Skip to main content

MENGENAL APA ITU GHARIZAH (NALURI

 MENGENAL APA ITU GHARIZAH (NALURI)


Naluri adalah potensi alami yang ada pada diri manusia untuk menjaga dan melestarikan kelangsungan hidupnya, kelangsungan spesiesnya agar mendapat petunjuk mengenai adanya Al khaliq (Sang Pencipta).


Sebagaimana yang kita ketahui, naluri tidak dapat di indera secara langsung. Beda dengan akal yang kita miliki saat ini, ia mampu mengindera eksistensinya melalui penampakan-penampakannya.


Sebenarnya ada banyak pendapat mengenai jenis-jenis naluri pada manusia misal seperti rasa takut, keibuan, kebapakan, kasih sayang, ingin memiliki, ingin tahu, dan masih banyak lagi. 


Namun Menurut pendapat Syaikh Taqiyuddin An Nabhani semua itu hanyalah penampakan atau menifestasi dari tiga jenis naluri di bawah ini di antaranya :


1. Gharizah al-baqa’ (Naluri mempertahankan diri)


Adapun wujud naluri mempertahankan diri ini terlihat saat manusia mempertahankan dirinya, membela tanah air dan tempat kelahirannya, keinginan memimpin, menguasai dan mendominasi orang lain, dan sebagainya (Abdurrahman, 2015). 

Setiap manusia mempunyai keinginan untuk memiliki, 

merasa takut, berani, senang berkelompok dan berbagai aktifitas sejenis, yang dilakukan dalam rangka mempertahankan diri.

Rasa takut ini bukanlah naluri keinginan untuk memiliki, bukan naluri berani, dan bukan juga naluri senang dan berkelopok, bukan naluri dst. Namun semua ini hanyalah manifestasi atau penampakan dari Gharizah al-baqa’ (naluri mempertahankan diri) (Rodhi, 

2012).


2. Gharizah al-nau’ (Naluri melestarikan keturunan)


Adapun tujuan dari penciptaan naluri ini adalah untuk melestarikan keturunan (An Nabhani, 2015).

Namun, sekalipun naluri melestarikan jenis ini

dapat dipuaskan oleh manusia dengan sesama jenisnya misal antara pria dengan pria atau wanita dengan wanita dan dapat pula dipuaskan dengan binatang atau dengan sarana-sarana lain. Akan tetapi cara semacam itu tidak akan mungkin dapat mewujudkan tujuan diciptakannya naluri tersebut kecuali pada satu kondisi saja, yaitu pemenuhan naluri tersebut oleh seorang wanita dengan seorang pria atau sebaliknya (An Nabhani, 2015).


3. Gharizah al-tadayyun (Naluri beragama)


Gharizah al-tadayyun (Naluri beragama) yang membangkitkannya adalah berpikir tentang ayat-ayat Allah SWT, hari kiamat, atau sesuatu yang berkolerasi dengannya, bisa dengan melihat keindahan ciptaan Allah yang ada di langit dan di bumi. (Ismail, 2004) 

Adapun manifestasi atau wujud dari naluri ini adalah untuk menyucikan terhadap sesuatu yang diyakini sebagai Sang Pencipta atau Sang pengatur segala sesuatu yang diilustrasikan sebagai manifestasi Sang Pencipta. Terkadang takdis nampak dengan manifestasi yang sebenarnya maka menjadi ibadah, terkadang pula nampak dengan gambaran paling minim yaitu berupa penghormatan dan pengagungan. (An Nabhani, 2015)


Copast tulisan kak Hayya Alal Falah II

Comments

Popular posts from this blog

𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍

 𝐓𝐀𝐓𝐊𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇-𝐃𝐀𝐋𝐈𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐓𝐀𝐇 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐁𝐀𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐓𝐈 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍 https://www.facebook.com/joko.prasetyo.457609/posts/pfbid02qjxJndqbLy1EpcAYSitShA3dEcmucHZZEdJwKAbXKHv264jz4oDxxhkF5KVQiEgwl . Sesaat setelah Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengumumkan rencana pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia, sontak saja HTI langsung menjadi ℎ𝑒𝑎𝑑𝑙𝑖𝑛𝑒 di berbagai media massa baik televisi, cetak, radio maupun portal berita daring dan menjadi buah bibir berbagai kalangan masyarakat baik pro maupun kontra.  . “Pemerintah perlu mengambil langkah–langkah hukum secara tegas untuk membubarkan HTI," ujar Wiranto saat jumpa pers, Senin, 8 Mei 2017 di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat. Saat membacakan keputusan tersebut, Wiranto memaparkan tiga alasan pembubaran. .  Ketiga alasan pembubaran tersebut dinilai Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto tidak memiliki dasar sama sekali.  . “...

Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah

 Memaknai Hadis Kembalinya Khilafah Penulis: Ustaz Yuana Ryan Tresna Muslimah News, SYARAH HADIS — Hadis yang mengabarkan berita gembira tentang kembalinya Khilafah sangatlah banyak. Tidak benar bahwa hadis bisyarah nabawiyyah (kabar gembira kenabian) akan datangnya Khilafah hanya didasarkan pada hadis riwayat Imam Ahmad. Masih banyak hadis lain yang secara makna sejalan dengan hadis tersebut. Misalnya hadis riwayat Muslim, Ahmad, dan Ibnu Hibban tentang khalifah di akhir zaman yang akan “menumpahkan” harta yang tidak terhitung jumlahnya; hadis tentang akan datangnya Khilafah di Baitulmaqdis (HR Abu Dawud, Ahmad, ath-Thabarani, al-Baihaqi); juga hadis tentang kekuasaan umat Nabi Muhammad yang akan melingkupi dari timur hingga barat (HR Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud). Hadis-hadis ini didukung banyak hadis lain dengan makna yang sama, seperti masuknya Islam ke setiap rumah, al-waraq al-mu’allaq, hijrah setelah hijrah, penaklukan Kota Roma, dan seterusnya. Makna hadis kembalinya Khil...

Perbedaan Masiroh dan Demonstrasi

 Perbedaan Masiroh dan Demonstrasi (Muzhaharah) Aktivitas masirah sering digelar oleh beberapa komponen umat Islam dalam menjalankan fungsi mengoreksi penguasa. Sebagian pihak menyamakan masirah ini dengan demonstrasi, dimana demonstrasi ini merupakan salah satu cara Yahudi menurut mereka. Sebenarnya, seperti apakah perbedaan masiroh itu dengen demonstrasi. Berikut ini penjelasan singkatnya. Soal: 1. Mohon dijelaskan perbedaan antara aktivitas demonstrasi dengan masiroh, karena sangat gamblang terlihat bahwa tidak ada perbedaan antara kedua aktivitas. Mohon pencerahannya. 2. Pada suatu artikel saya membaca kritikan terhadap aktivitas masiroh yang melibatkan wanita. Sebenarnya bagaimana mendudukan masalah ini, atau apa batasan-batasan bagi kaum akhwat dalam hal ini. Jawab: Pada dasarnya, uslub (cara) untuk mendakwahkan gagasan-gagasan Islam, atau menyampaikan kritik (koreksi) bisa dilakukan dengan cara apapun, selama uslub tersebut tidak bertentangan dengan syariat, dan masih dalam ...