Strategi Amerika Menaklukkan Iran
Tanggal 28 Februari 2026, Dunia dikejutkan oleh gempuran gelombang rudal dan pesawat nirawak yang melintasi langit Persia. Menteri Pertahanan Israel, dalam konferensi pers darurat yang disiarkan TRT WORLD, mengonfirmasi bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah melancarkan serangan presisi terhadap fasilitas-fasilitas strategis di wilayah Iran. Ledakan dilaporkan mengguncang Tehran, Isfahan,Qom dan Tabriz.
"Operasi ini merupakan respons terhadap ancaman eksistensial yang terus berkembang," demikian pernyataan resmi militer Israel. Namun, di balik narasi resmi itu, tersembunyi sebuah drama geopolitik yang telah dirancang jauh sebelumnya, sebuah skenario di mana Amerika Serikat, sang dalang di balik layar, menuai keuntungan tanpa harus mengotori tangannya sendiri.
Untuk memahami serangan 28 Februari 2026, kita harus mundur ke akar perseteruan yang sengaja dipelihara. Sejak 1 April 2024, ketika Israel mengebom kedutaan besar Iran di Damaskus dan menewaskan komandan Pasukan Quds, Mohammad Reza Zahedi, pola eskalasi yang terkendali mulai terlihat. Serangan balasan Iran pada 13 April 2024 terhadap pangkalan militer Israel direspons dengan serangan terbatas Israel di Isfahan pada 19 April 2024, sebuah pola "tinju dan pelukan" yang menjadi ciri khas konflik modern.
Namun, titik balik sesungguhnya terjadi 13 Juni 2025, Israel melancarkan "Operasi Singa Bangkit", serangan besar-besaran terhadap fasilitas nuklir Natanz, Khondab dan kediaman pribadi pejabat tinggi Iran.
Media pemerintah Iran saat itu melaporkan gugurnya tokoh-tokoh kunci, Komandan Garda Revolusi Hossein Salami, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jenderal Mohammad Bagheri, serta ilmuwan nuklir Fereydoon Abbasi dan Mohammad Mehdi Tehranchi. Total korban jiwa mencapai 610 orang, dengan ribuan lainnya luka-luka.
Iran membalas ratusan rudal ke wilayah entitas Yahudi dengan kerusakan yang tidak signifikan.
Yang menarik, Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump tidak hanya memberikan lampu hijau, tetapi juga secara aktif mendukung operasi tersebut. Pengiriman 300 rudal AGM-114 Hellfire beberapa hari sebelum serangan.
Pada 22 Juni 2025, AS secara terbuka menyerang fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan. Iran membalas dengan serangan simbolik terhadap pangkalan Al Udeid di Qatar pada 23 Juni 2025, setelah memberi peringatan terlebih dahulu kepada AS. Trump berterima kasih atas "pemberitahuan awal" yang memungkinkan tidak ada korban jiwa, menegaskan bahwa serangan itu hanyalah simbolik.
Gencatan senjata diumumkan pada 24 Juni 2025 melalui platform Truth Social. Trump, yang menyalakan api perang, kini memadamkannya dan dalam prosesnya, mencapai tujuan strategisnya.
Gencatan senjata Juni 2025 ternyata hanyalah jeda taktis. Di balik layar, negosiasi intensif berlangsung di Muscat, Oman. Amerika mengajukan proposal yang menggoda, menurut empat sumber yang dapat dipercaya bantuan hingga 30 miliar dolar untuk program nuklir sipil Iran, keringanan sanksi, dan pembebasan dana beku, dengan satu syarat mutlak, "penghentian total pengayaan uranium Iran."
Iran, yang terluka secara militer dan psikologis, berada di persimpangan. Pemimpin tertingginya, Ali Khamenei, pernah menyatakan bahwa Iran tidak memerlukan izin siapa pun untuk memperkaya uranium. Namun, realitas di lapangan berkata lain, fasilitas nuklir hancur, ilmuwan tewas dan dukungan internasional menguap.
Ketika batas waktu negosiasi berakhir tanpa kesepakatan, Israel kembali bertindak. 28 Februari 2026 rentetan rudal jelajah dan pesawat nirawak siluman menghantam.
Menteri Pertahanan Israel, dalam wawancara eksklusif dengan TRT WORLD, menyatakan: "Kami tidak akan membiarkan Iran memiliki kapasitas untuk mengancam keberadaan kami. Operasi ini adalah pesan bahwa waktu telah habis."
Di sinilah inti dari seluruh narasi ini. Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Donald Trump, telah merancang skenario yang memungkinkannya menuai keuntungan maksimal dengan risiko minimal.
Sejak era Obama, AS mengkhawatirkan ambisi nuklir Iran. Kesepakatan 2015 (JCPOA) hanya menunda, tidak menghilangkan, kemampuan Iran. Trump, yang menarik AS dari kesepakatan itu pada 2018, menginginkan solusi final, model Libya, di mana program nuklir dibongkar total.
Salah satu tujuan jangka panjang AS juga adalah membangun aliansi strategis antara Israel dan negara-negara Arab Sunni untuk melawan Iran. Konflik ini menjadi katalis sempurna.
Selama krisis, negara-negara Teluk, meskipun secara publik menyerukan penghentian kekerasan, secara diam-diam memberikan intelijen dan akses wilayah udara kepada Israel. Arab Saudi dan UEA melihat Iran sebagai ancaman eksistensial yang lebih besar daripada Israel.
Trump, dalam pernyataannya, menyebut bahwa "negara-negara di kawasan harus bersatu melawan terorisme Iran." Ini adalah bahasa yang dirancang untuk meleburkan entitas Yahudi ke dalam arsitektur keamanan regional, mengalihkan konflik dari isu Palestina menjadi isu sektarian.
Konsep "orbit" dalam hubungan internasional merujuk pada negara-negara yang secara de facto berada di bawah pengaruh kekuatan besar. Iran, sejak revolusi 1979, telah berusaha keluar dari orbit AS. Namun, realitasnya berbeda.
Iran membantu AS dalam pendudukan Afghanistan dan Irak. Iran melindungi rezim Bashar Assad di Suriah, yang merupakan sekutu AS melawan Islamis. Iran membiarkan proksinya di Yaman dan Lebanon dikendalikan oleh AS. Semua ini dilakukan dengan harapan menjadi kekuatan regional yang diakui.
Namun, AS tidak pernah melihat Iran sebagai mitra sejajar. Ketika Iran mulai menunjukkan kemandirian, terutama dalam program nuklirnya, AS menggunakan Israel sebagai "hantaman" untuk mengembalikan Iran ke dalam orbit.
Serangan 28 Februari adalah strategi terbaru.
Setelah Iran melemah, AS memegang kendali penuh atas proses negosiasi. Tidak ada lagi tawar-menawar. AS menentukan syarat, Iran dipaksa menerima.
Keuntungan ekonomi di sini sangat besar. Iran memiliki cadangan minyak dan gas terbesar keempat di dunia. Dengan program nuklir yang dinetralisir dan sanksi yang secara bertahap dicabut, perusahaan-perusahaan Amerika siap memasuki pasar Iran.
Trump, seorang pebisnis, melihat ini sebagai peluang emas. Dalam proposal yang bocor, disebutkan bahwa investasi perusahaan AS di sektor minyak, gas, penerbangan dan infrastruktur Iran bisa mencapai ratusan miliar dolar. Iran yang "jinak" adalah pasar yang menggiurkan.
Selain itu, dengan mengendalikan program nuklir sipil Iran, AS juga mengendalikan teknologi dan pengawasan. Iran tidak akan pernah bisa mengembangkan kemampuan militer rahasia.
Setiap serangan adalah latihan perang nyata. AS mengamati, merekam dan menganalisis. Data ini akan digunakan untuk merancang strategi masa depan, baik melawan Iran maupun kekuatan lain seperti China atau Rusia.
Salah satu aspek paling menarik dari drama ini adalah peran ganda Donald Trump. Di satu sisi, ia mendorong Israel untuk menyerang. Di sisi lain, ia menawarkan gencatan senjata dan negosiasi.
Pada 13 Juni 2025, setelah serangan Israel, Trump memujinya. Pada 22 Juni 2025, ia memerintahkan serangan AS. Pada 24 Juni 2025, ia mengumumkan gencatan senjata. Pada 27 Juni 2025, berdasarkan empat sumber yang dapat dipercaya mengajukan proposal bantuan 30 miliar dolar.
Trump bermain di dua sisi, sebagai agresor dan sebagai mediator. Ini adalah strategi klasik "polisi baik-polisi jahat," tetapi dalam skala global.
Pada 28 Februari 2026, pola ini berulang. Serangan Israel terjadi dan Trump bahkan secara terbuka menyetujuinya. Ini adalah strategi yang dirancang untuk kembali nantinya melakukan gencatan senjata dan perundingan.
Israel, meskipun secara teknis menang, tidak keluar sebagai pemenang mutlak. Justru, dengan terlibat dalam konflik dengan Iran, Israel semakin teralienasi dari dunia internasional.
Ketika debu perang mereda, AS muncul sebagai satu-satunya kekuatan yang utuh, dengan kendali penuh atas minyak, keamanan dan diplomasi kawasan.
Konflik ini menyisakan pelajaran pahit bagi dunia Islam. Ketika umat terpecah belah ke dalam negara-bangsa yang lemah, ketika penguasa lebih takut kepada AS daripada kepada Allah, ketika kepentingan sempit mengalahkan solidaritas Islamiyah, maka musuh akan dengan mudah memecah belah dan menguasai.
Iran, yang pernah menjadi simbol perlawanan, kini menjadi contoh bagaimana kekuatan besar dapat menundukkan musuhnya tanpa perang besar, cukup dengan proksi, ancaman dan iming-iming ekonomi.
Iran diancam dengan serangan, tetapi tidak memulai serangan untuk membela diri, padahal serangan adalah cara terbaik untuk bertahan melawan Yahudi dan Amerika. Sebaliknya, Iran tetap diam sampai fasilitasnya diserang dan ilmuwan serta petingginya dibunuh, baru kemudian mulai membalas.
Bahwa satu-satunya jalan keluar dari lingkaran setan ini adalah kembalinya Khilafah Rasyidah, sebuah negara Islam yang bersatu, kuat dan tidak tunduk pada tekanan asing. Selama umat masih terpecah, selama penguasa masih menjadi agen asing, maka kekacauan akan terus menjadi tontonan. (fjn)
Sumber: Soal Jawab Amir HT, TRT, Al Jazeera, Al Arabiya, IRNA
Editorial Rumah Tsaqofah | Dirancang untuk: Kesadaran Umat
No comments:
Post a Comment