Sunday, March 15, 2026

KRISIS BURSA DAN SOLUSI FUNDAMENTAL

 KRISIS BURSA DAN SOLUSI FUNDAMENTAL


Dari balik layar monitor dan grafik bursa saham yang anjlok, sebuah drama kekuasaan sedang mempertaruhkan nasib perekonomian kita. Laporan Tempo mengungkapkan, Menteri Pertahanan Letjen (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin dan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, dua pilar dekat Istana tak lagi seirama. Mereka terlibat tarik-ulur sengit, yang satu mendorong penegakan hukum pidana bagi pengurus bursa dan otoritas keuangan, yang lain menolak khawatir badai akan menjadi tsunami.


Dampaknya langsung terasa. Sebuah mundur massal. Pejabat tinggi Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan meletakkan jabatan. Alasannya tanggung jawab moral. Pemicunya, laporan Morgan Stanley Capital International yang mengungkap bayang-bayang manipulasi. IHSG pun terjun bebas, perdagangan terpaksa dibekukan sementara.


Namun, pukulan kedua mungkin lebih telak, datang dari langit dunia keuangan global. Moody’s Investors Service menurunkan prospek perekonomian Indonesia menjadi ‘negatif’. Mereka memandang kebijakan fiskal pemerintah tak meyakinkan, tak stabil. Sebuah paradoks pahit, di saat BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi 5,11 persen.


Lalu, terlintaskah di benak kita sebuah pertanyaan getir, sudah sedemikian hilangkah kredibilitas kita di mata dunia?


Ini bukan sekadar kisruh teknis pasar modal. Ini adalah gejala. Gejala dari sebuah sistem yang rapuh. Sistem yang membiarkan kepentingan individu dan kelompok beradu, sementara kemaslahatan rakyat terombang-ambing. Lalu, adakah cara pandang lain untuk membaca krisis ini?


akar masalahnya adalah sistem Kapitalisme yang meniscayakan kebebasan kepemilikan yang tanpa batas.


Sistem ekonomi kapitalis telah menjadikan pasar uang dan saham sebagai ‘kandang judi’ yang dilegalkan. Di mana spekulasi, ghorar (ketidakpastian yang merusak) dan monopoli informasi menjadi makanan sehari-hari. Ketika aturan main dibangun di atas prinsip ‘mencari keuntungan sebesar-besarnya’, maka keadilan, transparansi dan stabilitas sejati akan selalu dikorbankan.


Apa yang terjadi antara Sjafrie dan Dasco, adalah konflik dalam sistem yang sakit. Satu ingin penumpasan pidana (yang mungkin dilihat sebagai upaya ‘pembersihan’ secara keras), satunya lagi ingin menjaga stabilitas sistem (status quo) yang rapuh. Keduanya berdebat di atas meja judi, bukan memperdebatkan keabsahan meja judi itu sendiri.


Islam menawarkan solusi yang bersifat fundamental, yaitu Sistem Ekonomi Islam dalam naungan khilafah. Di mana:


1. Uang adalah alat tukar, bukan komoditas yang diperjualbelikan secara spekulatif. Bursa saham spekulatif yang penuh ghorar tak memiliki tempat.


2. Negara (Khilafah) adalah penjaga aktif yang bertanggung jawab penuh atas kemaslahatan ekonomi rakyat. Otoritas tidak akan dibiarkan tumpang-tindih atau dimanfaatkan oleh kepentingan segelintir orang.


3. Setiap pelaku ekonomi, apapun jabatannya, tunduk pada hukum syariat yang jelas dan tegas. Hukum pidana Islam (seperti hukum bagi pelaku korupsi dan perusak ekonomi) akan ditegakkan tanpa pandang bulu, bukan sebagai alat politis, tapi sebagai penjaga keadilan.


4. Kebijakan fiskal dibangun di atas sumber-sumber penerimaan negara yang sah dan halal (seperti harta milik umum, zakat, kharaj, fa’i, dll) serta dibelanjakan secara transparan untuk kepentingan publik. Hal ini akan menciptakan kepercayaan (trust) yang kokoh,


Jadi, ketika Moody’s meragukan kebijakan fiskal kita dan Morgan Stanley mengungkap manipulasi, itu adalah sinyal kegagalan sistemik. Bukan sekadar salah orang per orang. krisis seperti ini adalah buah yang dipetik dari pohon Kapitalisme sekuler.


Pertanyaannya kembali, Apakah kita akan terus memperbaiki yang rusak di permukaan atau berani menggali sampai ke akar, merenungkan tawaran sistem alternatif yang dibangun di atas nilai-nilai keadilan, transparansi, dan tanggung jawab di hadapan Sang Pencipta? (fjn)


Editorial Rumah Tsaqofah dari berbagai sumber | Dirancang untuk: Kesadaran Umat

No comments: