Skip to main content

Siapa Bilang Khilafah Utopis?

Siapa Bilang Khilafah Utopis?
Oleh : Mush’ab Abdurrahman


Dalam kesempatan acara diskusi wacana pembubaran salah satu ormas islam beberapa
bulan yang lalu, saya menjadi salah satu pembicara yang diundang oleh panitia.


Pembicara lainnya adalah Dr. Moqsith Ghazali, kita semua pasti tahu, di adalah
salah satu ‘pentolan’ Jaringan Islam Liberal (JIL). Panitia meminta saya untuk
menanggapi berbagai wacana yang menyangkut isu pembubaran salah satu ormas islam
yang anggapan sebagian masyarakat sering menimbulkan anarkis alias islam
radikal. Singkat punya cerita, saya memang tidak mau terjebak dalam diskusi ini,
seperti apa yang panitia inginkan yaitu, ingin memecah belah umat islam dengan
memanfaatkan momentum pembubaran ormas radikal. Instink politik saya dalam
diskusi semacam ini harus dipertajam. Pada forum itu saya ungkap bahwa,
mengangkat tema pembubaran ormas bukanlah tujuan utamanya, pembubaran ormas
hanya isu kulit saja (skin issue) sedangkan agenda terselubungnya (hidden
agenda) adalah stigma negatif terhadap islam dan deradikalisasi gerakan islam
(baca; sekulerisasi), puncaknya adalah melemahkan potensi islam politik sebagai
ideologi kehidupan. Kalaupun ada ormas yang dianggap melakukan tindakan
kekerasan terhadap kemaksitan (setidaknya begitu sepengetahuan saya) tiada lebih
akibat kegagalan pemerintah beserta aparatnya gagal menampung aspirasi umat yang
semakin meningkat kesadaran terhadap penerapan syariat islam, ini semua bisa
dilihat dari salah satu indikator kecilnya sangat gerah melihat kemasiatan yang
kerap dijumpai disudut-sudut kota. Sehingga lambannya pemerintah disikapi dengan
‘pengambil-alihan tugas’ pemerintah untuk memberantas kemaksiatan. Oleh karena
itu jika pemerintah tidak ingin masyarakat main hakim sendiri, harusnya mampu
menyerap aspirasi umat islam untuk menerapkan syariah islam . Terbukti sistem
khilafah yang pernah diterapkan umat islam mampu mencapai masa kejayaan dalam
sejarahnya.


Menanggapi gagasan khilafah islamiyah menimbulkan respon ‘panas’ dari Mas
Moqhsith (begitu sapaan akrab diforum itu) dari JIL. Intinya dia mengatakan
tokoh ormas-ormas besar seperti NU, Muhammadiyah, Persis tidak sepakat (atau
setidaknya belum sepakat) dengan khilafah. Sebagiamana NU menyatakan sistem
Republik adalah final. “Kalau Mas Mush’ab ( begitu moqsith menyapa saya) tetap
ingin menerapkan khilafah di Indonesia akan mendapat penolakan dari tokoh-tokoh
umat islam. Sikap JIL sendiri jelas bahwa sekulerisme menjadi keniscayaan
negara-negara sekarang didunia, bahkan negeri islam sekarang menjadikan
sekulerisme sebagai bagian sistem kehidupan bernegaranya. Sampai seribu tahun
pun khilafah mustahil dapat diterapkan” ujarnya.


Dalam kesempatan ini, saya ingin mengulas sedikit tentang sikap dari Moqsith,
begitu pula banyak tokoh-tokoh moderat yang menyesatkan umat dengan ide-ide
sekulerismenya dan menolak seruan syariah dan khilafah.


Tentang banyaknya tokoh-tokoh ormas islam besar di Indonesia yang menolak
syariah dan khilafah bisa kita jawab bahwa; menegakkan syariah dan khilafah
adalah kewajiban, didalam islam sudah menjadi ma’lumum min addin bi dlarurah
berdasarkan Al-qur’an, As- Sunnah dan ijma’ shahabat yang didukung pula dengan
pendapat-pendapat ulama mu’tabar. Sehingga atas landasan apa kita menegakkan
syariah dan khilafah harus ada legitimasi dari tokoh-tokoh ormas? Kalau pun toh
ada tokoh-tokoh ormas belum sepakat, tidak akan sedikitpun mengahalangi kami
untuk terus berjuang menegakkan syariah dan khilafah. Meskipun demikian upaya
dukungan tokoh-tokoh ormas penting dalam membangun tali simpul perjuangan
syariah dan khilafah, namun dukungan atau penolakan bukanlah dalil wajibnya
khilafah atau tidak. Penetapan kewajiban terhadap syariah dan khilafah tetap
disandarkan kepada sumber hukum syara’. Kita tidak boleh berkecil hati, secercah
harapan besar datang dari dukungan terhadap syariah dan khilafah oleh ribuan
ulama, kiyai,dan Mubalighoh se- Indonesia yang berhasil dipimpin oleh
Hizbut-Tahrir Indonesia dalam 3 momentum besar yaitu Muktamar Ulama Nasional,
Muktamar Mubalighoh Nasional dan Konferensi Khilafah Islamiyah. Dalam momentum
besar itu para Ulama, Kiyai, Mubalighoh, tokoh. Bisa jadi dengan mengatasnamakan
penolakan khilafah dari tokoh-tokoh ormas oleh JIL , disebabkan ketakutannya
terhadap keberhasilan yang dicapai oleh HTI dalam memimpin ulama-ulama, kiyai
dan mubalighoh dalam satu barisan perjuangan menegakkan syariah dan khilafah
yang sangat massif di Indonesia. Oleh karena itu kita tidak boleh terlalu
menanggapi fakta yang disodorkan oleh JIL tersebut.


Mengenai provokasi pembubaran ormas islam yang dianggap radikal serta intensnya
seruan sekulerisme, saya tanggapi cukup enteng aja. “ kita gak usaha kaget
dengan ungkapan tersebut, itu semua memang sudah pekerjaannya orang-orang JIL,
sekali lagi saya bilang itu pekerjaan, disitulah ia mencari penghidupan. Jadi
jangan diambil hati” begitu seru saya dalam forum tersebut. Saya menilai bahwa
apa yang dilakukan oleh JIL bukan dorongan ideologis, tetapi lebih dominan
kepada materi. Buktinya semua yang dilakukan oleh JIL semua karena sokongan dana
asing (semacam Asia Foundations dll). Itu bisa dibuktikan kelesuan JIL beberapa
waktu belakangan ini karena suntikan dana asing juga seret. Keprihatinan itu
muncul justru pada kader-kader junior yang notabene masih mencari jati diri.
Kebanyakan mereka adalah mahasiswa-mahasiswa yang masih masih labil dan mengikut
apa kata tokoh-tokoh JIL. Merekalah sebenarnya korban sekulerisasi pemikiran
tanpa mengetahui bahwa mereka dimanfaatkan oleh tokoh-tokoh mereka demi mengejar
materi dengan rela menjadi seorang aktivis JIL. Sementara itu tokoh-tokohnya pun
sebenarnya juga menjadi boneka dari kekuatan kapital (pemegang modal) untuk
memporakporandakan khasanah pemikiran islam yang agung.


Berikutnya, ungkapan moqhsith bahwa khilafah sampai seribu tahun lagi pun tidak
akan tegak, saya tanggapi dengan jawaban diplomatis bahwa, “ Ya betul apa yang
disampaikan Mas Moqsith, sampai seribu tahun pun khilafah tidak akan tegak kalau
yang mendirikan khilafah semacam orang-orang seperti Mas Moqsith dan
teman-temannya, tetapi kami yakin bahwa khilafah akan tegak-dengan izin Allah
SWT- bila para pejuangnya sangat yakin akan kebenaran khilafah dan optimis
memperjuangkannya, memang tidak akan ada sebuah keberhasilan , bila berada
ditangan orang yang tidak meyakini sesuatu keberhasilan tersebut".


Terakhir, yang perlu saya jelaskan sedikit adanya opini yang mengatakan bahwa
khilafah adalah utopis atau sesuatu hal yang mustahil terwujud. Sungguh khilafah
bukanlah sesuatu hal yang utopis setidaknya 4 argumentasi yang menunjukkan hal
tersebut yaitu:


1. Adanya Janji Allah SWT Kepada Orang-Orang Beriman Akan Diberikan Kekuasaan
(Istikhlaf)
2. Khilafah Adalah Kabar Gembira Kenabian Muhammad SAW (Bisyarah Nubuwwah)
3. Adanya Umat Yang Mendukung Tegaknya Khilafah Seraya Menyambut Kabar Gembira
Kenabian Tersebut
4. Adanya Sebuah Kelompok Yang Ikhlas Dan Membenarkan Janji Allah Dan Rasul
Dengan Teguh Memperjuangkan Khilafah


Adanya Janji Allah SWT Kepada Orang-Orang Beriman Akan Diberikan Kekuasaan
(Istikhlaf)


Sesungguhnya kemenangan dakwah ini merupakan garansi terbaik yang diberikan
kepada para pembela risalahNya. Garansi resmi dari Allah ini bagaikan obat
pelipur lara ditengah cobaan dalam memegang bara api perjuangan islam.
Orang-orang kafir boleh-boleh saja terus memfitnah atau pun mencoba menghentikan
dakwah islam, akan tetapi makar tersebut sedikit pun tidaklah menyurutkan
langkah para pengemban dakwah yang mukhlis dalam dakwahnya. Didadanya tersimpan
kekuatan iman yang membuncah, mereka yakin akan menang. Keimanan itulah yang
mengingatkan kepada mereka kepada janji-janji Allah swt akan kemenangan ideology
islam dimuka bumi. Sebagaimana Allah swt berfirman;


Γ₯áæó ÇÑóøÐâí ÃóÑúÓóÑó ÑóÓáæÑóΓ₯Γ΅ ΓˆΓΆΓ‡Γ‘ΓΊΓ₯áÏóì æóÏâíÀâ Γ‡Γ‘ΓΊΓΓ³ΓžΓΆΓΈ ÑâíáÙúΓ₯âÑóΓ₯Γ΅ ÚóÑóì
ÇÑÏâøíÀâ ßáÑâøΓ₯ΓΆ æóÑóæú ΓŸΓ³Γ‘ΓΆΓ₯Γ³ Γ‡Γ‘ΓΊΓ£Γ΅Γ”ΓΊΓ‘ΓΆΓŸΓ΅Γ¦Γ€Γ³

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur'an) dan
agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang
musyrik tidak menyukai (TQS. At-Taubah[9] ;33)

Γ₯áæó ÇÑøóÐâí ÃóÑúÓóÑó ÑóÓáæÑóΓ₯Γ΅ ΓˆΓΆΓ‡Γ‘ΓΊΓ₯áÏóì æóÏâíÀâ Γ‡Γ‘ΓΊΓΓ³ΓžΓΈΓΆ ÑâíáÙúΓ₯âÑóΓ₯Γ΅ ÚóÑóì
ÇÑÏøâíÀâ ßáÑøâΓ₯ΓΆ æóÑóæú ΓŸΓ³Γ‘ΓΆΓ₯Γ³ Γ‡Γ‘ΓΊΓ£Γ΅Γ”ΓΊΓ‘ΓΆΓŸΓ΅Γ¦Γ€Γ³

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar
agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik
membenci (TQS. Ash-Shaff [61] ;9)

Γ₯áæó ÇÑøóÐâí ÃóÑúÓóÑó ÑóÓáæÑóΓ₯Γ΅ ΓˆΓΆΓ‡Γ‘ΓΊΓ₯áÏóì æóÏâíÀâ Γ‡Γ‘ΓΊΓΓ³ΓžΓΈΓΆ ÑâíáÙúΓ₯âÑóΓ₯Γ΅ ÚóÑóì
ÇÑÏøâíÀâ ßáÑøâΓ₯ΓΆ æóßóÝóì ΓˆΓΆΓ‡Γ‘Γ‘ΓΈΓ³Γ₯ΓΆ ÔóΓ₯âíÏÇð

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar
dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. (TQS.
Al-Fath[48]:28)


Ketiga ayat diatas dengan lafadz yang hampir sama merupakan bentuk janji Allah
swt akan kemenangan islam. Jadi Rasulullah saw diutus khusus untuk memenangkan
ideologi Islam diatas ideologi-ideologi kufur lainnnya. Kita juga melihat bahwa
kemenangan tersebut bukan hannya dirasakan di masa Rasulullah saw akan tetapi
juga oleh umat sesudahnya. Terbukti khilafah islam pernah jaya memenangkan
ideologi dimuka bumi selama lebih dari 10 abad. Kemenangan ini adalah kemenangan
didunia bukan diakhirat. Artinya kemenangan ini akan dirasakan oleh umat islam
sebagai manifestasi dari predikatnya sebagai umat terbaik (QS.3;110) dengan
diberikannya kekuasaan (istikhlaf)dimuka bumi . Sedangkan kemenangan diakhirat
pasti akan mereka dapatkan berupa kenikmatan surga. Janji Allah swt berupa
kekuasaan juga dikuatkan melalui firmanNya;


æóÚóÏó ÇÑÑóøΓ₯Γ΅ ÇÑóøÐâíÀó ÂãóÀáæÇ ãâÀúßáãú Γ¦Γ³ΓšΓ³Γ£ΓΆΓ‘Γ΅Γ¦Γ‡ Γ‡Γ‘Γ•Γ³ΓΈΓ‡Γ‘ΓΆΓΓ³Γ‡ΓŠΓΆ
Γ‘Γ³Γ­Γ³Γ“ΓΊΓŠΓ³ΓŽΓΊΓ‘ΓΆΓΓ³Γ€Γ³ΓΈΓ₯áãú Ýâí ÇÑÃÑúÖâ ΓŸΓ³Γ£Γ³Γ‡ Γ‡Γ“ΓΊΓŠΓ³ΓŽΓΊΓ‘Γ³ΓΓ³ ÇÑóøÐâíÀó ãâÀú ÞóÈúÑâΓ₯âãú
æóÑóíáãóßâøÀóÀóø ÑóΓ₯áãú 쉒˗Γ₯áãá ÇÑóøÐâí Γ‡Γ‘ΓΊΓŠΓ³Γ–Γ³Γ¬ ÑóΓ₯áãú æóÑóíáÈóÏâøÑóÀóøΓ₯áãú
ãâÀú ÈóÚúÏâ ÎóæúÝâΓ₯âãú ÃóãúÀðÇ íóÚúÈáÏáæÀóÀâí ÑÇ Γ­Γ΅Γ”ΓΊΓ‘ΓΆΓŸΓ΅Γ¦Γ€Γ³ Èâí ÔóíúÆðÇ æóãóÀú
ΓŸΓ³ΓΓ³Γ‘Γ³ ÈóÚúÏó ÐóÑâßó ΓΓ³ΓƒΓ΅Γ¦Γ‘Γ³Γ†ΓΆΓŸΓ³ Γ₯áãá Γ‡Γ‘ΓΊΓΓ³Γ‡Γ“ΓΆΓžΓ΅Γ¦Γ€Γ³


Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan
mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan
mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang
sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang
telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan)
mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap
menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang
siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang
yang fasik.(TQS. An-Nur[24];55).


Ayat ini semakin memperkuat keimanan kita akan janji kekuasaan berupa khilafah
yang akan diberikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih
(baca;berdakwah). Kalau Allah swt sudah berjanji artinya janji itu pasti
terbukti.


ÅâÀøó ÇÑÑøΓ₯Γ³ ÑÇó íáÎúÑâÝá Γ‡Γ‘ΓΊΓ£ΓΆΓ­ΓšΓ³Γ‡ΓΓ³…

…Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji (TQS. Ar-Ra’d[13]:31)

Khilafah Adalah Kabar Gembira Kenabian Muhammad SAW (Bisyarah Nubuwwah)


Berikutnya yang membuktikan bahwa khilafah bukanlah hal yang mustahil adalah
melalui kabar gembira dari Rasulullah saw. Seakan memperkuat janji Allah swt
diatas tentang kekuasaan islam Rasulullah juga memberikan kabar gembira kepada
umatnya bahwa kekuasaan islam akan meliputi wilayah barat sampai timur (seluruh
muka bumi). Rasulullah saw bersabda;

ΓžΓ³Γ‡Γ‘Γ³ ÑóÓáæÑá ÇÑÑøóΓ₯ΓΆ ÕóÑøóì ÇÑÑøóΓ₯Γ΅ ÚóÑóíúΓ₯ΓΆ æóÓóÑøóãó ÅâÀøó ÇÑÑøóΓ₯Γ³ Òóæóì Ñâí
ÇÑúÃóÑúÖó ΓΓ³Γ‘Γ³ΓƒΓ³Γ­ΓΊΓŠΓ΅ Γ£Γ³Γ”Γ³Γ‡Γ‘ΓΆΓžΓ³Γ₯Γ³Γ‡ Γ¦Γ³Γ£Γ³Γ›Γ³Γ‡Γ‘ΓΆΓˆΓ³Γ₯Γ³Γ‡ æóÅâÀøó ΓƒΓ΅Γ£ΓΈΓ³ΓŠΓΆΓ­ Γ“Γ³Γ­Γ³ΓˆΓΊΓ‘Γ΅Γ›Γ΅
ãáÑúßáΓ₯Γ³Γ‡ ãóÇ Òáæâíó Ñâí ãâÀúΓ₯Γ³Γ‡ Γ¦Γ³ΓƒΓ΅ΓšΓΊΓ˜ΓΆΓ­ΓŠΓ΅ Γ‡Γ‘ΓΊΓŸΓ³Γ€ΓΊΓ’Γ³Γ­ΓΊΓ€ΓΆ ÇÑúÃóÍúãóÑó
Γ¦Γ³Γ‡Γ‘ΓΊΓƒΓ³ΓˆΓΊΓ­Γ³Γ–Γ³

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Sesungguhnya Allah menghimpun
bumi untukku lalu aku melihat timur dan baratnya dan sesungguhnya kekuasaan
ummatku akan mencapai yang dihimpunkan untukku, aku diberi dua harta simpanan;
merah dan putih.(HR. Muslim)


Dalam riwayat lain;

ΓžΓ³Γ‡Γ‘Γ³ ÑóÓáæÑá ÇÑÑøóΓ₯ΓΆ ÕóÑøóì ÇÑÑøóΓ₯Γ΅ ÚóÑóíúΓ₯ΓΆ æóÓóÑøóãó ÅâÀøó ÇÑÑøóΓ₯Γ³ Òóæóì Ñâí
ÇÑúÃóÑúÖó Ãóæú ΓžΓ³Γ‡Γ‘Γ³ ÅâÀøó Γ‘Γ³ΓˆΓΈΓΆΓ­ Òóæóì Ñâí ÇÑúÃóÑúÖó ΓΓ³Γ‘Γ³ΓƒΓ³Γ­ΓΊΓŠΓ΅ Γ£Γ³Γ”Γ³Γ‡Γ‘ΓΆΓžΓ³Γ₯Γ³Γ‡
Γ¦Γ³Γ£Γ³Γ›Γ³Γ‡Γ‘ΓΆΓˆΓ³Γ₯Γ³Γ‡ æóÅâÀøó ãáÑúßó ΓƒΓ΅Γ£ΓΈΓ³ΓŠΓΆΓ­ Γ“Γ³Γ­Γ³ΓˆΓΊΓ‘Γ΅Γ›Γ΅ ãóÇ Òáæâíó Ñâí ãâÀúΓ₯Γ³Γ‡
Γ¦Γ³ΓƒΓ΅ΓšΓΊΓ˜ΓΆΓ­ΓŠΓ΅ Γ‡Γ‘ΓΊΓŸΓ³Γ€ΓΊΓ’Γ³Γ­ΓΊΓ€ΓΆ ÇÑúÃóÍúãóÑó Γ¦Γ³Γ‡Γ‘ΓΊΓƒΓ³ΓˆΓΊΓ­Γ³Γ–Γ³

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah telah mendekatkan bumi
ini untukku, atau beliau mengatakan: "Rabbku telah mendekatkan bumi ini untukku,
sehingga aku dapat melihat antara timur dan baratnya. Sungguh, kekuasaan umatku
akan sampai pada jarak yang diperlihatkan kepadaku tersebut. Aku telah diberi
dua harta simpanan; harta berwarna merah (emas) dan harta berwarna putih
(perak)...(HR. Abu Daud)


Kalau bukan khilafah islamiyah, terus apa yang bisa merealisasikan terwujudnya
kekuasaan tersebut terbukti?


Melalui hadis beliau yang lain Rasulullah saw menunjukkan bukti bahwa kekuasaan
tersebut hanya akan dipegang oleh khilafah untuk kedua kalinya. Berikut petikan
hadis tersebut;

ÍóÏøóËóÀóÇ ÓáÑóíúãóÇÀá ÈúÀá ÏóÇæáÏó Γ‡Γ‘Γ˜ΓΈΓ³Γ­Γ³Γ‡Γ‘ΓΆΓ“ΓΆΓ­ΓΈΓ΅ ÍóÏøóËóÀâí ÏóÇæáÏá ÈúÀá
Γ…ΓΆΓˆΓΊΓ‘Γ³Γ‡Γ₯âíãó Γ‡Γ‘ΓΊΓ¦Γ³Γ‡Γ“ΓΆΓ˜ΓΆΓ­ΓΈΓ΅ ÍóÏøóËóÀâí ÍóÈâíÈá ÈúÀá ÓóÇÑâãò ÚóÀâ Γ‡Γ‘Γ€ΓΈΓ΅ΓšΓΊΓ£Γ³Γ‡Γ€ΓΆ
ÈúÀâ ΓˆΓ³Γ”ΓΆΓ­Γ‘Γ² ΓžΓ³Γ‡Γ‘Γ³ ΓŸΓ΅Γ€ΓΈΓ³Γ‡ ΓžΓ΅ΓšΓ΅Γ¦ΓΓ°Γ‡ Ýâí Γ‡Γ‘ΓΊΓ£Γ³Γ“ΓΊΓŒΓΆΓΓΆ ãóÚó ÑóÓáæÑâ ÇÑÑøóΓ₯ΓΆ ÕóÑøóì
ÇÑÑøóΓ₯Γ΅ ÚóÑóíúΓ₯ΓΆ æóÓóÑøóãó Γ¦Γ³ΓŸΓ³Γ‡Γ€Γ³ ΓˆΓ³Γ”ΓΆΓ­Γ‘Γ± Γ‘Γ³ΓŒΓ΅Γ‘Γ°Γ‡ íóßáÝøá ÍóÏâíËóΓ₯Γ΅ ΓΓ³ΓŒΓ³Γ‡ΓΓ³
ΓƒΓ³ΓˆΓ΅Γ¦ Γ‹Γ³ΓšΓΊΓ‘Γ³ΓˆΓ³Γ‰Γ³ Γ‡Γ‘ΓΊΓŽΓ΅Γ”Γ³Γ€ΓΆΓ­ΓΈΓ΅ ΓΓ³ΓžΓ³Γ‡Γ‘Γ³ Γ­Γ³Γ‡ ΓˆΓ³Γ”ΓΆΓ­Γ‘Γ΅ ÈúÀó Γ“Γ³ΓšΓΊΓΓ² ΓƒΓ³ΓŠΓ³ΓΓΊΓΓ³Γ™Γ΅ ÍóÏâíËó
ÑóÓáæÑâ ÇÑÑøóΓ₯ΓΆ ÕóÑøóì ÇÑÑøóΓ₯Γ΅ ÚóÑóíúΓ₯ΓΆ æóÓóÑøóãó Ýâí ÇÑúÃáãóÑóÇÁâ ΓΓ³ΓžΓ³Γ‡Γ‘Γ³
ÍáÐóíúÝóÉá ÃóÀóÇ ÃóÍúÝóÙá ÎáØúÈóÊóΓ₯Γ΅ ΓΓ³ΓŒΓ³Γ‘Γ³Γ“Γ³ ΓƒΓ³ΓˆΓ΅Γ¦ Γ‹Γ³ΓšΓΊΓ‘Γ³ΓˆΓ³Γ‰Γ³ ΓΓ³ΓžΓ³Γ‡Γ‘Γ³
ÍáÐóíúÝóÉá ΓžΓ³Γ‡Γ‘Γ³ ÑóÓáæÑá ÇÑÑøóΓ₯ΓΆ ÕóÑøóì ÇÑÑøóΓ₯Γ΅ ÚóÑóíúΓ₯ΓΆ æóÓóÑøóãó ÊóßáæÀá
Γ‡Γ‘Γ€ΓΈΓ΅ΓˆΓ΅Γ¦ΓΈΓ³Γ‰Γ΅ Ýâíßáãú ãóÇ ÔóÇÁó ÇÑÑøóΓ₯Γ΅ ÃóÀú ÊóßáæÀó Ëáãøó Γ­Γ³Γ‘ΓΊΓΓ³ΓšΓ΅Γ₯Γ³Γ‡ ÅâÐóÇ
ÔóÇÁó ÃóÀú Γ­Γ³Γ‘ΓΊΓΓ³ΓšΓ³Γ₯Γ³Γ‡ Ëáãøó ÊóßáæÀá ΓŽΓΆΓ‘Γ³Γ‡ΓΓ³Γ‰Γ± ÚóÑóì ãâÀúΓ₯Γ³Γ‡ΓŒΓΆ Γ‡Γ‘Γ€ΓΈΓ΅ΓˆΓ΅Γ¦ΓΈΓ³Γ‰ΓΆ
ÝóÊóßáæÀá ãóÇ ÔóÇÁó ÇÑÑøóΓ₯Γ΅ ÃóÀú ÊóßáæÀó Ëáãøó Γ­Γ³Γ‘ΓΊΓΓ³ΓšΓ΅Γ₯Γ³Γ‡ ÅâÐóÇ ÔóÇÁó ÇÑÑøóΓ₯Γ΅
ÃóÀú Γ­Γ³Γ‘ΓΊΓΓ³ΓšΓ³Γ₯Γ³Γ‡ Ëáãøó ÊóßáæÀá Γ£Γ΅Γ‘ΓΊΓŸΓ°Γ‡ ΓšΓ³Γ‡Γ–ΓΈΓ°Γ‡ ÝóíóßáæÀá ãóÇ ÔóÇÁó ÇÑÑøóΓ₯Γ΅ ÃóÀú
íóßáæÀó Ëáãøó Γ­Γ³Γ‘ΓΊΓΓ³ΓšΓ΅Γ₯Γ³Γ‡ ÅâÐóÇ ÔóÇÁó ÃóÀú Γ­Γ³Γ‘ΓΊΓΓ³ΓšΓ³Γ₯Γ³Γ‡ Ëáãøó ÊóßáæÀá Γ£Γ΅Γ‘ΓΊΓŸΓ°Γ‡
ΓŒΓ³ΓˆΓΊΓ‘ΓΆΓ­ΓΈΓ³Γ‰Γ° ÝóÊóßáæÀá ãóÇ ÔóÇÁó ÇÑÑøóΓ₯Γ΅ ÃóÀú ÊóßáæÀó Ëáãøó Γ­Γ³Γ‘ΓΊΓΓ³ΓšΓ΅Γ₯Γ³Γ‡ ÅâÐóÇ
ÔóÇÁó ÃóÀú Γ­Γ³Γ‘ΓΊΓΓ³ΓšΓ³Γ₯Γ³Γ‡ Ëáãøó ÊóßáæÀá ΓŽΓΆΓ‘Γ³Γ‡ΓΓ³Γ‰Γ° ÚóÑóì ãâÀúΓ₯Γ³Γ‡ΓŒΓΆ Γ‡Γ‘Γ€ΓΈΓ΅ΓˆΓ΅Γ¦ΓΈΓ³Γ‰ΓΆ
Ëáãøó Γ“Γ³ΓŸΓ³ΓŠΓ³


Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud Ath Thiyalisi telah
menceritakan kepadaku Dawud bin Ibrahim Al Wasithi telah menceritakan kepadaku
Habib bin Salim dari An Nu'man bin Basyir ia berkata, "Kami pernah duduk-duduk
di dalam Masjid bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. kemudian Basyir
menahan pembacaan haditsnya. Kemudian datanglah Abu Tsa'labah Al Khusyani dan
berkata, "Wahai Basyir bin Sa'd, apakah kamu hafal hadits Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam berkenaan dengan Umara` (para pemimpin)?" kemudian Hudzaifah
berkata, "Aku hafal Khutbah beliau." Maka Abu Tsa'labah pun duduk, kemudian
Hudzaifah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Akan
berlangsung nubuwwah (kenabian) di tengah-tengah kalian selama kurun waktu
tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya (berakhir) bila Dia
menghendaki untuk mengakhirinya. Kemudian berlangsung kekhilafahan menurut
sistim kenabian selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia
mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya Kemudian berlangsung
kerajaan yang bengis selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia
mengangkatnya bila Dia menghendaki untntanuk mengakhirinya Kemudian berlangsung
pemerintahan yang menindas (diktator) selama kurun waktu tertentu yang Allah
kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya
Kemudian akan berlangsung kembali kekhalifahan menurut sistim kenabian. Kemudian
beliau berhenti”. (HR. Ahmad)


Dalam hadist yang terdapat Musnad Ahmad ini menunjukkan tentang periodisasi
kekuasaan umat islam yang harus dilampau. Diakhir hadis tersebut ditegaskan
bahwa kekuasaan akhir dari umat islam adalah khilafah islamiyah. Jadi kalau ada
tokoh yang menyatakan bahwa sistem republik atau apalah itu,adalah harga mati
alias final, sungguh pernyataan tersebut sesat dan tidak pantas keluar dari
lisan seorang muslim. Karena baginda mulia Rasulullah saw telah menegaskan bahwa
khilafah ‘ala min hajji nubuwwah adalah final. Hadist ini berarti menggugurkan
semua pendapat yang menganggap khilafah itu utopis. Kecuali orang tersebut
berani mengingkari hadis yang jelas ini.


Sikap yang seharusnya diambil oleh seorang muslim mengenai bisyarah nubuwwah
adalah menyambut kabar gembira tersebut dengan menerjunkan diri dalam kawah
condrodimuko pergolakan dakwah untuk membuktikan realisasi kabar gembira
tersebut. Sebuah contoh fenomenal yang bisa dijadikan suri tauladan umat islam
yakni Muhammad Al-Fatih. Beliau adalah seorang pemuda jenius dan bertakqwa
sekaligus pemberani yang telah membuktikan dirinya sebagai pemimpin yang telah
berhasil menaklukkan Negara Konstantinopel. Penaklukan tersebut terinspirasi
dari hadist Rasulullah saw tentang kabar gembira akan ditaklukkannya
Konstantinopel oleh kaum muslimin. Hadist tersebut beliau ketahui diwaktu masih
berusia belia dari gurunya. Hadist tersebut adalah;


ÍóÏøóËóÀóÇ íóÍúíóì ÈúÀá Γ…ΓΆΓ“ΓΊΓΓ³Γ‡ΓžΓ³ ÍóÏøóËóÀóÇ íóÍúíóì ÈúÀá ΓƒΓ³Γ­ΓΈΓ΅Γ¦ΓˆΓ³ ÍóÏøóËóÀâí
ΓƒΓ³ΓˆΓ΅Γ¦ ÞóÈâíÑò ΓžΓ³Γ‡Γ‘Γ³ ΓŸΓ΅Γ€ΓΈΓ³Γ‡ ÚâÀúÏó ÚóÈúÏâ ÇÑÑøóΓ₯ΓΆ ÈúÀâ ΓšΓ³Γ£ΓΊΓ‘ΓΆΓ¦ ÈúÀâ Γ‡Γ‘ΓΊΓšΓ³Γ‡Γ•ΓΆΓ­
æóÓáÆâÑó Ãóíøá Γ‡Γ‘ΓΊΓ£Γ³ΓΓΆΓ­Γ€Γ³ΓŠΓ³Γ­ΓΊΓ€ΓΆ ÊáÝúÊóÍá ÃóæøóÑðÇ Γ‡Γ‘ΓΊΓžΓ΅Γ“ΓΊΓ˜Γ³Γ€ΓΊΓ˜ΓΆΓ­Γ€ΓΆΓ­ΓΈΓ³Γ‰Γ΅ Ãóæú
ÑáæãâíøóÉá ΓΓ³ΓΓ³ΓšΓ³Γ‡ ÚóÈúÏá ÇÑÑøóΓ₯ΓΆ ΓˆΓΆΓ•Γ΅Γ€ΓΊΓΓ΅Γ¦ΓžΓ² ÑóΓ₯Γ΅ ÍóÑóÞñ ΓžΓ³Γ‡Γ‘Γ³ ΓΓ³ΓƒΓ³ΓŽΓΊΓ‘Γ³ΓŒΓ³
ãâÀúΓ₯Γ΅ ΓŸΓΆΓŠΓ³Γ‡ΓˆΓ°Γ‡ ΓžΓ³Γ‡Γ‘Γ³ ΓΓ³ΓžΓ³Γ‡Γ‘Γ³ ÚóÈúÏá ÇÑÑøóΓ₯ΓΆ ΓˆΓ³Γ­ΓΊΓ€Γ³Γ£Γ³Γ‡ ÀóÍúÀá ÍóæúÑó ÑóÓáæÑâ
ÇÑÑøóΓ₯ΓΆ ÕóÑøóì ÇÑÑøóΓ₯Γ΅ ÚóÑóíúΓ₯ΓΆ æóÓóÑøóãó ÀóßúÊáÈá ÅâÐú ÓáÆâÑó ÑóÓáæÑá ÇÑÑøóΓ₯ΓΆ
ÕóÑøóì ÇÑÑøóΓ₯Γ΅ ÚóÑóíúΓ₯ΓΆ æóÓóÑøóãó Ãóíøá Γ‡Γ‘ΓΊΓ£Γ³ΓΓΆΓ­Γ€Γ³ΓŠΓ³Γ­ΓΊΓ€ΓΆ ÊáÝúÊóÍá ÃóæøóÑðÇ
ΓžΓ΅Γ“ΓΊΓ˜Γ³Γ€ΓΊΓ˜ΓΆΓ­Γ€ΓΆΓ­ΓΈΓ³Γ‰Γ΅ Ãóæú ÑáæãâíøóÉá ΓΓ³ΓžΓ³Γ‡Γ‘Γ³ ÑóÓáæÑá ÇÑÑøóΓ₯ΓΆ ÕóÑøóì ÇÑÑøóΓ₯Γ΅
ÚóÑóíúΓ₯ΓΆ æóÓóÑøóãó ãóÏâíÀóÉá Γ₯ΓΆΓ‘Γ³ΓžΓΊΓ‘Γ³ ÊáÝúÊóÍá ÃóæøóÑðÇ íóÚúÀâí
ΓžΓ΅Γ“ΓΊΓ˜Γ³Γ€ΓΊΓ˜ΓΆΓ­Γ€ΓΆΓ­ΓΈΓ³Γ‰Γ³


Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq telah menceritakan kepada kami
Yahya bin Ayub berkata; telah menceritakan kepadaku Abu Qabil berkata; kami
sedang berada bersama-sama Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash, dia ditanya: di
antara dua kota manakah yang terlebih dahulu dibuka; Kostantinopel atau Rum?
Maka dia meminta sebuah kotak dan mengeluarkan dari dalam kotak tersebut sebuah
kitab. Dia (Abu Qabil) berkata; maka Abdullah berkata; suatu ketika kami berada
bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam sedang menulis, yaitu di saat
beliau ditanya tentang dua kota, manakah yang lebih dahulu dibuka; Kostantinopel
atau Rum? Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam pun menjawab: "Kota yang
lebih dahulu dibuka adalah kota Hiroclus (Kostantinopel) "(HR. Ahmad)


Muhammad Al-Fatih muda bertekad akan menjadi bukti kebenaran kabar gembira
penaklukan Konstantinopel. Sekaligus dialah yang akan menjadi sang penakluk
tersebut. Karena beliau juga ingin meraih kemuliaan yang akan disandang sebagai
pemimpin yang terbaik sekaligus pasukan yang terbaik apabila mampu menaklukkan
Konstantinopel. Sifat tersebut terdapat dalam hadist Rasulullah saw;


ÍóÏøóËóÀóÇ ÚóÈúÏá ÇÑÑøóΓ₯ΓΆ ÈúÀá ãáÍóãøóÏâ ÈúÀâ ΓƒΓ³ΓˆΓΆΓ­ Γ”Γ³Γ­ΓΊΓˆΓ³Γ‰Γ³ Γ¦Γ³Γ“Γ³Γ£ΓΆΓšΓΊΓŠΓ΅Γ₯Γ΅ ÃóÀóÇ
ãâÀú ÚóÈúÏâ ÇÑÑøóΓ₯ΓΆ ÈúÀâ ãáÍóãøóÏâ ÈúÀâ ΓƒΓ³ΓˆΓΆΓ­ Γ”Γ³Γ­ΓΊΓˆΓ³Γ‰Γ³ ΓžΓ³Γ‡Γ‘Γ³ ËóÀóÇ ÒóíúÏá ÈúÀá
Γ‡Γ‘ΓΊΓΓ΅ΓˆΓ³Γ‡ΓˆΓΆ ΓžΓ³Γ‡Γ‘Γ³ ÍóÏøóËóÀâí ÇÑúæóÑâíÏá ÈúÀá ÇÑúãáÛâíÑóÉâ Γ‡Γ‘ΓΊΓ£Γ³ΓšΓ³Γ‡ΓΓΆΓ‘ΓΆΓ­ΓΈΓ΅ ΓžΓ³Γ‡Γ‘Γ³
ÍóÏøóËóÀâí ÚóÈúÏá ÇÑÑøóΓ₯ΓΆ ÈúÀá ΓˆΓΆΓ”ΓΊΓ‘Γ² Γ‡Γ‘ΓΊΓŽΓ³Γ‹ΓΊΓšΓ³Γ£ΓΆΓ­ΓΈΓ΅ ÚóÀú ΓƒΓ³ΓˆΓΆΓ­Γ₯ΓΆ ÃóÀøóΓ₯Γ΅ Γ“Γ³Γ£ΓΆΓšΓ³
Γ‡Γ‘Γ€ΓΈΓ³ΓˆΓΆΓ­ΓΈΓ³ ÕóÑøóì ÇÑÑøóΓ₯Γ΅ ÚóÑóíúΓ₯ΓΆ æóÓóÑøóãó íóÞáæÑá ÑóÊáÝúÊóÍóÀøó
Γ‡Γ‘ΓΊΓžΓ΅Γ“ΓΊΓ˜Γ³Γ€ΓΊΓ˜ΓΆΓ­Γ€ΓΆΓ­ΓΈΓ³Γ‰Γ΅ ÝóÑóÀâÚúãó ÇÑúÃóãâíÑá ÃóãâíÑáΓ₯Γ³Γ‡ æóÑóÀâÚúãó Γ‡Γ‘ΓΊΓŒΓ³Γ­ΓΊΓ”Γ΅
ÐóÑâßó Γ‡Γ‘ΓΊΓŒΓ³Γ­ΓΊΓ”Γ΅

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Abu Syaibah -dan saya
mendengarnya dari Abdullah bin bin Muhammad bin Abu Syaibah- ia berkata, Telah
menceritakan kepada kami Zaid bin Hubab ia berkata, telah menceritakan kepadaku
Al Walid bin Al Mughirah Al Ma'afiri ia berkata, telah menceritakan kepadaku
Abdullah bin Busyr Al Khats'ami dari bapaknya bahwa ia mendengar Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Konstantinopel benar-benar akan
ditaklukkan, maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik
pasukan adalah pasukan itu."(HR. Ahmad)


Akhirnya hadist tersebut terbukti, 800 tahun kemudian Konstantinopel berhasil
ditaklukkan pasukan kaum muslimin yang dipimpin oleh Muhammad Al-Fatih. Sehingga
Al-Fatih merupakan gelar yang disematkan buat beliau karena keberhasilannya
menaklukkan Konstantinopel.


Demikianlah kabar gembira akan kembalinya khilafah Islamiyah untuk kedua kalinya
sekaligus salah satu bukti bisyarah nubuwwah yang telah terbukti ditangan
seorang Muhammad Al-Fatih. Tinggal kembalinya khilafah islamiyah sekaligus
penaklukkan kota Roma yang juga belum terwujud menantang kita semua untuk
menjadi bagian terwujudnya kabar gembira tersebut.


Adanya Umat Yang Mendukung Tegaknya Khilafah Seraya Menyambut Kabar Gembira
Kenabian Tersebut


Kisah penaklukkan Konstantinopel oleh Muhammad Al-Fatih betul-betul telah
menginspirasi banyak kalangan umat islam dalam menyambut kabar gembira kenabian.
Mustahil Muhammad Al-Fatih berhasil melakukan penaklukkan tanpa keberadaan
khilafah Islamiyah dan support pasukan yang kuat saat itu. Oleh karena itu
dengan mencermati beberapa janji dan kabar gembira kenabian tentang kembalinya
khilafah islamiyah untuk kedua kalinya seraya melihat berbabagai problematika
yang menghimpit umat islam sekarang ini semakin relevan gagasan khilafah
islamiyah sebagai jawaban dari probelamtika umat islam tersebut. Oleh karena
sekarang ini Alhamdulillah gagasan khilafah islamiyah sudah menggelinding
mendunia. Artinya perjuangan penegakan syariah dan khilafah telah mendapat
dukungan oleh umat islam diseluruh belahan bumi. Terbukti isu khilafah berhasil
menggetarkan kekuasaan Negara-negara kapitalis didunia terutama AS. Kesadaran
umat islam akan perjuangan khilafah sekarang ini sudah tidak bisa terbendung
lagi. Perjuangan ini memang tidak banyak dipublikasikan oleh media-media dunia
khususnya media barat, alasannya cukup mendasar karena takut kalau massif
diberitakan akan semakin menambah kuat isu khilafah didunia. Namun perjuang
khilafah terasa terus menggeliat didunia islam, barat dan eropa seiring dengan
kekecewaan mereka melihat kerapuhan sistem kapitalisme yang tinggal menunggu
kehancurannya. Oleh sebab itu selama umat islam terus mendukung perjuangan
khilafah tidak terbendung lagi khilafah dalam waktu dekat-dengan izin Allah swt-
akan segera tegak.


Adanya Sebuah Kelompok Yang Ikhlas Dan Membenarkan Janji Allah Dan Rasul Dengan
Teguh Memperjuangkan Khilafah


Tidak kalah pentingnya, yang menunjukkan ketidakmustahilan akan kembalinya
khilafah islamiyah, adalah keniscayaan adanya kelompok (athaifah) yang ikhlas
serta hadir dalam rangka mendedikasikan dirinya untuk membenarkan sekaligus demi
merealisasikan janji Allah dan RasulNya untuk menegakkan khilafah islamiyah.
Sebagai contoh lahirnya Hizbut Tahrir yang dibidani oleh seorang yang Faqih
yaitu Asyeikh Taqiyuddin An-Nabhani pada tahun 1953 M di Al-Quds Palestina.
Hizbut Tahrir telah berjanji kepada Allah swt untuk memperjuangkan syariah
dengan menegakkan khilafah Islamiyah sebagai agenda utamanya. Setelah dilakukan
pendalaman terhadap fakta dunia islam diambillah kesimpulan bahwa yang menjadi
problematika utama islam sekarang adalah tidak diterapkannya syariah islam dalam
naungan khilafah.


Inilah yang menjadikan Hizbut Tahrir terus terdorong untuk berjuang meraih
kepemimpinan umat melalui perjuangan politik, salah satu diantaranya adalah
mendidik umat dengan tsaqofah islamiyah. Edukasi tsaqofah –yang tertuang dalam
tsaqafah hizbiyah-diharapkan mampu membangkitkan pemikiran umat sebagai dasar
tegaknya khilafah islamiyah. Hizbut Tahrir memahami bahwa mengembalikan khilafah
adalah tugas yang diemban secara kolektif (berjamaah). Sebagaimana mengikuti
perjuangan yang dirintis oleh Rasulullah saw mulai dari tahap awal hingga
berhasil menegakkan daulah islam di Madinah.


Hasil dari perjuangan politik Hizbut Tahrir terbukti mendapat sambutan luar
biasa oleh umat islam didunia, sehingga menjadikan isu perjuangan syariah dan
khilafah lambat laun merambah seluruh pelosok dunia. Ribuan ulama, tokoh
masyarakat, intelektual, jurnalis, pengusaha, polikus bersatu padu diseluruh
dunia semakin menambah keyakinan bahwa khilafah bukanlah hal yang utopis untuk
diwujudkan.


Demikianlah empat hal yang menjadikan argumentasi bahwa khilafah bukanlah
perkara yang utopis. Negara barat kapitalis sendiri tidaklah menganggap khilafah
suatu hal yang utopis. Buktiknya mereka selalu melakukan makar berupa
propaganda-propaganda diberbagai bidang untuk menyerang perjuangan politik
islam. Globeal War on Terorism adalah salah satu strategi politiknya sekarang
ini. Di hampir seluruh negeri-negeri islam para penguasa pendukung negara
kapitalis menangkapi dan memerangi para pejuang islam yang memperjuangkan
tegaknya syariah islam. Kalau memang khilafah islamiyah adalah utopis kenapa
mereka ketakutan luar biasa terhadap para pejuang islam yang bejuang menegakkan
khilafah? Tidaklah mungkin mereka memerangi sesuatu hal yang utopis. Terbukti
khilafah tidaklah utopis.


Sulit Bukan Berarti Utopis


Sebagian orang mengatakan bahwa menegakkan khilafah adalah perkara yang sangat
sulit, sehingga mereka mengatakannya utopis. Memang benar menegakkan khilafah
adalah perkara yang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada tantangan,
rintangan, ancaman, intimidasi sampai nyawa melayang. Intinya butuh pengorbanan
yang luar biasa. Namun bukan berarti sesuatu hal yang sulit itu utopis. Sulit
pasti, tapi bukan berarti utopis. Tidak ada kata menyerah buat pejuang sejati.
Kuncinya umat islam mau berjuang atau tidak. Tidak ada kata utopis bila Allah
dan RasulNya telah menjanjikannya. Mulai sekarang hilangkan kata utopis dalam
perjuangan sebagaimana ketidakutopisan janji Allah berupa surga yang kekal bagi
para pencintaNya. Mau??

Comments

Popular posts from this blog

Tulisan bantahan Syaikh Utsman Bakhasy (Hizbut Tahrir) atas tulisan tanggapan pengasuh situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid (Ulama Salafi)

 Tulisan bantahan Syaikh Utsman Bakhasy (Hizbut Tahrir) atas tulisan tanggapan pengasuh situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid (Ulama Salafi) -------------- *Pemberontakan Muhammad bin Abdul Wahab dan Keluarga Saud Terhadap Negara Khilafah Utsmani* Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dengan sebenar-benarnya pujian atas kebaikan dan berkah-Nya, yang tak terhingga jumlahnya, memenuhi langit dan bumi, serta semua yang ada. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasul yang diutus dengan membawa rahmat untuk seluruh alam, yaitu Muhammad bin Abdillah, keluarganya, para sahabatnya, serta siapa saja yang senantiasa setia dan mengikutinya denga cara yang baik hingga hari kiamat. Waba’du. Dalam situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid terdapat sebuah pertanyaan: “Apakah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab memberontak terhadap Khilafah Utsmaniyah, dan menjadi pen...

π“π€π“πŠπ€π‹π€ πƒπ€π‹πˆπ‡-πƒπ€π‹πˆπ‡ ππ„πŒπ„π‘πˆππ“π€π‡ π”ππ“π”πŠ πŒπ„πŒππ”ππ€π‘πŠπ€π π‡π“πˆ π“π„π‘ππ€π“π€π‡πŠπ€π

 π“π€π“πŠπ€π‹π€ πƒπ€π‹πˆπ‡-πƒπ€π‹πˆπ‡ ππ„πŒπ„π‘πˆππ“π€π‡ π”ππ“π”πŠ πŒπ„πŒππ”ππ€π‘πŠπ€π π‡π“πˆ π“π„π‘ππ€π“π€π‡πŠπ€π https://www.facebook.com/joko.prasetyo.457609/posts/pfbid02qjxJndqbLy1EpcAYSitShA3dEcmucHZZEdJwKAbXKHv264jz4oDxxhkF5KVQiEgwl . Sesaat setelah Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengumumkan rencana pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia, sontak saja HTI langsung menjadi β„Žπ‘’π‘Žπ‘‘π‘™π‘–π‘›π‘’ di berbagai media massa baik televisi, cetak, radio maupun portal berita daring dan menjadi buah bibir berbagai kalangan masyarakat baik pro maupun kontra.  . “Pemerintah perlu mengambil langkah–langkah hukum secara tegas untuk membubarkan HTI," ujar Wiranto saat jumpa pers, Senin, 8 Mei 2017 di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat. Saat membacakan keputusan tersebut, Wiranto memaparkan tiga alasan pembubaran. .  Ketiga alasan pembubaran tersebut dinilai Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto tidak memiliki dasar sama sekali.  . “...

Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah

 Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah Penulis: Ustaz Yuana Ryan Tresna Muslimah News, SYARAH HADIS — Hadis yang mengabarkan berita gembira tentang kembalinya Khilafah sangatlah banyak. Tidak benar bahwa hadis bisyarah nabawiyyah (kabar gembira kenabian) akan datangnya Khilafah hanya didasarkan pada hadis riwayat Imam Ahmad. Masih banyak hadis lain yang secara makna sejalan dengan hadis tersebut. Misalnya hadis riwayat Muslim, Ahmad, dan Ibnu Hibban tentang khalifah di akhir zaman yang akan “menumpahkan” harta yang tidak terhitung jumlahnya; hadis tentang akan datangnya Khilafah di Baitulmaqdis (HR Abu Dawud, Ahmad, ath-Thabarani, al-Baihaqi); juga hadis tentang kekuasaan umat Nabi Muhammad yang akan melingkupi dari timur hingga barat (HR Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud). Hadis-hadis ini didukung banyak hadis lain dengan makna yang sama, seperti masuknya Islam ke setiap rumah, al-waraq al-mu’allaq, hijrah setelah hijrah, penaklukan Kota Roma, dan seterusnya. Makna hadis kembalinya Khil...