Saya mendukung Khilafah, tapi bukan versi Hizbut Tahrir, tapi versi Imam Mahdi.
Sebenarnya saya paham betul ya arah pernyataan atau ungkapan seperti ini, namun menurutku nggak ada masalah sih. Saya pikir itu malah bagus. Artinya apa? Artinya kita sama-sama sepakat kalau Khilafah itu memang janji Allah, Taajul Furud (mahkota kewajiban), Nubuwat Nabi dan bagian dari masa depan umat Islam. Kita nggak anti, kita nggak alergi sama syariat.
Tapi...mari kita dudukkan persoalan ini dari sudut pandang yang sedikit berbeda ya.
Menurut keyakinan saya, memang betul, Khilafah di akhir zaman itu bakal dipimpin Imam Mahdi, itu haditsnya jelas, nggak ada perbedaan di situ. Tapi masalahnya, sejak kapan "menunggu" itu jadi alasan untuk "menggugurkan" kewajiban?
Kita semua sepakat shalat itu wajib. Tapi apa iya, kita harus nunggu imam shalat dari luar daerah datang dulu, baru kita mau mendirikan shalat? Kan nggak begitu logikanya.
Satu hal yang saya tahu dan pahami bahwa Hizbut Tahrir itu bukan mau bikin "Khilafah Versi HT". Emangnya ada Khilafah versi kelompok? versi ormas? versi partai? Nggak ada!
Khilafah itu bukan milik kelompok, ormas, atau partai tertentu. Khilafah itu untuk umat Islam secara keseluruhan. Khilafah itu ya Khilafah-nya Rasulullah, yang diwarisi para sahabat, dan ditegakkan dengan thariqah (metode) Rasulullah.
Artinya begini, Imam Mahdi itu datang untuk memimpin institusi yang sudah ada. Dalam banyak riwayat, beliau itu dibaiat.
Nah, kalau mau dibaiat, berarti harus ada orang-orang yang membaiatnya, harus ada umat yang sudah siap dipimpin dengan hukum Islam.
Ibarat kita mau bangun rumah tingkat tinggi yang megah. Nggak bisa cuma mengandalkan Insinyur saja. Rumah itu baru bisa tegak kalau ada arsitek, ahli MEP, mandor, konsultan, kontraktor, tukang, dan buruh yang sudah siap kerja di lapangan.
Jadi, nunggu Imam Mahdi itu sikap iman. Tapi menjadikan Imam Mahdi sebagai alasan untuk membiarkan hukum Allah dicampakkan hari ini, itu ijtihad dari mana? jangan sampai saking larutnya kita dalam hal perbedaan, kita malah membuat alasan untuk membenarkan ketidakpedulian kita pada syariat.
Ingat, Imam Mahdi itu Bisyarah (Janji Allah), tapi menegakkan Khilafah itu Taklif (Perintah Allah). Kita tidak akan dihisab di akhirat karena janji Allah belum turun. Tapi kita pasti akan dihisab, kalau perintah Allah tidak kita kerjakan.
Jangan-jangan... kita bukan lagi nunggu Imam Mahdi, tapi lagi nyari alasan untuk tidak berjuang.
Comments