Selasa, 30 Desember 2014

suriah, isis dan khilafah

Atus Firdaus
Suriah, ISIS dan Khilafah

Setelah Revolusi Islam di Suriah pecah hampir 4 tahun lalu, keinginan
rakyat Suriah khususnya, dan umat Islam di seluruh dunia umumnya,
untuk menyaksikan tumbangnya rezim kafir Baats masih harus menunggu
waktu. Apa yang terjadi di Suriah sesungguhnya merupakan perang
peradaban dan politik yang melibatkan dua pihak.
Pihak pertama adalah Amerika yang diikuti oleh Eropa, Rusia, para antek
dan pengikutnya. Pihak kedua adalah umat Islam, khususnya rakyat
Syam. Pihak pertama berjuang mati-matian untuk menghalangi tegaknya
Khilafah di bumi Syam; mendirikan rezim sekular, sebagaimana
pendahulunya, yang tunduk dan mengikuti Amerika dan Barat. Pihak
kedua berjuang mati-matian untuk mendirikan Khilafah di Bumi Syam,
sebagai Uqru Dar al-Islam (lubang kembalinya [ular] di negeri Islam).
Kemudian Khilafah itu akan membentang hingga ke negeri kaum Muslim,
yang diperintah oleh sistem Islam; yang memuji dan mengagungkan Allah
SWT, Zat Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.
Hizbut Tahrir Suriah telah menyampaikan Rancangan Politik Kedua
kepada Rakyat Syam. Isinya memaparkan solusi mendasar terhadap
konspirasi global yang berusaha menghancurkan Revolusi Syam, menyia-
nyiakan pengorbanannya, serta menyelamatkan Revolusi, dengan judul,
“Mari bersama-sama Menjatuhkan Taghut Syam dan Mendirikan
Pemerintahan Islam, Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah.”
Maksud dari Rancangan Politik Kedua kepada Rakyat Syam adalah agar
Revolusi Syam tetap berpegang teguh pada tali agama Allah dengan kuat.
Dengan cara seperti itu, Revolusi ini akan mampu menghancurkan
peraduan setan Amerika, Eropa, Rusia dan Cina, yang terus-menerus
melakukan konspirasi untuk menghancurkan revolusi ini.
Mereka semua dengan antek-antek mereka berdiri kokoh bersama
Thaghut Syam. Mereka menopang sang thaghut dengan dana, senjata dan
pasukan untuk membunuh para pemuda umat, mengaborsi aspirasi
mereka serta merebut kemuliaan dan kehormatan mereka. Mereka dibuat
terkejut. Pasalnya, ternyata para pejuang revolusi ini adalah kesatria
yang berpegang teguh pada agama mereka. Mereka adalah para
pahlawan. Anak-anak mereka pun kesatria. Perempuan-perempuan
mereka pun seperti Khansa’. Seluruh umat Islam berdiri di pihak mereka,
dalam revolusi mereka melawan penguasa thaghut.
Hizbut Tahrir, seperti sabda Nabi, “Ar-Ra’id la yakdzibu
ahlahu” (Pemimpin tidak akan pernah membohongi rakyatnya) [Ibn Atsir,
Al-Kamil fi at-Tarikh, I/478].
Hizbut Tahrir mengajukan Rancangan Politiknya untuk Rakyat Syam untuk
mewujudkan kewajiban Khilafah yang agung. Tidak ada lagi harapan,
kehidupan dan masa depan bagi umat Islam ini, kecuali dengan
mendirikan dan mewujudkan Khilafah, dengan izin dan pertolongan Allah
meski ujian dan cobaannya luar biasa dan semakin berat.
Dalam pendahuluan Rancangan Politik tersebut dinyatakan, “Ini adalah
rancangan politik yang kami ajukan kepada keluarga kami yang teguh
berjuang di Syam, setelah 3 tahun meletusnya Revolusi Syam yang penuh
berkah, agar bisa membimbing jalan mereka; membantu mereka
mewujudkan tujuan yang diharapkan sekalipun mereka menghadapi
pembunuhan, tekanan, pemboikotan, blokade…”
Rancangan Politik tersebut selanjutnya menegaskan, “Dalam konteks ini,
yang perlu diingat adalah peringatan untuk keluarga kami di Syam, bahwa
Revolusi Berkah ini tidak mereka lakukan, kecuali sebagai fase akhir
sehingga mereka bisa memetik buahnya, serta menikmati berbagai macam
kebaikannya…Semua harapan mereka telah dihanguskan. Kekayaan
mereka pun telah kering. Sementara itu, di depan mereka ada musuh, dan
di belakang mereka ada lautan. Tidak ada jalan keluar bagi mereka,
kecuali melanjutkan perjalanan untuk menang…Jika tidak, mereka akan
diusir sebelum meraih tujuan. Tentu ini merupakan kerugian dan
penyesalan.”
Revolusi Berkah ini dilakukan untuk mewujudkan perubahan mendasar,
mencabut rezim tiran dan menggantinya dengan sistem yang baik, haq
dan adil. Revolusi Syam telah menegaskan, bahwa revolusi ini merupakan
revolusi untuk mentauhidkan Allah, dan menjadikan Rasulullah saw.
sebagai panutan. Revolusi ini juga mengangkat slogan yang tidak akan
bisa diwujudkan, kecuali dalam sebuah negara, seperti negara Khulafa’
ar-Rasyidin.
Karena itu, agar Revolusi Berkah ini berhasil mewujudkan tujuannya,
yaitu menjatuhkan rezim thaghut, serta mendirikan pemerintahan Islam di
Damaskus Syam, maka:
Semua pihak harus menyatakan dengan tegas, bahwa rancangan kita
adalah Khilafah ‘ala Minhaj Nubuwwah.
Menyatakan dengan tegas, bahwa Dewan Nasional, Koalisi Oposisi, dan
Dewan Jenderal, tidak mewakili sedikit pun revolusi ini.
Para politikus dan militer yang ikhlas harus memutus semua hubungan
dengan negara-negara Barat dan antek-anteknya.
Melepaskan diri secara total dari dana politik yang najis.
Menganggap siapa saja yang menghalangi Proyek Khilafah sebagai
pengkhianat Allah, Rasul dan orang Mukmin.
Bagi orang-orang yang ikhlas harus melepaskan kepemimpinan mereka
dari pihak luar, dan menggantikannya dengan kepemimpinan yang bersih.
Para pemimpin Revolusi dan Ahlul al-Quwwah memberikan nushrah
kepada Hizbut Tahrir dan kepemimpinannya; mengumpulkan Ahl al-Halli
wa al-‘Aqd baik para qadhi, ulama’ maupun tokoh masyarakat agar
mereka mendukung Hizbut Tahrir dan kepemimpinannya dengan jujur dan
ikhlas. Hizbut Tahrir mempunyai Rancangan Negara yang jelas,
bersumber pada Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya. Hizbut Tahrir juga
paling mampu membongkar berbagai konspirasi yang dialamatkan kepada
umat Islam, selain pengalaman Hizb dalam politik global dan
perjalananya di belakang kepemimpinanya ini dengan teguh mendirikan
Proyek Khilafah yang agung ini, Proyek Negara Islam, Khilafah Rasyidah.
Mereka selayaknya meneladani Aus dan Khazraj ketika mereka membaiat
Rasulullah saw. dengan baiat nushrah dan perang. Dengan itu Allah
memuliakan mereka, dengan menyatukan hati mereka, dengan berdirinya
Negara Islam melalui tangan mereka…
ISIS
Amerika telah melakukan monsterisasi “Khilafah Rasyidah”, dengan
mengeksploitasi “ISIS” yang diproklamasikan tanggal 1 Ramadhan 1435 H
dengan entengnya. Tujuannya tentu meraih keuntungan sebesar-besarny
a dalam menjalankan rancangannya di kawasan ini. ISIS sendiri
melakukan pembantaian demi pembantaian atas nama Islam. Padahal
tindakannya itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan Islam.
Dalam konteks inilah, Thalib Hadi al-Bahrah, Ketua Koalisi Oposisi
(Amerika), tanggal 16/08/2014 lalu meminta kepada masyarakat
internasional untuk secepatnya melakukan intervensi di Suriah, dengan
mengatakan, “Saya, atas nama kemanusiaan, menyerukan kepada PBB
dan semua negara yang meyakini kebebasan, agar mereka terlibat
mengatasi kondisi di Suriah, sebagaimana keterlibatan mereka di
Kurdistan, Irak. Akibatnya sama, musuhnya sama, maka tidak boleh
menggunakan dua standar yang berbeda.”
Thalib al-Bahr memenuhi harapan tuannya, Amerika, dan selaras dengan
Resolusi DK PBB no 2170 tanggal 15/08/2014 yang menjatuhkan sanksi
kepada ISIS.
Siapa saja yang memperhatikan seruan ini pasti akan tahu, bahwa ini tak
lebih dari pengkhianatan terhadap Revolusi Syam. Seperti diketahui,
Amerika dan negara-negara Eropa, Rusia, Cina dan antek-anteknya,
membutuhkan justifikasi untuk melakukan intervensi di Suriah. Targetnya
bukan untuk menolong rakyat Suriah, tetapi untuk menghancurkan
Revolusi dan Proyek Khilafah.
Intervensi dengan alasan memerangi terorisme sama sekali tidak
meringankan penderitaan kaum Muslim, sebaliknya justru semakin
membuat mereka menderita. Pasalnya, serangan ini tidak lagi memilah
sipil dan militer. Serangan yang dilakukan oleh pesawat Amerika di
Yaman, Pakistan, Afganistan dan terakhir di Irak adalah bukti yang tak
terbantahkan. Intervensi ini juga menambah legalitas Barat kapitalis kafir
dan penjajah itu untuk menyerang negeri kaum Muslim secara langsung
dan memberi ruang kepada mereka untuk menguasai wilayah tersebut. Ini
jelas bertentangan dengan firman Allah SWT (yang artinya): Sekali-kali
Allah tidak akan memberikan jalan kepada kaum afir untuk menguasai
orang Mukmin (TQS an-Nisa’ [4]: 141).
Masyarakat internasional, yang dipimpin Obama, berkali-kali
mengumumkan bahwa mereka hanya memikirkan kepentingannya sendiri.
Mereka tidak pernah sedikit pun peduli terhadap kepentingan kita.
Bahkan bisa dikatakan dengan tegas, bahwa masalah dan penderitaan
yang kita alami juga merupakan buah mereka. Harus dicatat, kepentingan
Amerika hari ini bukan menjatuhkan Bashar, tetapi justru
mempertahankan dia. Karena itu Amerika melarang Koalisi Oposisi,
setelah dipersentajai oleh Rusia dan Iran atas restu Amerika, untuk
menjatuhkan Bashar. Bahkan Amerika diam terhadap pembantaian Bashar
yang sangat biadab.
Kepentingan Amerika khususnya dan negara-negara Barat umumnya di
Suriah dan kawasan ini, fokus untuk menghancurkan Proyek Islam yang
sesungguhnya dan menyeluruh. Proyek itu tak lain adalah Khilafah
Rasyidah ‘ala Minhaj Nubuwwah. Karena itu mereka memainkan
Rancangan Khilafah (ISIS) ini untuk menjatuhkan Khilafah, bersama-sama
mereka dalam permainan ini. Buntut mereka adalah para penguasa kaum
Muslim yang bodoh, termasuk Hadi al-Bahrah ini.
Ketakutan Barat, yang tak tampak, khususnya Amerika, terhadap apa
yang dinyatakan oleh Revolusi Umat di Syam adalah Proyek Khilafah
Rasyidah. Inilah yang menjadi alasan atas lahirnya konspirasi jahat ini.
Memperhatikan dahsyatnya konspirasi ini, maka tidak ada jalan untuk
menghadapi dan menghancurkan konspirasi ini, kecuali umat Islam
mengadopsi Proyek Khilafah ini melalui metode Rasulullah saw. bersama
para pejuang untuk mewujudkan kabar gembira Rasulullah saw.,
“Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR
Ahmad)

Tidak ada komentar: