Skip to main content

Peringatan, bukan Hinaan

Peringatan, bukan Hinaan

Oleh redaksi @ Thu, 24 Maret 2011 — Tulis komentar


“Sepeninggalku, tidak aku tinggalkan fitnah (godaan) yang lebih berbahaya
untuk lelaki melebihi wanita.”(Mutafaq ‘alaih) “Wanita itu kurang
agamanya.” “Kebanyakan penduduk neraka adalah wanita.” (al Hadits)


Jika dibaca dengan kacamata buram milik orientalis dan kaum liberal, mungkin
yang bakal tampak dari petikan hadits di atas adalah “Islam merendahkan kaum
perempuan. Hadits-hadits ini mestinya dinonaktifkan dari fungsinya sebagai dalil
karena sudah tidak sesuai dengan jaman. Jika tidak, Islam bisa tercoreng namanya
karena masih saja mendeskreditkan perempuan, padahal di zaman sekarang persamaan
gender telah menjadi tuntutan.”


Tapi kacamata seorang muslimah, wanita yang berserah diri kepada syariat-Nya,
tentunya tidak demikian. Imannya akan membuat lensanya lebih jernih dalam
membaca dan menyelami isi dari setiap kata yang disabdakan utusan-Nya, Muhammad
shalallahu ‘alaihi wasallam. Pandangannya akan lebih dalam menembus sampai ke
dasar hikmah. Ada ‘material’ husnudzan, rasa berserah diri dan keyakinan
bahwa sabda Rasul n adalah al haq, yang menyusun potongan kaca yang dipakainya.
Dan inilah yang membuat objek yang tampil di retina hatinya berwujud sempurna,
tidak terbalik dan indah sebagaimana mestinya.


Oleh karenanya, image yang ditangkap dari hadits-hadits seperti di atas bukanlah
“Islam mendeskreditkan wanita”. Sama sekali bukan. Tapi yang tampak justru
ke dalaman rahmat dari sang pencipta kepada kaum Hawa. Sabda baginda itu
diterima sebagai pemberitahuan dan peringatan atas sisi lemah wanita yang sangat
krusial. Kelemahan pada wanita yang harus diwaspadai atau ditambal dengan sisi
kelebihan yang lain. Bukankah semua makhluk memang dicipta memiliki kelemahan?


Wanita itu fitnah atau godaan yang sangat besar bagi kaum lelaki. Terhadap
hadits ini, seorang muslimah tidak akan bersu’udzan bahwa Islam menganggap
wanita hanyalah makhluk penggoda dan pengganggu bagi lelaki. Tidak. Sabda ini
akan dipahami sebagai peringatan dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
bahwa potensi fitnah (godaan) dalam diri wanita sangatlah besar. Karenanya
wanita pun akan sadar dan waspada lalu menjaga agar potensi itu tidak menyelinap
keluar atau bahkan meledak. Wanita memang ditakdirkan untuk memiliki daya tarik
yang menggoda itu, tapi di sisi lain, wanita juga diwajibkan menjaganya.Nah,
Islam pun memberikan cara bagaimana menjaga diri agar potensi itu tidak keluar.
Ada jurus menjaga aurat, menundukkan pandangan, menjaga hubungan dengan lelaki,
menghindari make up berlebihan dan sebagainya. Dengan mengaplikasikan
jurus-jurus ini, yang akan merasa aman bukan hanya lelaki saja tapi juga wanita.


Kalau direnungkan secara mendalam, hadits ini bukan hanya peringatan bagi
lelaki, tapi juga wanita. Memang, yang terkena dampak fitnah wanita secara
langsung adalah lelaki. Hanya saja dalam beberapa kondisi, fitnah wanita yang
dibiarkan terumbar liar juga akan berimplikasi buruk terhadap sesama wanita.


Ambil contoh, saat anda sedang bersama suami, tiba-tiba datang atau lewat
seorang wanita yang membiarkan dua biji ‘kamera’ di kepala lelaki yang
menatapnya bebas menelusuri kulit kakinya hingga 50 % di atas lutut, atau kulit
lehernya hingga 50 % ke dadanya. Itu fitnah yang diumbar. Dan fitnah itu jelas
ditujukan kepada lelaki. Tapi apa yang anda rasakan jika suami anda melirik?
Sakit bukan? Lebih menyakitkan lagi jika kulit si wanita itu lebih bagus dari
milik anda. Bahkan wanita bercelana jins dan berkaus ketat yang tengah bersama
pacarnya di sebelah sana pun –misalnya ada-, boleh jadi akan mencubit
pacarnya, sambil pasang muka cemberut lagi mengancam jika pacarnya ikut-ikutan
melirik. Apa lagi jika masalahnya bukan sekadar melirik, selingkuh misalnya,
tentu akan lebih menyakitkan lagi. Jadi, wanita juga akan terganggu dengan
fitnah wanita yang tidak dijaga.


Nah, coba bandingkan jika yang hadir adalah seorang wanita berjilbab rapi dengan
warna kain yang tidak mencolok, atau bahkan memaki cadar misalnya. Adem. Anda,
suami anda dan juga semua orang di sekeliling anda akan merasakannya. Jadi, pada
dasarnya sabda Rasul n di atas adalah peringatan untuk wanita dari bahaya fitnah
wanita yang juga akan berdampak kepada wanita.


Soal status wanita yang diennya disebut “kurang” dan menjadi mayoritas ahli
neraka, Rasulullah ingin memberi peringatan pada sisi lemah wanita dalam hal
ini. Wanita secara kodrati mendapatkan haid dan menghalanginya dari ibadah
selama sekian waktu. Ini kelemahan. Dengan menyadari hal ini, wanita diharapkan
dapat memanfaatkan dan mengoptimalkan sisi-sisi lebih yang diberikan kepadanya
untuk meningkatkan value(nilai) dirinya. Semangat inilah yang akan muncul dalam
diri muslimah dan bukan perasaan kecewa karena menganggap Islam menganak tirikan
wanita. Dan bukankah pada tataran praktis, tidak sedikit kaum wanita yang
kualitas diennya jauh lebih baik dari lelaki?

Kalau ternyata rasul mengatakan wanita menjadi mayoritas penduduk neraka, itu
berarti Beliau ingin menyampaikan bahwa realitanya kebanyakan wanita tidak
mengikuti bimbingan rel syariat. Karena jika patuh pada syariat, dia akan masuk
jannah. Bahkan ratunya para bidadari surga adalah wanita-wanita shalihah yang
masuh jannah. Oleh karenanya, kalau tidak ingin merasa tersinggung dengan hadits
ini, caranya mudah yaitu dengan menjadi wanita shalihah.


Kesimpulannya, saat membaca hadits-hadits semacam ini yang harus dikedepankan
adalah iman. Para shahabiyah dulu tidak pernah komplain dengan hadits-hadits di
atas dan menganggapnya sebagai diskriminasi terhadap kaum perempuan. Keyakinan
mereka bahwa sabda Nabi adalah bimbingan ilahi memudahkan hati mereka menerima
dan mencoba mendulang hikmahnya. Jangan terkecoh dengan bualan kaum liberal,
mereka hanya ingin agar kita menentang syariat, merasa punya dalil saat
bermaksiat dan akhirnya celaka di akhirat.Wallahua’lam.


http://www.arrisalah.net/kajian/2011/03/peringatan-bukan-hinaan.html

Comments

Popular posts from this blog

Tulisan bantahan Syaikh Utsman Bakhasy (Hizbut Tahrir) atas tulisan tanggapan pengasuh situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid (Ulama Salafi)

 Tulisan bantahan Syaikh Utsman Bakhasy (Hizbut Tahrir) atas tulisan tanggapan pengasuh situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid (Ulama Salafi) -------------- *Pemberontakan Muhammad bin Abdul Wahab dan Keluarga Saud Terhadap Negara Khilafah Utsmani* Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dengan sebenar-benarnya pujian atas kebaikan dan berkah-Nya, yang tak terhingga jumlahnya, memenuhi langit dan bumi, serta semua yang ada. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasul yang diutus dengan membawa rahmat untuk seluruh alam, yaitu Muhammad bin Abdillah, keluarganya, para sahabatnya, serta siapa saja yang senantiasa setia dan mengikutinya denga cara yang baik hingga hari kiamat. Waba’du. Dalam situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid terdapat sebuah pertanyaan: “Apakah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab memberontak terhadap Khilafah Utsmaniyah, dan menjadi pen...

𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍

 𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍 https://www.facebook.com/joko.prasetyo.457609/posts/pfbid02qjxJndqbLy1EpcAYSitShA3dEcmucHZZEdJwKAbXKHv264jz4oDxxhkF5KVQiEgwl . Sesaat setelah Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengumumkan rencana pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia, sontak saja HTI langsung menjadi ℎ𝑒𝑎𝑑𝑙𝑖𝑛𝑒 di berbagai media massa baik televisi, cetak, radio maupun portal berita daring dan menjadi buah bibir berbagai kalangan masyarakat baik pro maupun kontra.  . “Pemerintah perlu mengambil langkah–langkah hukum secara tegas untuk membubarkan HTI," ujar Wiranto saat jumpa pers, Senin, 8 Mei 2017 di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat. Saat membacakan keputusan tersebut, Wiranto memaparkan tiga alasan pembubaran. .  Ketiga alasan pembubaran tersebut dinilai Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto tidak memiliki dasar sama sekali.  . “...

Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah

 Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah Penulis: Ustaz Yuana Ryan Tresna Muslimah News, SYARAH HADIS — Hadis yang mengabarkan berita gembira tentang kembalinya Khilafah sangatlah banyak. Tidak benar bahwa hadis bisyarah nabawiyyah (kabar gembira kenabian) akan datangnya Khilafah hanya didasarkan pada hadis riwayat Imam Ahmad. Masih banyak hadis lain yang secara makna sejalan dengan hadis tersebut. Misalnya hadis riwayat Muslim, Ahmad, dan Ibnu Hibban tentang khalifah di akhir zaman yang akan “menumpahkan” harta yang tidak terhitung jumlahnya; hadis tentang akan datangnya Khilafah di Baitulmaqdis (HR Abu Dawud, Ahmad, ath-Thabarani, al-Baihaqi); juga hadis tentang kekuasaan umat Nabi Muhammad yang akan melingkupi dari timur hingga barat (HR Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud). Hadis-hadis ini didukung banyak hadis lain dengan makna yang sama, seperti masuknya Islam ke setiap rumah, al-waraq al-mu’allaq, hijrah setelah hijrah, penaklukan Kota Roma, dan seterusnya. Makna hadis kembalinya Khil...