Sunday, March 15, 2026

MENCARI KEPALA YANG HILANG

 MENCARI KEPALA YANG HILANG


Bayangkan sebuah ilustrasi ayam tanpa kepala !


Makhluk itu tubuhnya tegap, bulu-bulunya masih berkilau, kakinya bergerak lincah. Ia bahkan bisa berlari, melompat, mengais-ngais tanah. Tapi matanya kosong atau lebih tepatnya, tempat matanya yang seharusnya ada kini hanya menjadi rongga yang menganga. Ia bergerak, tetapi tidak tahu ke mana ia melangkah. Ia bereaksi, tetapi tidak mengerti mengapa. Ia hidup, tetapi hanya sisa-sisa naluri yang menggerakkan otot-ototnya, sementara pusat kendali, akal, dan visinya telah lenyap. Ia bergerak dalam lingkaran setan, mengira sedang maju, padahal hanya berputar-putar di tempat yang sama, hingga akhirnya jatuh kehabisan darah dan makna.


Inilah keadaan kita.


Kita adalah tubuh yang perkasa. Jumlah kita berlimpah, tersebar dari timur hingga barat. Masjid-masjid kita menjulang, suara azan menggema, hafalan Al-Qur'an di dada anak-anak kita mengalahkan gemercik air sungai. Tapi di manakah kepala kita? Di manakah pusat kepemimpinan yang menyatukan gerak, yang memberikan arah, yang memancarkan cahaya pemikiran dan visi bagi seluruh tubuh ini?


Kita telah kehilangan Khilafah. Bukan sekadar kehilangan sebuah institusi politik, bukan sekadar runtuhnya sebuah istana. Kita kehilangan kepala kita. Maka, sejak saat itu, tubuh yang perkasa ini pun mulai berjalan tanpa arah. Kita masih bergerak, bahkan sangat sibuk bergerak, tetapi ke mana?


Kita menyelaraskan diri dengan politik kufur, menganggapnya sebagai “kecerdasan praktis”. Kita mengikuti aturan permainan yang bukan kita yang buat, di papan catur yang bukan kita yang rancang. Lalu dengan sibuknya kita mencari-cari dalil, mengutip sepenggal ayat, memelintir sebuah hadits, hanya untuk membenarkan bahwa duduk di kursi permainan mereka adalah “jihad”, bahwa kompromi atas prinsip adalah “hikmah”, bahwa diam terhadap kemungkaran adalah “kesabaran”. Kita menjadi ahli justifikasi.


Lalu, kita pun mulai melupakan jati diri. Identitas agung kita yaitu Muslim, kita campakkan ke pinggir. Sebagai gantinya, kita mengenakan jaket nasionalisme yang sempit. 

Menjadikan kepentingan negara-bangsa sebagai kata akhir, melebihi kepentingan Islam dan kaum Muslimin. Kita terkotak-kotak dalam penjara bernama “nation-state”, warisan pahit kolonial yang meracuni pikiran kita. Kita bersaudara dalam shalat, tetapi bermusuhan dalam politik. Kita satu dalam kalimat tauhid, tetapi terpecah dalam bendera.


Oh, betapa pilunya melihat panji Rasulullah, Al-Liwa’ dan Rayah yang pernah berkibar dari Madinah hingga Konstantinopel, kini dilipat dan disimpan di museum kenangan. Sebagai gantinya kita dengan bangga mengibarkan kain-kain berwarna yang dijahit oleh tangan-tangan penjajah. Setiap bendera itu adalah sebuah garis pemisah, sebuah tembok, sebuah pengakuan bahwa “aku berbeda darimu dan kesetiaanku adalah untuk simbol ini, bukan untuk iman kita.” 


Bendera-bendera itu adalah mantra pemecah-belah yang sukses meretakkan persatuan kita, mengubah satu tubuh utuh menjadi kepingan-kepingan yang mudah dicabik.


Lalu apa yang tersisa? Sebuah tubuh tanpa kepala. Sebuah umat yang reaktif, bukan proaktif. Bergejolak jika dizalimi di satu tempat, tetapi diam jika kehormatan diinjak-injak di tempat lain. Sibuk mengobati luka-luka di sekujur tubuh, tetapi tidak pernah bertanya mengapa pisau itu selalu berhasil menancap. Kita seperti ayam tanpa kepala itu, berlari kesana-kemari, menghabiskan energi, membuat keributan, tetapi tidak pernah sampai pada tujuan. Karena tujuan itu sendiri tidak lagi kita kenali.


Maka, inilah saatnya untuk berhenti sejenak. Berhentilah berlari. Duduklah. Dan tanyakan pada diri kita dengan suara yang paling jujur:


“Siapa aku sebenarnya?”


Apakah aku hanya warga negara sebuah daratan yang batasnya digambar oleh orang asing? Apakah aku hanya bagian dari suku, golongan atau partai politik? Ataukah aku adalah seorang Muslim, yang identitas utamanya berasal dari Kalimatullah, yang kesetiaan utamanya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya, yang tanah airnya adalah seluruh bumi di mana syariat Allah ditegakkan?


Kita harus kembali. Kembali bukan pada nostalgia, bukan pada romantisme sejarah. Kembali pada Dien kita. Pada Islam yang utuh, yang mengatur bukan hanya ibadah mahdhah, tetapi juga kehidupan. Pada sistem yang datang dari Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. Sistem yang pernah memandu tubuh ini menjadi pemimpin peradaban, menjadi rahmat bagi alam semesta.


Kita perlu menemukan kembali kepala kita. Bukan kepala yang baru, tetapi kepala yang sama yaitu Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah. Kepemimpinan yang menyatukan, yang melindungi, yang memandu berdasarkan wahyu. Itulah kepala yang akan menghentikan gerakan tanpa arah. Itulah akal yang akan merencanakan langkah strategis. Itulah mata yang akan memandang jauh ke depan, mengarahkan tubuh ini menuju kemuliaan di dunia dan keselamatan di akhirat.


Tanpa kepala, tubuh hanya akan mati lelah. Dengan kepala, tubuh akan bangkit menjadi raja di atas muka bumi.


Pertanyaannya, Apakah kita masih mau terus menjadi ayam tanpa kepala atau kita akan berusaha dengan segenap jiwa raga untuk menyambung kembali apa yang telah terputus?


Pilihlah! Karena diam dalam keadaan ini, adalah kesepakatan untuk tetap tanpa arah. Dan sejarah tidak akan mengasihani mereka yang memilih untuk tetap tersesat. (fjn)


Editorial Rumah Tsaqofah | Dirancang untuk: Kesadaran Umat

TELAAH KITAB NIDA' HAAR PART 3 : CARA KAPITALISME MENGHANCURKAN STANDAR NILAI ISLAM

 TELAAH KITAB NIDA' HAAR PART 3 : CARA KAPITALISME MENGHANCURKAN STANDAR NILAI ISLAM


Syaikh An-Nabhani mengungkapkan bahwa Serangan Barat terhadap Islam tidak pernah acak.


Ini bukan tembakan sporadis dari musuh yang kebingungan. Ini adalah tembakan penembak jitu yang tahu persis di mana jantung musuh berada. Setiap kali satu hukum Islam diserang, pilihannya tidak pernah sembarangan. Mereka memilih hukum-hukum yang menjadi tiang penyangga sistem. Seperti tentara yang merobohkan tenda dengan mencabut pasaknya satu per satu.


Dan senjata mereka bukan rudal. Senjata mereka adalah standar nilai.


Mereka membawa cermin, lalu berkata "Lihat, ini dirimu." Tapi cermin itu mereka desain sendiri. Ukurannya miring. Lensa yang mereka pasang sudah dikalibrasi dengan logika Cartesian, etika Protestan dan pengalaman sejarah Eropa yang penuh konflik agama. Lalu mereka sodorkan ke wajah kita.


Di sinilah letak kekalahan pertama umat, kita tidak sadar bahwa kita sedang diadili di pengadilan yang hukumnya mereka buat, hakimnya mereka tunjuk dan bahasanya mereka yang menentukan.


"Mereka mengambil satu hukum Islam, lalu memotretnya dengan lensa standar Barat. Hasilnya pasti aneh, pasti timpang, pasti tampak mengerikan. Lalu mereka berteriak ke telinga kita, 'Lihat! Islam tidak manusiawi!' Tujuan mereka bukan diskusi. Tujuan mereka satu, membuat kita ragu."


Dan keraguan itu, sekali menetas akan memakan akal sehat dari dalam.


Mari kita lihat bagaimana lensa itu bekerja.


Poligami. Satu kata yang cukup untuk membuat sebagian Muslim modern bergidik. Di seminar-seminar, di kolom opini, di ruang obrolan kelas menengah, kata ini selalu muncul sebagai "PR besar" umat Islam. Di media Barat, poligami digambarkan sebagai praktik primitif, simbol ketidaksetaraan gender, bukti bahwa Islam tidak bisa berdamai dengan modernitas.


Tapi tunggu.


Syaikh An-Nabhani mengajak kita melihat dari sudut lain. Membongkar kerangka perbandingan yang selama ini timpang.


Di Barat, hubungan pria-wanita tidak pernah benar-benar dimonogamikan secara moral. Yang terjadi adalah pergeseran bentuk: dari pernikahan resmi ke cohabitation, dari satu pasangan ke pasangan bergantian, dari komitmen publik ke privasi yang tidak perlu dipertanggungjawabkan. 


Fakta hari ini berbicara di Swedia, lebih dari separuh anak lahir dari orang tua yang tidak menikah. Di Amerika, perselingkuhan adalah industri senyap yang tidak pernah dihitung sebagai pelanggaran hukum. Di Hollywood, berganti pasangan adalah bagian dari gaya hidup.


Tapi itu semua tidak pernah disebut penindasan. Itu disebut kebebasan.


Kritik Barat terhadap poligami tidak pernah lahir dari kecintaan mereka terhadap keadilan perempuan. 

Ternyata yang mereka serang bukan ketidakadilannya. Yang mereka serang adalah bentuk syar'i-nya. Mereka tidak peduli perempuan ditelantarkan setelah dihamili. Mereka tidak peduli anak-anak tumbuh tanpa figur ayah yang sah. Mereka peduli pada satu hal, bahwa Islam memiliki aturan dan aturan itu berbeda.


Dan perbedaan dalam kamus hegemoni adalah dosa.


Contoh lain, Talak.


Di mata Barat dan mulai di mata sebagian Muslim yang terbaratkan, talak adalah simbol kesewenang-wenangan laki-laki. Kata "cerai" diucapkan, lalu hubungan putus seketika. Tidak ada proses. Tidak ada konseling. Tidak ada kesempatan kedua.


Tapi sekali lagi, ini potret dengan lensa miring.


Syaikh An-Nabhani mengajak kita bertanya, sejak kapan pernikahan dalam Islam dipahami sebagai penjara? Pernikahan dalam Islam adalah akad, yaitu perjanjian yang lahir dari kerelaan dua pihak. Jika perjanjian itu tidak lagi membawa maslahat, jika cinta yang dulu bersemi telah berubah menjadi duri, jika bahtera rumah tangga lebih banyak bocornya daripada layarnya, mengapa harus dipaksakan terus?


Barat, yang mengaku sangat menjunjung kebebasan individu, justru menciptakan sistem pernikahan yang sulit dibubarkan secara terhormat. Di beberapa negara, proses cerai bisa memakan waktu bertahun-tahun. Biaya pengacara menggunung. Anak-anak menjadi rebutan. Yang kaya bisa mengulur waktu, yang miskin terjebak dalam hubungan yang menyakitkan. Ironisnya, di tengah kesulitan itu, perselingkuhan justru menjadi pelarian yang "dimaafkan" karena dianggap manusiawi.


Siapa yang lebih manusiawi, sistem yang memberi jalan keluar yang jelas, bersih dan bertanggung jawab, atau sistem yang mempersulit perceraian lalu membiarkan orang mencari pelarian di belakang punggung pasangan?


Begitu pula Jihad dan Khilafah, Dua Kata yang paling dibajak di abad ini.


Jihad dipelintir menjadi sinonim teror. Padahal, jika kita mau jujur, siapa yang lebih banyak mengirim tentara ke seberang lautan? Negara-negara yang mengklaim membela perdamaian, menyerang negara lain atas nama demokrasi.


Tapi tidak ada yang menyebut mereka agresor dalam narasi media arus utama. Mereka disebut pelindung perdamaian. Mereka disebut mitra keamanan. Mereka disebut aliansi strategis.


Sementara seorang pemuda di Palestina yang melempar batu ke tank Israel disebut teroris.


Sekali lagi, ini bukan soal fakta. Ini soal siapa yang punya kuasa memberi nama.


Lalu Khilafah. Sistem pemerintahan yang menyatukan umat di bawah satu kepemimpinan. Kata ini langsung disambung dengan diktator. Padahal, jika kita bicara soal konsentrasi kekuasaan di satu tangan, bukankah presiden di sistem demokrasi juga menjalankan kekuasaan eksekutif seorang diri? Bukankah Perdana Menteri Inggris, Presiden Amerika, Kanselir Jerman, semuanya adalah satu orang yang memimpin?


Lalu apa bedanya?


Syaikh An-Nabhani menjawab dengan tenang, Bedanya ada pada sumber legitimasi dan mekanisme pertanggungjawaban. Dalam Khilafah, khalifah dipilih oleh umat melalui baiat bukan warisan, bukan kudeta. Dan setelah terpilih, ia bukan tandingan Tuhan. Ia adalah hamba yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya. Jika ia menyimpang, ia diingatkan. Jika ia zalim, ia dijatuhkan. Ini bukan sistem surgawi yang bebas cela, tapi ini sistem yang dengan jujur mengakui bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan perlu kontrol, baik dari masyarakat maupun dari keyakinan kepada Hari Pembalasan.


Sementara di sistem demokrasi liberal, legitimasi berasal dari suara rakyat yang bisa dibeli, direkayasa, dipengaruhi media, dan dimanipulasi oleh modal. Pertanggungjawaban hanya sebatas periode jabatan. Setelah itu, dosa-dosa kekuasaan seringkali dikubur bersama arsip yang dirahasiakan.


Maka, ketika Barat menyebut Khilafah sebagai "diktator", yang mereka serang bukan bentuk pemerintahannya. Mereka menyerang sumber hukumnya. Mereka tidak tahan bahwa ada sistem yang tidak menjadikan kehendak manusia sebagai otoritas tertinggi. Mereka tidak rela bahwa ada peradaban yang menempatkan Tuhan di atas parlemen.


Dan di sinilah, kata Syaikh An-Nabhani, perang sesungguhnya terjadi. Bukan perang tentara. Tapi perang standar nilai.


Yang paling cerdik dari serangan ini, menurut Syaikh An-Nabhani adalah ketika mereka menggunakan isu-isu yang tidak dikenal di masa lalu.


Asuransi, Bursa saham dan parlemen.


Pertanyaan-pertanyaan ini tidak diajukan karena mereka sungguh-sungguh ingin tahu jawaban Islam. Mereka ajukan dengan asumsi yang sudah terkunci, bahwa satu-satunya jawaban yang bisa diterima adalah jawaban yang mirip dengan sistem Kapitalisme.


Maka jebakannya terbentang rapi, Jika ulama berkata "Islam tidak mengenal asuransi konvensional karena mengandung gharar dan riba", mereka akan berkata, "Berarti Islam tidak bisa menjawab kebutuhan proteksi modern."


Di sinilah Syaikh An-Nabhani mengingatkan tentang bahaya yang paling halus, kita mulai berpikir bahwa Islam harus dibuktikan kebenarannya dengan standar mereka.


Padahal, dalam perang pemikiran pihak yang menentukan standar adalah pihak yang akan menang. Jika kita setuju diuji dengan parameter Kapitalisme, maka seberapa keras pun kita berusaha membela diri, kita sudah kalah sebelum memulai. Karena standar itu sendiri musuh kita.


Di sinilah letak tragedi terbesar umat, kata Syaikh An-Nabhani.


Bukan ketika kita kalah perang. Bukan ketika kita dijajah secara fisik. Tapi ketika kita mulai malu dengan syariat kita sendiri.


Malu ketika disebut kolot. Malu ketika dibilang tidak modern. Malu ketika diejek sebagai fundamentalis. Maka kita pun berlari mencari pembenaran. Kita cari-cari dalil yang "progresif". Kita tafsir ulang ayat-ayat dengan cara agar tidak berbenturan dengan arus utama global. Kita buat jargon "Islam yang ramah", "Islam Nusantara", "Islam moderat"—semuanya benar dan baik, tapi seringkali lahir dari posisi defensif, bukan dari kemandirian epistemologis.


Kita membela diri sepanjang waktu. Kita menjelaskan bahwa Islam tidak seperti yang mereka kira. Tapi dalam proses menjelaskan itu, tanpa sadar kita memberi mereka hak prerogatif sebagai penguji.


Dan perlahan tanpa terasa, Islam tidak lagi kita lihat sebagai sistem yang berdaulat. Ia berubah fungsi. Ia menjadi sekadar simbol identitas, kita shalat, kita puasa, kita pakai jilbab, kita baca Al-Qur'an di pemakaman. Tapi ketika bicara ekonomi, kita ikut kapitalisme. Ketika bicara politik, kita ikut demokrasi. Ketika bicara hukum, kita ikut civil law. Ketika bicara hubungan internasional, kita ikut Westphalia.


Islam hadir di masjid. Ia tidak hadir di parlemen. Ia hadir di pengajian. Ia tidak hadir di kebijakan fiskal.


Inilah yang Syaikh An-Nabhani sebut sebagai keruntuhan diam-diam. Sebuah sistem tidak harus runtuh dengan bom. Ia runtuh saat para pemeluknya tidak lagi percaya bahwa sistem itu mampu mengatur hidup mereka.


Di tengah gelombang serangan pemikiran yang datang dari segala arah, An Nabhani menawarkan satu jalan keluar yang tampak sederhana tapi sangat berat yaitu kembali pada kejernihan berpikir.


Apa artinya?


Artinya, berhenti membiarkan orang lain menentukan standar nilai kita. 

An Nabhani mengajarkan satu hal yang sering dilupakan di tengah hiruk-pikuk aktivitas, bahwa pertempuran terbesar umat Islam hari ini bukan di medan fisik, tapi di kepala. Bukan merebut gedung, tapi merebut kembali standar nilai. Bukan mengalahkan musuh dengan senapan, tapi membongkar kerangka berpikir yang selama ini membelenggu.


Nida' Haar bukan sekadar kritik. Ia adalah panggilan untuk bangkit. Bukan bangkit dengan amarah yang membabi buta, tapi bangkit dengan kejernihan yang menusuk.


Editorial Rumah Tsaqofah | Dirancang untuk: Kesadaran Umat

MENGAPA ADA "REZIM INKOMPETEN DAN NEGARA KATERING

 MENGAPA ADA "REZIM INKOMPETEN DAN NEGARA KATERING"?


Sebuah pernyataan yang mungkin membuat sebagian orang gelisah dan sebagian lain merasa "Akhirnya ada yang bicara."


Tio Ardianto, Ketua BEM KM Universitas Gadjah Mada, tidak main-main dengan diksi. Ia menyebut pemerintahan saat ini, di bawah komando Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka tidak hanya keliru, tetapi sistemik dalam ketidakmampuannya.


Dalam podcast YouTube Forum Keadilan TV, Tio menyoroti tiga hal utama. Yang pertama mungkin yang paling menggelitik sekaligus memprihatinkan adalah ihwal rekrutmen menteri dan pejabat.


"Mekanisme perekrutan menteri dan kepala lembaga lebih mengedepankan  akomodasi politik ketimbang kompetensi," tegasnya. Ini bukan soal salah pilih orang, tapi soal sistem yang sejak awal sudah cacat.


Proses pembentukan kabinet selalu jadi ajang dagang sapi politik. Kursi menteri adalah hadiah untuk loyalitas. Tapi Tio bilang, kali ini lebih parah, yang diutamakan adalah orang-orang yang pandai "menyenangkan hati Presiden," bukan mereka yang bisa bekerja untuk rakyat.


Logika sederhananya, Bayangkan Anda sakit. Anda datang ke rumah sakit, tapi yang menangani bukan dokter, melainkan seseorang yang ahli merangkai bunga karena dia dekat dengan direktur rumah sakit. Kira-kira, sembuh atau makin parah?


Poin kedua inilah yang paling viral di media sosial. Soal Badan Gizi Nasional.


Program makan siang gratis yang katanya untuk mencerdaskan anak bangsa ternyata dipimpin oleh ahli serangga. Tio dengan nada satir melontarkan pertanyaan tajam, "Bagaimana mungkin lembaga sebesar Badan Gizi Nasional justru dipimpin oleh seseorang yang latar belakangnya ahli serangga, bukan ahli gizi? Kita punya ribuan ahli gizi kompeten yang justru tidak diberi peran."


Ini sama sekali bukan upaya merendahkan profesi entomolog. Tapi logika sederhananya, Jika Anda ingin membangun jembatan, apakah Anda memanggil ahli tata kota atau ahli geologi? Mereka sama-sama penting. Tapi tidak di situ tempatnya.


Tio menyebut ini bentuk penghinaan terhadap ilmu pengetahuan. Dan ketika sebuah rezim tidak menghargai ilmu, yang terjadi adalah kebijakan yang amburadul. Ketika kompetensi dikalahkan oleh kedekatan, maka yang berkuasa adalah mereka yang pandai mencari muka, bukan mereka yang pandai bekerja.


Tapi tunggu, masih ada lagi. Tio juga menyoroti keterlibatan aparat kepolisian dalam program ini secara masif. Lebih dari 1.700 Satuan Pelayanan Program Gizi atau SPPG disiapkan. Polisi yang seharusnya sibuk menangani begal, mafia tanah dan kejahatan jalanan, kini sibuk mengurusi katering.


Dan inilah kutipannya "Jangan sampai ini berubah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, menjadi Negara Katering Republik Indonesia."


Keras? Iya. Tapi coba kita lihat realitasnya. Apakah ini bukan potret ironi? Di satu sisi, angka kriminalitas masih tinggi, penegakan hukum masih timpang, aparat kewalahan menghadapi kejahatan siber dan narkoba. Tapi di sisi lain, aparat dikerahkan untuk membagi-bagi nasi kotak.


Pertanyaan Tio menggantung, "Apakah tugas menangani kriminalitas, begal dan kejahatan sudah selesai sehingga polisi harus sibuk mengurusi katering?"


Sekarang, poin ketiga. Ini soal anggaran pendidikan. Tio menyebut pemerintah melakukan kesalahan fatal dengan memasukkan anggaran program makan gratis sebesar Rp223 triliun ke dalam pos anggaran pendidikan.


Padahal, konstitusi mewajibkan 20 persen APBN untuk pendidikan. Ini adalah amanat yang tidak bisa ditawar. Langkah memasukkan program katering ke pos pendidikan dianggap melanggar mandatory spending yang sudah diatur konstitusi.


"Ini adalah bentuk ketidakmampuan berpikir sistematis. Anggaran yang harusnya untuk merenovasi sekolah dan menyejahterakan guru, justru diambil untuk program katering yang tata kelolanya sangat rawan disalahgunakan," tambahnya.


Logikanya demikian, Anggaran yang seharusnya untuk merenovasi sekolah yang hampir roboh, untuk menyejahterakan guru honorer yang gajinya di bawah UMR, untuk membeli buku dan alat peraga, disunat dan dialihkan untuk program yang secara teknis adalah program pangan.


Ini bukan soal pro atau kontra terhadap makan siang gratis. Ini soal kejujuran administrasi negara. Ini soal tata kelola. Kalau dari hulu saja sudah amburadur, bagaimana mungkin kita berharap hilirnya jernih?


Tapi ada satu perspektif yang perlu kita garis bawahi. Sistem demokrasi dengan segala mahar politiknya, dengan biaya kampanye yang selangit, memang melahirkan konsekuensi logis. Ketika seseorang sudah mengeluarkan uang banyak untuk "membeli" kursi, maka ia akan mencari cara untuk mengembalikan modalnya. Baik lewat proyek, lewat jabatan atau lewat balas jasa kepada para donatur.


Inilah yang disebut sebagai demokrasi kapitalistik. Di mana suara rakyat terwakili, tapi hanya untuk mereka yang punya uang. Di mana pejabat terpilih, tapi lebih sibuk melayani "investor politik" ketimbang konstituennya. Di mana pemilihan pejabat lebih mementingkan faktor politik sebagai balas jasa, bukan kompetensi untuk melayani rakyat.


Maka, ketika Tio bicara tentang "rezim inkompeten", ia sebenarnya sedang menyentuh akar masalahnya yaitu Sistem yang salah melahirkan orang-orang yang salah di tempat yang salah.


Pemerintahan yang dibangun di atas keangkuhan dan ketidakmampuan hanya akan membawa negara pada proses "pembusukan" dari dalam.


Karena negara sebesar Indonesia tidak bisa dikelola dengan trial and error. Tidak bisa dijalankan dengan "yang penting loyal". Tidak bisa dibangun di atas punggung para yes man.


Rakyat butuh pemimpin yang cerdas. Rakyat butuh pejabat yang kompeten. Dan rakyat butuh sistem yang memastikan itu terjadi, bukan hanya slogan. Dan itu hanya akan didapat dari sistem yang lahir dari Sang Pencipta Alam Semesta, yaitu sistem Islam. (fjn)


Editorial Rumah Tsaqofah dari berbagai sumber | Dirancang untuk: Kesadaran Umat

Fluktuasi Harga Emas

 بسم الله الرحمن الرحيم

#جواب_سؤال:

Fluktuasi Harga Emas

Kepada Ahmad Said

=========


#Pertanyaan:

Wahai syekh kami yang mulia, semoga keselamatan, rahmat, dan berkah Allah senantiasa tercurah kepadamu.

Aku berharap pertanyaanku ini sampai kepadamu dalam keadaan sehat dan bugar. Aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar senantiasa membimbingmu untuk memuliakan agama-Nya dan menegakkan syariat-Nya. Pertanyaanku adalah:


"Dalam beberapa waktu terakhir, kita menyaksikan lonjakan harga emas yang sangat signifikan, mencapai berkali-kali lipat dari harga aslinya hanya dalam beberapa tahun. Apakah ini berarti bahwa emas sebagai logam mulia yang stabil dan sebagai standar mata uang tidak lagi demikian, melainkan menjadi sesuatu yang dapat berubah? Ataukah perubahan ini disebabkan oleh kendali beberapa rezim dan kondisi politik tertentu?


Jika demikian halnya, bagaimana negara Islam yang akan segera hadir, insya Allah, dapat menjaga stabilitasnya dan mencegah manipulasi terhadapnya oleh musuh-musuh Islam? Semoga Allah memberkatimu.


Saudaramu karena Allah, Ahmad Said, dari Bumi Isra' Mi'raj, Palestina."


#Jawaban:

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.


Sesungguhnya fluktuasi harga emas terjadi karena emas dianggap sebagai salah satu komoditas. Oleh karena itu, spekulasi memengaruhinya, baik naik maupun turun, terutama karena negara-negara besar di dunia, khususnya Amerika Serikat, berkepentingan agar sumber utama transaksi adalah dolar. Mereka mencetak dolar sebanyak-banyaknya atau menguranginya tanpa pengawasan. Selain itu, karena Amerika memiliki hubungan kolonial dengan sejumlah negara, hal ini membantu stabilitas nilai dolar dalam banyak situasi, seolah-olah dolar adalah emas.


Andai keadaannya berbeda, di mana mata uang adalah emas dan setiap uang kertas yang dicetak harus memiliki cadangan emas yang dapat ditukarkan kapan saja (yang disebut sebagai uang kertas pengganti/representatif), maka semua uang kertas wajib (yaitu yang bukan pengganti/representatif) tidak akan bernilai lebih dari sekadar kertas tempat ia dicetak.


Agar gambaran menjadi lebih jelas, saya akan menyebutkan dua hal yang dapat membantu pemahaman:


Pertama: Saya telah menguraikan dalam buku saya "Krisis Ekonomi: Realitas dan Penanganannya dalam Perspektif Islam" sebagai berikut:


(Krisis ekonomi sebagai akibat dari realitas mata uang:

Ketika dunia masih menggunakan sistem standar emas dalam transaksi keuangannya, mereka berada dalam fase kemakmuran ekonomi dan stabilitas moneter. Ketika sistem ini ditinggalkan dan transaksi beralih menggunakan uang kertas wajib yang tidak memiliki cadangan emas, keadaan menjadi semakin buruk, dan krisis pun silih berganti terjadi.


Sistem standar emas menjamin nilai tukar yang stabil karena unit moneter setiap negara adalah emas atau uang kertas yang mewakili nilai penuhnya dalam emas dan dapat ditukarkan kapan saja. Oleh karena itu, nilai tukar antar mata uang negara-negara tersebut stabil karena semuanya mengacu pada unit emas yang disepakati. Sebagai contoh, dinar dalam Islam ditetapkan sebesar 4,25 gram emas. Poundsterling Inggris ditetapkan secara hukum sebesar dua gram emas murni. Franc Prancis setara dengan satu gram emas, dan seterusnya. Karena itulah nilai tukar menjadi stabil.


Sistem ini berhasil mewujudkan stabilitas dan mempertahankan nilai unit moneter, baik di tingkat domestik maupun internasional. Buktinya, indeks harga dalam emas pada tahun 1910 hampir sama dengan levelnya pada tahun 1890.


Adapun setelah sistem ini dihapuskan, terjadinya krisis menjadi sangat mencolok...)*


Kedua: Bahwa tidak perlu dikhawatirkan terhadap mata uang negara (Islam) ketika negara itu tegak, insya Allah. Tidak perlu dikhawatirkan akan terpengaruh oleh spekulasi negara lain jika mereka menolak menjadikan emas dan perak sebagai mata uang mereka, tetap menggunakan sistem uang kertas, lalu mencoba memengaruhi negara Islam. Hal ini karena negeri-negeri Muslim memiliki keistimewaan yang membuat mereka aman dari segala spekulasi eksternal. Dalam Sistem Ekonomi (Nidham al-Iqtishad) disebutkan mengenai hal ini sebagai berikut:


(... Nilai tukar antara mata uang negara Islam dan mata uang negara lain tidak memengaruhi negara Islam karena dua alasan:


Pertama, negeri-negeri Islam memiliki semua bahan mentah yang dibutuhkan oleh umat dan negara. Mereka tidak membutuhkan barang dari luar negeri secara fundamental atau darurat. Oleh karena itu, mereka dapat mencukupi diri dengan produk lokal mereka, sehingga perubahan nilai tukar tidak memengaruhi mereka.


Kedua, negeri-negeri Islam memiliki komoditas, seperti minyak misalnya, yang dibutuhkan oleh semua negara di dunia. Mereka dapat menolak menjualnya kepada siapapun kecuali jika dibayar dengan emas. Negara yang dapat mencukupi kebutuhannya sendiri dari produk lokalnya, dan yang memiliki komoditas yang dibutuhkan oleh semua orang, sama sekali tidak akan terpengaruh oleh perubahan nilai tukar. Justru negara itulah yang dapat mengendalikan pasar keuangan dunia, dan tidak ada seorang pun yang dapat mengendalikan mata uangnya.]


Maka tenanglah, wahai saudaraku yang mulia. Sesungguhnya di dalam Hizb terdapat para pemimpin yang memiliki kecerdasan, kesadaran, dan kemampuan bertindak yang baik. Dan sebelum itu serta sesudahnya, ada pertolongan Allah dan taufik-Nya, Yang Maha Suci, yang cukup untuk membalas tipu daya musuh-musuh Islam ke dada mereka sendiri. Dan Allah senantiasa melindungi orang-orang saleh.


Aku berharap penjelasan ini cukup. Wallahu A'lam wa Ahkam.


Saudaramu,

Atha' bin Khalil Abu al-Risytah

07 Ramadhan 1447 H

Bertepatan dengan 24 Februari 2026 M


#Amir_Hizbut_Tahrir

Telaah Kitab Nida' al-Haar Part 4 : Serangan terhadap Perasaan Islam

 Telaah Kitab Nida' al-Haar Part 4 : Serangan terhadap Perasaan Islam


Pernahkah kita bertanya dalam hati, Mengapa umat sebesar ini bisa begitu lemah? Mengapa kita seolah kehilangan daya untuk marah saat agama kita dihinakan dan kehilangan gairah saat kebenaran diserukan?


Malam yang sunyi seringkali menjadi saksi bisu kegelisahan kita. Di tengah hening, hati berbicara lebih jernih. Dan dalam kejernihan itulah kita diajak untuk menyelami sebuah kitab Nida' al-Haar yang ditulis oleh seorang pemikir besar abad ini, Syaikh Taqiyuddin An Nabhani.


Mungkin kita bertanya, apa maksudnya 'perasaan Islam'? Bukankah Islam itu soal keyakinan di kepala dan amal di tangan?


Syaikh Taqiyuddin mengajak kita melihat lebih dalam. Beliau berkata bahwa ideologi tidak hanya hidup di otak, ia juga hidup di hati. Ia adalah dorongan batin, sensitivitas, kecintaan, kemarahan, loyalitas dan kebencian yang lahir dari akidah. Inilah yang disebut Perasaan Islam


Bayangkan ini seperti sebuah bangunan megah. Pemikiran Islam adalah pondasi dan tiangnya, hukum-hukumnya adalah dinding dan atapnya. Tapi perasaan Islam? Itulah nyawa yang membuat bangunan itu hidup, berpendar dan hangat. Ia adalah semangat yang membuat penghuninya rela berkorban, rela mencintai dan membenci karena Allah.


Dan di sinilah titik paling berbahaya dari serangan musuh. Mereka tahu, jika hanya menyerang pemikiran, umat bisa berdebat. Jika menyerang hukum, umat bisa mencari dalil. Tapi jika mereka berhasil membunuh perasaan ini, maka umat akan mati sebelum menyadari kematiannya. Mereka akan menjadi mayat-mayat yang berjalan.


Inilah langkah pertama dan yang paling mendasar.


Dalam Al-Qur'an, ada konsep yang sangat jelas Al-Wala' wal Bara', loyalitas hanya kepada Islam dan kaum Muslim serta berlepas diri dari kekufuran dan pelakunya. Inilah dinding pemisah yang menjaga identitas kita.


Maka, serangan pertama diarahkan ke sini. Dengan lembut, didengungkanlah kata-kata manis:


"Mengapa harus membeda-bedakan? Bukankah kita semua manusia?"

"Cinta khusus kepada Muslim itu namanya fanatisme!"

"Marah jika Islam dihina? Itu namanya ekstremisme!"


Mereka ganti konsep agung ini dengan slogan-slogan universal yang tampak indah, "Kemanusiaan di atas agama," atau "Semua agama sama saja."


Ujung-ujungnya, batas antara iman dan kufur menjadi kabur. Seorang Muslim bisa duduk tenang bersama para penghina Islam, karena "yang penting kan kemanusiaan." Identitas kita dikoyak sedikit demi sedikit. Kita menjadi netral, tidak punya teman sejati dan tidak punya musuh yang jelas.


Setelah tali loyalitas diputus, mereka menawarkan pengganti. Inilah langkah kedua.


Ikatan ummah yang begitu luas, yang mempersaudarakan seorang Muslim di Aceh dengan Muslim di Maroko, dipersempit. Dipersempit menjadi ikatan tanah air, bangsa, etnis dan bahasa.


Tiba-tiba, kita lebih bangga sebagai orang Jawa, orang Sunda, orang Batak, daripada bangga sebagai Muslim. Orang Turki dibanggakan dengan keTurkiannya, orang Arab dengan keArabannya.


Semangat ukhuwah Islamiyah yang dulu mampu merobohkan tembok-tembok Persia dan Romawi, kini terkikis habis oleh tembok-tembok baru bernama nasionalisme. Umat pun terpecah belah. Lihatlah konflik di mana-mana, saudara satu agama saling membunuh hanya karena berbeda bendera. Inilah hasilnya, sebuah alat pemisah yang sangat ampuh.


Lalu, masuk ke tahap yang lebih berbahaya. Ini bukan lagi serangan fisik, tapi serangan terhadap harga diri.


Dengan dalih kebebasan berpikir dan penelitian ilmiah, simbol-simbol suci kita diinjak-injak. Al-Qur'an dikritik habis-habisan. Kenabian Muhammad dipertanyakan. Para sahabat yang mulia dicaci maki.


Dan yang lebih menyakitkan, ketika kita marah, kita dibilang kolot, tidak toleran, tidak bisa menerima kritik. Kita diminta untuk diam, untuk tersenyum, untuk menerima semua itu sebagai bagian dari diskusi akademik.


Sedikit demi sedikit, ghirah Islamiyah, api cemburu kita terhadap agama dipadamkan. Kita diajari untuk tidak tersinggung. Akhirnya, hati kita mati rasa. Mendengar ayat suci diejek, kita hanya angkat bahu. Melihat Nabi dihina, kita hanya bisa diam.


Inilah yang disebut Syaikh Taqiyuddin sebagai mengubah arah emosi umat.


Setiap ideologi melahirkan perasaan khas. Islam melahirkan kebanggaan, kemarahan saat ada yang mengancam kebenaran dan kesedihan saat umat terpuruk.


Sekarang, arah itu diputar balikkan:


· Kebanggaan terhadap Islam diganti dengan rasa malu, malu disebut fundamentalis, malu berjenggot, malu bercadar.

· Kemarahan terhadap kemungkaran diganti dengan sikap acuh tak acuh.

· Kesedihan atas kehinaan umat diganti dengan penerimaan pasif: "Ya sudah, mungkin ini takdir."


Umat kehilangan sensitivitasnya. Bagaikan orang yang sudah kehilangan indra peraba, ia tak lagi merasakan panasnya api neraka yang mengancam orang-orang kafir dan tak lagi merasakan dinginnya nikmat surga yang dijanjikan untuk orang-orang beriman.


Puncaknya adalah ketika mereka berhasil mengganti spiritualitas Islam.


Spiritualitas yang agung, yang lahir dari akidah yang benar dan melahirkan komitmen pada syariat diganti dengan spiritualitas instan. Spiritualitas yang hanya soal perasaan pribadi, tanpa ada kaitannya dengan aturan hukum. Pengalaman batin yang tidak punya dampak sosial. Moralitas tanpa sistem.


Islam direduksi menjadi sekadar nilai-nilai moral yang abstrak, etika personal dan pengalaman rohani privat. Islam tidak lagi bicara soal politik, soal pemerintahan, soal aturan jual beli, soal sanksi hukum. Islam hanya jadi urusan pribadi antara hamba dengan Tuhannya di dalam masjid.


Syaikh Taqiyuddin menyimpulkan bahwa dampaknya sangat dalam:


· Umat tidak lagi merasakan sakit atas kehinaan politiknya.

· Tidak lagi marah atas penerapan hukum kufur.

· Tidak lagi bangga atas sejarah dan syariatnya.

· Tidak lagi memandang Islam sebagai identitas kolektif.


Islam tersisa sebagai:


· ibadah individual,

· tradisi budaya,

· simbol identitas lemah.


Inilah yang disebut Syaikh Taqiyuddin sebagai kekalahan perasaan.


Mungkin kita bertanya-tanya, apa yang bisa kita perbuat?


Langkah pertama adalah menyadari. Sadarilah bahwa perasaan kita adalah medan jihad. Jangan biarkan api kecintaan kepada Islam padam dalam dada. Jaga kemarahan kita hanya untuk Allah. Rawatlah rasa bangga menjadi seorang Muslim. Rawatlah rasa sakit ketika Islam dilecehkan.


Karena dari perasaan-perasaan inilah, lahir generasi yang mampu mengubah dunia. Dari dada yang bergelora karena cinta kepada-Nya, lahirlah para pahlawan, para pejuang, para pembebas.


Mari kita jaga perasaan Islam ini. Karena ia adalah kunci kemenangan yang hakiki.(fjn)


Editorial Rumah Tsaqofah | Dirancang untuk: Kesadaran Umat

Strategi Amerika Menaklukkan Iran

 Strategi Amerika Menaklukkan Iran 


Tanggal 28 Februari 2026, Dunia dikejutkan oleh gempuran gelombang rudal dan pesawat nirawak yang melintasi langit Persia. Menteri Pertahanan Israel, dalam konferensi pers darurat yang disiarkan TRT WORLD, mengonfirmasi bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah melancarkan serangan presisi terhadap fasilitas-fasilitas strategis di wilayah Iran. Ledakan dilaporkan mengguncang Tehran, Isfahan,Qom dan Tabriz.


"Operasi ini merupakan respons terhadap ancaman eksistensial yang terus berkembang," demikian pernyataan resmi militer Israel. Namun, di balik narasi resmi itu, tersembunyi sebuah drama geopolitik yang telah dirancang jauh sebelumnya, sebuah skenario di mana Amerika Serikat, sang dalang di balik layar, menuai keuntungan tanpa harus mengotori tangannya sendiri.


Untuk memahami serangan 28 Februari 2026, kita harus mundur ke akar perseteruan yang sengaja dipelihara. Sejak 1 April 2024, ketika Israel mengebom kedutaan besar Iran di Damaskus dan menewaskan komandan Pasukan Quds, Mohammad Reza Zahedi, pola eskalasi yang terkendali mulai terlihat. Serangan balasan Iran pada 13 April 2024 terhadap pangkalan militer Israel direspons dengan serangan terbatas Israel di Isfahan pada 19 April 2024, sebuah pola "tinju dan pelukan" yang menjadi ciri khas konflik modern.


Namun, titik balik sesungguhnya terjadi 13 Juni 2025, Israel melancarkan "Operasi Singa Bangkit", serangan besar-besaran terhadap fasilitas nuklir Natanz, Khondab dan kediaman pribadi pejabat tinggi Iran.


Media pemerintah Iran saat itu melaporkan gugurnya tokoh-tokoh kunci, Komandan Garda Revolusi Hossein Salami, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jenderal Mohammad Bagheri, serta ilmuwan nuklir Fereydoon Abbasi dan Mohammad Mehdi Tehranchi. Total korban jiwa mencapai 610 orang, dengan ribuan lainnya luka-luka.

Iran membalas ratusan rudal ke wilayah entitas Yahudi dengan kerusakan yang tidak signifikan.


Yang menarik, Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump tidak hanya memberikan lampu hijau, tetapi juga secara aktif mendukung operasi tersebut. Pengiriman 300 rudal AGM-114 Hellfire beberapa hari sebelum serangan.


Pada 22 Juni 2025, AS secara terbuka menyerang fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan. Iran membalas dengan serangan simbolik terhadap pangkalan Al Udeid di Qatar pada 23 Juni 2025, setelah memberi peringatan terlebih dahulu kepada AS. Trump berterima kasih atas "pemberitahuan awal" yang memungkinkan tidak ada korban jiwa, menegaskan bahwa serangan itu hanyalah simbolik.


Gencatan senjata diumumkan pada 24 Juni 2025 melalui platform Truth Social. Trump, yang menyalakan api perang, kini memadamkannya dan dalam prosesnya, mencapai tujuan strategisnya.


Gencatan senjata Juni 2025 ternyata hanyalah jeda taktis. Di balik layar, negosiasi intensif berlangsung di Muscat, Oman. Amerika mengajukan proposal yang menggoda, menurut empat sumber yang dapat dipercaya bantuan hingga 30 miliar dolar untuk program nuklir sipil Iran, keringanan sanksi, dan pembebasan dana beku, dengan satu syarat mutlak, "penghentian total pengayaan uranium Iran."


Iran, yang terluka secara militer dan psikologis, berada di persimpangan. Pemimpin tertingginya, Ali Khamenei, pernah menyatakan bahwa Iran tidak memerlukan izin siapa pun untuk memperkaya uranium. Namun, realitas di lapangan berkata lain, fasilitas nuklir hancur, ilmuwan tewas dan dukungan internasional menguap.


Ketika batas waktu negosiasi berakhir tanpa kesepakatan, Israel kembali bertindak. 28 Februari 2026 rentetan rudal jelajah dan pesawat nirawak siluman menghantam.


Menteri Pertahanan Israel, dalam wawancara eksklusif dengan TRT WORLD, menyatakan: "Kami tidak akan membiarkan Iran memiliki kapasitas untuk mengancam keberadaan kami. Operasi ini adalah pesan bahwa waktu telah habis."


Di sinilah inti dari seluruh narasi ini. Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Donald Trump, telah merancang skenario yang memungkinkannya menuai keuntungan maksimal dengan risiko minimal.


Sejak era Obama, AS mengkhawatirkan ambisi nuklir Iran. Kesepakatan 2015 (JCPOA) hanya menunda, tidak menghilangkan, kemampuan Iran. Trump, yang menarik AS dari kesepakatan itu pada 2018, menginginkan solusi final, model Libya, di mana program nuklir dibongkar total.


Salah satu tujuan jangka panjang AS juga adalah membangun aliansi strategis antara Israel dan negara-negara Arab Sunni untuk melawan Iran. Konflik ini menjadi katalis sempurna.


Selama krisis, negara-negara Teluk, meskipun secara publik menyerukan penghentian kekerasan, secara diam-diam memberikan intelijen dan akses wilayah udara kepada Israel. Arab Saudi dan UEA melihat Iran sebagai ancaman eksistensial yang lebih besar daripada Israel.


Trump, dalam pernyataannya, menyebut bahwa "negara-negara di kawasan harus bersatu melawan terorisme Iran." Ini adalah bahasa yang dirancang untuk meleburkan entitas Yahudi ke dalam arsitektur keamanan regional, mengalihkan konflik dari isu Palestina menjadi isu sektarian.


Konsep "orbit" dalam hubungan internasional merujuk pada negara-negara yang secara de facto berada di bawah pengaruh kekuatan besar. Iran, sejak revolusi 1979, telah berusaha keluar dari orbit AS. Namun, realitasnya berbeda.


Iran membantu AS dalam pendudukan Afghanistan dan Irak. Iran melindungi rezim Bashar Assad di Suriah, yang merupakan sekutu AS melawan Islamis. Iran membiarkan proksinya di Yaman dan Lebanon dikendalikan oleh AS. Semua ini dilakukan dengan harapan menjadi kekuatan regional yang diakui.


Namun, AS tidak pernah melihat Iran sebagai mitra sejajar. Ketika Iran mulai menunjukkan kemandirian, terutama dalam program nuklirnya, AS menggunakan Israel sebagai "hantaman" untuk mengembalikan Iran ke dalam orbit.


Serangan 28 Februari adalah strategi terbaru. 


Setelah Iran melemah, AS memegang kendali penuh atas proses negosiasi. Tidak ada lagi tawar-menawar. AS menentukan syarat, Iran dipaksa menerima.


Keuntungan ekonomi di sini sangat besar. Iran memiliki cadangan minyak dan gas terbesar keempat di dunia. Dengan program nuklir yang dinetralisir dan sanksi yang secara bertahap dicabut, perusahaan-perusahaan Amerika siap memasuki pasar Iran.


Trump, seorang pebisnis, melihat ini sebagai peluang emas. Dalam proposal yang bocor, disebutkan bahwa investasi perusahaan AS di sektor minyak, gas, penerbangan dan infrastruktur Iran bisa mencapai ratusan miliar dolar. Iran yang "jinak" adalah pasar yang menggiurkan.


Selain itu, dengan mengendalikan program nuklir sipil Iran, AS juga mengendalikan teknologi dan pengawasan. Iran tidak akan pernah bisa mengembangkan kemampuan militer rahasia.


Setiap serangan adalah latihan perang nyata. AS mengamati, merekam dan menganalisis. Data ini akan digunakan untuk merancang strategi masa depan, baik melawan Iran maupun kekuatan lain seperti China atau Rusia.


Salah satu aspek paling menarik dari drama ini adalah peran ganda Donald Trump. Di satu sisi, ia mendorong Israel untuk menyerang. Di sisi lain, ia menawarkan gencatan senjata dan negosiasi.


Pada 13 Juni 2025, setelah serangan Israel, Trump memujinya. Pada 22 Juni 2025, ia memerintahkan serangan AS. Pada 24 Juni 2025, ia mengumumkan gencatan senjata. Pada 27 Juni 2025, berdasarkan empat sumber yang dapat dipercaya mengajukan proposal bantuan 30 miliar dolar.


Trump bermain di dua sisi, sebagai agresor dan sebagai mediator. Ini adalah strategi klasik "polisi baik-polisi jahat," tetapi dalam skala global.


Pada 28 Februari 2026, pola ini berulang. Serangan Israel terjadi dan Trump bahkan secara terbuka menyetujuinya. Ini adalah strategi yang dirancang untuk kembali nantinya melakukan gencatan senjata dan perundingan.


Israel, meskipun secara teknis menang, tidak keluar sebagai pemenang mutlak. Justru, dengan terlibat dalam konflik dengan Iran, Israel semakin teralienasi dari dunia internasional.


Ketika debu perang mereda, AS muncul sebagai satu-satunya kekuatan yang utuh, dengan kendali penuh atas minyak, keamanan dan diplomasi kawasan.


Konflik ini menyisakan pelajaran pahit bagi dunia Islam. Ketika umat terpecah belah ke dalam negara-bangsa yang lemah, ketika penguasa lebih takut kepada AS daripada kepada Allah, ketika kepentingan sempit mengalahkan solidaritas Islamiyah, maka musuh akan dengan mudah memecah belah dan menguasai.


Iran, yang pernah menjadi simbol perlawanan, kini menjadi contoh bagaimana kekuatan besar dapat menundukkan musuhnya tanpa perang besar, cukup dengan proksi, ancaman dan iming-iming ekonomi.


Iran diancam dengan serangan, tetapi tidak memulai serangan untuk membela diri, padahal serangan adalah cara terbaik untuk bertahan melawan Yahudi dan Amerika. Sebaliknya, Iran tetap diam sampai fasilitasnya diserang dan ilmuwan serta petingginya dibunuh, baru kemudian mulai membalas.


Bahwa satu-satunya jalan keluar dari lingkaran setan ini adalah kembalinya Khilafah Rasyidah, sebuah negara Islam yang bersatu, kuat dan tidak tunduk pada tekanan asing. Selama umat masih terpecah, selama penguasa masih menjadi agen asing, maka kekacauan akan terus menjadi tontonan. (fjn)


Sumber: Soal Jawab Amir HT, TRT, Al Jazeera, Al Arabiya, IRNA


Editorial Rumah Tsaqofah | Dirancang untuk: Kesadaran Umat

Memahami Geopolitik Amerika dan Iran

 Memahami Geopolitik Amerika dan Iran


Di ruang-ruang genting di bawah gedung PBB, di koridor-koridor berlapis marmer di Istana Damaskus yang hancur dan di tenda-tenda suku di pegunungan Zagros, pertanyaan yang sama berbisik seperti angin gurun yang membawa debu dan api,


"Mengapa sekarang? Mengapa Amerika menyerang Iran, negeri yang selama ini menjadi mitra diam dalam permainan catur kawasan?"


Jawabannya tidak akan ditemukan dalam pernyataan pers yang dibacakan dengan nada datar oleh juru bicara Gedung Putih. Jawabannya terukir dalam bahasa diam yang hanya dipahami oleh para pedagang kekuasaan, terukir di dinding-dinding gua tempat para revolusioner menyimpan mimpi dan tertulis dalam tinta tak terlihat di atas lembaran-lembaran perjanjian rahasia yang disimpan di brankas bawah tanah di Swiss dan Oman.


Untuk memahaminya, kita harus kembali. Kembali ke masa ketika hubungan ini bukan tentang rudal dan serangan drone, tetapi tentang tarian halus antara dua kepentingan yang saling membutuhkan.


Tahun 1979. Seorang imam tua dengan jubah hitam dan sorban putih kembali dari pengasingan di Paris. Pesawat Air France yang membawanya mendarat di Teheran, dan tanah di bawah kakinya bergetar, bukan karena gempa, tetapi karena jutaan kaki yang berteriak menyambut. Revolusi Islam telah menelan monarki.


Di Washington, para analis CIA menggigit kuku. Sekutu paling setia mereka di kawasan, "polisi Teluk" yang menjaga kepentingan minyak Barat, telah tumbang. Namun mereka tidak perlu terlalu khawatir. Sejarah tidak pernah linear. Ia berkelok seperti ular di padang pasir.


Khomeini bukan sekadar nama. Ia adalah simbol. Tapi simbol pun bisa dinegosiasikan.


Di tahun-tahun berikutnya, ketika Saddam Hussein yang saat itu masih menjadi "orang baik" versi Washington, menyerbu Iran dengan tank-tank buatan Amerika, negeri para imam itu berteriak kepada dunia. Tapi tidak ada yang datang. Tidak ada yang membantu. Kecuali bisikan-bisikan dari koridor gelap.


Di sini kita menemukan rahasia pertama, Iran tidak pernah menjadi negara bawahan Amerika. Ia hanya berputar dalam orbit kebijakan Amerika untuk mendapatkan dukungan yang membantunya mewujudkan ambisi.


Orbit itu berbentuk elips, kadang dekat, kadang jauh. Pada tahun 1980-an, ketika Irak menggunakan senjata kimia buatan Jerman dan data intelijen buatan Amerika, Iran belajar bahwa dunia tidak punya teman, hanya kepentingan. Maka ia pun mulai membangun jaringannya sendiri. Bukan dengan kekuatan konvensional, tetapi dengan tentara bayaran ideologi, Hizbullah di Lebanon, milisi Syiah di Irak, dan koneksi dengan faksi-faksi di Suriah dan Yaman.


Dan Amerika? Amerika membutuhkannya. Bukan secara terang-terangan, tetapi dalam kegelapan.


Tahun 2001. Menara kembar runtuh. Debu Manhattan belum reda ketika pesawat-pesawat tanpa awak Amerika mulai terbang di atas Afghanistan. Di darat, pasukan khusus Amerika menemukan diri mereka berperang bersama milisi-milisi yang berteriak dalam bahasa Persia. Iran, musuh bebuyutan, membantu menjatuhkan Taliban yang Sunni dan anti-Syiah. Kerja sama intelijen terjadi di ruang-ruang bawah tanah di Geneva. Perwira Garda Revolusi duduk berhadap-hadapan dengan agen CIA, membagi peta dan target.


Tahun 2003. Saddam digulingkan. Kekacauan Irak menjadi berkah bagi Iran. Sekarang, Baghdad memiliki pemerintahan Syiah yang akrab dengan Teheran. Di dalam pemerintahan Irak yang baru, ada menteri-menteri yang menghabiskan tahun-tahun pengasingan mereka di Iran. Para komandan milisi yang tadinya dilawan Amerika, kini menjadi mitra dalam memerangi Al-Qaeda.


Tahun 2011. Musim Semi Arab mengguncang kawasan. Di Suriah, ketika Bashar Al-Assad nyaris tumbang, pesawat-pesawat tempur Israel menyerang konvoi senjata untuk Hizbullah, tetapi tidak ada yang menyerang Damaskus. Amerika punya prioritas lain yaitu Islamis. Dan untuk melawan Islamis, mereka butuh sekutu di darat. Lagi-lagi, milisi-milisi Iran yang turun.


Sejarah hubungan keduanya adalah sejarah transaksi kotor dan kepentingan timbal balik.


Para pejabat di Teheran dan Washington tidak pernah mengakuinya di depan kamera. Tapi di belakang layar, di ruang-ruang yang tidak tercatat dalam notulensi resmi, transaksi itu berlangsung. Iran mengendalikan milisi di Suriah, Amerika membiarkannya, asalkan mereka tidak mengganggu pasukan Amerika di timur laut. Iran mengirim senjata ke Houthi di Yaman, Amerika memprotes keras, tetapi tidak pernah benar-benar memblokade total karena ada perhitungan lain yaitu harga minyak, persaingan hegemoni dengan Inggris dan kepentingan jangka panjang.


Tapi tidak ada tarian abadi. Tidak ada kemitraan kekal. Hanya ada jeda.


Pada suatu titik, proyek besar itu, The Grand Project mulai mencapai fase kematangannya. Amerika, setelah dua dekade terseret dalam perang di Timur Tengah, ingin keluar. Tapi keluar tidak berarti meninggalkan. Keluar berarti membentangkan pengaruh secara langsung dan penuh, tanpa perlu mediator yang bandel. Mereka ingin menggambar ulang peta kawasan sesuai dengan cetak biru lama yang sempat terhambat: The Greater Middle East Initiative.


Inisiatif itu membutuhkan kawasan yang stabil, tapi stabil dalam versi Amerika. Bukan stabil dalam versi Iran yang punya cabang-cabang di Beirut, Baghdad dan Sana'a


Di mata Washington, Iran telah melampaui batas. Ia bukan lagi mitra taktis yang berguna. Ia telah menjadi struktur. Jaring laba-laba yang terlalu besar dan terlalu kuat. Ketika tentara bayaran Iran menembak pangkalan Amerika di Irak, itu bisa ditoleransi. Tapi ketika mereka membangun pangkalan militer permanen di dekat Suriah, ketika rudal-rudal presisi buatan Iran mulai dipasang di Lebanon yang bisa menjangkau Tel Aviv kapan saja, itu mengubah segalanya.


Kesalahan Iran adalah berpikir bahwa transaksi itu abadi. Padahal dalam politik kekuasaan, setiap transaksi memiliki tanggal kedaluwarsa.


Maka tibalah momen ketika seorang presiden Amerika berdiri di Ruang Oval, dikelilingi jenderal dan penasihat keamanan nasional. Di layar di depannya, ada peta Timur Tengah dengan garis-garis merah dan panah-panah biru. Sebuah presentasi tentang "ancaman Iran yang melampaui batas" diputar dengan narasi yang meyakinkan.


"Kita sudah mencoba diplomasi. Mereka menolak."


"Kita sudah mencoba sanksi maksimum. Mereka bertahan."


"Sekarang, hanya opsi militer yang tersisa."


Kata-kata itu mungkin diucapkan dengan nada berat, penuh tanggung jawab, seolah-olah tidak ada pilihan lain. Padahal, di ruang yang sama, mungkin tidak ada yang menyebutkan bahwa Iran pernah membantu Amerika di Afghanistan. Tidak ada yang mengingat bahwa intelijen Iran menyelamatkan nyawa tentara Amerika di Irak. Sejarah hanya berguna selama ia mendukung narasi dan dibuang ketika ia menghalangi.


Iran Khomeini bukanlah yang pertama melayani Amerika lalu kemudian dikorbankan dan ditinggalkan. Ada banyak sebelumnya, Jenderal Qassem, yang pada 1950-an membantu mengkonsolidasikan kekuasaan Syah, lalu dilupakan. Para pejuang Kurdi yang digunakan oleh CIA untuk melawan Irak, lalu diabaikan ketika perjanjian dengan Saddam ditandatangani. Bahkan Osama bin Laden, yang dulunya "pejuang kebebasan" melawan Soviet, lalu menjadi musuh nomor satu. Juga Manuel Noriega Pernah bekerja sama dengan intelijen AS (CIA). Ketika hubungan memburuk dan ia dianggap tidak lagi sejalan, AS menginvasi Panama (1989). Noriega ditangkap dan dipenjara di AS.


Contohnya banyak, bahkan terlalu banyak untuk dihitung.


Jadi, ketika serangan itu akhirnya datang, gelombang pertama rudal Tomahawk melesat di atas Teluk, pesawat-pesawat siluman F-35 menembus pertahanan udara Iran dan layar-layar televisi di seluruh dunia mulai menayangkan gedung-gedung di Teheran yang meledak dalam kepulan api oranye, tidak ada yang benar-benar terkejut.


Para analis militer akan berbicara tentang "serangan pendahuluan untuk mencegah senjata nuklir." Para diplomat akan berdebat di Dewan Keamanan PBB dengan kata-kata yang sudah ditulis sebelumnya. Media akan memutar rekaman arsip "demonstrasi anti-Amerika" di Teheran dan "dukungan rakyat" di Washington.


Tapi di kedalaman sejarah yang sebenarnya, di lapisan-lapisan bawah tanah ingatan kolektif, pertanyaan itu akan terus berulang, bergema di antara reruntuhan dan debu,


"Mengapa Amerika menyerang Iran yang selama ini dianggap sebagai bagian dari kebijakannya di kawasan?"


Dan jawabannya akan selalu sama, dibisikkan oleh angin yang bertiup di atas makam para prajurit yang tidak pernah tahu bahwa mereka berperang bukan untuk tanah air, tetapi untuk kelanjutan dari tarian bayangan di atas neraka.


Karena ketika proyek besar telah matang, tidak ada ruang bagi mitra kecil. Hanya ada satu dalang yang menarik semua tali.


Babak baru telah dimulai. Dan seperti biasa, sejarah tidak akan pernah selesai ditulis. Ia hanya akan terus bergema, sampai pertanyaan itu diajukan lagi, puluhan tahun dari sekarang, oleh generasi yang akan datang yang bertanya-tanya tentang awal dari semua ini.


Kita memohon kepada Allah agar upayanya kembali gagal. Memohon agar Khilafah Segera Tegak dan membungkam manuver Amerika terhadap negeri-negeri Muslim.(fjn)


Editorial Rumah Tsaqofah dari berbagai sumber | Dirancang untuk: Kesadaran Umat

NEGARA SATELIT: MENGORBIT DEMI KEPENTINGAN BERSAMA

 Bedah Kitab Mafahim Siyasi Hizbut Tahrir: Kategori Negara Dalam Konstelasi Internasional 


Ketika membaca berita tentang konflik di Timur Tengah, tentang krisis di Eropa, tentang persaingan Amerika dan Cina. pernahkah kita bertanya, apa sebenarnya yang sedang terjadi? Siapa yang sesungguhnya memainkan semua ini? Dan yang lebih penting, di manakah posisi kita, posisi kaum Muslimin, dalam pusaran politik global ini?


Dalam hiruk-pikuk informasi yang membanjiri kita setiap hari, seringkali kita kehilangan pijakan. Kita melihat peristiwa demi peristiwa, tapi gagal memahami struktur besar yang menggerakkan semuanya. Kita seperti orang yang melihat dedaunan berguguran, tanpa pernah melihat pohonnya. Kita melihat akibat, tanpa pernah memahami sebab.


Kita akan membedah kitab "Mafahim Siyasi" atau "Konsepsi Politik" yang diterbitkan oleh Hizbut Tahrir. Kitab ini memberikan kerangka analisis yang tajam tentang bagaimana membaca konstelasi internasional. Sebuah kerangka yang jarang diajarkan di bangku kuliah, jarang dibahas di media mainstream, tapi sangat penting untuk kita pahami sebagai kaum Muslimin.


Dalam kitab Mafahim Siyasi, ditegaskan bahwa memahami konstelasi internasional adalah sebuah kewajiban bagi kaum Muslimin. Mengapa? Karena tanpa pemahaman ini, kita akan terseret dalam arus politik global tanpa arah, tanpa kendali. Kita akan menjadi bola yang ditendang ke sana kemari, tanpa pernah bisa ikut menentukan ke mana bola itu harus bergulir.


Kitab tersebut menjelaskan bahwa dalam politik internasional, ada kategori-kategori negara yang harus kita kenali. Kategori pertama dan yang paling penting adalah NEGARA PERTAMA atau dalam istilah Arabnya, al-daulah al-ula.


Apa itu negara pertama?


Dalam kitab Mafahim Siyasi dijelaskan, negara pertama adalah negara yang menjadi poros dunia. Negara yang menjadi pusat gravitasi politik internasional. Dalam kondisi damai, dialah pembuat kebijakan global. Semua negara lain harus memperhitungkan apa yang dia lakukan. Keputusannya mempengaruhi harga minyak, harga beras, stabilitas keamanan, bahkan arah politik di negara-negara lain.


Hari ini, siapa negara pertama itu?

Jawabannya tegas, Amerika Serikat.


Mungkin ada yang tidak setuju. Mungkin ada yang bilang Cina sedang naik, Rusia mulai bangkit, Eropa masih kuat. Tapi mari kita lihat realitasnya dengan jujur.


Sejak runtuhnya Uni Soviet, Amerika Serikat adalah satu-satunya negara yang memiliki kemampuan untuk memproyeksikan kekuatannya ke seluruh penjuru dunia. Militer mereka ada di Jepang, di Korea, di Jerman, di Timur Tengah. Pangkalan militer mereka mengelilingi negara-negara yang dianggap sebagai saingan. Mata uang mereka, dolar Amerika, menjadi alat tukar utama dunia. Ketika Federal Reserve menaikkan suku bunga, ekonomi Indonesia ikut berguncang. Ketika mereka menjatuhkan sanksi pada suatu negara, negara itu bisa tercekik ekonominya.


Budaya mereka, meski kita suka atau tidak, mempengaruhi cara berpakaian, cara berbicara, bahkan cara berpikir anak-anak muda kita. Film-film Hollywood menyebarkan nilai-nilai mereka. Musik mereka didengarkan di seluruh dunia. Media mereka, seperti CNN dan lainnya, menjadi rujukan utama berita global.


Itulah negara pertama. Pusat dari segalanya. Poros yang menjadi acuan. Meskipun kekuatan mereka mulai digerogoti oleh kebangkitan negara-negara lain, namun untuk saat ini, mereka masih menjadi negara pertama yang harus diperhitungkan oleh siapa pun.


Setelah kita memahami siapa negara pertama, kita harus memahami satu hal yang sangat krusial, tidak semua negara itu sama di hadapan negara pertama. Ada yang menjadi pengikut, ada yang menjadi satelit, ada yang independen. Dan inilah yang akan kita bedah satu per satu, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Mafahim Siyasi


NEGARA PENGIKUT: KETIKA KEDAULATAN HANYA NAMA


Kategori kedua dalam kitab Mafahim Siyasi adalah NEGARA PENGIKUT, al-daulah al-tabi'ah.


Apa ciri-cirinya? Bagaimana kita bisa mengenali negara pengikut?


Dalam kitab tersebut dijelaskan, negara pengikut adalah negara yang terikat dengan negara lain, dalam hal ini dengan negara pertama atau negara adidaya lainnya dalam politik luar negerinya dan bahkan dalam sebagian besar urusan dalam negerinya. Mereka punya presiden, punya parlemen, punya bendera dan lagu kebangsaan. Mereka punya perwakilan di PBB. Tapi ruang gerak mereka sangat terbatas. Kedaulatan mereka hanya sebatas nama.


Ketika negara pertama bilang "lompat", mereka akan bertanya "setinggi apa?" Ketika negara pertama menghendaki sesuatu, mereka akan menurut, meskipun itu bertentangan dengan kepentingan rakyatnya sendiri.


Kitab Mafahim Siyasi memberikan contoh konkret. Misalnya, Mesir terhadap Amerika Serikat. Sejak Perjanjian Camp David tahun 1979, Mesir menjadi negara pengikut setia Amerika Serikat. Bantuan militer 1,3 miliar dolar setiap tahun yang sebagian besarnya adalah pinjaman yang harus dibayar, membuat mereka harus tunduk pada kebijakan luar negeri AS, terutama yang menyangkut keamanan Israel. Politik dalam negeri mereka pun tidak lepas dari pengaruh Washington. Siapa yang menjadi presiden, bagaimana mereka memerintah, semua dalam koridor yang tidak melanggar kepentingan AS.


Contoh lainnya? Kazakhstan terhadap Rusia. Meski sudah merdeka dari Uni Soviet lebih dari tiga dekade lalu, ketergantungan ekonomi dan keamanan membuat Kazakhstan harus selalu menjaga hubungan baik dengan Moskow. Mereka tidak bisa seenaknya menentukan kebijakan yang berseberangan dengan kepentingan Rusia.


Menjadi negara pengikut berarti kehilangan kedaulatan sejati. Mereka seperti anak buah yang harus patuh pada perintah komandan. Mereka seperti perahu kecil yang terikat pada kapal besar, tak bisa berlayar ke arah yang mereka inginkan.


NEGARA SATELIT: MENGORBIT DEMI KEPENTINGAN BERSAMA


Lalu kategori ketiga dalam kitab Mafahim Siyasi adalah NEGARA SATELIT, al-daulah allati fi al-falak.


Ini menarik. Kenapa disebut satelit? Karena mereka seperti bulan yang mengorbit planet. Mereka bergerak dalam orbit negara adidaya, mengelilinginya, tapi tidak sepenuhnya lepas. Mereka terikat dengan negara adidaya, tapi bukan karena keterpaksaan struktural seperti negara pengikut, melainkan karena ikatan kepentingan bersama.


Kitab Mafahim Siyasi menjelaskan, negara satelit adalah negara yang politik luar negerinya terikat dengan negara lain dalam ikatan kepentingan, bukan ikatan sebagai pengikut. Mereka memilih untuk mengorbit karena ada keuntungan yang mereka peroleh. Mereka mendapatkan perlindungan keamanan, akses pasar, bantuan teknologi, atau keuntungan lainnya. Dan sebagai imbalannya, mereka mendukung kebijakan luar negeri negara pusat, menyediakan pangkalan militer atau menjadi sekutu setia dalam forum-forum internasional.


Contoh paling jelas adalah Jepang terhadap Amerika Serikat. Jepang punya kepentingan keamanan yang sangat besar, mengingat posisi geopolitiknya yang dikelilingi oleh negara-negara besar seperti Cina, Rusia dan Korea Utara. Maka mereka memilih untuk mengorbit di bawah payung keamanan Amerika. Mereka menjadi pangkalan militer AS, mereka membeli senjata dari AS dalam jumlah besar, mereka mendukung kebijakan AS di Asia dan dunia. Tapi dalam banyak hal, Jepang punya otonomi. Mereka punya industri otomotif dan elektronik yang bersaing dengan AS. Mereka punya budaya pop yang mendunia. Mereka bahkan bisa berbeda pendapat dengan AS dalam isu-isu tertentu.


Contoh lain? Australia terhadap AS dan Inggris. Kanada terhadap AS, Inggris dan Perancis. Turki meski sekarang sering ribut dan menunjukkan gigi, secara struktural adalah satelit NATO yang dipimpin AS. Mereka mengorbit dalam aliansi keamanan Barat.


Pahamilah perbedaan ini. Negara pengikut itu seperti anak buah yang "ikut perintah" karena terpaksa. Negara satelit itu seperti mitra junior yang "ikut arus" karena sama-sama diuntungkan. Negara pengikut kehilangan kemerdekaannya. Negara satelit masih punya kemerdekaan, tapi dalam batas-batas orbit yang tidak boleh mereka tinggalkan.


NEGARA INDEPENDEN: MERDEKA DALAM ARTI SESUNGGUHNYA


Dan akhirnya, kategori keempat dalam kitab Mafahim Siyasi yang harus kita pahami adalah NEGARA INDEPENDEN, al-daulah al-mustaqillah.


Inilah kategori yang paling kita idam-idamkan. Inilah negara yang benar-benar merdeka. Bukan hanya di atas kertas. Bukan hanya karena punya kursi di PBB. Tapi merdeka dalam arti yang sesungguhnya.


Kitab Mafahim Siyasi mendefinisikan negara independen sebagai negara yang mampu mengelola politik dalam dan luar negerinya sesuai kehendak sendiri, atas dasar kepentingannya sendiri. Mereka tidak terikat pada kehendak negara lain. Mereka tidak mengorbit pada negara lain. Mereka berdiri di atas kaki mereka sendiri.


Mereka punya bobot. Mereka punya pengaruh. Mereka bisa membuat negara pertama berpikir ulang sebelum mengambil keputusan. Mereka bisa berkata "tidak" ketika kepentingan mereka terancam. Dan kata "tidak" mereka didengar dan diperhitungkan.


Contoh yang diberikan dalam kitab tersebut? Perancis, Cina dan Rusia.


Lihatlah Perancis. Bagaimana mereka sering berbeda sikap dengan Amerika. Saat AS ingin menyerang Irak tahun 2003, Perancis menolak keras di Dewan Keamanan PBB. Dan penolakan itu punya pengaruh. Dunia terbelah. Amerika tidak bisa mendapatkan legitimasi internasional yang mereka inginkan. Itulah kekuatan negara independen.


Cina, dengan model pembangunannya sendiri, dengan kekuatan ekonominya yang terus membesar, Cina berani menentukan arahnya sendiri. Mereka tidak tunduk pada tekanan AS. Mereka bahkan bersaing dalam banyak bidang. Ketika AS melancarkan perang dagang, Cina membalas. Ketika AS menekan di satu sisi, Cina mencari celah di sisi lain.


Rusia, meski ekonominya tidak sebesar AS atau Cina, kekuatan militernya dan posisi geopolitiknya membuat mereka harus diperhitungkan. Ketika Rusia mengirim tank ke Ukraina, seluruh dunia berguncang. Ketika mereka mengancam dengan senjata nuklir, AS dan NATO harus berpikir seribu kali.


Bahkan negara-negara yang secara fisik kecil, seperti Swiss, Spanyol, Belanda, Italia, dan Swedia, bisa masuk kategori independen jika mereka memiliki kemampuan untuk mempengaruhi politik dunia. Kitab Mafahim Siyasi menjelaskan bahwa mereka bisa mempengaruhi jika mereka mampu mengamankan atau mengancam kepentingan negara pertama. Italia dan Spanyol, misalnya, mendapat pengaruh dengan mendukung AS dalam pendudukan Irak tahun 2003. Mereka mengamankan kepentingan AS dan sebagai imbalannya, mereka mendapat keuntungan politik dan ekonomi.


Inilah yang harus kita cermati. Kitab Mafahim Siyasi.mengingatkan kita tentang satu fenomena yang sangat penting. Fenomena yang jarang dibahas di media mainstream. Fenomena yang membuat kita harus berpikir ulang tentang apa arti kemerdekaan.


Banyak negara di Asia dan Afrika yang merdeka setelah Perang Dunia II. Bendera mereka berkibar. Lagu kebangsaan mereka dikumandangkan. Mereka punya perwakilan di PBB. Tapi apakah mereka benar-benar independen?


Mari kita lihat sejarah yang diangkat dalam kitab Mafahim Siyasi.


Ambil contoh Irak. Setelah Inggris keluar dari Irak, secara formal Irak menjadi negara merdeka. Mereka punya raja, punya parlemen, punya tentara. Tapi setelah Revolusi 14 Juli 1958 yang menggulingkan monarki, Irak sempat menjadi negara independen yang disegani, seperti Perancis.


Namun, perhatikan baik-baik apa yang terjadi kemudian. Ketika penguasanya adalah agen Amerika, maka Irak secara faktual adalah negara pengikut Amerika, meskipun secara internasional ia tetap dianggap sebagai negara merdeka. Kemudian setelah Revolusi 17 Juli 1968, ketika penguasanya adalah agen-agen Inggris, Irak berubah menjadi negara pengikut Inggris. Bendera yang sama. Lagu kebangsaan yang sama. Tapi realitasnya berbeda.


Ini sangat kritis.


Kitab Mafahim Siyasi menegaskan: STATUS NEGARA BISA BERUBAH HANYA DENGAN BERGANTINYA PENGUASA.


Meskipun benderanya sama, meskipun lagu kebangsaannya sama, meskipun kursinya di PBB tetap ada, tapi jika penguasanya adalah agen asing, jika ia menjalankan kebijakan atas perintah negara lain, jika ia lebih mendengar duta besar asing daripada suara rakyatnya, maka negaranya adalah negara pengikut. Jika penguasanya adalah orang yang merdeka, yang berani mengambil keputusan berdasarkan kepentingan bangsanya sendiri, maka negaranya bisa menjadi independen.


Dan inilah realitas pahit yang terjadi di banyak negara Muslim. Kemerdekaan hanya di atas kertas. Mereka secara internasional independen dalam penampilan lahiriah, tapi dari segi realitas hakiki, mereka adalah negara pengikut.


Sumber daya alam mereka dieksploitasi oleh perusahaan-perusahaan asing. Kebijakan ekonomi mereka diatur oleh lembaga-lembaga keuangan internasional yang dikuasai negara pertama. Politik luar negeri mereka harus selalu memperhatikan "sensitifitas" negara-negara besar. Konflik internal yang terjadi seringkali dipicu dan dipelihara oleh kepentingan asing yang ingin menjaga negara itu tetap lemah dan tergantung.


Inilah analisis tajam dari kitab Mafahim Siyasi. Analisis yang membuka mata kita tentang realitas yang seringkali tersembunyi di balik kemeriahan upacara kemerdekaan dan pidato-pidato kenegaraan.


Editorial Rumah Tsaqofah | Dirancang untuk: Kesadaran Umat

Jika Khilafah Tegak Hari Ini, Seperti Apa Duniamu Besok Pagi?

 Jika Khilafah Tegak Hari Ini, Seperti Apa Duniamu Besok Pagi?


Ini bukan sekadar khayalan. Ini bukan dongeng sebelum tidur. Ini gambaran yang bisa jadi kenyataan besok pagi, kalau kita semua benar-benar menginginkannya. Bayangkan kamu membuka mata jam 06.15, sinar matahari menyelinap lewat jendela, dan dunia yang kamu lihat sudah bukan dunia kemarin.


Tidak ada lagi nama “Indonesia”, “Malaysia”, “Turki”, “Mesir”, atau “Arab Saudi” di peta. Semua lenyap. Yang tersisa cuma nama-nama wilayah. Wilayah Nusantara, Wilayah Syam, Wilayah Maghrib, Wilayah Hijaz, Wilayah Afrika. Bahkan batas provinsi lama pun sudah dibongkar ulang dari nol. Nasionalisme yang dulu membuat kita saling benci karena warna bendera berbeda? Sudah jadi cerita masa lalu, seperti dongeng nenek yang kita ceritakan sambil geleng-geleng kepala.


Kamu turun ke dapur, buka dompet. Bukan lagi lembaran uang kertas berwarna-warni yang nilainya bisa hilang besok karena inflasi. Yang ada di tanganmu sekarang adalah dinar emas dan dirham perak sungguhan. Setiap dinar yang kamu pegang, di belakang gedung Baitul Mal ada 4,25 gram emas murni yang menjamin nilainya. Tidak ada lagi riba, tidak ada lagi bank yang mencetak uang dari udara, tidak ada lagi cadangan fraksional yang mencuri hak rakyat. Uangmu benar-benar punya nilai tetap, seperti janji Allah yang tidak pernah ingkar.


Kamu nyalakan televisi atau buka aplikasi berita Khilafah. Berita utama pagi ini,

“Total kekayaan umum umat hari ini mencapai 2,8 juta ton emas & perak cadangan, ditambah cadangan minyak, gas alam, uranium, tembaga, dan segala mineral dari ujung timur sampai barat.”  


Semua sumur minyak di Sumatera, ladang gas Natuna, tambang emas Papua, minyak hitam di Teluk Persia, uranium di Afrika, semua sudah bukan milik perusahaan asing lagi. Bukan milik “negara” juga. Semua menjadi milik umum, milik umat. Artinya milik kamu, milik aku, milik setiap warga negara Khilafah baik muslim maupun non muslim.  


Kamu yang tadinya tercekik cicilan rumah 20 tahun? Utang riba itu sudah dihapuskan seketika. Kamu yang ingin buka warung kopi di gang sempit? Modal awal langsung cair dari Baitul Mal, tanpa bunga satu sen pun. Kamu yang baru nikah dan belum punya rumah? Tanah dan tempat tinggal layak sudah menjadi hak dasar setiap keluarga. Negara bukan lagi pemilik, negara hanya pengelola yang wajib adil.


Kamu jalan ke pasar pagi. Di sana ada pedagang dari Wilayah Sudan menjajakan kurma Medjool segar yang baru tiba lewat kereta cepat Khilafah. Kamu tanya harganya. Dia tersenyum lebar,

“Gratis untuk saudara senegara, tapi kalau mau bayar, cukup satu dirham perak saja, akhi.”


Perusahaan asing? Semua sudah angkat kaki. Pabrik-pabrik, perkebunan, tambang, teknologi, semua sekarang milik warga Khilafah. Ekonomi tidak lagi dikuasai segelintir orang kaya. Modal tersebar luas. Setiap pemuda punya kesempatan jadi pengusaha. Pasar malam di setiap kota ramai dengan pedagang kecil yang tersenyum karena untung mereka tidak lagi dipotong pajak riba atau biaya bank.


Kamu lanjut ke bandara atau stasiun kereta. Tidak ada lagi antre imigrasi panjang. Tidak ada paspor nasional. Siapa saja dari belahan dunia mana pun dari London, Beijing, Lagos, atau New York cukup mengucapkan taat pada hukum Khilafah, dan mengakui kepemimpinan Khalifah. Dalam hitungan jam, dia sudah jadi warga negara penuh. Punya hak sama denganmu, dapat bagian kekayaan umum, sekolah gratis, rumah sakit tanpa biaya, keamanan 24 jam.


Dan yang paling penting, kalau suatu hari Khalifah, pemimpin tertinggi kita berbuat zalim? Kamu, rakyat biasa, boleh menggugatnya! Di Mahkamah al-Mazhalim, pengadilan khusus kezaliman. Khalifah harus datang sendiri, duduk di kursi yang sama dengan rakyat, tanpa pengawal, tanpa jubah kebesaran. Hakim membacakan vonis di depan kamera yang disiarkan ke seluruh wilayah. Itulah jaminan bahwa kekuasaan tidak pernah lagi jadi milik satu orang saja.


Malam harinya, berita dunia mengguncang,

“Pasukan Khilafah telah membebaskan Masjidil Aqsha. Palestina kini wilayah bebas penjajah.”  


Dan setelah itu, seperti gelombang besar yang tak terbendung. Rakyat di negara-negara lain mulai bergerak. Mereka melihat keadilan, mereka lihat distribusi kekayaan yang merata, mereka lihat anak-anak bermain tanpa takut bom. Mereka berteriak, “Kami juga mau hidup seperti ini!” Batas-batas negara buatan penjajah mulai runtuh. Dari Maroko sampai Mindanao, dari Istanbul sampai Jakarta, satu adzan, satu kiblat, satu Khalifah.


Ini bukan mimpi kosong. Ini visi yang sudah ada cetak birunya dalam Islam. Yang kurang hanya satu, kemauan kita semua untuk mewujudkannya.


Jadi besok pagi, saat kamu bangun, tanyakan pada dirimu sendiri:  

“Apa yang aku lakukan hari ini agar dunia besok pagi lebih dekat dengan gambaran ini?”


Kirim jawabanmu di kolom komentar, Kita sama-sama tahu, perubahan besar dimulai dari hati yang gelisah, lalu bergerak menjadi langkah nyata.


Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-Mu yang menyaksikan dan ikut membangun Khilafah ala minhajin nubuwwah di zaman ini. Amin ya Rabbal ‘alamin.


Editorial Rumah Tsaqofah | Dirancang untuk: Kesadaran Umat

Saturday, March 14, 2026

Bedah Kitab Mafahim Siyasi Hizbut Tahrir: Kategori Negara Dalam Konstelasi Internasional

 Bedah Kitab Mafahim Siyasi Hizbut Tahrir: Kategori Negara Dalam Konstelasi Internasional 


Ketika membaca berita tentang konflik di Timur Tengah, tentang krisis di Eropa, tentang persaingan Amerika dan Cina. pernahkah kita bertanya, apa sebenarnya yang sedang terjadi? Siapa yang sesungguhnya memainkan semua ini? Dan yang lebih penting, di manakah posisi kita, posisi kaum Muslimin, dalam pusaran politik global ini?


Dalam hiruk-pikuk informasi yang membanjiri kita setiap hari, seringkali kita kehilangan pijakan. Kita melihat peristiwa demi peristiwa, tapi gagal memahami struktur besar yang menggerakkan semuanya. Kita seperti orang yang melihat dedaunan berguguran, tanpa pernah melihat pohonnya. Kita melihat akibat, tanpa pernah memahami sebab.


Kita akan membedah kitab "Mafahim Siyasi" atau "Konsepsi Politik" yang diterbitkan oleh Hizbut Tahrir. Kitab ini memberikan kerangka analisis yang tajam tentang bagaimana membaca konstelasi internasional. Sebuah kerangka yang jarang diajarkan di bangku kuliah, jarang dibahas di media mainstream, tapi sangat penting untuk kita pahami sebagai kaum Muslimin.


Dalam kitab Mafahim Siyasi, ditegaskan bahwa memahami konstelasi internasional adalah sebuah kewajiban bagi kaum Muslimin. Mengapa? Karena tanpa pemahaman ini, kita akan terseret dalam arus politik global tanpa arah, tanpa kendali. Kita akan menjadi bola yang ditendang ke sana kemari, tanpa pernah bisa ikut menentukan ke mana bola itu harus bergulir.


Kitab tersebut menjelaskan bahwa dalam politik internasional, ada kategori-kategori negara yang harus kita kenali. Kategori pertama dan yang paling penting adalah NEGARA PERTAMA atau dalam istilah Arabnya, al-daulah al-ula.


Apa itu negara pertama?


Dalam kitab Mafahim Siyasi dijelaskan, negara pertama adalah negara yang menjadi poros dunia. Negara yang menjadi pusat gravitasi politik internasional. Dalam kondisi damai, dialah pembuat kebijakan global. Semua negara lain harus memperhitungkan apa yang dia lakukan. Keputusannya mempengaruhi harga minyak, harga beras, stabilitas keamanan, bahkan arah politik di negara-negara lain.


Hari ini, siapa negara pertama itu?

Jawabannya tegas, Amerika Serikat.


Mungkin ada yang tidak setuju. Mungkin ada yang bilang Cina sedang naik, Rusia mulai bangkit, Eropa masih kuat. Tapi mari kita lihat realitasnya dengan jujur.


Sejak runtuhnya Uni Soviet, Amerika Serikat adalah satu-satunya negara yang memiliki kemampuan untuk memproyeksikan kekuatannya ke seluruh penjuru dunia. Militer mereka ada di Jepang, di Korea, di Jerman, di Timur Tengah. Pangkalan militer mereka mengelilingi negara-negara yang dianggap sebagai saingan. Mata uang mereka, dolar Amerika, menjadi alat tukar utama dunia. Ketika Federal Reserve menaikkan suku bunga, ekonomi Indonesia ikut berguncang. Ketika mereka menjatuhkan sanksi pada suatu negara, negara itu bisa tercekik ekonominya.


Budaya mereka, meski kita suka atau tidak, mempengaruhi cara berpakaian, cara berbicara, bahkan cara berpikir anak-anak muda kita. Film-film Hollywood menyebarkan nilai-nilai mereka. Musik mereka didengarkan di seluruh dunia. Media mereka, seperti CNN dan lainnya, menjadi rujukan utama berita global.


Itulah negara pertama. Pusat dari segalanya. Poros yang menjadi acuan. Meskipun kekuatan mereka mulai digerogoti oleh kebangkitan negara-negara lain, namun untuk saat ini, mereka masih menjadi negara pertama yang harus diperhitungkan oleh siapa pun.


Setelah kita memahami siapa negara pertama, kita harus memahami satu hal yang sangat krusial, tidak semua negara itu sama di hadapan negara pertama. Ada yang menjadi pengikut, ada yang menjadi satelit, ada yang independen. Dan inilah yang akan kita bedah satu per satu, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Mafahim Siyasi


NEGARA PENGIKUT: KETIKA KEDAULATAN HANYA NAMA


Kategori kedua dalam kitab Mafahim Siyasi adalah NEGARA PENGIKUT, al-daulah al-tabi'ah.


Apa ciri-cirinya? Bagaimana kita bisa mengenali negara pengikut?


Dalam kitab tersebut dijelaskan, negara pengikut adalah negara yang terikat dengan negara lain, dalam hal ini dengan negara pertama atau negara adidaya lainnya dalam politik luar negerinya dan bahkan dalam sebagian besar urusan dalam negerinya. Mereka punya presiden, punya parlemen, punya bendera dan lagu kebangsaan. Mereka punya perwakilan di PBB. Tapi ruang gerak mereka sangat terbatas. Kedaulatan mereka hanya sebatas nama.


Ketika negara pertama bilang "lompat", mereka akan bertanya "setinggi apa?" Ketika negara pertama menghendaki sesuatu, mereka akan menurut, meskipun itu bertentangan dengan kepentingan rakyatnya sendiri.


Kitab Mafahim Siyasi memberikan contoh konkret. Misalnya, Mesir terhadap Amerika Serikat. Sejak Perjanjian Camp David tahun 1979, Mesir menjadi negara pengikut setia Amerika Serikat. Bantuan militer 1,3 miliar dolar setiap tahun yang sebagian besarnya adalah pinjaman yang harus dibayar, membuat mereka harus tunduk pada kebijakan luar negeri AS, terutama yang menyangkut keamanan Israel. Politik dalam negeri mereka pun tidak lepas dari pengaruh Washington. Siapa yang menjadi presiden, bagaimana mereka memerintah, semua dalam koridor yang tidak melanggar kepentingan AS.


Contoh lainnya? Kazakhstan terhadap Rusia. Meski sudah merdeka dari Uni Soviet lebih dari tiga dekade lalu, ketergantungan ekonomi dan keamanan membuat Kazakhstan harus selalu menjaga hubungan baik dengan Moskow. Mereka tidak bisa seenaknya menentukan kebijakan yang berseberangan dengan kepentingan Rusia.


Menjadi negara pengikut berarti kehilangan kedaulatan sejati. Mereka seperti anak buah yang harus patuh pada perintah komandan. Mereka seperti perahu kecil yang terikat pada kapal besar, tak bisa berlayar ke arah yang mereka inginkan.


NEGARA SATELIT: MENGORBIT DEMI KEPENTINGAN BERSAMA


Lalu kategori ketiga dalam kitab Mafahim Siyasi adalah NEGARA SATELIT, al-daulah allati fi al-falak.


Ini menarik. Kenapa disebut satelit? Karena mereka seperti bulan yang mengorbit planet. Mereka bergerak dalam orbit negara adidaya, mengelilinginya, tapi tidak sepenuhnya lepas. Mereka terikat dengan negara adidaya, tapi bukan karena keterpaksaan struktural seperti negara pengikut, melainkan karena ikatan kepentingan bersama.


Kitab Mafahim Siyasi menjelaskan, negara satelit adalah negara yang politik luar negerinya terikat dengan negara lain dalam ikatan kepentingan, bukan ikatan sebagai pengikut. Mereka memilih untuk mengorbit karena ada keuntungan yang mereka peroleh. Mereka mendapatkan perlindungan keamanan, akses pasar, bantuan teknologi, atau keuntungan lainnya. Dan sebagai imbalannya, mereka mendukung kebijakan luar negeri negara pusat, menyediakan pangkalan militer atau menjadi sekutu setia dalam forum-forum internasional.


Contoh paling jelas adalah Jepang terhadap Amerika Serikat. Jepang punya kepentingan keamanan yang sangat besar, mengingat posisi geopolitiknya yang dikelilingi oleh negara-negara besar seperti Cina, Rusia dan Korea Utara. Maka mereka memilih untuk mengorbit di bawah payung keamanan Amerika. Mereka menjadi pangkalan militer AS, mereka membeli senjata dari AS dalam jumlah besar, mereka mendukung kebijakan AS di Asia dan dunia. Tapi dalam banyak hal, Jepang punya otonomi. Mereka punya industri otomotif dan elektronik yang bersaing dengan AS. Mereka punya budaya pop yang mendunia. Mereka bahkan bisa berbeda pendapat dengan AS dalam isu-isu tertentu.


Contoh lain? Australia terhadap AS dan Inggris. Kanada terhadap AS, Inggris dan Perancis. Turki meski sekarang sering ribut dan menunjukkan gigi, secara struktural adalah satelit NATO yang dipimpin AS. Mereka mengorbit dalam aliansi keamanan Barat.


Pahamilah perbedaan ini. Negara pengikut itu seperti anak buah yang "ikut perintah" karena terpaksa. Negara satelit itu seperti mitra junior yang "ikut arus" karena sama-sama diuntungkan. Negara pengikut kehilangan kemerdekaannya. Negara satelit masih punya kemerdekaan, tapi dalam batas-batas orbit yang tidak boleh mereka tinggalkan.


NEGARA INDEPENDEN: MERDEKA DALAM ARTI SESUNGGUHNYA


Dan akhirnya, kategori keempat dalam kitab Mafahim Siyasi yang harus kita pahami adalah NEGARA INDEPENDEN, al-daulah al-mustaqillah.


Inilah kategori yang paling kita idam-idamkan. Inilah negara yang benar-benar merdeka. Bukan hanya di atas kertas. Bukan hanya karena punya kursi di PBB. Tapi merdeka dalam arti yang sesungguhnya.


Kitab Mafahim Siyasi mendefinisikan negara independen sebagai negara yang mampu mengelola politik dalam dan luar negerinya sesuai kehendak sendiri, atas dasar kepentingannya sendiri. Mereka tidak terikat pada kehendak negara lain. Mereka tidak mengorbit pada negara lain. Mereka berdiri di atas kaki mereka sendiri.


Mereka punya bobot. Mereka punya pengaruh. Mereka bisa membuat negara pertama berpikir ulang sebelum mengambil keputusan. Mereka bisa berkata "tidak" ketika kepentingan mereka terancam. Dan kata "tidak" mereka didengar dan diperhitungkan.


Contoh yang diberikan dalam kitab tersebut? Perancis, Cina dan Rusia.


Lihatlah Perancis. Bagaimana mereka sering berbeda sikap dengan Amerika. Saat AS ingin menyerang Irak tahun 2003, Perancis menolak keras di Dewan Keamanan PBB. Dan penolakan itu punya pengaruh. Dunia terbelah. Amerika tidak bisa mendapatkan legitimasi internasional yang mereka inginkan. Itulah kekuatan negara independen.


Cina, dengan model pembangunannya sendiri, dengan kekuatan ekonominya yang terus membesar, Cina berani menentukan arahnya sendiri. Mereka tidak tunduk pada tekanan AS. Mereka bahkan bersaing dalam banyak bidang. Ketika AS melancarkan perang dagang, Cina membalas. Ketika AS menekan di satu sisi, Cina mencari celah di sisi lain.


Rusia, meski ekonominya tidak sebesar AS atau Cina, kekuatan militernya dan posisi geopolitiknya membuat mereka harus diperhitungkan. Ketika Rusia mengirim tank ke Ukraina, seluruh dunia berguncang. Ketika mereka mengancam dengan senjata nuklir, AS dan NATO harus berpikir seribu kali.


Bahkan negara-negara yang secara fisik kecil, seperti Swiss, Spanyol, Belanda, Italia, dan Swedia, bisa masuk kategori independen jika mereka memiliki kemampuan untuk mempengaruhi politik dunia. Kitab Mafahim Siyasi menjelaskan bahwa mereka bisa mempengaruhi jika mereka mampu mengamankan atau mengancam kepentingan negara pertama. Italia dan Spanyol, misalnya, mendapat pengaruh dengan mendukung AS dalam pendudukan Irak tahun 2003. Mereka mengamankan kepentingan AS dan sebagai imbalannya, mereka mendapat keuntungan politik dan ekonomi.


Inilah yang harus kita cermati. Kitab Mafahim Siyasi.mengingatkan kita tentang satu fenomena yang sangat penting. Fenomena yang jarang dibahas di media mainstream. Fenomena yang membuat kita harus berpikir ulang tentang apa arti kemerdekaan.


Banyak negara di Asia dan Afrika yang merdeka setelah Perang Dunia II. Bendera mereka berkibar. Lagu kebangsaan mereka dikumandangkan. Mereka punya perwakilan di PBB. Tapi apakah mereka benar-benar independen?


Mari kita lihat sejarah yang diangkat dalam kitab Mafahim Siyasi.


Ambil contoh Irak. Setelah Inggris keluar dari Irak, secara formal Irak menjadi negara merdeka. Mereka punya raja, punya parlemen, punya tentara. Tapi setelah Revolusi 14 Juli 1958 yang menggulingkan monarki, Irak sempat menjadi negara independen yang disegani, seperti Perancis.


Namun, perhatikan baik-baik apa yang terjadi kemudian. Ketika penguasanya adalah agen Amerika, maka Irak secara faktual adalah negara pengikut Amerika, meskipun secara internasional ia tetap dianggap sebagai negara merdeka. Kemudian setelah Revolusi 17 Juli 1968, ketika penguasanya adalah agen-agen Inggris, Irak berubah menjadi negara pengikut Inggris. Bendera yang sama. Lagu kebangsaan yang sama. Tapi realitasnya berbeda.


Ini sangat kritis.


Kitab Mafahim Siyasi menegaskan: STATUS NEGARA BISA BERUBAH HANYA DENGAN BERGANTINYA PENGUASA.


Meskipun benderanya sama, meskipun lagu kebangsaannya sama, meskipun kursinya di PBB tetap ada, tapi jika penguasanya adalah agen asing, jika ia menjalankan kebijakan atas perintah negara lain, jika ia lebih mendengar duta besar asing daripada suara rakyatnya, maka negaranya adalah negara pengikut. Jika penguasanya adalah orang yang merdeka, yang berani mengambil keputusan berdasarkan kepentingan bangsanya sendiri, maka negaranya bisa menjadi independen.


Dan inilah realitas pahit yang terjadi di banyak negara Muslim. Kemerdekaan hanya di atas kertas. Mereka secara internasional independen dalam penampilan lahiriah, tapi dari segi realitas hakiki, mereka adalah negara pengikut.


Sumber daya alam mereka dieksploitasi oleh perusahaan-perusahaan asing. Kebijakan ekonomi mereka diatur oleh lembaga-lembaga keuangan internasional yang dikuasai negara pertama. Politik luar negeri mereka harus selalu memperhatikan "sensitifitas" negara-negara besar. Konflik internal yang terjadi seringkali dipicu dan dipelihara oleh kepentingan asing yang ingin menjaga negara itu tetap lemah dan tergantung.


Inilah analisis tajam dari kitab Mafahim Siyasi. Analisis yang membuka mata kita tentang realitas yang seringkali tersembunyi di balik kemeriahan upacara kemerdekaan dan pidato-pidato kenegaraan.


Editorial Rumah Tsaqofah | Dirancang untuk: Kesadaran Umat