Selasa, 30 Desember 2014

10 kiat menghadapi JIL


10 KIAT MENGHADAPI JARINGAN ISLAM LIBERAL
Ala NU
Disajikan dalam kegiatan Multaqo Tsanawy Haiatus sofwah
1.Memahami bahwa Liberalisme adalah kesesatan berpikir, bukan sebuah
ritual, sekalipun demikian tetap berdampak pada perilaku pengusungnya.
Jadi sudah seharusnya kita terus mencermati tulisan-tulisan JIL
(Jaringan Islam Liberal), dari koran Jawa Pos pada kolom KIUK (Kajian
Islam Utan Kayu), atau buku-buku terbitan JIL, El-KiS, Paramadina,
internet, dll. Kemudian meletakkannya sebagai ‘musuh’ untuk diintai.
Maka dengan ketelitian dan ketekunan, akan kita temui banyaknya upaya
JIL dalam pemelesetan dan pembelotan kata-kata, pemahaman serta
pembahasan materi yang menjurus kepada pengkaburan hingga
pelecehan terhadap agama Islam
2.Membuka ulang tafsir ayat, atau makna hadits, dan fatawa ulama salaf
sesuai dengan tema yang dipelesetkan. Biasanya kita temukan kalimat-
kalimat yang dinukil oleh JIL ternyata hanya sepotong-sepotong,
kemudian dipergunakan untuk memperkuat argumentasi dan
pendapatnya, maka kita harus mengungkap ketidak-benaran itu dengan
mengembalikannya kepada asli permasalahnya. Sering pula kita temui
kelompok JIL menggunakan Tafsir Hermeneutika dalam tulisan-tulisan
nya. Tafsir Hermeneutika adalah metode penafsiran Al-Quran dengan
menggunakan standar penafsiran Injil Bibel, antara lain menggunakan
kritik historis (sejarah), artinya tidak ada seorangpun di dunia ini yang
kebal terhadap kritik, dan menganggap bahwa selagi penafsiran terhadap
kitab suci masih dilakukan oleh manusia, termasuk oleh Nabi Muhammad
SAW, maka sangat mungkin terjadi kesalahan, karena menurut mereka
adanya keterbatasan akal manusia. Sehingga mereka meyakini bahwa
tidak satupun tafsir Al-Quran di dunia ini yang mutlak kebenarannya.
Dengan demikain, menurut mereka, siapapun orangnya, selagi dalam
konteks sebagai manusia, berhak menfsirkan Al-Quran sesuai dengan
pemahaman masing-masing.
3.Sebaiknya dalam menghadapi JIL, kita lebih mengutamakan nash-nash
qath’i dari Al-Quran dan Hadits-hadits sharih dengan menerangkan
ashbabun nuzul/wurud. Penguraian semacam itu termasuk paling jitu,
karena kita mampu menerangkan kepada umat islam duduk permasalahan
yang sesungguhnya, dan secara otomatis dapat menelanjangi pemikiran
sesat kelompok JIL.
4.Kita hadapkan pemikiran JIL dengan pemikiran ulama salaf, dengan
rujukan Al-Quran, hadits, serta realita sejarah, dan kita tawarkan kepada
umat: Apakah di dalam memahami ilmu agama, kita memlilh pemahaman
ulama salaf, misalnya Imam Syafii, yang telah berabad-abad dikenal
dunia Islam, atau memilih model pemahaman JIL, yang baru muncul
dengan referensi pemahaman Barat atau tafsir Hermeneutika?
5.Kita ungkap bagaimana keuntungan barat/kafir terhadap tema-tema
yang dimunculkan oleh JIL ke permukaan, misalnya dampak Fiqih Lintas
Agama, adalah memuluskan program pembauran dan pemurtadan umat
Islam secara pelan-pelan. Untk mengasah kejelian, tentunya kita harus
banyak membaca atau mencari informasi tentang dunia pergerakan JIL,
sehingga saat menghadapi mereka, kita tahu dengan pasti atas kesesatan
pemikirannya.
6.Kita rajin berkomunikasi dengan tokoh-tokoh yang berseberangan
dengan JIL, sekalipun bukan se-ormas dengan kita. Karena jalinan
dengan tokoh-tokoh ini dapat memperkuat lini-lini perjuangan, dalam
menghadang lajunya liberalisme. Kita juga harus selalu mewaspadai
besarnya pengaruh liberalisme yang kini telah menyeluruh di hampir
setiap bidang dan semua kalangan. Membangun jaringan sesama tokoh-
tokoh anti liberalism, adalah sangat penting untuk memperkaya
informasi, sehingga dapat menjadikan JIL sebagai musuh bersama.
Tokoh-tokoh anti JIL yang saat ini terhitung produktif dalam menerbitkan
buku-buku counter terhadap JIL antara klain : 1). Adian Husaini, MA. 2).
Henry salahuddin, MA. 3). Adnin Armas, MA. 4). Nu’im Hidayat. 5). Dr.
Daud Rasyid, MA. Dan lain sebagainya.
7.Kita sampaikan pemahaman kita kepada umat tentang kesesatan JIL,
melalui tulisan, ceramah, mimbar Jumat, dialog antar teman, dialog
terbuka, sampai berhadapan langsung dengan tokoh-tokoh JIL. Praktek
yang sering terjadi, saat kita serius melawan mereka untuk dialog
terbuka, maka di lapangan mayoritas umat Islam lebih condong kepada
aqidah ulama salaf, dibanding mengikuti pemikiran sesat JIL.
8. Apabila mengadakan dialog langsung dan terbuka dengan tokoh-tokoh
JIL, yang paling efektif adalah membawa satu tema dari tulisan mereka,
dan kita terangkan kesesatan-kesesa tan tulisan itu. Hal ini perlu,
dikarenakan umumnya mereka pandai bersilat lidah, dan kita akan diseret
kepada permasalahan lain untuk mengelabui dan mencari simpati dari
kita dan simpati hadirin, yang pada akhirnya akan mereka arahkan
kepada situasi ‘bersepakat’ untuk menerima pemikiran-pemikiran mereka.
Tapi dengan bukti kesesatan yang ada pada tulisan mereka, maka kita
tidak terjebak dengan permainannya.
9.Bagi yang mampu menulis dan ada kesempatan, maka dapat
menuangkan ‘pemikiran’ melawan liberalisme di media cetak/mansyurat/
SMS/dll. Hal ini sangat membantu umat untuk kembali kepada jalan
Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang benar. Bagi para dai mimbar,
pengasuh majelis taklim, pengasuh pesantren, dan pendidikan Islam
lainnya, sebisa mungkin saat membahas tema bahaya liberalisme, dapat
merekamnya lewat apa saja dan disebarkan kepada masyarakat. Bagi para
pemangku pesantern, sebaiknya terus membekali para santrinya untuk
memehami bahaya liberalisme, minimal mengisi perpustakaan pesantren
dengan buku-buku kontra JIL. Hal ini sangat diperlukan karena banyak
terjadi di kalangan alumni pondok pesantren yang justru terjerumus
dalam pemikiran liberalisne, karena ketidaksiapan mental saat tamat dari
pendidikan di pesantren. Kendala yang akan kita hadapi saat
menyampaikan counter terhadap pemikiran JIL, umumnya masyarakat
awam yang belum mengetahui benar-benar ‘BAHAYA BESAR’ yang akan
ditimbulkan oleh liberalisme, masyarakat akan mereaksi negatif terhadap
misi dan dakwah kita, tapi dengan kegigihan dan keihlasan dalam
mengusung kebenaran melawan liberalisme, lambat laun masyarakat yang
semakin ‘cerdas’ dan akan ikut berjuang bersama kita, sesuai
kemampuan dan kesempatan masing-masing.
10.Rajin merangkul aparat setempat dengan memberi pemahaman kepada
mereka tentang bahaya kesesatan JIL. Jika aparat sudah satu baris
dengan kita, suatu saat kita membutuhkan langkah aparat, maka tinggal
berkoordinasi. Sebagai contoh adalah kerjasama kita dengan aparat saat
mencekal dan memulangkan dari Air port Juanda, pada akhir tahun 2007,
seorang tokoh liberal asal Mesir, Doktor Nasr Hamid Abu Zayd, penghina
dan penghujat Al-Quran, yang akan tampil seminar di UNISMA-Malang.
Tulisan-tulisan Nasr Hamid Abu Zayd juga banyak menghujat Imam
Syafii, Imam Hambali, dan para ulama salaf lainnya. Yang
memperihatinkan kita, bahwa tulisan-tulisan Nasr Hamid Abu Zayd yang
berbahasa arab sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia,
dan digandrungi oleh penganut Liberalisme di kampus-kampus berbasis
Islam tanpa kita mampu mencegahnya. Lantaran di Negara kita menganut
kebebasan berekspresi, berkarya dan melindungi hak asasi manusia. —

Tidak ada komentar: