Sunday, March 15, 2026

Telaah Kitab Nida' al-Haar Part 4 : Serangan terhadap Perasaan Islam

 Telaah Kitab Nida' al-Haar Part 4 : Serangan terhadap Perasaan Islam


Pernahkah kita bertanya dalam hati, Mengapa umat sebesar ini bisa begitu lemah? Mengapa kita seolah kehilangan daya untuk marah saat agama kita dihinakan dan kehilangan gairah saat kebenaran diserukan?


Malam yang sunyi seringkali menjadi saksi bisu kegelisahan kita. Di tengah hening, hati berbicara lebih jernih. Dan dalam kejernihan itulah kita diajak untuk menyelami sebuah kitab Nida' al-Haar yang ditulis oleh seorang pemikir besar abad ini, Syaikh Taqiyuddin An Nabhani.


Mungkin kita bertanya, apa maksudnya 'perasaan Islam'? Bukankah Islam itu soal keyakinan di kepala dan amal di tangan?


Syaikh Taqiyuddin mengajak kita melihat lebih dalam. Beliau berkata bahwa ideologi tidak hanya hidup di otak, ia juga hidup di hati. Ia adalah dorongan batin, sensitivitas, kecintaan, kemarahan, loyalitas dan kebencian yang lahir dari akidah. Inilah yang disebut Perasaan Islam


Bayangkan ini seperti sebuah bangunan megah. Pemikiran Islam adalah pondasi dan tiangnya, hukum-hukumnya adalah dinding dan atapnya. Tapi perasaan Islam? Itulah nyawa yang membuat bangunan itu hidup, berpendar dan hangat. Ia adalah semangat yang membuat penghuninya rela berkorban, rela mencintai dan membenci karena Allah.


Dan di sinilah titik paling berbahaya dari serangan musuh. Mereka tahu, jika hanya menyerang pemikiran, umat bisa berdebat. Jika menyerang hukum, umat bisa mencari dalil. Tapi jika mereka berhasil membunuh perasaan ini, maka umat akan mati sebelum menyadari kematiannya. Mereka akan menjadi mayat-mayat yang berjalan.


Inilah langkah pertama dan yang paling mendasar.


Dalam Al-Qur'an, ada konsep yang sangat jelas Al-Wala' wal Bara', loyalitas hanya kepada Islam dan kaum Muslim serta berlepas diri dari kekufuran dan pelakunya. Inilah dinding pemisah yang menjaga identitas kita.


Maka, serangan pertama diarahkan ke sini. Dengan lembut, didengungkanlah kata-kata manis:


"Mengapa harus membeda-bedakan? Bukankah kita semua manusia?"

"Cinta khusus kepada Muslim itu namanya fanatisme!"

"Marah jika Islam dihina? Itu namanya ekstremisme!"


Mereka ganti konsep agung ini dengan slogan-slogan universal yang tampak indah, "Kemanusiaan di atas agama," atau "Semua agama sama saja."


Ujung-ujungnya, batas antara iman dan kufur menjadi kabur. Seorang Muslim bisa duduk tenang bersama para penghina Islam, karena "yang penting kan kemanusiaan." Identitas kita dikoyak sedikit demi sedikit. Kita menjadi netral, tidak punya teman sejati dan tidak punya musuh yang jelas.


Setelah tali loyalitas diputus, mereka menawarkan pengganti. Inilah langkah kedua.


Ikatan ummah yang begitu luas, yang mempersaudarakan seorang Muslim di Aceh dengan Muslim di Maroko, dipersempit. Dipersempit menjadi ikatan tanah air, bangsa, etnis dan bahasa.


Tiba-tiba, kita lebih bangga sebagai orang Jawa, orang Sunda, orang Batak, daripada bangga sebagai Muslim. Orang Turki dibanggakan dengan keTurkiannya, orang Arab dengan keArabannya.


Semangat ukhuwah Islamiyah yang dulu mampu merobohkan tembok-tembok Persia dan Romawi, kini terkikis habis oleh tembok-tembok baru bernama nasionalisme. Umat pun terpecah belah. Lihatlah konflik di mana-mana, saudara satu agama saling membunuh hanya karena berbeda bendera. Inilah hasilnya, sebuah alat pemisah yang sangat ampuh.


Lalu, masuk ke tahap yang lebih berbahaya. Ini bukan lagi serangan fisik, tapi serangan terhadap harga diri.


Dengan dalih kebebasan berpikir dan penelitian ilmiah, simbol-simbol suci kita diinjak-injak. Al-Qur'an dikritik habis-habisan. Kenabian Muhammad dipertanyakan. Para sahabat yang mulia dicaci maki.


Dan yang lebih menyakitkan, ketika kita marah, kita dibilang kolot, tidak toleran, tidak bisa menerima kritik. Kita diminta untuk diam, untuk tersenyum, untuk menerima semua itu sebagai bagian dari diskusi akademik.


Sedikit demi sedikit, ghirah Islamiyah, api cemburu kita terhadap agama dipadamkan. Kita diajari untuk tidak tersinggung. Akhirnya, hati kita mati rasa. Mendengar ayat suci diejek, kita hanya angkat bahu. Melihat Nabi dihina, kita hanya bisa diam.


Inilah yang disebut Syaikh Taqiyuddin sebagai mengubah arah emosi umat.


Setiap ideologi melahirkan perasaan khas. Islam melahirkan kebanggaan, kemarahan saat ada yang mengancam kebenaran dan kesedihan saat umat terpuruk.


Sekarang, arah itu diputar balikkan:


· Kebanggaan terhadap Islam diganti dengan rasa malu, malu disebut fundamentalis, malu berjenggot, malu bercadar.

· Kemarahan terhadap kemungkaran diganti dengan sikap acuh tak acuh.

· Kesedihan atas kehinaan umat diganti dengan penerimaan pasif: "Ya sudah, mungkin ini takdir."


Umat kehilangan sensitivitasnya. Bagaikan orang yang sudah kehilangan indra peraba, ia tak lagi merasakan panasnya api neraka yang mengancam orang-orang kafir dan tak lagi merasakan dinginnya nikmat surga yang dijanjikan untuk orang-orang beriman.


Puncaknya adalah ketika mereka berhasil mengganti spiritualitas Islam.


Spiritualitas yang agung, yang lahir dari akidah yang benar dan melahirkan komitmen pada syariat diganti dengan spiritualitas instan. Spiritualitas yang hanya soal perasaan pribadi, tanpa ada kaitannya dengan aturan hukum. Pengalaman batin yang tidak punya dampak sosial. Moralitas tanpa sistem.


Islam direduksi menjadi sekadar nilai-nilai moral yang abstrak, etika personal dan pengalaman rohani privat. Islam tidak lagi bicara soal politik, soal pemerintahan, soal aturan jual beli, soal sanksi hukum. Islam hanya jadi urusan pribadi antara hamba dengan Tuhannya di dalam masjid.


Syaikh Taqiyuddin menyimpulkan bahwa dampaknya sangat dalam:


· Umat tidak lagi merasakan sakit atas kehinaan politiknya.

· Tidak lagi marah atas penerapan hukum kufur.

· Tidak lagi bangga atas sejarah dan syariatnya.

· Tidak lagi memandang Islam sebagai identitas kolektif.


Islam tersisa sebagai:


· ibadah individual,

· tradisi budaya,

· simbol identitas lemah.


Inilah yang disebut Syaikh Taqiyuddin sebagai kekalahan perasaan.


Mungkin kita bertanya-tanya, apa yang bisa kita perbuat?


Langkah pertama adalah menyadari. Sadarilah bahwa perasaan kita adalah medan jihad. Jangan biarkan api kecintaan kepada Islam padam dalam dada. Jaga kemarahan kita hanya untuk Allah. Rawatlah rasa bangga menjadi seorang Muslim. Rawatlah rasa sakit ketika Islam dilecehkan.


Karena dari perasaan-perasaan inilah, lahir generasi yang mampu mengubah dunia. Dari dada yang bergelora karena cinta kepada-Nya, lahirlah para pahlawan, para pejuang, para pembebas.


Mari kita jaga perasaan Islam ini. Karena ia adalah kunci kemenangan yang hakiki.(fjn)


Editorial Rumah Tsaqofah | Dirancang untuk: Kesadaran Umat

Strategi Amerika Menaklukkan Iran

 Strategi Amerika Menaklukkan Iran 


Tanggal 28 Februari 2026, Dunia dikejutkan oleh gempuran gelombang rudal dan pesawat nirawak yang melintasi langit Persia. Menteri Pertahanan Israel, dalam konferensi pers darurat yang disiarkan TRT WORLD, mengonfirmasi bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah melancarkan serangan presisi terhadap fasilitas-fasilitas strategis di wilayah Iran. Ledakan dilaporkan mengguncang Tehran, Isfahan,Qom dan Tabriz.


"Operasi ini merupakan respons terhadap ancaman eksistensial yang terus berkembang," demikian pernyataan resmi militer Israel. Namun, di balik narasi resmi itu, tersembunyi sebuah drama geopolitik yang telah dirancang jauh sebelumnya, sebuah skenario di mana Amerika Serikat, sang dalang di balik layar, menuai keuntungan tanpa harus mengotori tangannya sendiri.


Untuk memahami serangan 28 Februari 2026, kita harus mundur ke akar perseteruan yang sengaja dipelihara. Sejak 1 April 2024, ketika Israel mengebom kedutaan besar Iran di Damaskus dan menewaskan komandan Pasukan Quds, Mohammad Reza Zahedi, pola eskalasi yang terkendali mulai terlihat. Serangan balasan Iran pada 13 April 2024 terhadap pangkalan militer Israel direspons dengan serangan terbatas Israel di Isfahan pada 19 April 2024, sebuah pola "tinju dan pelukan" yang menjadi ciri khas konflik modern.


Namun, titik balik sesungguhnya terjadi 13 Juni 2025, Israel melancarkan "Operasi Singa Bangkit", serangan besar-besaran terhadap fasilitas nuklir Natanz, Khondab dan kediaman pribadi pejabat tinggi Iran.


Media pemerintah Iran saat itu melaporkan gugurnya tokoh-tokoh kunci, Komandan Garda Revolusi Hossein Salami, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jenderal Mohammad Bagheri, serta ilmuwan nuklir Fereydoon Abbasi dan Mohammad Mehdi Tehranchi. Total korban jiwa mencapai 610 orang, dengan ribuan lainnya luka-luka.

Iran membalas ratusan rudal ke wilayah entitas Yahudi dengan kerusakan yang tidak signifikan.


Yang menarik, Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump tidak hanya memberikan lampu hijau, tetapi juga secara aktif mendukung operasi tersebut. Pengiriman 300 rudal AGM-114 Hellfire beberapa hari sebelum serangan.


Pada 22 Juni 2025, AS secara terbuka menyerang fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan. Iran membalas dengan serangan simbolik terhadap pangkalan Al Udeid di Qatar pada 23 Juni 2025, setelah memberi peringatan terlebih dahulu kepada AS. Trump berterima kasih atas "pemberitahuan awal" yang memungkinkan tidak ada korban jiwa, menegaskan bahwa serangan itu hanyalah simbolik.


Gencatan senjata diumumkan pada 24 Juni 2025 melalui platform Truth Social. Trump, yang menyalakan api perang, kini memadamkannya dan dalam prosesnya, mencapai tujuan strategisnya.


Gencatan senjata Juni 2025 ternyata hanyalah jeda taktis. Di balik layar, negosiasi intensif berlangsung di Muscat, Oman. Amerika mengajukan proposal yang menggoda, menurut empat sumber yang dapat dipercaya bantuan hingga 30 miliar dolar untuk program nuklir sipil Iran, keringanan sanksi, dan pembebasan dana beku, dengan satu syarat mutlak, "penghentian total pengayaan uranium Iran."


Iran, yang terluka secara militer dan psikologis, berada di persimpangan. Pemimpin tertingginya, Ali Khamenei, pernah menyatakan bahwa Iran tidak memerlukan izin siapa pun untuk memperkaya uranium. Namun, realitas di lapangan berkata lain, fasilitas nuklir hancur, ilmuwan tewas dan dukungan internasional menguap.


Ketika batas waktu negosiasi berakhir tanpa kesepakatan, Israel kembali bertindak. 28 Februari 2026 rentetan rudal jelajah dan pesawat nirawak siluman menghantam.


Menteri Pertahanan Israel, dalam wawancara eksklusif dengan TRT WORLD, menyatakan: "Kami tidak akan membiarkan Iran memiliki kapasitas untuk mengancam keberadaan kami. Operasi ini adalah pesan bahwa waktu telah habis."


Di sinilah inti dari seluruh narasi ini. Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Donald Trump, telah merancang skenario yang memungkinkannya menuai keuntungan maksimal dengan risiko minimal.


Sejak era Obama, AS mengkhawatirkan ambisi nuklir Iran. Kesepakatan 2015 (JCPOA) hanya menunda, tidak menghilangkan, kemampuan Iran. Trump, yang menarik AS dari kesepakatan itu pada 2018, menginginkan solusi final, model Libya, di mana program nuklir dibongkar total.


Salah satu tujuan jangka panjang AS juga adalah membangun aliansi strategis antara Israel dan negara-negara Arab Sunni untuk melawan Iran. Konflik ini menjadi katalis sempurna.


Selama krisis, negara-negara Teluk, meskipun secara publik menyerukan penghentian kekerasan, secara diam-diam memberikan intelijen dan akses wilayah udara kepada Israel. Arab Saudi dan UEA melihat Iran sebagai ancaman eksistensial yang lebih besar daripada Israel.


Trump, dalam pernyataannya, menyebut bahwa "negara-negara di kawasan harus bersatu melawan terorisme Iran." Ini adalah bahasa yang dirancang untuk meleburkan entitas Yahudi ke dalam arsitektur keamanan regional, mengalihkan konflik dari isu Palestina menjadi isu sektarian.


Konsep "orbit" dalam hubungan internasional merujuk pada negara-negara yang secara de facto berada di bawah pengaruh kekuatan besar. Iran, sejak revolusi 1979, telah berusaha keluar dari orbit AS. Namun, realitasnya berbeda.


Iran membantu AS dalam pendudukan Afghanistan dan Irak. Iran melindungi rezim Bashar Assad di Suriah, yang merupakan sekutu AS melawan Islamis. Iran membiarkan proksinya di Yaman dan Lebanon dikendalikan oleh AS. Semua ini dilakukan dengan harapan menjadi kekuatan regional yang diakui.


Namun, AS tidak pernah melihat Iran sebagai mitra sejajar. Ketika Iran mulai menunjukkan kemandirian, terutama dalam program nuklirnya, AS menggunakan Israel sebagai "hantaman" untuk mengembalikan Iran ke dalam orbit.


Serangan 28 Februari adalah strategi terbaru. 


Setelah Iran melemah, AS memegang kendali penuh atas proses negosiasi. Tidak ada lagi tawar-menawar. AS menentukan syarat, Iran dipaksa menerima.


Keuntungan ekonomi di sini sangat besar. Iran memiliki cadangan minyak dan gas terbesar keempat di dunia. Dengan program nuklir yang dinetralisir dan sanksi yang secara bertahap dicabut, perusahaan-perusahaan Amerika siap memasuki pasar Iran.


Trump, seorang pebisnis, melihat ini sebagai peluang emas. Dalam proposal yang bocor, disebutkan bahwa investasi perusahaan AS di sektor minyak, gas, penerbangan dan infrastruktur Iran bisa mencapai ratusan miliar dolar. Iran yang "jinak" adalah pasar yang menggiurkan.


Selain itu, dengan mengendalikan program nuklir sipil Iran, AS juga mengendalikan teknologi dan pengawasan. Iran tidak akan pernah bisa mengembangkan kemampuan militer rahasia.


Setiap serangan adalah latihan perang nyata. AS mengamati, merekam dan menganalisis. Data ini akan digunakan untuk merancang strategi masa depan, baik melawan Iran maupun kekuatan lain seperti China atau Rusia.


Salah satu aspek paling menarik dari drama ini adalah peran ganda Donald Trump. Di satu sisi, ia mendorong Israel untuk menyerang. Di sisi lain, ia menawarkan gencatan senjata dan negosiasi.


Pada 13 Juni 2025, setelah serangan Israel, Trump memujinya. Pada 22 Juni 2025, ia memerintahkan serangan AS. Pada 24 Juni 2025, ia mengumumkan gencatan senjata. Pada 27 Juni 2025, berdasarkan empat sumber yang dapat dipercaya mengajukan proposal bantuan 30 miliar dolar.


Trump bermain di dua sisi, sebagai agresor dan sebagai mediator. Ini adalah strategi klasik "polisi baik-polisi jahat," tetapi dalam skala global.


Pada 28 Februari 2026, pola ini berulang. Serangan Israel terjadi dan Trump bahkan secara terbuka menyetujuinya. Ini adalah strategi yang dirancang untuk kembali nantinya melakukan gencatan senjata dan perundingan.


Israel, meskipun secara teknis menang, tidak keluar sebagai pemenang mutlak. Justru, dengan terlibat dalam konflik dengan Iran, Israel semakin teralienasi dari dunia internasional.


Ketika debu perang mereda, AS muncul sebagai satu-satunya kekuatan yang utuh, dengan kendali penuh atas minyak, keamanan dan diplomasi kawasan.


Konflik ini menyisakan pelajaran pahit bagi dunia Islam. Ketika umat terpecah belah ke dalam negara-bangsa yang lemah, ketika penguasa lebih takut kepada AS daripada kepada Allah, ketika kepentingan sempit mengalahkan solidaritas Islamiyah, maka musuh akan dengan mudah memecah belah dan menguasai.


Iran, yang pernah menjadi simbol perlawanan, kini menjadi contoh bagaimana kekuatan besar dapat menundukkan musuhnya tanpa perang besar, cukup dengan proksi, ancaman dan iming-iming ekonomi.


Iran diancam dengan serangan, tetapi tidak memulai serangan untuk membela diri, padahal serangan adalah cara terbaik untuk bertahan melawan Yahudi dan Amerika. Sebaliknya, Iran tetap diam sampai fasilitasnya diserang dan ilmuwan serta petingginya dibunuh, baru kemudian mulai membalas.


Bahwa satu-satunya jalan keluar dari lingkaran setan ini adalah kembalinya Khilafah Rasyidah, sebuah negara Islam yang bersatu, kuat dan tidak tunduk pada tekanan asing. Selama umat masih terpecah, selama penguasa masih menjadi agen asing, maka kekacauan akan terus menjadi tontonan. (fjn)


Sumber: Soal Jawab Amir HT, TRT, Al Jazeera, Al Arabiya, IRNA


Editorial Rumah Tsaqofah | Dirancang untuk: Kesadaran Umat

Memahami Geopolitik Amerika dan Iran

 Memahami Geopolitik Amerika dan Iran


Di ruang-ruang genting di bawah gedung PBB, di koridor-koridor berlapis marmer di Istana Damaskus yang hancur dan di tenda-tenda suku di pegunungan Zagros, pertanyaan yang sama berbisik seperti angin gurun yang membawa debu dan api,


"Mengapa sekarang? Mengapa Amerika menyerang Iran, negeri yang selama ini menjadi mitra diam dalam permainan catur kawasan?"


Jawabannya tidak akan ditemukan dalam pernyataan pers yang dibacakan dengan nada datar oleh juru bicara Gedung Putih. Jawabannya terukir dalam bahasa diam yang hanya dipahami oleh para pedagang kekuasaan, terukir di dinding-dinding gua tempat para revolusioner menyimpan mimpi dan tertulis dalam tinta tak terlihat di atas lembaran-lembaran perjanjian rahasia yang disimpan di brankas bawah tanah di Swiss dan Oman.


Untuk memahaminya, kita harus kembali. Kembali ke masa ketika hubungan ini bukan tentang rudal dan serangan drone, tetapi tentang tarian halus antara dua kepentingan yang saling membutuhkan.


Tahun 1979. Seorang imam tua dengan jubah hitam dan sorban putih kembali dari pengasingan di Paris. Pesawat Air France yang membawanya mendarat di Teheran, dan tanah di bawah kakinya bergetar, bukan karena gempa, tetapi karena jutaan kaki yang berteriak menyambut. Revolusi Islam telah menelan monarki.


Di Washington, para analis CIA menggigit kuku. Sekutu paling setia mereka di kawasan, "polisi Teluk" yang menjaga kepentingan minyak Barat, telah tumbang. Namun mereka tidak perlu terlalu khawatir. Sejarah tidak pernah linear. Ia berkelok seperti ular di padang pasir.


Khomeini bukan sekadar nama. Ia adalah simbol. Tapi simbol pun bisa dinegosiasikan.


Di tahun-tahun berikutnya, ketika Saddam Hussein yang saat itu masih menjadi "orang baik" versi Washington, menyerbu Iran dengan tank-tank buatan Amerika, negeri para imam itu berteriak kepada dunia. Tapi tidak ada yang datang. Tidak ada yang membantu. Kecuali bisikan-bisikan dari koridor gelap.


Di sini kita menemukan rahasia pertama, Iran tidak pernah menjadi negara bawahan Amerika. Ia hanya berputar dalam orbit kebijakan Amerika untuk mendapatkan dukungan yang membantunya mewujudkan ambisi.


Orbit itu berbentuk elips, kadang dekat, kadang jauh. Pada tahun 1980-an, ketika Irak menggunakan senjata kimia buatan Jerman dan data intelijen buatan Amerika, Iran belajar bahwa dunia tidak punya teman, hanya kepentingan. Maka ia pun mulai membangun jaringannya sendiri. Bukan dengan kekuatan konvensional, tetapi dengan tentara bayaran ideologi, Hizbullah di Lebanon, milisi Syiah di Irak, dan koneksi dengan faksi-faksi di Suriah dan Yaman.


Dan Amerika? Amerika membutuhkannya. Bukan secara terang-terangan, tetapi dalam kegelapan.


Tahun 2001. Menara kembar runtuh. Debu Manhattan belum reda ketika pesawat-pesawat tanpa awak Amerika mulai terbang di atas Afghanistan. Di darat, pasukan khusus Amerika menemukan diri mereka berperang bersama milisi-milisi yang berteriak dalam bahasa Persia. Iran, musuh bebuyutan, membantu menjatuhkan Taliban yang Sunni dan anti-Syiah. Kerja sama intelijen terjadi di ruang-ruang bawah tanah di Geneva. Perwira Garda Revolusi duduk berhadap-hadapan dengan agen CIA, membagi peta dan target.


Tahun 2003. Saddam digulingkan. Kekacauan Irak menjadi berkah bagi Iran. Sekarang, Baghdad memiliki pemerintahan Syiah yang akrab dengan Teheran. Di dalam pemerintahan Irak yang baru, ada menteri-menteri yang menghabiskan tahun-tahun pengasingan mereka di Iran. Para komandan milisi yang tadinya dilawan Amerika, kini menjadi mitra dalam memerangi Al-Qaeda.


Tahun 2011. Musim Semi Arab mengguncang kawasan. Di Suriah, ketika Bashar Al-Assad nyaris tumbang, pesawat-pesawat tempur Israel menyerang konvoi senjata untuk Hizbullah, tetapi tidak ada yang menyerang Damaskus. Amerika punya prioritas lain yaitu Islamis. Dan untuk melawan Islamis, mereka butuh sekutu di darat. Lagi-lagi, milisi-milisi Iran yang turun.


Sejarah hubungan keduanya adalah sejarah transaksi kotor dan kepentingan timbal balik.


Para pejabat di Teheran dan Washington tidak pernah mengakuinya di depan kamera. Tapi di belakang layar, di ruang-ruang yang tidak tercatat dalam notulensi resmi, transaksi itu berlangsung. Iran mengendalikan milisi di Suriah, Amerika membiarkannya, asalkan mereka tidak mengganggu pasukan Amerika di timur laut. Iran mengirim senjata ke Houthi di Yaman, Amerika memprotes keras, tetapi tidak pernah benar-benar memblokade total karena ada perhitungan lain yaitu harga minyak, persaingan hegemoni dengan Inggris dan kepentingan jangka panjang.


Tapi tidak ada tarian abadi. Tidak ada kemitraan kekal. Hanya ada jeda.


Pada suatu titik, proyek besar itu, The Grand Project mulai mencapai fase kematangannya. Amerika, setelah dua dekade terseret dalam perang di Timur Tengah, ingin keluar. Tapi keluar tidak berarti meninggalkan. Keluar berarti membentangkan pengaruh secara langsung dan penuh, tanpa perlu mediator yang bandel. Mereka ingin menggambar ulang peta kawasan sesuai dengan cetak biru lama yang sempat terhambat: The Greater Middle East Initiative.


Inisiatif itu membutuhkan kawasan yang stabil, tapi stabil dalam versi Amerika. Bukan stabil dalam versi Iran yang punya cabang-cabang di Beirut, Baghdad dan Sana'a


Di mata Washington, Iran telah melampaui batas. Ia bukan lagi mitra taktis yang berguna. Ia telah menjadi struktur. Jaring laba-laba yang terlalu besar dan terlalu kuat. Ketika tentara bayaran Iran menembak pangkalan Amerika di Irak, itu bisa ditoleransi. Tapi ketika mereka membangun pangkalan militer permanen di dekat Suriah, ketika rudal-rudal presisi buatan Iran mulai dipasang di Lebanon yang bisa menjangkau Tel Aviv kapan saja, itu mengubah segalanya.


Kesalahan Iran adalah berpikir bahwa transaksi itu abadi. Padahal dalam politik kekuasaan, setiap transaksi memiliki tanggal kedaluwarsa.


Maka tibalah momen ketika seorang presiden Amerika berdiri di Ruang Oval, dikelilingi jenderal dan penasihat keamanan nasional. Di layar di depannya, ada peta Timur Tengah dengan garis-garis merah dan panah-panah biru. Sebuah presentasi tentang "ancaman Iran yang melampaui batas" diputar dengan narasi yang meyakinkan.


"Kita sudah mencoba diplomasi. Mereka menolak."


"Kita sudah mencoba sanksi maksimum. Mereka bertahan."


"Sekarang, hanya opsi militer yang tersisa."


Kata-kata itu mungkin diucapkan dengan nada berat, penuh tanggung jawab, seolah-olah tidak ada pilihan lain. Padahal, di ruang yang sama, mungkin tidak ada yang menyebutkan bahwa Iran pernah membantu Amerika di Afghanistan. Tidak ada yang mengingat bahwa intelijen Iran menyelamatkan nyawa tentara Amerika di Irak. Sejarah hanya berguna selama ia mendukung narasi dan dibuang ketika ia menghalangi.


Iran Khomeini bukanlah yang pertama melayani Amerika lalu kemudian dikorbankan dan ditinggalkan. Ada banyak sebelumnya, Jenderal Qassem, yang pada 1950-an membantu mengkonsolidasikan kekuasaan Syah, lalu dilupakan. Para pejuang Kurdi yang digunakan oleh CIA untuk melawan Irak, lalu diabaikan ketika perjanjian dengan Saddam ditandatangani. Bahkan Osama bin Laden, yang dulunya "pejuang kebebasan" melawan Soviet, lalu menjadi musuh nomor satu. Juga Manuel Noriega Pernah bekerja sama dengan intelijen AS (CIA). Ketika hubungan memburuk dan ia dianggap tidak lagi sejalan, AS menginvasi Panama (1989). Noriega ditangkap dan dipenjara di AS.


Contohnya banyak, bahkan terlalu banyak untuk dihitung.


Jadi, ketika serangan itu akhirnya datang, gelombang pertama rudal Tomahawk melesat di atas Teluk, pesawat-pesawat siluman F-35 menembus pertahanan udara Iran dan layar-layar televisi di seluruh dunia mulai menayangkan gedung-gedung di Teheran yang meledak dalam kepulan api oranye, tidak ada yang benar-benar terkejut.


Para analis militer akan berbicara tentang "serangan pendahuluan untuk mencegah senjata nuklir." Para diplomat akan berdebat di Dewan Keamanan PBB dengan kata-kata yang sudah ditulis sebelumnya. Media akan memutar rekaman arsip "demonstrasi anti-Amerika" di Teheran dan "dukungan rakyat" di Washington.


Tapi di kedalaman sejarah yang sebenarnya, di lapisan-lapisan bawah tanah ingatan kolektif, pertanyaan itu akan terus berulang, bergema di antara reruntuhan dan debu,


"Mengapa Amerika menyerang Iran yang selama ini dianggap sebagai bagian dari kebijakannya di kawasan?"


Dan jawabannya akan selalu sama, dibisikkan oleh angin yang bertiup di atas makam para prajurit yang tidak pernah tahu bahwa mereka berperang bukan untuk tanah air, tetapi untuk kelanjutan dari tarian bayangan di atas neraka.


Karena ketika proyek besar telah matang, tidak ada ruang bagi mitra kecil. Hanya ada satu dalang yang menarik semua tali.


Babak baru telah dimulai. Dan seperti biasa, sejarah tidak akan pernah selesai ditulis. Ia hanya akan terus bergema, sampai pertanyaan itu diajukan lagi, puluhan tahun dari sekarang, oleh generasi yang akan datang yang bertanya-tanya tentang awal dari semua ini.


Kita memohon kepada Allah agar upayanya kembali gagal. Memohon agar Khilafah Segera Tegak dan membungkam manuver Amerika terhadap negeri-negeri Muslim.(fjn)


Editorial Rumah Tsaqofah dari berbagai sumber | Dirancang untuk: Kesadaran Umat

NEGARA SATELIT: MENGORBIT DEMI KEPENTINGAN BERSAMA

 Bedah Kitab Mafahim Siyasi Hizbut Tahrir: Kategori Negara Dalam Konstelasi Internasional 


Ketika membaca berita tentang konflik di Timur Tengah, tentang krisis di Eropa, tentang persaingan Amerika dan Cina. pernahkah kita bertanya, apa sebenarnya yang sedang terjadi? Siapa yang sesungguhnya memainkan semua ini? Dan yang lebih penting, di manakah posisi kita, posisi kaum Muslimin, dalam pusaran politik global ini?


Dalam hiruk-pikuk informasi yang membanjiri kita setiap hari, seringkali kita kehilangan pijakan. Kita melihat peristiwa demi peristiwa, tapi gagal memahami struktur besar yang menggerakkan semuanya. Kita seperti orang yang melihat dedaunan berguguran, tanpa pernah melihat pohonnya. Kita melihat akibat, tanpa pernah memahami sebab.


Kita akan membedah kitab "Mafahim Siyasi" atau "Konsepsi Politik" yang diterbitkan oleh Hizbut Tahrir. Kitab ini memberikan kerangka analisis yang tajam tentang bagaimana membaca konstelasi internasional. Sebuah kerangka yang jarang diajarkan di bangku kuliah, jarang dibahas di media mainstream, tapi sangat penting untuk kita pahami sebagai kaum Muslimin.


Dalam kitab Mafahim Siyasi, ditegaskan bahwa memahami konstelasi internasional adalah sebuah kewajiban bagi kaum Muslimin. Mengapa? Karena tanpa pemahaman ini, kita akan terseret dalam arus politik global tanpa arah, tanpa kendali. Kita akan menjadi bola yang ditendang ke sana kemari, tanpa pernah bisa ikut menentukan ke mana bola itu harus bergulir.


Kitab tersebut menjelaskan bahwa dalam politik internasional, ada kategori-kategori negara yang harus kita kenali. Kategori pertama dan yang paling penting adalah NEGARA PERTAMA atau dalam istilah Arabnya, al-daulah al-ula.


Apa itu negara pertama?


Dalam kitab Mafahim Siyasi dijelaskan, negara pertama adalah negara yang menjadi poros dunia. Negara yang menjadi pusat gravitasi politik internasional. Dalam kondisi damai, dialah pembuat kebijakan global. Semua negara lain harus memperhitungkan apa yang dia lakukan. Keputusannya mempengaruhi harga minyak, harga beras, stabilitas keamanan, bahkan arah politik di negara-negara lain.


Hari ini, siapa negara pertama itu?

Jawabannya tegas, Amerika Serikat.


Mungkin ada yang tidak setuju. Mungkin ada yang bilang Cina sedang naik, Rusia mulai bangkit, Eropa masih kuat. Tapi mari kita lihat realitasnya dengan jujur.


Sejak runtuhnya Uni Soviet, Amerika Serikat adalah satu-satunya negara yang memiliki kemampuan untuk memproyeksikan kekuatannya ke seluruh penjuru dunia. Militer mereka ada di Jepang, di Korea, di Jerman, di Timur Tengah. Pangkalan militer mereka mengelilingi negara-negara yang dianggap sebagai saingan. Mata uang mereka, dolar Amerika, menjadi alat tukar utama dunia. Ketika Federal Reserve menaikkan suku bunga, ekonomi Indonesia ikut berguncang. Ketika mereka menjatuhkan sanksi pada suatu negara, negara itu bisa tercekik ekonominya.


Budaya mereka, meski kita suka atau tidak, mempengaruhi cara berpakaian, cara berbicara, bahkan cara berpikir anak-anak muda kita. Film-film Hollywood menyebarkan nilai-nilai mereka. Musik mereka didengarkan di seluruh dunia. Media mereka, seperti CNN dan lainnya, menjadi rujukan utama berita global.


Itulah negara pertama. Pusat dari segalanya. Poros yang menjadi acuan. Meskipun kekuatan mereka mulai digerogoti oleh kebangkitan negara-negara lain, namun untuk saat ini, mereka masih menjadi negara pertama yang harus diperhitungkan oleh siapa pun.


Setelah kita memahami siapa negara pertama, kita harus memahami satu hal yang sangat krusial, tidak semua negara itu sama di hadapan negara pertama. Ada yang menjadi pengikut, ada yang menjadi satelit, ada yang independen. Dan inilah yang akan kita bedah satu per satu, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Mafahim Siyasi


NEGARA PENGIKUT: KETIKA KEDAULATAN HANYA NAMA


Kategori kedua dalam kitab Mafahim Siyasi adalah NEGARA PENGIKUT, al-daulah al-tabi'ah.


Apa ciri-cirinya? Bagaimana kita bisa mengenali negara pengikut?


Dalam kitab tersebut dijelaskan, negara pengikut adalah negara yang terikat dengan negara lain, dalam hal ini dengan negara pertama atau negara adidaya lainnya dalam politik luar negerinya dan bahkan dalam sebagian besar urusan dalam negerinya. Mereka punya presiden, punya parlemen, punya bendera dan lagu kebangsaan. Mereka punya perwakilan di PBB. Tapi ruang gerak mereka sangat terbatas. Kedaulatan mereka hanya sebatas nama.


Ketika negara pertama bilang "lompat", mereka akan bertanya "setinggi apa?" Ketika negara pertama menghendaki sesuatu, mereka akan menurut, meskipun itu bertentangan dengan kepentingan rakyatnya sendiri.


Kitab Mafahim Siyasi memberikan contoh konkret. Misalnya, Mesir terhadap Amerika Serikat. Sejak Perjanjian Camp David tahun 1979, Mesir menjadi negara pengikut setia Amerika Serikat. Bantuan militer 1,3 miliar dolar setiap tahun yang sebagian besarnya adalah pinjaman yang harus dibayar, membuat mereka harus tunduk pada kebijakan luar negeri AS, terutama yang menyangkut keamanan Israel. Politik dalam negeri mereka pun tidak lepas dari pengaruh Washington. Siapa yang menjadi presiden, bagaimana mereka memerintah, semua dalam koridor yang tidak melanggar kepentingan AS.


Contoh lainnya? Kazakhstan terhadap Rusia. Meski sudah merdeka dari Uni Soviet lebih dari tiga dekade lalu, ketergantungan ekonomi dan keamanan membuat Kazakhstan harus selalu menjaga hubungan baik dengan Moskow. Mereka tidak bisa seenaknya menentukan kebijakan yang berseberangan dengan kepentingan Rusia.


Menjadi negara pengikut berarti kehilangan kedaulatan sejati. Mereka seperti anak buah yang harus patuh pada perintah komandan. Mereka seperti perahu kecil yang terikat pada kapal besar, tak bisa berlayar ke arah yang mereka inginkan.


NEGARA SATELIT: MENGORBIT DEMI KEPENTINGAN BERSAMA


Lalu kategori ketiga dalam kitab Mafahim Siyasi adalah NEGARA SATELIT, al-daulah allati fi al-falak.


Ini menarik. Kenapa disebut satelit? Karena mereka seperti bulan yang mengorbit planet. Mereka bergerak dalam orbit negara adidaya, mengelilinginya, tapi tidak sepenuhnya lepas. Mereka terikat dengan negara adidaya, tapi bukan karena keterpaksaan struktural seperti negara pengikut, melainkan karena ikatan kepentingan bersama.


Kitab Mafahim Siyasi menjelaskan, negara satelit adalah negara yang politik luar negerinya terikat dengan negara lain dalam ikatan kepentingan, bukan ikatan sebagai pengikut. Mereka memilih untuk mengorbit karena ada keuntungan yang mereka peroleh. Mereka mendapatkan perlindungan keamanan, akses pasar, bantuan teknologi, atau keuntungan lainnya. Dan sebagai imbalannya, mereka mendukung kebijakan luar negeri negara pusat, menyediakan pangkalan militer atau menjadi sekutu setia dalam forum-forum internasional.


Contoh paling jelas adalah Jepang terhadap Amerika Serikat. Jepang punya kepentingan keamanan yang sangat besar, mengingat posisi geopolitiknya yang dikelilingi oleh negara-negara besar seperti Cina, Rusia dan Korea Utara. Maka mereka memilih untuk mengorbit di bawah payung keamanan Amerika. Mereka menjadi pangkalan militer AS, mereka membeli senjata dari AS dalam jumlah besar, mereka mendukung kebijakan AS di Asia dan dunia. Tapi dalam banyak hal, Jepang punya otonomi. Mereka punya industri otomotif dan elektronik yang bersaing dengan AS. Mereka punya budaya pop yang mendunia. Mereka bahkan bisa berbeda pendapat dengan AS dalam isu-isu tertentu.


Contoh lain? Australia terhadap AS dan Inggris. Kanada terhadap AS, Inggris dan Perancis. Turki meski sekarang sering ribut dan menunjukkan gigi, secara struktural adalah satelit NATO yang dipimpin AS. Mereka mengorbit dalam aliansi keamanan Barat.


Pahamilah perbedaan ini. Negara pengikut itu seperti anak buah yang "ikut perintah" karena terpaksa. Negara satelit itu seperti mitra junior yang "ikut arus" karena sama-sama diuntungkan. Negara pengikut kehilangan kemerdekaannya. Negara satelit masih punya kemerdekaan, tapi dalam batas-batas orbit yang tidak boleh mereka tinggalkan.


NEGARA INDEPENDEN: MERDEKA DALAM ARTI SESUNGGUHNYA


Dan akhirnya, kategori keempat dalam kitab Mafahim Siyasi yang harus kita pahami adalah NEGARA INDEPENDEN, al-daulah al-mustaqillah.


Inilah kategori yang paling kita idam-idamkan. Inilah negara yang benar-benar merdeka. Bukan hanya di atas kertas. Bukan hanya karena punya kursi di PBB. Tapi merdeka dalam arti yang sesungguhnya.


Kitab Mafahim Siyasi mendefinisikan negara independen sebagai negara yang mampu mengelola politik dalam dan luar negerinya sesuai kehendak sendiri, atas dasar kepentingannya sendiri. Mereka tidak terikat pada kehendak negara lain. Mereka tidak mengorbit pada negara lain. Mereka berdiri di atas kaki mereka sendiri.


Mereka punya bobot. Mereka punya pengaruh. Mereka bisa membuat negara pertama berpikir ulang sebelum mengambil keputusan. Mereka bisa berkata "tidak" ketika kepentingan mereka terancam. Dan kata "tidak" mereka didengar dan diperhitungkan.


Contoh yang diberikan dalam kitab tersebut? Perancis, Cina dan Rusia.


Lihatlah Perancis. Bagaimana mereka sering berbeda sikap dengan Amerika. Saat AS ingin menyerang Irak tahun 2003, Perancis menolak keras di Dewan Keamanan PBB. Dan penolakan itu punya pengaruh. Dunia terbelah. Amerika tidak bisa mendapatkan legitimasi internasional yang mereka inginkan. Itulah kekuatan negara independen.


Cina, dengan model pembangunannya sendiri, dengan kekuatan ekonominya yang terus membesar, Cina berani menentukan arahnya sendiri. Mereka tidak tunduk pada tekanan AS. Mereka bahkan bersaing dalam banyak bidang. Ketika AS melancarkan perang dagang, Cina membalas. Ketika AS menekan di satu sisi, Cina mencari celah di sisi lain.


Rusia, meski ekonominya tidak sebesar AS atau Cina, kekuatan militernya dan posisi geopolitiknya membuat mereka harus diperhitungkan. Ketika Rusia mengirim tank ke Ukraina, seluruh dunia berguncang. Ketika mereka mengancam dengan senjata nuklir, AS dan NATO harus berpikir seribu kali.


Bahkan negara-negara yang secara fisik kecil, seperti Swiss, Spanyol, Belanda, Italia, dan Swedia, bisa masuk kategori independen jika mereka memiliki kemampuan untuk mempengaruhi politik dunia. Kitab Mafahim Siyasi menjelaskan bahwa mereka bisa mempengaruhi jika mereka mampu mengamankan atau mengancam kepentingan negara pertama. Italia dan Spanyol, misalnya, mendapat pengaruh dengan mendukung AS dalam pendudukan Irak tahun 2003. Mereka mengamankan kepentingan AS dan sebagai imbalannya, mereka mendapat keuntungan politik dan ekonomi.


Inilah yang harus kita cermati. Kitab Mafahim Siyasi.mengingatkan kita tentang satu fenomena yang sangat penting. Fenomena yang jarang dibahas di media mainstream. Fenomena yang membuat kita harus berpikir ulang tentang apa arti kemerdekaan.


Banyak negara di Asia dan Afrika yang merdeka setelah Perang Dunia II. Bendera mereka berkibar. Lagu kebangsaan mereka dikumandangkan. Mereka punya perwakilan di PBB. Tapi apakah mereka benar-benar independen?


Mari kita lihat sejarah yang diangkat dalam kitab Mafahim Siyasi.


Ambil contoh Irak. Setelah Inggris keluar dari Irak, secara formal Irak menjadi negara merdeka. Mereka punya raja, punya parlemen, punya tentara. Tapi setelah Revolusi 14 Juli 1958 yang menggulingkan monarki, Irak sempat menjadi negara independen yang disegani, seperti Perancis.


Namun, perhatikan baik-baik apa yang terjadi kemudian. Ketika penguasanya adalah agen Amerika, maka Irak secara faktual adalah negara pengikut Amerika, meskipun secara internasional ia tetap dianggap sebagai negara merdeka. Kemudian setelah Revolusi 17 Juli 1968, ketika penguasanya adalah agen-agen Inggris, Irak berubah menjadi negara pengikut Inggris. Bendera yang sama. Lagu kebangsaan yang sama. Tapi realitasnya berbeda.


Ini sangat kritis.


Kitab Mafahim Siyasi menegaskan: STATUS NEGARA BISA BERUBAH HANYA DENGAN BERGANTINYA PENGUASA.


Meskipun benderanya sama, meskipun lagu kebangsaannya sama, meskipun kursinya di PBB tetap ada, tapi jika penguasanya adalah agen asing, jika ia menjalankan kebijakan atas perintah negara lain, jika ia lebih mendengar duta besar asing daripada suara rakyatnya, maka negaranya adalah negara pengikut. Jika penguasanya adalah orang yang merdeka, yang berani mengambil keputusan berdasarkan kepentingan bangsanya sendiri, maka negaranya bisa menjadi independen.


Dan inilah realitas pahit yang terjadi di banyak negara Muslim. Kemerdekaan hanya di atas kertas. Mereka secara internasional independen dalam penampilan lahiriah, tapi dari segi realitas hakiki, mereka adalah negara pengikut.


Sumber daya alam mereka dieksploitasi oleh perusahaan-perusahaan asing. Kebijakan ekonomi mereka diatur oleh lembaga-lembaga keuangan internasional yang dikuasai negara pertama. Politik luar negeri mereka harus selalu memperhatikan "sensitifitas" negara-negara besar. Konflik internal yang terjadi seringkali dipicu dan dipelihara oleh kepentingan asing yang ingin menjaga negara itu tetap lemah dan tergantung.


Inilah analisis tajam dari kitab Mafahim Siyasi. Analisis yang membuka mata kita tentang realitas yang seringkali tersembunyi di balik kemeriahan upacara kemerdekaan dan pidato-pidato kenegaraan.


Editorial Rumah Tsaqofah | Dirancang untuk: Kesadaran Umat

Jika Khilafah Tegak Hari Ini, Seperti Apa Duniamu Besok Pagi?

 Jika Khilafah Tegak Hari Ini, Seperti Apa Duniamu Besok Pagi?


Ini bukan sekadar khayalan. Ini bukan dongeng sebelum tidur. Ini gambaran yang bisa jadi kenyataan besok pagi, kalau kita semua benar-benar menginginkannya. Bayangkan kamu membuka mata jam 06.15, sinar matahari menyelinap lewat jendela, dan dunia yang kamu lihat sudah bukan dunia kemarin.


Tidak ada lagi nama “Indonesia”, “Malaysia”, “Turki”, “Mesir”, atau “Arab Saudi” di peta. Semua lenyap. Yang tersisa cuma nama-nama wilayah. Wilayah Nusantara, Wilayah Syam, Wilayah Maghrib, Wilayah Hijaz, Wilayah Afrika. Bahkan batas provinsi lama pun sudah dibongkar ulang dari nol. Nasionalisme yang dulu membuat kita saling benci karena warna bendera berbeda? Sudah jadi cerita masa lalu, seperti dongeng nenek yang kita ceritakan sambil geleng-geleng kepala.


Kamu turun ke dapur, buka dompet. Bukan lagi lembaran uang kertas berwarna-warni yang nilainya bisa hilang besok karena inflasi. Yang ada di tanganmu sekarang adalah dinar emas dan dirham perak sungguhan. Setiap dinar yang kamu pegang, di belakang gedung Baitul Mal ada 4,25 gram emas murni yang menjamin nilainya. Tidak ada lagi riba, tidak ada lagi bank yang mencetak uang dari udara, tidak ada lagi cadangan fraksional yang mencuri hak rakyat. Uangmu benar-benar punya nilai tetap, seperti janji Allah yang tidak pernah ingkar.


Kamu nyalakan televisi atau buka aplikasi berita Khilafah. Berita utama pagi ini,

“Total kekayaan umum umat hari ini mencapai 2,8 juta ton emas & perak cadangan, ditambah cadangan minyak, gas alam, uranium, tembaga, dan segala mineral dari ujung timur sampai barat.”  


Semua sumur minyak di Sumatera, ladang gas Natuna, tambang emas Papua, minyak hitam di Teluk Persia, uranium di Afrika, semua sudah bukan milik perusahaan asing lagi. Bukan milik “negara” juga. Semua menjadi milik umum, milik umat. Artinya milik kamu, milik aku, milik setiap warga negara Khilafah baik muslim maupun non muslim.  


Kamu yang tadinya tercekik cicilan rumah 20 tahun? Utang riba itu sudah dihapuskan seketika. Kamu yang ingin buka warung kopi di gang sempit? Modal awal langsung cair dari Baitul Mal, tanpa bunga satu sen pun. Kamu yang baru nikah dan belum punya rumah? Tanah dan tempat tinggal layak sudah menjadi hak dasar setiap keluarga. Negara bukan lagi pemilik, negara hanya pengelola yang wajib adil.


Kamu jalan ke pasar pagi. Di sana ada pedagang dari Wilayah Sudan menjajakan kurma Medjool segar yang baru tiba lewat kereta cepat Khilafah. Kamu tanya harganya. Dia tersenyum lebar,

“Gratis untuk saudara senegara, tapi kalau mau bayar, cukup satu dirham perak saja, akhi.”


Perusahaan asing? Semua sudah angkat kaki. Pabrik-pabrik, perkebunan, tambang, teknologi, semua sekarang milik warga Khilafah. Ekonomi tidak lagi dikuasai segelintir orang kaya. Modal tersebar luas. Setiap pemuda punya kesempatan jadi pengusaha. Pasar malam di setiap kota ramai dengan pedagang kecil yang tersenyum karena untung mereka tidak lagi dipotong pajak riba atau biaya bank.


Kamu lanjut ke bandara atau stasiun kereta. Tidak ada lagi antre imigrasi panjang. Tidak ada paspor nasional. Siapa saja dari belahan dunia mana pun dari London, Beijing, Lagos, atau New York cukup mengucapkan taat pada hukum Khilafah, dan mengakui kepemimpinan Khalifah. Dalam hitungan jam, dia sudah jadi warga negara penuh. Punya hak sama denganmu, dapat bagian kekayaan umum, sekolah gratis, rumah sakit tanpa biaya, keamanan 24 jam.


Dan yang paling penting, kalau suatu hari Khalifah, pemimpin tertinggi kita berbuat zalim? Kamu, rakyat biasa, boleh menggugatnya! Di Mahkamah al-Mazhalim, pengadilan khusus kezaliman. Khalifah harus datang sendiri, duduk di kursi yang sama dengan rakyat, tanpa pengawal, tanpa jubah kebesaran. Hakim membacakan vonis di depan kamera yang disiarkan ke seluruh wilayah. Itulah jaminan bahwa kekuasaan tidak pernah lagi jadi milik satu orang saja.


Malam harinya, berita dunia mengguncang,

“Pasukan Khilafah telah membebaskan Masjidil Aqsha. Palestina kini wilayah bebas penjajah.”  


Dan setelah itu, seperti gelombang besar yang tak terbendung. Rakyat di negara-negara lain mulai bergerak. Mereka melihat keadilan, mereka lihat distribusi kekayaan yang merata, mereka lihat anak-anak bermain tanpa takut bom. Mereka berteriak, “Kami juga mau hidup seperti ini!” Batas-batas negara buatan penjajah mulai runtuh. Dari Maroko sampai Mindanao, dari Istanbul sampai Jakarta, satu adzan, satu kiblat, satu Khalifah.


Ini bukan mimpi kosong. Ini visi yang sudah ada cetak birunya dalam Islam. Yang kurang hanya satu, kemauan kita semua untuk mewujudkannya.


Jadi besok pagi, saat kamu bangun, tanyakan pada dirimu sendiri:  

“Apa yang aku lakukan hari ini agar dunia besok pagi lebih dekat dengan gambaran ini?”


Kirim jawabanmu di kolom komentar, Kita sama-sama tahu, perubahan besar dimulai dari hati yang gelisah, lalu bergerak menjadi langkah nyata.


Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-Mu yang menyaksikan dan ikut membangun Khilafah ala minhajin nubuwwah di zaman ini. Amin ya Rabbal ‘alamin.


Editorial Rumah Tsaqofah | Dirancang untuk: Kesadaran Umat

Saturday, March 14, 2026

Bedah Kitab Mafahim Siyasi Hizbut Tahrir: Kategori Negara Dalam Konstelasi Internasional

 Bedah Kitab Mafahim Siyasi Hizbut Tahrir: Kategori Negara Dalam Konstelasi Internasional 


Ketika membaca berita tentang konflik di Timur Tengah, tentang krisis di Eropa, tentang persaingan Amerika dan Cina. pernahkah kita bertanya, apa sebenarnya yang sedang terjadi? Siapa yang sesungguhnya memainkan semua ini? Dan yang lebih penting, di manakah posisi kita, posisi kaum Muslimin, dalam pusaran politik global ini?


Dalam hiruk-pikuk informasi yang membanjiri kita setiap hari, seringkali kita kehilangan pijakan. Kita melihat peristiwa demi peristiwa, tapi gagal memahami struktur besar yang menggerakkan semuanya. Kita seperti orang yang melihat dedaunan berguguran, tanpa pernah melihat pohonnya. Kita melihat akibat, tanpa pernah memahami sebab.


Kita akan membedah kitab "Mafahim Siyasi" atau "Konsepsi Politik" yang diterbitkan oleh Hizbut Tahrir. Kitab ini memberikan kerangka analisis yang tajam tentang bagaimana membaca konstelasi internasional. Sebuah kerangka yang jarang diajarkan di bangku kuliah, jarang dibahas di media mainstream, tapi sangat penting untuk kita pahami sebagai kaum Muslimin.


Dalam kitab Mafahim Siyasi, ditegaskan bahwa memahami konstelasi internasional adalah sebuah kewajiban bagi kaum Muslimin. Mengapa? Karena tanpa pemahaman ini, kita akan terseret dalam arus politik global tanpa arah, tanpa kendali. Kita akan menjadi bola yang ditendang ke sana kemari, tanpa pernah bisa ikut menentukan ke mana bola itu harus bergulir.


Kitab tersebut menjelaskan bahwa dalam politik internasional, ada kategori-kategori negara yang harus kita kenali. Kategori pertama dan yang paling penting adalah NEGARA PERTAMA atau dalam istilah Arabnya, al-daulah al-ula.


Apa itu negara pertama?


Dalam kitab Mafahim Siyasi dijelaskan, negara pertama adalah negara yang menjadi poros dunia. Negara yang menjadi pusat gravitasi politik internasional. Dalam kondisi damai, dialah pembuat kebijakan global. Semua negara lain harus memperhitungkan apa yang dia lakukan. Keputusannya mempengaruhi harga minyak, harga beras, stabilitas keamanan, bahkan arah politik di negara-negara lain.


Hari ini, siapa negara pertama itu?

Jawabannya tegas, Amerika Serikat.


Mungkin ada yang tidak setuju. Mungkin ada yang bilang Cina sedang naik, Rusia mulai bangkit, Eropa masih kuat. Tapi mari kita lihat realitasnya dengan jujur.


Sejak runtuhnya Uni Soviet, Amerika Serikat adalah satu-satunya negara yang memiliki kemampuan untuk memproyeksikan kekuatannya ke seluruh penjuru dunia. Militer mereka ada di Jepang, di Korea, di Jerman, di Timur Tengah. Pangkalan militer mereka mengelilingi negara-negara yang dianggap sebagai saingan. Mata uang mereka, dolar Amerika, menjadi alat tukar utama dunia. Ketika Federal Reserve menaikkan suku bunga, ekonomi Indonesia ikut berguncang. Ketika mereka menjatuhkan sanksi pada suatu negara, negara itu bisa tercekik ekonominya.


Budaya mereka, meski kita suka atau tidak, mempengaruhi cara berpakaian, cara berbicara, bahkan cara berpikir anak-anak muda kita. Film-film Hollywood menyebarkan nilai-nilai mereka. Musik mereka didengarkan di seluruh dunia. Media mereka, seperti CNN dan lainnya, menjadi rujukan utama berita global.


Itulah negara pertama. Pusat dari segalanya. Poros yang menjadi acuan. Meskipun kekuatan mereka mulai digerogoti oleh kebangkitan negara-negara lain, namun untuk saat ini, mereka masih menjadi negara pertama yang harus diperhitungkan oleh siapa pun.


Setelah kita memahami siapa negara pertama, kita harus memahami satu hal yang sangat krusial, tidak semua negara itu sama di hadapan negara pertama. Ada yang menjadi pengikut, ada yang menjadi satelit, ada yang independen. Dan inilah yang akan kita bedah satu per satu, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Mafahim Siyasi


NEGARA PENGIKUT: KETIKA KEDAULATAN HANYA NAMA


Kategori kedua dalam kitab Mafahim Siyasi adalah NEGARA PENGIKUT, al-daulah al-tabi'ah.


Apa ciri-cirinya? Bagaimana kita bisa mengenali negara pengikut?


Dalam kitab tersebut dijelaskan, negara pengikut adalah negara yang terikat dengan negara lain, dalam hal ini dengan negara pertama atau negara adidaya lainnya dalam politik luar negerinya dan bahkan dalam sebagian besar urusan dalam negerinya. Mereka punya presiden, punya parlemen, punya bendera dan lagu kebangsaan. Mereka punya perwakilan di PBB. Tapi ruang gerak mereka sangat terbatas. Kedaulatan mereka hanya sebatas nama.


Ketika negara pertama bilang "lompat", mereka akan bertanya "setinggi apa?" Ketika negara pertama menghendaki sesuatu, mereka akan menurut, meskipun itu bertentangan dengan kepentingan rakyatnya sendiri.


Kitab Mafahim Siyasi memberikan contoh konkret. Misalnya, Mesir terhadap Amerika Serikat. Sejak Perjanjian Camp David tahun 1979, Mesir menjadi negara pengikut setia Amerika Serikat. Bantuan militer 1,3 miliar dolar setiap tahun yang sebagian besarnya adalah pinjaman yang harus dibayar, membuat mereka harus tunduk pada kebijakan luar negeri AS, terutama yang menyangkut keamanan Israel. Politik dalam negeri mereka pun tidak lepas dari pengaruh Washington. Siapa yang menjadi presiden, bagaimana mereka memerintah, semua dalam koridor yang tidak melanggar kepentingan AS.


Contoh lainnya? Kazakhstan terhadap Rusia. Meski sudah merdeka dari Uni Soviet lebih dari tiga dekade lalu, ketergantungan ekonomi dan keamanan membuat Kazakhstan harus selalu menjaga hubungan baik dengan Moskow. Mereka tidak bisa seenaknya menentukan kebijakan yang berseberangan dengan kepentingan Rusia.


Menjadi negara pengikut berarti kehilangan kedaulatan sejati. Mereka seperti anak buah yang harus patuh pada perintah komandan. Mereka seperti perahu kecil yang terikat pada kapal besar, tak bisa berlayar ke arah yang mereka inginkan.


NEGARA SATELIT: MENGORBIT DEMI KEPENTINGAN BERSAMA


Lalu kategori ketiga dalam kitab Mafahim Siyasi adalah NEGARA SATELIT, al-daulah allati fi al-falak.


Ini menarik. Kenapa disebut satelit? Karena mereka seperti bulan yang mengorbit planet. Mereka bergerak dalam orbit negara adidaya, mengelilinginya, tapi tidak sepenuhnya lepas. Mereka terikat dengan negara adidaya, tapi bukan karena keterpaksaan struktural seperti negara pengikut, melainkan karena ikatan kepentingan bersama.


Kitab Mafahim Siyasi menjelaskan, negara satelit adalah negara yang politik luar negerinya terikat dengan negara lain dalam ikatan kepentingan, bukan ikatan sebagai pengikut. Mereka memilih untuk mengorbit karena ada keuntungan yang mereka peroleh. Mereka mendapatkan perlindungan keamanan, akses pasar, bantuan teknologi, atau keuntungan lainnya. Dan sebagai imbalannya, mereka mendukung kebijakan luar negeri negara pusat, menyediakan pangkalan militer atau menjadi sekutu setia dalam forum-forum internasional.


Contoh paling jelas adalah Jepang terhadap Amerika Serikat. Jepang punya kepentingan keamanan yang sangat besar, mengingat posisi geopolitiknya yang dikelilingi oleh negara-negara besar seperti Cina, Rusia dan Korea Utara. Maka mereka memilih untuk mengorbit di bawah payung keamanan Amerika. Mereka menjadi pangkalan militer AS, mereka membeli senjata dari AS dalam jumlah besar, mereka mendukung kebijakan AS di Asia dan dunia. Tapi dalam banyak hal, Jepang punya otonomi. Mereka punya industri otomotif dan elektronik yang bersaing dengan AS. Mereka punya budaya pop yang mendunia. Mereka bahkan bisa berbeda pendapat dengan AS dalam isu-isu tertentu.


Contoh lain? Australia terhadap AS dan Inggris. Kanada terhadap AS, Inggris dan Perancis. Turki meski sekarang sering ribut dan menunjukkan gigi, secara struktural adalah satelit NATO yang dipimpin AS. Mereka mengorbit dalam aliansi keamanan Barat.


Pahamilah perbedaan ini. Negara pengikut itu seperti anak buah yang "ikut perintah" karena terpaksa. Negara satelit itu seperti mitra junior yang "ikut arus" karena sama-sama diuntungkan. Negara pengikut kehilangan kemerdekaannya. Negara satelit masih punya kemerdekaan, tapi dalam batas-batas orbit yang tidak boleh mereka tinggalkan.


NEGARA INDEPENDEN: MERDEKA DALAM ARTI SESUNGGUHNYA


Dan akhirnya, kategori keempat dalam kitab Mafahim Siyasi yang harus kita pahami adalah NEGARA INDEPENDEN, al-daulah al-mustaqillah.


Inilah kategori yang paling kita idam-idamkan. Inilah negara yang benar-benar merdeka. Bukan hanya di atas kertas. Bukan hanya karena punya kursi di PBB. Tapi merdeka dalam arti yang sesungguhnya.


Kitab Mafahim Siyasi mendefinisikan negara independen sebagai negara yang mampu mengelola politik dalam dan luar negerinya sesuai kehendak sendiri, atas dasar kepentingannya sendiri. Mereka tidak terikat pada kehendak negara lain. Mereka tidak mengorbit pada negara lain. Mereka berdiri di atas kaki mereka sendiri.


Mereka punya bobot. Mereka punya pengaruh. Mereka bisa membuat negara pertama berpikir ulang sebelum mengambil keputusan. Mereka bisa berkata "tidak" ketika kepentingan mereka terancam. Dan kata "tidak" mereka didengar dan diperhitungkan.


Contoh yang diberikan dalam kitab tersebut? Perancis, Cina dan Rusia.


Lihatlah Perancis. Bagaimana mereka sering berbeda sikap dengan Amerika. Saat AS ingin menyerang Irak tahun 2003, Perancis menolak keras di Dewan Keamanan PBB. Dan penolakan itu punya pengaruh. Dunia terbelah. Amerika tidak bisa mendapatkan legitimasi internasional yang mereka inginkan. Itulah kekuatan negara independen.


Cina, dengan model pembangunannya sendiri, dengan kekuatan ekonominya yang terus membesar, Cina berani menentukan arahnya sendiri. Mereka tidak tunduk pada tekanan AS. Mereka bahkan bersaing dalam banyak bidang. Ketika AS melancarkan perang dagang, Cina membalas. Ketika AS menekan di satu sisi, Cina mencari celah di sisi lain.


Rusia, meski ekonominya tidak sebesar AS atau Cina, kekuatan militernya dan posisi geopolitiknya membuat mereka harus diperhitungkan. Ketika Rusia mengirim tank ke Ukraina, seluruh dunia berguncang. Ketika mereka mengancam dengan senjata nuklir, AS dan NATO harus berpikir seribu kali.


Bahkan negara-negara yang secara fisik kecil, seperti Swiss, Spanyol, Belanda, Italia, dan Swedia, bisa masuk kategori independen jika mereka memiliki kemampuan untuk mempengaruhi politik dunia. Kitab Mafahim Siyasi menjelaskan bahwa mereka bisa mempengaruhi jika mereka mampu mengamankan atau mengancam kepentingan negara pertama. Italia dan Spanyol, misalnya, mendapat pengaruh dengan mendukung AS dalam pendudukan Irak tahun 2003. Mereka mengamankan kepentingan AS dan sebagai imbalannya, mereka mendapat keuntungan politik dan ekonomi.


Inilah yang harus kita cermati. Kitab Mafahim Siyasi.mengingatkan kita tentang satu fenomena yang sangat penting. Fenomena yang jarang dibahas di media mainstream. Fenomena yang membuat kita harus berpikir ulang tentang apa arti kemerdekaan.


Banyak negara di Asia dan Afrika yang merdeka setelah Perang Dunia II. Bendera mereka berkibar. Lagu kebangsaan mereka dikumandangkan. Mereka punya perwakilan di PBB. Tapi apakah mereka benar-benar independen?


Mari kita lihat sejarah yang diangkat dalam kitab Mafahim Siyasi.


Ambil contoh Irak. Setelah Inggris keluar dari Irak, secara formal Irak menjadi negara merdeka. Mereka punya raja, punya parlemen, punya tentara. Tapi setelah Revolusi 14 Juli 1958 yang menggulingkan monarki, Irak sempat menjadi negara independen yang disegani, seperti Perancis.


Namun, perhatikan baik-baik apa yang terjadi kemudian. Ketika penguasanya adalah agen Amerika, maka Irak secara faktual adalah negara pengikut Amerika, meskipun secara internasional ia tetap dianggap sebagai negara merdeka. Kemudian setelah Revolusi 17 Juli 1968, ketika penguasanya adalah agen-agen Inggris, Irak berubah menjadi negara pengikut Inggris. Bendera yang sama. Lagu kebangsaan yang sama. Tapi realitasnya berbeda.


Ini sangat kritis.


Kitab Mafahim Siyasi menegaskan: STATUS NEGARA BISA BERUBAH HANYA DENGAN BERGANTINYA PENGUASA.


Meskipun benderanya sama, meskipun lagu kebangsaannya sama, meskipun kursinya di PBB tetap ada, tapi jika penguasanya adalah agen asing, jika ia menjalankan kebijakan atas perintah negara lain, jika ia lebih mendengar duta besar asing daripada suara rakyatnya, maka negaranya adalah negara pengikut. Jika penguasanya adalah orang yang merdeka, yang berani mengambil keputusan berdasarkan kepentingan bangsanya sendiri, maka negaranya bisa menjadi independen.


Dan inilah realitas pahit yang terjadi di banyak negara Muslim. Kemerdekaan hanya di atas kertas. Mereka secara internasional independen dalam penampilan lahiriah, tapi dari segi realitas hakiki, mereka adalah negara pengikut.


Sumber daya alam mereka dieksploitasi oleh perusahaan-perusahaan asing. Kebijakan ekonomi mereka diatur oleh lembaga-lembaga keuangan internasional yang dikuasai negara pertama. Politik luar negeri mereka harus selalu memperhatikan "sensitifitas" negara-negara besar. Konflik internal yang terjadi seringkali dipicu dan dipelihara oleh kepentingan asing yang ingin menjaga negara itu tetap lemah dan tergantung.


Inilah analisis tajam dari kitab Mafahim Siyasi. Analisis yang membuka mata kita tentang realitas yang seringkali tersembunyi di balik kemeriahan upacara kemerdekaan dan pidato-pidato kenegaraan.


Editorial Rumah Tsaqofah | Dirancang untuk: Kesadaran Umat

Saturday, September 6, 2025

MAKSUD "WAJIBUL WUJUD

 MAKSUD "WAJIBUL WUJUD"


Asy Syaikh Al Mujahid Taqiyuddin An Nabhani rahimahuLLaah menyatakan dalam kitabnya, Nizhamul Islam:


وحين ننظر إلى المحدود نجده ليسَ أَزَلِياً وإلا لما كان محدوداً فلا بدَّ مِنْ أن يكون المحدود مخلوقاً لغيره، وهذا الغير هو خالق الإنسان والحياة والكون، وهو إِمَّا أَنْ يكون مخلوقاً لغيره، أو خالقاً لنفسه، أو أزلياً واجب الوجود. أما أنَّه مخلوق لغيره فباطل، لأنَّهُ يكون محدوداً، وأما أنَّه خالق لنفسه فباطل أيضاً، لأنه يكون مخلوقاً لنفسه وخالقاً لنفسه في آن واحد، وهذا باطل أيضاً، فلا بُدَّ أنْ يكونَ الخالق أزلياً واجب الوجود وهو الله تعالى.


Artinya:


"Dan ketika kita memperhatikan sesuatu yang terbatas, kita mendapati bahwa ia bukanlah azali (tidak tanpa awal), sebab kalau ia azali tentu ia tidak terbatas. Maka pastilah yang terbatas itu merupakan makhluk yang diciptakan oleh selainnya. Dan yang lain itu adalah Pencipta manusia, kehidupan, dan alam semesta. Ia (Pencipta) itu, kemungkinan: diciptakan oleh selainnya, atau menciptakan dirinya sendiri, atau azali lagi wajibul-wujud (yang keberadaannya niscaya).


Adapun kemungkinan bahwa Ia diciptakan oleh selainnya, maka itu batil, karena dengan begitu Ia menjadi terbatas. Sedangkan kemungkinan bahwa Ia menciptakan dirinya sendiri, itu juga batil, sebab berarti Ia dalam waktu yang sama menjadi makhluk bagi dirinya sekaligus pencipta bagi dirinya—dan ini mustahil. Maka tidak ada pilihan lain kecuali bahwa Sang Pencipta itu azali, wajibul-wujud, dan Dialah Allah Ta‘ala."¹


Di paragraf tersebut Syaikh Taqiyuddin An Nabhani menyebut bahwa  sang Pencipta itu "wajibul wujud". Seperti apakah maksudnya? Mungkin sebagian belum mengerti maksudnya secara tepat.


Wajib di sini bukan hukum wajib dalam konteks fiqh, yang dikenal dengan pengertian: 


ما طلبه الشارع طلبا جازما 


"Sesuatu yang diperintahkan oleh syari' dengan perintah yang bersifat tegas"


atau yang diartikan juga:


ما يثاب على فعله ويعاقب على تركه


"Sesuatu yang apabila dilakukan mendatangkan pahala dan apabila ditinggalkan akan mengakibatkan dosa."


Bukan itu maksudnya. Melainkan yang dimaksud adalah wajib dalam disiplin ilmu kalam, yaitu salah satu dari tiga hukum akal: wajib, mustahil, jaiz.


Wajib di sini memiliki pengertian:


عدم قبول الانتفاء

"Tidak memungkinkan tiada"


Sedangkan mustahil adalah:


عدم قبول الثبوت

"Tidak memungkinkan ada"


Adapun jawaz sendiri artinya:


قبول الثبوت والانتفاء

"Memungkinkan ada dan tiada"²


Sebagai contoh, "api terasa dingin", "tongkat kayu menjadi ular", "membelah laut dan bulan", semua itu perkara jaiz, bukan mustahil. Meski dia khariqul 'adah (tidak biasa/luar biasa) namun terjadinya tidak mustahil, inilah contoh hukum jaiz. Sedangkan hukum wajib adalah kebalikan dari hukum mustahil. Contohnya: Allah punya sifat wujud (ada), mustahil bagi Nya memiliki sifat 'adam (tiada). Artinya, mustahil secara akal Dzat yang memilki sifat "ada" itu sekaligus memiliki sifat "tiada" di waktu yang sama. Ini maksud dari hukum mustahil.


Sedangkan hukum wajib atas sifat wujud nya Allah, maksudnya adalah bahwa Allah itu mutlak adanya atau keberadaannya tidak bisa tidak. Darimana kesimpulan tersebut dihasilkan? Nah, di titik inilah yang sedang dijelaskan oleh Syaikh an Nabhani di atas. Yaitu dari memikirkan berbagai kemungkinan, antara: diciptakan oleh yang lain, atau menciptakan dirinya sendiri, atau bersifat wajibul wujud. 


Terkait yang pertama, mustahil Allah itu diciptakan oleh yang lain, karena jika begitu berarti makhluq. Bukan khaliq (pencipta), melainkan makhluq sekaligus hadits (keber-ada-annya membutuhkan kepada yang lain dan berawalan). 


Terkait yang kedua, mustahil Allah itu menciptakan diri Nya sendiri dari ketiadaan. Karena untuk bisa menciptakan, pencipta harus ada terlebih dahulu daripada ciptaannya, atau bagaimana bisa menciptakan jika dirinya di waktu yang sama tidak ada. Maka ini juga tidak mungkin, alias mustahil.


Jika tidak yang pertama dan juga tidak yang kedua, maka keberadaan al Khaliq itu mutlak tidak bisa tidak (wajib) adalah keniscayaan dan keberadaan Nya secara pasti tidak berawalan (azali). Inilah maksud daripada "Wajibul Wujud".


نسأل الله التوفيق والسداد 


-----


¹ Taqiyuddin An Nabhani, Nizhamul Islam, hlm 7


² Lihat Said Faudah, Mukhtashar Al Kharidah Al Bahiyyah, hlm 4

Saturday, August 30, 2025

Perbedaan Masiroh dan Demonstrasi

 Perbedaan Masiroh dan Demonstrasi (Muzhaharah)


Aktivitas masirah sering digelar oleh beberapa komponen umat Islam dalam menjalankan fungsi mengoreksi penguasa. Sebagian pihak menyamakan masirah ini dengan demonstrasi, dimana demonstrasi ini merupakan salah satu cara Yahudi menurut mereka. Sebenarnya, seperti apakah perbedaan masiroh itu dengen demonstrasi. Berikut ini penjelasan singkatnya.


Soal:


1. Mohon dijelaskan perbedaan antara aktivitas demonstrasi dengan masiroh, karena sangat gamblang terlihat bahwa tidak ada perbedaan antara kedua aktivitas. Mohon pencerahannya.


2. Pada suatu artikel saya membaca kritikan terhadap aktivitas masiroh yang melibatkan wanita. Sebenarnya bagaimana mendudukan masalah ini, atau apa batasan-batasan bagi kaum akhwat dalam hal ini.


Jawab:


Pada dasarnya, uslub (cara) untuk mendakwahkan gagasan-gagasan Islam, atau menyampaikan kritik (koreksi) bisa dilakukan dengan cara apapun, selama uslub tersebut tidak bertentangan dengan syariat, dan masih dalam wilayah mubah. Menyampaikan gagasan, kritik, maupun ide-ide Islam boleh juga dilakukan dengan cara bersama-sama, berdua, bertiga, maupun seorang diri. Di masa shahabat, ada diantara mereka yang menyampaikan gagasan Islam dengan cara melakukan konvoi secara bersama-sama dan membentuk dua buah shaf (barisan), ada pula yang menyampaikan dakwah Islam dengan cara sendiri-sendiri. Dalam sirah Ibnu Hisyam disebutkan, bahwa sekelompok shahabat berkeliling Ka’bah menyampaikan seruan Islam. Mereka berbaris, dan membentuk dua buah shaf, kemudian berjalan bersama-sama mengelilingi Ka’bah sambil menyerukan kalimat Tauhid. Rasulullah SAW mendiamkan aktivitas sekelompok shahabat ini. Ini menunjukkan ada taqrir (persetujuan) dari Rasulullah SAW.


Aksi masiroh berbeda dengan demonstrasi biasa. Sekelompok umat Islam menjalankan fungsi menasehati penguasa. Namun demikian, karena al-Qur,an dan Sunnah telah turun secara sempurna, maka kaum muslim yang melakukan masirah mesti memperhatikan hukum-hukum lain yang berhubungan erat dengan penggunaan aktivitas umum (jalan raya yang digunakan masirah), dan adab-adab ketika berada di jalan raya. Dengan kata lain, masirah harus tetap memperhatikan syarat-syarat di bawah ini:


1. Harus menyuarakan gagasan Islam, dan kemashlahatan kaum muslim. Tidak boleh menyerukan gagasan-gagasan bathil dan bertentangan dengan aqidah Islam.


2. Tidak merusak kepemilikan umum, menimbulkan kemacetan, atau mengganggu para pengguna jalan yang lain. Tidak boleh duduk-duduk, atau memblokade jalan raya sehingga terjadi kemacetan total. Sebab, ini bertentangan fungsi dari jalan raya yang digunakan untuk berjalan.


3. Harus tetap memperhatikan adab-adab ketika berada di jalan raya.


Lantas apa beda antar masirah dengan demonstrasi? Bedanya, hanya berhubungan dengan syarat-syarat di atas. Dengan kata lain, demonstrasi adalah aktivitas menyampaikan gagasan atau kritik yang tidak memperhatikan syarat-syarat di atas.


Adapun keikutsertaan wanita dalam masirah, maka harus dikembalikan kepada hukum asal dari masirah. Pada dasarnya, wanita juga diperbolehkan menyampaikan gagasan maupun kritik secara bersama-sama atau rombongan. Namun, kaum wanita mesti memperhatikan hukum-hukum lain yang berhubungan dengan dirinya. Misalnya, mereka tidak boleh dicampuradukkan dengan pria (ikhthilath), harus menutup aurat , dan tidak boleh menggunakan pakaian-pakaian yang memungkinkan dirinya terjatuh dalam tabarruj. Untuk itu, di dalam masirah yang melibatkan pria dan wanita, maka keduanya mesti dipisahkan, dan harus tetap memperhatikan ketentuan-ketentuan Islam yang berhubungan dengan interaksi wanita dengan pria. Jika syarat-syarat ini dipenuhi, maka keterlibatan wanita dalam masirah adalah sesuatu yang diperbolehkan (mubah).


[Tim Konsultan Ahli Hayatul Islam (TKAHI)]

Thursday, August 28, 2025

𝑴𝑬𝑴𝑩𝑨𝑪𝑨 𝑲𝑨𝑻𝑨-𝑲𝑨𝑻𝑨 𝑺𝒀𝑨𝑰𝑲𝑯 𝑻𝑨𝑸𝑰𝒀𝑼𝑫𝑫𝑰𝑵 𝑨𝑵-𝑵𝑨𝑩𝑯𝑨𝑵𝑰

 𝑴𝑬𝑴𝑩𝑨𝑪𝑨 𝑲𝑨𝑻𝑨-𝑲𝑨𝑻𝑨 𝑺𝒀𝑨𝑰𝑲𝑯 𝑻𝑨𝑸𝑰𝒀𝑼𝑫𝑫𝑰𝑵 𝑨𝑵-𝑵𝑨𝑩𝑯𝑨𝑵𝑰 


Ketika Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani رحمه الله تعالى berkata: “𝑼𝒎𝒂𝒕 𝒊𝒏𝒊 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒆𝒎𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒋𝒂𝒕𝒊 𝒅𝒊𝒓𝒊𝒏𝒚𝒂, 𝒅𝒂𝒏 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒓𝒃𝒂𝒏𝒈𝒖𝒏 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒕𝒊𝒅𝒖𝒓𝒏𝒚𝒂, 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒔𝒆𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒊𝒂 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒂𝒚𝒂𝒓 𝒉𝒂𝒓𝒈𝒂 𝒌𝒆𝒍𝒂𝒍𝒂𝒊𝒂𝒏𝒏𝒚𝒂 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒆𝒎𝒃𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒌𝒘𝒂𝒉 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒎𝒆𝒍𝒂𝒏𝒋𝒖𝒕𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒎𝒃𝒂𝒍𝒊 𝒌𝒆𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑𝒂𝒏 𝑰𝒔𝒍𝒂𝒎, 𝒚𝒂𝒌𝒏𝒊 𝒔𝒆𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒊𝒂 𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓-𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓 𝒅𝒊𝒂𝒅𝒖𝒌 𝒅𝒂𝒏 𝒅𝒊𝒉𝒂𝒏𝒄𝒖𝒓𝒌𝒂𝒏.” — beliau tidak sedang melontarkan harapan kosong. Beliau sedang membaca sunnatullah dalam perubahan, mendiagnosis realitas umat dengan pandangan tajam, dan melukiskan garis masa depannya.


1. Umat akan menemukan jati dirinya


Hari ini umat Islam hidup dalam krisis identitas, di bawah sistem & hukum asing, dan kurikulum pendidikan yang menjauhkan mereka dari akar sejarahnya. Namun, aqidah Islam tetap tersembunyi dalam hati jutaan manusia, menunggu untuk dibangkitkan. Ketika an-Nabhani berkata *“Umat akan menemukan jati dirinya”*, itu adalah sebuah kepastian: umat ini tidak akan mati. Ia membawa benih kebangkitannya sendiri, betapapun panjangnya masa keterasingan.


2. Dan akan terbangun dari tidurnya


“Tidur” di sini bukanlah kematian, melainkan lelap yang berat. Umat tidak mati meski dijajah, dipecah-belah, dan ditindas secara politik. Tidur itu hanya sementara, dan kebangkitannya pasti. Kebangkitan ini bukan sekadar emosi atau ledakan sesaat, tetapi kesadaran intelektual bahwa Islam adalah satu-satunya gagasan yang mampu menyelamatkan manusia, bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat.


3. Harga dari kelalaian


Syaikh an-Nabhani mengingatkan satu sunnatullah lain: kelalaian dalam membawa dakwah, tunduk pada rezim zalim, dan meninggalkan perjuangan menegakkan Negara Islam, tidak akan berlalu tanpa konsekuensi. Harganya sangat mahal: pembantaian, pengusiran, kemiskinan, hegemoni penjajah, dan hilangnya kehormatan umat. Seakan beliau berkata: jika kalian tidak membayar harga perubahan dengan kerja dan kesadaran, kalian akan membayarnya dengan kehinaan dan keterpurukan.


4. Melanjutkan kembali kehidupan Islam


Kunci yang beliau sampaikan amat penting. Umat tidak akan bangkit dengan letupan kemarahan atau reformasi tambal sulam, melainkan dengan kembali sepenuhnya pada kehidupan Islam. Artinya, menjadikan Islam sebagai rujukan total dalam pemerintahan, politik, ekonomi, dan sosial. Identitas dan kebangkitan tanpa adanya negara yang menerapkan Islam hanyalah kesadaran yang belum sempurna.


5. Diaduk dan dihancurkan


Ungkapan ini sungguh mengejutkan: “benar-benar diaduk dan dihancurkan.” Ini bukanlah hiperbola, melainkan peringatan nyata. Umat akan menanggung harga yang sangat berat sebelum menyadari bahwa tidak ada jalan keselamatan kecuali dengan tegaknya Negara Islam. Dan inilah yang kita saksikan hari ini: darah yang tertumpah di Gaza, Syam, Sudan, Myanmar, dan Somalia; perpecahan di mana-mana. Seakan semua penderitaan ini hanyalah fase pengadukan dan penghancuran yang mendahului sebuah kelahiran besar.


Kesimpulan


Kata-kata Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani رحمه الله menyingkap bahwa masa depan bukanlah kabur seperti yang dikira sebagian orang; ia justru memiliki jalur yang jelas:


▪️Tidur sementara,

▪️Lalu kebangkitan yang pasti, meski harus membayar harga mahal jika kita lalai,

▪️Dan akhirnya kebangkitan sejati dengan melanjutkan kembali kehidupan Islam dalam naungan negara yang berhukum dengan Islam.


Ini bukan ajakan untuk meratap, melainkan seruan untuk bersiap: mengemban dakwah sebelum kita dipaksa membayar harga yang amat berat.


ابو عبيده بكر

Tuesday, August 12, 2025

Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah

 Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah


Penulis: Ustaz Yuana Ryan Tresna


Muslimah News, SYARAH HADIS — Hadis yang mengabarkan berita gembira tentang kembalinya Khilafah sangatlah banyak. Tidak benar bahwa hadis bisyarah nabawiyyah (kabar gembira kenabian) akan datangnya Khilafah hanya didasarkan pada hadis riwayat Imam Ahmad.


Masih banyak hadis lain yang secara makna sejalan dengan hadis tersebut. Misalnya hadis riwayat Muslim, Ahmad, dan Ibnu Hibban tentang khalifah di akhir zaman yang akan “menumpahkan” harta yang tidak terhitung jumlahnya; hadis tentang akan datangnya Khilafah di Baitulmaqdis (HR Abu Dawud, Ahmad, ath-Thabarani, al-Baihaqi); juga hadis tentang kekuasaan umat Nabi Muhammad yang akan melingkupi dari timur hingga barat (HR Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud).


Hadis-hadis ini didukung banyak hadis lain dengan makna yang sama, seperti masuknya Islam ke setiap rumah, al-waraq al-mu’allaq, hijrah setelah hijrah, penaklukan Kota Roma, dan seterusnya. Makna hadis kembalinya Khilafah ‘ala minhaj nubuwwah ini diriwayatkan sekitar 25 sahabat, 39 tabiin, dan sekitar 62 tabi’at-tabi’in.


Berikut ini adalah hadis dari Hudzaifah ra. yang berkata bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda,


 تَكُوْنُ النُّبُوَّة فِيْكُمْ مَا شَاء اللهُ أَنْ تَكُوْنَ، ثُم يَرْفَعَهَا الله إِذَا شَاء أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّة فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعَهَا الله إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا عَاضًا فَيَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعَهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُم تَكُوْنُ مُلْكًا جَبَرِيَّةً فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعَهَا اللهُ إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ “


“Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian. Ia ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Lalu Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Lalu Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan yang zalim. Ia juga ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Kemudian Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan. Ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian.” (HR Ahmad, Abu Dawud ath-Thayalisi, dan Al-Bazzar)


Hadis ini maqbul, artinya diterima dan dapat dijadikan sebagai hujah. Al-Hafizh al-‘Iraqi berkomentar, “Hadis ini sahih, Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini dalam Musnad-nya.” (Al-‘Iraqi, Mahajjat al-Qurb ila Mahabbat al-‘Arab, hlm. 176)


Periode terakhir pada hadis di atas adalah periode kembalinya Khilafah yang mengikuti metode (minhaj) kenabian. Ini merupakan berita gembira akan tegaknya kembali Khilafah setelah keruntuhannya. Makna yang sama juga diriwayatkan dalam banyak riwayat. Sebagai kabar gembira, hadis ini bukan dalil pokok kewajiban menegakkan Khilafah.


Dalil kewajiban menegakkan Khilafah adalah Al-Qur’an, di antaranya terkait kewajiban taat kepada ulil amri dan kewajiban menerapkan hukum-hukum Allah. Dalil Khilafah juga didasarkan pada hadis-hadis yang mewajibkan adanya baiat dan adanya imam sebagai junnah (perisai).


Menjawab Keraguan

Sebagian pihak mengatakan bahwa hadis tentang akan datangnya Khilafah, dari segi kritik sanad dan matan, telah gugur. Tuduhan pada aspek kritik matan sangatlah lemah dan sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan.


Adapun terkait kritik sanad, ini juga sangat tergesa-gesa. Menurut mereka, bahwa hadis yang dijadikan landasan utama oleh pejuang Khilafah, dalam perspektif kritik sanad, bermasalah karena ada seorang rawi bernama Habib bin Salim al-Anshari yang dianggap tidak tsiqah (tepercaya). Alasannya, Habib bin Salim mendapatkan penilaian yang negatif (al-jarh) dari Imam al-Bukhari yang menilai dengan sebutan “fihi nazhar”; juga komentar yang senada dari Ibn Adi. Lalu mereka menyimpulkan bahwa hadis tentang kekuasaan Khilafah tersebut dari segi kritik sanad sudah gugur.


Jika kita meneliti penilaian para ulama jarh wa ta’dil, tampak jelas bahwa rawi Habib bin Salim dinyatakan tsiqah oleh sebagian ulama jarh wa ta’dil dan dikatakan jarh oleh sebagian lainnya. Jadi para ulama tidak satu suara ketika menilai rawi bernama Habib bin Salim. Oleh karena itu peneliti seharusnya adil dan objektif menelaah setiap ungkapan tersebut.


Lalu benarkah rawi yang dinilai “fihi nazhar” oleh Imam al-Bukhari sudah pasti dha’if? Memang pada keumumannya, “fihi nazhar” itu berkaitan dengan penilaian jarh dari Imam al-Bukhari. Pada umumnya jarh ringan.


Namun, tidak sesederhana itu. Tidak bisa memutlakkan ke-dha’if-an hadis yang terdapat rawi yang dinilai “fihi nazhar”. Ungkapan “fihi nazhar” bergantung pada qarinah-qarinah (indikasi-indikasi)-nya. Qarinah ini perlu diteliti dan dikaji.


Sayangnya, sebagian pihak tergesa-gesa memutlakkan ke-dha’if-an hadis yang di dalamnya ada rawi yang dinilai “fihi nazhar” oleh Imam al-Bukhari tanpa memperhatikan qarinah-qarinah-nya. Termasuk penilaian para ulama jarh wa ta’dil lainnya ketika menilai rawi yang dikomentari “fihi nazhar”.


Meski ungkapan “fihi nazhar” adalah cela ringan, ia masih membuka ruang penelitian. Imam al-Bukhari sendiri adakalanya menolak dan adakalanya menerima rawi yang dinilai “fihi nazhar”. Demikian juga dengan penilaian para ulama hadis lainnya, seperti Yahya bin Ma’in, Abu Hatim, Ibnu Adi, dll; berbeda-beda tergantung rawi yang ditelitinya.


Ringkasnya, “fihi nazhar” memberikan peluang kesimpulan mulai dari kadzdzab (pendusta) hingga tsiqah. Sebuah rentang peluang yang sangat lebar. Paling tidak ada 80 rawi yang dinilai “fihi nazhar” oleh Imam al-Bukhari. Ini baru yang ungkapan “fihi nazhar”. Belum lagi yang dinilai “fi isnadihi nazhar, fi haditsihi nazhar, fihi ba’dhu nazhar, dll”.


Untuk rawi bernama Habib bin Salim, Maula Nu’man bin Basyir, dalam At-Tarikh al-Kabir (Al-Bukhari, 2/2606), Adh-Dhu’afa’ al-Kabir (Al-Uqaili, 2/66), dan Al-Kamil fi Dhu’afa ar-Rijal (Ibnu Adi, 2/405), Imam al-Bukhari menilainya “fihi nazhar”. Imam Ibu Hatim, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban menilai Habib bin Salim sebagai seorang tsiqah. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani menilai “la ba’sa bihi” (Lihat: Al-Jarh wa Ta’dil, 3/102; Ats-Tsiqat, 4/138; Al-Kamil, 2/405; At-Taqrib, 1/151).


Imam Muslim menggunakan rawi Habib bin Salim dalam hadis cabang sebagai mutaba’ah. Imam Ahmad dan ad-Darimi juga meriwayatkannya. Meski demikian, Imam al-Bukhari menilai sahih riwayat Habib bin Salim, sebagaimana dijumpai dalam ‘Ilal at-Tirmidzi no. 152. Indikasi lainnya, Imam al-Bukhari berhujah dengan perkataan Habib bin Salim dalam biografi Yazid bin Nu’man bin Basyir (Tarikh al-Kabir, 8/365).


Pembahasan ini juga dibahas dalam kitab Musthalahat al-Jarh wa at-Ta’dil wa Tathawwuruha at-Tarikhiy fi at-Turats al-Mathbu’ li al-Imam al-Bukhari ma’a Dirasah Musthalahiyyah li Qawl al-Bukhari (Fihi Nazhar), hlm. 621–644. Catatan lainnya, minhaj yang dipegang oleh para ahli hadis dan fukaha adalah bahwa penilaian dha’if dan sahih suatu hadis tidak selalu disepakati semua ahli hadis dan tidak bersifat mutlak.


Bagi fukaha, penilaian sahih menurut sebagian ahli hadis sudah cukup dapat dijadikan sebagai dalil. Sebagaimana telah disinggung, Habib bin Salim al-Anshari adalah salah satu rijal dalam Shahih Muslim. Imam Muslim (II/598) meriwayatkan hadis tentang bacaan pada salat Id dan Jumat dari An-Nu’man bin Basyir. Artinya, menurut Imam Muslim, Habib bin Salim al-Anshari memenuhi syarat yang telah beliau tetapkan dalam mukadimah Kitab Shahih-nya.


Karena itu bisa dimengerti mengapa Ibnu Hajar dalam Taqrib at-Tahdzib mengomentari Habib bib Salim dengan “la ba’sa bihi”. Adapun tuduhan kepada rawi lainnya, seperti Ibrahim bin Dawud al-Wasithi, sungguh telah di-tsiqah-kan oleh Abu Dawud ath-Thayalisi dan Ibnu Hibban. Selain kedua rawi tersebut, adalah para rawi yang tsiqah.


Dengan demikian, tidak benar bahwa hadis bisyarah nabawiyyah akan datangnya Khilafah itu dha’if hanya karena sorotan kepada rawi bernama Habib bin Salim. Para ulama justru telah menerima periwayatan Habib bin Salim. Adapun ungkapan “fihi nazhar” dari Imam al-Bukhari sudah terjawab dalam penjelasan sebelumnya.


Jadi merupakan suatu kesalahan yang fatal kalau menganggap bahwa perjuangan untuk menerapkan hukum Islam melalui Khilafah hanya didasarkan pada hadis daif. Hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad tentang akan kembalinya Khilafah adalah sahih atau minimal hasan. Hadis ini dinilai hasan oleh Syekh Syu’aib al-Arna’uth (Musnad Ahmad bi Hukm al-Arna’uth, 4/18.430) dan dinilai sahih oleh al-Hafizh al-‘Iraqi (Mahajjah al-Qurab fi Mahabbah al-‘Arab, 2/17).


Sikap yang Benar

Sikap yang benar yang harus ditunjukkan seorang mukmin terkait janji Khilafah adalah:


Pertama, wajib meyakini sepenuhnya janji akan berkuasanya kembali umat Islam (Lihat: QS an-Nur [24]: 55). Sebab Allah Swt. pasti menunaikan janji-janji-Nya (Lihat, antara lain: QS [18]: 108 dan [73]: 18). Yakin kepada janji Allah termasuk bagian keimanan. Siapa saja ingkar atau ragu terhadap janji Allah Swt., keimanannya telah rusak.


Kedua, harus membenarkan kabar gembira dari Rasulullah saw., sebagaimana yang Rasulullah kabarkan dalam banyak hadis sahihnya.


Ketiga, bersungguh-sungguh mewujudkan kabar gembira tersebut dengan rasa optimis sebagai wujud ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Keempat, tidak menunggu kemenangan dengan berpangku tangan, pesimis, atau sekadar menunggu datangnya al-Mahdi.


Pada dasarnya, para ulama dari kalangan Ahlusunah waljamaah telah menggariskan hal-hal penting berkaitan dengan Khilafah Islamiah.


Pertama, mengangkat seorang khalifah untuk menduduki tampuk Khilafah Islamiah adalah kewajiban (An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, 6/291).


Kedua, mengangkat seorang khalifah setelah berakhirnya zaman nubuwwah adalah kewajiban yang paling penting (Al-Haitsami, Shawa’iq al-Muhriqah, 1/25).


Ketiga Allah Swt. telah menjanjikan kekhalifahan kepada kaum mukmin hingga akhir zaman (Asy-Syaukani, Fath al-Qadir, 5/241).


Keempat, menegakkan kekuasaan Islam (Khilafah Islamiah) termasuk sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt. yang paling agung (Ibnu Taimiyyah, As-Siyasah asy-Syar’iyyah, hlm. 161). Dalam menegakkan Khilafah Islamiah sebagai kewajiban syariat, sikap yang seharusnya bagi seorang mukmin adalah tunduk, patuh, dan berusaha menunaikan kewajiban itu dengan sebaik-baiknya.


Seorang mukmin dilarang mempertanyakan, meragukan, menggugat, atau menghindari kewajiban agung ini dengan alasan apa pun. Sebaliknya, ia wajib menerimanya dengan sepenuh keimanan dan ketundukan. Alasannya, kewajiban menegakkan Khilafah Islamiah sama kedudukannya dengan kewajiban-kewajiban lain, seperti salat, puasa, zakat, haji, dan lain-lain.


Dalam konteks menegakkan Khilafah Islamiah sebagai kewajiban paling penting dan sarana mendekatkan diri kepada Allah yang paling agung, maka seorang mukmin harus menyibukkan dan memfokuskan dirinya pada kewajiban ini dan menjadikannya sebagai qadhiyyah al-mashiriyyah (persoalan utama) bagi kaum muslim. Alasannya, Khilafah Islamiah adalah thariqah syar’iyyah (metode syar’i) untuk menerapkan Islam secara sempurna, sekaligus melangsungkan kepemimpinan kaum muslim di seluruh penjuru dunia.


Sebaliknya, sikap putus asa adalah perkara yang diharamkan. Contoh sikap putus asa adalah tidak peduli, dan cenderung mencemooh pejuang dan perjuangan penegakan Khilafah Islamiah. Padahal sikap putus asa, pesimis, dan mencemooh kewajiban yang dibebankan Allah Swt. termasuk perbuatan dosa. Nabi saw. bersabda,


 وَثَلاَثَةٌ لاَ تُسْأَلُ عَنْهُمْ : رَجُلٌ نَازَعَ الله عَزَّ وَجَلَّ رِدَاءَهُ فَإِنَّ رِدَاءَهُ الْكِبْرِيَاءُ وَإِزَارَهُ الْعِزَّةُ، وَرَجُلٌ شَكَّ فِي أَمْرِ اللهِ، وَالْقُنُوْطُ مِنْ رَحْمَةِ الله


“Ada tiga golongan manusia yang tidak akan ditanya pada hari kiamat yaitu: manusia yang mencabut selendang Allah, sesungguhnya selendang Allah adalah kesombongan dan kainnya adalah al-’izzah (keperkasaan); manusia yang meragukan perintah Allah; dan manusia yang putus harapan dari rahmat Allah.” (HR Ahmad, ath-Thabarani, dan al-Bazzar)


Di antara sikap keliru lain yang dikembangkan sebagian kaum muslim adalah mengabaikan perjuangan menegakkan syariat dan Khilafah dengan alasan menunggu datangnya Imam Mahdi. Pemahaman seperti ini tidak tepat karena menegakkan Khilafah Islamiah adalah kewajiban syariat.


Seorang muslim tidak boleh abai dengan kewajiban ini atau tidak berupaya memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh. Sebab, Khilafah Islamiah adalah thariqah syar’iyyah untuk menerapkan Islam secara sempurna.


Hadis-hadis yang berbicara tentang turunnya Imam Mahdi sama sekali tidak menafikan kewajiban menegakkan Khilafah Islamiah atas kaum muslim. Hadis-hadis tersebut juga tidak memerintahkan kaum muslim untuk hanya menunggu datangnya Imam Mahdi dan berdiam diri terhadap kewajiban menegakkan Khilafah Islamiah.


Penutup

Tegaknya Khilafah akan mengembalikan kemuliaan dan kehormatan umat Islam. Apa yang terjadi sekarang ini menggambarkan bahwa kita hidup saat ketiadaan perisai yang menjaga agama dan melindungi umat. Karena itu perlu ada upaya serius untuk menorehkan kembali sejarah agung peradaban Islam, mengembalikan kehidupan Islam dengan tegaknya Khilafah ‘ala minhaj al-nubuwwah di muka bumi.


Kaum muslim sudah seharusnya bangkit dari keterpurukan; mereka terpuruk di tengah limpahan potensi sumber daya yang ada. Sebagaimana kata Imam Ibn Muflih al-Hanbali (w. 763 H),


 كَالْعِيسِ فِي الْبَيْدَاءِ يَقْتُلُهَا الظَّمَا \\وَالْمَاءُ فَوْقَ ظُهُورِهَا مَحْمُولُ 


“Bagaikan unta di padang pasir yang mati kehausan/sementara air di atas punggungnya tersimpan.” (Ibnu Muflih al-Maqdisi, Al-Adab al-Syar’iyyah, III/104). [MNews/Rgl]