Minggu, 04 Januari 2015

Sejarah khilafah itu berdarah darah dan mengerikan, benarkah?

Choirul Anam

SEJARAH KHILAFAH ITU BERDARAH-DARAH DAN MENGERIKAN,
BENARKAH?

Banyak orang yang mengatakan bahwa pihak yang menyuarakan Khilafah
tak mengerti sejarah. Kemudian dikatakan bahwa sejarah Khilafah itu
berdarah-darah. Dalam Khilafah itu isinya hanya perang dan perang,
konflik dan konflik, pembunuhan dan pembunuhan. Bahkan, para Khalifah
yang disebut sebagai Khulafa’ur Rosyidin saja wafat terbunuh.
Benarkah semua itu?
Untuk membahas ini, agar pembahasan tidak subyektif, maka akan
ditunjukkan pernyataan para sejarawan. Tentu saja para sejarawan sendiri
ada yang obyektif dan ada yang subyektif. Sebab para sejarawan sendiri
juga memiliki kepentingan dan sudut pandang tertentu dalam melihat
suatu fenomena. Namun, biasanya para sejarawan yang berbeda dengan
maisntream lebih obyektif, daripada mereka yang mengikuti mainstream.
Sebab, para pengikut maisntream biasanya dibayar dan dikontrol oleh
kekuasaan.
*****
Benarkah dalam Khilafah itu tidak ada keamanan dan kesejahteraan, serta
sejarah Khilafah itu berdarah-darah? Will Durant, dalam The Story of
Civilization, vol. XIII, hal 151 menyampaikan: "Para Khalifah telah
memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa
besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga
telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang
memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad
dalam wilayah yang sangat luas, dimana fenomena seperti itu belum
pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka.”
Apakah masa Khilafah adalah masa yang suram ataukah masa dengan
kemajuan yang mengagumkan? Durant menyampaikan: “Kegigihan dan
kerja keras mereka (para Khalifah) menjadikan pendidikan tersebar luas,
hingga berbagai ilmu, sastera, filsafat dan seni mengalami kemajuan luar
biasa, yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling
maju peradabannya selama lima abad".
Apakah Khilafah itu hanya sibuk dalam perang sehingga tidak sempat
mengembangkan saians dan tenologi serta perdaban? Tentang ini, Paul
Kennedy menulis dalam The Rise and Fall of The Great Powers: Economic
Change an Military Conflict from 1500 to 2000, ”Dalam beberapa abad
sebelum tahun 1500, Dunia Islam telah jauh melampaui Eropa dalam
bidang budaya dan teknologi. Kota-kotanya demikian luas, rakyatnya
terpelajar, perairannya sangat bagus. Beberapa kota di antaranya memiliki
universitas-universitas dan perpustakaan yang lengkap dan memiliki
masjid-masjid yang indah. Dalam bidang matematika, kastografi,
pengobatan dan aspek-aspek lain dari sains dan industri, kaum Muslim
selalu berada di depan."
Terkait dengan non-Muslim dalam Khilafah, Durant dalam The Story of
Civilization, menyampaikan: “Orang-orang Non-muslim, seiring dengan
perjalanan waktu telah menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa
mereka, padahal mereka bukan bangsa Arab, puncaknya dengan
ketundukkan mereka kepada syari'at al-Quran dan memeluk Islam.
Padahal, Belanda tidak mampu lagi mempertahankan tonggak
kekuasaannya setelah berhasil selama seribu tahun. Begitu juga pasukan
Romawi terpaksa meninggalkan tanah air pemberian Tuhan dan tidak
dapat lagi mempertahankannya, termasuk di negeri-negeri tempat
munculnya sekte Kristen di luar sekte resmi negara Byzantium.”
Apakah masyarakat dipaksa dan diintimidasi dalam urusan agama, Durant
menuturkan: “Di seluruh daerah tersebut telah tersebar luas aqidah serta
tatacara ibadah agama Islam. Penduduk daerah itu telah beriman kepada
agama baru dan mereka semua ikhlas menerimanya. Mereka berpegang
teguh kepada akidahnya dengan ikhlas dan serius, hingga dalam waktu
singkat mereka telah melupakan Tuhan mereka yang lama.
Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri-negeri yang
terbentang mulai dari China, Indonesia, India hingga Persia, Syam,
Jazirah Arab, Mesir bahkan sampai Maroko dan Spanyol.
Islam pun telah menguasai cita-cita mereka, mendominasi akhlaknya,
membentuk kehidupan-nya dan membangkitkan harapan di tengah-
tengah mereka, yang meringankan masalah maupun duka mereka. Islam
telah mewujudkan kejayaan dan kemuliaan bagi mereka, sehingga jumlah
orang yang memeluknya dan ber¬pegang teguh kepadanya pada saat ini
(1926) sekitar 350 juta jiwa. Agama Islam telah menyatukan mereka dan
melunakkan hati¬nya walaupun ada perbedaan pendapat dan latar
belakang politik di antara mereka”.
Sementara tentang posisi non Muslim dalam bidang sains dan teknologi,
disampaikan oleh Dr. William Draper, seorang sejarawan American English
dan seorang saintis menyampaikan “During the period of the Caliphs the
learned men of the Christians and the Jews were not only held in great
esteem but were appointed to posts of great responsibility, and were
promoted to the high ranking job in the government....He (Caliph Haroon
Rasheed) never considered to which country a learned person belonged
nor his faith and belief, but only his excellence in the field of
learning.” (Selama masa kekhilafahan, orang-orang terdidik dari kalangan
Kristen dan Yahudi, tidak hanya mendapatkan penghargaan besar, tetapi
juga ditunjuk untuk menempati pos-pos dengan tanggung jawab yang
besar dan dipromosikan untuk menempati posisi pekerjaan kelas atas
dalam pemerintahan... Dia (Khalifah Harun Arrosyid) tidak pernah melihat
asal kebangsaan mereka, juga keimanan dan kepercayaan mereka, tetapi
hanya melihat keistimewaan mereka dalam bidang keilmuan).
Apakah Khilafah tersebar luas itu hanya semata-mata karena penaklukan
dengan pedang dan peperangan? Mari kita simak penjelasan Henry S.
Lucas dalam bukunya yang berjudul Sejarah Peradaban Barat: “Orang-
orang Barat sering keliru memahami sifat-sifat penaklukan yang
dilakukan orang-orang Islam. Mereka menyangka bahwa keberhasilan
aksi-aksi militer itu karena prajurit-prajurit Islam melakukan keganasan
untuk menakut-nakuti musuh. Persangkaan mereka (orang-orang Barat
itu) bahwa orang-orang Islam memaksakan dua pilihan kepada pihak
yang ditaklukkan: Alquran atau pedang. Yang benar adalah bahwa orang-
orang Islam tidak pernah membasmi orang-orang Kristen. Mereka hanya
memungut upeti (maksudnya jizyah) dari kaum Kristen sebagai
kompensasi atas kemuliaan yang diterima kaum Kristen di bawah
kekuasaan Islam.” Dalam bukunya tersebut, Henry Lucas tidak pernah
menyebut kekuasaan Islam sebagai kerajaan, tetapi kekhalifahan.
Misalnya: kekhalifahan Umayyah dan kekhalifahan Abbasiyah.
Apakah Khilafah itu hanya mesin perang? Kennedy mengungkapkan
dalam dalam The Rise and Fall of The Great Powers: Economic Change an
Military Conflict from 1500 to 2000, bahwa Khilafah (khususnya Khilafah
Utsmaniyah) bukan sekedar mesin perang sebagaimana yang dipahami
oleh kebanyakan orang. Dia menyampakan: "Imperium Utsmani lebih dari
sekadar mesin militer; ia telah menjadi penakluk elit yang telah mampu
membentuk satu kesatuan iman, budaya dan bahasa pada sebuah area
yang lebih luas dibandingkan dengan yang pernah dimiliki oleh Imperium
Romawi...”
Kehebatan dan keagungan Khilafah Islam bukan hanya pada masa Turki
Utsmani, tetapi juga pada masa-masa Kekhilafahan sebelumnya, baik
Abbasiyah, Umayah dan tentu saja masa Khulafa’ur Rosyidin, yaitu kira-
kira sekitar 1200 tahun. Hal ini disampaikan oleh Carleton S, seorangh
Chairman and Chief Executive Officer Hewlett-Packard Company
berkomentar terhadap peradaban Islam sejak tahun 800-1600 masehi. Dia
menyatakan: “Peradaban Islam merupakan peradaban yang paling besar
di dunia. Peradaban Islam sanggup menciptakan sebuah negara adidaya
kontinental (continental super state) yang terbentang dari satu samudra
ke samudra lain; dari iklim utara hingga tropik dan gurun, dengan ratusan
juta orang tinggal di dalamnya, dengan perbedaan kepercayaan dan suku
bangsa. Tentaranya merupakan gabungan dari berbagai bangsa yang
melindungi perdamaian dan kemakmuran yang belum dikenal
sebelumnya.” Hal ini diambil dari ceramahnya tanggal 26 September 2001
dengan judul Technology, Business, and our Way of Life: What Next?
Maka tak mengherankan jika para sejarawan, tidak saja menilai Islam
sebagai sebuah agama, tetapi juga sebagai sebuah negara dan budaya
yang sangat mengagumkan. Hal ini disampaikan oleh sejarawan Philip K.
Hitti dalam History of Arab. Dia mengatakan, “The term Islam may be
used in three sense: originally a religion, Islam later became a state, and
finally a culture.” (Istilah Islam dapat digunakan dalam tiga hal: Pada
awalnya Islam adalah agama, lalu Islam menjadi negara, dan terakhir
sebagai sebuah budaya).
Islam dengan Khilafahnya berhasil menyatukan umat manusia dalam
kesatuan yang hakiki. Perasaan rasial benar-benar hilang dalam naungan
Islam dan Khilafahnya. Hal ini diungkapkan oleh Arnold J. Toynbee,
sejarawan Inggris dalam The Rise and Fall of Civilizations ‘A Study of
History’ menyimpulkan bahwa “The extinction of race consciousness as
between Muslims is one of the outstanding achievements of Islam, and in
the contemporary world there is, as it happens, a crying need for the
propagation of this Islamic virtue.” (Hilangnya perasaan ras diantara
Muslim adalah capaian Islam yang sangat istimewa. Dan dalam dunia
kontemporer ini sungguh sangat membutuhkan penyebaran ajaran-ajaran
Islam ini).
Itulah gambaran tentang Islam dan Khilafah dari para sejarawan. Apakah
Khilafah itu berdarah-darah dan mengerikan? Kita dapat menjawab
sendiri.
*****
Tentu saja dalam beberapa waktu tertentu pada masa kekhilafahan
memang ada masalah, misalnya konflik dan pembunuhan, tetapi
melakukan generalisasi suatu fenomena bukan merupakan tindakan
ilmiah. Adanya konflik, rebutan keuasaan, dan kasus pembunuhan itu
sebenarnya hanya terjadi pada waktu tertentu dan hanya dilakukan oleh
oknum tertentu. Sehingga tidak bisa digeneralisasi bahwa Khilafah
sepanjang sejarahnya seperti itu. Terus terang, kasus-kasus seperti ini
biasanya menjadi catatan penting para sejarawan Muslim, misalnya Imam
Ath Thabary atau Imam Ibnu Katsir.
Kita memang tidak bisa mengabaikan adanya penyimpangan seperti ini.
Namun, yang patut disayangkan, kita sering keliru dalam membaca kitab-
kitab para ulama tersebut, karena kebodohan dan ketidak-cermatan kita.
Saat para ulama menjelaskan suatu kasus untuk dijadikan pelajaran,
tetapi karena kedangkalan ilmu kita, kita menyimpulkan seakan-akan
kasus itu terjadi sepanjang sejarah Khilafah Islam.
Jika bicara kasus, dalam demokrasi juga terjadi. Dalam demokrasi juga
terjadi konflik, peperangan, pembantaian dan pembunuhan. Apakah dapat
disimpulkan bahwa sepanjang sejarah demokrasi isisnya hanya
peperangan dan pembunuhan?
Bahkan jika kita mau melihat secara jujur, terjadinya konflik, peperangan
dan pembunuhan serta rebutan kekuasaan, dalam demokrasi jauh lebih
mengerikan. Dr. Yusuf Qardhawi dalam Umat Islam Menyongsong Abad
21, mencatat bahwa semenjak keruntuhan Khilafah, terjadi peperangan
besar dengan korban manusia yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Perang Dunia I tercatat korban meninggal sekitar 9 juta orang. Sedangkan
Perang Dunia II menelan 61 juta jiwa. Jumlah tersebut dihitung hanya dari
6 negara. Pada masa demokrasi ini juga, bom atom telah dibuat dan
dijatuhkan pada suatu kota dan membunuh ratusan ribu manusia.
Sedangkan korban pembunuhan yang dilakukan oleh berbagai
pemerintahan selama abad 20 saja sekitar 170 juta orang. Perang Irak dan
Afganistan yang dilakukan oleh Soko Gurunya demokrasi (Amerika) telah
membunuh jutaan orang. Itu belum termasuk yang cacat dan meninggal
karena dampak peperangan.
Dr Qardhawi menyimpulkan bahwa korban perang ganas pada abad 20
dan 21 (pada zaman demokrasi) lebih banyak dibanding korban dari
mulai awal kehidupan hingga abad ke 19. Padahal Khilafah itu hanya dari
abad 7 hingga awal abad 20. Sementara pada abad tersebut terdapat
banyak peradaban yang suka membantai dan perang seperti Peradaban
Barat. Jadi, korban akibat Khilafah (karena penyimpangan beberapa
orang), tidak ada apa-apanya dibanding korban akibat kebiadaban
manusia dalam sistem demokrasi.
Jadi, siapa bilang dalam demokrasi itu tidak ada perang dan konflik.
Dalam demokrasi peperangan dan konflik itu sangat mengerikan, karena
didorong nafsu untuk berkuasa dan nafsu untuk mendapatkan kenikmatan
sensasi jasadiah.
Tapi, sayangnya konflik dan peperangan dalam demokrasi itu seperti
gajah di depan pelupuk mata. Bagi mereka “semut konflik” yang terjadi
pada masa Khilafah itu lebih tampak dan lebih seksi dibanding “gajah
konflik” pada masa demokrasi..
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar: