Skip to main content

Kenapa Harus Khilafah? Bukannya Pancasila Udah Cukup? ​

 Kenapa Harus Khilafah? Bukannya Pancasila Udah Cukup? ​


Saya paham banget kegelisahan di balik pertanyaan atau ungkapan seperti ini. Kamu ingin harmoni. Saya pun sama. Kita semua pastinya ingin menjaga kedamaian di tanah ini. Niat menjaga persatuan itu bukan cuma mulia, itu wajib. Kita ingin menjaga apa yang sudah diperjuangkan para pendiri bangsa, kan? Ini adalah niat yang sangat mulia.


Tapi, izinkan saya mengajak kamu mendudukkan persoalan ini dengan sudut pandang yang sedikit berbeda, lebih jernih dan logis.


Pertama, Izinkan saya bertanya terlebih dahulu, Sebagai seorang Muslim, siapa yang paling berhak membuat aturan untuk mengatur hidup kita? Manusia, atau Sang Pencipta manusia?


Pertanyaan ini penting. Sebab dari sinilah sebenarnya arah pembahasan kita ditentukan dan kita dudukkan tanpa perlu sentilan emosional.


​Nah, untuk menjawab ini, kita perlu membedah dulu sebuah istilah agar tidak salah kaprah. Dalam literatur pemikiran Islam, ada tiga istilah yang harus kenal: Ideologi (Mabda), Falsafah,  dan Sistem (Nizham). Sebab, memahami perbedaan tiga istilah ini adalah kunci, agar kita tau di level mana sebuah masalah berada, dan di level mana solusinya hari dicari.


𝟭. 𝗜𝗱𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶 (𝗠𝗮𝗯𝗱𝗮): Ini adalah pemikiran mendasar tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan. Sesuatu baru bisa disebut Ideologi kalau memenuhi dua syarat utama: punya Fikrah (konsep dasar/ide) dan Thariqah (metode penerapan/cara jalan). Sebuah ideologi yang sahih harus memiliki Aqidah Aqliyyah (keyakinan rasional) yang mampu menjawab tiga pertanyaan fundamental manusia: Dari mana manusia berasal, untuk apa ia hidup, dan ke mana ia setelah mati. Aqidah inilah yang kemudian melahirkan Nizham (sistem peraturan) untuk mengatur seluruh problematika kehidupan.


​Nah, Islam itu adalah Mabda. Dia punya Fikrah (akidahnya) dan punya Thariqah (sistem operasionalnya).


𝟮. 𝗙𝗮𝗹𝘀𝗮𝗳𝗮𝗵: Ini hanyalah sebatas kumpulan nilai moral, etika, atau pandangan hidup. Ia tidak memiliki sistem operasional yang lengkap.


𝟯. ​𝗦𝗶𝘀𝘁𝗲𝗺 (𝗡𝗶𝘇𝗵𝗮𝗺): Ini adalah aturan teknis (hukum ekonomi, politik, sosial) yang digunakan untuk menyelesaikan masalah praktis.


​Di sinilah letak persoalan dan "hubungan kontra" antara Pancasila dan Khilafah.


Banyak orang menganggap Pancasila sebagai ideologi. Namun, dalam definisi mabda' yang saya pahami, Pancasila lebih tepat diposisikan sebagai Falsafah Negara daripada sebuah mabda'. Sebab, sebuah mabda' bukan hanya memuat nilai-nilai luhur yang dianggap baik, tetapi juga harus memiliki thariqah yang khas (baku) untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam seluruh aspek kehidupan. 


Jika kita teliti lebih jauh dan mendalam, kita akan dapati bahwa Pancasila lahir dari pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme). Inilah masalah mendasarnya. Pancasila memang memuat nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, dan keadilan. Namun ia tidak memiliki seperangkat metode penerapan yang baku dan sistemik untuk menyelesaikan problem ekonomi, politik, hukum, pendidikan, dan aspek kehidupan lainnya.


Akibatnya, karena tidak memiliki modul operasional dari asasnya sendiri, ruang-ruang teknis tersebut akhirnya "diisi" oleh sistem lain yang dominan. Contoh: Ekonominya kapitalisme, sistem politiknya demokrasi, Interaksi sosialnya liberalisme, aqidahnya sekulerisme. Jadi pancasila itu ibarat makan gado-gado.


𝗕𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗜𝘀𝗹𝗮𝗺.


​Islam adalah Ideologi (Mabda) yang utuh. Islam punya Fikrah (aqidah) dan punya Thariqah (sistem/khilafah). Di dalam Khilafah, Nizham yang dijalankan—entah itu ekonomi atau politik—bukan hasil "comot" dari sistem Barat, melainkan pancaran langsung dari Aqidah Islam.


Lucu sebenarnya, kita teriak benci penjajahannya, tapi kita masih memelihara 'otak' dan sistem hukum yang mereka tinggalkan. Itu ibarat kita ngaku sudah merdeka dari perampok, tapi tiap hari masih pakai aturan main si perampok di dalam rumah sendiri. Inilah alasan kenapa masalah di negeri ini nggak pernah selesai dari akarnya.


Nah di titk ini, saya melihat Khilafah sebagai solusi yang utuh, ideal dan menyeluruh. Sebab, khilafah bukan sekadar wacana identitas, melainkan sebuah proposal sistem operasional. Islam tidak hanya datang dengan nilai moral, tapi dengan modul tatanan hidup yang lengkap—mulai dari manajemen harta umum agar tidak dikuasai segelintir orang, hingga kedaulatan politik yang mandiri dari intervensi asing.


Dengan segala problematika yang tak kunjung usai di negeri ini, tentu nggak salah juga kalau sebagian besar dari kita menginginkan perubahan yang sistemik. Tentu ​kita butuh sistem yang koheren, yang selaras antara keyakinan mayoritas penduduknya dengan hukum yang dijalankan sehari-hari.


Jadi, pertanyaannya bukan lagi tentang "cukup atau tidak cukup", tapi tentang keberanian kita untuk bicara soal perubahan yang lebih besar.


Kenapa kita masih betah bertahan dengan sistem warisan kolonial yang nyata-nyata gagal, sementara kita punya tawaran sistem yang bersumber dari Sang Pencipta?. []

Comments

Popular posts from this blog

Tulisan bantahan Syaikh Utsman Bakhasy (Hizbut Tahrir) atas tulisan tanggapan pengasuh situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid (Ulama Salafi)

 Tulisan bantahan Syaikh Utsman Bakhasy (Hizbut Tahrir) atas tulisan tanggapan pengasuh situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid (Ulama Salafi) -------------- *Pemberontakan Muhammad bin Abdul Wahab dan Keluarga Saud Terhadap Negara Khilafah Utsmani* Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dengan sebenar-benarnya pujian atas kebaikan dan berkah-Nya, yang tak terhingga jumlahnya, memenuhi langit dan bumi, serta semua yang ada. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasul yang diutus dengan membawa rahmat untuk seluruh alam, yaitu Muhammad bin Abdillah, keluarganya, para sahabatnya, serta siapa saja yang senantiasa setia dan mengikutinya denga cara yang baik hingga hari kiamat. Waba’du. Dalam situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid terdapat sebuah pertanyaan: “Apakah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab memberontak terhadap Khilafah Utsmaniyah, dan menjadi pen...

𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍

 𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍 https://www.facebook.com/joko.prasetyo.457609/posts/pfbid02qjxJndqbLy1EpcAYSitShA3dEcmucHZZEdJwKAbXKHv264jz4oDxxhkF5KVQiEgwl . Sesaat setelah Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengumumkan rencana pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia, sontak saja HTI langsung menjadi ℎ𝑒𝑎𝑑𝑙𝑖𝑛𝑒 di berbagai media massa baik televisi, cetak, radio maupun portal berita daring dan menjadi buah bibir berbagai kalangan masyarakat baik pro maupun kontra.  . “Pemerintah perlu mengambil langkah–langkah hukum secara tegas untuk membubarkan HTI," ujar Wiranto saat jumpa pers, Senin, 8 Mei 2017 di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat. Saat membacakan keputusan tersebut, Wiranto memaparkan tiga alasan pembubaran. .  Ketiga alasan pembubaran tersebut dinilai Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto tidak memiliki dasar sama sekali.  . “...

Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah

 Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah Penulis: Ustaz Yuana Ryan Tresna Muslimah News, SYARAH HADIS — Hadis yang mengabarkan berita gembira tentang kembalinya Khilafah sangatlah banyak. Tidak benar bahwa hadis bisyarah nabawiyyah (kabar gembira kenabian) akan datangnya Khilafah hanya didasarkan pada hadis riwayat Imam Ahmad. Masih banyak hadis lain yang secara makna sejalan dengan hadis tersebut. Misalnya hadis riwayat Muslim, Ahmad, dan Ibnu Hibban tentang khalifah di akhir zaman yang akan “menumpahkan” harta yang tidak terhitung jumlahnya; hadis tentang akan datangnya Khilafah di Baitulmaqdis (HR Abu Dawud, Ahmad, ath-Thabarani, al-Baihaqi); juga hadis tentang kekuasaan umat Nabi Muhammad yang akan melingkupi dari timur hingga barat (HR Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud). Hadis-hadis ini didukung banyak hadis lain dengan makna yang sama, seperti masuknya Islam ke setiap rumah, al-waraq al-mu’allaq, hijrah setelah hijrah, penaklukan Kota Roma, dan seterusnya. Makna hadis kembalinya Khil...