Jumat, 12 Agustus 2011

Tidak Ada Ramadhan untuk Muslim Uighur, Umat Butuh Khilafah!

Tidak Ada Ramadhan untuk Muslim Uighur, Umat Butuh Khilafah!

Selasa, 09 Agustus 2011 16:54
Redaksi

Syabab.Com - Tanpa Khilafah, kaum Muslim terus menderita. Hanya untuk menaati
perintah agamanya saja, para penguasa korup membatasinya. Di tengah penangkapan
baru baru ini, pembatasan tentang ibadah puasa dan sholat di masjid-masjid,
Muslim Uighur menderita di bawah episode terbaru dari tindakan represif
pemerintah Cina terhadap etnis minoritas di wilayah barat laut Xinjiang.

"Jika ada tokoh agama membahas Ramadhan selama kegiatan keagamaan, atau
mendorong orang untuk ambil bagian, maka mereka akan kehilangan lisensi mereka
untuk berceramah," kata Dilxat Raxit, juru bicara Kongres Uighur Dunia yang
berbasis di Munich, Eurasia Review pada Jumat, 5 Agustus.

"Kasus-kasus yang lebih serius akan menghasilkan penangkapan dengan tuduhan
terlibat dalam aktivitas agama yang ilegal," katanya.

Sehari sebelum dimulainya bulan suci puasa bagi umat Islam Cina, setidaknya 11
orang tewas dalam serangkaian serangan di wilayah barat laut Xinjiang.

Pihak berwenang China mengutuk serangan terhadap etnis minoritas, setelah polisi
China menembak mati dua orang Muslim hari Minggu lalu.

Serangan itu terjadi kurang dari dua minggu setelah 18 orang tewas dalam
serangan di wilayah Xinjiang yang bergolak.

Setelah kerusuhan, lebih dari 100 orang Uighur ditahan oleh otoritas China.

Kebanyakan dari mereka yang ditahan sebagai tersangka itu merupakan warga muslim
Islam yang menghadiri masjid dan istrinya yang mengenakan cadar, ungkap penduduk
setempat.

Ibukota Xinjiang, Urumqi, pernah terjadi kekerasan mematikan pada Juli 2009
ketika minoritas Muslim Uighur menentang atas pembatasan Cina di wilayah
tersebut.

Pada hari-hari berikutnya, massa etnis Han marah turun ke jalan membalas dendam.
Ini merupakan kekerasan etnis terburuk yang pernah terjadi di China dalam
beberapa dekade terakhir.

Kerusuhan tersebut mengakibatkan hampir 200 orang tewas dan 1.700 orang terluka,
menurut angka pemerintah. Tapi Uighur, minoritas yang berbahasa Turki Muslim,
mengatakan jumlah korban jauh lebih tinggi dan terutama dari komunitas mereka.

Pihak berwenang Cina telah menghukum sekitar 200 orang, sebagian besar etnis
Uighur didakwa terlibat kerusuhan dan dijatuhi hukuman 26 tahun hingga sebagian
dari mereka dijatuhi hukuman mati.

Tidak Puasa

Beijing menerapkan pembatasan terhadap Muslim Cina seiring dimulainya bulan suci
Ramadhan.

Adapun bagi aparat pemerintah yang muslim di seluruh Xinjiang, pemerintah
memaksa mereka untuk menandatangani "surat tanggung jawab" yang berisi
perjanjian untuk tidak berpuasa, sholat tarawih, atau kegiatan keagamaan
lainnya.

"Puasa selama bulan Ramadhan adalah kebiasaan etnik tradisional, dan mereka
diperbolehkan untuk melakukan itu," kata seorang karyawan yang menjawab telepon
di kantor lokal pemerintah daerah panitia di ibukota wilayah Urumqi
mengkonfirmasikan pelarangan di bulan Ramadhan.

"Tapi mereka tidak diperbolehkan untuk mengadakan kegiatan keagamaan selama
Ramadhan," tambahnya.

"Anggota Partai tidak diperbolehkan untuk berpuasa selama Ramadhan, dan dilarang
juga bagi PNS."

Adapun perusahaan swasta, karyawan Muslim Uighur ditawarkan makan siang selama
jam puasa.

Siapapun yang menolak untuk makan bisa kehilangan bonus tahunan mereka, atau
bahkan pekerjaan mereka, Raxit menambahkan.

Pemerintah juga menargetkan sekolah Islam, menyediakan mereka dengan makan siang
gratis selama bulan puasa.

Seorang warga Uighur Beijing mengatakan siswa di bawah 18 tahun dilarang puasa
selama bulan Ramadhan. Selain itu, kampanye pemerintah memaksa restoran di
wilayah mayoritas Muslim untuk tetap buka sepanjang hari.

Lebih banyak pembatasan juga dikenakan pada orang yang mencoba untuk menghadiri
shalat di masjid-masjid.

Setiap orang menghadiri sholat jamaah harus mendaftar dengan kartu identitas
nasional mereka, ia menambahkan.

"Mereka harus mendaftar," katanya.

"[Setelah sholat] mereka tidak diizinkan untuk [berkumpul dan] berbicara satu
sama lain."

Di bulan Ramadhan, umat Islam dewasa menjauhkan diri dari makanan, merokok,
minum, dan seks antara fajar dan matahari terbenam. Yang sakit dan mereka yang
bepergian dikecualikan dari puasa terutama jika menimbulkan risiko kesehatan.

Muslim mendedikasikan waktu mereka selama bulan suci untuk lebih dekat dengan
Allah melalui doa, menahan diri dan perbuatan baik. Namun, tanpa Khilafah, umat
Muslim di China tersebut telah dirampas hak-haknya dalam menaati perintah
agamanya.

Demikianlah, umat benar-benar membutuhkan Khilafah yang akan membebaskan kaum
Muslim dari cengkraman kaum kafir. Khilafah inilah yang akan membebaskan Muslim
Uighur dan kaum Muslim lainnya dari para penjajah.

Tidak ada waktu lagi untuk berleha-leha, kecuali mengerahkan segala kekuatan
untuk mewujudkan tegaknya Khilafah. Insya Allah, semakin dekat.
[m/onislam/syabab.com]

Baca Juga:

* Rezim Cina Larang Muslim Uighur Berpuasa Di Bulan Ramadhan
* Kutuk Keras Pembantaian Muslim Xinjiang, Kedubes Cina Kehabisan
Argumentasi Saat Terima Delegasi HTI
* Menyedihkan, Negeri Berpenduduk Muslim Terbesar Itu Tak Mau Peduli Atas
Derita Muslim Uighur
* Setelah Genosida, Pemerintah Cina Larang Sholat Jumat
* Penguasa Sekuler Negeri Muslim Bungkam Terhadap Genosida China Atas Muslim
Uighur
* China Gencarkan Propaganda, Tuduh Hizbut Tahrir Sebagai Musuh Baru
* Pihak Berwenang China Menuduh Hizb ut Tahrir atas Protes yang Terjadi di
Wilayah Barat China

http://syabab.com/akhbar/ummah/1930-tidak-ada-ramadhan-untuk-muslim-uighur-umat-\
butuh-khilafah.html

Tidak ada komentar: