Telaah Kitab Nida' al-Haar Part 4 : Serangan terhadap Perasaan Islam
Pernahkah kita bertanya dalam hati, Mengapa umat sebesar ini bisa begitu lemah? Mengapa kita seolah kehilangan daya untuk marah saat agama kita dihinakan dan kehilangan gairah saat kebenaran diserukan?
Malam yang sunyi seringkali menjadi saksi bisu kegelisahan kita. Di tengah hening, hati berbicara lebih jernih. Dan dalam kejernihan itulah kita diajak untuk menyelami sebuah kitab Nida' al-Haar yang ditulis oleh seorang pemikir besar abad ini, Syaikh Taqiyuddin An Nabhani.
Mungkin kita bertanya, apa maksudnya 'perasaan Islam'? Bukankah Islam itu soal keyakinan di kepala dan amal di tangan?
Syaikh Taqiyuddin mengajak kita melihat lebih dalam. Beliau berkata bahwa ideologi tidak hanya hidup di otak, ia juga hidup di hati. Ia adalah dorongan batin, sensitivitas, kecintaan, kemarahan, loyalitas dan kebencian yang lahir dari akidah. Inilah yang disebut Perasaan Islam
Bayangkan ini seperti sebuah bangunan megah. Pemikiran Islam adalah pondasi dan tiangnya, hukum-hukumnya adalah dinding dan atapnya. Tapi perasaan Islam? Itulah nyawa yang membuat bangunan itu hidup, berpendar dan hangat. Ia adalah semangat yang membuat penghuninya rela berkorban, rela mencintai dan membenci karena Allah.
Dan di sinilah titik paling berbahaya dari serangan musuh. Mereka tahu, jika hanya menyerang pemikiran, umat bisa berdebat. Jika menyerang hukum, umat bisa mencari dalil. Tapi jika mereka berhasil membunuh perasaan ini, maka umat akan mati sebelum menyadari kematiannya. Mereka akan menjadi mayat-mayat yang berjalan.
Inilah langkah pertama dan yang paling mendasar.
Dalam Al-Qur'an, ada konsep yang sangat jelas Al-Wala' wal Bara', loyalitas hanya kepada Islam dan kaum Muslim serta berlepas diri dari kekufuran dan pelakunya. Inilah dinding pemisah yang menjaga identitas kita.
Maka, serangan pertama diarahkan ke sini. Dengan lembut, didengungkanlah kata-kata manis:
"Mengapa harus membeda-bedakan? Bukankah kita semua manusia?"
"Cinta khusus kepada Muslim itu namanya fanatisme!"
"Marah jika Islam dihina? Itu namanya ekstremisme!"
Mereka ganti konsep agung ini dengan slogan-slogan universal yang tampak indah, "Kemanusiaan di atas agama," atau "Semua agama sama saja."
Ujung-ujungnya, batas antara iman dan kufur menjadi kabur. Seorang Muslim bisa duduk tenang bersama para penghina Islam, karena "yang penting kan kemanusiaan." Identitas kita dikoyak sedikit demi sedikit. Kita menjadi netral, tidak punya teman sejati dan tidak punya musuh yang jelas.
Setelah tali loyalitas diputus, mereka menawarkan pengganti. Inilah langkah kedua.
Ikatan ummah yang begitu luas, yang mempersaudarakan seorang Muslim di Aceh dengan Muslim di Maroko, dipersempit. Dipersempit menjadi ikatan tanah air, bangsa, etnis dan bahasa.
Tiba-tiba, kita lebih bangga sebagai orang Jawa, orang Sunda, orang Batak, daripada bangga sebagai Muslim. Orang Turki dibanggakan dengan keTurkiannya, orang Arab dengan keArabannya.
Semangat ukhuwah Islamiyah yang dulu mampu merobohkan tembok-tembok Persia dan Romawi, kini terkikis habis oleh tembok-tembok baru bernama nasionalisme. Umat pun terpecah belah. Lihatlah konflik di mana-mana, saudara satu agama saling membunuh hanya karena berbeda bendera. Inilah hasilnya, sebuah alat pemisah yang sangat ampuh.
Lalu, masuk ke tahap yang lebih berbahaya. Ini bukan lagi serangan fisik, tapi serangan terhadap harga diri.
Dengan dalih kebebasan berpikir dan penelitian ilmiah, simbol-simbol suci kita diinjak-injak. Al-Qur'an dikritik habis-habisan. Kenabian Muhammad dipertanyakan. Para sahabat yang mulia dicaci maki.
Dan yang lebih menyakitkan, ketika kita marah, kita dibilang kolot, tidak toleran, tidak bisa menerima kritik. Kita diminta untuk diam, untuk tersenyum, untuk menerima semua itu sebagai bagian dari diskusi akademik.
Sedikit demi sedikit, ghirah Islamiyah, api cemburu kita terhadap agama dipadamkan. Kita diajari untuk tidak tersinggung. Akhirnya, hati kita mati rasa. Mendengar ayat suci diejek, kita hanya angkat bahu. Melihat Nabi dihina, kita hanya bisa diam.
Inilah yang disebut Syaikh Taqiyuddin sebagai mengubah arah emosi umat.
Setiap ideologi melahirkan perasaan khas. Islam melahirkan kebanggaan, kemarahan saat ada yang mengancam kebenaran dan kesedihan saat umat terpuruk.
Sekarang, arah itu diputar balikkan:
· Kebanggaan terhadap Islam diganti dengan rasa malu, malu disebut fundamentalis, malu berjenggot, malu bercadar.
· Kemarahan terhadap kemungkaran diganti dengan sikap acuh tak acuh.
· Kesedihan atas kehinaan umat diganti dengan penerimaan pasif: "Ya sudah, mungkin ini takdir."
Umat kehilangan sensitivitasnya. Bagaikan orang yang sudah kehilangan indra peraba, ia tak lagi merasakan panasnya api neraka yang mengancam orang-orang kafir dan tak lagi merasakan dinginnya nikmat surga yang dijanjikan untuk orang-orang beriman.
Puncaknya adalah ketika mereka berhasil mengganti spiritualitas Islam.
Spiritualitas yang agung, yang lahir dari akidah yang benar dan melahirkan komitmen pada syariat diganti dengan spiritualitas instan. Spiritualitas yang hanya soal perasaan pribadi, tanpa ada kaitannya dengan aturan hukum. Pengalaman batin yang tidak punya dampak sosial. Moralitas tanpa sistem.
Islam direduksi menjadi sekadar nilai-nilai moral yang abstrak, etika personal dan pengalaman rohani privat. Islam tidak lagi bicara soal politik, soal pemerintahan, soal aturan jual beli, soal sanksi hukum. Islam hanya jadi urusan pribadi antara hamba dengan Tuhannya di dalam masjid.
Syaikh Taqiyuddin menyimpulkan bahwa dampaknya sangat dalam:
· Umat tidak lagi merasakan sakit atas kehinaan politiknya.
· Tidak lagi marah atas penerapan hukum kufur.
· Tidak lagi bangga atas sejarah dan syariatnya.
· Tidak lagi memandang Islam sebagai identitas kolektif.
Islam tersisa sebagai:
· ibadah individual,
· tradisi budaya,
· simbol identitas lemah.
Inilah yang disebut Syaikh Taqiyuddin sebagai kekalahan perasaan.
Mungkin kita bertanya-tanya, apa yang bisa kita perbuat?
Langkah pertama adalah menyadari. Sadarilah bahwa perasaan kita adalah medan jihad. Jangan biarkan api kecintaan kepada Islam padam dalam dada. Jaga kemarahan kita hanya untuk Allah. Rawatlah rasa bangga menjadi seorang Muslim. Rawatlah rasa sakit ketika Islam dilecehkan.
Karena dari perasaan-perasaan inilah, lahir generasi yang mampu mengubah dunia. Dari dada yang bergelora karena cinta kepada-Nya, lahirlah para pahlawan, para pejuang, para pembebas.
Mari kita jaga perasaan Islam ini. Karena ia adalah kunci kemenangan yang hakiki.(fjn)
Editorial Rumah Tsaqofah | Dirancang untuk: Kesadaran Umat
No comments:
Post a Comment