Selasa, 30 Desember 2014

TTP dan pembantaian fi army public school filihat dari sudut pandang pembunuh

TTP dan Pembantaian di Army Public School: Dilihat dari Sudut Pandang
Pembunuh

Selasa (16/12), publik Inggris (terutama warga Pakistan di Inggris)
dikejutkan oleh peristiwa horor yang terjadi di Peshawar, Pakistan. Di
antara serangan paling berdarah dan mengejutkan yang dilakukan oleh
Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) dalam beberapa tahun ini, sekelompok
orang memasuki Army Public School di ibukota provinsi Khyber Phaktun
Khuwa (KPK) dan melepaskan tembakan secara membabi buta.
Tembak menembak terjadi beberapa saat setelah Komando Militer tiba di
sana. Akibatnya, anak-anak sekolah berlarian ketakutan untuk
menyelamatkan hidup mereka. Adegan ini pun disiarkan langsung oleh
saluran televisi Pakistan. Pengepungan itu berakhir beberapa jam
kemudian dengan jumlah korban tewas 141 orang, sebagian besar di
antaranya adalah anak-anak sekolah yang tidak bersalah.
Tidak ada kata-kata yang dapat membenarkan hal ini dan kebencian
terhadap tragedi ini layak dinyatakan dengan tegas. Tidak ada pula
wacana kontekstual yang dapat melegitimasi tindakan ini dan mereka
yang bertanggung jawab harus diseret ke pengadilan.
Sayangnya, peristiwa tersebut dibutuhkan untuk memfokuskan perhatian
media dunia dan masyarakat atas realitas kehidupan sehari-hari
penduduk Pakistan Utara. Nasib para pengungsi Pakistan—mengingat
akronim IDP (Internally Displaced Persons atau Pengungsi Dalam Negeri)
yang dipakai oleh media Pakistan—tidak pernah diberitakan oleh media
dunia dan para ahli karena sikap kemarahan moral yang pilih kasih.
Angkatan Bersenjata Pakistan memulai operasi pembersihan besar-
besaran yang dinamakan Zarb-e-Azb—ironisnya adalah nama pedang
Nabi Muhammad SAW—dengan menyerang Wilayah Utara untuk
melenyapkan orang-orang yang diduga teroris TTP. Operasi ini telah
mengakibatkan mengungsinya ratusan ribu orang, perusakan tanah dan
rumah mereka, dan pembunuhan ratusan orang, yang mengejutkan tidak
satupun dari mereka dilaporkan sebagai warga sipil yang tidak bersalah.
Setiap orang waras akan bisa melihat keburukan yang dialami penduduk
setempat.
Sayangnya, hal ini merupakan realitas yang dapat dihindari. Pemerintah
Pakistan, yang dipimpin oleh tentara, adalah penyebab utama rantai
peristiwa yang mengarah kepada pembantaian ini. Mereka melakukan
operasi atas perintah dan tekanan yang berulang dari AS, yang terjebak
dalam lumpur di Afghanistan. Amerika telah menandai tahun 2014 sebagai
tahun penarikan militer mereka dari Afghanistan, setelah gagal
mengalahkan gerakan perlawanan Taliban di sana. Mereka telah
menghadapi meningkatnya serangan dan tekanan dari kekuatan-kekuatan
itu, yang dianggap telah dikalahkan pada tahun 2002 dengan “deklarasi
kemenangan” oleh George Bush. Seperti AS dan para sekutunya yang
telah ketahui, ada kenyataan pahit mengapa wilayah ini disebut “Kuburan
bagi para Imperium (Graveyard of Empires)”. Penyerang demi penyerang,
penakluk demi penakluk, dan tentara demi tentara telah mencoba
memadamkan semangat gigih rakyat Pakhtun, namun gagal. Selama dua
abad terakhir ini saja, Kerajaan Inggris, Uni Soviet, dan sekarang AS
gagal melakukan upaya ini. Dalam konteks ini, AS memerintahkan tentara
Pakistan untuk melakukan beberapa tekanan yang mereka hadapi, dengan
menyerang wilayah itu dan rute pasokan serta fasilitas pelatihan Timur
Taliban dari perbatasan Pakistan-Afghanistan. Operasi ini adalah bentuk
pelaksanaan proposal Amerika, dengan menyewa tentara Pakistan untuk
bisa menyerang tepat pada waktunya sehingga dapat mengatur opini
publik dalam mendukung langkah itu.
Akan tetapi, dampak yang ada sangat dirasakan rakyat Pakistan, terutama
wanita dan anak-anak yang dipandang sebagai target balasan sah oleh
tentara Pakistan. Apakah pemerintah Pakistan tidak menyadari sejarah
wilayah ini dan rakyat Pakhtun? Mengapa mereka menempatkan
penduduk lokal dalam melakukan tawar-menawar berbahaya dengan
pasukan NATO? Yang mengherankan, mengapa tidak ada yang siap untuk
membahas kenyataan ini? Konteksnya dapat ditarik kembali kepada
pengkhianatan Musharraf yang memungkinkan Amerika mendapatkan
akses tidak terbatas ke tanah Pakistan, pangkalan militer, infrastruktur,
dan individu, termasuk orang-orang seperti Dr. Afia Siddiqui. Ini seperti
menabur benih yang telah tumbuh menjadi sebuah pohon yang besar
dengan buah yang pahit yang kita sekarang dipaksa untuk merasakannya.
TTP tidak ada sebelum Pakistan bergabung dengan Perang Melawan
Teror. Tidak ada bom bunuh diri, penembakan di sekolah, masjid, dan
serangan terhadap para imam atau penargetan terhadap infrastruktur
militer yang dilakukan oleh kelompok-kelompok ini. Lalu mengapa kita
tidak menyalahkan para penjahat ini karena memicu Pakistan masuk ke
dalam api ini, bukan hanya secara sempit berfokus kepada para
pembunuh ceroboh yang melakukan tindakan keji?
Tahun lalu, dalam beberapa minggu, drone-drone Amerika menyerang
dua Madrasah, yang menewaskan 70 hingga 80 anak-anak dalam dua
serangan. Diduga target serangannya adalah Ayman Al-Zwahiri, kepala
Al-Qaeda. Tidak mengherankan, dia bukan salah satu dari korban itu. Di
mana media Barat dengan kemarahan yang serempak atas kekejaman ini?
Mengapa pembunuhan orang-orang tidak berdosa ini tidak mendapat
tanggapan keras dari tentara Pakistan atau pernyataan dari pemerintah?
Apakah mereka adalah makhluk yang lebih rendah dari manusia, tidak
merasa bersalah bahkan kepada anak-anak? Adalah suatu kebodohan
untuk percaya bahwa media Barat peduli tentang kematian anak-anak
Muslim, hingga yang benar pun adalah sikap politis.
Anak-anak Palestina dibunuh, dipukuli, dipenjara, namun dibantah
memilik martabat sebagai manusia. Akan tetapi, Barat dan juga medianya
mendukung pendudukan sang pembunuh, Israel, atas pernyataan “hak
untuk membela diri”. Media barat juga mendukung para biksu Buddha
yang telah melakukan kekejaman yang jauh lebih besar dan kematian
terhadap umat Islam Rohingya yang tidak bersalah di Burma selama
beberapa bulan. Ketika banyak anak-anak Muslim yang menjadi syahid
dan terdapat jutaan pengungsi di Suriah, media Barat lebih fokus pada
ISIS.
Tentara Pakistan terus menjadi “sekutu kuat” dari Amerika meskipun
bukti tersebar luas atas keterlibatan CIA, Blackwater, dan lain-lain dalam
operasi dengan panji-panji kebohongan, kematian, kehancuran dan
pendanaan yang licik di seluruh Pakistan selama beberapa tahun.
Ada banyak sudut pandang untuk wacana ini. Luka terbuka yang
ditimbulkan oleh para penjahat keji di APS dapat memberikan saat yang
tepat untuk melakukan introspeksi dan analisa. Haruskah Pakistan terus
menanggung beban perang yang dimulai, suatu malapetaka yang
dieksekusi oleh imperium Amerika Serikat, ketika mereka relatif aman
karena letaknya yang ribuan mil jauhnya? Mengapa rakyat Pakistan
merasa diteror dan takut di jalan-jalan hanya untuk memastikan bahwa
pasukan pendudukan NATO dapat tidur dengan tenang di Afghanistan?
Haruskah pemerintah Pakistan memulai operasi pembalasan untuk
menargetkan orang-orang yang tidak puas yang melakukan serangan ini?
Padahal operasi terakhir menjadi penyebab langsung dari kekejaman
yang terjadi?
Para penyerang itu menyatakan bahwa mereka menargetkan sekolah itu
karena sekolah tersebut dijalankan oleh dan untuk militer Pakistan,
sebagai pembalasan atas “kegiatan kriminal” mereka di Pakistan Utara.
Namun, hari ini tentara Pakistan telah melancarkan serangan udara yang
baru di daerah yang sama, yang menewaskan 57 “teroris”. Hebatnya,
mereka begitu tepat melakukan pembunuhan yang ditargetkan, bahkan
dari udara, bahwa tidak satupun dari para korban yang telah dilaporkan
sebagai warga sipil yang tidak bersalah oleh media Pakistan. Tidak ada
media Barat, pemerintah, atau komentator jaringan sosial yang akan
meratapi hilangnya nyawa dan pertumpahan darah. Adalah tidak masuk
akal untuk menolak mengambil pelajaran dari sejarah. Amerika akan
meninggalkan wilayah itu. Pakistan akan harus berurusan dengan
akibatnya. Berhentilah menyerang orang-orang yang tidak akan lupa atau
memaafkan kejadian ini selama beberapa generasi. Mengutip pernyataan
Albert Einstein berkenaan dengan tindakan yang menyesatkan seperti itu,
“Kegilaan: melakukan hal yang sama berulang-ulang dan mengharapkan
hasil yang berbeda”. Hentikan pertumpahan darah atau kita akan, dan
saya harap saya salah, bisa mengutuk kekejaman lain dan melupakan
pemerintahan Pakistan sebagai arsitek dari respon tersebut.
(rz)
Sumber :
http://politicalideology1985.wordpress.com/2014/12/17/ttp-and-the-
army-public-school-carnage-the-murderous-context/

Tidak ada komentar: