Sunday, March 15, 2026

TELAAH KITAB NIDA' HAAR PART 3 : CARA KAPITALISME MENGHANCURKAN STANDAR NILAI ISLAM

 TELAAH KITAB NIDA' HAAR PART 3 : CARA KAPITALISME MENGHANCURKAN STANDAR NILAI ISLAM


Syaikh An-Nabhani mengungkapkan bahwa Serangan Barat terhadap Islam tidak pernah acak.


Ini bukan tembakan sporadis dari musuh yang kebingungan. Ini adalah tembakan penembak jitu yang tahu persis di mana jantung musuh berada. Setiap kali satu hukum Islam diserang, pilihannya tidak pernah sembarangan. Mereka memilih hukum-hukum yang menjadi tiang penyangga sistem. Seperti tentara yang merobohkan tenda dengan mencabut pasaknya satu per satu.


Dan senjata mereka bukan rudal. Senjata mereka adalah standar nilai.


Mereka membawa cermin, lalu berkata "Lihat, ini dirimu." Tapi cermin itu mereka desain sendiri. Ukurannya miring. Lensa yang mereka pasang sudah dikalibrasi dengan logika Cartesian, etika Protestan dan pengalaman sejarah Eropa yang penuh konflik agama. Lalu mereka sodorkan ke wajah kita.


Di sinilah letak kekalahan pertama umat, kita tidak sadar bahwa kita sedang diadili di pengadilan yang hukumnya mereka buat, hakimnya mereka tunjuk dan bahasanya mereka yang menentukan.


"Mereka mengambil satu hukum Islam, lalu memotretnya dengan lensa standar Barat. Hasilnya pasti aneh, pasti timpang, pasti tampak mengerikan. Lalu mereka berteriak ke telinga kita, 'Lihat! Islam tidak manusiawi!' Tujuan mereka bukan diskusi. Tujuan mereka satu, membuat kita ragu."


Dan keraguan itu, sekali menetas akan memakan akal sehat dari dalam.


Mari kita lihat bagaimana lensa itu bekerja.


Poligami. Satu kata yang cukup untuk membuat sebagian Muslim modern bergidik. Di seminar-seminar, di kolom opini, di ruang obrolan kelas menengah, kata ini selalu muncul sebagai "PR besar" umat Islam. Di media Barat, poligami digambarkan sebagai praktik primitif, simbol ketidaksetaraan gender, bukti bahwa Islam tidak bisa berdamai dengan modernitas.


Tapi tunggu.


Syaikh An-Nabhani mengajak kita melihat dari sudut lain. Membongkar kerangka perbandingan yang selama ini timpang.


Di Barat, hubungan pria-wanita tidak pernah benar-benar dimonogamikan secara moral. Yang terjadi adalah pergeseran bentuk: dari pernikahan resmi ke cohabitation, dari satu pasangan ke pasangan bergantian, dari komitmen publik ke privasi yang tidak perlu dipertanggungjawabkan. 


Fakta hari ini berbicara di Swedia, lebih dari separuh anak lahir dari orang tua yang tidak menikah. Di Amerika, perselingkuhan adalah industri senyap yang tidak pernah dihitung sebagai pelanggaran hukum. Di Hollywood, berganti pasangan adalah bagian dari gaya hidup.


Tapi itu semua tidak pernah disebut penindasan. Itu disebut kebebasan.


Kritik Barat terhadap poligami tidak pernah lahir dari kecintaan mereka terhadap keadilan perempuan. 

Ternyata yang mereka serang bukan ketidakadilannya. Yang mereka serang adalah bentuk syar'i-nya. Mereka tidak peduli perempuan ditelantarkan setelah dihamili. Mereka tidak peduli anak-anak tumbuh tanpa figur ayah yang sah. Mereka peduli pada satu hal, bahwa Islam memiliki aturan dan aturan itu berbeda.


Dan perbedaan dalam kamus hegemoni adalah dosa.


Contoh lain, Talak.


Di mata Barat dan mulai di mata sebagian Muslim yang terbaratkan, talak adalah simbol kesewenang-wenangan laki-laki. Kata "cerai" diucapkan, lalu hubungan putus seketika. Tidak ada proses. Tidak ada konseling. Tidak ada kesempatan kedua.


Tapi sekali lagi, ini potret dengan lensa miring.


Syaikh An-Nabhani mengajak kita bertanya, sejak kapan pernikahan dalam Islam dipahami sebagai penjara? Pernikahan dalam Islam adalah akad, yaitu perjanjian yang lahir dari kerelaan dua pihak. Jika perjanjian itu tidak lagi membawa maslahat, jika cinta yang dulu bersemi telah berubah menjadi duri, jika bahtera rumah tangga lebih banyak bocornya daripada layarnya, mengapa harus dipaksakan terus?


Barat, yang mengaku sangat menjunjung kebebasan individu, justru menciptakan sistem pernikahan yang sulit dibubarkan secara terhormat. Di beberapa negara, proses cerai bisa memakan waktu bertahun-tahun. Biaya pengacara menggunung. Anak-anak menjadi rebutan. Yang kaya bisa mengulur waktu, yang miskin terjebak dalam hubungan yang menyakitkan. Ironisnya, di tengah kesulitan itu, perselingkuhan justru menjadi pelarian yang "dimaafkan" karena dianggap manusiawi.


Siapa yang lebih manusiawi, sistem yang memberi jalan keluar yang jelas, bersih dan bertanggung jawab, atau sistem yang mempersulit perceraian lalu membiarkan orang mencari pelarian di belakang punggung pasangan?


Begitu pula Jihad dan Khilafah, Dua Kata yang paling dibajak di abad ini.


Jihad dipelintir menjadi sinonim teror. Padahal, jika kita mau jujur, siapa yang lebih banyak mengirim tentara ke seberang lautan? Negara-negara yang mengklaim membela perdamaian, menyerang negara lain atas nama demokrasi.


Tapi tidak ada yang menyebut mereka agresor dalam narasi media arus utama. Mereka disebut pelindung perdamaian. Mereka disebut mitra keamanan. Mereka disebut aliansi strategis.


Sementara seorang pemuda di Palestina yang melempar batu ke tank Israel disebut teroris.


Sekali lagi, ini bukan soal fakta. Ini soal siapa yang punya kuasa memberi nama.


Lalu Khilafah. Sistem pemerintahan yang menyatukan umat di bawah satu kepemimpinan. Kata ini langsung disambung dengan diktator. Padahal, jika kita bicara soal konsentrasi kekuasaan di satu tangan, bukankah presiden di sistem demokrasi juga menjalankan kekuasaan eksekutif seorang diri? Bukankah Perdana Menteri Inggris, Presiden Amerika, Kanselir Jerman, semuanya adalah satu orang yang memimpin?


Lalu apa bedanya?


Syaikh An-Nabhani menjawab dengan tenang, Bedanya ada pada sumber legitimasi dan mekanisme pertanggungjawaban. Dalam Khilafah, khalifah dipilih oleh umat melalui baiat bukan warisan, bukan kudeta. Dan setelah terpilih, ia bukan tandingan Tuhan. Ia adalah hamba yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya. Jika ia menyimpang, ia diingatkan. Jika ia zalim, ia dijatuhkan. Ini bukan sistem surgawi yang bebas cela, tapi ini sistem yang dengan jujur mengakui bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan perlu kontrol, baik dari masyarakat maupun dari keyakinan kepada Hari Pembalasan.


Sementara di sistem demokrasi liberal, legitimasi berasal dari suara rakyat yang bisa dibeli, direkayasa, dipengaruhi media, dan dimanipulasi oleh modal. Pertanggungjawaban hanya sebatas periode jabatan. Setelah itu, dosa-dosa kekuasaan seringkali dikubur bersama arsip yang dirahasiakan.


Maka, ketika Barat menyebut Khilafah sebagai "diktator", yang mereka serang bukan bentuk pemerintahannya. Mereka menyerang sumber hukumnya. Mereka tidak tahan bahwa ada sistem yang tidak menjadikan kehendak manusia sebagai otoritas tertinggi. Mereka tidak rela bahwa ada peradaban yang menempatkan Tuhan di atas parlemen.


Dan di sinilah, kata Syaikh An-Nabhani, perang sesungguhnya terjadi. Bukan perang tentara. Tapi perang standar nilai.


Yang paling cerdik dari serangan ini, menurut Syaikh An-Nabhani adalah ketika mereka menggunakan isu-isu yang tidak dikenal di masa lalu.


Asuransi, Bursa saham dan parlemen.


Pertanyaan-pertanyaan ini tidak diajukan karena mereka sungguh-sungguh ingin tahu jawaban Islam. Mereka ajukan dengan asumsi yang sudah terkunci, bahwa satu-satunya jawaban yang bisa diterima adalah jawaban yang mirip dengan sistem Kapitalisme.


Maka jebakannya terbentang rapi, Jika ulama berkata "Islam tidak mengenal asuransi konvensional karena mengandung gharar dan riba", mereka akan berkata, "Berarti Islam tidak bisa menjawab kebutuhan proteksi modern."


Di sinilah Syaikh An-Nabhani mengingatkan tentang bahaya yang paling halus, kita mulai berpikir bahwa Islam harus dibuktikan kebenarannya dengan standar mereka.


Padahal, dalam perang pemikiran pihak yang menentukan standar adalah pihak yang akan menang. Jika kita setuju diuji dengan parameter Kapitalisme, maka seberapa keras pun kita berusaha membela diri, kita sudah kalah sebelum memulai. Karena standar itu sendiri musuh kita.


Di sinilah letak tragedi terbesar umat, kata Syaikh An-Nabhani.


Bukan ketika kita kalah perang. Bukan ketika kita dijajah secara fisik. Tapi ketika kita mulai malu dengan syariat kita sendiri.


Malu ketika disebut kolot. Malu ketika dibilang tidak modern. Malu ketika diejek sebagai fundamentalis. Maka kita pun berlari mencari pembenaran. Kita cari-cari dalil yang "progresif". Kita tafsir ulang ayat-ayat dengan cara agar tidak berbenturan dengan arus utama global. Kita buat jargon "Islam yang ramah", "Islam Nusantara", "Islam moderat"—semuanya benar dan baik, tapi seringkali lahir dari posisi defensif, bukan dari kemandirian epistemologis.


Kita membela diri sepanjang waktu. Kita menjelaskan bahwa Islam tidak seperti yang mereka kira. Tapi dalam proses menjelaskan itu, tanpa sadar kita memberi mereka hak prerogatif sebagai penguji.


Dan perlahan tanpa terasa, Islam tidak lagi kita lihat sebagai sistem yang berdaulat. Ia berubah fungsi. Ia menjadi sekadar simbol identitas, kita shalat, kita puasa, kita pakai jilbab, kita baca Al-Qur'an di pemakaman. Tapi ketika bicara ekonomi, kita ikut kapitalisme. Ketika bicara politik, kita ikut demokrasi. Ketika bicara hukum, kita ikut civil law. Ketika bicara hubungan internasional, kita ikut Westphalia.


Islam hadir di masjid. Ia tidak hadir di parlemen. Ia hadir di pengajian. Ia tidak hadir di kebijakan fiskal.


Inilah yang Syaikh An-Nabhani sebut sebagai keruntuhan diam-diam. Sebuah sistem tidak harus runtuh dengan bom. Ia runtuh saat para pemeluknya tidak lagi percaya bahwa sistem itu mampu mengatur hidup mereka.


Di tengah gelombang serangan pemikiran yang datang dari segala arah, An Nabhani menawarkan satu jalan keluar yang tampak sederhana tapi sangat berat yaitu kembali pada kejernihan berpikir.


Apa artinya?


Artinya, berhenti membiarkan orang lain menentukan standar nilai kita. 

An Nabhani mengajarkan satu hal yang sering dilupakan di tengah hiruk-pikuk aktivitas, bahwa pertempuran terbesar umat Islam hari ini bukan di medan fisik, tapi di kepala. Bukan merebut gedung, tapi merebut kembali standar nilai. Bukan mengalahkan musuh dengan senapan, tapi membongkar kerangka berpikir yang selama ini membelenggu.


Nida' Haar bukan sekadar kritik. Ia adalah panggilan untuk bangkit. Bukan bangkit dengan amarah yang membabi buta, tapi bangkit dengan kejernihan yang menusuk.


Editorial Rumah Tsaqofah | Dirancang untuk: Kesadaran Umat

No comments: