Jumat, 13 Mei 2011

Jihad Tak Akan Berhenti dengan Kematian Usamah bin Ladin

Jihad Tak Akan Berhenti dengan Kematian Usamah bin Ladin

Oleh: Badrul Tamam

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Pencipta langit dan bumi serta apa yang
ada di dalamnya. Dialah yang menghidupkan dan mematikan, serta menetapkan takdir
dan ajal bagi mereka semua. Jika sudah datang waktunya, tak seorangpun bisa
mengundurkannya.

Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah yang menghabiskan umurnya
untuk menyampaikan risalah, menyeru kepada Allah dan berjihad di jalan-Nya
hingga maut menjemputnya. Semoga shalawat dan salam juga dilimpahkan kepada
keluarga dan para sahabatnya yang bersungguh-sungguh dalam menemani dan
membelanya.

Berita wafatnya Usamah bin Laden membuat berbinar Presiden Amerika Serikat,
Barack Obama. Dengan bangga presiden negera yang telah membunuh ribuan umat
Islam di Irak dan Afghanistan tersebut melakukan konferensi pers dadakan pada
Ahad malam kemarin untuk memastikan wafatnya Usama bin Laden dalam operasi
militer di Pakistan. Pengumuman resmi ini disambut sorak gembira ribuan rakyat
Amerika yang berkumpul di depan Gedung Putih, Ahad malam waktu setempat. Mereka
bersorak sambil meneriakkan yel-yel, "USA, USA" berulang kali sambil mengepalkan
tangan ke atas. Selain itu, mereka juga mengibarkan bendera AS.

Di sisi lain, bagi aktifis jihad gugurnya Syaikh Usamah menjadi pukulan berat,
sehingga ada yang berkata bahwa Usamah tetap hidup, kita berlindung kepada Allah
dari mengucapkan kalimat yang mengundang murka-Nya. Namun bukan berarti ibadah,
dakwah dan jihad mereka boleh berhenti. Karena semua ibadah, dakwah, perjuangan
bahkan hidup dan matinya kaum mukminin dipersembahkan kepada Allah yang
senantiasa hidup dan tak akan pernah mati.

Allah Ta'ala berfirman dengan memerintahkan kepada Rasul-Nya,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ
وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

"Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah
untuk Allah, Tuhan semesta alam." (QS. Al-An'am: 162)

Pelajaran Perang Uhud

Sesudah kaum muslimin mengalami serangan balik dari pihak musyrikin pada perang
Uhud yang menyebabkan kekalahan mereka dan terbunuhnya beberapa kaum muslimin,
maka tersiarlah desas-desus bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
pemimpin kaum muslimin saat itu, telah ikut terbunuh. Karenanya, sejumlah kaum
muslimin lari meninggalkan perang. Sebagian yang lain jatuh mentalnya, patah
semangatnya, dan ada pula yang meletakkan senjata begitu saja. Namun ada
sebagian yang lain berusaha melanjutkan perlawanan dan terus bertempur dengan
gigih melawan kaum musyrikin serta terus-menerus membangkitkan semangat
saudara-saudara mereka untuk terus berjuang hingga menemui kesyahidan.
(Disarikan dari Biografi Rasulullah, DR. Mahdi Rizqullah Ahmad, hal. 495)

Ibnu Abi Najih berkata dari ayahnya, ada seseorang dari kaum Muhajirin yang
lewat dihadapan seorang dari kaum Anshar yang bersimbah darah. Lalu ditanyakan
kepadanya, "Hai fulan, apakah kamu merasa Rasulullah telah terbunuh?" Orang
Anshar tadi menjawab, "Jika Muhammad telah terbunuh, berarti ia telah
menyampaikan risalahnya. Maka berperanglah kalian demi membela agama kalian."
Lalu turunlah ayat,

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ
مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ

"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu
sebelumnya beberapa orang rasul." (QS. Ali Imran: 144) [HR. Abu Bakar al-Baihaqi
dalam Dalail al-Nubuwwah: 2/248]

Di antara sahabat yang tidak berputus asa dan melemah adalah Anas bin Nadhr. Ia
tak berputus asa, bahkan dengan gagah berani menerjang barisan lawan demi
menebus keutamaan yang luput darinya pada perang Badar.

Saat melihat sejumlah kaum muslimin yang lemah tanpa perlawanan, ia berkata,
"Demi surga dan Tuhan Nadhr, sungguh aku telah mencium bau surga dan tak ada
satupun yang dapat menciumnya."

Benarlah apa yang dikatakan Anas. setelah pertempuran usai, Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mencarinya.
Zaid menemukannya saat ia menghembuskan nafas terakhirnya. Dan saat ditemukan,
terdapat lebih dari 80 luka sabetan pedang, anak panah, dan luka ditubuhnya.
Sampai-sampai tak seorangpun mengenalinya pada saat itu, kecuali saudara
perempuannya, Rubayyi'. Ia berhasil mengenali jasad saudaranya melalui sebuah
tanda di ujung jarinya.

Setelah Zaid menemukanAnas, ia menyampaikan salam dari Rasulullah untuknya. Lalu
Anas menjawab salam tersebut dan berkata, "Aku telah mendapatkannya, aku telah
mendapatkan harumnya surga! Tolong katakan kepada kaumku, orang-orang Anshar,
'Tidak ada alasan bagi kalian di hadapan Allah untuk tidak menolong Rasul-Nya
sampai akhir hayat. Kalian masih memiliki satu sisi di surga yang harus kalian
kelilingi'."

Kepahlawanan Anas dan kaum muslimin yang teguh hingga syahid di medan Uhud ini
diabadikan dalam firman-Nya:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا
عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ
قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ
وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah
mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di
antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah
(janjinya)." (QS. Al-Ahzab: 23)

Terhadap pasukan kaum muslimin yang terpengaruh dengan berita wafatnya
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sehingga menjadi lemah, bahkan mundur ke
belakang, Allah berfirman:

أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ
عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ
عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ
شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

"Apakah Jika dia (Muhammad) wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang
(murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat
mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan
kepada orang-orang yang bersyukur." (QS. Ali Imran: 144)

Maksud orang-orang yang bersyukur adalah mereka yang teguh dalam menjalankan
ketaatan dan berperang untuk membela agama Allah serta mengikuti Rasul-Nya, baik
di saat beliau masih hidup atau sudah wafat.

Orang-orang yang bersyukur : mereka yang teguh dalam menjalankan ketaatan dan
berperang untuk membela agama Allah serta mengikuti Rasul-Nya, baik di saat
beliau masih hidup atau sudah wafat.
Telah juga disebutkan dalam kita-kita shahih, kitab-kitab Musnad, dan
kitab-kitab sunan, terkhusus dalam musnad Abu Bakar al-Shiddiq dan Umar bin
al-Khathab, bahwa Abu Bakar telah membacakan ayat ini saat Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wasallam meninggal dunia.

Al-Zuhri berkata, Abu Salamah telah menceritakan kepadaku dari Ibnu Abbas, Abu
Bakar keluar sementara Umar berbicara kepada khlayak. Kemudian Abu Bakar
berkata, "Duduklah wahai Umar." Tapi Umar menolak untuk duduk, sehingga khalayak
menghadap kepada Abu Bakar dan meninggalkan Umar. Kemudian Abu Bakar berkata,
"Amma ba'du, barangsiapa menyembah Muhammad, maka sungguh Muhammad telah
meninggal. Dan siapa yang menyembah Allah, maka sungguh Allah senantiasa hidup
dan tak pernah mati. Allah Ta'ala berfirman,

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ
مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ
أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى
أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى
عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا
وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu
sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia (Muhammad) wafat atau dibunuh
kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka
ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan
memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (QS. Ali Imran: 144)."

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu berkata, "Demi Allah, seolah-olah manusia tidak
mengetahui bahwa Allah telah menurunkan ayat ini sehingga dibacakan kembali oleh
Abu Bakar. Lalu semua orang membaca ayat ini darinya, sehingga tidaklah
seseorang mendengarnya kecuali membacanya."

Syaikh Abdurrahman al-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan berkaitan dengan ayat
ini, bahwa Rasululullah bukan satu-satunya rasul. Telah ada para rasul yang
mendahuluinya. Tugas mereka sama, yaitu menyampaikan risalah dari Allah, Tuhan
mereka semua, dan melaksanakan perintah-perintah-Nya. Mereka tidak ada yang
kekal, sehingga keberadaan mereka bukanlah syarat dalam melaksanakan
perintah-perintah Allah. Bahkan wajib bagi semua umat, beribadah kepada Allah di
setiap waktu dan keadaan. Oleh karenanya Allah berfirman, " Apakah Jika dia
(Muhammad) wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa
yang berbalik ke belakang." Yakni dengan meninggalkan perintah beriman, berjihad
atau selainnya yang telah datang kepadamu.

Dalam ayat yang mulia ini, kata Syaikh Sa'di lagi dalam tafsir ayat tersebut,
terdapat pelajaran dari Allah Ta'ala bagi para hamba-Nya agar berada dalam satu
kondisi yang teguh, tidak goyah dalam beriman atau menjalankan tuntutannya
karena hilangnya seorang pemimpin, walau ia seorang yang agung. Hal ini bisa di
atasi dengan senantiasa menyiapkan orang-orang yang ahli dalam setiap urusan
dien (Islam). Jika hilang salah seorang mereka, yang lain bisa menggantikannya.
Dan supaya tujuan kaum mukminin secara umum adalah menegakkan agama Allah dan
berjihad membelanya sesuai kemampuan, jangan sampai tujuan mereka terpaku pada
seorang pemimpin tertentu. Dengan kondisi semacam ini, maka urusan mereka akan
bisa tegak.

. . . supaya tujuan kaum mukminin secara umum adalah menegakkan agama Allah dan
berjihad membelanya sesuai kemampuan, jangan sampai tujuan mereka terpaku pada
seorang pemimpin tertentu.
Kemudian pada ayat selanjutnya Allah mengabarkan tentang rahasia kematian yang
tidak terjadi kecuali dengan izinnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلا
بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلا

"Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai
ketetapan yang telah ditentukan waktunya." (QS. Ali Imran: 145) Artinya, tidak
seorangpun yang meninggal kecuali dengan takdir Allah, dan sehingga sempurna
waktu yang telah ditetapkan Allah untuknya. Oleh karena itu Allah berfirman,
"sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya."

Dalam ayat ini terdapat motifasi dan dorongan bagi para penakut untuk berperang
(berjihad). Karena maju berperang atau lari darinya tidak mengurangi jatah umur
dan tidak pula menambahnya. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Abi
Hatim, dari Habib bin Shuhban, seorang muslim, -namanya Hujr bin 'Adi- berkata,
"Apa yang menghalangi kalian untuk menyeberangi sungai Tigris untuk menemui
musuh-musuh itu? "Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin
Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya." Kemudian ia menepuk
kudanya menyeberangi sungai Tigris. Ketika ia melakukan itu, orang-orangpun
mengikutinya. Maka saat musuh melihat mereka seperti itu, mereka berteriak dan
lari terbirit-birit. (Tafisr Ibnu Abi Hatim: 2/ 584)

. . maju berperang atau lari darinya tidak mengurangi jatah umur dan tidak pula
menambahnya.
Penutup

1. Berita gugurnya Syaikh Usamah bin Laden tidak boleh membuat lemah perjuangan
jihad menegakkan kalimatullah di muka bumi ini. Terlebih beliau gugur di tangan
musuh-musuh Allah dan agama-Nya, yang kita berharap Allah menerima kesyahidannya
dan menjadikannya sebagaimana dalam firman-Nya.

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي
سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ
عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ فَرِحِينَ
بِمَا آَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ

"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati;
bahkan mereka itu hidup[248] disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka
dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada
mereka." (QS. Ali Imran: 169-170)

2. Tujuan perjuangan Jihad fi sabilillah adalah untuk menegakkan agama Allah,
bukan terpaku pada seorang pemimpin tertentu. Jika seseorang jadi tujuan, pasti
perjuangan tak akan istiqamah. Karena pemimpin adalah manusia yang bisa salah
dan pasti akan habis jatah hidupnya.

3. Kematian Usamah terjadi dengan izin Allah Ta'ala dan sudah sampai ajalnya.
Kalau bukan karena ditembak mati pasukan khusus Amerika, pasti ada sebab lain
yang Allah adakan.

4. Jihad tidaklah memendekkan umur, sebaliknya tidak berjihad juga tidak
memanjangkannya, karena umur manusia sudah ditetapkan oleh penciptanya.
Karenanya tidak ada alasan takut berjihad dan meninggalkannya bagi orang
beriman.

5. Siapa yang berjihad untuk Allah sebagai bentuk pengabdian kepada-Nya, maka
Allah tetap hidup dan tak akan pernah mati. Sementara siapa yang berjihad untuk
al-Qaidah dan Usamah, maka beliau telah tiada, maka pastinya ia melemah dan
meninggalkan senjatanya.

6. Untuk menjaga kesinambungan jihad Islam, seperti nasehat Syaikh Sa'di, agar
tidak menyiapkan kader yang ahli dalam bidangnya, sehingga apabila hilang satu,
maka masih ada yang siap menggantikannya sehingga jihad akan tetap eksis.
Wallahu Ta'ala a'lam.

[PurWD/voa-islam.com]

Tidak ada komentar: