Kamis, 17 Juli 2014

Israel, Benteng Khaibar Masa Kini


Israel, Benteng Khaibar Masa Kini

Khaibar merupakan benteng pertahanan terakhir Yahudi, terletak di selatan Madinah ke arah Syam berjarak lebih kurang seratus mil. Memang sudah menjadi karakter bangsa Yahudi, bahwa mereka sebenarnya sangat pengecut. Sehingga kalaupun berperang biasanya hanya berani bergerilya di balik benteng.

Allah swt. menyebutkan hal itu dalam firman-Nya: Mereka (orang-orang Yahudi) tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung- kampung yang berbenteng atau di balik tembok (al-Hasyr: 14).

Dan sesungguhnya keberanian yahudi hanya sebatas berlindung dibalik tembok. Oleh karena itu di Khaibar banyak sekali benteng- benteng yang tangguh dan kokoh untuk dijadikan tempat berlindung dan menyimpan harta benda mereka. Di antara benteng-bentengnya ialah: Benteng Na’im, benteng Qal’ah Zubair, benteng Nizar, benteng Sha’ab bin Mu’adz, benteng Ubai, benteng Qamush, benteng Wathih dan benteng Salalim.

Sebenarnya Yahudi tidak mempunyai cukup kekuatan untuk menggempur kaum Muslimin. Namun mereka cerdik. Mereka mampu menyatukan musuh-musuh umat Islam dari berbagai kabilah yang sangat kuat. Hal itu terbukti pada Perang Khandaq. Bagi warga Muslim di Madinah, Yahudi lebih berbahaya dibanding musuh- musuh lainnya. Maka Rasulullah pun menyerbu ke jantung yahudi, yakni di Khaibar. Suatu pekerjaan yang tak mudah dilakukan, dikarenakan benteng Khaibar adalah benteng yang kuat dan sangat tangguh di zamannya.

Pasukan Romawi yang lebih kuat pun tak mampu menaklukkan benteng Khaibar yang memiliki sistem pertahanan berlapis- lapis yang sangat baik. Maka setelah pasukan Rasulullah sampai disana terjadilah pertarungan yang sangat sengit, benteng demi benteng dikuasai. Seluruhnya melalui pertarungan sengit. Benteng Qamush kemudian jatuh. Demikian juga benteng Zubair setelah dikepung cukup lama.

Disinilah kunci kemenangan Pasukan Muslim, awalnya Pasukan Muslimin kebingungan dengan bagaimana cara menghancurkan benteng tersebut, sedangkan Yahudi tetap bersembunyi di dalam benteng tersebut, Tak lama kemudian Rasulullah Shalalahu alaihi wassalam menyeru pasukannya untuk memotong saluran air menuju benteng. Karena yang menjadi rahasia yahudi bisa bertahan dibentengnya adalah tersedianya pasokan air yang menuju ke dalam Benteng.

Setelah saluran air tersebut dipotong, akhirnya pasukan Yahudi terpaksa keluar dari bentengnya. Sudah menjadi sifat kepengecutan Yahudi, Yahudi lebih memilih menyerah daripada perang langsung dengan pasukan kaum muslimin, seluruh benteng diserahkan pada umat Islam. Muhammad SAW memerintahkan pasukannya untuk tetap melindungi warga Yahudi dan seluruh kekayaannya. Sekian kisah dari penaklukan benteng Khaibar.

Dan dimasa sekarang umat islam dihadapkan dengan keberadaan Negara Israel yang bisa disebut juga Benteng Khaibarnya masa kini!

Bukan tanpa alasan saya mengatakan Negara Israel itu Benteng Khaibarnya masa kini. Dapat kita lihat bagaimana mereka membangun Iron Dome (Kubah Besi) sebagai pertahanan wilayah mereka, dan menjadikan negara-negara Arab disekelilingnya sebagai “hambatan” bagi para Mujahidin untuk konfrontasi langsung dengannya.

Sebenarnya negara israel hanyalah negara kecil, namun sampai saat ini tidak ada yang mampu mengalahkannya. Bahkan dimasa sekarang bangsa Romawi (Nasrani) bukan sekedar tidak mampu melawannya namun telah tunduk terhadap negara tersebut. Yahudi dengan kelicikannya menjadikan Negara Israel sebagai Benteng untuk menyerang umat Islam. Seperti yang kita ketahui, Israel mengatur dunia ini hanya dari balik benteng itu (Negara Israel). Yahudi dengan mudahnya memporak porandakan Umat Islam khususnya di Palestina hanya dengan menyerang dibalik benteng. Yang menjadi pertanyaan adalah dengan apa Yahudi bertahan dan menyerang dibalik benteng itu (Israel)? Jawaban yang paling masuk akal adalah, Minyak Bumi! Pada masa kini, suatu negara tidak bisa terlepas dari sumber energi dari Minyak Bumi. Roket-roket, pesawat, bahkan semua peralatan mereka mereka digerakkan dengan memanfaatkan energi Minyak Bumi.

Mungkin bila kita lebih mempelajari kisah penaklukan Khaibar seperti yang diatas kita akan menyadari bahwa Yahudi tidak bisa bertahan tanpa saluran air yang dipasok ke dalam benteng. Lalu apa maksud saya dengan saluran air?, Ya jika di masa Rasulullah air adalah kebutuhan yang sangat penting, maka di masa sekarang sumber energi terutama Minyak Bumi tidak kalah penting. Sementara itu Israel mendapatkan minyak itu dari negara-negara arab lewat saluran-saluran (pipa) yang terhubung langsung kepada negara Israel.

Seperti pada penaklukan Benteng Khaibar, Jika kita ingin menaklukan Israel tentu saja kita harus Memotong Saluran air (yang pada saat ini dapat direpresentasikan dengan saluran pipa minyak bumi) yang menuju ke benteng itu (Israel). Ya ikhwah.. Sejarah hanya mengulang-ngulang! Apakah itu berarti kita harus memerangi negara-negara Jazirah Arab yang memasok energi kepada Israel?, Ya! Seperti dalam hadist Nabi “Kalian akan perangi jazirah Arab sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian (kalian perangi) Persia sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Ruum sehingga Allah menangkan kalian atasnya Kemudian kalian perangi Dajjal sehingga Allah menangkan kalian atasnya.” (HR Muslim 5161),

Ketahuilah! negara arab hanyalah menjadi tameng-tameng yahudi untuk mempertahankan bentengnya (Israel). Hanya memotong sumber energi Israel inilah, maka mereka akan keluar dari benteng-bentengnya. Hal ini, diketahui dengan sangat baik oleh Mujahidin Khilafah Islamiyah pimpinan Amirul Mukminin Syaikh Abu Bakar al-Baghdady hafidzahullah dengan melakukan pertempuran sengit di Irak dan sekitarnya. Para mujahidin hingga saat ini membuat Israel dalam krisis energi dengan meledakkan pipa-pipa gas alam yang menuju Israel di Sinai, juga menyabotase pipa minyak dari Kurdistan dan Irak yang memang dibangun untuk memenuhi pasokan energi Israel. Meskipun demikian, itu semua belumlah cukup jika pipa-pipa minyak dari kerajaan Arab Saudi yang menuju Israel tidak dihancurkan! Allahu Akbar!

(Ansharul Islam/al-mustaqbal.net) — bersama Hamzah Essa dan 39 lai

Tidak ada komentar: