Skip to main content

*TERUS KALAU BUKAN KHILAFAH APA ?*

*TERUS KALAU BUKAN KHILAFAH APA ?*
Oleh : Nasrudin Joha

Ada dua aspirasi yang selama ini terganjal, dikhianati, diamputasi. Aspirasi yang berangkat dari semangat keislaman dan menginginkan perubahan. Dua spirit inilah, yakni Islam dan perubahan yang membuat umat ini rela berduyun, berkumpul, dalam lautan manusia di aksi 212, reuni 212, hingga semangat ingin memenangkan pasangan capres tertentu pada Pilpres 2019 yang lalu.

Aksi 212, itu didasari semangat keislaman, semangat pembelaan terhadap izzul Islam wal muslimin, membela kemuliaan Al Quran dan menunjukan derajat dan wibawa umat Islam. Didalamnya, juga terkandung semangat menuntut perubahan. Menuntut perubahan penegakan hukum yang berkeadilan, bukan hukum yang melindungi sang penista agama.

Reuni khususnya reuni 212 jilid 2 juga sama, menuntut proses hukum penista bendera tauhid, menuntut pengakuan negara atas eksistensi bendera tauhid sebagai bendera Islam. Agar Kedepan, tdk ada lagi penodaan terhadap bendera tauhid berdalih tidak tahu, berdalih anggapan bahwa bendera tauhid dianggap bendera ormas.

Pilpres 2019 itu juga sama, ruhnya Islam dan semangat perubahan. Bukan menginginkan Prabowo jadi Presiden.

Prabowo, hanya mendapat mandat untuk meneruskan aspirasi Islam dan perubahan. Sayangnya, Prabowo tak kuat dititipi amanah, mengemban aspirasi semangat keislaman yang menginginkan perubahan.
Jika demikian realitasnya, terus apa kalau bukan khilafah ? Misi politik apa yang bisa dipercaya, amanah untuk mengemban misi Islam dan perubahan ? Pilkada ? Pemilu atau Pilpres 2024 ? Menunggu lama untuk ditipu lagi ? Berjubel menuju bilik persegi sementara hasilnya pasti dicurangi ? Menggadaikan harapan pada individu atau tokoh tertentu ?

Saya kira, dengan argumentasi apapun memang tinggal khilafah yang saat ini menjadi sisa misi bersama yang belum kita usung bersama. Selama ini baru HTI yang ngotot pada khilafah, padahal khilafah itu ajaran Islam. Seharusnya, seluruh umat Islam ngotot memperjuangkan khilafah, karena khilafah itu milik umat Islam.

Ketika khilafah kelak tegak, itu untuk umat Islam bukan untuk kaum, kelompok, atau mahzab tertentu. Bahkan khilafah juga untuk ahludz dzimah, mereka semua -non muslim- dapat hidup berdampingan dengan damai dalam naungan Daulah khilafah.

Khilafah jelas merupakan representasi Islam dan perubahan. Khilafah akan menerapkan syariat Islam karena itu Ruh Islam jelas melekat pada khilafah. Khilafah juga akan merubah dan merombak total sistem hukum kufur menjadi sistem Islam. Semua Pranata dan interaksi sosial akan diatur dengan syariat Islam.

Bukankah ini perubahan yang Anda inginkan ? Perubahan yang akan membuat umat dan negara taat sehingga karena ketaatan itu bumi dan langit mengeluarkan barokahnya, bukan rutin mengeluarkan bencana seperti saat ini.

Khilafah juga akan memberi garansi untuk amanah, tidak akan khianat sebagaimana tokoh yang kita pasrahi ananah berulangkali mengkhianati kita. Khilafah, juga tak terpenjara oleh agenda ritual rutin demokrasi yang meminta kita sabar menunggu lima tahun hanya untuk dicurangi.

Khilafah bisa tegak kapan saja asal terpenuhi seluruh syaratnya, tanpa menunggu lima tahun lagi. Mungkin tahun ini, tahun depan, atau paling lama dua tahun lagi. Tergantung, seberapa cepat kita mampu menggenapi keseluruhan persyaratan.

Syarat khilafah tegak itu ya adanya kesadaran umat akan khilafah, kerinduan umat diatur dengan syariah dan adanya dukungan dan penjagaan militer untuk menjadi bidan lahirnya peradaban khilafah. Militer yang menjaga amanah dan aspirasi umat yang menginginkan perubahan dengan menerapkan Islam khaffah.
Jadi jelas kan, pilihannya hanya khilafah. Sebab, tak ada visi politik lain yang mampu menaungi semangat Isman dan perubahan. Hanya khilafah yang mampu menentramkan jiwa kita untuk Istiqomah berjuang dan tak khawatir atas pengkhianatan.
Memangnya Anda mau ditipu lagi oleh politisi culas itu ? Parpol korup itu ? Digerakan untuk kampanye kemudian ditinggalkan setelah mereka berkuasa ? Tdk lagi menghiraukan seluruh pengorbanan, baik keringat, darah bahkan nyawa Anda ? Kalau saya ogah. Saya hanya akan berjuang untuk khilafah. [

Comments

Popular posts from this blog

𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍

 𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍 https://www.facebook.com/joko.prasetyo.457609/posts/pfbid02qjxJndqbLy1EpcAYSitShA3dEcmucHZZEdJwKAbXKHv264jz4oDxxhkF5KVQiEgwl . Sesaat setelah Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengumumkan rencana pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia, sontak saja HTI langsung menjadi ℎ𝑒𝑎𝑑𝑙𝑖𝑛𝑒 di berbagai media massa baik televisi, cetak, radio maupun portal berita daring dan menjadi buah bibir berbagai kalangan masyarakat baik pro maupun kontra.  . “Pemerintah perlu mengambil langkah–langkah hukum secara tegas untuk membubarkan HTI," ujar Wiranto saat jumpa pers, Senin, 8 Mei 2017 di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat. Saat membacakan keputusan tersebut, Wiranto memaparkan tiga alasan pembubaran. .  Ketiga alasan pembubaran tersebut dinilai Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto tidak memiliki dasar sama sekali.  . “...

Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah

 Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah Penulis: Ustaz Yuana Ryan Tresna Muslimah News, SYARAH HADIS — Hadis yang mengabarkan berita gembira tentang kembalinya Khilafah sangatlah banyak. Tidak benar bahwa hadis bisyarah nabawiyyah (kabar gembira kenabian) akan datangnya Khilafah hanya didasarkan pada hadis riwayat Imam Ahmad. Masih banyak hadis lain yang secara makna sejalan dengan hadis tersebut. Misalnya hadis riwayat Muslim, Ahmad, dan Ibnu Hibban tentang khalifah di akhir zaman yang akan “menumpahkan” harta yang tidak terhitung jumlahnya; hadis tentang akan datangnya Khilafah di Baitulmaqdis (HR Abu Dawud, Ahmad, ath-Thabarani, al-Baihaqi); juga hadis tentang kekuasaan umat Nabi Muhammad yang akan melingkupi dari timur hingga barat (HR Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud). Hadis-hadis ini didukung banyak hadis lain dengan makna yang sama, seperti masuknya Islam ke setiap rumah, al-waraq al-mu’allaq, hijrah setelah hijrah, penaklukan Kota Roma, dan seterusnya. Makna hadis kembalinya Khil...

Perbedaan Masiroh dan Demonstrasi

 Perbedaan Masiroh dan Demonstrasi (Muzhaharah) Aktivitas masirah sering digelar oleh beberapa komponen umat Islam dalam menjalankan fungsi mengoreksi penguasa. Sebagian pihak menyamakan masirah ini dengan demonstrasi, dimana demonstrasi ini merupakan salah satu cara Yahudi menurut mereka. Sebenarnya, seperti apakah perbedaan masiroh itu dengen demonstrasi. Berikut ini penjelasan singkatnya. Soal: 1. Mohon dijelaskan perbedaan antara aktivitas demonstrasi dengan masiroh, karena sangat gamblang terlihat bahwa tidak ada perbedaan antara kedua aktivitas. Mohon pencerahannya. 2. Pada suatu artikel saya membaca kritikan terhadap aktivitas masiroh yang melibatkan wanita. Sebenarnya bagaimana mendudukan masalah ini, atau apa batasan-batasan bagi kaum akhwat dalam hal ini. Jawab: Pada dasarnya, uslub (cara) untuk mendakwahkan gagasan-gagasan Islam, atau menyampaikan kritik (koreksi) bisa dilakukan dengan cara apapun, selama uslub tersebut tidak bertentangan dengan syariat, dan masih dalam ...