Kamis, 20 Oktober 2011

Gerakan di Wall Street Menjadi Gerakan Global

NB:
Di Amerika, para demonstran mengutuk orang kaya, yang jumlahnya hanya 1% mendapat dana talangan dari Bank Sentral (The Fed), yang jumlahnya ratusan miliar, sementara mayoritas 99% rakyat kelas Amerika Serikat tergilas habis.

Di Indonesia?

Sama saja...

Kasihan pemerintah,...dijadiin sapi perahan oleh bankir - bankir.

Atau memang sengaja dijadiin sapi perah, karena mereka yg membantu dana kampanye mereka?

Belum lagi sekarang banyak bank asing seperti dari Singapura.

Jadi rakyat Indonesia yg susah-susah kerja membanting tulang, mereka ongkang-ongkang kaki dapat duit.

Ane bingung ntar pemerintah mbayar bunga SBI dan dari mana ya?
Apa dari pajak rakyat?
Â
Siapa sih yang dulu bikin Indonesia pakai sistem riba begini?

Lihat saja, dana nganggur di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) terus membubung. Hingga April 2007, dana di SBI mencapai Rp 202 triliun. Investor asing mengambil porsi kurang lebih USD 3,96 miliar (sekitar Rp 35,64 triliun). Sisanya adalah dana bank umum dan bank daerah.

Perbankan yang mencari keuntungan di SBI cocok disebut sebagai perampok uang negara.

Bagaimana tidak. Dengan bunga SBI 8 persen, perbankan sudah mendapat spread 3-4 persen dengan asumsi bunga tabungan dan deposito rata-rata 4-5 persen. Tanpa kerja keras, perbankan sudah mendapat untung yang berlimpah dan "bebas risiko".


Ekonomi ribawi memang mencelakai orang banyak. Dalam perhitungan feasible atau tidaknya suatu bisnis. Tolok ukurnya adalah apakah return-nya lebih tinggi dari bunga bank. Kalau lebih tinggi, berarti menguntungkan, dan sebaliknya. Padahal untuk bisa menghasilkan keuntungan dengan cara-cara jujur untuk melampaui bunga bank, effort-nya harus ekstra keras. Bahkan bisa dibilang mustahil. Ini mirip circular reference dalam excel. Belum lagi sudah rahasia umum "tidak ada pengusaha besar yg tidak licik". Seperti tidak bayar pajak (atau bayar, tapi tidak full), transportasi melebihi tonase, memelihara aparat dng macam-macam servis; tunai, makan2 di resto dll, mengatur besaran UMR dibawah KHL dll

Gerakan di Wall Street Menjadi Gerakan Global

Gerakan demosntrasi yang menduduki Wall Street menjadi gerakan global, Sabtu. Gerakan yang mula-mula hanya di Wall Street, Manhattan, New York, sekarang menyeruak menyeberangi Atlantik, dan berkobar ke kota-kota Eropa. Di mana kota-kota di selulruh Eropa menghadapi aksi ribuan demonstran.

Di banyak kota di Eropa, para demonstran dengan menggenggam tangan, mengenakan masker, menggambar wajah mereka, tersenyum sinis dengan kumis hitam, janggut runcing, dan bibir tipis yang diambil dari film "V for Vendetta", tentang seorang pahlawan bertopeng yang berperang melawan totalitarianisme.

Berikut gerakan aksi demonstrasi di beberapa negara di Eropa, yang sekarang melakukan gerakan yang mirip seperti di Wall Street:

Italia :

Sebuah protes awalnya damai berlangsung di pusat Roma, Sabtu. Kemudian berbalik menjadi aksi yang penuh dengan kekerasan, serta anarkis - setelah beberapa orang memakai topeng yang disebut kelompok "Black Bloc" - lalu membakar mobil, memecahkan jendela dan bentrok dengan polisi. Kelompok "Blaci Bloc" yang melakukan kekerasan juga berjuang dengan pengunjuk rasa lainnya, yang berusaha melepaskan kaum anarkis yang sangat anarkis di jalan-jalan.

Batu, botol dan tabung gas air mata terbang, dan sebuah gedung kementerian dalam negeri terbakar saat terjadi kekacauan. Pemadam kebakaran berjuang memadamkan api di tempat pertemuan utama, Piazza San Giovanni, yang berubah menjadi medan pertempuran antara polisi dengan para demosntran yang menggunakan meriam air, dan kelompok anarkis bersenjatakan pisau, kelelawar, bom molotov dan kembang api melawan polisi, ujar koresponden Newsweek koresponden Barbie Nadeau.

Italia, mengalami pukulan yang keras oleh krisis ekonomi global, dan berjuang dengan masalah utang berpotensi melumpuhkan negeri pizza itu. Bulan lalu, Standard & Poor menurunkan rating standard kredit Italia rating, dan mengatakan melemahnya pertumbuhan ekonomi nasional dan ketidakpastian politik telah menghantam stabilitas keuangan. Italia menghadapi utang setara dengan 120% dari produk domestik bruto (PDB) negeri itu.

Spanyol :

Lebih dari 10.000 demonstran berkumpul secara damai, dan gerakan itu diikuti dari segala usia, dan memadati de Madrid Plaza Cibeles, Sabtu . Gerakan aksi demonstran itu berjalan menuju ke Puerta del Sol, ujar koresponden CNN Al Goodman. "Gerakan 15 Mei" yang mulai lima bulan lalu, mereka menentang langkah-langkah penghematan dan pengangguran yang tinggi.

Beberapa demonstran mengatakan mereka protes terhadap pemerintah Spanyol yang gagal menghadapi pengaruh krisis utang global, dan gerakan itu menyatakan dunia telah bergabung dengan gerakan di Wall Street. Surat kabar El Pais mengutip polisi yang mengatakan sekitar 60.000 pengunjuk rasa di Barcelona, yang meneriakkan ketidakpuasan mereka terhadap pemerintah.

Seperti yang dialami Italia, Spanyol ikut terpukul oleh krisis utang, dan mengakibatkan kesengsaraan rakyat Uni Erop. Zona Erupa telah mengumumkan langkah-langkah baru yang dimaksudkan untuk mengurangi defisit. Meskipun investor tetap melihat negara di Zona Eropa menghadapi prospek suram. Standard & Poor menurunkan peringkat kredit Spanyol Jumat. Ini melihat pertumbuhan ekonomi dan sektor perbankan yang buruk.

Spanyol adalah salah satu yang disebut "PIIGS," sekelompok negara yang tertekan oleh fiskal yang mencakup Portugal, Italia, Irlandia dan Yunani.

Britania Raya :

Julian Assange ikut dalam aksi yang disebut "Menduduki London", ketika pendiri WikiLeaks, mempimpin demosntran yang disertai dengan lagu-lagu protes di depan Katedral St Paul, yang merupakan pusat keuangan London. Ribuan orang berbaris di jalan-jalan memprotes pemotongan penghematan, dan mengkritik para bankir yang sangat dimanjakan pemerintah yang mendapatkan dana talangan (bailtout).

Menteri Keuangan Inggris, George Osborne, mengatakan kepada anggota parlemen pada bulan Agustus bahwa jalan menuju pemulihan ekonomi di Inggris akan "lebih lama dan lebih sulit daripada yang telah diharapkan" serta memerlukan komitmen yang kuat dengan melakukan pengurangan defisit program pemerintah. Osborne mencatat bahwa ketidakstabilan keuangan di pasar uang Inggris telah memberi sumbangan terhadap harapan negara menurunnya pertumbuhan ekonomi.

Belgia :

Sekitar 7.000 orang berpawai melalui ibukota Uni Eropa di Brussel, Sabtu. Menurut polisi, "Ada kekerasan, beberapa orang telah diperiksa, tetapi kemudian dibebaskan, dan seseorang ditangkap, karena menyerang polisi, tapi kondisi tetap tenang," ujar Christianne de Ridder, juru bicara polisi Brussel mengatakan kepada CNN.

Utang Belgia diperkirakan hingga 85% dari PDB pada tahun 2015, menurut Dana Moneter Internasional (IMF).

Jerman :

Ribuan turun ke jalan di depan Bank Sentral Eropa di Frankfurt dan juga di kota-kota besar lainnya, termasuk ibukota Berlin. Di mana demonstran berbaris ke Kantor Kanselir. Pengunjuk rasa mengangkat mengutuk kekuasaan korporasi dan menuntut penguatan demokrasi dan keadilan sosial.

Jerman, lokomotif ekonomi kawasan Zona Eropa, melaporkan peningkatan mengalami sedikit (0,1%) kuartal kedua produk domestik bruto (PDB), dibandingkan dengan (1,3%) pada kuartal pertama. Namun, para ekonom mengatakan Jerman masih berada di jalur pertumbuhan moderat pada tahun 2011.

Perekonomian Jerman sangat bergantung pada ekspor dan telah mendapatkan manfaat dari pertumbuhan yang cepat di negara berkembang seperti Cina. Namun, prospek nampaknya ekonomi Jerman terus meredup. Perlambatan ini menimbulkan pertanyaan tentang prospek jangka panjang Zona Euro.

Swedia :

Sekelompok kecil demonstran berkumpul di Stockholm, dan bergabung dengan geralam yang "Menduduki" kota Stockholm. Sekitar 400 demonstran berkumpul di alun-alun pusat di Stockholm, kemudian "pindah ke Bank Swedia, di mana mereka melakukan aksi protes, dan kemudian mereka pulang," kata seorang juru bicara polisi. Swedia dikenal memiliki sistem sosial dan demokrasi yang kuat, dan menyediakan banyak kebutuhan warganya serta melindungi stabilitas pekerjaan Swedia.

Julian Assenge (Wikileak), memimpin aksi protes di London.

Tidak seperti beberapa anggota lainnya dari Uni Eropa, Swedia dapat menghindari pukulan resesi di seluruh dunia. Swedia memiliki minat membantu Zona Euro tetap sehat secara ekonomi. Tahun lalu, Swedia menawarkan pinjaman senilai $ 1.5 milyar dollar kepada Irlandia. Swedia juga tergantung pada kekuatan dari mitra dagangnya, seperti Jerman, yang menyumbang sekitar 11% dari ekspor Swedia dan 18% dari impor.

Zona Eropa menghadapi badai yang sekarang menggulung kota New York, yang menjadi pusat bisnis global, yang diamuk para demonstran, yang menentang keserakahan orang-orang kaya, yang menyebabkan mereka menjadi sengsara. Gerakan di Wall Street ini juga berlangsung diibukota Tokyo. (mh/tm)


http://www.eramuslim.com/berita/dunia/gerakan-di-wall-street-menjadi-gerakan-global.htm

Depok, 13 Oktober 2011
Gerakan Occupy Wall Street Berlanjut dan Meluas

Gerakan 'Occupy Wall Street' yang dimulai bulan lalu oleh segelintir pemuda dengan berkemah di depan Bursa Efek New York, terus meluas jadi gerakan berskala nasional.

Para pengunjuk rasa yang semula berbaris di New York dengan menduduki Wall Street, sebulan kemudian, kini meluas dan juga berlangsung di Philadelphia, Salt Lake City, Chicago, Los Angeles, dan Anchorage, Alaska. Gerakan itu telah melibatkan para aktivis, mahasiswa, serikat pekerja, dan buruh. Para demonstran ini didukung oleh banyak relawan, dan anggota masyarakat yang menyumbang tenda, makanan, obat-obatan, dll.

Kaum demonstran mengatakan Presiden Barrack Obama telah gagal menindak bank-bank setelah krisis kredit perumahan tahun 2008 dan krisis keuangan yang terus melanda AS, sampai saat ini. Seorang pemuda demonstran bahkan mendatangi salah satu kantor Federal Reserve AS di Los Angeles, dan secara demonstratif, merobek-robek selembar uang dolar AS.



Rakyat AS telah memahami sumber masalah sosial yang paling fundamental yaitu para bankster dengan sistem uang kertasnya. Seruan untuk kembali menerapkan mata uang emas dan perak berkumandang di seantero AS. Kaum Muslim AS pun, melangkah jauh ke depan, mereka tidak Cuma berdemo dan marah, tetapi telah mencetak dan mengedarkan Dirham perak dan Dinar emas.

Keruntuhan sistem uang kertas jelas telah mulai terjadi, dan mencapai salah satu urat nadinya, yaitu Wall Street di New York, AS.




Kegiatan para demonstran dapat dilihat dalam dua tayangan YouTube berikut:

(001)

http://www.wakalanusantara.com/detilurl/Gerakan.Occupy.Wall.Street.Berlanjut.dan.Meluas/975/id

Tidak ada komentar: