Skip to main content

Mitos Otak Kanan dan Otak Kiri: Telaah Islam terhadap Cara Berpikir dan Kepribadian.

 DISKUSI LANJUTAN #2 


Mitos Otak Kanan dan Otak Kiri: Telaah Islam terhadap Cara Berpikir dan Kepribadian.


Di era modern, masyarakat sangat akrab dengan istilah “otak kanan” dan “otak kiri”. Anak yang pandai matematika sering disebut dominan otak kiri, sedangkan anak yang menyukai seni dan kreativitas disebut dominan otak kanan. Teori ini begitu populer hingga digunakan dalam dunia pendidikan, motivasi, bahkan parenting. Banyak orang akhirnya percaya bahwa kepribadian manusia ditentukan oleh belahan otak tertentu.


Namun benarkah manusia sesederhana itu?


Dalam kajian Islam, khususnya dari pembahasan tentang hakikat berpikir dan kritik terhadap psikologi Barat dalam karya-karya Taqiyuddin An-Nabhani dan kitab مفاهيم علماء النفس oleh Syaikh Hisyam Abdul Karim Albadrani (Ulama Hizb) ditemukan bahwa manusia dipandang jauh lebih kompleks dibanding sekadar pembagian biologis otak kanan dan kiri.


Islam tidak melihat manusia hanya sebagai kumpulan jaringan saraf dan reaksi kimia. Islam memandang manusia sebagai makhluk berakal yang memiliki ruh, naluri, kesadaran, dan kemampuan memahami realitas.


Hakikat Berpikir Menurut Islam


Dalam konsep Islam, berpikir bukan sekadar aktivitas organ biologis. Berpikir terjadi ketika manusia:


1. mengindra realitas,

2. memiliki otak yang sehat,

3. lalu menghubungkan realitas itu dengan informasi sebelumnya.


Karena itu, akal dalam Islam bukan hanya “bagian otak”, melainkan proses memahami fakta dan realitas secara benar.


Kitab tersebut menjelaskan bahwa kecerdasan adalah hasil dari proses berpikir yang benar sehingga menghasilkan pemahaman yang tepat. 


Pandangan ini berbeda dengan teori populer otak kanan dan kiri yang cenderung menyederhanakan manusia menjadi dua tipe:


manusia logis,

dan manusia kreatif.


Padahal dalam kenyataannya, seorang ilmuwan bisa sangat kreatif, dan seorang seniman bisa sangat rasional. Seorang ahli matematika dapat memiliki empati tinggi, sementara seorang penulis puisi bisa berpikir sistematis. Ini menunjukkan bahwa manusia tidak bekerja dalam kotak-kotak sederhana seperti yang dipopulerkan psikologi populer modern.


Pengaruh Psikologi Barat Materialistik


Pembahasan dalam kitab juga menjelaskan bahwa banyak teori psikologi modern lahir dari filsafat Barat yang materialistik. Manusia dipahami hanya dari sisi:


biologis,

naluri,

reaksi tubuh,

dan aktivitas materi.


Akibatnya, perilaku manusia sering direduksi menjadi penjelasan fisik semata. Dari sinilah muncul berbagai teori yang mencoba menjelaskan seluruh karakter manusia hanya berdasarkan hormon, struktur otak, atau sistem saraf.


Padahal Islam memandang manusia bukan sekadar tubuh biologis. Manusia memiliki:


akal,

ruh,

gharizah (naluri),

dan iradah (kehendak).


Karena itu, perilaku manusia tidak cukup dijelaskan hanya dengan pembagian otak kanan dan kiri.


Manusia Bertindak Berdasarkan Pemahaman


Salah satu pembahasan menarik dalam kitab tersebut adalah contoh seseorang yang melihat bayangan gelap lalu mengira itu monster, padahal ternyata hanya batu atau pohon. 


Contoh ini menunjukkan bahwa tindakan manusia dipengaruhi oleh persepsi dan pemahaman terhadap realitas, bukan semata aktivitas biologis otak.


Seseorang bisa takut karena salah memahami realita. Seseorang bisa marah karena cara berpikirnya terhadap suatu peristiwa. Bahkan rasa percaya diri dan kreativitas juga dipengaruhi oleh konsep hidup serta pemahaman yang dimiliki manusia.


Maka menyimpulkan bahwa:


> “orang emosional berarti otak kanannya dominan” atau “orang logis berarti otak kirinya aktif”.


merupakan penyederhanaan yang terlalu dangkal terhadap hakikat manusia.


Islam Tidak Mendidik “Otak Kanan” atau “Otak Kiri”


Islam tidak pernah mendidik manusia berdasarkan kategori biologis seperti itu. Islam mendidik manusia agar memiliki:


akidah yang benar,

pola pikir yang lurus,

dan kepribadian Islam.


Dalam Islam, tujuan pendidikan bukan mencetak “manusia otak kiri” atau “manusia otak kanan”, tetapi mencetak manusia yang mampu memahami kehidupan dengan akal yang sehat dan petunjuk wahyu.


Karena itu, seorang muslim ideal:


mampu berpikir logis,

memiliki kreativitas,

peka secara emosional,

sekaligus memiliki arah hidup yang benar.


Islam membangun manusia secara utuh, bukan memecah manusia menjadi dua sisi biologis yang sempit.


Penutup


Teori otak kanan dan kiri mungkin berguna sebagai pendekatan sederhana dalam memahami kecenderungan belajar manusia. Namun menjadikannya sebagai penjelasan mutlak tentang karakter manusia adalah kekeliruan.


Islam memandang manusia lebih dalam daripada sekadar belahan otak. Manusia adalah makhluk berakal yang berpikir, memahami, memilih, dan bertanggung jawab atas tindakannya.


Karena itu, krisis manusia modern bukan disebabkan “otak kanan kurang aktif” atau “otak kiri terlalu dominan”, melainkan karena cara berpikir manusia telah jauh dari petunjuk yang benar.


Dan ketika akal dipisahkan dari wahyu, manusia akan kehilangan arah meskipun teknologinya terus berkembang.


Note: Konten ini untuk menambah wawasan dan diskusi hangat agar ketika melingkar terasa hangat 😁


#psikologi #islam #jiwa #kepribadian #berpikir

Comments

Popular posts from this blog

𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍

 𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍 https://www.facebook.com/joko.prasetyo.457609/posts/pfbid02qjxJndqbLy1EpcAYSitShA3dEcmucHZZEdJwKAbXKHv264jz4oDxxhkF5KVQiEgwl . Sesaat setelah Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengumumkan rencana pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia, sontak saja HTI langsung menjadi ℎ𝑒𝑎𝑑𝑙𝑖𝑛𝑒 di berbagai media massa baik televisi, cetak, radio maupun portal berita daring dan menjadi buah bibir berbagai kalangan masyarakat baik pro maupun kontra.  . “Pemerintah perlu mengambil langkah–langkah hukum secara tegas untuk membubarkan HTI," ujar Wiranto saat jumpa pers, Senin, 8 Mei 2017 di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat. Saat membacakan keputusan tersebut, Wiranto memaparkan tiga alasan pembubaran. .  Ketiga alasan pembubaran tersebut dinilai Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto tidak memiliki dasar sama sekali.  . “...

MAKSUD "WAJIBUL WUJUD

 MAKSUD "WAJIBUL WUJUD" Asy Syaikh Al Mujahid Taqiyuddin An Nabhani rahimahuLLaah menyatakan dalam kitabnya, Nizhamul Islam: وحين ننظر إلى المحدود نجده ليسَ أَزَلِياً وإلا لما كان محدوداً فلا بدَّ مِنْ أن يكون المحدود مخلوقاً لغيره، وهذا الغير هو خالق الإنسان والحياة والكون، وهو إِمَّا أَنْ يكون مخلوقاً لغيره، أو خالقاً لنفسه، أو أزلياً واجب الوجود. أما أنَّه مخلوق لغيره فباطل، لأنَّهُ يكون محدوداً، وأما أنَّه خالق لنفسه فباطل أيضاً، لأنه يكون مخلوقاً لنفسه وخالقاً لنفسه في آن واحد، وهذا باطل أيضاً، فلا بُدَّ أنْ يكونَ الخالق أزلياً واجب الوجود وهو الله تعالى. Artinya: "Dan ketika kita memperhatikan sesuatu yang terbatas, kita mendapati bahwa ia bukanlah azali (tidak tanpa awal), sebab kalau ia azali tentu ia tidak terbatas. Maka pastilah yang terbatas itu merupakan makhluk yang diciptakan oleh selainnya. Dan yang lain itu adalah Pencipta manusia, kehidupan, dan alam semesta. Ia (Pencipta) itu, kemungkinan: diciptakan oleh selainnya, atau menciptakan dirinya sendiri, ata...

Perbedaan Masiroh dan Demonstrasi

 Perbedaan Masiroh dan Demonstrasi (Muzhaharah) Aktivitas masirah sering digelar oleh beberapa komponen umat Islam dalam menjalankan fungsi mengoreksi penguasa. Sebagian pihak menyamakan masirah ini dengan demonstrasi, dimana demonstrasi ini merupakan salah satu cara Yahudi menurut mereka. Sebenarnya, seperti apakah perbedaan masiroh itu dengen demonstrasi. Berikut ini penjelasan singkatnya. Soal: 1. Mohon dijelaskan perbedaan antara aktivitas demonstrasi dengan masiroh, karena sangat gamblang terlihat bahwa tidak ada perbedaan antara kedua aktivitas. Mohon pencerahannya. 2. Pada suatu artikel saya membaca kritikan terhadap aktivitas masiroh yang melibatkan wanita. Sebenarnya bagaimana mendudukan masalah ini, atau apa batasan-batasan bagi kaum akhwat dalam hal ini. Jawab: Pada dasarnya, uslub (cara) untuk mendakwahkan gagasan-gagasan Islam, atau menyampaikan kritik (koreksi) bisa dilakukan dengan cara apapun, selama uslub tersebut tidak bertentangan dengan syariat, dan masih dalam ...