campakkan ke pinggir. Sebagai gantinya, kita mengenakan jaket nasionalisme yang sempit. 

Menjadikan kepentingan negara-bangsa sebagai kata akhir, melebihi kepentingan Islam dan kaum Muslimin. Kita terkotak-kotak dalam penjara bernama “nation-state”, warisan pahit kolonial yang meracuni pikiran kita. Kita bersaudara dalam shalat, tetapi bermusuhan dalam politik. Kita satu dalam kalimat tauhid, tetapi terpecah dalam bendera.


Oh, betapa pilunya melihat panji Rasulullah, Al-Liwa’ dan Rayah yang pernah berkibar dari Madinah hingga Konstantinopel, kini dilipat dan disimpan di museum kenangan. Sebagai gantinya kita dengan bangga mengibarkan kain-kain berwarna yang dijahit oleh tangan-tangan penjajah. Setiap bendera itu adalah sebuah garis pemisah, sebuah tembok, sebuah pengakuan bahwa “aku berbeda darimu dan kesetiaanku adalah untuk simbol ini, bukan untuk iman kita.” 


Bendera-bendera itu adalah mantra pemecah-belah yang sukses meretakkan persatuan kita, mengubah satu tubuh utuh menjadi kepingan-kepingan yang mudah dicabik.


Lalu apa yang tersisa? Sebuah tubuh tanpa kepala. Sebuah umat yang reaktif, bukan proaktif. Bergejolak jika dizalimi di satu tempat, tetapi diam jika kehormatan diinjak-injak di tempat lain. Sibuk mengobati luka-luka di sekujur tubuh, tetapi tidak pernah bertanya mengapa pisau itu selalu berhasil menancap. Kita seperti ayam tanpa kepala itu, berlari kesana-kemari, menghabiskan energi, membuat keributan, tetapi tidak pernah sampai pada tujuan. Karena tujuan itu sendiri tidak lagi kita kenali.


Maka, inilah saatnya untuk berhenti sejenak. Berhentilah berlari. Duduklah. Dan tanyakan pada diri kita dengan suara yang paling jujur:


“Siapa aku sebenarnya?”


Apakah aku hanya warga negara sebuah daratan yang batasnya digambar oleh orang asing? Apakah aku hanya bagian dari suku, golongan atau partai politik? Ataukah aku adalah seorang Muslim, yang identitas utamanya berasal dari Kalimatullah, yang kesetiaan utamanya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya, yang tanah airnya adalah seluruh bumi di mana syariat Allah ditegakkan?


Kita harus kembali. Kembali bukan pada nostalgia, bukan pada romantisme sejarah. Kembali pada Dien kita. Pada Islam yang utuh, yang mengatur bukan hanya ibadah mahdhah, tetapi juga kehidupan. Pada sistem yang datang dari Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. Sistem yang pernah memandu tubuh ini menjadi pemimpin peradaban, menjadi rahmat bagi alam semesta.


Kita perlu menemukan kembali kepala kita. Bukan kepala yang baru, tetapi kepala yang sama yaitu Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah. Kepemimpinan yang menyatukan, yang melindungi, yang memandu berdasarkan wahyu. Itulah kepala yang akan menghentikan gerakan tanpa arah. Itulah akal yang akan merencanakan langkah strategis. Itulah mata yang akan memandang jauh ke depan, mengarahkan tubuh ini menuju kemuliaan di dunia dan keselamatan di akhirat.


Tanpa kepala, tubuh hanya akan mati lelah. Dengan kepala, tubuh akan bangkit menjadi raja di atas muka bumi.


Pertanyaannya, Apakah kita masih mau terus menjadi ayam tanpa kepala atau kita akan berusaha dengan segenap jiwa raga untuk menyambung kembali apa yang telah terputus?


Pilihlah! Karena diam dalam keadaan ini, adalah kesepakatan untuk tetap tanpa arah. Dan sejarah tidak akan mengasihani mereka yang memilih untuk tetap tersesat. (fjn)


Editorial Rumah Tsaqofah | Dirancang untuk: Kesadaran Umat

TELAAH KITAB NIDA' HAAR PART 3 : CARA KAPITALISME MENGHANCURKAN STANDAR NILAI ISLAM

 TELAAH KITAB NIDA' HAAR PART 3 : CARA KAPITALISME MENGHANCURKAN STANDAR NILAI ISLAM


Syaikh An-Nabhani mengungkapkan bahwa Serangan Barat terhadap Islam tidak pernah acak.


Ini bukan tembakan sporadis dari musuh yang kebingungan. Ini adalah tembakan penembak jitu yang tahu persis di mana jantung musuh berada. Setiap kali satu hukum Islam diserang, pilihannya tidak pernah sembarangan. Mereka memilih hukum-hukum yang menjadi tiang penyangga sistem. Seperti tentara yang merobohkan tenda dengan mencabut pasaknya satu per satu.


Dan senjata mereka bukan rudal. Senjata mereka adalah standar nilai.


Mereka membawa cermin, lalu berkata "Lihat, ini dirimu." Tapi cermin itu mereka desain sendiri. Ukurannya miring. Lensa yang mereka pasang sudah dikalibrasi dengan logika Cartesian, etika Protestan dan pengalaman sejarah Eropa yang penuh konflik agama. Lalu mereka sodorkan ke wajah kita.


Di sinilah letak kekalahan pertama umat, kita tidak sadar bahwa kita sedang diadili di pengadilan yang hukumnya mereka buat, hakimnya mereka tunjuk dan bahasanya mereka yang menentukan.


"Mereka mengambil satu hukum Islam, lalu memotretnya dengan lensa standar Barat. Hasilnya pasti aneh, pasti timpang, pasti tampak mengerikan. Lalu mereka berteriak ke telinga kita, 'Lihat! Islam tidak manusiawi!' Tujuan mereka bukan diskusi. Tujuan mereka satu, membuat kita ragu."


Dan keraguan itu, sekali menetas akan memakan akal sehat dari dalam.


Mari kita lihat bagaimana lensa itu bekerja.


Poligami. Satu kata yang cukup untuk membuat sebagian Muslim modern bergidik. Di seminar-seminar, di kolom opini, di ruang obrolan kelas menengah, kata ini selalu muncul sebagai "PR besar" umat Islam. Di media Barat, poligami digambarkan sebagai praktik primitif, simbol ketidaksetaraan gender, bukti bahwa Islam tidak bisa berdamai dengan modernitas.


Tapi tunggu.


Syaikh An-Nabhani mengajak kita melihat dari sudut lain. Membongkar kerangka perbandingan yang selama ini timpang.


Di Barat, hubungan pria-wanita tidak pernah benar-benar dimonogamikan secara moral. Yang terjadi adalah pergeseran bentuk: dari pernikahan resmi ke cohabitation, dari satu pasangan ke pasangan bergantian, dari komitmen publik ke privasi yang tidak perlu dipertanggungjawabkan. 


Fakta hari ini berbicara di Swedia, lebih dari separuh anak lahir dari orang tua yang tidak menikah. Di Amerika, perselingkuhan adalah industri senyap yang tidak pernah dihitung sebagai pelanggaran hukum. Di Hollywood, berganti pasangan adalah bagian dari gaya hidup.


Tapi itu semua tidak pernah disebut penindasan. Itu disebut kebebasan.


Kritik Barat terhadap poligami tidak pernah lahir dari kecintaan mereka terhadap keadilan perempuan. 

Ternyata yang mereka serang bukan ketidakadilannya. Yang mereka serang adalah bentuk syar'i-nya. Mereka tidak peduli perempuan ditelantarkan setelah dihamili. Mereka tidak peduli anak-anak tumbuh tanpa figur ayah yang sah. Mereka peduli pada satu hal, bahwa Islam memiliki aturan dan aturan itu berbeda.


Dan perbedaan dalam kamus hegemoni adalah dosa.


Contoh lain, Talak.


Di mata Barat dan mulai di mata sebagian Muslim yang terbaratkan, talak adalah simbol kesewenang-wenangan laki-laki. Kata "cerai" diucapkan, lalu hubungan putus seketika. Tidak ada proses. Tidak ada konseling. Tidak ada kesempatan kedua.


Tapi sekali lagi, ini potret dengan lensa miring.


Syaikh An-Nabhani mengajak kita bertanya, sejak kapan pernikahan dalam Islam dipahami sebagai penjara? Pernikahan dalam Islam adalah akad, yaitu perjanjian yang lahir dari kerelaan dua pihak. Jika perjanjian itu tidak lagi membawa maslahat, jika cinta yang dulu bersemi telah berubah menjadi duri, jika bahtera rumah tangga lebih banyak bocornya daripada layarnya, mengapa harus dipaksakan terus?


Barat, yang mengaku sangat menjunjung kebebasan individu, justru menciptakan sistem pernikahan yang sulit dibubarkan secara terhormat. Di beberapa negara, proses cerai bisa memakan waktu bertahun-tahun. Biaya pengacara menggunung. Anak-anak menjadi rebutan. Yang kaya bisa mengulur waktu, yang miskin terjebak dalam hubungan yang menyakitkan. Ironisnya, di tengah kesulitan itu, perselingkuhan justru menjadi pelarian yang "dimaafkan" karena dianggap manusiawi.


Siapa yang lebih manusiawi, sistem yang memberi jalan keluar yang jelas, bersih dan bertanggung jawab, atau sistem yang mempersulit perceraian lalu membiarkan orang mencari pelarian di belakang punggung pasangan?


Begitu pula Jihad dan Khilafah, Dua Kata yang paling dibajak di abad ini.


Jihad dipelintir menjadi sinonim teror. Padahal, jika kita mau jujur, siapa yang lebih banyak mengirim tentara ke seberang lautan? Negara-negara yang mengklaim membela perdamaian, menyerang negara lain atas nama demokrasi.


Tapi tidak ada yang menyebut mereka agresor dalam narasi media arus utama. Mereka disebut pelindung perdamaian. Mereka disebut mitra keamanan. Mereka disebut aliansi strategis.


Sementara seorang pemuda di Palestina yang melempar batu ke tank Israel disebut teroris.


Sekali lagi, ini bukan soal fakta. Ini soal siapa yang punya kuasa memberi nama.


Lalu Khilafah. Sistem pemerintahan yang menyatukan umat di bawah satu kepemimpinan. Kata ini langsung disambung dengan diktator. Padahal, jika kita bicara soal konsentrasi kekuasaan di satu tangan, bukankah presiden di sistem demokrasi juga menjalankan kekuasaan eksekutif seorang diri? Bukankah Perdana Menteri Inggris, Presiden Amerika, Kanselir Jerman, semuanya adalah satu orang yang memimpin?


Lalu apa bedanya?


Syaikh An-Nabhani menjawab dengan tenang, Bedanya ada pada sumber legitimasi dan mekanisme pertanggungjawaban. Dalam Khilafah, khalifah dipilih oleh umat melalui baiat bukan warisan, bukan kudeta. Dan setelah terpilih, ia bukan tandingan Tuhan. Ia adalah hamba yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya. Jika ia menyimpang, ia diingatkan. Jika ia zalim, ia dijatuhkan. Ini bukan sistem surgawi yang bebas cela, tapi ini sistem yang dengan jujur mengakui bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan perlu kontrol, baik dari masyarakat maupun dari keyakinan kepada Hari Pembalasan.


Sementara di sistem demokrasi liberal, legitimasi berasal dari suara rakyat yang bisa dibeli, direkayasa, dipengaruhi media, dan dimanipulasi oleh modal. Pertanggungjawaban hanya sebatas periode jabatan. Setelah itu, dosa-dosa kekuasaan seringkali dikubur bersama arsip yang dirahasiakan.


Maka, ketika Barat menyebut Khilafah sebagai "diktator", yang mereka serang bukan bentuk pemerintahannya. Mereka menyerang sumber hukumnya. Mereka tidak tahan bahwa ada sistem yang tidak menjadikan kehendak manusia sebagai otoritas tertinggi. Mereka tidak rela bahwa ada peradaban yang menempatkan Tuhan di atas parlemen.


Dan di sinilah, kata Syaikh An-Nabhani, perang sesungguhnya terjadi. Bukan perang tentara. Tapi perang standar nilai.


Yang paling cerdik dari serangan ini, menurut Syaikh An-Nabhani adalah ketika mereka menggunakan isu-isu yang tidak dikenal di masa lalu.


Asuransi, Bursa saham dan parlemen.


Pertanyaan-pertanyaan ini tidak diajukan karena mereka sungguh-sungguh ingin tahu jawaban Islam. Mereka ajukan dengan asumsi yang sudah terkunci, bahwa satu-satunya jawaban yang bisa diterima adalah jawaban yang mirip dengan sistem Kapitalisme.


Maka jebakannya terbentang rapi, Jika ulama berkata "Islam tidak mengenal asuransi konvensional karena mengandung gharar dan riba", mereka akan berkata, "Berarti Islam tidak bisa menjawab kebutuhan proteksi modern."


Di sinilah Syaikh An-Nabhani mengingatkan tentang bahaya yang paling halus, kita mulai berpikir bahwa Islam harus dibuktikan kebenarannya dengan standar mereka.


Padahal, dalam perang pemikiran pihak yang menentukan standar adalah pihak yang akan menang. Jika kita setuju diuji dengan parameter Kapitalisme, maka seberapa keras pun kita berusaha membela diri, kita sudah kalah sebelum memulai. Karena standar itu sendiri musuh kita.


Di sinilah letak tragedi terbesar umat, kata Syaikh An-Nabhani.


Bukan ketika kita kalah perang. Bukan ketika kita dijajah secara fisik. Tapi ketika kita mulai malu dengan syariat kita sendiri.


Malu ketika disebut kolot. Malu ketika dibilang tidak modern. Malu ketika diejek sebagai fundamentalis. Maka kita pun berlari mencari pembenaran. Kita cari-cari dalil yang "progresif". Kita tafsir ulang ayat-ayat dengan cara agar tidak berbenturan dengan arus utama global. Kita buat jargon "Islam yang ramah", "Islam Nusantara", "Islam moderat"—semuanya benar dan baik, tapi seringkali lahir dari posisi defensif, bukan dari kemandirian epistemologis.


Kita membela diri sepanjang waktu. Kita menjelaskan bahwa Islam tidak seperti yang mereka kira. Tapi dalam proses menjelaskan itu, tanpa sadar kita memberi mereka hak prerogatif sebagai penguji.


Dan perlahan tanpa terasa, Islam tidak lagi kita lihat sebagai sistem yang berdaulat. Ia berubah fungsi. Ia menjadi sekadar simbol identitas, kita shalat, kita puasa, kita pakai jilbab, kita baca Al-Qur'an di pemakaman. Tapi ketika bicara ekonomi, kita ikut kapitalisme. Ketika bicara politik, kita ikut demokrasi. Ketika bicara hukum, kita ikut civil law. Ketika bicara hubungan internasional, kita ikut Westphalia.


Islam hadir di masjid. Ia tidak hadir di parlemen. Ia hadir di pengajian. Ia tidak hadir di kebijakan fiskal.


Inilah yang Syaikh An-Nabhani sebut sebagai keruntuhan diam-diam. Sebuah sistem tidak harus runtuh dengan bom. Ia runtuh saat para pemeluknya tidak lagi percaya bahwa sistem itu mampu mengatur hidup mereka.


Di tengah gelombang serangan pemikiran yang datang dari segala arah, An Nabhani menawarkan satu jalan keluar yang tampak sederhana tapi sangat berat yaitu kembali pada kejernihan berpikir.


Apa artinya?


Artinya, berhenti membiarkan orang lain menentukan standar nilai kita. 

An Nabhani mengajarkan satu hal yang sering dilupakan di tengah hiruk-pikuk aktivitas, bahwa pertempuran terbesar umat Islam hari ini bukan di medan fisik, tapi di kepala. Bukan merebut gedung, tapi merebut kembali standar nilai. Bukan mengalahkan musuh dengan senapan, tapi membongkar kerangka berpikir yang selama ini membelenggu.


Nida' Haar bukan sekadar kritik. Ia adalah panggilan untuk bangkit. Bukan bangkit dengan amarah yang membabi buta, tapi bangkit dengan kejernihan yang menusuk.


Editorial Rumah Tsaqofah | Dirancang untuk: Kesadaran Umat

MENGAPA ADA "REZIM INKOMPETEN DAN NEGARA KATERING

 MENGAPA ADA "REZIM INKOMPETEN DAN NEGARA KATERING"?


Sebuah pernyataan yang mungkin membuat sebagian orang gelisah dan sebagian lain merasa "Akhirnya ada yang bicara."


Tio Ardianto, Ketua BEM KM Universitas Gadjah Mada, tidak main-main dengan diksi. Ia menyebut pemerintahan saat ini, di bawah komando Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka tidak hanya keliru, tetapi sistemik dalam ketidakmampuannya.


Dalam podcast YouTube Forum Keadilan TV, Tio menyoroti tiga hal utama. Yang pertama mungkin yang paling menggelitik sekaligus memprihatinkan adalah ihwal rekrutmen menteri dan pejabat.


"Mekanisme perekrutan menteri dan kepala lembaga lebih mengedepankan  akomodasi politik ketimbang kompetensi," tegasnya. Ini bukan soal salah pilih orang, tapi soal sistem yang sejak awal sudah cacat.


Proses pembentukan kabinet selalu jadi ajang dagang sapi politik. Kursi menteri adalah hadiah untuk loyalitas. Tapi Tio bilang, kali ini lebih parah, yang diutamakan adalah orang-orang yang pandai "menyenangkan hati Presiden," bukan mereka yang bisa bekerja untuk rakyat.


Logika sederhananya, Bayangkan Anda sakit. Anda datang ke rumah sakit, tapi yang menangani bukan dokter, melainkan seseorang yang ahli merangkai bunga karena dia dekat dengan direktur rumah sakit. Kira-kira, sembuh atau makin parah?


Poin kedua inilah yang paling viral di media sosial. Soal Badan Gizi Nasional.


Program makan siang gratis yang katanya untuk mencerdaskan anak bangsa ternyata dipimpin oleh ahli serangga. Tio dengan nada satir melontarkan pertanyaan tajam, "Bagaimana mungkin lembaga sebesar Badan Gizi Nasional justru dipimpin oleh seseorang yang latar belakangnya ahli serangga, bukan ahli gizi? Kita punya ribuan ahli gizi kompeten yang justru tidak diberi peran."


Ini sama sekali bukan upaya merendahkan profesi entomolog. Tapi logika sederhananya, Jika Anda ingin membangun jembatan, apakah Anda memanggil ahli tata kota atau ahli geologi? Mereka sama-sama penting. Tapi tidak di situ tempatnya.


Tio menyebut ini bentuk penghinaan terhadap ilmu pengetahuan. Dan ketika sebuah rezim tidak menghargai ilmu, yang terjadi adalah kebijakan yang amburadul. Ketika kompetensi dikalahkan oleh kedekatan, maka yang berkuasa adalah mereka yang pandai mencari muka, bukan mereka yang pandai bekerja.


Tapi tunggu, masih ada lagi. Tio juga menyoroti keterlibatan aparat kepolisian dalam program ini secara masif. Lebih dari 1.700 Satuan Pelayanan Program Gizi atau SPPG disiapkan. Polisi yang seharusnya sibuk menangani begal, mafia tanah dan kejahatan jalanan, kini sibuk mengurusi katering.


Dan inilah kutipannya "Jangan sampai ini berubah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, menjadi Negara Katering Republik Indonesia."


Keras? Iya. Tapi coba kita lihat realitasnya. Apakah ini bukan potret ironi? Di satu sisi, angka kriminalitas masih tinggi, penegakan hukum masih timpang, aparat kewalahan menghadapi kejahatan siber dan narkoba. Tapi di sisi lain, aparat dikerahkan untuk membagi-bagi nasi kotak.


Pertanyaan Tio menggantung, "Apakah tugas menangani kriminalitas, begal dan kejahatan sudah selesai sehingga polisi harus sibuk mengurusi katering?"


Sekarang, poin ketiga. Ini soal anggaran pendidikan. Tio menyebut pemerintah melakukan kesalahan fatal dengan memasukkan anggaran program makan gratis sebesar Rp223 triliun ke dalam pos anggaran pendidikan.


Padahal, konstitusi mewajibkan 20 persen APBN untuk pendidikan. Ini adalah amanat yang tidak bisa ditawar. Langkah memasukkan program katering ke pos pendidikan dianggap melanggar mandatory spending yang sudah diatur konstitusi.


"Ini adalah bentuk ketidakmampuan berpikir sistematis. Anggaran yang harusnya untuk merenovasi sekolah dan menyejahterakan guru, justru diambil untuk program katering yang tata kelolanya sangat rawan disalahgunakan," tambahnya.


Logikanya demikian, Anggaran yang seharusnya untuk merenovasi sekolah yang hampir roboh, untuk menyejahterakan guru honorer yang gajinya di bawah UMR, untuk membeli buku dan alat peraga, disunat dan dialihkan untuk program yang secara teknis adalah program pangan.


Ini bukan soal pro atau kontra terhadap makan siang gratis. Ini soal kejujuran administrasi negara. Ini soal tata kelola. Kalau dari hulu saja sudah amburadur, bagaimana mungkin kita berharap hilirnya jernih?


Tapi ada satu perspektif yang perlu kita garis bawahi. Sistem demokrasi dengan segala mahar politiknya, dengan biaya kampanye yang selangit, memang melahirkan konsekuensi logis. Ketika seseorang sudah mengeluarkan uang banyak untuk "membeli" kursi, maka ia akan mencari cara untuk mengembalikan modalnya. Baik lewat proyek, lewat jabatan atau lewat balas jasa kepada para donatur.


Inilah yang disebut sebagai demokrasi kapitalistik. Di mana suara rakyat terwakili, tapi hanya untuk mereka yang punya uang. Di mana pejabat terpilih, tapi lebih sibuk melayani "investor politik" ketimbang konstituennya. Di mana pemilihan pejabat lebih mementingkan faktor politik sebagai balas jasa, bukan kompetensi untuk melayani rakyat.


Maka, ketika Tio bicara tentang "rezim inkompeten", ia sebenarnya sedang menyentuh akar masalahnya yaitu Sistem yang salah melahirkan orang-orang yang salah di tempat yang salah.


Pemerintahan yang dibangun di atas keangkuhan dan ketidakmampuan hanya akan membawa negara pada proses "pembusukan" dari dalam.


Karena negara sebesar Indonesia tidak bisa dikelola dengan trial and error. Tidak bisa dijalankan dengan "yang penting loyal". Tidak bisa dibangun di atas punggung para yes man.


Rakyat butuh pemimpin yang cerdas. Rakyat butuh pejabat yang kompeten. Dan rakyat butuh sistem yang memastikan itu terjadi, bukan hanya slogan. Dan itu hanya akan didapat dari sistem yang lahir dari Sang Pencipta Alam Semesta, yaitu sistem Islam. (fjn)


Editorial Rumah Tsaqofah dari berbagai sumber | Dirancang untuk: Kesadaran Umat

Fluktuasi Harga Emas

 Ø¨Ø³Ù… الله الرحمن الرحيم

#جواب_سؤال:

Fluktuasi Harga Emas

Kepada Ahmad Said

=========


#Pertanyaan:

Wahai syekh kami yang mulia, semoga keselamatan, rahmat, dan berkah Allah senantiasa tercurah kepadamu.

Aku berharap pertanyaanku ini sampai kepadamu dalam keadaan sehat dan bugar. Aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar senantiasa membimbingmu untuk memuliakan agama-Nya dan menegakkan syariat-Nya. Pertanyaanku adalah:


"Dalam beberapa waktu terakhir, kita menyaksikan lonjakan harga emas yang sangat signifikan, mencapai berkali-kali lipat dari harga aslinya hanya dalam beberapa tahun. Apakah ini berarti bahwa emas sebagai logam mulia yang stabil dan sebagai standar mata uang tidak lagi demikian, melainkan menjadi sesuatu yang dapat berubah? Ataukah perubahan ini disebabkan oleh kendali beberapa rezim dan kondisi politik tertentu?


Jika demikian halnya, bagaimana negara Islam yang akan segera hadir, insya Allah, dapat menjaga stabilitasnya dan mencegah manipulasi terhadapnya oleh musuh-musuh Islam? Semoga Allah memberkatimu.


Saudaramu karena Allah, Ahmad Said, dari Bumi Isra' Mi'raj, Palestina."


#Jawaban:

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.


Sesungguhnya fluktuasi harga emas terjadi karena emas dianggap sebagai salah satu komoditas. Oleh karena itu, spekulasi memengaruhinya, baik naik maupun turun, terutama karena negara-negara besar di dunia, khususnya Amerika Serikat, berkepentingan agar sumber utama transaksi adalah dolar. Mereka mencetak dolar sebanyak-banyaknya atau menguranginya tanpa pengawasan. Selain itu, karena Amerika memiliki hubungan kolonial dengan sejumlah negara, hal ini membantu stabilitas nilai dolar dalam banyak situasi, seolah-olah dolar adalah emas.


Andai keadaannya berbeda, di mana mata uang adalah emas dan setiap uang kertas yang dicetak harus memiliki cadangan emas yang dapat ditukarkan kapan saja (yang disebut sebagai uang kertas pengganti/representatif), maka semua uang kertas wajib (yaitu yang bukan pengganti/representatif) tidak akan bernilai lebih dari sekadar kertas tempat ia dicetak.


Agar gambaran menjadi lebih jelas, saya akan menyebutkan dua hal yang dapat membantu pemahaman:


Pertama: Saya telah menguraikan dalam buku saya "Krisis Ekonomi: Realitas dan Penanganannya dalam Perspektif Islam" sebagai berikut:


(Krisis ekonomi sebagai akibat dari realitas mata uang:

Ketika dunia masih menggunakan sistem standar emas dalam transaksi keuangannya, mereka berada dalam fase kemakmuran ekonomi dan stabilitas moneter. Ketika sistem ini ditinggalkan dan transaksi beralih menggunakan uang kertas wajib yang tidak memiliki cadangan emas, keadaan menjadi semakin buruk, dan krisis pun silih berganti terjadi.


Sistem standar emas menjamin nilai tukar yang stabil karena unit moneter setiap negara adalah emas atau uang kertas yang mewakili nilai penuhnya dalam emas dan dapat ditukarkan kapan saja. Oleh karena itu, nilai tukar antar mata uang negara-negara tersebut stabil karena semuanya mengacu pada unit emas yang disepakati. Sebagai contoh, dinar dalam Islam ditetapkan sebesar 4,25 gram emas. Poundsterling Inggris ditetapkan secara hukum sebesar dua gram emas murni. Franc Prancis setara dengan satu gram emas, dan seterusnya. Karena itulah nilai tukar menjadi stabil.


Sistem ini berhasil mewujudkan stabilitas dan mempertahankan nilai unit moneter, baik di tingkat domestik maupun internasional. Buktinya, indeks harga dalam emas pada tahun 1910 hampir sama dengan levelnya pada tahun 1890.


Adapun setelah sistem ini dihapuskan, terjadinya krisis menjadi sangat mencolok...)*


Kedua: Bahwa tidak perlu dikhawatirkan terhadap mata uang negara (Islam) ketika negara itu tegak, insya Allah. Tidak perlu dikhawatirkan akan terpengaruh oleh spekulasi negara lain jika mereka menolak menjadikan emas dan perak sebagai mata uang mereka, tetap menggunakan sistem uang kertas, lalu mencoba memengaruhi negara Islam. Hal ini karena negeri-negeri Muslim memiliki keistimewaan yang membuat mereka aman dari segala spekulasi eksternal. Dalam Sistem Ekonomi (Nidham al-Iqtishad) disebutkan mengenai hal ini sebagai berikut:


(... Nilai tukar antara mata uang negara Islam dan mata uang negara lain tidak memengaruhi negara Islam karena dua alasan:


Pertama, negeri-negeri Islam memiliki semua bahan mentah yang dibutuhkan oleh umat dan negara. Mereka tidak membutuhkan barang dari luar negeri secara fundamental atau darurat. Oleh karena itu, mereka dapat mencukupi diri dengan produk lokal mereka, sehingga perubahan nilai tukar tidak memengaruhi mereka.


Kedua, negeri-negeri Islam memiliki komoditas, seperti minyak misalnya, yang dibutuhkan oleh semua negara di dunia. Mereka dapat menolak menjualnya kepada siapapun kecuali jika dibayar dengan emas. Negara yang dapat mencukupi kebutuhannya sendiri dari produk lokalnya, dan yang memiliki komoditas yang dibutuhkan oleh semua orang, sama sekali tidak akan terpengaruh oleh perubahan nilai tukar. Justru negara itulah yang dapat mengendalikan pasar keuangan dunia, dan tidak ada seorang pun yang dapat mengendalikan mata uangnya.]


Maka tenanglah, wahai saudaraku yang mulia. Sesungguhnya di dalam Hizb terdapat para pemimpin yang memiliki kecerdasan, kesadaran, dan kemampuan bertindak yang baik. Dan sebelum itu serta sesudahnya, ada pertolongan Allah dan taufik-Nya, Yang Maha Suci, yang cukup untuk membalas tipu daya musuh-musuh Islam ke dada mereka sendiri. Dan Allah senantiasa melindungi orang-orang saleh.


Aku berharap penjelasan ini cukup. Wallahu A'lam wa Ahkam.


Saudaramu,

Atha' bin Khalil Abu al-Risytah

07 Ramadhan 1447 H

Bertepatan dengan 24 Februari 2026 M


#Amir_Hizbut_Tahrir

Telaah Kitab Nida' al-Haar Part 4 : Serangan terhadap Perasaan Islam

 Telaah Kitab Nida' al-Haar Part 4 : Serangan terhadap Perasaan Islam


Pernahkah kita bertanya dalam hati, Mengapa umat sebesar ini bisa begitu lemah? Mengapa kita seolah kehilangan daya untuk marah saat agama kita dihinakan dan kehilangan gairah saat kebenaran diserukan?


Malam yang sunyi seringkali menjadi saksi bisu kegelisahan kita. Di tengah hening, hati berbicara lebih jernih. Dan dalam kejernihan itulah kita diajak untuk menyelami sebuah kitab Nida' al-Haar yang ditulis oleh seorang pemikir besar abad ini, Syaikh Taqiyuddin An Nabhani.


Mungkin kita bertanya, apa maksudnya 'perasaan Islam'? Bukankah Islam itu soal keyakinan di kepala dan amal di tangan?


Syaikh Taqiyuddin mengajak kita melihat lebih dalam. Beliau berkata bahwa ideologi tidak hanya hidup di otak, ia juga hidup di hati. Ia adalah dorongan batin, sensitivitas, kecintaan, kemarahan, loyalitas dan kebencian yang lahir dari akidah. Inilah yang disebut Perasaan Islam


Bayangkan ini seperti sebuah bangunan megah. Pemikiran Islam adalah pondasi dan tiangnya, hukum-hukumnya adalah dinding dan atapnya. Tapi perasaan Islam? Itulah nyawa yang membuat bangunan itu hidup, berpendar dan hangat. Ia adalah semangat yang membuat penghuninya rela berkorban, rela mencintai dan membenci karena Allah.


Dan di sinilah titik paling berbahaya dari serangan musuh. Mereka tahu, jika hanya menyerang pemikiran, umat bisa berdebat. Jika menyerang hukum, umat bisa mencari dalil. Tapi jika mereka berhasil membunuh perasaan ini, maka umat akan mati sebelum menyadari kematiannya. Mereka akan menjadi mayat-mayat yang berjalan.


Inilah langkah pertama dan yang paling mendasar.


Dalam Al-Qur'an, ada konsep yang sangat jelas Al-Wala' wal Bara', loyalitas hanya kepada Islam dan kaum Muslim serta berlepas diri dari kekufuran dan pelakunya. Inilah dinding pemisah yang menjaga identitas kita.


Maka, serangan pertama diarahkan ke sini. Dengan lembut, didengungkanlah kata-kata manis:


"Mengapa harus membeda-bedakan? Bukankah kita semua manusia?"

"Cinta khusus kepada Muslim itu namanya fanatisme!"

"Marah jika Islam dihina? Itu namanya ekstremisme!"


Mereka ganti konsep agung ini dengan slogan-slogan universal yang tampak indah, "Kemanusiaan di atas agama," atau "Semua agama sama saja."


Ujung-ujungnya, batas antara iman dan kufur menjadi kabur. Seorang Muslim bisa duduk tenang bersama para penghina Islam, karena "yang penting kan kemanusiaan." Identitas kita dikoyak sedikit demi sedikit. Kita menjadi netral, tidak punya teman sejati dan tidak punya musuh yang jelas.


Setelah tali loyalitas diputus, mereka menawarkan pengganti. Inilah langkah kedua.


Ikatan ummah yang begitu luas, yang mempersaudarakan seorang Muslim di Aceh dengan Muslim di Maroko, dipersempit. Dipersempit menjadi ikatan tanah air, bangsa, etnis dan bahasa.


Tiba-tiba, kita lebih bangga sebagai orang Jawa, orang Sunda, orang Batak, daripada bangga sebagai Muslim. Orang Turki dibanggakan dengan keTurkiannya, orang Arab dengan keArabannya.


Semangat ukhuwah Islamiyah yang dulu mampu merobohkan tembok-tembok Persia dan Romawi, kini terkikis habis oleh tembok-tembok baru bernama nasionalisme. Umat pun terpecah belah. Lihatlah konflik di mana-mana, saudara satu agama saling membunuh hanya karena berbeda bendera. Inilah hasilnya, sebuah alat pemisah yang sangat ampuh.


Lalu, masuk ke tahap yang lebih berbahaya. Ini bukan lagi serangan fisik, tapi serangan terhadap harga diri.


Dengan dalih kebebasan berpikir dan penelitian ilmiah, simbol-simbol suci kita diinjak-injak. Al-Qur'an dikritik habis-habisan. Kenabian Muhammad dipertanyakan. Para sahabat yang mulia dicaci maki.


Dan yang lebih menyakitkan, ketika kita marah, kita dibilang kolot, tidak toleran, tidak bisa menerima kritik. Kita diminta untuk diam, untuk tersenyum, untuk menerima semua itu sebagai bagian dari diskusi akademik.


Sedikit demi sedikit, ghirah Islamiyah, api cemburu kita terhadap agama dipadamkan. Kita diajari untuk tidak tersinggung. Akhirnya, hati kita mati rasa. Mendengar ayat suci diejek, kita hanya angkat bahu. Melihat Nabi dihina, kita hanya bisa diam.


Inilah yang disebut Syaikh Taqiyuddin sebagai mengubah arah emosi umat.


Setiap ideologi melahirkan perasaan khas. Islam melahirkan kebanggaan, kemarahan saat ada yang mengancam kebenaran dan kesedihan saat umat terpuruk.


Sekarang, arah itu diputar balikkan:


· Kebanggaan terhadap Islam diganti dengan rasa malu, malu disebut fundamentalis, malu berjenggot, malu bercadar.

· Kemarahan terhadap kemungkaran diganti dengan sikap acuh tak acuh.

· Kesedihan atas kehinaan umat diganti dengan penerimaan pasif: "Ya sudah, mungkin ini takdir."


Umat kehilangan sensitivitasnya. Bagaikan orang yang sudah kehilangan indra peraba, ia tak lagi merasakan panasnya api neraka yang mengancam orang-orang kafir dan tak lagi merasakan dinginnya nikmat surga yang dijanjikan untuk orang-orang beriman.


Puncaknya adalah ketika mereka berhasil mengganti spiritualitas Islam.


Spiritualitas yang agung, yang lahir dari akidah yang benar dan melahirkan komitmen pada syariat diganti dengan spiritualitas instan. Spiritualitas yang hanya soal perasaan pribadi, tanpa ada kaitannya dengan aturan hukum. Pengalaman batin yang tidak punya dampak sosial. Moralitas tanpa sistem.


Islam direduksi menjadi sekadar nilai-nilai moral yang abstrak, etika personal dan pengalaman rohani privat. Islam tidak lagi bicara soal politik, soal pemerintahan, soal aturan jual beli, soal sanksi hukum. Islam hanya jadi urusan pribadi antara hamba dengan Tuhannya di dalam masjid.


Syaikh Taqiyuddin menyimpulkan bahwa dampaknya sangat dalam:


· Umat tidak lagi merasakan sakit atas kehinaan politiknya.

· Tidak lagi marah atas penerapan hukum kufur.

· Tidak lagi bangga atas sejarah dan syariatnya.

· Tidak lagi memandang Islam sebagai identitas kolektif.


Islam tersisa sebagai:


· ibadah individual,

· tradisi budaya,

· simbol identitas lemah.


Inilah yang disebut Syaikh Taqiyuddin sebagai kekalahan perasaan.


Mungkin kita bertanya-tanya, apa yang bisa kita perbuat?


Langkah pertama adalah menyadari. Sadarilah bahwa perasaan kita adalah medan jihad. Jangan biarkan api kecintaan kepada Islam padam dalam dada. Jaga kemarahan kita hanya untuk Allah. Rawatlah rasa bangga menjadi seorang Muslim. Rawatlah rasa sakit ketika Islam dilecehkan.


Karena dari perasaan-perasaan inilah, lahir generasi yang mampu mengubah dunia. Dari dada yang bergelora karena cinta kepada-Nya, lahirlah para pahlawan, para pejuang, para pembebas.


Mari kita jaga perasaan Islam ini. Karena ia adalah kunci kemenangan yang hakiki.(fjn)


Editorial Rumah Tsaqofah | Dirancang untuk: Kesadaran Umat