Skip to main content

Epstein File Menelanjangi Peradaban Barat

 Epstein File Menelanjangi Peradaban Barat 


Sebuah nama mengguncang dunia, Jeffrey Epstein. Sebuah pulau menjadi simbol. Ratusan dokumen tersebar.

Apakah ini sekadar skandal seks terbesar abad ini, kisah para elit yang bermain di balik pintu tertutup? Atau adakah yang lebih gelap dan lebih dalam yang sedang tersingkap?


Mereduksi kasus Epstein hanya sebagai “skandal moral” atau jaringan penyimpangan adalah kesalahan fatal. Ini bukan lagi tentang individu-individu yang rusak. Ini adalah tentang sebuah peradaban yang sedang menelanjangi dirinya sendiri.


Bayangkan. Foto-foto, kesaksian, fakta yang melibatkan politisi puncak, taipan keuangan, raja media, dan intelektual ternama, semua terjerat dalam lingkaran pelecehan terhadap anak-anak. Apakah ini penyimpangan? Tidak. 


Dalam sistem yang telah lama memisahkan manusia dari fitrahnya, yang menjadikan kebebasan tanpa batas sebagai tuhan baru, ini adalah manifestasi yang logis. 


Mereka bukan anomali. Mereka adalah representasi sistem itu sendiri. Mereka adalah para pemimpin, pembawa panji, dan pengambil keputusan dari peradaban yang kini terbukti busuk.


Barat tidak sedang mengalami krisis moral. Barat membangun rumah peradabannya di atas puing-puing moral. Agama disingkirkan, nilai-nilai kesakralan dicabut, keluarga dianggap belenggu. Ketika kebebasan dilepaskan dari agama dan fitrah, yang lahir bukan manusia merdeka, melainkan monster tanpa kendali.


Maka, jangan heran Kejahatan Epstein sepenuhnya selaras dengan sistem yang melegalkan penyimpangan, memasarkan dekadensi, dan memandang semua batas sebagai “kebiadaban”. Sebuah peradaban yang gemar menuduh, sambil menyembunyikan mayat di lemari besinya sendiri.


Dan ironi paling pahit? Merekalah yang tangannya tercemar noda keji, yang paling lantang berpidato tentang “hak asasi manusia”, “perlindungan anak”, dan “pemberdayaan perempuan”. 


Merekalah yang mendanai gerakan-gerakan di negeri-negeri Muslim, untuk mencabut identitas kita, merusak fitrah generasi muda kita, dan meruntuhkan benteng nilai Islam dalam jiwa kita. Ini bukan kemunafikan biasa. Ini adalah peperangan peradaban yang berlanjut.


Dan wajah apakah ini?

Ini Wajah yang sama dari peradaban yang membakar Gaza, mendukung pendudukan, melegalkan pembantaian, dan memberi para pembunuh perlindungan politik dan hukum. Dari pulau Epstein ke Gaza, dari pesta pora tersembunyi ke pemboman terbuka, benang merahnya satu yaitu sebuah peradaban tanpa nurani.


Lalu, di tengah terbukanya semua kebusukan ini, pertanyaannya bukan lagi “Apa yang harus dilakukan Barat?”. 


Pertanyaan yang harus kita gumamkan pada diri kita sendiri adalah: “Apa yang akan KITA lakukan?”


Kita, umat Islam. Pemilik warisan peradaban teragung. Pemegang proyek peradaban final yaitu Khilafah. 


Sebuah sistem yang mendefinisikan ulang manusia, mengaitkan kebebasan dengan penghambaan kepada Allah, martabat dengan tanggung jawab, dan kekuatan dengan keadilan.


Solusi itu tidak kurang. Ia ada, lengkap dan sempurna. Yang kurang adalah kemauan dan keputusan untuk bangkit dan menerapkannya.


Dunia hari ini tidak membutuhkan tata nilai Barat yang sudah telanjur bangkrut dan berdarah-darah. Dunia justru merintih, menunggu Islam untuk mengembalikan fitrah manusia, menegakkan keadilan yang sejati, dan menata kehidupan dengan cahaya Ilahi. Islam yang diturunkan sebagai Rahmat bagi seluruh alam.


Tidak ada keselamatan baik bagi kaum Muslim maupun bagi kemanusiaan yang terperangkap dalam kegelapan ini, kecuali dengan kembali kepada Islam. Bukan sebagai ritual semata, tetapi sebagai sistem hidup, sebagai peradaban, sebagai panduan bagi dunia.


Pulau Epstein adalah cermin. Dan di depan cermin yang penuh noda itu, hanya cahaya Islam yang bisa membersihkan dan menunjukkan jalan keluar.(fjn)


Editorial Rumah Tsaqofah | Dirancang untuk: Kesadaran Umat & Kemanusiaan

Comments

Popular posts from this blog

𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍

 𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍 https://www.facebook.com/joko.prasetyo.457609/posts/pfbid02qjxJndqbLy1EpcAYSitShA3dEcmucHZZEdJwKAbXKHv264jz4oDxxhkF5KVQiEgwl . Sesaat setelah Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengumumkan rencana pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia, sontak saja HTI langsung menjadi ℎ𝑒𝑎𝑑𝑙𝑖𝑛𝑒 di berbagai media massa baik televisi, cetak, radio maupun portal berita daring dan menjadi buah bibir berbagai kalangan masyarakat baik pro maupun kontra.  . “Pemerintah perlu mengambil langkah–langkah hukum secara tegas untuk membubarkan HTI," ujar Wiranto saat jumpa pers, Senin, 8 Mei 2017 di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat. Saat membacakan keputusan tersebut, Wiranto memaparkan tiga alasan pembubaran. .  Ketiga alasan pembubaran tersebut dinilai Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto tidak memiliki dasar sama sekali.  . “...

MAKSUD "WAJIBUL WUJUD

 MAKSUD "WAJIBUL WUJUD" Asy Syaikh Al Mujahid Taqiyuddin An Nabhani rahimahuLLaah menyatakan dalam kitabnya, Nizhamul Islam: وحين ننظر إلى المحدود نجده ليسَ أَزَلِياً وإلا لما كان محدوداً فلا بدَّ مِنْ أن يكون المحدود مخلوقاً لغيره، وهذا الغير هو خالق الإنسان والحياة والكون، وهو إِمَّا أَنْ يكون مخلوقاً لغيره، أو خالقاً لنفسه، أو أزلياً واجب الوجود. أما أنَّه مخلوق لغيره فباطل، لأنَّهُ يكون محدوداً، وأما أنَّه خالق لنفسه فباطل أيضاً، لأنه يكون مخلوقاً لنفسه وخالقاً لنفسه في آن واحد، وهذا باطل أيضاً، فلا بُدَّ أنْ يكونَ الخالق أزلياً واجب الوجود وهو الله تعالى. Artinya: "Dan ketika kita memperhatikan sesuatu yang terbatas, kita mendapati bahwa ia bukanlah azali (tidak tanpa awal), sebab kalau ia azali tentu ia tidak terbatas. Maka pastilah yang terbatas itu merupakan makhluk yang diciptakan oleh selainnya. Dan yang lain itu adalah Pencipta manusia, kehidupan, dan alam semesta. Ia (Pencipta) itu, kemungkinan: diciptakan oleh selainnya, atau menciptakan dirinya sendiri, ata...

Perbedaan Masiroh dan Demonstrasi

 Perbedaan Masiroh dan Demonstrasi (Muzhaharah) Aktivitas masirah sering digelar oleh beberapa komponen umat Islam dalam menjalankan fungsi mengoreksi penguasa. Sebagian pihak menyamakan masirah ini dengan demonstrasi, dimana demonstrasi ini merupakan salah satu cara Yahudi menurut mereka. Sebenarnya, seperti apakah perbedaan masiroh itu dengen demonstrasi. Berikut ini penjelasan singkatnya. Soal: 1. Mohon dijelaskan perbedaan antara aktivitas demonstrasi dengan masiroh, karena sangat gamblang terlihat bahwa tidak ada perbedaan antara kedua aktivitas. Mohon pencerahannya. 2. Pada suatu artikel saya membaca kritikan terhadap aktivitas masiroh yang melibatkan wanita. Sebenarnya bagaimana mendudukan masalah ini, atau apa batasan-batasan bagi kaum akhwat dalam hal ini. Jawab: Pada dasarnya, uslub (cara) untuk mendakwahkan gagasan-gagasan Islam, atau menyampaikan kritik (koreksi) bisa dilakukan dengan cara apapun, selama uslub tersebut tidak bertentangan dengan syariat, dan masih dalam ...