Telaah Kitab Nida' Haar Part 2 : Hakikat dan Benturan Ideologi - ideologi
Sejak berabad-abad, denyut sejarah manusia diwarnai oleh sebuah konflik yang tak pernah padam. Bukan hanya konflik perbatasan atau perebutan tahta. Ini adalah konflik yang lebih dalam, lebih hakiki yaitu konflik antara Cahaya dan Kegelapan Ideologi.
Dalam kitab Nida’ Haar, Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani menggambarkannya dengan tajam, Sejak tiga belas abad lamanya konflik antara Islam sebagai agama sekaligus metode kehidupan dengan kekufuran terus berkecamuk. Bentuk dan medannya silih berganti, namun hakikatnya satu, Pertarungan antara kebenaran yang menyeluruh dengan kebatilan yang mengklaim diri sebagai kebenaran.
Islam, menurut An-Nabhani, tak pernah datang sebagai agama spiritual semata. Ia adalah pandangan hidup komprehensif yang mengatur segitiga suci hubungan yaitu manusia dengan Rabb-nya, manusia dengan dirinya sendiri dan manusia dengan sesamanya. Karena sifatnya yang total inilah, konfliknya dengan sistem kufur menjadi sesuatu yang niscaya, tak terelakkan.
Lalu, memasuki abad ke-13 Hijriah atau abad ke-19 Masehi, muncullah sebuah tantangan baru dengan wajah yang sangat berbeda. Ia bernama Kapitalisme. Tantangan ini tulis An-Nabhani, bukan sekadar tantangan militer atau ekonomi. Ini adalah tantangan pemikiran dan perasaan yang paling berbahaya. Kapitalisme tak puas hanya menjajah tanah, ia ingin menjajah pikiran, mengganti standar nilai dan mencabut akar perasaan Islami dari jiwa kaum Muslim.
Serangannya sistematis dan brutal. Mereka menyerang pemikiran Islam, mendistorsi hukum-hukum syariat dan meracuni perasaan yang lahir dari akidah. Dan sayangnya, serangan itu berhasil. Kaum Muslim mengalami kekalahan pemikiran yang amat telak. Kekalahan pikiran itu berujung pada kekalahan politik. Negeri-negeri Islam runtuh, syariat disingkirkan, Khilafah diluluhlantahkan.
Tapi, dengarkan penegasan Syaikh Taqiyuddin: “Islam tidak pernah kalah dan tidak akan pernah kalah, karena Islam adalah kebenaran itu sendiri.” Yang kalah adalah kaum Muslimnya, saat mereka lalai bahwa mereka sedang berada di medan pertarungan ideologi.
Lalu, seperti apa bentuk serangan kapitalisme terhadap bangunan pemikiran Islam? Syaikh An-Nabhani menjabarkannya dengan contoh concret yang sampai hari ini masih kita dengar. Mari kita simak satu per satu:
Pertama, Poligami. Mereka menyerangnya dengan jargon “martabat wanita” dan “kebiadaban”. Poligami dianggap barbar, merendahkan perempuan. Mereka mempropagandakan monogami sebagai puncak peradaban sambil menutup mata pada realita fitrah manusia dan kehancuran sistem pergaulan bebas yang mereka ciptakan.
Kedua, Talak. Dicap sebagai pengkhianatan dan perusak keluarga. Mereka ingin memenjarakan sebuah pernikahan yang sudah mati dalam formalitas, seolah-olah itu lebih manusiawi daripada memberikan jalan keluar yang syar’i.
Ketiga, Khilafah. Ini adalah target utama. Khilafah difitnah sebagai sistem diktator abad pertengahan, kekuasaan satu orang yang sewenang-wenang. Mereka menuduhnya anti-demokrasi, namun diam-diam menikmati sistem oligarki kapitalis yang kekuasaannya justru lebih tersembunyi dan lebih kejam.
Keempat, Jihad. Dihitamkan sebagai aksi terorisme dan pembantaian. Padahal, merekalah yang menjadikan militer sebagai alat ekspansi global, membunuh atas nama “demokrasi” dan “hak asasi”, yang sejatinya adalah kepentingan ekonomi.
Kelima, Qadha dan Qadar. Iman kepada takdir dituding sebagai biang kemalasan dan fatalisme. Mereka tak paham bahwa justru dari iman inilah lahir pahlawan-pahlawan yang tidak takut mati, ilmuwan yang gigih meneliti sunnatullah, dan pejuang yang tak gentar oleh kemustahilan.
Lalu, apa sebenarnya tujuan final dari semua serangan pemikiran ini? Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam Nida’ al-Haar menjawab tegas. Ini bukan debat akademis. Ini adalah upaya untuk menggugurkan Islam sebagai ideologi. Setiap pertanyaan “Apa solusi Islam untuk masalah ini?” seringkali bukan untuk mencari jawaban, tapi untuk menyimpulkan: “Lihat, Islam tidak punya solusi. Maka, tinggalkanlah!”
Tantangan kapitalisme adalah tantangan total. Ia mengepung kita dari film, kurikulum pendidikan, berita media hingga gaya hidup. Dan kekalahan terbesar kita terjadi ketika kita, kaum Muslim, tidak menyadari bahwa kita sedang berada di medan perang pemikiran ini.
Maka, dari telaah kitab Nida’ al-Haar karya Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani ini, kita diingatkan, Konflik ini nyata. Pertarungan antara Islam dan Kapitalisme adalah pertarungan dua pandangan hidup yang bertolak belakang. Kemenangan akan datang bukan dengan mengeluh, tetapi dengan kembali memahami Islam secara kaffah, menyadari posisi kita dalam konflik peradaban dan bergerak menyebarkan pemikiran Islam yang jernih sebagai senjata utama. (fjn)
Editorial Rumah Tsaqofah | Dirancang untuk: Kesadaran Umat
No comments:
Post a Comment