Senin, 05 Februari 2018

Benarkah HTI akan menghancurkan indonesia?

BENARKAH HTI AKAN MENGHANCURKAN INDONESIA?
.

Akhir-akhir ini banyak pihak yang suka melontarkan tuduhan bahwa HTI akan merusak Indonesia, negeri mayoritas muslim sehingga seperti Irak, Afganistan, Suriah, Palestina dan lain sebagainya. Dikatakan HTI memiliki visi dan misi tersembunyi untuk merusak dunia Islam dengan memecah belahnya dan menimbulkan konflik pada masyarakat yang cinta damai dan toleran seperti Indonesia ini.
Tulisan ini, akan membahas secara obyektif beberapa pernyataan di atas.
*****
HTI adalah organisasi dakwah Islam yang bercita-cita mewujudkan kerahmatan Islam secara nyata lewat penerapan syariah dalam bingkai Khilafah. Aktivis HTI terdiri dari berbagai kalangan, seperti ulama, penguasaha, intelektual, ustadz, mahasiswa, buruh, petani, nelayan, dan lain sebagainya. Mereka semua adalah orang-orang asli Indonesia, yang lahir, tumbuh, dan mungkin juga akan wafat di Indonesia.
Mereka berjuang dan bergabung dengan HTI justru karena didorong rasa cinta yang mendalam agar berbagai permasalahan yang menimpa Indonesia yang tidak ada ujung pangkalnya segera dapat diatasi dengan sebaik-baiknya. Aktivis HTI berjuang dengan penuh semangat agar semua penjajahan, baik ekonomi, politik, dan sosial budaya dari negara-negara asing dapat segera dihentikan. Semua aktivis HTI berharap dan berusaha agar masyarakat bersatu dan tidak dikotak-kotak oleh batasan-batasan imajiner seperti nasionalisme dan sukuisme.

Semua aktivis HTI adalah orang-orang yan sangat cinta tanah airnya, Indonesia. Cinta tanah air ini menurut Islam adalah sesuatu yang fitri, dan sama sekali bukan hal yang bertentangan dengan Islam. Cinta tanah air merupakan perasaan cinta pada tempat atau daerah dimana ia dilahirkan, dibesarkan atau ia tinggal dalam waktu tertentu. Orang yang cinta pada tanah airnya akan merasakan bahagia dan nyaman saat tinggal di daerah tersebut. Saat ia berada di tempat yang jauh, ia akan merasa kangen dan ingin pulang ke daerah yang menjadi tanah airnya. Ia selalu berharap tanah airnya menjadi lebih baik pada masa-masa yang akan datang.
Semua manusia akan merasakan hal itu. Rasulullah sendiri sangat mencintai Makkah, sebagai tempat lahirnya beliau, atau dalam bahasa puitis: Makkah sebagai tumpah darah beliau. Saat beliau hijrah dari Makkah beliau bersabda: "Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah bumi Allah yang paling aku cintai. Seandainya bukan karena yang tinggal di sini mengusir, niscaya aku tak akan meninggalkan kamu". Para sahabat Nabi juga demikian, sangat mencintai tanah airnya, sampai-sampai Rasulullah memohon kepada Allah: "Ya Allah, cintakanlah kota Madinqh kepada kami, sebagaimana Engkau mencintakan kota Makkah kepada kami, bahkan lebih" (HR. Bukhari, Malik dan Ahmad).

Sementara nasionalisme, merupakan suatu paham (isme) yang dibangun diatas nation (bangsa). Bangsa sendiri adalah sekumpulan orang dengan asal-usul yang sama atau nenek moyang yang sama. Bagi pengikut paham nasionalisme, loyalitas tertingginya adalah untuk bangsanya. Ia hanya mau diatur dengan hukum-hukum yang digali dari nilai-nilai leluhurnya. Ia akan membela bangsanya, baik benar atau salah. Bahkan, ia siap mati demi bangsanya, tidak peduli benar atau salah. Menurut Islam adanya bangsa (nation) itu fitrah yang tak mungkin dihindari. Namun nasionalisme adalah paham atau isme yang dilarang Islam. Dalam Islam, loyalitas kita hanya kepada Allah, pencipta kita. Kita tak boleh membela yang salah, hanya karena dia satu bangsa dengan kita. Kita tak boleh perang atas dasar suku atau bangsa. Rasul bersabda: "Bukan termasuk golongan kami, orang yang mengajak pada ashobiyah (fanatik atas dasar kelompok atau suku atau bangsa). Bukan termasuk golongan kami, orang yang berperang atas dasar ashobiyah. Dan tidak termasuk golongan kami, orang yang mati karena ashobiyah" (HR. Abu Daud).

Sebelum Islam, suku Aus dan Khazraj berperang ratusan tahun, hanya karena urusan perbedaan suku dan bangsa (nasionalisie). Kemudian Islam datang untuk menyatukan hati mereka. Manusia itu sama di hadapan Allah, meskipun suku dan bangsanya berbeda. Islam kemudian menyatukan suku Aus dan Khazraj, lalu menyatukan mereka dengan suku-suku lain di jazirah arab, lalu menyatukan dengan suku-suku dan bangsa-bangsa lain di dunia.
*****
Sama sekali tidak terbersit setitik pun bahwa pada aktivis HTI akan menghancurkan Indonesia. Sebab mereka adalah orang Indonesia, ayah ibunya orang Indonesia, saudaranya orang Indonesia, dan temannya orang Indonesia. Sungguh tidak masuk akal sehat, jika aktivis HTI ingin menghancurkan Indonesia. Sebaliknya, justru aktivis HTI ingin agar Indonesia lebih baik dan lebih baik lagi. Harapan HTI, Indonesia menjadi baldah thayyibah (negeri yang sejahtera) dan robbun ghofur (diridloi Allah).
Secara jujur jika masyarakat diklasifikasi berdasarkan thayyibah dan robbun ghafur, maka kita akan dapat empat tipe masyarakat
Pertama, masyarakat yang sejahtera dan diridloi Allah. Keadaan inilah yang pasti diharapkan oleh semua umat Islam, termasuk aktivis HTI. Visi kemasyarakatn harusnya menuju ke sini.
Kedua, tidak sejahtera tapi diriloi Allah. Kalau bisa, kita jangan seperti ini.
Ketiga, sejahtera namun tidak diridloi Allah. Semoga Indonesia tidak seperti ini.
Keempat, tidak sejahtera dan juga tidak diridloi Allah. Sungguh kita berlindung kepada Allah agar Indonesia tidak seperti ini.

Jika kita bertanya secara jujur: bagaimana dengan kondisi Indonesia dan negeri-negeri Islam yang lain? Secara pribadi, saya sangat berharap berada pada tipe pertama. Tapi, jika melihat realita yang ada, dengan sangat prihatin, saya katakan, “kita berada pada posisi ke empat”. Terus terang, kita sangat sedih berada pada kondisi ini, tapi memang begitulah kondisinya.

Lalu, bagaimana caranya agar kita menjadi masyarakat yang sejahtera dan diridloi Allah?
Untuk mencapai kesejahteraan, sebetulnya tidak sulit. Yang diperlukan hanya dua, yaitu SISTEM atau aturan yang secara rasional mengantarkan pada kesejahteraan; dan kedua sistem itu dilaksanakan oleh PEMIMPIN yang konsisten dengan sistem yang ada. Inilah yang dilakukan di Jepang, Singapura, dan lain-lain. Bagaimana agar petani sejahtera, sebenarnya gampang, buat sistem atau aturan agar petani dapat menghasilkan hasil yang optimal, lalu sediakan pasar yang baik. Sementara kesehatan, pendidikan keluarganya dan lain sebagainya memang diatur oleh negara untuk mencapai semua itu. Insya Allah mereka akan sejahtera. Untuk melaksanakan aturan yang ada, kemudian secara konsisten, dikawal dan dijaga oleh pemimpin yang visioner dan konsisten dengan visi itu. Dengan dua hal ini, insya Allah, masyarakat akan sejahtera. Jadi, kalau hanya untuk mencapai kesejahteraan, memang tidak perlu Khilafah dan syariah. Kesejahteraan, bisa terjadi di dalam sistem Khilafah dan bisa tidak menggunakan sistem Khilafah.

Kemudian, bagaimana caranya agar diridloi Allah? Maka dalam hal ini, tidak ada cara lain kecuali dengan ketaatan penuh kepada Allah SWT. Allah tidak akan ridlo, jika masyarakat menerapkan sistem hukum, selain sistem hukumnya Allah. Agar diridloi Allah, harus dengan penerapan syariah secara total dalam kehidupan masyarakat. Syariah Allah, tidak akan pernah dapat diterapkan secara kaffah, kecuali dalam sistem Khilafah Islamiyah. Jadi, sangat tidak masuk akal, kita ingin diridloi Allah, tapi dengan menerapkan aturan yang bukan dari Allah swt.

Karena kesadaran inilah, aktivis HTI berjuang dengan sungguh-sungguh agar Indonesia menjadi baldatun thayyibatun wa robbun ghafur. Karena itu jika ada yang menganggap HTI mau menghancurkan Indonesia, itu sesungguhnya merupakan khayalan penuduh.
*****
Berikutnya jika ada yang mengatakan bahwa HTI akan memecah belah Indonesia, itu jelas merupakan tuduhan keji. Justru sebaliknya, HTI ingin agar Indonesia tetap utuh bahkan lebih besar lagi, seperti pada sejarah masa lalu.

Saat Timor-Timur mau melepaskan diri, HTI justru sangat aktif berperan agar hal itu jangan sampai terjadi. HTI melakukan demonstrasi di mana-mana, melakukan audiensi ke mana-mana, membuat tulisan dan selebaran yang intinya bahwa referendum hanyalah makar negara-negara Barat untuk memecah belah Indonesia. HTI melakukan upaya dan ikhtiyar yang maksimal, tetapi pengambil keputusan tetap berada di tangan pemerintah pusat. Dan akhirnya seperti yang diprediksi HTI, referendum itu dipenuhi kecurangan dan akhirnya Timor-Timur lepas dari Indonesia.

Hal yang sama, HTI melakukan berbagai kampanye untuk menolak gerakan separatisme oleh Organisasi Papua Merdeka (disingkat OPM), untuk memecah belah Indonesia dan memisahkan provinsi Papua dan Papua Barat dari Indonesia. OPM telah melakukan upacara pengibaran bendera Bintang Kejora, dan melakukan aksi militan sebagai bagian dari konflik Papua. HTI mengingatkan semua pihak, terutama pemerintah agar melakukan berbagai upaya serius untuk menghentikan gerakan separatisme ini. Namun, keputusan semuanya ada di tangan pemerintah pusat. HTI hanya bisa berusaha dan ikhtiyar.
HTI sangat tidak berharap, Indonesia yang ditinggali mayoritas umat Islam ini terpecah belah dan terkoyak. Jadi, jika ada yang mengatakan bahwa HTI ingin merusak dan memecah belah Indonesia, merupakan tindakan yang sangat keji.

Sedangkan tentang konflik di Afganistan, Irak, Suriah dan lain-lain tidak ada hubungannya dengan HTI atau HT. Konflik di Afganistan dan Irak murni karena serangan Amerika dan sekutunya ke sana untuk menguasai sumber daya alam di sana. Jika kita ingat, isu awalnya adalah karena negara ini dianggap melindungi teroris dan menyimpan Senjata Pemusnah Masal. Namun setelah negeri ini hancur berkeping-keping, senjata pemusnah massal yang dituduhkan itu tak kunjung diperoleh. Hingga saat ini negeri tersebut masih dalam keadaan konflik, perang dan nestapa lainnya. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan syariah Islam atau Khilafah, tetapi karena kerakusan Amerika dan sekutunya untuk menguasai negeri tersebut.

Konflik di Suriah juga sama. Tidak ada hubungannya dengan HTI atau HT dan syariah Islam. Konflik di sana terjadi karena penguasa di sana yang diktator membumi-hanguskan rakyatnya karena menuntut keadilan. Namun, alih-alih keadilan itu diwujudkan, justru rakyat yang melakukan demonstrasi damai justru dibombardir dengan sangat kejam di luar batas kemanusiaan. Saat ini, pemerintahan diktator Suriah dan dibantu sekutunya Rusia dan juga Amerika terus memuntahkan berbagai senjata mematikan di sana kepada anak-anak dan wanita.

Konflik di Palestina juga sama. Tidak ada hubungannya dengan HTI atau HT. Konflik di sana terjadi, karena penjarahan dan penindasan Israel yang berada di luar batas kemanusiaan kepada Bangsa Palestina. Di sana anak-anak kecil dan wanita dibunuhi oleh pasukan Israel dengan senjata lengkap. Sungguh kekejaman di sana tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Semua konflik dan kekacauan di sana sama sekali tidak ada hubungannya dengan syariah, Khilafah, HTI atau HT. Justru semua konflik yang dipicu oleh keserakahan Kapitalisme dengan mengorbanan warga masyarakat lemah yang tidak berdosa.

Menuduh HT dan HTI sebagai biang kerusuhan dan konflik di sana seperti menuduh bahwa “musim hujan telah menimbulkan kekeringan dimana-mana”. Tuduhan ini bukan hanya didasari oleh kebodohan, tetapi mungkin juga oleh kematian nurani. Sebab, semua konflik dan kekacauan di sana tidak ada hubungannya dengan syariah dan Khilafah, sebaliknya semua konflik itu terjadi justru karena ketiadaan Khilafah.
*****
HTI berjuang justru untuk kebaikan Indonesia dan dunia Islam. HTI sama sekali tidak pernah berharap kehancuran dan perpecahan Indonesia. HTI berikhtiyar dengan sungguh-sungguh agar Indonesia dan dunia Islam yang lain menjadi baldatun thayyibatun wa robbun ghafur, yaitu menerapkan syariah secara kaffah dalam bingkai Khilafah.
Wallahu a'lam.

Dosa dosa HTI pada penguasa

DOSA-DOSA HTI DIMATA PEMERINTAH
13/07/2017
KH. M. Shiddiq Al Jawi:
Apakah ini aktivitas HTI yang anti pancasila ?
.
1. MENOLAK PAPUA LEPAS DARI INDONESIA.-->
http://www.antarajatim.com/lihat/berita/78498/
hti-tolak-papua-merdeka
.
2. HTI MENOLAK KENAIKAN BBM -----> https://
m.tempo.co/…/2…/11/12/2311/hti-gelar-aksi-tolak-kenaikan-bbm
.
3. HTI TOLAK KENAIKAN TARIF DASAR LISTRIK ----> http://m.liputan6.com/news/read/283331/
massa-hti-tolak-kenaikan-tarif-listrik
.
4. HTI TOLAK ASING KELOLA SDA INDONESIA --->
http://poskotanews.com/…/hizbut-tahrir-indonesia-menolak-p…/
.
5. HTI TOLAK LGBT. ----> https://
www.google.co.id/…/peristiwa/demo-di-bundaran-hi-mahasiswa-h
izbut-tahrir-kecam-lgbt.html?espv=1
.
6. HTI TOLAK LIBERALISASI MIGAS ---->
http://m.detik.com/…/berita-jawa-timur/d-1822113/hti-tolak-…
.
7. SOLIDARITAS HTI TERHADAP MUSLIM SURIA--->
http://m.detik.com/…/solidaritas-muslim-suriah-hti-jabar-ge…
.
8. HTI TOLAK KOMUNIS ---> http://hizbut-tahrir.or.id/…/mewaspadai-komunisme-gaya-baru/
.
9.AKSI HTI SOLIDARITAS MUSLIN ROHINGYA ---->
http://m.antaranews.com/…/massa-hti-gelar-aksi-solidaritas-…
.
10. HTI TOLAK NEGARA PENJAJAH AMERIKA.
http://m.detik.com/…/belum-tahu-obama-batal-datang-hti-jaba…
.
11. MENOLAK PEMERINTAH LEPAS TANGAN SOAL KESEHATAN. -----> http://m.tribunnews.com/…/ini-alasan-hti-tolak-sjsn-dan-bpjs
.
12. HTI SADARKAN UMAT TENTANG KHILAFAH--->
http://hizbut-tahrir.or.id/…/khilafah-ajaran-islam-bukan-k…/
.
13. HTI MENOLAK PERDAGANGAN BEBAS YANG MERUGIKAN RAKYAT ---->
http://hizbut-tahrir.or.id/…/acfta-pasar-bebas-2010-bunuh-…/
__________________
.
Dan Apakah ini aktivitas Pemerintah yang sangat Pancasilais ?
.
BUKTI BAHWA PEMERINTAH MENJALANKAN PANCASILA DENGAN BAIK.
.
1. PEMERINTAH YANG NAIKAN LISTRIK
https://www.google.co.id/…/m.republi…/amp_version/ophnh0365…
.
2. PEMERINTAH YANG TERUS BIARKAN FREEPORT RAMPOK EMAS PAPUA.
https://www.google.co.id/amp/s/ekbis.sindonews.
com/newsread/1053667/34/ini-alasan-esdm-
perpanjang-kontrak-freeport-1444988802?espv=1
.
3. PEMERINTAH YANG MENAIKAN HARGA BBM
http://m.tribunnews.com/nasional/2017/01/05/
harga-bbm-dan-tarif-listrik-naik-jokowi-dimint
a-batalkan-kenaikan-pnbp-kendaraan-bermotor
.
4. PEMERINTAH LINDUNGI LGBT
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia/2016/
10/161019_indonesia_wwc_jokowi_lgbt
.
5. PEMERINTAH TERUS BERHUTANG RIBA
http://poskotanews.com/2016/07/21/
pemerintahan-jokowi-tambah-utang-rp5858-triliu
n/
.
6. PEMERINTAH NAIKAN PAJAK
https://m.eramuslim.com/…/sby-kritik-jokowi-terlalu-sadis-n…
.
7. PEMERINTAH MELUNAK KE KOMUNIS
http://m.cnnindonesia.com/nasional/
20160512213301-12-130390/jokowi-minta-polisi-tak-berlebihan-tangani-komunisme/
.
Jelas terbukti penguasa yang MENYENGSARAKAN rakyat, yang MERUSAK & MENGANCAM NKRI, yang ANTI pancasila, Lantas kenapa HTI yang ingin dibubarkan ???!!!
.
#KamiBersamaHTI
#RezimRepresif
#RezimAntiIslam

Surat terbuka buat kapolri

*SURAT TERBUKA BUAT KAPOLRI*
(Apakah Pidato Ini Bukan RASIS...?)
.
Oleh Tengku Zulkarnain
.
Jika Petinggi Negara NKRI, sekelas Kepala Kepolisian Republik Indonesia masih bersikap seperti ini, kasihan Ibu Pertiwi dan akan menangis lah Para Pejuang Pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia, ujungnya dapat mengancam Kesatuan dan Persatuan di NKRI
.
Mereka yang berada di luar Ormasy Islam saja, dan tidak memeluk Agama Islam, walau tidak lebih dari 10% populasi WAJIB dihormati jasa jasanya dalam perjuangan Kemerdekaan, apalagi umat Islam yang hampir 9O%. Bukankah ada ungkapan yang sangat terkenal:"Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang dapat Menghargai Jasa Pahlawannya?
.
Nampaknya, Bapak Kapolri sangat perlu belajar lagi tentang sejarah Pergerakan dan Perjuangan Indonesia. Sikap dan pengetahuan anda tantang hal Ini sangat mengecewakan.
.
Ada banyak Ormasy Islam di luar NU dan Muhammadiyah yang ikut berjuang mati matian melawan Penjajah di seluruh wilayah Indonesia dari Aceh sampai Halmahera.
.
Di Jawa saja sebelum Muhammadiyah dan NU lahir Ada Syarikat Islam, kemudian menjadi Syarikat Dagang Islam, dengan Tokoh pendiri HOS Cokroaminoto, guru besar bagi Bung Karno dan banyak tokoh pejuang lainnya.
.
Di Jakarta tahun 1901 berdiri Jami'atul Khairat, didirikan oleh para ulama dan masyarakat keturunan Nasionalis Arab.
.
Di Banten ada Mathla'ul Anwar berdiri tahun 1916 di Menes, bahkan 10 tahun sebelum NU berdiri, dan hanya 4 tahun setelah Muhammadiyah, yang berdiri di Yogjakarta pada tahun 1912. Dan anda perlu tahu saat itu TIDAK ADA satupun anggota Muhammadiyah, apalagi anggota NU yang berjuang demi Rakyat Indonesia dan Kemerdekaan Indonesia di wilayah Banten. Bukankah NU belum lahir ke dunia saat Umat Islam Mathla'ul Anwar di Banten sudah berjuang melawan penjajah dan membuat usaha agar Republik Indonesia bisa berdiri MERDEKA?
.
Perlu juga Bapak ketahui bahwa salah satu anak didik Mathla'ul Anwar adalah Almarhum Bapak Haji Alamsyah Ratu Prawira Negara, Jendral pejuang asal Lampung, yang pernah jadi Menteri Sekretaris Negara dan Menteri Agama RI.
.
Di Medan, berdiri Ormasy Islam Al Washliyah pada tahun 1926. Membuat banyak sekolah, bahkan para Ulama nya berjuang angkat senjata melawan penjajah Belanda. Sebut Almarhum Riva'i Abdul Manaf(pengarang lagu "Panggilan Jihad", yang fenomenal itu), Almarhum Bahrum Jamil, Almarhum Bahrum Sholih dll., Ulama pejuang dari Al Washliyah. Perlu Pak Kapolri Catat BESAR BESAR bahwa pada saat itu dapat dipastikan belum ada Satu orang pun anggota NU di Sumatera Utara, khususnya Medan yang berjuang di sana.
.
Pada tahun 1936 berdiri pula a Ormasy Islam Al Ittihadiyah, oleh Syekh Muhammad Dahlan, Syekh Zainal Arifin Abbas, (penulis Besar asal Medan, yang juga Ulama Pejuang yang angkat senjata melawan penjajah), Dan Syekh Sayuti Nur(guru saya), Ulama Pejuang di Medan.
.
Di Aceh berdiri Persatuan Ulama Aceh yang menuliskan fatwa Jihad melawan Penjajah Kafir Belanda dan menuliskan "Hikayat Perang Sabil" yang terkenal itu.
.
Di Sumatera Barat berdiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah(PERTI) yang dipelopori oleh Almarhum Syekh Sulaiman Arrasuli, Syekh Abbas Padang Lawas, Syekh Jamil Jaho, Syekh Sa'ad Mungka, Syekh Abdul Wahid, Padang Jopang, Suliki, Payakumbuh(kakek guru saya). Sudah dapat dipastikan saat itu belum ada anggota NU yang berjuang di sana.
.
Di Jawa Barat ada Persis, didirikan oleh Syekh A. Hassan Bandung, yang banyak membantu Bung Karno dan menginpirasi pemikiran Beliau. Ada Juga PUI(Persatuan Umat Islam).
.
Di Lombok ada Nahdhatul Wathon, yang didirikan oleh Tuan Guru Zainudddin, kakek dari Tuan Guru Bajang, Gubernur NTB saat ini.
.
Di Sulawesi Ada Al Khairat, dan lain lain.
.
Apa pak Kapolri pikir jika saat itu hanya NU di Jawa Timur, dan Muhammadiyah di Yogjakarta dan sekitarnya yang berjuang memerdekakan NKRI, sementara wilayah Aceh sampai Maluku Ulama dan Umat Islam berpangku tangan tidak ikut berjuang, KEMERDEKAAN INDONESIA dapat tercapai?
.
Tegas kami katakan bahwa di NKRI ini semua Ormasy yang ada di NKRI mempunyai HAK dan KEWAJIBAN yang sama. Mendoktrin dan menebarkan Policy "BELAH Bambu" sangat tidak manusiawi.
.
Melalui Surat Terbuka ini saya, Tengku Zulkarnain PROTES KERAS atas pernyataan Bapak Kapolri dan meminta anda meminta maaf serta menarik isi pidato anda yang saya nilai tidak ETIS, merendahkan jasa Para Ulama dan Pejuang Islam di luar Muhammadiyah dan NU. Mencederai rasa Kebangsaan, serta berpotensi memecah belah Persatuan dan Kesatuan Bangsa dan negara Indonesia.
.
Tanjung Pinang, 29 Januari, 2018,
*Tengku Zulkarnain*
Warga Negara Indonesia*

Minggu, 04 Februari 2018

PERPU untuk menghabisi kekuatan politik islam

Perppu untuk Menghabisi Kekuatan Politik Islam
.
Muhammad Ismail Yusanto (Jubir Hizbut Tahrir Indonesia)
.
Informasi valid yang didapat juru bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto menyebutkan salah satu latar belakang kenapa HTI dibubarkan adalah karena kekecewaan yang amat besar atas kekalahan dalam hampir 60% Pilkada 2017 lalu, khususnya Pilkada DKI. HTI dengan seruan “Tolak Pemimpin Kafir”, “Haram Pemimpin Kafir”, yang secara sangat masif disuarakan bahkan sejak sebelum Ahok resmi menjadi calon Gubernur DKI, dianggap berperan besar timbulnya gelombang penolakan terhadap Ahok dan munculnya kesadaran politik Islam. Mereka sangat takut hal serupa akan terulang pada Pilkada 2018 nanti, terlebih dalam Pileg dan Pilpres 2019. Oleh karena itu, sebelum hal itu terjadi, kekuatan ini harus dihabisi. Tokoh-tokohnya ditangkapi atau dipersekusi agar tak lagi punya nyali. Itulah salah satu hasil wawancara antara wartawan Media Umat Joko Prasetyo dengan aktivis Islam yang akrab disapa Ustadz Ismail tersebut. Wawancara selengkapnya yang tak kalah menarik silakan dibaca di bawah ini.
.
Bagaimana pendapat Anda dengan pernyataan Ahli Hukum Pidana, Dr Abdul Chair, bahwa Perppu Ormas “baik langsung maupun tidak langsung, akan menimbulkan suatu akibat berupa penodaan terhadap agama”?
.
Ini pendapat sangat menarik. Terus terang sejauh saya mengkaji Perppu Ormas, tidak pernah terpikir seperti ini. Pendapat beliau betul sekali. Pada intinya beliau mengatakan, bila dengan Perppu itu pemerintah bisa membubarkan ormas yang menganut paham tentang sistem politik dan pemerintahan yang memiliki dasar dalam agama, yakni Alquran dan Sunnah, telah pernah dipraktekkan oleh Nabi Muhammad SAW, serta diikuti oleh para shahabat, karena dianggap bertentangan dengan Pancasila, maka Perppu itu bisa menimbulkan akibat berupa penodaan terhadap ajaran Islam.
.
Apakah bisa dikatakan pula bahwa Perppu Ormas ini juga membahayakan umat Islam yang mendakwahkan penerapan syariat Islam secara kaffah?
.
Oh iya. Jelas sekali. Karena dengan Perppu itu pemerintah bisa menghalangi dakwah, tidak semua dakwah tentu, tapi dakwah untuk tujuan penerapan syariah secara kaffah, dengan tudingan dakwah semacam itu bertentangan dengan Pancasila.
.
Apakah Anda melihat bahwa Perppu Ormas merupakan alat rezim untuk menghentikan perjuangan umat yang sadar akan politik Islam?
.
Iya, jelas sekali. Indikasinya, sangat nyata. Perppu itu langsung digunakan untuk membubarkan HTI, sebuah organisasi dakwah yang bertujuan bagi tegaknya syariah secara kaffah, dan kemungkinan 5 – 6 ormas lain, bahkan menurut Wakil Ketua DPR, ada 15 ormas serupa yang akan dibubarkan.
.
Apakah Perppu ini juga digunakan rezim untuk mengamankan kepentingan politik 2019-nya?
.
Iya. Kita mendapat informasi valid, bahwa salah satu latar belakang kenapa HTI dibubarkan adalah karena kekecewaan yang amat besar atas kekalahan dalam hampir 60% Pilkada 2017 lalu, khususnya Pilkada DKI. HTI dengan seruan “Tolak Pemimpin Kafir”, “Haram Pemimpin Kafir”, yang secara sangat masif disuarakan bahkan sejak sebelum Ahok resmi menjadi calon Gubernur DKI, dianggap berperan besar timbulnya gelombang penolakan terhadap Ahok dan munculnya kesadaran politik Islam.
.
Mereka sangat takut hal serupa akan terulang pada Pilkada 2018 nanti, terlebih dalam Pileg dan Pilpres 2019. Oleh karena itu, sebelum hal itu terjadi, kekuatan ini harus dihabisi. Tokoh-tokohnya ditangkapi atau dipersekusi agar tak lagi punya nyali.
.
Apakah Anda melihat parpol pendukung Perppu Ormas juga merupakan parpol pendukung Ahok si penista agama?
.
Iya, sama persis. Pertarungan politik menyangkut Perppu mengingatkan kita pada pertarungan di Pilkada DKI lalu. Yang pro Ahok kemarin sama persis dengan yang pro Perppu.
.
Apa bahayanya bila Perppu ini tidak ditolak?
.
O, sangat berbahaya. Perppu ini ibarat pisau sangat tajam yang bisa digunakan oleh rezim untuk membunuh siapa saja yang dikehendaki tanpa proses pengadilan. Bukan hanya bisa digunakan untuk membubarkan ormas Islam secara semena-mena, Perppu ini juga bisa mengkriminalisasi ajaran Islam, khususnya terkait ide-ide yang dianggap bertentangan dengan Pancasila. Tak sampai di situ, Perppu ini juga bisa mengkriminalisasi orang yang menjadi pengurus dan anggota dari ormas yang dianggap menganut dan menyebarkan paham yang dinilai bertentangn dengan Pancasila.
.
Sementara apa yang dimaksud dengan paham yang bertentangan dengan Pancasila sebagaimana disebut dalam Pasal 59 ayat 4 hururf c, tidaklah jelas. Dalam penjesalasan pasal itu, disebutkan yang dimaksud dengan paham yang bertentangan dengan Pancasila adalah atheisme, komunisme, leninisme dan marxisme serta paham lain yang bertujuan hendak mengubah Pancasila dan UUD 45.
.
Nah, paham lain itu apa, tidak jelas. Padahal ini rumusan dalam penjelasan. Jadi ini sebuah penjelasan yang justru menimbulkan ketidakjelasan. Ketidakjelasan ini sangat berbahaya karena bisa ditafsirkan sekehendak penguasa, sebagaimana sekarang terjadi. Ancamannya tidak main-main. Hukuman penjara hingga seumur hidup.
.
Apa saja bentuk penolakan yang telah dilakukan dan akan dilakukan pihak penolak Perppu Ormas?
.
Kita melakukan penolakan setidaknya 5 bentuk perlawanan. Pertama, perlawanan hukum berupa pengajuan permohonan uji materi (judicial review) di MK. Saat ini persidangan-persidangan di sana sedang berjalan, dan sejauh ini optimis permohonan kita akan dikabulkan, karena hingga persidangan terakhir pekan lalu terlihat nyata argumen-argumen pemerintah bagi terbitnya Perppu itu sangat lemah. Makin berargumen mereka, makin tampak kelemahannya. Intinya, tidak ada itu kegentingan memaksa yang dengan itu pemerintah boleh menerbitkan Perppu. Yang ada adalah pemerintah memaksakan kegentingan.
.
Kedua, perlawanan politik berupa dorongan kepada fraksi-fraksi di DPR untuk menolak Perppu itu. Meski secara matematis kita kalah karena fraksi pendukung Perppu lebih banyak daripada yang menolak, tapi kita terus berusaha hingga saat terakhir jelang sidang paripurna nanti.
.
Ketiga, perlawanan publik, berupa kesertaan kita dalam aksi-aksi massa tolak Perppu di berbagai kota. Kita tentu berharap para wakil rakyat itu berubah pikiran setelah melihat masifnya penolakan di tengah masyarakat terhadap Perppu itu.
.
Keempat, perlawanan opini, berupa penyebaran opini tentang pentingnya Perppu ini ditolak dan Kelima, perlawanan langit, berupa doa dan munajat kita kepada Allah SWT. Meski mungkin secara zhahir kita lemah, tapi kita harus yakin bahwa dengan doa dan munajat kita kepada Allah, hal yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin.
.
Dan bagaimana sikap umat yang seharusnya kepada parpol-parpol pendukung Perppu Ormas? Mengapa?
.
Umat harus mencatat dengan cermat parpol-parpol itu. Parpol itu juga yang dulu mendukung Ahok. Mereka tetap saja mendukung penista agama meski jutaan umat mengecamnya. Mereka juga tetap tak bergeming mendukung Perppu Ormas meski itu menjadi alat represifme penguasa terhadap ormas Islam, ajaran Islam dan aktifis dakwah Islam. Maka, umat juga harus memikirkan dengan sungguh-sungguh, layakkah parpol seperti itu didukung?[]
.
Dikutip dari: Tabloid Media Umat Edisi 206: Perppu Ormas Menodai Agama
(30 Muharram 13 Safar 1439 H/ 20 Oktober 2 Nopember 2017)

Aksi bela islam 212 , semangat itu di takuti PENGUASA

AKSI BELA ISLAM 212, SEMANGAT ITU DITAKUTI PENGUASA
.
Aksi 212 menunjukkan kekuatan dan keagungan umat Islam, serta memberikan isyarat sangat gamblang kepada siapapun untuk tidak bermain-main dengan umat Islam.
.
Dua-satu-dua (212). Itu bukan angka sembarangan. Bukan pula angka yang terukir di dada tokoh fiktif Wiro Sableng. Dua-satu-dua adalah simbol ukhuwah islamiyah. Di tanggal 2 bulan 12 (Desember) tahun 2016 sebuah peristiwa heroik terjadi di jantung ibukota, Jakarta.
.
Inilah aksi terbesar umat Islam Indonesia hingga saat ini. Jumlahnya jutaan, bahkan ada yang mencatat hingga 7 juta orang. Siapa pun tidak menduga—termasuk panitia—umat Islam dari berbagai daerah bisa berkumpul di Jakarta untuk menuntut agar penista Alquran Basuki Tjahaja Purnama—saat itu masih menjabat Gubernur DKI Jakarta—ditahan.
.
Saking besarnya, massa membludak hingga jalan-jalan di seputar Monumen Nasional (Monas). Dengan damai kaum Muslim melaksanakan shalat Jumat serta mendengarkan tausiyah dari para ulama. Bahkan Presiden Joko Widodo pun menyempatkan diri hadir di panggung utama didampingi Menko Polkam Wiranto dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.
.
Padahal, sebelumnya berbagai cara dilakukan oleh pemerintah melalui aparat kepolisian untuk mencegah massa datang ke Jakarta. Intimidasi pun dirasakan tokoh-tokoh di daerah. Perusahaan-perusahaan otobus pun dilarang mengangkut massa ke Jakarta. Bahkan di jalan pun, aparat kepolisian berusaha menghadang rombongan yang sudah kadung berangkat dengan alasan yang tidak masuk akal alias dicari-cari.
.
Tapi semua rencana makar pemerintah terhadap umat Islam itu gagal. “Itu semua pertolongan Allah SWT,” ujar Ketua Dewan Penasihat Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF) Habib Muhammad Rizieq Syihab di Jakarta, ketika menyampaikan evaluasinya terkait Aksi Bela Islam 3 (ABI 212) tak lama setelah acara itu.
.
Menurutnya, tidak ada seorang habib, kyai, ulama, ormas, atau parpol manapun yang bisa mengumpulkan orang sebanyak itu untuk satu tujuan. Aksi pun berlangsung lancar, damai, tertib dan menuai banyak pujian.
.
Ia mengungkapkan, pertolongan juga datang ketika Allah SWT memperlihatkan keindahan persatuan dan kebersamaan umat Islam. Pada Aksi Bela Islam 1 dan 2, keindahan tersebut sudah diperlihatkan oleh Allah. ”Pada Aksi Bela Islam II, indahnya persaudaraan hanya pada lokasi aksi. Tapi, kali ini persaudaraan ini tidak hanya di lokasi aksi,” katanya.
.
Fakta di lapangan menunjukkan hal itu. Kaum Muslim saling membantu tanpa melihat lagi dari Ormas mana mereka berasal. Mereka saling berbagi makanan dan minuman secara cuma-cuma. Dukungan luas pun diberikan kepada para santri yang berjalan kaki dari Ciamis Jawa Barat yang terpaksa menyusuri jalan karena bis-bis mereka mendapat tekanan aparat kepolisian untuk tidak mengangkut mereka ke Jakarta. Gempita persaudaraan memang luar biasa.
.
Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) M Ismail Yusanto menilai, Aksi 212 lalu telah membuktikan bahwa umat bisa bersatu. Jutaan umat dari berbagai kelompok atau elemen hadir dengan semangat atau spirit dan tujuan yang sama: Bela Islam. Sebelum itu, orang selalu skeptis ketika berbicara tentang persatuan umat. Ternyata pesimisme itu salah. Umat bisa bersatu
.
Aksi itu membuktikan dahsyatnya kekuatan dorongan akidah Islam. Hanya dalam waktu kurang dari seminggu, di tengah berbagai cara yang dilakukan oleh aparat untuk menggembosi acara ini, ternyata tetap saja jutaan umat hadir. “Bila bukan karena dorongan akidah, tidak mungkin umat segitu banyak bisa serempak hadir dengan penuh semangat juang, menerobos semua hambatan dan rintangan yang menghadang,” paparnya.
.
Keberhasilan Aksi 212, menurutnya, tak bisa dilepaskan dari nasrullah atau pertolongan Allah. Hal yang tampak mustahil menjadi mungkin. Bagaimana bisa acara yang ditetapkan dalam waktu kurang dari satu pekan berhasil menghadirkan jutaan orang? Bagaimana bisa jutaan orang yang tumplek bleg di sekitar Monas itu bisa berjalan tertib, rapi, bersih, nyaris tanpa insiden, dan dalam waktu sekejap tempat acara dan jalanan sekitar Monas bersih seperti semula. Hujan yang datang di saat yang tepat telah memberikan jalan buat mereka yang ketika itu harus kembali berwudhu, sekaligus membuat suasana area aksi menjadi lebih sejuk. Inilah perlotongan Allah. Inilah tadbirur Rabbani (manajemen Ilahiyah).
.
Yang lebih penting, kata Ismail, Aksi 212 ini juga dengan gagah berhasil menunjukkan kekuatan dan keagungan umat Islam, serta memberikan isyarat sangat gamblang kepada siapapun untuk tidak bermain-main dengan umat Islam. “Sudah sangat lama umat di negeri ini disepelekan, dilecehkan dan diabaikan. Aksi lalu menegaskan, semua itu tidak boleh lagi terjadi. Kekuatan psikologis seperti ini lah yang saya kira kemudian menggerakkan presiden untuk hadir di tempat acara,” tandasnya.
.
Semangat Aksi 212 itu mampu menyengat dan menggetarkan nurani siapapun yang masih ada iman di dadanya. Kekuatan itu kemudian sangat berpengaruh, bahkan hingga sekarang. Pasca Aksi 212, masih ada energi besar yang tersimpan di tubuh umat. Mereka bisa mengeluarkan kembali. Ini yang ditakutkan oleh musuh-musuh Islam.
.
Ahok Kalah
.
Meski Aksi 212 tak berhasil menjadikan Ahok ditahan, aura aksi itu terus memengaruhi masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di ibukota Jakarta. Tak lama setelah aksi itu, di DKI Jakarta digelar Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) langsung.
.
Dengan semangat membara, Ahok yang kembali berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat kembali mengadu nasib di Pilkada untuk melanjutkan kepemimpinanannya. Ia yang dulu mendapatkan ‘warisan’ jabatan dari Jokowi—setelah Jokowi maju jadi presiden—meyakini bisa memenangi perhelatan lima tahunan tersebut.
.
Keyakinan itu paling tidak bisa dilihat dari dukungan partai politik yang mengusungnya. Di belakangnya ada PDI Perjuangan, Partai Golkar, PPP, PKB, Partai Nasdem, dan Partai Hanura. Secara hitungan politik, suara partai-partai itu sangat jauh dibandingkan lawan politiknya yakni Partai Gerindra, PKS, PAN, dan Partai Demokrat.
.
Tak hanya itu, keyakinan kubu kotak-kotak ini semakin menjadi ketika dukungan dana mengalir dari para konglomerat. Saat itu ramai diberitakan bahwa Ahok didukung oleh sembilan naga—sebutan kelompok pengusaha Cina pendukung Ahok. Belum lagi, tim sukses Jokowi jadi presiden, semuanya juga mendukung Ahok. Plus dukungan dari pemerintah beserta jajarannya secara tidak langsung.
.
Secara hitungan matematika, Ahok menang. Tapi fakta bicara lain. Setelah sempat menang di putaran pertama, Ahok tersungkur di putaran kedua. Kekalahannya cukup telak. Ahok yang Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok akhirnya gagal melanjutkan kepemimpinannya.
.
Tak dipungkiri ada sentimen negatif dari pemilih Muslim akibat ulah Ahok sendiri yang menghina Islam—sehingga memicu Aksi Bela Islam. Bahkan, menjelang musim kampanye berakhir, tim sukses Ahok-Djarot merilis video kampanye yang lagi-lagi menyakiti umat islam. Video itu mengusung tema kampanye soal keberagaman dan disisipkan di pengujung video lewat tagar #BeragamItuAhokD
jarot . Namun video itu berisi kerusuhan rasial tahun 1998 dan sejumlah adegan yang menayangkan sekelompok orang mengenakan atribut Muslim. Upaya tim sukses Ahok dalam berbagai kesempatan mencoba mengajak masyarakat untuk memandang kepemimpinan bukan dari sentimen keagamaan, gagal.
.
Masyarakat Muslim tak mempan diberi janji-janji Ahok dan ditakuti-takuti bahwa pasangan saingannya dekat dengan kalangan radikal dan intoleran. Bahkan julukan “Sunan Kalijodo” kepada Ahok dan panggilan “Basuki Nurul Qomar” yang diberikan oleh Ketua GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas tak mampu menarik massa Muslim untuk memilihnya.
.
Dendam
.
Rupanya kekalahan Ahok ini begitu menyakitkan. Soalnya, semua sumber daya sudah dikerahkan. Ibaratnya, sudah habis-habisan.
Sudahlah kalah di Jakarta, Ahok pun harus mendekam di penjara. Pengadilan Negeri Jakarta Utara memvonis sang gubernur ini dengan hukuman penjara 2 tahun karena terbukti secara sah menistakan agama Islam. Ibarat permainan, Ahok dan pendukungnya kalah 2:0.
.
Jelas kenyataan ini menjadikan partai pendukung Ahok dan Ahokers semakin sakit hati. Mulailah mereka mencari kambing hitam. Sasarannya jelas, umat Islam, khususnya yang terlibat dalam berbagai Aksi Bela Islam—karena Aksi Bela Islam ini dianggap mempunyai pengaruh besar dalam konstelasi politik di Jakarta.
.
Mereka tidak ingin membiarkan ghirah Islam ini terpelihara. Aksi Bela Islam ini mengkhawatirkan partai penguasa [baca: PDIP] khususnya menghadapi Pilkada serentak 2018 dan pemilihan presiden 2019. Kekuatan Islam tidak bisa dianggap sepele dan harus dihancurleburkan agar tidak merambah hajatan politik berikutnya.
.
Kekalahan calon PDIP di Jakarta tidak mereka inginkan kembali terjadi di daerah. Terlebih lagi, ada beberapa daerah potensial yang menjadi lumbung suara bagi partai moncong putih itu seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Dan jika mereka kalah, maka tampuk kekuasaan Jokowi bisa terkena imbasnya alias lengser dari singgasananya.
.
Umat Bersatu Tak Bisa Dikalahkan
.
Fenomena Aksi 212 membuktikan kekuatan umat Islam yang sangat dahsyat. Mereka berkumpul dan menyatu meski mereka berasal dari banyak organisasi. Tak ada sekat sedikitpun di antara mereka kendati ada perbedaan di sana-sini.
.
Apa yang bisa menyatukan mereka? Alquran. Mereka tidak rela kitab sucinya dihinakan oleh seorang bernama Ahok. Semangat membela Alquran itu telah mengalahkan segala rintangan dan halangan serta membakar jiwa mereka. Tak heran, meski tanpa dibayar, mereka rela datang ke Jakarta dari berbagai daerah dengan uang mereka sendiri. Bahkan, mereka rela berjalan kaki ratusan kilometer setelah bis yang mereka sewa tak berani memberangkatkan ke Jakarta karena mendapat tekanan aparat kepolisian.
.
Ya, mereka melebur menjadi satu karena Alquran. Ini adalah wujud nyata dari keimanan, dorongan akidah. Faktor akidah tak bisa dikalahkan oleh siapapun atau iming-iming dunia apapun. Dan, akidah ini adalah energi yang dahsyat yang bisa menggilas siapapun yang memusuhi Islam. [] emje
.

Negara imperialis sumber konflik di dunia ISLAM

Postingan ini buat menjawab fitnahan para kecebong yg katanya konflik di Timteng karena Ulah HT...:
.
NEGARA IMPERIALIS, SUMBER KONFLIK DI DUNIA ISLAM
.
Upaya kriminalisasi ajaran Islam seperti Khilafah ala Minhajin Nubuwah, terus dilakukan. Khilafah dan perjuangan menegakkan Khilafah disebut-sebut menjadi penyebab konflik di Timur Tengah. Krisis di Suriah dan Irak, disebut-sebut terjadi karena keinginan menegakkan Khilafah. Padahal ini jelas merupakan penyesatan politik. Konflik di Timur Tengah saat ini tidak ada hubungannya dengan Khilafah ala mInhajin nubuwah. Adapun yang dilakukan ISIS, bukanlah representasi Khilafah ala Minjahin Nubuwah.
.
Sebaliknya, penjajahan negara-negara imperialis lah yang menjadi pangkal konflik di Timur Tengah. Meskipun hampir semua negeri-negeri Islam telah mengklaim merdeka, namun penjajahan itu sesungguhnya masih terjadi. Penjajahan, bukanlah sekadar dilihat dari keberadaan tentara penjajah di sebuah negara, namun juga bisa terjadi melalui ekonomi, sosial budaya, dan politik baik dalam negeri dan luar negeri. Keberlangsungan penjajahan itu dipertahankan melalui dua pilar : sistem kenegaraan masih merujuk kepada penjajah dan dan penguasa boneka yang memuluskan penjajahan. Bahwa penjajahan itu masih terjadi, bisa dilihat bagaimana negeri-negeri Islam, dikontrol, dikendalikan dan dipengaruhi negara-negara penjajah.
.
Apa yang terjadi di Timur Tengah saat ini mencerminkan hal itu. Berbagai konflik di sana tidak bisa dilepaskan akibat pengaruh negara-negara penjajah. Krisis Palestina, tidak bisa dipisahkan dari keberadaan entitas penjajah Yahudi yang kelahirannya dibidani Inggris lewat deklarasi Balfour, kemudian dipelihara dan dijaga oleh Amerika dengan legitimasi organ internasional penjajah :PBB. Dengan dukungan negara-negara imperialis, Zionis Israel mengusir umat Islam dari tanahnya sendiri, melakukan pembunuhan massal dan pembantaian, tiada henti hingga saat ini.
.
Di Mesir, untuk menghabisi kekuatan politik Islam yang menginginkan kebangkitan Islam, Amerika Serikat mendukung penuh rezim-rezim represif yang di luar batas kemanusiaan. Mulai dari Gamel Abdul Nasser, Anwar Sadat, Husni Mubarak, hingga As Sisi saat ini. Meskipun rezim brutal ini melakukan penangkapan, penyiksaan, pengadilan tanpa berkeadilan, hingga pembunuhan terhadap rakyatnya sendiri, Amerika tetap memberikan dukungan politik maupun keuangan untuk menopang rezim represif militer. Amerika sangat khawatir kebangkitan politik Islam di Mesir, dalam wujud negara yang menerapkan syariah Islam akan mengguncang tahta kekuasaanya di Timur Tengah.
.
Hal yang sama terjadi di Suriah. Berpuluh tahun negara Amerika dan sekutunya menopang keberadaan rezim Bashar yang bengis. Ribuan rakyatnya dibunuh, dipenjara, dan disiksa di era Hafidz Assad. Kejahatan ini dilanjutkan sang anak yang tak kalah kejinya, Bashar Assad. Keinginan perubahan ke arah Islam dari rakyat Suriah saat Arab Spring yang awalnya berlangsung damai, pecah menjadi konflik bersenjata. Berawal dari sikap rezim Bashar yang melakukan respon brutal dengan melakukan pembunuhan terhadap rakyatnya yang ingin berubah secara damai.
.
Pada mulanya, Amerika berharap, akan segera bisa dicari pengganti Bashar Assad, yang seolah-olah pro terhadap rakyat, seperti yang dilakukannya di Mesir dan Tunisia. Namun keinginan rakyat Suriah terhadap Islam tidak bisa dibendung. Amerika pun mengambil kebijakan dua kaki, seolah-olah berseberangan dengan rezim Bashar, namun di sisi lain, membiarkan rezim Bashar berkuasa dengan membiarkan masuknya Iran, Hizbullah, hingga Rusia yang memperkuat rezim Bashar. Di Era Trump, Amerika benar-benar menunjukkan jati dirinya, bersepakat secara terbuka dengan Rusia, untuk mempertahankan rezim Bashar, mencegah kebangkitan Islam di sana.
.
Gejolak Yaman juga tidak bisa dilepaskan dari kepentingan negara-negara imperialis, dalam hal ini persaingan diam-diam Amerika dan Inggris. Melalui Saudi yang saat ini ada di tangan rezim Salman yang pro Amerika, Amerika mendukung perang yang telah mengorbankan banyak rakyat sipil. Tujuannya tidak lain menggeser pengaruh Inggris di negara itu.Hal yang sama terjadi di Libya.
.
Sementara, pergolakan di Saudi saat ini, tidak lepas dari keinginan Amerika untuk benar-benar menguasai Saudi dan menghabisi pengaruh Inggris. Menurunnya harga minyak dunia, yang memukul Saudi menjadi momen penting bagi Amerika untuk memperkuat posisinya di Saudi. Amerika pun mendukung penuh Raja Salman dan kroninya. Kompensasinya adalah liberalisasi ekonomi dan deradikalisasi yang intinya adalah deislamisasi, menjauhkan dari syariah Islam yang totalitas. Pertarungan antar elit kerajaan, para pangeran pun tampaknya akan semakin membesar.
.
Krisis di Irak, juga tidak bisa dilepaskan dari pendudukan Amerika lewat perang teluk II dengan alasan menumbangkan rezim Saddam. Pendudukan Amerika ini telah mengorbankan lebih dari 1 juta rakyat Irak. Tidak hanya itu, Amerika terus mengobarkan api sektarian yang membakar rakyat Irak. Konflik horizontal pun pecah, sebagai bagian dari politik adu domba negara penjajah ini. Untuk melemahkan Irak, Amerika merancang Irak sebagai negara federal dengan ikatan lemah berdasarkan basis sektarian: sunni, syiah dan Kurdi.
.
Di Indonesia, saat ini rezim Jokowi, tidak bisa lepas dari kontrol Amerika. Sebagaimana negara-negara lain, rezim liberal ini semakin menunjukkan kebenciannya terhadap Islam. Kriminalisasi ulama dan kelompok Islam yang memperjuangkan syariah Islam dan Khilafah terus terjadi. Politik adu domba dan belah bambu dilakukan. Legitimasi hukum dikeluarkan lewat Perppu yang kemudian disahkan menjadi UU Ormas.
.
Walhasil, berbagai konflik di Timur Tengah dan negeri-negeri Islam disebabkan kebijakan penjajahan Amerika yang diperkuat oleh penguasa-penguasa boneka mereka. Strateginya juga sama: kriminalisasi ajaran Islam seperti Khilafah dan politik pecah belah /adu domba. Kriminalisasi Khilafah ini jelas merupakan penyesatan politik. tujuannya tidak lain adalah untuk menjauhkan umat Islam dari perkara penting ini, yang oleh para ulama disebut A’dzomul Wajibat (Kewajiban yang paling Agung) dan Tajul Furud(Makhota dari Kewajiban). Sebab dengan Khilafah Islam seluruh syariah Islam bisa ditegakkan, umat Islam seluruh dunia bisa dipersatukan, dan negeri-negeri Islam bisa melepaskan diri dari penjajahan negara-negara kafir. Allahu Akbar .[]
.
Ditulis oleh: Farid Wadjdi

Isu toleransi beragama menyerang islam dan syariahnya

ISU TOLERANSI BERAGAMA MENYERANG ISLAM DAN SYARIAHNYA.
.
Oleh: KH. Muhammad Shiddiq al-Jawi
Pengantar Redaksi:
.
Istilah toleransi dalam kehidupan beragama terlanjur dianggap istilah yang positif. Dalam batas-batas tertentu mungkin iya. Namun, dalam perkembangannya akhir-akhir ini, istilah toleransi ternyata dibajak oleh kalangan sekular-liberal sekadar menjadi alat yang digunakan untuk menyerang Islam dan kaum Muslim. Mengapa begitu? Apa alasannya? Apa pula efek dari propagandakan tolerenasi beragama bagi Islam dan kaum Muslim? Lalu bagaimana sebetulnya Islam mendudukkan toleransi beragama di hadapan para pemeluk agama lain?Untuk menjawab beberapa pertanyaan di atas, kali ini Redaksi mewawancarai Ketua DPP HTI, KH Shiddiq al-Jawi di seputar isu dan wacana toleransi beragama. Ustadz, apakah penggunaan istilah toleransi terlihat sering merugikan Islam dan umat Islam?
.
Ya, sering. Misalnya pada saat Perayaan Natal, banyak para pejabat Muslim bahkan termasuk Presiden, yang menghadiri acara perayaan Natal dengan alasan toleransi. Padahal bagi seorang Muslim, turut merayakan peringatan Natalan hukumnya haram. Mengapa? Karena turut serta merayakan Natalan bagi seorang Muslim adalah perbuatan menyerupai kaum kafir (tasyabbuh bil kuffâr) yang telah diharamkan Islam. Rasulullah saw. telah bersabda dalam hadits riwayat Abu Dawud, “Man tasyabbha bi qawm[in] fahuwa minhum.” Artinya, siapa saja yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk ke dalam golongan mereka.
.
Jadi seharusnya, dalam hal Natalan ini, toleransi pejabat pemerintah yang Muslim cukup ditunjukkan dengan membiarkan kaum Nasrani merayakannya, yaitu tidak melarangnya, bukan turut serta merayakannya. Kalau toleransi diartikan turut merayakan, berarti istilah toleransi sudah melampaui batas, sudah sesat dan menyesatkan. Jelas ini merugikan Islam dan umat Islam.
.
Apa saja contoh kasus toleransi yang digunakan untuk menghambat Islam?
.
Kasusnya banyak. Selain perayaan Natal oleh pejabat Muslim tadi, masih ada kasus Kristenisasi, Ahmadiyah dan LGBT. Dalam pandangan Islam, tiga hal tersebut adalah sesuatu yang haram dan mungkar. Seorang Muslim tidak boleh membiarkan atau memberikan toleransi terhadap tiga fenomena tersebut di tengah masyarakat yang mayoritas Muslim di Indonesia. Rasulullah saw. bersabda dalam hadis riwayat Muslim, “Man ra’a minkum munkar[an] fal-yughayyirhu biyadihi, fa in lam yastathi’ fabilisânihi fa in lam yastathi’ fa-biqalbihi wa dzâlika adh’aful îmân.” Artinya, siapa saja yang menyaksikan suatu kemungkaran, hendaklah dia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika dia tak mampu, ubahlah dengan ucapannya. Jika tak mampu juga, ubahlah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.
.
Itulah sabda Nabi saw. yang mewajibkan perubahan atas kemungkaran. Artinya, tidak boleh ada toleransi yang tujuannya membiarkan atau melestarikan kemungkaran.
.
Namun sekarang, atas nama toleransi, umat Islam dipaksa membiarkan kemungkaran-kemungkaran itu. Kristenisasi, yang berarti upaya pemurtadan orang Islam untuk menjadi orang Kristen, didiamkan saja oleh pemerintah. Ahmadiyah yang memurtadkan orang Islam karena meyakini ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad saw. juga didiamkan oleh Pemerintah.
.
LGBT juga demikian. Walau jelas-jelas haram, dan menjijikkan tentunya, tetap ada sebagian umat Islam yang mendukung LGBT atas nama toleransi.
.
Walhasil, dengan istilah toleransi, suatu kemungkaran yang mestinya diubah atau dihilangkan, malah dibiarkan, dilestarikan dan terus eksis. Ini jelas menghambat Islam.
.
Ada beragam alasan untuk membenarkan toleransi model itu. Misal, untuk keharmonisan masyarakat, kita harus menghormati agama lain, kelompok lain. Tidak boleh satu ajaran mendominasi. Masyarakat negeri ini beragam bukan hanya Islam. Menurut ustadz, bagaimana?
.
Begini. Sebenarnya yang berkembang saat ini adalah toleransi model Barat, bukan toleransi ala Islam. Toleransi Barat ini latar belakang kemunculannya adalah konflik antara agama Katolik dan Protestan dalam masyarakat Barat pada era Reformasi, kira-kira abad ke-16 Masehi. Menurut Prof. Muhammmad Ahmad Mufti dalam kitabnya Naqdu at-Tasâmuh al-Librâli (Kritik Terhadap Toleransi Liberal), ide toleransi Barat didasarkan pada 3 (tiga) gagasan pokok: sekularisme (al-lâdiniyyah), relativisme (an-nisbiyyah) dan pluralisme-demokrasi (at ta’addudiyah wa ad dimuqrathiyyah).
.
Sekularisme menjadi syarat mutlak bagi terwujudnya toleransi. Sebabnya, kalau agama campur tangan dalam urusan masyarakat, yaitu negara menggunakan suatu agama untuk mengatur masyarakat, maka yang terjadi adalah dominasi satu agama atas agama lain. Dominasi satu agama ini tidak akan dapat dihentikan, kecuali dengan jalan memisahkan agama dari negara.
.
Relativisme menjadi konsekuensi logis sekularisme. Relativisme merupakan pandangan bahwa kebenaran masing-masing agama itu relative. Tidak ada kebenaran sebuah agama yang absolute. Karena itu tidak boleh ada pemaksaan suatu keyakinan agama kepada penganut agama lain. Pandangan ini tak mungkin ada, kecuali setelah ada sekularisme, yaitu setelah agama dipisahkan dari urusan negara.
.
Adapun pluralisme-demokrasi, merupakan cara pandang liberal terhadap kemajemukan masyarakat baik kemajemukan secara agama, politik, budaya, dan asal usul, sedemikian sehingga masing-masing kelompok dianggap mempunyai hak legal untuk eksis di tengah kemajemukan yang ada.
.
Nah, dengan memahami tiga ide dasar itu, kita bisa menjelaskan dan mendudukkan berbagai alasan yang sering dipakai untuk menjustifikasi toleransi ala Barat yang ada saat ini. Misalnya kalau dikatakan toleransi perlu agar “tidak boleh satu ajaran mendominasi”, ini berarti akar idenya adalah relativisme agama. Kalau dikatakan bahwa “harus menghormati agama lain” atau “masyarakat ini beragam bukan hanya Islam” maka akar idenya adalah pluralisme-demokrasi. Demikiran seterusnya.
.
Bagaimana pandangan Islam terhadap ide-ide yang mendasari toleransi ala Barat tersebut?
.
Ketiga ide tersebut tidak relevan untuk umat Islam dan sekaligus bertentangan dengan Islam. Saya katakan tidak relevan dengan umat Islam karena tiga ide tersebut lahir dalam konteks sosio-historis masyarakat Eropa yang Kristiani, yaitu lahir pada Era Reformasi Gereja abad ke-15 dan ke-16 Masehi. Saat itu terjadi konflik antara raja yang berkolaborasi dengan agamawan Katolik, melawan kelompok reformasi dari golongan Protestan, seperti kelompok Martin Luther King. Jadi ide toleransi Barat itu sungguh tidak lahir dari rahim sejarah umat Islam yang berpegang pada akidah dan syariah Islam. Maka dari itu, menerapkan ide toleransi Barat yang didasarkan pada tiga ide tadi, yaitu sekularisme, relativisme dan pluralisme-demokrasi, jelas tidak relevan sama sekali dengan umat Islam. Kalau toleransi ala Barat itu tetap diterapkan di tengah masyarakat Muslim, jelas itu suatu bentuk pemaksaan, atau tepatnya penjajahan, yang justru paradoks dengan semangat toleransi yang selalu digembar-gemborkan Barat. Wong mau menerapkan ide toleransi kok malah melalui jalan pemaksaan, lalu di mana toleransinya?
.
Selain tak relevan dengan umat, tiga ide tersebut juga bertentangan dengan Islam itu sendiri. Sekularisme bertentangan dengan Islam, karena Islam tidak mengenal pemisahan agama dari Negara. Sebaliknya, Islam mempunyai sistem pemerintahan yang diwajibkan Islam atas umat Islam, yaitu Khilafah. Relativisme juga bertentangan dengan Islam, karena al-Quran menyatakan dengan penuh ketegasan, bahwa hanya agama Islam sajalah yang benar dan diridhoi Allah (QS Ali Imran [3]: 19). Pluralisme-demokrasi juga bertentangan dengan Islam. Pasalnya, meski Islam mengakui kemajemukan (pluralitas) sebagai realitas empirik, misalnya manusia itu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku (QS al-Hujurat: 13), Islam berbeda secara fundamental dengan demokrasi dalam hal cara pandang dan pengaturan atas kemajemukan masyarakat. Dalam demokrasi, pengaturan kemajemukan dijalankan menurut hukum buatan manusia, bukan menurut hukum suatu agama tertentu. Sebaliknya, dalam Islam, kemajemukan masyarakat diatur hanya dengan syariah Islam semata.
.
Apakah penggunaan toleransi selama ini dilakukan dengan standar ganda? Seperti apa bisa diberikan contohnya?
.
Memang, kalau saya cermati, toleransi di Indonesia diterapkan dengan standar ganda. Tidak ada standar tunggal yang baku dan diterapkan dalam segala keadaan secara adil. Celakanya, standar ganda tersebut banyak merugikan Islam dan umat Islam. Misalnya, saat Nyepi di Bali, umat Islam yang tidak merayakan Nyepi dipaksa untuk tidak beraktivitas seharian penuh, dengan alasan toleransi. Jadi standarnya adalah, “pihak minoritas menghormati agama mayoritas”. Anehnya, pada saat bulan Ramadhan, ada seruan agar “yang berpuasa harus menghormati yang tidak berpuasa”. Ini benar-benar logika aneh bin ajaib, karena seharusnya standarnya adalah “pihak minoritas menghormati agama mayoritas”. Mestinya, “yang tidak berpuasa menghormati yang puasa.” Jadi terbukti toleransi di Indonesia mempunyai standar ganda, yaitu standar pertama “pihak minoritas harus menghormati agama mayoritas” seperti kasus Nyepi di Bali. Lalu standar kedua, “pihak mayoritas harus menghormati yang minoritas” seperti kasus seruan Ramadhan tadi. Ini gila, bukan?
.
Contoh lain standar ganda toleransi adalah kasus penghapusan tujuh kata Piagam Jakarta, yaitu hapusnya kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Umat Islam sering dipuji sudah bersikap toleran dengan menerima penghapusan tersebut. Padahal jelas penghapusan itu merugikan Islam dan umat Islam. Alasan penghapusan saat itu, sebagaimana disebut Endang Saifuddin Anshari dalam bukunya Piagam Jakarta, karena “ada golongan non-Islam dari Indonesia Timur yang tidak setuju dan akan memisahkan diri kalau tujuh kata itu tidak dihapus.” Ini sungguh aneh karena berarti standarnya adalah “golongan mayoritas harus bersikap toleran terhadap golongan minoritas.” Bukankah standarnya seharusnya “golongan minoritas harus bersikap toleran terhadap golongan mayoritas”? Bukankah seharusnya bangsa Indonesia Timur yang non-Islam itu yang justru toleran terhadap kewajiban menjalankan syariah Islam itu?
.
Apakah di balik penggunaan toleransi itu ada phobia Islam, phobia syariah dan stigma negatif terhadap Islam?
.
Oh, jelas sekali itu. Penjelasannya begini. Tadi sebelumnya sudah saya jelaskan, bahwa toleransi yang ada sekarang adalah toleransi ala Barat, bukan toleransi yang islami. Maka dari itu, tiga ide pokok yang menjadi dasar toleransi Barat yakni sekularisme, relativisme dan pluralisme-demokrasi sudah pasti menjadi asumsi atau anggapan dasar untuk toleransi saat ini walau sifatnya implisit. Nah, karena landasan toleransi saat ini adalah sekularisme, maka wajar kalau mereka sangat anti terhadap Islam atau syariah atau Khilafah. Mengapa? Karena semua itu jelas akan dianggap bertentangan dengan prinsip sekularisme. Demikian juga karena toleransi yang ada sekarang asasnya adalah relativisme, maka para penganjur toleransi walaupun orang Islam, tidak akan mungkin menganggap Ahmadiyah adalah suatu penyimpangan atau kemungkaran. Mengapa demikian? Karena para penganjur toleransi itu memandang jika Ahmadiyah dianggap menyimpang dari ajaran Islam, berarti itu bentuk pemaksaan agama kepada kaum Ahmadiyah. Begitu juga karena landasan toleransi sekarang adalah pluralisme-demokrasi, yang mengharuskan pengaturan kehidupan berdasar aturan non agama, maka wajar kalau para penganjur toleransi menjadi phobia terhadap syariah.
.
Jadi, yang menjadi masalah adalah, ide toleransi yang ada sekarang adalah toleransi ala Barat yang liberal, yang didasarkan pada sekularisme, relativisme, dan pluralisme-demokrasi, yang ujung-ujungnya akan membawa pada sikap anti terhadap Islam.
.
Bagaimana Islam mengatur keragaman dan mengatur non-Muslim dan agama selain Islam?
.
Dalam hal pengaturan keragaman atau kemajemukan masyarakat, secara garis besar ada dua ketentuan syariah Islam. Pertama: Jika yang diatur itu umat Islam, maka yang menjadi aturan adalah syariah Islam. Maka dari itu, umat Islam harus tunduk kepada syariah Islam dalam segala hal yang terkait dengan kehidupan mereka, misalnya adat-istiadat, bahasa, cara berbusana, kesenian, perkawinan, makanan, dan sebagainya.
.
Kedua: Jika yang diatur adalah umat non-Islam seperti penganut Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha, dan sebagainya, maka aturan yang diterapkan ada dua macam. Jika menyangkut kehidupan umum, misalnya dalam bidang kehidupan ekonomi, politik, sosial, dan sebagainya, maka umat non-Islam harus tunduk kepada syariah Islam. Adapun jika menyangkut kehidupan pribadi, seperti agama, ibadah, makanan, pakaian, dan perkawinan, maka umat non-Islam dibolehkan menjalankan agamanya masing-masing. Mereka tidak boleh dipaksa masuk Islam. WalLâhu a’lam. []
.
[Sumber: ABAD KHILAFAH Network]