Skip to main content

KISAH USTADZ AL-JA'BARI DENGAN SYAIKH TAQIYUDDIN AN-NABHANI



KISAH USTADZ AL-JA'BARI DENGAN SYAIKH TAQIYUDDIN AN-NABHANI

Syaikh Abu Arqam bercerita:

Aku ingat satu peristiwa dimana aku berdiskusi dengan salah seorang ko
munis, dia berasal dari keluarga Al Ja’bari. Saat itu, aku belum mempelajari komunisme sebagaimana seharusnya atau belum mempelajari komunisme secara objektif. Sebagian pemikiran komunis yang aku ketahui adalah ide tentang dialektika.

Orang komunis itu berkata kepadaku, “Anda tidak paham apapun tentang komunisme atau sosialisme, saya ingin berdiskusi dengan syaikh Anda, biar nanti dia bisa meyakinkan saya, atau sebaliknya, saya yang meyakinkan dia.” Lalu spontan aku katakan kepadanya, “Apakah engkau siap bertemu dengan beliau?” Lalu dia mengiyakan.

Atas dasar itu, aku meminta mas’ul daerah agar mengizinkan aku pergi ke Suriahh, tempat dimana Syaikh Taqiyuddin An Nabhaniy berada. Kemudian mas’ul itu mengizinkan aku dan membawa Al Ja’bari ke Damaskus. Aku meminta informasi tentang Damaskus dari Ustadz Nimr Al Mishri.

Begitu sampai di Damaskus, aku dibawa oleh Ustadz Nimr Al Mishri ke rumah beliau. Kami duduk di salah satu ruangan. Lalu Ustadz Nimr Al Mishri memberitahukan kepada kami kapan Syaikh Taqiyuddin An Nabhaniy akan datang.

Lalu datanglah seorang laki-laki dari Yordania. Kedatangannya khusus untuk menemui Syaikh Taqiyuddin An Nabhaniy. Ada juga yang berasal dari kota Homs dan Libanon. Hingga terkumpul sekitar 15 orang. Semuanya datang untuk menemui Abu Ibrahim (Syaikh Taqiyuddin An Nabhaniy).

Persis di waktu yang dijanjikan, Syaikh Taqiyuddin An Nabhaniy benar-benar datang. Aku duduk tepat di dekat pintu. Beliau datang menyalami kami, dan sambil memegang tanganku beliau berkata, “Penjahit fulan, dari keluarga fulan, dari Al Khalil?” Lalu aku mengiyakan, dan beliau memelukku dengan sangat erat. Setelah itu beliau menyalami yang lain. Lalu beliau duduk di barisan paling akhir karena beliau menolak menempati tempat duduk orang yang sudah hadir.

Lalu beliau bertanya kepada hadirin, “Apa yang Anda inginkan dari saya?” Ketika itu aku beritahukan maksud kami. Kemudian beliau menghadap Al Ja’bari, lalu berkata, “Saya akan berbicara tentang tiga ideologi dan bukan hanya sosialisme saja. Saya akan mulai dengan membicarakan ideologi kapitalisme, kemudian sosialisme dan termasuk juga komunisme, dan setelah itu tentang ideologi Islam. Karena di dunia saat ini hanya ada tiga ideologi itu. Sebaiknya selama pembicaraan saya, Anda menuliskan komentar dan pertanyaan Anda. Setelah saya menyelesaikan pembicaraan saya, silahkan Anda bertanya tentang apa pun.”

Lalu beliau mulai membicarakan tentang ideologi kapitalisme. Beliau menguraikannya secara detail tetang: apa itu kapitalisme, bagaimana berkembangnya, bagaimana pandangan para ahlinya, apa saja perbedaan dan persamaan aliran-aliran di dalam kapitalisme, dan sebagainya.

Kemudian beliau mulai membicarakan sosialisme, termasuk komunisme. Dijelaskan oleh beliau pandangan-pandangan dan pemikiran Karl Marx, Lenin, dan yang lainnya. Beliau tidak meninggalkan satu hal pun yang tercakup di dalamnya. Beliau menjelaskannya secara luas, jelas, dan rinci. Lalu beliau mulai beralih membandingkan sosialisme dengan kapitalisme, apa yang sama dan apa yang berbeda di antara kedua ideologi tersebut. Beliau menguraikannya dengan sangat jelas dan detil.

Setelah tidak ada yang perlu dijelaskan di antara kedua ideologi tersebut, beliau beralih membicarakan ideologi Islam. Di dalam pembicaraan kali ini beliau membantah pandangan-pandangan dan teori-teori ideologi kapitalisme dan sosialisme. Beliau mengkritiknya, menjelaskan keburukan-keburukannya, dan kegagalan keduanya dengan sangat jelas, sampai pembicaraan berakhir dan beliau diam.

Kemudian beliau menatap Al Ja’bari dan berkata, “Silahkan sekarang Anda bertanya tentang apa saja yang Anda inginkan.” Ternyata tidak ada yang dilakukan oleh Al Ja’bari selain berdiri dan berkata, “Saya bersaksi bahwa tidak ada Ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah. Demi Allah, saya akan menanggalkan marxisme. Orang-orang memahami marxisme seperti yang Anda katakan. Tetapi tidak, lebih dari itu, orang-orang komunis jika ingin lebih memahami marxisme, seharusnya datang kepada Anda.”

Setelah itu aku (Syaikh Abu Arqam) dan Al Ja’bari kembali ke Al Khalil. Sejak saat itu, Al Ja’bari menjadi bagian dari Hizbut Tahrir, dan beliau adalah orang yang sangat aktif. Beliau (Ustadz Al Ja’bari) tetap aktif berjuang di jalan dakwah sampai sekarang, sekalipun usianya sudah senja. Semoga Allah memberikan balasan sebaik-baiknya kepada beliau.

Setelah menjadi bagian dari Hizbut Tahrir, Ustadz Al Ja’bari mendapatkan permusuhan dari keluarganya yang masih menganut komunisme. Pada suatu malam, keluarga Al Ja’bari mengirimkan dua orang bayaran untuk menemui Ustadz Al Ja’bari. Setelah menemuinya, seketika itu beliau dipukul oleh dua orang yang tidak dikenalnya itu, hingga menyebabkan tulang kakinya patah. Beliau kemudian masuk rumah sakit di Al Khalil.

Setelah peristiwa itu, beliau keluar dari Yordania, karena berbagai tekanan yang beliau hadapi, baik dari keluarga, masyarakat, maupun yang lainnya. Beliau pindah ke Arab Saudi dan bekerja di sana. Tetapi di sana pun beliau ditangkap oleh pemerintah dengan tuduhan terlibat dalam Hizbut Tahrir. Kemudian beliau dideportasi dan dikembalikan ke Yordania. Sekarang beliau masih hidup dan tetap memenuhi janjinya dan beraktivitas bersama Hizbut Tahrir tanpa kenal lelah.


Comments

Popular posts from this blog

𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍

 𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍 https://www.facebook.com/joko.prasetyo.457609/posts/pfbid02qjxJndqbLy1EpcAYSitShA3dEcmucHZZEdJwKAbXKHv264jz4oDxxhkF5KVQiEgwl . Sesaat setelah Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengumumkan rencana pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia, sontak saja HTI langsung menjadi ℎ𝑒𝑎𝑑𝑙𝑖𝑛𝑒 di berbagai media massa baik televisi, cetak, radio maupun portal berita daring dan menjadi buah bibir berbagai kalangan masyarakat baik pro maupun kontra.  . “Pemerintah perlu mengambil langkah–langkah hukum secara tegas untuk membubarkan HTI," ujar Wiranto saat jumpa pers, Senin, 8 Mei 2017 di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat. Saat membacakan keputusan tersebut, Wiranto memaparkan tiga alasan pembubaran. .  Ketiga alasan pembubaran tersebut dinilai Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto tidak memiliki dasar sama sekali.  . “...

Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah

 Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah Penulis: Ustaz Yuana Ryan Tresna Muslimah News, SYARAH HADIS — Hadis yang mengabarkan berita gembira tentang kembalinya Khilafah sangatlah banyak. Tidak benar bahwa hadis bisyarah nabawiyyah (kabar gembira kenabian) akan datangnya Khilafah hanya didasarkan pada hadis riwayat Imam Ahmad. Masih banyak hadis lain yang secara makna sejalan dengan hadis tersebut. Misalnya hadis riwayat Muslim, Ahmad, dan Ibnu Hibban tentang khalifah di akhir zaman yang akan “menumpahkan” harta yang tidak terhitung jumlahnya; hadis tentang akan datangnya Khilafah di Baitulmaqdis (HR Abu Dawud, Ahmad, ath-Thabarani, al-Baihaqi); juga hadis tentang kekuasaan umat Nabi Muhammad yang akan melingkupi dari timur hingga barat (HR Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud). Hadis-hadis ini didukung banyak hadis lain dengan makna yang sama, seperti masuknya Islam ke setiap rumah, al-waraq al-mu’allaq, hijrah setelah hijrah, penaklukan Kota Roma, dan seterusnya. Makna hadis kembalinya Khil...

Perbedaan Masiroh dan Demonstrasi

 Perbedaan Masiroh dan Demonstrasi (Muzhaharah) Aktivitas masirah sering digelar oleh beberapa komponen umat Islam dalam menjalankan fungsi mengoreksi penguasa. Sebagian pihak menyamakan masirah ini dengan demonstrasi, dimana demonstrasi ini merupakan salah satu cara Yahudi menurut mereka. Sebenarnya, seperti apakah perbedaan masiroh itu dengen demonstrasi. Berikut ini penjelasan singkatnya. Soal: 1. Mohon dijelaskan perbedaan antara aktivitas demonstrasi dengan masiroh, karena sangat gamblang terlihat bahwa tidak ada perbedaan antara kedua aktivitas. Mohon pencerahannya. 2. Pada suatu artikel saya membaca kritikan terhadap aktivitas masiroh yang melibatkan wanita. Sebenarnya bagaimana mendudukan masalah ini, atau apa batasan-batasan bagi kaum akhwat dalam hal ini. Jawab: Pada dasarnya, uslub (cara) untuk mendakwahkan gagasan-gagasan Islam, atau menyampaikan kritik (koreksi) bisa dilakukan dengan cara apapun, selama uslub tersebut tidak bertentangan dengan syariat, dan masih dalam ...