Skip to main content

TUKANG FITNAH ITU BUKAN AHLUSSUNNAH WALJAMA'AH

TUKANG FITNAH ITU BUKAN AHLUSSUNNAH WALJAMA'AH

Peringatan Keras Kepada Para Pendusta Dan Tukang Fitnah Dengan Melemparkan Tuduhan Jahat Lagi Keji Terhadap Hizbut Tahrir Dan Para Syababnya. Seperti Hizbut Tahrir Mengingkari Qodar, Takdir, Qodho-Qodar, Azab Kubur, Membolehkan Neraba-Raba Dan Mencium Wanita Bukan Mahrom, Hizbut Tahrir Didanai Oleh Negara Kafir Inggris, Dan Seterusnya.

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Kita telah meyakini, bahwa Ahlussunnah Waljama’ah ala Rasulillah SAW dan sahabatnya adalah Firqah Nâjiyah (kelompok yang selamat dari neraka), dimana mengenai mereka, Muhammad bin Abdul Karîm bin Abu Bakar Ahmad Asysyahrastani dalam kitabnya, Almilal Wannihal, menuturkan :

Akhbaro Annabiyyu ...

ﺃَﺧْﺒَﺮَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓُ ﻭَﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ : ﺳَﺘَﻔْﺘَﺮِﻕُ ﺃُﻣِّﺘِﻲ ﻋَﻠَﻰ ﺛَﻼَﺙٍ ﻭَﺳَﺒْﻌِﻴْﻦَ ﻓِﺮْﻗَﺔً ، ﺍَﻟﻨَّﺎﺟِﻴَﺔُ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٌ ، ﻭَﺍْﻟﺒَﺎﻗُﻮْﻥَ ﻫَﻠْﻜَﻰ . ﻗِﻴْﻞَ : ﻭَﻣَﻦْ ﺍَﻟﻨَّﺎﺟِﻴَﺔُ ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﺃَﻫْﻞُ ﺍﻟﺴُّﻨَّﺔِ ﻭَﺍْﻟﺠَﻤَﺎﻋَﺔِ . ﻗِﻴْﻞَ : ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻫْﻞُ ﺍﻟﺴُّﻨَّﺔِ ﻭَﺍْﻟﺠَﻤَﺎﻋَﺔِ ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻣَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍْﻟﻴَﻮْﻡَ ﻭَﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻲ .

“Nabi SAW mengabarkan bahwa umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, satu diantaranya adalah golongan yang selamat, sedang yang lainnya golongan yang celaka”. Ditanyakan: “Siapakah golongan yang selamat itu?”. Nabi bersabda: “Ahlussunnah Waljama’ah”. Ditanyakan: “Siapakah Ahlussunnah Waljamaah itu?”. Nabi bersabda: “(Orang-orang yang berpegang teguh terhadap) apa yang saat ini aku dan para sahabatku berada di atasnya”. (Muhammad bin Abdul Karim bin Abu Bakar Ahmad Asysyahrastani, Almilal Wannihal, 1/11, Darul Ma’rifah Beirut, 1404 H, tahqiq Muhammad Sayyid Kailani).
Sedangkan berbohong dan memitnah itu dapat menjerumuskan seorang muslim ke neraka, kecuali ketika telah bertaubat secara nashuha sebelum matinya. Oleh karena itu, siapa saja diantara kaum muslim yang berperilaku seperti itu, menjadi pendusta (alkadzdzâb) dan tukang fitnah (Alfattân) secara otomatis, dengan sendirinya, ia telah keluar dari golongan Ahlussunnah Waljama’ah, meskipun ia telah mengklaim seribu kali sebagai golongan Ahlussunnah Waljama’ah.

Terkait perilaku berdusta dan memitnah, Allah SWT berfirman :

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻳَﻔْﺘَﺮِﻱ ﺍﻟْﻜَﺬِﺏَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﺎ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺑِﺂَﻳَﺎﺕِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻜَﺎﺫِﺑُﻮﻥَ
"Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang yang pendusta". (QS An-Nahel [18] ayat 105).

Ketika menafsiri ayat di atas, Imam Suyuthi berkata :
ﻭﺃﺧﺮﺝ ﺍﻟﺨﺮﺍﺋﻄﻲ ﻓﻲ ﻣﺴﺎﻭﺉ ﺍﻷﺧﻼﻕ ﻭﺍﺑﻦ ﻋﺴﺎﻛﺮ ﻓﻲ ﺗﺎﺭﻳﺨﻪ ، ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺟﺮﺍﺩ ﺃﻧﻪ ﺳﺄﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ‏« ﻫﻞ ﻳﺰﻧﻲ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ؟ ﻗﺎﻝ : ﻗﺪ ﻳﻜﻮﻥ ﺫﻟﻚ . ﻗﺎﻝ : ﻫﻞ ﻳﺴﺮﻕ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ؟ ﻗﺎﻝ : ﻗﺪ ﻳﻜﻮﻥ ﺫﻟﻚ . ﻗﺎﻝ : ﻫﻞ ﻳﻜﺬﺏ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ؟ ﻗﺎﻝ : ﻻ . ﺛﻢ ﺃﺗﺒﻌﻬﺎ ﻧﺒﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﺇﻧﻤﺎ ﻳﻔﺘﺮﻱ ﺍﻟﻜﺬﺏ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻻ ﻳﺆﻣﻨﻮﻥ .

“Dan Alkhoroithi dalam kitab Masawiul Akhlaq dan Ibnu Asakir dalam kitab Tarikhnya telah mengeluarkan hadits dari Abdulloh bin Jarod, bahwa ia pernah bertanya kepada Nabi SAW : “Apakah orang mu’min berzina?”, Nabi bersabda : “Bisa saja ia begitu”. Ia bertanya : “Apakah orang mu’min mencuri?”, Nabi bersabda : “Bisa saja ia begitu”. Dan ia bertanya : “Apakah orang mu’min berdusta?”, Nabi bersabda: “Tidak”. Kemudian Nabi SAW membacakan ayat: "Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah”.
Waakhroja ...

ﻭﺃﺧﺮﺝ ﺍﻟﺨﻄﻴﺐ ﻓﻲ ﺗﺎﺭﻳﺨﻪ ، ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺟﺮﺍﺩ ﻗﺎﻝ : ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺍﻟﺪﺭﺩﺍﺀ ‏« ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻫﻞ ﻳﻜﺬﺏ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ؟ ﻗﺎﻝ : ﻻ ﻳﺆﻣﻦ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﻻ ﺑﺎﻟﻴﻮﻡ ﺍﻵﺧﺮ ﻣﻦ ﺇﺫﺍ ﺣﺪﺙ ﻛﺬﺏ » .
“Dan Alkhothib dalam kitab Tarikhnya telah mengeluarkan dari Abdulloh bin Jarod, ia berkata : “Abu Darda’ berkata : “Wahai Rasululloh, apakah orang mu’min berdusta?”, Nabi bersabda: “Tidak beriman kepada Alloh dan hari akhir, orang yang ketika berbicara, ia berdusta”. (Tafsir al-Durr al-Mantsur, 6/172).

Dari ayat Alqur'an dan dua hadits diatas diketahui bahwa orang mukmin itu tidak berdusta. Berarti ketika ada seseorang yang berdusta sudah menjadi kebiasaannya, maka dapat dipastikan bahwa ia bukan orang mukmin yang sesungguhnya. Dan ketika ia bukan orang mukmin yang sesungguhnya, maka ia juga bukan Ahlussunnah Waljama’ah, karena Ahlussunnah Waljama’ah adalah orang-orang mu'min, bukan tukang dusta dan tukang fitnah.

Dan firman-Nya :
ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﺆْﺫُﻭﻥَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻣَﺎ ﺍﻛْﺘَﺴَﺒُﻮﺍ ﻓَﻘَﺪِ ﺍﺣْﺘَﻤَﻠُﻮﺍ ﺑُﻬْﺘَﺎﻧًﺎ ﻭَﺇِﺛْﻤًﺎ ﻣُﺒِﻴﻨًﺎ
"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata". QS Al-Ahzab [35] ayat 58.

Imam Ibnu Katsir berkata :

“Firman Alloh : "Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat”. Yakni, mereka menisbatkan kepada orang-orang mukmin dan mukminat suatu perkara yang mereka bebas dari padanya, mereka tidak mengamalkan dan tidak pula mengerjakannya. “maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata". Ini adalah kebohongan yang nyata, yaitu menceritakan atau memindah dari orang-orang mu’min dan mu’minat suatu perkara yang mereka tidak mengerjakannya, dengan tujuan mencela dan merendahkan mereka. Kebanyakan orang yang masuk ke dalam ancaman ini adalah orang-orang kafir kepada Alloh dan Rasul-Nya, kemudian golongan Rafidhah (Syi’ah ekstrim) yang merendahkan dan mencela sahabat dengan perkara yang Alloh telah membebaskan mereka dari padanya, dan menyifati sahabat dengan kebalikan sifat yang Alloh telah memberi khabar tentang mereka. Karena Alloh SWT telah memberi khabar, bahwa Dia benar-benar ridha dan memuji sahabat Muhajirin dan Anshar. Sedangkan orang-orang bodoh dan dungu itu mencaci-maki dan merendahkan mereka, dan menyebutkan perkara yang tidak ada, dan mereka tidak pernah mengerjakannya selamanya. Maka orang-orang bodoh dan dungu itu, pada dasarnya, adalah orang-orang yang terbalik hatinya, mereka mencela orang-orang yang terpuji, dan memuji orang-orang yang tercela”. (Tafsir Ibnu Katsir, 6/480-481).

Jadi perilaku di atas, yakni menyakiti orang-orang mu'min dan mukminat, dengan berdusta dan memitnah terhadap mereka, adalah perilaku orang-orang kafir dan Rafidhah (Syi’ah ekstrim), bukan perilaku Ahlussunnah Waljama’ah.

TUKANG FITNAH ITU AHLI NERAKA
Kalau Anda gak percaya bahwa tukang fitnah itu ahli neraka, maka perhatikan firman Allah SWT :
ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻓَﺘَﻨُﻮﺍ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﺛُﻢَّ ﻟَﻢْ ﻳَﺘُﻮﺑُﻮﺍ ﻓَﻠَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏُ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﻭَﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏُ ﺍﻟْﺤَﺮِﻳﻖِ
"Sesungguhnya orang-orang yang telah memitnah orang-orang beriman laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar". (Al-Buruj ayat 10).

Kalau tukang fitnah itu ahli neraka, berarti bukan Ahlussunnah Waljama’ah Firqoh Najiyah yang ahli surga.

Maka jangan mengaku Ahlussunnah Waljama'ah kalau masih suka berdusta dan memitnah!

Ust Abuwalfa romli

Comments

Popular posts from this blog

Tulisan bantahan Syaikh Utsman Bakhasy (Hizbut Tahrir) atas tulisan tanggapan pengasuh situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid (Ulama Salafi)

 Tulisan bantahan Syaikh Utsman Bakhasy (Hizbut Tahrir) atas tulisan tanggapan pengasuh situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid (Ulama Salafi) -------------- *Pemberontakan Muhammad bin Abdul Wahab dan Keluarga Saud Terhadap Negara Khilafah Utsmani* Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dengan sebenar-benarnya pujian atas kebaikan dan berkah-Nya, yang tak terhingga jumlahnya, memenuhi langit dan bumi, serta semua yang ada. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasul yang diutus dengan membawa rahmat untuk seluruh alam, yaitu Muhammad bin Abdillah, keluarganya, para sahabatnya, serta siapa saja yang senantiasa setia dan mengikutinya denga cara yang baik hingga hari kiamat. Waba’du. Dalam situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid terdapat sebuah pertanyaan: “Apakah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab memberontak terhadap Khilafah Utsmaniyah, dan menjadi pen...

𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍

 𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍 https://www.facebook.com/joko.prasetyo.457609/posts/pfbid02qjxJndqbLy1EpcAYSitShA3dEcmucHZZEdJwKAbXKHv264jz4oDxxhkF5KVQiEgwl . Sesaat setelah Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengumumkan rencana pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia, sontak saja HTI langsung menjadi ℎ𝑒𝑎𝑑𝑙𝑖𝑛𝑒 di berbagai media massa baik televisi, cetak, radio maupun portal berita daring dan menjadi buah bibir berbagai kalangan masyarakat baik pro maupun kontra.  . “Pemerintah perlu mengambil langkah–langkah hukum secara tegas untuk membubarkan HTI," ujar Wiranto saat jumpa pers, Senin, 8 Mei 2017 di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat. Saat membacakan keputusan tersebut, Wiranto memaparkan tiga alasan pembubaran. .  Ketiga alasan pembubaran tersebut dinilai Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto tidak memiliki dasar sama sekali.  . “...

Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah

 Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah Penulis: Ustaz Yuana Ryan Tresna Muslimah News, SYARAH HADIS — Hadis yang mengabarkan berita gembira tentang kembalinya Khilafah sangatlah banyak. Tidak benar bahwa hadis bisyarah nabawiyyah (kabar gembira kenabian) akan datangnya Khilafah hanya didasarkan pada hadis riwayat Imam Ahmad. Masih banyak hadis lain yang secara makna sejalan dengan hadis tersebut. Misalnya hadis riwayat Muslim, Ahmad, dan Ibnu Hibban tentang khalifah di akhir zaman yang akan “menumpahkan” harta yang tidak terhitung jumlahnya; hadis tentang akan datangnya Khilafah di Baitulmaqdis (HR Abu Dawud, Ahmad, ath-Thabarani, al-Baihaqi); juga hadis tentang kekuasaan umat Nabi Muhammad yang akan melingkupi dari timur hingga barat (HR Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud). Hadis-hadis ini didukung banyak hadis lain dengan makna yang sama, seperti masuknya Islam ke setiap rumah, al-waraq al-mu’allaq, hijrah setelah hijrah, penaklukan Kota Roma, dan seterusnya. Makna hadis kembalinya Khil...