Skip to main content

Dana Cukong Dianggap tidak Bahaya, Khilafah Dianggap Bahaya Ahad, 02 Maret 2014 04:22 Redaksi Syabab.Com - Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Rokhmat S Labib merasa heran dengan jalan pikiran mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD yang menganggap tidak berbahaya capres yang dicukongi konglomerat tetapi menganggap bahaya perjuangan menegakkan Khilafah. “Itu jelas ungkapan yang aneh oleh seorang yang mengerti politik!” tegasnya kepada mediaumat.com, Rabu (26/2) melalui telepon seluler. Menurut Rokhmat, cukong-cukong itu tidak mungkin memberikan dana secara gratis. Motivasi utama mereka mendanai capres adalah sebagai modal investasi. Maka keuntungannya akan ditagih saat capres tersebut terpilih menjadi presiden. “Jadi cukong-cukong itu perusahaannya besar dan akan menjadi lebih besar lagi setelah mendapatkan proyek-proyek, serta berbagai regulasi yang menguntungkan mereka tetapi merugikan rakyat itu,” ungkapnya. Rokhmat pun merasa aneh dengan pernyataan Mahfud yang menganggap berbahaya gerakan ideologis yang memperjuangkan tegaknya Khilafah. Karena Khilafah merupakan sistem pemerintahan Islam —yang akan mengambil kembali kekayaan umat yang kini dikuasai korporasi negara-negara asing—, mengelola kekayaan alam tersebut kesejahteraan rakyat. “Coba di mana bahayanya? Justru dengan sistem yang membolehkan cukong membiayai capres akan semakin membenamkan negara ini ke dalam cengkeraman cukong korporasi asing tersebut,” ungkap Rokhmat. Ia pun kembali menanyakan di mana letak bahayanya khilafah yang menerapkan syariah. Syariah kan hukum Allah SWT yang dijamin kebenarannya dan tidak bisa diperjualbelikan. “Bandingkan dengan sistem demokrasi, yang membuat undang-undang, termasuk seperti lembaga yang Pak Mahfud MD pernah menjadi ketuanya, UU itu bisa diperjualbelikan dengan para pemodal (cukong). Dengan kata lain UU tersebut membela yang bayar!” tegas Rokhmat. Sekali lagi Rokhmat mempertanyakan letak bahayanya khilafah. “Khilafah itu memerintahkan yang makruf dan mencegah kemunkaran. Sedangkan dalam sistem demokrasi kemunkaran terus dibiarkan merajalela. Malah bukan hanya dibiarkan tetapi dilegalisasi!” tegasnya. Seperti diberitakan tribunnews.com, Selasa (25/2) Mahfud menyatakan bantuan kepada Jokowi (untuk nyapres 2014) dari para konglomerat itu adalah dana legal, dana swasta, bukan dari APBN dan bukan dana kolusi dan korupsi. “Saya pun mau dicukongi, kalau ada cukong yang menyediakan dananya sendiri yang halal untuk membekingi saya,” kata Mahfud. Sebelumnya, republika.co.id, Jum’at (21/2), memberitakan pernyataan Mahfud yang menyebut ada tiga gerakan ideologis yang sangat berbahaya yang sedang beroperasi di Indonesia karena merongrong eksistensi NKRI. Salah satunya adalah kelompok yang sangat aktif menginginkan Indonesia menjadi negara seperti di zaman Kekhalifahan Turki Usmani. [mediaumat/syabab.com]

Dana Cukong Dianggap tidak Bahaya, Khilafah Dianggap Bahaya

Syabab.Com - Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Rokhmat S Labib merasa heran dengan jalan pikiran mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD yang menganggap tidak berbahaya capres yang dicukongi konglomerat tetapi menganggap bahaya perjuangan menegakkan Khilafah. “Itu jelas ungkapan yang aneh oleh seorang yang mengerti politik!” tegasnya kepada mediaumat.com, Rabu (26/2) melalui telepon seluler.

Menurut Rokhmat, cukong-cukong itu tidak mungkin memberikan dana secara gratis. Motivasi utama mereka mendanai capres adalah sebagai modal investasi. Maka keuntungannya akan ditagih saat capres tersebut terpilih menjadi presiden.

“Jadi cukong-cukong itu perusahaannya besar dan akan menjadi lebih besar lagi setelah mendapatkan proyek-proyek, serta berbagai regulasi yang menguntungkan mereka tetapi merugikan rakyat itu,” ungkapnya.

Rokhmat pun merasa aneh dengan pernyataan Mahfud yang menganggap berbahaya gerakan ideologis yang memperjuangkan tegaknya Khilafah. Karena Khilafah merupakan sistem pemerintahan Islam —yang akan mengambil kembali kekayaan umat yang kini dikuasai korporasi negara-negara asing—, mengelola kekayaan alam tersebut kesejahteraan rakyat.
“Coba di mana bahayanya? Justru dengan sistem yang membolehkan cukong membiayai capres akan semakin membenamkan negara ini ke dalam cengkeraman cukong korporasi asing tersebut,” ungkap Rokhmat.

Ia pun kembali menanyakan di mana letak bahayanya khilafah yang menerapkan syariah. Syariah kan hukum Allah SWT yang dijamin kebenarannya dan tidak bisa diperjualbelikan. “Bandingkan dengan sistem demokrasi, yang membuat undang-undang, termasuk seperti lembaga yang Pak Mahfud MD pernah menjadi ketuanya,  UU itu bisa diperjualbelikan dengan para pemodal (cukong). Dengan kata lain UU tersebut membela yang bayar!” tegas Rokhmat.

Sekali lagi Rokhmat mempertanyakan letak bahayanya khilafah. “Khilafah itu memerintahkan yang makruf dan mencegah kemunkaran. Sedangkan dalam sistem demokrasi kemunkaran terus dibiarkan merajalela. Malah bukan hanya dibiarkan tetapi dilegalisasi!” tegasnya.

Seperti diberitakan tribunnews.com, Selasa (25/2) Mahfud menyatakan bantuan kepada Jokowi (untuk nyapres 2014) dari para konglomerat itu adalah dana legal, dana swasta, bukan dari APBN dan bukan dana kolusi dan korupsi. “Saya pun mau dicukongi, kalau ada cukong yang menyediakan dananya sendiri yang halal untuk membekingi saya,” kata Mahfud.

Sebelumnya, republika.co.id, Jum’at (21/2), memberitakan pernyataan Mahfud yang menyebut ada tiga gerakan ideologis yang sangat berbahaya yang sedang beroperasi di Indonesia karena merongrong eksistensi NKRI. Salah satunya adalah kelompok yang sangat aktif menginginkan Indonesia menjadi negara seperti di zaman Kekhalifahan Turki Usmani. [mediaumat/syabab.com]

Comments

Popular posts from this blog

𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍

 𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍 https://www.facebook.com/joko.prasetyo.457609/posts/pfbid02qjxJndqbLy1EpcAYSitShA3dEcmucHZZEdJwKAbXKHv264jz4oDxxhkF5KVQiEgwl . Sesaat setelah Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengumumkan rencana pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia, sontak saja HTI langsung menjadi ℎ𝑒𝑎𝑑𝑙𝑖𝑛𝑒 di berbagai media massa baik televisi, cetak, radio maupun portal berita daring dan menjadi buah bibir berbagai kalangan masyarakat baik pro maupun kontra.  . “Pemerintah perlu mengambil langkah–langkah hukum secara tegas untuk membubarkan HTI," ujar Wiranto saat jumpa pers, Senin, 8 Mei 2017 di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat. Saat membacakan keputusan tersebut, Wiranto memaparkan tiga alasan pembubaran. .  Ketiga alasan pembubaran tersebut dinilai Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto tidak memiliki dasar sama sekali.  . “...

Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah

 Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah Penulis: Ustaz Yuana Ryan Tresna Muslimah News, SYARAH HADIS — Hadis yang mengabarkan berita gembira tentang kembalinya Khilafah sangatlah banyak. Tidak benar bahwa hadis bisyarah nabawiyyah (kabar gembira kenabian) akan datangnya Khilafah hanya didasarkan pada hadis riwayat Imam Ahmad. Masih banyak hadis lain yang secara makna sejalan dengan hadis tersebut. Misalnya hadis riwayat Muslim, Ahmad, dan Ibnu Hibban tentang khalifah di akhir zaman yang akan “menumpahkan” harta yang tidak terhitung jumlahnya; hadis tentang akan datangnya Khilafah di Baitulmaqdis (HR Abu Dawud, Ahmad, ath-Thabarani, al-Baihaqi); juga hadis tentang kekuasaan umat Nabi Muhammad yang akan melingkupi dari timur hingga barat (HR Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud). Hadis-hadis ini didukung banyak hadis lain dengan makna yang sama, seperti masuknya Islam ke setiap rumah, al-waraq al-mu’allaq, hijrah setelah hijrah, penaklukan Kota Roma, dan seterusnya. Makna hadis kembalinya Khil...

Tulisan bantahan Syaikh Utsman Bakhasy (Hizbut Tahrir) atas tulisan tanggapan pengasuh situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid (Ulama Salafi)

 Tulisan bantahan Syaikh Utsman Bakhasy (Hizbut Tahrir) atas tulisan tanggapan pengasuh situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid (Ulama Salafi) -------------- *Pemberontakan Muhammad bin Abdul Wahab dan Keluarga Saud Terhadap Negara Khilafah Utsmani* Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dengan sebenar-benarnya pujian atas kebaikan dan berkah-Nya, yang tak terhingga jumlahnya, memenuhi langit dan bumi, serta semua yang ada. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasul yang diutus dengan membawa rahmat untuk seluruh alam, yaitu Muhammad bin Abdillah, keluarganya, para sahabatnya, serta siapa saja yang senantiasa setia dan mengikutinya denga cara yang baik hingga hari kiamat. Waba’du. Dalam situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid terdapat sebuah pertanyaan: “Apakah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab memberontak terhadap Khilafah Utsmaniyah, dan menjadi pen...