Skip to main content

Memahami Geopolitik Amerika dan Iran

 Memahami Geopolitik Amerika dan Iran


Di ruang-ruang genting di bawah gedung PBB, di koridor-koridor berlapis marmer di Istana Damaskus yang hancur dan di tenda-tenda suku di pegunungan Zagros, pertanyaan yang sama berbisik seperti angin gurun yang membawa debu dan api,


"Mengapa sekarang? Mengapa Amerika menyerang Iran, negeri yang selama ini menjadi mitra diam dalam permainan catur kawasan?"


Jawabannya tidak akan ditemukan dalam pernyataan pers yang dibacakan dengan nada datar oleh juru bicara Gedung Putih. Jawabannya terukir dalam bahasa diam yang hanya dipahami oleh para pedagang kekuasaan, terukir di dinding-dinding gua tempat para revolusioner menyimpan mimpi dan tertulis dalam tinta tak terlihat di atas lembaran-lembaran perjanjian rahasia yang disimpan di brankas bawah tanah di Swiss dan Oman.


Untuk memahaminya, kita harus kembali. Kembali ke masa ketika hubungan ini bukan tentang rudal dan serangan drone, tetapi tentang tarian halus antara dua kepentingan yang saling membutuhkan.


Tahun 1979. Seorang imam tua dengan jubah hitam dan sorban putih kembali dari pengasingan di Paris. Pesawat Air France yang membawanya mendarat di Teheran, dan tanah di bawah kakinya bergetar, bukan karena gempa, tetapi karena jutaan kaki yang berteriak menyambut. Revolusi Islam telah menelan monarki.


Di Washington, para analis CIA menggigit kuku. Sekutu paling setia mereka di kawasan, "polisi Teluk" yang menjaga kepentingan minyak Barat, telah tumbang. Namun mereka tidak perlu terlalu khawatir. Sejarah tidak pernah linear. Ia berkelok seperti ular di padang pasir.


Khomeini bukan sekadar nama. Ia adalah simbol. Tapi simbol pun bisa dinegosiasikan.


Di tahun-tahun berikutnya, ketika Saddam Hussein yang saat itu masih menjadi "orang baik" versi Washington, menyerbu Iran dengan tank-tank buatan Amerika, negeri para imam itu berteriak kepada dunia. Tapi tidak ada yang datang. Tidak ada yang membantu. Kecuali bisikan-bisikan dari koridor gelap.


Di sini kita menemukan rahasia pertama, Iran tidak pernah menjadi negara bawahan Amerika. Ia hanya berputar dalam orbit kebijakan Amerika untuk mendapatkan dukungan yang membantunya mewujudkan ambisi.


Orbit itu berbentuk elips, kadang dekat, kadang jauh. Pada tahun 1980-an, ketika Irak menggunakan senjata kimia buatan Jerman dan data intelijen buatan Amerika, Iran belajar bahwa dunia tidak punya teman, hanya kepentingan. Maka ia pun mulai membangun jaringannya sendiri. Bukan dengan kekuatan konvensional, tetapi dengan tentara bayaran ideologi, Hizbullah di Lebanon, milisi Syiah di Irak, dan koneksi dengan faksi-faksi di Suriah dan Yaman.


Dan Amerika? Amerika membutuhkannya. Bukan secara terang-terangan, tetapi dalam kegelapan.


Tahun 2001. Menara kembar runtuh. Debu Manhattan belum reda ketika pesawat-pesawat tanpa awak Amerika mulai terbang di atas Afghanistan. Di darat, pasukan khusus Amerika menemukan diri mereka berperang bersama milisi-milisi yang berteriak dalam bahasa Persia. Iran, musuh bebuyutan, membantu menjatuhkan Taliban yang Sunni dan anti-Syiah. Kerja sama intelijen terjadi di ruang-ruang bawah tanah di Geneva. Perwira Garda Revolusi duduk berhadap-hadapan dengan agen CIA, membagi peta dan target.


Tahun 2003. Saddam digulingkan. Kekacauan Irak menjadi berkah bagi Iran. Sekarang, Baghdad memiliki pemerintahan Syiah yang akrab dengan Teheran. Di dalam pemerintahan Irak yang baru, ada menteri-menteri yang menghabiskan tahun-tahun pengasingan mereka di Iran. Para komandan milisi yang tadinya dilawan Amerika, kini menjadi mitra dalam memerangi Al-Qaeda.


Tahun 2011. Musim Semi Arab mengguncang kawasan. Di Suriah, ketika Bashar Al-Assad nyaris tumbang, pesawat-pesawat tempur Israel menyerang konvoi senjata untuk Hizbullah, tetapi tidak ada yang menyerang Damaskus. Amerika punya prioritas lain yaitu Islamis. Dan untuk melawan Islamis, mereka butuh sekutu di darat. Lagi-lagi, milisi-milisi Iran yang turun.


Sejarah hubungan keduanya adalah sejarah transaksi kotor dan kepentingan timbal balik.


Para pejabat di Teheran dan Washington tidak pernah mengakuinya di depan kamera. Tapi di belakang layar, di ruang-ruang yang tidak tercatat dalam notulensi resmi, transaksi itu berlangsung. Iran mengendalikan milisi di Suriah, Amerika membiarkannya, asalkan mereka tidak mengganggu pasukan Amerika di timur laut. Iran mengirim senjata ke Houthi di Yaman, Amerika memprotes keras, tetapi tidak pernah benar-benar memblokade total karena ada perhitungan lain yaitu harga minyak, persaingan hegemoni dengan Inggris dan kepentingan jangka panjang.


Tapi tidak ada tarian abadi. Tidak ada kemitraan kekal. Hanya ada jeda.


Pada suatu titik, proyek besar itu, The Grand Project mulai mencapai fase kematangannya. Amerika, setelah dua dekade terseret dalam perang di Timur Tengah, ingin keluar. Tapi keluar tidak berarti meninggalkan. Keluar berarti membentangkan pengaruh secara langsung dan penuh, tanpa perlu mediator yang bandel. Mereka ingin menggambar ulang peta kawasan sesuai dengan cetak biru lama yang sempat terhambat: The Greater Middle East Initiative.


Inisiatif itu membutuhkan kawasan yang stabil, tapi stabil dalam versi Amerika. Bukan stabil dalam versi Iran yang punya cabang-cabang di Beirut, Baghdad dan Sana'a


Di mata Washington, Iran telah melampaui batas. Ia bukan lagi mitra taktis yang berguna. Ia telah menjadi struktur. Jaring laba-laba yang terlalu besar dan terlalu kuat. Ketika tentara bayaran Iran menembak pangkalan Amerika di Irak, itu bisa ditoleransi. Tapi ketika mereka membangun pangkalan militer permanen di dekat Suriah, ketika rudal-rudal presisi buatan Iran mulai dipasang di Lebanon yang bisa menjangkau Tel Aviv kapan saja, itu mengubah segalanya.


Kesalahan Iran adalah berpikir bahwa transaksi itu abadi. Padahal dalam politik kekuasaan, setiap transaksi memiliki tanggal kedaluwarsa.


Maka tibalah momen ketika seorang presiden Amerika berdiri di Ruang Oval, dikelilingi jenderal dan penasihat keamanan nasional. Di layar di depannya, ada peta Timur Tengah dengan garis-garis merah dan panah-panah biru. Sebuah presentasi tentang "ancaman Iran yang melampaui batas" diputar dengan narasi yang meyakinkan.


"Kita sudah mencoba diplomasi. Mereka menolak."


"Kita sudah mencoba sanksi maksimum. Mereka bertahan."


"Sekarang, hanya opsi militer yang tersisa."


Kata-kata itu mungkin diucapkan dengan nada berat, penuh tanggung jawab, seolah-olah tidak ada pilihan lain. Padahal, di ruang yang sama, mungkin tidak ada yang menyebutkan bahwa Iran pernah membantu Amerika di Afghanistan. Tidak ada yang mengingat bahwa intelijen Iran menyelamatkan nyawa tentara Amerika di Irak. Sejarah hanya berguna selama ia mendukung narasi dan dibuang ketika ia menghalangi.


Iran Khomeini bukanlah yang pertama melayani Amerika lalu kemudian dikorbankan dan ditinggalkan. Ada banyak sebelumnya, Jenderal Qassem, yang pada 1950-an membantu mengkonsolidasikan kekuasaan Syah, lalu dilupakan. Para pejuang Kurdi yang digunakan oleh CIA untuk melawan Irak, lalu diabaikan ketika perjanjian dengan Saddam ditandatangani. Bahkan Osama bin Laden, yang dulunya "pejuang kebebasan" melawan Soviet, lalu menjadi musuh nomor satu. Juga Manuel Noriega Pernah bekerja sama dengan intelijen AS (CIA). Ketika hubungan memburuk dan ia dianggap tidak lagi sejalan, AS menginvasi Panama (1989). Noriega ditangkap dan dipenjara di AS.


Contohnya banyak, bahkan terlalu banyak untuk dihitung.


Jadi, ketika serangan itu akhirnya datang, gelombang pertama rudal Tomahawk melesat di atas Teluk, pesawat-pesawat siluman F-35 menembus pertahanan udara Iran dan layar-layar televisi di seluruh dunia mulai menayangkan gedung-gedung di Teheran yang meledak dalam kepulan api oranye, tidak ada yang benar-benar terkejut.


Para analis militer akan berbicara tentang "serangan pendahuluan untuk mencegah senjata nuklir." Para diplomat akan berdebat di Dewan Keamanan PBB dengan kata-kata yang sudah ditulis sebelumnya. Media akan memutar rekaman arsip "demonstrasi anti-Amerika" di Teheran dan "dukungan rakyat" di Washington.


Tapi di kedalaman sejarah yang sebenarnya, di lapisan-lapisan bawah tanah ingatan kolektif, pertanyaan itu akan terus berulang, bergema di antara reruntuhan dan debu,


"Mengapa Amerika menyerang Iran yang selama ini dianggap sebagai bagian dari kebijakannya di kawasan?"


Dan jawabannya akan selalu sama, dibisikkan oleh angin yang bertiup di atas makam para prajurit yang tidak pernah tahu bahwa mereka berperang bukan untuk tanah air, tetapi untuk kelanjutan dari tarian bayangan di atas neraka.


Karena ketika proyek besar telah matang, tidak ada ruang bagi mitra kecil. Hanya ada satu dalang yang menarik semua tali.


Babak baru telah dimulai. Dan seperti biasa, sejarah tidak akan pernah selesai ditulis. Ia hanya akan terus bergema, sampai pertanyaan itu diajukan lagi, puluhan tahun dari sekarang, oleh generasi yang akan datang yang bertanya-tanya tentang awal dari semua ini.


Kita memohon kepada Allah agar upayanya kembali gagal. Memohon agar Khilafah Segera Tegak dan membungkam manuver Amerika terhadap negeri-negeri Muslim.(fjn)


Editorial Rumah Tsaqofah dari berbagai sumber | Dirancang untuk: Kesadaran Umat

Comments

Popular posts from this blog

𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍

 𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍 https://www.facebook.com/joko.prasetyo.457609/posts/pfbid02qjxJndqbLy1EpcAYSitShA3dEcmucHZZEdJwKAbXKHv264jz4oDxxhkF5KVQiEgwl . Sesaat setelah Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengumumkan rencana pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia, sontak saja HTI langsung menjadi ℎ𝑒𝑎𝑑𝑙𝑖𝑛𝑒 di berbagai media massa baik televisi, cetak, radio maupun portal berita daring dan menjadi buah bibir berbagai kalangan masyarakat baik pro maupun kontra.  . “Pemerintah perlu mengambil langkah–langkah hukum secara tegas untuk membubarkan HTI," ujar Wiranto saat jumpa pers, Senin, 8 Mei 2017 di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat. Saat membacakan keputusan tersebut, Wiranto memaparkan tiga alasan pembubaran. .  Ketiga alasan pembubaran tersebut dinilai Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto tidak memiliki dasar sama sekali.  . “...

Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah

 Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah Penulis: Ustaz Yuana Ryan Tresna Muslimah News, SYARAH HADIS — Hadis yang mengabarkan berita gembira tentang kembalinya Khilafah sangatlah banyak. Tidak benar bahwa hadis bisyarah nabawiyyah (kabar gembira kenabian) akan datangnya Khilafah hanya didasarkan pada hadis riwayat Imam Ahmad. Masih banyak hadis lain yang secara makna sejalan dengan hadis tersebut. Misalnya hadis riwayat Muslim, Ahmad, dan Ibnu Hibban tentang khalifah di akhir zaman yang akan “menumpahkan” harta yang tidak terhitung jumlahnya; hadis tentang akan datangnya Khilafah di Baitulmaqdis (HR Abu Dawud, Ahmad, ath-Thabarani, al-Baihaqi); juga hadis tentang kekuasaan umat Nabi Muhammad yang akan melingkupi dari timur hingga barat (HR Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud). Hadis-hadis ini didukung banyak hadis lain dengan makna yang sama, seperti masuknya Islam ke setiap rumah, al-waraq al-mu’allaq, hijrah setelah hijrah, penaklukan Kota Roma, dan seterusnya. Makna hadis kembalinya Khil...

Perbedaan Masiroh dan Demonstrasi

 Perbedaan Masiroh dan Demonstrasi (Muzhaharah) Aktivitas masirah sering digelar oleh beberapa komponen umat Islam dalam menjalankan fungsi mengoreksi penguasa. Sebagian pihak menyamakan masirah ini dengan demonstrasi, dimana demonstrasi ini merupakan salah satu cara Yahudi menurut mereka. Sebenarnya, seperti apakah perbedaan masiroh itu dengen demonstrasi. Berikut ini penjelasan singkatnya. Soal: 1. Mohon dijelaskan perbedaan antara aktivitas demonstrasi dengan masiroh, karena sangat gamblang terlihat bahwa tidak ada perbedaan antara kedua aktivitas. Mohon pencerahannya. 2. Pada suatu artikel saya membaca kritikan terhadap aktivitas masiroh yang melibatkan wanita. Sebenarnya bagaimana mendudukan masalah ini, atau apa batasan-batasan bagi kaum akhwat dalam hal ini. Jawab: Pada dasarnya, uslub (cara) untuk mendakwahkan gagasan-gagasan Islam, atau menyampaikan kritik (koreksi) bisa dilakukan dengan cara apapun, selama uslub tersebut tidak bertentangan dengan syariat, dan masih dalam ...