Skip to main content

Posts

"HUBBUL WATHON MINAL IMAN” HADITS PALSU

 "HUBBUL WATHON MINAL IMAN” HADITS PALSU Oleh : Muhammad Shiddiq al-Jawi Ungkapan “hubbul wathon minal iman” memang sering dianggap hadits Nabi SAW oleh para tokoh [nasionalis], mubaligh, dan juga da`i yang kurang mendalami hadits dan ilmu hadits. Tujuannya adalah untuk menancapkan paham nasionalisme dan patriotisme dengan dalil-dalil agama agar lebih mantap diyakini umat Islam. Namun sayang, sebenarnya ungkapan “hubbul wathon minal iman” adalah hadits palsu (maudhu’). Dengan kata lain, ia bukanlah hadits. Demikianlah menurut para ulama ahli hadits yang terpercaya, sebagaimana akan diterangkan kemudian. Mereka yang mendalami hadits, walaupun belum terlalu mendalam dan luas, akan dengan mudah mengetahui kepalsuan hadits tersebut. Lebih-lebih setelah banyaknya kitab-kitab yang secara khusus menjelaskan hadits-hadits dhaif dan palsu, misalnya : 1. Kitab Tahdzirul Muslimin min al-Ahadits a-Maudhu’ah ‘Ala Sayyid al-Mursalin karya Syaikh Muhammad bin al-Basyir bin Zhafir al-Azhari asy-S...

BAI'AT AQOBAH ADALAH METODE SYAR'I UNTUK MEGANGKAT NABI SAW SEBAGAI KEPALA NEGARA ISLAM

 BAI'AT AQOBAH ADALAH METODE SYAR'I UNTUK MEGANGKAT NABI SAW SEBAGAI KEPALA NEGARA ISLAM (Kritik Khilmus | Edisi 16) Oleh : Abulwafa Romli https://abulwafaromli.blogspot.com/2021/10/baiat-aqobah-adalah-metode-syari-untuk.html?m=1 Bismillaahir Rohmaanir Rohiim Pada tulisan ini, insyaAllah, saya akan mengungkap fakta-fakta tersembunyi dibalik peristiwa Bai'at Aqobah Pertama dan Kedua. Tujuannya, untuk menjelaskan, bahwa daulah nubuwwah pimpinan Nabi Muhammad saw di Madinah dan daulah khilafah 'ala minhajin nubuwwah pimpinan Alkhulafa' Arrosyidiin, keduanya benar-benar telah memiliki wilayah kekuasaan sejak awal berdirinya. Dan tujuan selanjutnya, untuk membongkar kepalsuan khilafah yang tidak memiliki wilayah kekuasaan, bahkan mengingkarinya, sebagaimana Khilmus. Mereka tanpa tedeng aling-aling menegaskan, bahwa "khilafah adalah Al Jama'ah, bukan negara", dst.  Dengan demikian, saya berharap, semoga Allah swt menyelamatkan kaum muslimin dari fitnah khila...

Hari santri nasional

 HARI SANTRI NASIONAL Digging up the past Oleh: Ust. M. Ismail Yusanto Digging up the past adalah slogan yang sangat terkenal di kalangan para arkeolog. Ini mewakili semangat mereka untuk mengungkap masa lalu melalui usaha penemuan dan penggalian situs-situs bersejarah. Hasilnya adalah sebuah rekonstruksi kehidupan atau peradaban di masa lalu yang diharap bisa memberi pelajaran kepada kehidupan sekarang dan di masa mendatang. Tapi slogan itu kiranya tepat juga dipakai oleh kita saat ini yang konsern pada pentingnya pelurusan sejarah. Terlebih setelah Presiden Jokowi - memenuhi janji kampanye saat pilpres tahun lalu - menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Penetapan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri tidak lepas dari kiprah santri dan para kiai dalam melawan penjajah yang ketika itu terus berusaha mengancam kemerdekaan Indonesia yang baru saja diproklamasikan. Pada 21 Oktober 1945, berkumpul para kiai se-Jawa dan Madura di kantor ANO (Ansor Nahdlatul Oelama)...

Khilafah Tidak Ada Dalam Syariat Islam", Ahmad Dhani: Memangnya Demokrasi dan Republik Ada?

 "Khilafah Tidak Ada Dalam Syariat Islam", Ahmad Dhani: Memangnya Demokrasi dan Republik Ada?! Sabtu, 16 Oktober 2021 Faktakini.info *KHILAFAH TIDAK ADA DALAM SYARIAT ISLAM?* By AhmadDhani Ada Muslim yang berteriak “KHILAFAH TIDAK ADA DI SYARIAT ISLAM!” Dalam hati saya... *”DUNGU”* *APA DEMOKRASI ada di SYARIAT ISLAM?* *APA REPUBLIK ITU ADA DI SYARIAT ISLAM?* ABU BAKAR RA UMAR BIN KHATAB RA USTMAN bin AFFAN RA ALI bin ABI THALIB RA UMAR BIN ABDUL AZIZ HARUN AL RASYID SALAHUDDIN AL AYYUBI MUHAMMAD AL FATIH Mereka semua Tokoh KHILAFAH yang menguasai Dunia selama 1000 tahun . ( Maaf belum ada orang kita yang melampaui kebesaran mereka itu Tokoh KHILAFAH ) Mereka yang tidak terlalu peduli apakah KHILAFAH itu ada di SYARIAT ISLAM Atau tidak... KHILAFAH itu , UNTUK  dan BAGI Muslim yang  *MENTAL nya SUPERIOR*,  *SEJARAH MEMBUKTIKAN ITU* *KHILAFAH* bukan untuk Muslim yang mental nya *INFERIOR* tapi teriak Revolusi. *KHILAFAH* tidak cocok untuk *KITA ,* *KITA* yang sukanya N...

MEMBAIAT KHALIFAH TANPA PENERAPAN SYARIAH

 MEMBAIAT KHALIFAH TANPA PENERAPAN SYARIAH Diasuh Oleh: Ust M Shiddiq Al Jawi Tanya :  Teman dialog saya pernah menyampaikan bahwasannya dia mengaku sudah membai'at atau memiliki khalifah. Meskipun, ketika saya tanya, mana wilayahnya, militer, dsb, dia menjawab belum ada dan lagi diusahakan. Karena menurut dia, yang penting adalah membai'at atau mengangkat khalifah dulu, soal perangkatnya (wilayah, militer, dll) menyusul. Jika harus nunggu militer dan wilayah dulu ada, maka akan terlalu lama. Keburu nanti jika mati, maka matinya terkategori mati jahiliyyah. Jadi angkat dulu khalifah meskipun belum ideal (bisa dikatakan khalifah darurat). Menurut dia lagi, pemahaman di atas berangkat dari hadits Rasul SAW "Barang siapa yang mati dalam kondisi tidak berba'iat kepada khalifah maka matinya mati jahiliyyah" (HR Muslim). Pertanyaan saya : 1. Benarkah pemahaman teman dialog saya tadi diatas, yang penting "person khalifah" dulu, bukan "wilayah atau kekuasaa...

ADANYA KESAN PEMBIARAN TERHADAP SIMBOL KOMUNISME BELUM TENTU NEGERI INI DIKUASAI KOMUNISME

 ADANYA KESAN PEMBIARAN TERHADAP SIMBOL KOMUNISME BELUM TENTU NEGERI INI DIKUASAI KOMUNISME Pertama, sebagaimana sudah dipahami bahwa negara kapitalis, bukanlah negara komunis. Negara kapitalis asasnya adalah sekularisme, yaitu paham yang mengharuskan pemisahan aturan agama terhadap aturan politik (negara) atau aturan dunia. Jadi, liberalisme (paham kebebasan) menjadi ide yang sangat dijunjung tinggi. Orang bebas mau berbuat apa saja, asal tidak mengganggu kebebasan orang lain, dan asal tidak memaksakan kepada orang lain. Ini tentang kapitalisme-liberalisme yang asasnya adalah sekularisme. Kedua, karena liberalisme begitu dijunjung tinggi, maka orang bebas mau berbuat apa saja. Mau sekafir apa pun seseorang, dipersilakan. Mau setakwa apapun seseorang, juga dipersilakan. Ini hukum asal kapitalisme. Jadi, sebenarnya, tidak ada masalah dan tidak ada persoalan orang mau menyuarakan tentang komunisme yang mengingkari adanya Tuhan atau mengingkari adanya agama, tidak masalah. Pun demikia...

Iqamat Al-Khilafah: Kefardhuan yang Dipahami dengan Logika Tasyri’iyyah

 Iqamat Al-Khilafah: Kefardhuan yang Dipahami dengan Logika Tasyri’iyyah Irfan Abu Naveed Bahasan Khilafah itu bahasan syar’iyyah (min al-mabahits al-syar’iyyah), wajib dipahami dengan logika tasyri’iyyah, bukan logika khayaliyyah. Maka salah besar lari dari logika tasyri’iyyah shahihah kepada logika khayaliyyah untuk menegasikan adanya kefardhuan iqamat al-Khilafah. Harus saya tegaskan: mereka yang menafikan kefardhuan menegakkan Khilafah selama ini, terbukti dalam dunia perdebatan, hanya bertolak dari logika khayaliyyah, tak ada yang berbobot ilmiah. Pendapat mereka tidak layak dilirik, dan wajib diabaikan. Al-Hafizh al-Qurthubi (w. 671 H), ahli tafsir dan fikih yang menyusun kitab tafsir otoritatif yang memuat sajian fikih, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân (Keseluruhan dari Hukum-Hukum Al-Qur’an), tatkala menafsirkan firman Allah ‘Azza wa Jalla: وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً “Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para Malaikat: “Sesung...