Skip to main content

Neraka, Derita Tanpa Jeda

Neraka, Derita Tanpa Jeda

Oleh Abu Umar Abdillah @ Rabu, 16 Maret 2011 — Tulis komentar


Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala.Tidak ada yang
masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran)
dan (berpaling) dari iman. (QS.al-Lail 14-16)

Suatu hari, Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengimami Shalat Maghrib dengan membaca
Surat al-Lail. Tatkala bacaan sampai pada firman-Nya, “fa andzartukum naaran
talazhzha..”, beliau menangis hingga tak mampu melanjutkan bacaannya.
Kemudian beliau mengulanginya dari awal, namun sampai pada ayat yang sama,
beliau kembali menangis dan tak sanggup melanjutkannya. Hal itu terjadi dua atau
tiga kali, lalu beliau membaca surat yang lain.

Kita memang tidak bisa mengukur persis, gejolak macam apa yang membuncah di dada
beliau, hingga air mata tumpah tak terbendung. Tapi, begitulah karakter ulama,
“innama yaksyallaha min ‘ibaadihil ‘ulama’, hanyasanya orang yang takut
kepada Allah di antara hamba-Nya adalah ulama’.

Mereka merasa menjadi obyek langsung dari Kalamullah. Lantas seperti apa
perasaan seseorang yang merasa diingatkan langsung oleh Allah? Apalagi, tatkala
peringatan itu berupa ancaman siksa neraka, yang tak ada lagi level penderitaan
yang menandinginya.

Orang yang Paling Celaka

Neraka tidak dimasuki kecuali oleh orang yang paling celaka. ”La yashlaaha
illal asyqa”, Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling
celaka. Tidak ada lagi orang yang lebih celaka darinya. Karena neraka disifati
dengan segala kepungan penderitaan dan kesengsaraan, dan dinihilkan dari segala
hiburan dan kesenangan.

Di dunia, kita memang sering menyaksikan dan mendengar kisah tentang penderitaan
seseorang. Tentang orang yang miskin papa, beratnya penyakit yang menipa, atau
dahsyatnya musibah yang menerpa. Tapi, itu semua sungguh tidak seberapa, ketika
dibanding dengan neraka. Pasti ada jeda derita di dunia, pun banyak faktor yang
bisa membuat beban menjadi ringan dirasa. Tidak sebagaimana derita di neraka,
bersabar atau tidak bersabar sama saja bagi mereka.

Intensitas siksa yang tiada jeda dan tanpa koma, bahkan tak ada sedikit waktu
meski hanya sekedar menurunnya kadar derajat siksa. Hingga para penghuninya
berkata,

”Mohonkanlah pada Rabbmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang
sehari” (QS al-Mukmin: 49)

Menu Makanan di Neraka

Pada galibnya, makanan dan minuman itu identik dengan kenikmatan dan kelezatan.
Tapi tidak demikian halnya dengan menu yang disediakan di neraka. Makanan
menjadi siksa, minuman juga sebagai siksa, dan buah-buahan pun berupa siksa.

Ada makanan dhaari’, yang tidak menghilangkan rasa lapar, apalagi membuat
perut menjadi kenyang. Rasapun bertentangan dengan selera lidah, bahkan untuk
menelannya harus dengan merobek tenggorokan, karena ia berupa duri,

“Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak
menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.” (QS al-Ghasyiyah:6-7)

Disediakan pula menu buah untuk mereka. Namun bukan untuk menambah vitamin atau
hidangan penutup yang menyempurnakan kenikmatan. Bentuknya menyeramkan, tumbuh
dari tempat yang sangat mengerikan,

”Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi
orang-orang yang zhalim.. Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari
dasar naar jahim. mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan. (QS. Ash-Shaffat
63-65)

Tentang rasa, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda memberikan
perumpamaan yang menakutkan,

”Seandainya satu tetes dari zaqum diteteskan ke dunia, niscaya akan merusak
kehidupan di dunia, lantas bagaimana halnya dengan orang yang memakannya?” (HR
Tirmidzi, beliau mengatakan hasan shahih)

Tidak disebutkannya akhir dari orang yang menyantapnya itu menunjukkan
kedahsyatannya, hingga sulit digambarkan dengan kata-kata, atau dibayangkan
dengan nalar manusia, semoga Allah menjauhkan kita dari neraka.

Jenis makanan lain yang disediakan bagi penghuni neraka adalah ghisliin,

“Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan
nanah.” (QS. al-Haaqah: 36)

Di antara ulama menafsirkan bahwa ghisliin adalah adonan dari seluruh kotoran
yang keluar dari tubuh penghuni neraka, baik nanah, keringat, ludah, maupun
kotoran dari depan maupun belakang, nas’alullahal ‘aafiyah.

Minuman yang Disediakan di Neraka

Jika makanan penghuni neraka begitu mengerikan, lantas bagaimana dengan
minumannya? Sebagaimana halnya makanan, mereka juga diberi aneka jenis minuman.
Tapi masing-masing minuman menjanjikan sisi penderitaan yang berbeda-beda,
dengan tingkat derita yang paling ekstrim.

Ada minuman ’hamiim’, air yang mencapai tingkat panas yang paling puncak,
hingga meluluhlantakkan segala isi perut yang meminumnya,

“dan diberi minuman dengan air yang mendidih (hamim) sehingga memotong-motong
ususnya.” (QS. Muhammad: 15)

Jauh sekali dari kesegaran, tidak pula bermanfaat untuk mengusir haus dan
dahaga, bahkan peminumnya menanggung derita tiada tara saking panasnya. Berbeda
halnya dengan minuman ‘shadiid’, siksa yang dirasakan bukan semata karena
panasnya, namun karena bau dan wujud yang sangat menjijikkan,

“Diminumnya air nanah (shadiid) itu, dan hampir dia tidak bisa menelannya.”
(QS. Ibrahim: 17)

Dan terakhir adalah minuman dari air ‘muhl’, cairan besi yang mendidih,
sebagaimana firman Allah,

“Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air
seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling
buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS. 18:29)

Begitu komplit jenis penderitaan neraka yang tak diselingi sedikitpun oleh
kenikmatan ataupun kesenangan. Itulah balasan bagi orang yang mendustakan
kebenaran dan berpaling dari ketaatan. Semoga Allah menjauhkan kita dari neraka.
Amin. (Abu Umar Abdillah)

Posted in Tafsir Qolbi | Tagged derita tanpa jeda, hidangan neraka, makanan
neraka, minuman neraka, neraka, penghuni neraka, siksa neraka

http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/03/neraka-derita-tanpa-jeda.h\
tml

Comments

Popular posts from this blog

Tulisan bantahan Syaikh Utsman Bakhasy (Hizbut Tahrir) atas tulisan tanggapan pengasuh situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid (Ulama Salafi)

 Tulisan bantahan Syaikh Utsman Bakhasy (Hizbut Tahrir) atas tulisan tanggapan pengasuh situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid (Ulama Salafi) -------------- *Pemberontakan Muhammad bin Abdul Wahab dan Keluarga Saud Terhadap Negara Khilafah Utsmani* Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dengan sebenar-benarnya pujian atas kebaikan dan berkah-Nya, yang tak terhingga jumlahnya, memenuhi langit dan bumi, serta semua yang ada. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasul yang diutus dengan membawa rahmat untuk seluruh alam, yaitu Muhammad bin Abdillah, keluarganya, para sahabatnya, serta siapa saja yang senantiasa setia dan mengikutinya denga cara yang baik hingga hari kiamat. Waba’du. Dalam situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid terdapat sebuah pertanyaan: “Apakah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab memberontak terhadap Khilafah Utsmaniyah, dan menjadi pen...

𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍

 𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍 https://www.facebook.com/joko.prasetyo.457609/posts/pfbid02qjxJndqbLy1EpcAYSitShA3dEcmucHZZEdJwKAbXKHv264jz4oDxxhkF5KVQiEgwl . Sesaat setelah Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengumumkan rencana pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia, sontak saja HTI langsung menjadi ℎ𝑒𝑎𝑑𝑙𝑖𝑛𝑒 di berbagai media massa baik televisi, cetak, radio maupun portal berita daring dan menjadi buah bibir berbagai kalangan masyarakat baik pro maupun kontra.  . “Pemerintah perlu mengambil langkah–langkah hukum secara tegas untuk membubarkan HTI," ujar Wiranto saat jumpa pers, Senin, 8 Mei 2017 di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat. Saat membacakan keputusan tersebut, Wiranto memaparkan tiga alasan pembubaran. .  Ketiga alasan pembubaran tersebut dinilai Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto tidak memiliki dasar sama sekali.  . “...

Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah

 Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah Penulis: Ustaz Yuana Ryan Tresna Muslimah News, SYARAH HADIS — Hadis yang mengabarkan berita gembira tentang kembalinya Khilafah sangatlah banyak. Tidak benar bahwa hadis bisyarah nabawiyyah (kabar gembira kenabian) akan datangnya Khilafah hanya didasarkan pada hadis riwayat Imam Ahmad. Masih banyak hadis lain yang secara makna sejalan dengan hadis tersebut. Misalnya hadis riwayat Muslim, Ahmad, dan Ibnu Hibban tentang khalifah di akhir zaman yang akan “menumpahkan” harta yang tidak terhitung jumlahnya; hadis tentang akan datangnya Khilafah di Baitulmaqdis (HR Abu Dawud, Ahmad, ath-Thabarani, al-Baihaqi); juga hadis tentang kekuasaan umat Nabi Muhammad yang akan melingkupi dari timur hingga barat (HR Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud). Hadis-hadis ini didukung banyak hadis lain dengan makna yang sama, seperti masuknya Islam ke setiap rumah, al-waraq al-mu’allaq, hijrah setelah hijrah, penaklukan Kota Roma, dan seterusnya. Makna hadis kembalinya Khil...