Skip to main content

Posts

Seruan sejarah

*SERUAN SEJARAH* Salah seorang pemikir Islam terkenal di abad ini Dr. Muhammad 'Amaroh berkata :  " Di salah satu majlis, seorang sekuler di antara yang diundang menengok kepada saya dengan nada mengejek berkata : Nampaknya saya memahami dari tulisan-tulisan anda bahwa anda ingin menerapkan hukum syare'at Islam dan mengajak kita kembali ke belakang ( kemunduran ) ? Maka saya manjawab sambil bertanya : Apakah yg anda maksud dengan kembali ke belakang itu sekitar 100 tahun yang silam ketika Sultan Abdul Hamid 2 memerintah separuh dari permukaan bumi ? atau ketika raja-raja Eropa memerintah bangsa mereka di bawah perintah Kesultanan Turki Utsmani ? Atau maksud anda ke belakang itu sebagian besar pemerintahan Mamalik yang menyelamatkan dunia dari pasukan Mongolia dan Tartar ? Atau sebagian besar pemerintahan di zaman Bani Abasiyah yang menguasai separuh bumi atau pemerintahan Bani Umayyah ? atau yang sebelumnya yaitu pemerintahan Umar bin Al Khottob yang menguasai sebagia...

Atha’ bin Abu Rasytah: Makna Hadits Setiap 100 Tahun Akan Ada Mujadid

Tanya-Jawab Amir Hizbut Tahrir Syeikh Atha’ bin Abu Rasytah: Makna Hadits Setiap 100 Tahun Akan Ada Mujadid Pertanyaan: Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu. Semoga Allah memberkahi Anda dan mempercepat nushrah melalui tangan Anda … dan semoga Allah memberi manfaat kepada kami dengan ilmu Anda. Di antara hadits-hadits shahih yang masyhur adalah apa yang diriwayatkan oleh Shahabat yang mulia Abu Hurairah ra., dari Rasulullah saw bahwa beliau bersabda: «إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا» Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini, pada setiap akhir seratus tahun, orang yang memperbaharui untuk umat agama mereka (HR Abu Dawud no. 4291, Dishahihkan oleh as-Sakhawi di al-Maqâshid al-Hasanah (149) dan al-Albani di as-Silsilah ash-Shahîhah no. 599) Pertanyaannya adalah: apa makna hadits tersebut? Apakah kata “man“ di dalam hadits tersebut memberi makna bahwa mujadid itu individu ataukah jamaah? D...
Tanya-Jawab Amir Hizbut Tahrir Syeikh Atha’ bin Abu Rasytah: Makna Hadits Setiap 100 Tahun Akan Ada Mujadid Pertanyaan: Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu. Semoga Allah memberkahi Anda dan mempercepat nushrah melalui tangan Anda … dan semoga Allah memberi manfaat kepada kami dengan ilmu Anda. Di antara hadits-hadits shahih yang masyhur adalah apa yang diriwayatkan oleh Shahabat yang mulia Abu Hurairah ra., dari Rasulullah saw bahwa beliau bersabda: «إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا» Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini, pada setiap akhir seratus tahun, orang yang memperbaharui untuk umat agama mereka (HR Abu Dawud no. 4291, Dishahihkan oleh as-Sakhawi di al-Maqâshid al-Hasanah (149) dan al-Albani di as-Silsilah ash-Shahîhah no. 599) Pertanyaannya adalah: apa makna hadits tersebut? Apakah kata “man“ di dalam hadits tersebut memberi makna bahwa mujadid itu individu ataukah jamaah? D...

JANJI ITU DIKHIANATI

JANJI ITU DIKHIANATI . . Sekitar 550 orang berkumpul di dalam Gedung Merdeka, Bandung pada 10 November 1956. Dalam bangunan klasik dua tingkat berlantaikan marmer mengkilap khas kolonial _art deco,_ Presiden Soekarno melantik wakil rakyat hasil pemilu 1955 sebagai anggota Konstituante (lembaga yang membahas perubahan dasar negara dan undang-undang dasar). Pelantikan tersebut menandakan pula dimulainya sidang. . DIKHIANATI . Sidang Konstituante adalah sidang yang sangat dinanti para tokoh dan umat Islam, tak terkecuali Ketua PP Muhammadiyah (1942-1953) Ki Bagoes Hadikoesoemo. . Sebelumnya, pada 22 Juni 1945, Panitia Sembilan yang dibentuk Badan Persiapan Usaha Penyelidik Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) menandatangani rancangan Pembukaan Undang-Undang Dasar negara RI yang belakangan disebut sebagai Piagam Jakarta. Meski telah disahkan namun menyisakan perdebatan antara kelompok Islam di satu sisi dan kelompok sekuler dan Kristen di sisi lain terkait tujuh kata dalam Pembukaan UU...

Habib Hanif Alatas: Meninjau Ulang Fatwa "Selamat Natal" Habib Ali Aljufri

Habib Hanif Alatas: Meninjau Ulang Fatwa "Selamat Natal" Habib Ali Aljufri Senin, 9 Desember 2019 Faktakini.net MENINJAU ULANG FATWA “SELAMAT NATAL” HABIB ALI AL-JUFRI. Oleh : al-Faqir Muhammad Hanif Alathas, Lc. ( ketua Umum Front Santri Indonesia )  Hari-hari ini beredar luas video Fadhilatul Habib Ali al-Jufri – hafidzhohullah-  yang berisi fatwa beliau tentang hukum mengucapkan selamat Natal. Fatwa beliau menjadi polemik serta menuai pro kontra ditengah Umat Islam Indonesia, khususnya kalangan penuntut Ilmu Agama. Awalnya alfaqir sungkan untuk ikut berkomentar dalam hal ini, karena Hb Ali adalah sosok Da'i yang tidak asing lagi kiprahnya dalam dunia dakwah.  Namun seiring derasnya pertanyaan yang masuk ke alfaqir terkait masalah tersebut, maka amanat ilmu mengharuskan alfaqir untuk menyampaikan apa yang harus disampaikan agar selamat dari ancaman Nabi saw bagi mereka yang menyembunyikan ilmu. Tentunya, tulisan ini hanyalah corat coret ilmiah, tanpa menguran...

*DIALOG TOKOH-TOKOH ISLAM SEPUTAR UCAPAN SELAMAT NATAL*

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=130101111111995&id=130050337783739 *DIALOG TOKOH-TOKOH ISLAM SEPUTAR UCAPAN SELAMAT NATAL* Prakata Editor Bismillahirrahmanirrahim Di negeri mayoritas muslim ini, terasa agak sulit menemukan tokoh-tokoh Islam nasional, yang murni memperjuangkan pelestarian ajaran Islam berlandaskan Alquran, Hadits, dan ajaran para Ulama Salaf, yang keilmuan dan amaliyahnya telah menjadi rujukan dunia Islam. Kecenderungan tokoh-tokoh Islam di bumi persada ini justru lebih kuat ‘melirik’ pendapat-pendapat non muslim kalangan ‘Barat’ terutama di dalam memberikan stigma-stigma negatif terhadap perjuangan penerapan syariat. Padahal penerapa syariat bagi warga muslim ini sudah mendapat perlindungan hukum positif negara, sebagaimana tertera pada pasal ‘kebebasan mengamalkan ajaran agamanya sesuai keyakinan masing-masing’. Bisa dipastikan penerapan syariat akan terealisasi secara mutlak, jika para pelaksana Negara berlaku jujur dalam menerapkan pro...

Mengikuti Cara Nabi itu Salahkah

Baiklah: Mengikuti Cara Nabi itu Salahkah? Katana Suteki Mantan Ketua MK, Mahfud MD menjelaskan bahwa ada beberapa alasan mengapa negara khilafah tidak boleh diikuti. Mengapa kok tidak boleh diikuti?  Berikut alasannya, Di zaman Nabi Muhammad, negara yang dibentuk: 1. Nabi Muhammad itu lembaga legislatif, 2. Nabi Muhammad lembaga eksekutif, 3. Nabi Muhammad lembaga yudikatif, 4. Nabi Muhammad yang membuat hukum berdasarkan wahyu Allah. “Anda membuat negara seperti Nabi Muhammad melalui wahyu siapa? Nah enggak bisa, jangan,” kata Mahfud. Menurut saya, kalau pertanyaannya WAHYU SIAPA, Jawabnya mestinya: Wahyu Alloh dalam Al Quran. Lalu apalagi dasarnya? Tentu Hadist Rasululloh dan juga Ijtihad Para Ulama. Bukankah begitu? Itukan sumber Hukum Islam? Pertanyaan saya selanjutnya tetap fokus pada: Apakah betul mengikuti cara Nabi itu salah? Bukankah Rasululloh itu "uswatun hasanah", suri tauladan yang baik? Lalu, apa yang pantas kita teladani dari Rasululloh? H...