Skip to main content

Menjadi Muslim yang Seharusnya

Menjadi Muslim yang Seharusnya

Oleh Abu Umar Abdillah @ Thu, 26 Mei 2011 — Tulis komentar



“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS
al-Maidah 3)

Sa’ad bin Abi Waqash adalah orang yang sangat berbakti kepada ibunya. Namun
tatkala beliau masuk Islam, ibunya marah dan berkata, “Wahai Sa’ad, agama
apa yang kamu anut ini? Kamu harus keluar dari Islam, atau kalau tidak, maka aku
tidak akan makan, tidak akan minum hingga mati. Lalu orang-orang pun akan
mencelamu dan memanggilmu dengan kalimat, ”Wahai anak yang telah membunuh
ibunya!” Dengan santun beliau berkata, ”Jangan lakukan itu wahai Ibunda,
saya tidak akan meninggalkan Islam apapun yang terjadi.” Hari-hari berlalu,
sementara sang ibu benar-benar mogok dari makan dan minum. Hingga kemudian Saad
bin Abi Waqash memberanikan diri berkata kepada sang ibu, “Ketahuilah wahai
Ibunda, seandainya ibu memiliki seratus nyawa, lalu satu persatu nyawa itu
keluar dari jasad ibu, maka sekali-kali saya tidak akan meninggalkan agama
ini,maka terserah ibu ingin makan ataukah tidak!” (Siyaru a’lam
an-Nubala’)

Sahabat yang lain, Abdullah bin Hudzafah bahkan tak mundur dari Islam saat
diancam hendak direbus hidup-hidup oleh Heraklius. Tawaran masuk Nasarni
ditolaknya mentah-mentah, meski diiming-imingi hadiah separuh kerajaan Romawi.
Baginya, nilai Islam dalam sekejap mata lebih berharga dari seluruh kerajaan
Romawi.

Adapula yang rela mengorbankan nyawanya demi mempertahankan Islamnya seperti
Yasir dan istrinya; Sumayyah.

Kekuatan apakah yang menjadikan mereka sanggup bertahan dengan ragam siksaan
yang begitu berat? Pertimbangan manakah yang mereka gunakan hingga mereka rela
mengambil resiko harta, tenaga bahkan nyawa? Tidak ada jawaban lain kecuali
karena keimanan mereka terhadap apa yang dibawa oleh Muhammad saw, keyakinan
bahwa Islam menjamin kebahagiaan bagi mereka, bukan sekedar di dunia yang fana,
namun juga di akhirat yang abadi. Mereka betul-betul merasakan betapa indahnya
hidup dalam Islam, dan betapa agungnya rahmat Islam bagi mereka dan bahkan bagi
alam semesta. Tak ada anugerah yang lebih istimewa darinya. Sehingga mereka
tidak mau melepaskan secuilpun dari syariat demi tawaran apapun yang memikat.
Tak sudi menanggalkan keislamannya, meski nyawa harus keluar dari jasad. Mereka
benar-benar merasakan firman Allah,

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS
al-Maidah 3)

Namun, hari ini paradigma telah berubah. Seiring dengan minimnya pemahaman,
tipisnya keimanan, Islam tak lagi dianggap sebagai hal yang luar biasa. Seakan
Islam disandangnya secara kebetulan, bukan karena keinginan atau kebutuhan. Yang
karenanya pula, tak ada beban bagi mereka untuk melepas sebagian atau bahkan
keseluruhan, tak ada rasa bersalah jika sesekali syariat disandang, dan di kali
yang lain ditendang.

Fenomena ini terus berkembang, seiring dengan mendominasinya hawa nafsu,
ditambah pula dengan gencarnya upaya setan jin dan manusia untuk mengaburkan
tapal batas antara iman dan kekafiran. Hingga, garis pembeda antara haq dan
bathil makin tersamarkan. Dalam persepsi kebanyakan orang, tak ada lagi
keistimewaan Islam di atas keyakinan yang lain. Tiada pula sisi kemuliaan mukmin
dibanding orang kafir, atau ahli tauhid dibanding ahli syirik.

Perhatikanlah prolog sebuah film yang mengusung paham liberalisme dan toleransi
yang kebablasan, yang mengajarkan bahwa semua agama sama benarnya. Dengan suara
lembut terkesan keibuan bak penasihat yang bijak mengawali film itu, ”Semua
jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama, mencari satu hal
yang sama, dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan.”

Dengan pandangan seperti ini, semua cara beragama dianggapnya sama benarnya.
Semua jalan dipandangnya sama-sama mencapai surga, termasuk pilihan untuk tidak
beragama. Semua sesembahanpun diyakini sebagai Tuhan yang sama,apakah berujud
patung, batu maupun manusia. Inilah konsep netral agama yang tak mengenal
istilah tauhid dan syirik, tak ada kata mukmin dan kafir, dan tak ada kamus
hidayah maupun murtad. Padahal, semua istilah itu sangat krusial di dalam Islam.

Seakan surga disediakan untuk penganut apa saja, agama apapun, hanya berbeda
kapling atau lokasinya. Lantas dimanakah keyakinan mereka terhadap firman Allah
Ta’ala,

‘Barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan
diterima daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang rugi.’ (QS
Ali Imran 85)

Bagaimana pula mereka mengira, bahwa Allah akan membalas dengan balasan yang
sama atas cara dan jalan agama yang berbeda-beda, sedangkan Allah berfirman,

“Maka Apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan
orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Atau Adakah kamu (berbuat demikian).
Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” (QS al-Qalam 35-36)

Bahkan secara tegas, Nabi saw telah memberitaka kesudahan bagi siapapun yang
tidak mengambil Islam sebagai agamanya,

Ω„Ψ§َ يَΨ³ْΩ…َΨΉُ Ψ¨ِي Ψ£َΨ­َΨ―ٌ Ω…ِΩ†ْ Ψ£ُ Ω…َّΨͺِي
يَΩ‡ُوْΨ―ِيٌّ وَΩ„Ψ§َ Ω†َΨ΅ْΨ±َΨ§Ω†ِيٌّ Ψ«ُΩ…َّ
Ω…Ψ§َΨͺَ وَ Ω„Ψ§َ يُΨ€ْΩ…ِΩ†ُ Ψ¨ِΩ…َΨ§ Ψ¬ِΨ¦ْΨͺُ Ψ¨ِΩ‡ِ
Ψ₯ِΩ„Ψ§َّ Ω…ِΩ†ْ Ψ£َΨ΅ْΨ­َΨ§Ψ¨ِ Ψ§Ω„Ω†َّΨ§Ψ±ِ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tiada seorangpun dari Ummat
ini yang mendengar (agama)ku, baik dia itu seorang Yahudi maupun Nasrani,
kemudian dia mati dalam keadaan tdiak beriman dengan apa yang aku bawa
dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (Hadits Riwayat Muslim)

Seseorang yang merasa memiliki Islam, dan menjadikan Islam sebagai darah dan
dagingnya, tentu tidak tertarik dengan ajakan pendangkalan terhadap nilai
keagungan Islam. Tak hanya itu, keyakinannya atas kebenaran Islam dia wujudkan
dengan mendalami ilmunya, mengamalkannya, mendakwahkannya, dan membelanya dari
serangan yang dilancarkan oleh musuh-musuhnya, begitulah seharusnya menjadi
seorang muslim. Billahit taufiq. (Abu Umar Abdillah)


http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/05/menjadi-muslim-yang-seharu\
snya.html

Comments

Popular posts from this blog

Tulisan bantahan Syaikh Utsman Bakhasy (Hizbut Tahrir) atas tulisan tanggapan pengasuh situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid (Ulama Salafi)

 Tulisan bantahan Syaikh Utsman Bakhasy (Hizbut Tahrir) atas tulisan tanggapan pengasuh situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid (Ulama Salafi) -------------- *Pemberontakan Muhammad bin Abdul Wahab dan Keluarga Saud Terhadap Negara Khilafah Utsmani* Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dengan sebenar-benarnya pujian atas kebaikan dan berkah-Nya, yang tak terhingga jumlahnya, memenuhi langit dan bumi, serta semua yang ada. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasul yang diutus dengan membawa rahmat untuk seluruh alam, yaitu Muhammad bin Abdillah, keluarganya, para sahabatnya, serta siapa saja yang senantiasa setia dan mengikutinya denga cara yang baik hingga hari kiamat. Waba’du. Dalam situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid terdapat sebuah pertanyaan: “Apakah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab memberontak terhadap Khilafah Utsmaniyah, dan menjadi pen...

π“π€π“πŠπ€π‹π€ πƒπ€π‹πˆπ‡-πƒπ€π‹πˆπ‡ ππ„πŒπ„π‘πˆππ“π€π‡ π”ππ“π”πŠ πŒπ„πŒππ”ππ€π‘πŠπ€π π‡π“πˆ π“π„π‘ππ€π“π€π‡πŠπ€π

 π“π€π“πŠπ€π‹π€ πƒπ€π‹πˆπ‡-πƒπ€π‹πˆπ‡ ππ„πŒπ„π‘πˆππ“π€π‡ π”ππ“π”πŠ πŒπ„πŒππ”ππ€π‘πŠπ€π π‡π“πˆ π“π„π‘ππ€π“π€π‡πŠπ€π https://www.facebook.com/joko.prasetyo.457609/posts/pfbid02qjxJndqbLy1EpcAYSitShA3dEcmucHZZEdJwKAbXKHv264jz4oDxxhkF5KVQiEgwl . Sesaat setelah Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengumumkan rencana pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia, sontak saja HTI langsung menjadi β„Žπ‘’π‘Žπ‘‘π‘™π‘–π‘›π‘’ di berbagai media massa baik televisi, cetak, radio maupun portal berita daring dan menjadi buah bibir berbagai kalangan masyarakat baik pro maupun kontra.  . “Pemerintah perlu mengambil langkah–langkah hukum secara tegas untuk membubarkan HTI," ujar Wiranto saat jumpa pers, Senin, 8 Mei 2017 di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat. Saat membacakan keputusan tersebut, Wiranto memaparkan tiga alasan pembubaran. .  Ketiga alasan pembubaran tersebut dinilai Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto tidak memiliki dasar sama sekali.  . “...

Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah

 Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah Penulis: Ustaz Yuana Ryan Tresna Muslimah News, SYARAH HADIS — Hadis yang mengabarkan berita gembira tentang kembalinya Khilafah sangatlah banyak. Tidak benar bahwa hadis bisyarah nabawiyyah (kabar gembira kenabian) akan datangnya Khilafah hanya didasarkan pada hadis riwayat Imam Ahmad. Masih banyak hadis lain yang secara makna sejalan dengan hadis tersebut. Misalnya hadis riwayat Muslim, Ahmad, dan Ibnu Hibban tentang khalifah di akhir zaman yang akan “menumpahkan” harta yang tidak terhitung jumlahnya; hadis tentang akan datangnya Khilafah di Baitulmaqdis (HR Abu Dawud, Ahmad, ath-Thabarani, al-Baihaqi); juga hadis tentang kekuasaan umat Nabi Muhammad yang akan melingkupi dari timur hingga barat (HR Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud). Hadis-hadis ini didukung banyak hadis lain dengan makna yang sama, seperti masuknya Islam ke setiap rumah, al-waraq al-mu’allaq, hijrah setelah hijrah, penaklukan Kota Roma, dan seterusnya. Makna hadis kembalinya Khil...