Senin, 24 September 2012

Re: # mediaumat # Banyak Sumber Kepolisian, Pemberitaan Kasus Teror Dinilai Kurang Sopan

Re: # mediaumat # Banyak Sumber Kepolisian, Pemberitaan Kasus Teror Dinilai Kurang Sopan

Waktu membahas teroris mediaelektronik juga keterlaluan dengan
dibelakang pembawa berita latar belakangnya layar lebar yang
menampilkan foto saat konferensi khilafah internasional di mana anak
anak muda lagi melakukan parade kibar arroya dan aliwa..... Ini secra
tidak langsung bahwa memang isu terorisme untuk menghadang laju dakwah
syariah dan khilafah ,


Pada tanggal 14/09/12, sultan Badui <sultanbadui@yahoo.co.id> menulis:
> Banyak Sumber Kepolisian, Pemberitaan Kasus Teror Dinilai Kurang Sopan
>
>
> Tanah Abang juga tidak pernah disebut
> media sebagai 'sarang bandar narkoba'
>
> Kamis, 13 September 2012
>
> Hidayatullah.com—Banyak pemberitaan media massa di Indonesia menyangkut
> kasus-kasus terorisme
> tidak seimbang. Bahkan lebih cenderung satu sumber. Pemberitaan seperti
> ini selain dinilai kurang bagus dan sangat tidak sopan.Pernyataan ini
> disampaikan pemerhati media dan dosen jurnalistik, Sirikit Syah.
> “Kurang seimbang dan lebih banyak sumber kepolisian,” ujar Sirikit kepada
> hidayatullah.com, Rabu (12/09/2012) kemarin.
> Wanita berjilbab yang meraih gelar MA bidang Komunikasi dari
> Westminster University, London ini tidak tahu, apakah media sengaja
> tidak menghubungi orang-orang yang dituduhkan, atau memang sumber-sumber
> tertuduh tidak mau, namun yang jelas, cara pelaporan berita seperti itu
> kurang baik dan tidak sopan.
> Hal yang juga ikut merisaukan mantan Direktur Lembaga Konsumen Media
> (LKM) ini adalah ketidaksetujuannya terhadap label-label dan stigma
> “teroris”.
> “Saya tidak setuju ada penyebutan yang sifatnya labelisasi, bahkan
> stigma "Ngruki Sarang Teroris". Narasumber maupun media yang menciptakan dan
> menyebarkan istilah itu tidak bertanggungjawab, dan tidak adil,”
> ujarnya.
> “Banyak preman Jakarta berasal dari Pulau Key, sampai tokohnya
> bernama John Key, berani sama polisi. Tapi media tidak pernah sebut
> pulau Pulau Key sebagai 'sarang preman',” lanjutnya.
>
> Penulis buku "Media di Bawah kapitalisme" itu juga mengatakan, Tanah Abang
> juga tidak pernah disebut media sebagai
> 'sarang bandar narkoba'. Namun terhadap Pondok Pesantren Terhadap
> Ngruki, media massa dan narasumber kepolisian sering berperilaku
> sewenang-wenang dan kurang sopan, ujarnya.* Rep: Panji Islam
> Red: Thoriq
>
>
> More Sharing ServicesShare | Share on facebook Share on twitter Share on
> email Share on print
>
> KOMENTAR
>
>   Boy J , Kamis, 13 September 2012
> setuju bu dosen... kaum muslimin harus cerdas memilih dan meyakini
> informasi...
>
>
>   Irfan , Kamis, 13 September 2012
> setuju bu, media massa cenderung manggutt manggut
> saja dari satu sumber tanpa verifikasi dan clarifikasi ke sumber lain
> sehingga tidak valid tapi tetap diberitakan!! itulah media massa
> kapitalis!!!
>
>
>   Matkodak , Kamis, 13 September 2012
> Penulis pembela fundamentalis
>
>
>   Ujang , Jum'at, 14 September 2012
> yah,,becik ketitik olo ketoro.. dengan ini semoga
> umat islam akan lebih yakin akan bahaya yahudi dan nasoro QS.2:120
>
>
>   Siti , Jum'at, 14 September 2012
> Kalao Mat Kodak jelas pembela Densus dan
> (B)Ansyaast Mbai, Hendropriyono dan LB Moerdani, Insyaallah, mari kita
> saksinya meninggalnya, apak diadzab apa oleh Allah orang2 yang kerjanya
> menyakiti perasaan jutaan orang Islam dan merekayasa negatif untuk
> menyudutkan hukum-hukum Allah? Maju terus Bunda Sirikit!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Media Harus Berikan Fakta Bukan Opini dalam Kasus Terorisme
>
>
> Jangan karena ingin melakukan syariat Islam dikatakan teror
>
> Senin, 10 September 2012
>
> Hidayatullah.com—Liputan dugaan terorisme ikut membuat Jurubicara Hizbut
> Tahrir Indonesia (HTI), geram. Pasalnya, dalam sebuah tayangan liputan,
> tiba-tiba dinilai
> secara sengaja men-shoot gambar poster logo HTI berisikan kalimat
> “Dengan Syariah Indonesia Lebih Bermartabat.” Oleh sang reporter,
> tilisan tersebut dikaitkan dengan poster jihad.
>
> Kejadian ini
> terjadi ketika seorang reporter sebuah TV swasta mendatangi lokasi
> kediaman terduga kasus teror, Yusuf Rizaldi di daerah Petojo Utara,
> Gambir, Jakarta Pusat.
>
> Menurut Ismail Yusanto, tindakan reporter TV tersebut terlalu jauh
> menyimpulkan, dan bisa  memperkeruh keadaan.
>
> “Reporter
> itu terlalu jauh menyimpulkan. Dari mana dia bisa bilang itu poster
> jihad? Dengan menyimpulkan seperti itu seolah-olah ia ingin menunjukkn
> aksi-aksi pelaku tertentu dengan organisasi tertentu padahal
> poster-poster itu kan bisa didapat di mana saja. Hal seperti ini bisa
> memperkeruh keadaan, bisa menyimpulkan persepsi yang berbeda di
> masyarakat,”  jelasnya kepada hidayatullah.com., Senin sore (10/09/2012).
>
> Karenanya,
> Ismail Yusanto berpesan agar media-media yang memberitakan kasus-kasus
> terorisme tidak melakukan penggiringan dan harus bisa membedakan antara
> fakta dan opini.
>
> “Jangan ada semacam penggiringan opini. Media
> harus memberikan fakta jangan menyimpulkan dengan opini tertentu. Harus
> membedakan antara fakta dan opini,” pungkasnya
>
> Ia juga meminta  pemerintah untuk berhati-hati menyikapi masalah terorisme
> yang terjadi di Depok Minggu kemarin.
>
> “Penting
> untuk menyikapi dengan hati-hati, apakah betul mereka yang melakukan?
> Harus ditangani secara proporsional, jangan dilakukan generalisasi.
> Jangan karena orang yang ingin melakukan syariat Islam kemudian
> dikatakan seperti itu (baca : teroris). Jangan juga terjadi tindakan
> yang berlebihan,” katanya.
>
> Ismail menggapi  acara Kabar Petang, TVOne Ahad sore (09/09/2012), yang
> sempat menayangkan wawancara dengan Anggota
> Komisi III DPR, Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati, M.Si. Anggota
> dewan dari Partai Hanura ini berpendapat bahwa orang gila pun harus
> dicurigai dalam kasus terorisme.* Rep: Sarah Mantovani
> Red: Cholis Akbar
>
> More Sharing ServicesShare | Share on facebook Share on twitter Share on
> email Share on print
>
> KOMENTAR
>
>   Sasa , Selasa, 11 September 2012
> Namanya juga media, yg dicari pasti yg
> sensasional, tp kan bisa dibuktikan dipengadilan. Habib Riziq dan anda
> juga jadi ngetop gara2 sering muncul di media (krn anada dan habib
> dianggap sensasi yg bisa dijual). Dulu mah saya nggak kenal
>
>
>   Anto , Selasa, 11 September 2012
> orang gila dicurigai..??!! wah klo masih byk
> rakyat yg miskin tp suka jalan2 pleseur ke LN.. klo untuk dunia yg
> sesaat digilai diupayakan dg segenap jiwa raga dan upaya ..lalu akherat
> yg kekal hanya sekenanya saja...aneh gak.. gila gak..lha jd byk to yg
> gila kan...ayo curigai tuh...
>
>
>   Zulkarnain Al Idrus , Selasa, 11 September 2012
> "JANGANLAH KAMU BERSEDIH HATI TERHADAP KEKAFIRAN
> MEREKA, DAN JANGANLAH KAMU BERSEMPIT DADA TERHADAP APA YANG MEREKA TIPU
> DAYAKAN". (AN NAHAL 127) "DAN JIKA KAMU MEMBERIKAN BALASAN, MAKA
> BALASLAH DENGAN BALASAN YANG SAMA DENGAN SIKSAAN(FITNAH) YANG DITIMPAKAN
> KEPADAMU." ( AN NAHAL 125 ). MEREKA MEMANG HIDUPNYA DARI FITNAH, TAMPA
> FITNAH MEREKA TIDAK HIDUP MAKMUR. TINGKATKAN KEWASPADAAN. ALLAH KELAK
> AKAN MEMBALAS DENGAN BALASAN YANG TELAK.
>
>
>   Halim , Selasa, 11 September 2012
> hati2 dengan banyaknya komentar2 org yg tak
> bertanggung jawab, berpura-pura simpati dgn kaum muslim tp sebenarnya
> hati mereka busuk sebagaimana umumnya kaum kuffar...contohnya si
> penyedap masakan ( SASA ), hati2 terhadap makhluk ini...( Provokator )
>
>
>   Abu Naqiya , Rabu, 12 September 2012
> ORANG2 KAFIR SUDAH TERANG TERANGAN DALAM
> PERMUSUHANNYA KEPADA KITA, SAATNYA HTI, JAT, MMI, HIDAYATULLAH, DAN
> ORMAS YANG PRO PENEGAKKAN SYARIAH DAN KHILAFAH UNTUK LEBIH INTENS LAGI
> DALAM UPAYA MENYADARKAN MEREKA AKAN KEWAJIBAN MENEGAKKAN SYARIAH DALAM
> BINGKAI DAULAH KHILAFAH..
>

Tidak ada komentar: