Skip to main content

TELAAH KITAB NIDA' HAAR PART 1: DARI DIAGNOSIS MENUJU KEBANGKITAN

 TELAAH KITAB NIDA' HAAR PART 1: DARI DIAGNOSIS MENUJU KEBANGKITAN 


Ada sebuah diagnosa yang disampaikan dengan berani, tepat di jantung zaman kita. Seorang pemikir, Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam kitab Nida' Haar, menggambarkan sebuah kondisi yang mungkin kita rasakan dalam diam, tapi enggan diucapkan dengan lantang.


Ia menyatakan, umat telah mencapai titik paling rendah. Kemerosotan ruhani yang membuat jiwa kita gersang. Keterbelakangan materi yang membelenggu potensi kita. Ketertinggalan pemikiran yang membutakan arah. Dan kehinaan politik yang menjadikan kita bidak di papan catur orang lain.


Tidak ada yang bisa membantahnya. Lihatlah sekitar kita. Jalinan-jalinan hidup yang dahulu dirajut dengan benang keimanan, ukhuwah dan tolong-menolong telah tercabik. Digantikan oleh transaksi kering kapitalisme, di mana nilai manusia diukur dari apa yang ia miliki, bukan dari ketakwaannya.


Ikatan persaudaraan seiman yang pernah membentang dari Maroko hingga Marauke telah terputus. Dikotak-kotakkan oleh tembok tinggi nasionalisme dan fanatisme kesukuan. Bahkan, dalam satu daratan yang sama, kita terpecah oleh ikatan sempit ‘tanah air’ yang sering kali dijadikan alat untuk memusuhi saudara sendiri.


Apa yang tersisa dari Islam dalam kehidupan kolektif kita? Hanya ritual-ritual individual. Shalat, puasa dan haji, tapi terpisah dari aturan hidup yang menyeluruh. Perasaan keagamaan kita menyempit menjadi sekadar perasaan ritualistik yang kaku, kehilangan ruhnya yang membebaskan dan mempersatukan.


Ini semua, seterang matahari di siang bolong. Musuh kita melihatnya. Dunia menyaksikannya. Dan dalam hati kecil, kita pun mengakuinya.


Namun, ada bahaya yang lebih besar, yang mungkin luput dari penglihatan kita, tapi sangat jelas dalam teropong musuh-musuh Islam.


Bahaya kepunahan.


Bukan kepunahan fisik, tapi kepunahan ruh, identitas dan keagungan.


Bayangkan sebuah umat yang kehilangan ciri khasnya. Laksana air laut yang tawar. Keutamaan-keutamaannya yang mulia tergantikan oleh nilai-nilai rendahan. Kepribadian kolektifnya yang kuat menjadi rusak dan tak berwajah. Pola pikirnya menyimpang, mengagungkan yang remeh dan meremehkan yang agung. Identitas Islamnya perlahan melebur, lenyap ditelan arus globalisasi yang garang.


Dan yang paling mengkhawatirkan, jumlah orang yang menjadikan loyalitas kepada Islam di atas segalanya semakin menipis. Pencinta sejati Allah dan Rasul-Nya, yang menempatkan hukum Syara' sebagai puncak nilai hidup menjadi semakin langka. “lebih langka daripada belerang merah,” begitu kata Syaikh Taqiyuddin An Nabhani.


Rasa pedih dan malu karena kekalahan di hadapan kaum yang mendustakan Allah, itu pun hampir mati. Hanya tersisa pada segelintir suara yang dianggap ‘asing’, yang tidak lagi didengar, apalagi diikuti.


Lalu, apa yang harus kita perbuat? Apakah ungkapan ini hanya untuk meratapi nestapa?


Tidak. Sama sekali tidak.


Pengakuan adalah langkah pertama penyembuhan. Diagnosa yang akurat adalah separuh dari obat. Syaikh An Nabhani bukan hanya menunjukkan luka, tapi juga dalam seruannya ingin membangkitkan kita dari amnesia kolektif ini.


Kita harus bangkit dari tidur panjang ini. Mari kita genggam kembali benang ukhuwah yang terputus. Kita rebut kembali ranah pemikiran yang telah ditinggalkan. Kita pulihkan ruhiyah yang telah merosot. Dan kita bangun kembali kepribadian Islam yang unggul, bukan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan nyata dalam kehidupan kita.


Jangan biarkan cahaya identitas Islam ini padam. Jangan biarkan umat yang agung ini hanya menjadi catatan sejarah. Kebangkitan dimulai dari kesadaran. Dan kesadaran itu harus segera bergerak menjadi aksi.


“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’d: 11). ( fjn)


Editorial Rumah Tsaqofah | Dirancang untuk: Kesadaran Umat

Comments

Popular posts from this blog

𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍

 𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍 https://www.facebook.com/joko.prasetyo.457609/posts/pfbid02qjxJndqbLy1EpcAYSitShA3dEcmucHZZEdJwKAbXKHv264jz4oDxxhkF5KVQiEgwl . Sesaat setelah Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengumumkan rencana pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia, sontak saja HTI langsung menjadi ℎ𝑒𝑎𝑑𝑙𝑖𝑛𝑒 di berbagai media massa baik televisi, cetak, radio maupun portal berita daring dan menjadi buah bibir berbagai kalangan masyarakat baik pro maupun kontra.  . “Pemerintah perlu mengambil langkah–langkah hukum secara tegas untuk membubarkan HTI," ujar Wiranto saat jumpa pers, Senin, 8 Mei 2017 di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat. Saat membacakan keputusan tersebut, Wiranto memaparkan tiga alasan pembubaran. .  Ketiga alasan pembubaran tersebut dinilai Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto tidak memiliki dasar sama sekali.  . “...

Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah

 Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah Penulis: Ustaz Yuana Ryan Tresna Muslimah News, SYARAH HADIS — Hadis yang mengabarkan berita gembira tentang kembalinya Khilafah sangatlah banyak. Tidak benar bahwa hadis bisyarah nabawiyyah (kabar gembira kenabian) akan datangnya Khilafah hanya didasarkan pada hadis riwayat Imam Ahmad. Masih banyak hadis lain yang secara makna sejalan dengan hadis tersebut. Misalnya hadis riwayat Muslim, Ahmad, dan Ibnu Hibban tentang khalifah di akhir zaman yang akan “menumpahkan” harta yang tidak terhitung jumlahnya; hadis tentang akan datangnya Khilafah di Baitulmaqdis (HR Abu Dawud, Ahmad, ath-Thabarani, al-Baihaqi); juga hadis tentang kekuasaan umat Nabi Muhammad yang akan melingkupi dari timur hingga barat (HR Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud). Hadis-hadis ini didukung banyak hadis lain dengan makna yang sama, seperti masuknya Islam ke setiap rumah, al-waraq al-mu’allaq, hijrah setelah hijrah, penaklukan Kota Roma, dan seterusnya. Makna hadis kembalinya Khil...

Perbedaan Masiroh dan Demonstrasi

 Perbedaan Masiroh dan Demonstrasi (Muzhaharah) Aktivitas masirah sering digelar oleh beberapa komponen umat Islam dalam menjalankan fungsi mengoreksi penguasa. Sebagian pihak menyamakan masirah ini dengan demonstrasi, dimana demonstrasi ini merupakan salah satu cara Yahudi menurut mereka. Sebenarnya, seperti apakah perbedaan masiroh itu dengen demonstrasi. Berikut ini penjelasan singkatnya. Soal: 1. Mohon dijelaskan perbedaan antara aktivitas demonstrasi dengan masiroh, karena sangat gamblang terlihat bahwa tidak ada perbedaan antara kedua aktivitas. Mohon pencerahannya. 2. Pada suatu artikel saya membaca kritikan terhadap aktivitas masiroh yang melibatkan wanita. Sebenarnya bagaimana mendudukan masalah ini, atau apa batasan-batasan bagi kaum akhwat dalam hal ini. Jawab: Pada dasarnya, uslub (cara) untuk mendakwahkan gagasan-gagasan Islam, atau menyampaikan kritik (koreksi) bisa dilakukan dengan cara apapun, selama uslub tersebut tidak bertentangan dengan syariat, dan masih dalam ...