Skip to main content

𝗜𝗦𝗟𝗔𝗠 𝗧𝗜𝗗𝗔𝗞 𝗣𝗘𝗥𝗡𝗔𝗛 𝗠𝗘𝗟𝗘𝗚𝗔𝗟𝗞𝗔𝗡 𝗣𝗘𝗡𝗝𝗔𝗝𝗔𝗛𝗔𝗡 𝗦𝗗𝗔

 𝗜𝗦𝗟𝗔𝗠 𝗧𝗜𝗗𝗔𝗞 𝗣𝗘𝗥𝗡𝗔𝗛 𝗠𝗘𝗟𝗘𝗚𝗔𝗟𝗞𝗔𝗡 𝗣𝗘𝗡𝗝𝗔𝗝𝗔𝗛𝗔𝗡 𝗦𝗗𝗔


Masalahnya Bukan Islam — Tapi Partai yang Mengatasnamakannya


Islam memiliki konsep pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) yang jelas, tegas, dan operasional. Dalam Islam, SDA strategis seperti tambang, energi, air, dan hutan bukan milik negara, apalagi milik swasta. Ia adalah milik umum (milkiyyah ‘ammah). Negara hanya pengelola, bukan pemilik. Karena itu, privatisasi SDA adalah haram, dan hasilnya wajib kembali kepada rakyat, bukan kepada elit, korporasi, atau asing.


Ini bukan soal etika atau simbol agama. Ini struktur hukum ekonomi Islam.


DALIL SYAR‘I TENTANG SDA MILIK UMUM


Rasulullah ﷺ bersabda:

“Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.”

(HR. Abu Dawud)


Para ulama menjelaskan bahwa “air, padang rumput, dan api” mencakup seluruh kebutuhan publik dan sumber daya vital—energi, tambang, dan sarana hidup bersama—yang haram dimonopoli dan haram diprivatisasi. Negara mengelola, bukan menjual kepemilikan.


Namun realitas politik di Indonesia menunjukkan arah sebaliknya.


Partai-partai yang sering diasosiasikan dengan Islam—seperti Partai Keadilan Sejahtera, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Amanat Nasional, dan Partai Kebangkitan Bangsa—tidak pernah memperjuangkan konsep SDA Islam secara struktural. Apalsgi partai lainnya dengan asas nasionalis sekuler sdah pasti lebih berbahaya lagi.


Secara faktual, mereka:


Mengakui SDA sebagai aset negara yang boleh dikomersialkan


Menerima privatisasi SDA melalui undang-undang


Membiarkan swasta dan asing menjadi pemilik konsesi, bukan sekadar operator teknis


Tidak ada penolakan prinsip.

Tidak ada sikap ideologis.

Tidak ada agenda perubahan sistem.


Lebih jauh, partai-partai tersebut ikut menyetujui atau tidak menolak undang-undang strategis seperti Minerba dan Migas, yang bertentangan langsung dengan milkiyyah ‘ammah. Artinya, eksploitasi SDA berbasis konsesi kapitalistik berjalan dengan legitimasi politik, meski berlawanan dengan Islam.


Masalahnya bukan berhenti pada kebijakan teknis, tetapi akar sistemnya.


Partai-partai berlabel Islam:


Tidak menolak demokrasi sebagai sumber hukum final


Tidak berupaya mengganti sistem ekonomi kapitalisme


Tidak menjadikan Islam sebagai hukum tertinggi


Tidak mengelola SDA dengan hukum syariah


Akibatnya, Islam diposisikan hanya sebagai nilai moral dan identitas kultural, bukan aturan hidup dan sistem hukum. Inilah Islam simbolik.


Retorika Islam dipakai untuk meraih suara umat, sementara sistem sekuler–kapitalistik tetap dijaga.


Ini bukan kesalahan individu, dan bukan pula penilaian niat personal. Ini adalah kompromi ideologis yang bersifat struktural.


DALIL TENTANG HUKUM DAN KONSEKUENSI IDEOLOGIS


Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman:

“Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir.”

(QS. Al-Ma’idah: 44)


Ayat ini menjelaskan bahaya menjadikan hukum buatan manusia sebagai rujukan final sambil menyingkirkan hukum Allah. Para ulama membedakan antara penilaian sistem dan vonis individu. Yang ditegaskan di sini adalah risiko ideologis: membenarkan sistem yang menolak hukum Allah sebagai sumber tertinggi adalah jalan berbahaya bagi akidah, dan dapat menyeret seseorang mati dalam keadaan menyimpang secara keyakinan jadi kafir bila diyakini sebagai kebenaran.


Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman:

“Barang siapa yang kafir setelah beriman… maka sia-sialah amal mereka di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”

(QS. Al-Baqarah: 217).


DAMPAK NYATA DARI PENGKHIANATAN STRUKTURAL


Ketika partai berlabel Islam menerima sistem sekuler–kapitalistik:


Rakyat dipecah oleh kontestasi politik identitas


SDA dijajah secara legal melalui konsesi


Kekayaan terkonsentrasi pada elit


Umat tertipu simbol, jauh dari hukum Allah


Ini bukan sekadar kegagalan kebijakan.

Ini pengkhianatan struktural yang membahayakan umat secara dunia dan akhirat.


KESIMPULAN


Islam memiliki konsep SDA yang adil dan membebaskan.

Partai-partai berlabel Islam tidak memperjuangkannya secara struktural.

Selama demokrasi dan kapitalisme diterima sebagai sistem final, SDA akan terus:


👉 Diprivatisasi

👉 Dikuasai elit

👉 Dijauhkan dari rakyat


Mengatasnamakan Islam sambil menjaga sistem penjajahan bukan dakwah.

Itu legitimasi penindasan—dan risiko besar bagi keselamatan akidah umat.


📢 SERUAN 


Berhenti hidup dalam ilusi.


Islam bukan simbol.

Bukan jargon.

Bukan alat meraih kekuasaan.


Islam adalah aturan hidup yang wajib ditegakkan.


Selama manusia lebih tunduk pada aturan buatan manusia

daripada hukum Allah,

maka keadilan sejati tidak akan pernah terwujud.


Yang terjadi adalah:

kepentingan mengalahkan kebenaran,

kekuatan mengalahkan keadilan,

dan rakyat terus menjadi korban sistem demokrasi dan pejabat partai nya.


Ini bukan sekadar perbedaan pilihan.

Ini soal arah hidup dan kebenaran.


Hanya hukum Allah yang:

menjaga hak semua manusia,

menutup celah kezaliman,

dan membebaskan manusia dari dominasi sistem yang tidak adil.


Jangan diam. Jangan ikut arus.


Sebarkan di majelis ilmu, keluarga, dan masyarakat.


Karena pemikiran tidak benar tidak datang tiba-tiba ia ditanam, mulai dari pendidikan dasar dan  dibiasakan, lalu dianggap normal.


Kalau tidak diluruskan,

ia akan diwariskan.


Kebenaran tidak akan menang

jika orang yang memahaminya memilih diam.

Keselamatan umat baik didunia dan akhirat akan semakin hilang.


#KembaliKeIslam

#IslamSebagaiSolusi

#LuruskanArahHidup

#BangkitDenganIslam

#KeadilanUntukSemua

#DakwahDenganIlmu

#SadarSistem

Comments

Popular posts from this blog

Tulisan bantahan Syaikh Utsman Bakhasy (Hizbut Tahrir) atas tulisan tanggapan pengasuh situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid (Ulama Salafi)

 Tulisan bantahan Syaikh Utsman Bakhasy (Hizbut Tahrir) atas tulisan tanggapan pengasuh situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid (Ulama Salafi) -------------- *Pemberontakan Muhammad bin Abdul Wahab dan Keluarga Saud Terhadap Negara Khilafah Utsmani* Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dengan sebenar-benarnya pujian atas kebaikan dan berkah-Nya, yang tak terhingga jumlahnya, memenuhi langit dan bumi, serta semua yang ada. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasul yang diutus dengan membawa rahmat untuk seluruh alam, yaitu Muhammad bin Abdillah, keluarganya, para sahabatnya, serta siapa saja yang senantiasa setia dan mengikutinya denga cara yang baik hingga hari kiamat. Waba’du. Dalam situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid terdapat sebuah pertanyaan: “Apakah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab memberontak terhadap Khilafah Utsmaniyah, dan menjadi pen...

𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍

 𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍 https://www.facebook.com/joko.prasetyo.457609/posts/pfbid02qjxJndqbLy1EpcAYSitShA3dEcmucHZZEdJwKAbXKHv264jz4oDxxhkF5KVQiEgwl . Sesaat setelah Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengumumkan rencana pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia, sontak saja HTI langsung menjadi ℎ𝑒𝑎𝑑𝑙𝑖𝑛𝑒 di berbagai media massa baik televisi, cetak, radio maupun portal berita daring dan menjadi buah bibir berbagai kalangan masyarakat baik pro maupun kontra.  . “Pemerintah perlu mengambil langkah–langkah hukum secara tegas untuk membubarkan HTI," ujar Wiranto saat jumpa pers, Senin, 8 Mei 2017 di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat. Saat membacakan keputusan tersebut, Wiranto memaparkan tiga alasan pembubaran. .  Ketiga alasan pembubaran tersebut dinilai Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto tidak memiliki dasar sama sekali.  . “...

Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah

 Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah Penulis: Ustaz Yuana Ryan Tresna Muslimah News, SYARAH HADIS — Hadis yang mengabarkan berita gembira tentang kembalinya Khilafah sangatlah banyak. Tidak benar bahwa hadis bisyarah nabawiyyah (kabar gembira kenabian) akan datangnya Khilafah hanya didasarkan pada hadis riwayat Imam Ahmad. Masih banyak hadis lain yang secara makna sejalan dengan hadis tersebut. Misalnya hadis riwayat Muslim, Ahmad, dan Ibnu Hibban tentang khalifah di akhir zaman yang akan “menumpahkan” harta yang tidak terhitung jumlahnya; hadis tentang akan datangnya Khilafah di Baitulmaqdis (HR Abu Dawud, Ahmad, ath-Thabarani, al-Baihaqi); juga hadis tentang kekuasaan umat Nabi Muhammad yang akan melingkupi dari timur hingga barat (HR Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud). Hadis-hadis ini didukung banyak hadis lain dengan makna yang sama, seperti masuknya Islam ke setiap rumah, al-waraq al-mu’allaq, hijrah setelah hijrah, penaklukan Kota Roma, dan seterusnya. Makna hadis kembalinya Khil...