Skip to main content

Cukupkah Emas sebagai Alat Tukar

Depok, 26 April 2011

Cukupkah Emas sebagai Alat Tukar


Zaim Saidi - Direktur Wakala Induk Nusantara
Semua sumber daya alam, termasuk emas adalah terbatas, maka emas akan selalu cukup sebagai alat tukar. Sebagai alat tukar emas tidak sendirian.


Setiap kali masih saja ada sejumlah orang yang mengatakan bahwa emas tidak akan mencukupi dipakai sebagai alat tukar. Ini karena ketidakmengertian orang-orang tersebut tentang beberapa hal. Penjelasan berikut semoga membuat orang yang tidak mengerti ini menjadi mengerti, dan tidak meragukan lagi bahwa ketentuan Allah dan RasulNya, salallahu'alaihi wassalam, sudah pasti yang terbaik.

Sudah banyak artikel yang disampaikan yang ada di www.wakalanusantara.com ini, tapi memang tidak secara khusus membahas soal jumlah emas dalam kaitan dengan 'ekonomi dunia'. Sebab isu ini sebenarnya tidak relevan dalam muamalat. Dalam muamalat, pertukaran hanya akan terjadi antar sumber daya alam saja. Jadi, mana bisa sumber daya alam ditukar dengan sumber daya alam yang lain, tidak mencukupi?



Khusus mengenai isu 'jumlah emas tidak akan cukup', ini muncul karena ketidakpahaman bahwa alat dalam Islam bukan cuma emas saja. Selain emas, ada perak, dan semua benda yang lazim dipakai sebagai alat tuakr, bisa dipakai sebagai uang asal bisa distandarisasi. Rasul, salallahu'alaihi wassalam, menyebutkan, sebagai contoh saja enam komoditi: emas, perak, gandung, syair, kurma dan garam. Kalau di Jawa gabah biasa jadi alat bayar, dan cukup lazim juga digunakan sebagai alat tukar-misalnya menukar jasa pemanenan, yang di jawa disebut bawon.



Selain itu, 'uang' saat ini tidak mencukupi karena sekitar 98% -nya untuk membayari sesuatu yang tidak ada, yakni 'bubble' saja. Dalam Islam, gelembung ekonomi ini, kita sebut sebagai riba. Ekonomi riil saat ini cuma sekitar 2% dari total 'ekonomi' yang ada saat ini. Maka, berapapun sumber daya alam yang ada saat ini tidak akan cukup untuk membiayai 'ekonomi'. Karena 'ekonominya' melawan fitrah, mengingkari bahwa sumber daya alam itu terbatas, yakni nilai dari sesuatu yang intrinsik pada sumber daya alam itu dipalasukan menjadi fantasi, pada nilai nominal di atas uang fiat. Uang kertas sepenuhnya adalah Riba.


Maka, dengan sistem uang kertas, kalau di dunia ini ada 5 buah bumi pun, apalagi cuma satu, kalau saja bisa dan ada yang menjualnya, pasti akan bisa dibeli dengan uang kertas. Karena nilainya bahkan bisa dibubuhkan hanya dengan coretan pada selembar cek, atau dengan mengetik beberapa bit komputer saja. Tetapi dengan dinar emas atau dirham perak, tranmsaksi itu tidak bisa dilakukan, dan tentu saja emas dan perak tidak akan cukup jumlahnya untuk membeli separuh bumi saja. 

Bukankah menjadi cukup mudah dipahami bumi dan isinya saat ini semakin rusak karena kita menggunakan uang kertas? Dengan dinar emas atau dirham perak, dan sumber daya lain sebagai alat tukar, transaksi akan terjadi sebatas fitrah, sebatas anugerah Allah, subhanahu wa ta'ala, kepada manusia. Uang kertas adalah ekspresi nafsu manusia yang tak terbatas itu. Hingga Goethe, Pujangga Besar Jerman, dalam drama terkenalnya, Dr Faust, menyebutkan uang kertas sebagai ciptaan setan.

Terakhir, jangan lupa bahwa selain dinar emas dan dirham perak, kita juga akan menerapkan fulus, yakni koin tembaga, untuk keperluan jual beli benda-benda atau barang yang kecil nilainya. Yakni di bawh nilai koin dirham perak terkecil. Kalau di Indonesia fulus tidak akan digunakan untuk belanja barang dengan harga mulai dari 0.5 Dirham. Jumlah tembaga ini, yang jauh lebih banyak dari emas dan perak, akan mengkover sebagian traksaksi kecil-kecil dan harian.

Bisa ditambahkan bukti empiris pertumbuhan produksi emas di dunia ini, rata-rata, adalah sekitar 3% pertahun. Pertumbuhan jumlah manusia di dunia ini, rta-rata, juga sekitar 2-3%. Nilai perdagangan riil di seluruh muka bumi ini juga tercatat sekitar 2-3%. Boleh jadi inilah gambaran fitrah yang ada dalam kehidupan ini.

Ketidakpahaman sejumlah orang dalam memahamai hakekat alat tukar berbasis komoditi ini adalah akibat keracunan doktrin-doktrin menyesatkan yang diajarkan di sekolah-sekolah, yang kita sebut sebagai 'ilmu ekonomi'. Ini bukan ilmu, tapi formula untuk posisi ideologi tertentu, yakni ideologi riba.


http://www.wakalanusantara.com/detilurl/Cukupkah.Emas.sebagai.Alat.Tukar/781/id

Comments

Popular posts from this blog

Tulisan bantahan Syaikh Utsman Bakhasy (Hizbut Tahrir) atas tulisan tanggapan pengasuh situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid (Ulama Salafi)

 Tulisan bantahan Syaikh Utsman Bakhasy (Hizbut Tahrir) atas tulisan tanggapan pengasuh situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid (Ulama Salafi) -------------- *Pemberontakan Muhammad bin Abdul Wahab dan Keluarga Saud Terhadap Negara Khilafah Utsmani* Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dengan sebenar-benarnya pujian atas kebaikan dan berkah-Nya, yang tak terhingga jumlahnya, memenuhi langit dan bumi, serta semua yang ada. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasul yang diutus dengan membawa rahmat untuk seluruh alam, yaitu Muhammad bin Abdillah, keluarganya, para sahabatnya, serta siapa saja yang senantiasa setia dan mengikutinya denga cara yang baik hingga hari kiamat. Waba’du. Dalam situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid terdapat sebuah pertanyaan: “Apakah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab memberontak terhadap Khilafah Utsmaniyah, dan menjadi pen...

𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍

 𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍 https://www.facebook.com/joko.prasetyo.457609/posts/pfbid02qjxJndqbLy1EpcAYSitShA3dEcmucHZZEdJwKAbXKHv264jz4oDxxhkF5KVQiEgwl . Sesaat setelah Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengumumkan rencana pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia, sontak saja HTI langsung menjadi ℎ𝑒𝑎𝑑𝑙𝑖𝑛𝑒 di berbagai media massa baik televisi, cetak, radio maupun portal berita daring dan menjadi buah bibir berbagai kalangan masyarakat baik pro maupun kontra.  . “Pemerintah perlu mengambil langkah–langkah hukum secara tegas untuk membubarkan HTI," ujar Wiranto saat jumpa pers, Senin, 8 Mei 2017 di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat. Saat membacakan keputusan tersebut, Wiranto memaparkan tiga alasan pembubaran. .  Ketiga alasan pembubaran tersebut dinilai Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto tidak memiliki dasar sama sekali.  . “...

Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah

 Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah Penulis: Ustaz Yuana Ryan Tresna Muslimah News, SYARAH HADIS — Hadis yang mengabarkan berita gembira tentang kembalinya Khilafah sangatlah banyak. Tidak benar bahwa hadis bisyarah nabawiyyah (kabar gembira kenabian) akan datangnya Khilafah hanya didasarkan pada hadis riwayat Imam Ahmad. Masih banyak hadis lain yang secara makna sejalan dengan hadis tersebut. Misalnya hadis riwayat Muslim, Ahmad, dan Ibnu Hibban tentang khalifah di akhir zaman yang akan “menumpahkan” harta yang tidak terhitung jumlahnya; hadis tentang akan datangnya Khilafah di Baitulmaqdis (HR Abu Dawud, Ahmad, ath-Thabarani, al-Baihaqi); juga hadis tentang kekuasaan umat Nabi Muhammad yang akan melingkupi dari timur hingga barat (HR Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud). Hadis-hadis ini didukung banyak hadis lain dengan makna yang sama, seperti masuknya Islam ke setiap rumah, al-waraq al-mu’allaq, hijrah setelah hijrah, penaklukan Kota Roma, dan seterusnya. Makna hadis kembalinya Khil...