Skip to main content

Perjanjian Sykes-Picot

 Dialah pria yang berhasil membongkar konspirasi terbesar abad ini. Jika bukan karena dirinya, Perjanjian Sykes-Picot mungkin akan tetap menjadi rahasia yang terkubur rapat di bawah tanah. Namun, yang benar-benar mengejutkan bukanlah siapa sosok di balik pembongkaran itu, melainkan bagaimana reaksi Syarif Husain saat pertama kali mendengar kabar tersebut!


Sosok itu adalah Leon Trotsky, Menteri Luar Negeri dari era Revolusi Bolshevik, pemikir komunis ternama, sekaligus pendiri Tentara Merah. Pada tahun 1917, setelah Revolusi Bolshevik yang dipimpin oleh Vladimir Lenin berhasil menggulingkan Tsar Rusia, Trotsky tengah memeriksa dokumen-dokumen lama di arsip Kekaisaran Rusia yang runtuh di dalam istana Tsar. Secara tidak sengaja, ia menemukan sebuah dokumen yang sangat berbahaya—dokumen yang sanggup memicu efek gempa politik di seluruh dunia. Dokumen itu adalah sebuah perjanjian rahasia antara Inggris, Prancis, dan Kekaisaran Rusia untuk membagi-bagi wilayah Arab (Timur Tengah) setelah runtuhnya Kesultanan Turki Utsmani.


Akar dari perjanjian ini sebenarnya bermula pada akhir tahun 1915, ketika Inggris dan Prancis memulai negosiasi rahasia untuk mengaveling wilayah kekuasaan "The Sick Man of Europe" (Si Sakit dari Eropa)—julukan bagi Kesultanan Turki Utsmani yang kala itu sedang meredup. Kekaisaran Rusia kemudian dilibatkan dalam kesepakatan ini sebagai imbalan atas kendali terhadap Konstantinopel, Selat Bosporus, dan sebagian wilayah Anatolia.


Pada Mei 1916, perjanjian tersebut resmi ditandatangani oleh Mark Sykes dari Inggris dan François Georges-Picot dari Prancis. Isinya secara gamblang membagi wilayah Syam (Levant) dan Irak di antara kedua negara, serta menempatkan Plestina di bawah administrasi internasional. Langkah sepihak inilah yang nantinya membuka jalan bagi Deklarasi Balfour, sebuah janji sepihak yang memberikan "tanah air" bagi kaum Yahudi di Plestina.


Trotsky memutuskan untuk mengekspos apa yang ia sebut sebagai "konspirasi kekuatan imperialis terhadap bangsa-bangsa yang tertindas," sebuah manuver politik untuk menyerang balik negara-negara sekutu pendukung Tsar. Ia memublikasikan teks lengkap perjanjian rahasia tersebut di surat kabar Rusia, Pravda, pada 23 November 1917. Tak butuh waktu lama, media-media Eropa langsung ikut meramaikannya, dipelopori oleh surat kabar Inggris, Manchester Guardian.


Skandal ini meledak bagai bom waktu. Dunia akhirnya melihat dengan mata kepala sendiri bahwa di depan publik, Inggris dan Prancis mengumbar janji manis kemerdekaan kepada bangsa Arab, namun di balik layar, mereka justru sibuk memotong-motong tanah mereka seperti kue komunal. Pemerintah Inggris dan Prancis pun menanggung malu yang luar biasa di hadapan sekutu-sekutu Arab mereka.


Berita ini segera sampai ke telinga Kesultanan Turki Utsmani melalui Jerman dan Austria-Hungaria, sekutu mereka dalam Perang Dunia I. Pihak Turki Utsmani sebenarnya sudah lama mencurigai adanya rencana busuk Inggris-Prancis untuk memecah belah wilayah mereka, tetapi mereka baru memegang bukti pamungkas setelah dokumen rahasia Rusia ini bocor ke publik.


Ketika Jamal Pasha, panglima Angkatan Darat Keempat Turki Utsmani di wilayah Syam, membaca detail perjanjian tersebut, ia memutuskan untuk memberikan peringatan terakhir kepada bangsa Arab. Pada 26 November 1917, ia mengirim pucuk surat kepada Pangeran Faisal bin Al-Husain. Jamal membeberkan apa yang dipublikasikan oleh Rusia, mengungkap plot pembagian Plestina, Suriah, dan Irak antara Inggris dan Prancis, serta mengajaknya untuk memikirkan kembali aliansi mereka dengan Inggris.


Dalam suratnya, Jamal Pasha menulis:

"Hari ini, kita sedang melewati lembaran paling kelam dan penuh keraguan dalam sejarah Islam. Pemerintah Turki Utsmani terjun ke medan perang dengan tekad bulat untuk mengakhiri penghinaan terhadap Islam, demi hidup dengan mulia dan merdeka, atau mati dengan terhormat... Namun, kemerdekaan seperti apa yang kalian bayangkan bagi sebuah pemerintahan Arab yang akan berdiri setelah Plestina diinternasionalisasi, Suriah sepenuhnya berada di bawah kendali Prancis, dan seluruh Irak dijadikan bagian dari wilayah kekuasaan Inggris?"


Namun, bagaimana reaksi Syarif Husain setelah konspirasi besar ini terbongkar?

Ketika kabar tentang Perjanjian Sykes-Picot sampai ke tangannya lewat perantara Jamal Pasha, ia justru menolak untuk percaya. Bukannya menyikapi hal itu sebagai dokumen valid yang sudah telanjur tersebar di media-media internasional, ia malah mengirim surat ke perwakilan tinggi Inggris di Mesir dan Sudan untuk mengonfirmasi kebenarannya.


Jawaban datang dari Lord Balfour sendiri, yang membantah keras keberadaan perjanjian tersebut. Ia berdalih bahwa dokumen itu hanyalah propaganda palsu dan rekayasa licik Turki Utsmani-Bolshevik demi mengadu domba bangsa Arab dengan sekutu Inggris mereka. Anehnya, Syarif Husain menelan mentah-mentah bantahan tersebut dan memercayai narasi Inggris secara penuh.


Sejarawan Muhammad Ali Ahmad menggambarkan momen getir ini dalam catatannya:


"Sekali lagi, menambah panjang drama kepolosan Syarif Husain yang selalu memercayai Inggris. Ia berdiri membela mereka, menelan pembenaran yang menyesatkan itu, dan terus tunduk pada politik serta kemunafikan Inggris."

Sementara itu, jawaban resmi yang dikirimkan pihak Syarif Husain kepada Jamal Pasha diwakili oleh Pangeran Faisal, dan jawabannya terkesan sangat menohok: "Tidak ada apa-apa di antara bangsa Arab dan Turki kecuali pedang, sampai pe*rang ini usai dan mereka angkat kaki dari tanah Arab."


Namun, jalannya sejarah segera membuktikan bahwa peringatan dari Turki Utsmani sepenuhnya benar.


Pada Desember 1917, Yerusalem jatuh ke tangan Inggris. Setelah Perang Dunia I berakhir pada tahun 1918, cetak biru Perjanjian Sykes-Picot dan Deklarasi Balfour benar-benar diterapkan di dunia nyata: Plestina berada di bawah Mandat Inggris, Suriah jatuh ke tangan Prancis, dan Irak dikuasai di bawah pengaruh Inggris.


Di saat itulah, ketika semuanya sudah telanjur terlambat, banyak orang Arab baru menyadari bahwa mereka telah terjebak dalam penipuan raksasa. Mereka hanya dijadikan bahan bakar untuk memuluskan proyek kolonial yang masif, dan janji kemerdekaan dari Inggris tak lebih dari sekadar alat manipulasi geopolitik untuk memenuhi syahwat kekuasaan imperium barat.


Dalam konteks sejarah inilah, Syekh Muhammad Al-Ghazali melontarkan kalimatnya yang sangat terkenal:

"Kamu tidak perlu menjadi seorang agen rahasia untuk melayani musuhmu... Cukup jadilah orang yang bodoh!"


Kini, sebuah pertanyaan besar tetap menggelitik pikiran kita: jika Leon Trotsky tidak membocorkan dokumen rahasia itu, apakah Perjanjian Sykes-Picot akan pernah terungkap ke publik, ataukah ia akan tetap terkunci rapat di dalam laci rahasia selama berpuluh-puluh tahun? Dan jika konspirasi sebesar itu terungkap hanya karena sebuah faktor kebetulan, berapa banyak lagi perjanjian rahasia lainnya yang masih tersembunyi di balik kegelapan sejarah tanpa pernah ada yang membongkarnya? Sementara di luar sana, masih banyak orang yang memercayai janji manis yang sama dan mengulang kesalahan sejarah yang persis sama.


Catatan:

1. Kebenaran Peran Leon Trotsky: Fakta ini 100% Benar. Sebagai Komisaris Rakyat untuk Urusan Luar Negeri (setingkat Menteri Luar Negeri) setelah Revolusi Oktober 1917, Trotsky sengaja membuka arsip rahasia diplomatik Tsar Rusia untuk mempermalukan negara-negara imperialis Barat. Dokumen tersebut diterbitkan di koran Pravda dan Izvestia, lalu diterjemahkan oleh Manchester Guardian pada akhir November 1917.


2. Surat Peringatan Jamal Pasha: Pihak Turki Utsmani memanfaatkan kebocoran dokumen ini sebagai senjata propaganda taktis untuk membujuk faksi Arab (terutama Pangeran Faisal) agar menghentikan Pembero*ntakan Arab (Arab Revolt) dan kembali bergabung dengan kekhalifahan Islam untuk melawan sekutu.


3. Reaksi Kenaifan Syarif Husain: Syarif Husain memang meminta klarifikasi kepada Sir Reginald Wingate (perwakilan Inggris di Mesir) dan Inggris memang meminimalkan isu tersebut dengan menyebutnya taktik adu domba Turki Utsmani. Alasan mengapa Syarif Husain "percaya" bukan hanya karena naif, melainkan karena secara geopolitik ia sudah berada di titik point of no return. Pasukannya sangat bergantung pada pasokan dana (emas) dan senjata dari Inggris. Berbalik arah mendukung Turki Utsmani di akhir tahun 1917 adalah bunuh diri politik yang mustahil ia lakukan.

Comments

Popular posts from this blog

𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍

 𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍 https://www.facebook.com/joko.prasetyo.457609/posts/pfbid02qjxJndqbLy1EpcAYSitShA3dEcmucHZZEdJwKAbXKHv264jz4oDxxhkF5KVQiEgwl . Sesaat setelah Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengumumkan rencana pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia, sontak saja HTI langsung menjadi ℎ𝑒𝑎𝑑𝑙𝑖𝑛𝑒 di berbagai media massa baik televisi, cetak, radio maupun portal berita daring dan menjadi buah bibir berbagai kalangan masyarakat baik pro maupun kontra.  . “Pemerintah perlu mengambil langkah–langkah hukum secara tegas untuk membubarkan HTI," ujar Wiranto saat jumpa pers, Senin, 8 Mei 2017 di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat. Saat membacakan keputusan tersebut, Wiranto memaparkan tiga alasan pembubaran. .  Ketiga alasan pembubaran tersebut dinilai Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto tidak memiliki dasar sama sekali.  . “...

Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah

 Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah Penulis: Ustaz Yuana Ryan Tresna Muslimah News, SYARAH HADIS — Hadis yang mengabarkan berita gembira tentang kembalinya Khilafah sangatlah banyak. Tidak benar bahwa hadis bisyarah nabawiyyah (kabar gembira kenabian) akan datangnya Khilafah hanya didasarkan pada hadis riwayat Imam Ahmad. Masih banyak hadis lain yang secara makna sejalan dengan hadis tersebut. Misalnya hadis riwayat Muslim, Ahmad, dan Ibnu Hibban tentang khalifah di akhir zaman yang akan “menumpahkan” harta yang tidak terhitung jumlahnya; hadis tentang akan datangnya Khilafah di Baitulmaqdis (HR Abu Dawud, Ahmad, ath-Thabarani, al-Baihaqi); juga hadis tentang kekuasaan umat Nabi Muhammad yang akan melingkupi dari timur hingga barat (HR Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud). Hadis-hadis ini didukung banyak hadis lain dengan makna yang sama, seperti masuknya Islam ke setiap rumah, al-waraq al-mu’allaq, hijrah setelah hijrah, penaklukan Kota Roma, dan seterusnya. Makna hadis kembalinya Khil...

Perbedaan Masiroh dan Demonstrasi

 Perbedaan Masiroh dan Demonstrasi (Muzhaharah) Aktivitas masirah sering digelar oleh beberapa komponen umat Islam dalam menjalankan fungsi mengoreksi penguasa. Sebagian pihak menyamakan masirah ini dengan demonstrasi, dimana demonstrasi ini merupakan salah satu cara Yahudi menurut mereka. Sebenarnya, seperti apakah perbedaan masiroh itu dengen demonstrasi. Berikut ini penjelasan singkatnya. Soal: 1. Mohon dijelaskan perbedaan antara aktivitas demonstrasi dengan masiroh, karena sangat gamblang terlihat bahwa tidak ada perbedaan antara kedua aktivitas. Mohon pencerahannya. 2. Pada suatu artikel saya membaca kritikan terhadap aktivitas masiroh yang melibatkan wanita. Sebenarnya bagaimana mendudukan masalah ini, atau apa batasan-batasan bagi kaum akhwat dalam hal ini. Jawab: Pada dasarnya, uslub (cara) untuk mendakwahkan gagasan-gagasan Islam, atau menyampaikan kritik (koreksi) bisa dilakukan dengan cara apapun, selama uslub tersebut tidak bertentangan dengan syariat, dan masih dalam ...