Senin, 05 Januari 2015

HAM


Hai sobat gaulislam, pernahkah kamu melihat atau mendengar
istilah fatamorgana? Belum? Waduh, saya jelaskan dikit ya.
Fatamorgana adalah peristiwa yang kerap menipu mata para
pengelana gurun pasir yang gersang nan tandus. Dari jauh,
pengelana itu seolah melihat sesuatu di kejauhan padang pasir.
Bisa berupa air atau oase. Namun ternyata, ketika si pengelana
mendekat, air itu sirna dari pandangan. Hanya gurun pasir yang
tandus dan gersang. Tertipu deh.

Kok bisa sih? Yup, biasanya yang tertipu tersebut adalah para
pendatang yang tersesat dan kehausan, keberadaan fatamorgana ini
tentu sungguh menarik, indah, dan menjanjikan. Padahal, semua
hanya omong kosong belaka.

Lho, lalu apa hubungannya dengan HAM? Begini sobat gaulislam.
HAM, yang merupakan singkatan dari Hak Asasi Manusia dan lahir
dari konsep barat ini, memang tak ubahnya seperti fatamorgana.
Indah memesona, tapi pada hakikatnya kosong, bermuka dua,
bahkan cenderung merusak.

Pengen bukti? Nih, definisi HAM menurut perundang-undangan. UU
No. 39 Tahun 1999, tertulis: “Hak Asasi Manusia adalah
seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan keberadaan
manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan
anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan
dilindungi oleh Negara, Hukum, Pemerintah dan setiap orang demi
kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manausia”.
Sekilas, definisi itu nampak menarik, indah, dan menjanjikan. Siapa
yang tidak mau jika hak-haknya sebagai manusia dihormati,
dijunjung tinggi, bahkan dilindungi oleh negara, hukum, atau
bahkan setiap orang? Benarkah HAM ini begitu menarik, indah, dan
menjanjikan? Mari kita lihat lebih dekat fatamorgana ini.
Lain di bibir lain di hati
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Memang, di
tanggal 10 Desember 2014 nanti akan diperingati sebagai hari HAM
sedunia. Namun kita lihat, apakah peringatan yang dilakukan setiap
tahun ini mampu mengentaskan dunia dari pelaggaran hak asasi
manusia? Nyatanya tidak. Oya, apakah kamu tahu bahwa konsep
HAM ini bahkan dilanggar sendiri oleh negara-negara barat yang
konon katanya merupakan pencetus, pejuang, dan pengusung
HAM?
Lho kok bisa? Dengan mata jernih, lihatlah apa yang terjadi, baik di
masa lalu juga di masa sekarang. Fakta menunjukkan bahwa
meskipun HAM begitu digembar-gemborkan negara-negara Barat,
nyatanya ketika Israel menyerang Palestina, merampas tanah dan
rumah atau bahkan ribuan nyawa penduduk di sana, apa yang
negara-negara barat itu lakukan? Tidak ada. Mereka bungkam.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Padahal jerit tangis dan penderitaan warga Palestina, terutama di
kota Gaza, begitu nyata terekam oleh lensa para awak media
(termasuk media internasional). Sulit dihitung dengan jari berapa
banyak foto dan video seorang ibu atau bapak sambil memangku
anaknya yang berlumuran darah. Ada yang terluka parah, atau
bahkan sudah tak bernyawa. Banyak pula rumah warga Palestina
yang ‘dirampas’ paksa oleh roket dan bom Israel.

Semuanya nyata. Semuanya ada. Bukan sulap bukan sihir. Namun
apa yang diperbuat oleh negara-negara yang mengaku sebagai
‘pendekar’ HAM juga para pengikutnya? Sekali lagi tidak ada.
Mereka bungkam. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Seolah
dunia sedang berjalan normal.

Sobat gaulislam, semuanya tidak berhenti di sini. Bahkan AS, yang
katanya paling getol memperjuangkan HAM, eh malah melanggar
sendiri apa yang ‘katanya’ diperjuangkannya itu dengan menginvasi
Iraq. Membuat ribuan nyawa penduduk Iraq malayang sia-sia.
Mengakibatkan lebih banyak penduduk lainnya harus mengungsi,
kehilangan rumah, harta, dan kehormatan mereka. Semuanya
dilakukan dengan dalih, memburu dan memusnahkan senjata
pemusnah massal milik rezim Saddam Husein.

Eh nyatanya, hingga saat ini, keberadaan senjata pemusnah massal
itu hanya ilusi yang sengaja dibuat untuk melegitimasi penjajahan
yang mereka lakukan di Bumi Iraq. Tidak ada yang namanya senjata
pemusnah massal. Yang ada adalah kerusakan yang ditinggalkan
tentara-tentara AS karena ambisi terselubung menguasai ladang-
ladang minyak Iraq.

Kerusakan yang dilakukan AS di Iraq terus berlanjut. Dengan alasan
memerangi IS (Islamic State), AS terus kembali berusaha
mengokohkan keberadaannya di Timur Tengah. Menggempur
berbagai titik di Iraq juga Suriah dengan bom dan rudal yang
diluncurkan dari pesawat-pesawat tempur mereka. Bro en Sis,
sekali lagi fakta yang berhasil direkam oleh media massa
menyatakan bahwa, korban jiwa akibat serangan udara AS ini
ternyata tidak hanya berasal dari para militan saja, melainkan juga
datang dari warga sipil tak bersenjata. Bahkan juga ada yang dari
kalangan anak-anak.

Lagi dan lagi, fakta jatuhnya korban dari pihak sipil ini nyata-nyata
tidak membuat AS dan sekutunya dikecam apalagi dibawa ke
pengadilan internasional sebagai terdakwa pelanggar HAM serius
yang terbukti telah menghilangkan nyawa warga sipil yang tidak
bersalah. Lagi-lagi semua penggiat HAM diam. Seolah tidak pernah
terjadi apa-apa. Seolah dunia sedang berjalan normal.

Standar ganda

Lagi dan lagi sobat muda, semuanya tidak berhenti sampai di sini.
Begitu banyak kebungkaman para penggiat HAM (termasuk Dewan
HAM PBB) ketika dihadapkan pada beragam aksi pelanggaran hak
asasi yang terjadi di berbagai belahan dunia muslim lainnya; di
Rohingya, Xinjian, Pakistan, Afganistan, dan masih banyak lagi.
Kalau ada waktu, silahkan deh cek fakta-fakta lainnya dengan cara
mengetikkan keyword ‘pelanggaran HAM terhadap umat Islam’ di
google. Atas semuanya itu, fakta kembali menegaskan bahwa para
penggiat HAM termasuk negara-negara barat pengusung HAM,
memilih bungkam.

Beda halnya ketika kasus pelanggaran HAM terjadi pada mereka di
luar kaum muslimin, para penggiat HAM langsung meradang
dengan dalih melindungi hak asasi manusia. Ketika satu saja warga
Israel terluka oleh roket pejuang Palestina misalnya, mereka
langsung mengecam. Namun ketika tank dan pesawat tempur
menghujani Palestina dengan bom hingga menewaskan ratusan
bahkan ribuan nyawa warga Palestina, mulut mereka pun bungkam.
Ini menunjukkan bahwa HAM pada pelaksanaannya memang
memiliki standar ganda. Jika yang menjadi korban adalah kaum
muslimin, lupakan. Namun jika yang menjadi korban itu nonmuslim,
perjuangkan.

Sobat gaulislam, kemunafikan pejuang HAM ini memang pada
akhirnya, disadari atau tidak, pasti menempatkan Islam dan kaum
muslimin sebagai musuh. Islam dan HAM pada kenyataannnya
ibarat minyak dan air. Tidak akan pernah bersatu. Selamanya.
Kenapa? Karena HAM yang diusung Barat sebenarnya berangkat
dari pemahamann yang bertentangan dengan syariat Islam.
Perlindungan terhadap nilai-nilai kebebasan manusia dalam HAM
sungguh sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai keislaman.
HAM ‘mengajarkan’ untuk melindungi kebebasan manusia secara
mutlak, karena menurut HAM, kebebasan adalah hak asasi setiap
manusia di muka Bumi. Tidak boleh seseorang dilarang untuk
berpendapat, memiliki, dan berperilaku sesuai kehendak hatinya.
Maka tidak heran jika ada nabi palsu tapi malah didukung bahkan
dielu-elukan. Tidak heran jika para penggambar karikatur Nabi
shalallahu ‘alaihi wa sallam malah dilindungi. Lumrah jika homo
dan lesbi dihalalkan dan bahkan dibolehkan menikah. Seseorang
yang tidak shalat, tidak memakai jilbab dan kerudung bagi
muslimah, tidak puasa, dan beragam pembangkangan terhadap
syariat Islam lainnya malah didukung. Kenapa? Karena semua itu
menurut konsep HAM barat adalah hak asasi manusia yang tidak
boleh diganggu gugat.

Islam mengatur HAM

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Islam
mengajarkan bahwa setiap perbuatan yang kita lakukan,
pertimbangannya adalah halal dan haram. Jika halal, lanjutkan.
Sebaliknya, jika haram, tinggalkan.

Meskipun standarnya adalah halal dan haram, bukan berarti Islam
berlepas tangan dari yang namanya mengatur dan melindungi hak
asasi manusia. Islam justru melakukannya jauh lebih baik daripada
konsep HAM Barat yang memang disusun dari akal manusia yang
serba terbatas dan disusupi kepentingan nafsu buruk.

Standar halal dan haram yang digunakan Islam justru mengatur dan
melindungi hak-hak dasar manusia dengan sangat baik. Islam
menghukum para pelaku pembunuhan (yakni dengan menerapkan
hukum qishash), menghukum para pencuri. Selain itu, melarang
memata-matai sesama kaum muslimin, melarang merusak akal
dengan menenggak miras dan narkoba, mengharamkan merusak
nasab/keturunan dengan berzina, dan lain sebagainya. Tujuannya
apa? Tujuannnya adalah untuk melindungi hak asasi manusia itu
sendiri. Orang akan takut membunuh, mencuri, mencederai hak
orang lain.

Sobat gaulislam, kita telah sangat dekat dan melihat fatamorgana
ini. Maka, masihkah kita tidak menyadari bahwa sebenarnya konsep
HAM Barat ini pada dasarnya adalah untuk memberangus Islam dan
kaum muslimin?

Apa, kamu belum ngeh dan belum nyadar? Hmm… berarti memang
pengetahuan dan kesadaran itu penting banget lho. Bener.
So , jika kamu masih belum menyadari hal ini, coba deh baca ulang
tulisan ini dari kata pertama. Oya, tidak hanya dibaca, coba
dipikirkan dan direnungkan setiap jengkal kalimatnya. Perhatikan
juga setiap jengkal fakta tentang tentang segala kesalahan HAM ala
Barat ini.

Haruskah? Ya harus! Karena kita adalah remaja yang berbeda
dengan kebanyakan remaja lain. Kawan, kita adalah remaja muslim,
yang hari-harinya tidak hanya disibukkan dengan memikirkan hal-
hal sepele dan tiada guna; sibuk dengan sinetron, pacaran, atau
hura-hura. Kita adalah remaja muslim, yang selalu penuh gairah
dalam berlajar dan menyampaikan Islam, serta peduli terhadap
sesama dan kondisi sekitar. Itu pasti! [Farid Ab |Twtter @badiraf ]

Tidak ada komentar: