Skip to main content

MENCARI KEPALA YANG HILANG

 MENCARI KEPALA YANG HILANG


Bayangkan sebuah ilustrasi ayam tanpa kepala !


Makhluk itu tubuhnya tegap, bulu-bulunya masih berkilau, kakinya bergerak lincah. Ia bahkan bisa berlari, melompat, mengais-ngais tanah. Tapi matanya kosong atau lebih tepatnya, tempat matanya yang seharusnya ada kini hanya menjadi rongga yang menganga. Ia bergerak, tetapi tidak tahu ke mana ia melangkah. Ia bereaksi, tetapi tidak mengerti mengapa. Ia hidup, tetapi hanya sisa-sisa naluri yang menggerakkan otot-ototnya, sementara pusat kendali, akal, dan visinya telah lenyap. Ia bergerak dalam lingkaran setan, mengira sedang maju, padahal hanya berputar-putar di tempat yang sama, hingga akhirnya jatuh kehabisan darah dan makna.


Inilah keadaan kita.


Kita adalah tubuh yang perkasa. Jumlah kita berlimpah, tersebar dari timur hingga barat. Masjid-masjid kita menjulang, suara azan menggema, hafalan Al-Qur'an di dada anak-anak kita mengalahkan gemercik air sungai. Tapi di manakah kepala kita? Di manakah pusat kepemimpinan yang menyatukan gerak, yang memberikan arah, yang memancarkan cahaya pemikiran dan visi bagi seluruh tubuh ini?


Kita telah kehilangan Khilafah. Bukan sekadar kehilangan sebuah institusi politik, bukan sekadar runtuhnya sebuah istana. Kita kehilangan kepala kita. Maka, sejak saat itu, tubuh yang perkasa ini pun mulai berjalan tanpa arah. Kita masih bergerak, bahkan sangat sibuk bergerak, tetapi ke mana?


Kita menyelaraskan diri dengan politik kufur, menganggapnya sebagai “kecerdasan praktis”. Kita mengikuti aturan permainan yang bukan kita yang buat, di papan catur yang bukan kita yang rancang. Lalu dengan sibuknya kita mencari-cari dalil, mengutip sepenggal ayat, memelintir sebuah hadits, hanya untuk membenarkan bahwa duduk di kursi permainan mereka adalah “jihad”, bahwa kompromi atas prinsip adalah “hikmah”, bahwa diam terhadap kemungkaran adalah “kesabaran”. Kita menjadi ahli justifikasi.


Lalu, kita pun mulai melupakan jati diri. Identitas agung kita yaitu Muslim, kita campakkan ke pinggir. Sebagai gantinya, kita mengenakan jaket nasionalisme yang sempit. 

Menjadikan kepentingan negara-bangsa sebagai kata akhir, melebihi kepentingan Islam dan kaum Muslimin. Kita terkotak-kotak dalam penjara bernama “nation-state”, warisan pahit kolonial yang meracuni pikiran kita. Kita bersaudara dalam shalat, tetapi bermusuhan dalam politik. Kita satu dalam kalimat tauhid, tetapi terpecah dalam bendera.


Oh, betapa pilunya melihat panji Rasulullah, Al-Liwa’ dan Rayah yang pernah berkibar dari Madinah hingga Konstantinopel, kini dilipat dan disimpan di museum kenangan. Sebagai gantinya kita dengan bangga mengibarkan kain-kain berwarna yang dijahit oleh tangan-tangan penjajah. Setiap bendera itu adalah sebuah garis pemisah, sebuah tembok, sebuah pengakuan bahwa “aku berbeda darimu dan kesetiaanku adalah untuk simbol ini, bukan untuk iman kita.” 


Bendera-bendera itu adalah mantra pemecah-belah yang sukses meretakkan persatuan kita, mengubah satu tubuh utuh menjadi kepingan-kepingan yang mudah dicabik.


Lalu apa yang tersisa? Sebuah tubuh tanpa kepala. Sebuah umat yang reaktif, bukan proaktif. Bergejolak jika dizalimi di satu tempat, tetapi diam jika kehormatan diinjak-injak di tempat lain. Sibuk mengobati luka-luka di sekujur tubuh, tetapi tidak pernah bertanya mengapa pisau itu selalu berhasil menancap. Kita seperti ayam tanpa kepala itu, berlari kesana-kemari, menghabiskan energi, membuat keributan, tetapi tidak pernah sampai pada tujuan. Karena tujuan itu sendiri tidak lagi kita kenali.


Maka, inilah saatnya untuk berhenti sejenak. Berhentilah berlari. Duduklah. Dan tanyakan pada diri kita dengan suara yang paling jujur:


“Siapa aku sebenarnya?”


Apakah aku hanya warga negara sebuah daratan yang batasnya digambar oleh orang asing? Apakah aku hanya bagian dari suku, golongan atau partai politik? Ataukah aku adalah seorang Muslim, yang identitas utamanya berasal dari Kalimatullah, yang kesetiaan utamanya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya, yang tanah airnya adalah seluruh bumi di mana syariat Allah ditegakkan?


Kita harus kembali. Kembali bukan pada nostalgia, bukan pada romantisme sejarah. Kembali pada Dien kita. Pada Islam yang utuh, yang mengatur bukan hanya ibadah mahdhah, tetapi juga kehidupan. Pada sistem yang datang dari Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. Sistem yang pernah memandu tubuh ini menjadi pemimpin peradaban, menjadi rahmat bagi alam semesta.


Kita perlu menemukan kembali kepala kita. Bukan kepala yang baru, tetapi kepala yang sama yaitu Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah. Kepemimpinan yang menyatukan, yang melindungi, yang memandu berdasarkan wahyu. Itulah kepala yang akan menghentikan gerakan tanpa arah. Itulah akal yang akan merencanakan langkah strategis. Itulah mata yang akan memandang jauh ke depan, mengarahkan tubuh ini menuju kemuliaan di dunia dan keselamatan di akhirat.


Tanpa kepala, tubuh hanya akan mati lelah. Dengan kepala, tubuh akan bangkit menjadi raja di atas muka bumi.


Pertanyaannya, Apakah kita masih mau terus menjadi ayam tanpa kepala atau kita akan berusaha dengan segenap jiwa raga untuk menyambung kembali apa yang telah terputus?


Pilihlah! Karena diam dalam keadaan ini, adalah kesepakatan untuk tetap tanpa arah. Dan sejarah tidak akan mengasihani mereka yang memilih untuk tetap tersesat. (fjn)


Editorial Rumah Tsaqofah | Dirancang untuk: Kesadaran Umat

Comments

Popular posts from this blog

𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍

 𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍 https://www.facebook.com/joko.prasetyo.457609/posts/pfbid02qjxJndqbLy1EpcAYSitShA3dEcmucHZZEdJwKAbXKHv264jz4oDxxhkF5KVQiEgwl . Sesaat setelah Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengumumkan rencana pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia, sontak saja HTI langsung menjadi ℎ𝑒𝑎𝑑𝑙𝑖𝑛𝑒 di berbagai media massa baik televisi, cetak, radio maupun portal berita daring dan menjadi buah bibir berbagai kalangan masyarakat baik pro maupun kontra.  . “Pemerintah perlu mengambil langkah–langkah hukum secara tegas untuk membubarkan HTI," ujar Wiranto saat jumpa pers, Senin, 8 Mei 2017 di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat. Saat membacakan keputusan tersebut, Wiranto memaparkan tiga alasan pembubaran. .  Ketiga alasan pembubaran tersebut dinilai Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto tidak memiliki dasar sama sekali.  . “...

Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah

 Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah Penulis: Ustaz Yuana Ryan Tresna Muslimah News, SYARAH HADIS — Hadis yang mengabarkan berita gembira tentang kembalinya Khilafah sangatlah banyak. Tidak benar bahwa hadis bisyarah nabawiyyah (kabar gembira kenabian) akan datangnya Khilafah hanya didasarkan pada hadis riwayat Imam Ahmad. Masih banyak hadis lain yang secara makna sejalan dengan hadis tersebut. Misalnya hadis riwayat Muslim, Ahmad, dan Ibnu Hibban tentang khalifah di akhir zaman yang akan “menumpahkan” harta yang tidak terhitung jumlahnya; hadis tentang akan datangnya Khilafah di Baitulmaqdis (HR Abu Dawud, Ahmad, ath-Thabarani, al-Baihaqi); juga hadis tentang kekuasaan umat Nabi Muhammad yang akan melingkupi dari timur hingga barat (HR Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud). Hadis-hadis ini didukung banyak hadis lain dengan makna yang sama, seperti masuknya Islam ke setiap rumah, al-waraq al-mu’allaq, hijrah setelah hijrah, penaklukan Kota Roma, dan seterusnya. Makna hadis kembalinya Khil...

Perbedaan Masiroh dan Demonstrasi

 Perbedaan Masiroh dan Demonstrasi (Muzhaharah) Aktivitas masirah sering digelar oleh beberapa komponen umat Islam dalam menjalankan fungsi mengoreksi penguasa. Sebagian pihak menyamakan masirah ini dengan demonstrasi, dimana demonstrasi ini merupakan salah satu cara Yahudi menurut mereka. Sebenarnya, seperti apakah perbedaan masiroh itu dengen demonstrasi. Berikut ini penjelasan singkatnya. Soal: 1. Mohon dijelaskan perbedaan antara aktivitas demonstrasi dengan masiroh, karena sangat gamblang terlihat bahwa tidak ada perbedaan antara kedua aktivitas. Mohon pencerahannya. 2. Pada suatu artikel saya membaca kritikan terhadap aktivitas masiroh yang melibatkan wanita. Sebenarnya bagaimana mendudukan masalah ini, atau apa batasan-batasan bagi kaum akhwat dalam hal ini. Jawab: Pada dasarnya, uslub (cara) untuk mendakwahkan gagasan-gagasan Islam, atau menyampaikan kritik (koreksi) bisa dilakukan dengan cara apapun, selama uslub tersebut tidak bertentangan dengan syariat, dan masih dalam ...