Senin, 24 September 2012

Penistaan Atas Nama Kebebasan

Penistaan Atas Nama Kebebasan

Andri Saputra

Humas Hizbut Tahrir Indonesia Kotawaringin Barat.

Barat kembali menebar bara di dunia Islam. Pemicunya berawal dari beredarnya
film kontroversial yang berjudul Innocence of Muslims. Dalam film karya Sam
Bacile tersebut, Rasulullah Muhammad SAW digambarkan sebagai seorang lelaki
hidung belang, penipu dan kerap melakukan pelecehan seksual terhadap anak anak.
Sontak, film ini mengundang kemarahan kaum muslimin di seluruh dunia dan memicu
gelombang protes hingga pembunuhan terhadap Dubes AS untuk Libya Chris Stevens
dan tiga warga AS lainnya di Benghazi, Libya pada Selasa (11/9). Pemerintah
Amerika Serikat berdalih tidak kuasa untuk menghentikan pembuatan dan penyebaran
film tersebut karena merupakan bagian dari kebebasan berekspresi yang dijamin
oleh undang undang. "Sekarang, saya perlu tekankan bahwa di dunia saat ini
dengan teknologi terkini, hal itu mustahil. Bahkan kalaupun mungkin, negara kami
punya tradisi panjang kebebasan berekspresi yang dilindungi dalam konstitusi dan
hukum kami, dan kami tidak bisa menghentikan setiap warga negara yang
mengekspresikan pandangan mereka sekalipun itu tidak disukai," tegas Menlu AS
Hillary Clinton.

Sikap diam pemerintah AS terhadap peredaran film menjijikan ini diperkuat oleh
pakar hukum kebebasan berbicara Professor Eugene Volokh . "Pemerintah AS tak
berdaya dalam artian bahwa konstitusi mengizinkan warga Amerika berbicara
seperti ini tanpa takut dipenjara hanya karena sebagian orang menganggapnya
menghina agama," katanya. (www.republika.co.id)

Pastinya, peredaran film karya warga California, AS keturunan Yahudi Israel ini
semakin menambah panjang kasus penghinaan terhadap Islam yang terjadi di Barat
atas nama kebebasan berekspresi. Masih segar dalam ingatan kita kasus penistaan
terhadap Islam dalam bentuk pembakaran Al Quran oleh Pastor gila dari Gereja
Dove World Outreach Center, Florida, AS, Terry Jones pada Ahad (29/4) waktu
setempat. Ini aksi brutal merupakan yang kedua kalinya setelah sebelumnya pada
20 Maret 2011 Terry melakukan pembakaran salinan kitab suci Al Quran untuk
pertama kalinya dan menyebarkan di internet. Dan lagi lagi pemerintah AS hanya
diam seribu bahasa dengan dalih tindakan nyeleh tersebut merupakan bagian dari
kebebasan berekspresi. Penulis berpikir betapa saktinya mantra kebebasan
berekspresi sehingga mampu menjadikan siapapun –khususnya di Barat- untuk bebas
berbuat apapun, dimanapun, dan dengan motif apapun termasuk kebebasan untuk
menghina agama. Semua tindakan tersebut meskipun secara nyata telah menodai
kesucian ajaran agama tertentu, memicu permusuhan dan konflik sosial, tetap
dianggap legal dan patut mendapat perlindungan oleh negara atas nama kebebasan
berekspresi.

Kebebasan Berekspresi : Menikam Islam

Kebebasan setiap warga negara di AS dan negara negara Eropa ternyata tak sehebat
yang dipahami kebanyakan orang. Dalam realitasnya, paham ini hanya menyasar umat
Islam dan ajaran Islam sebagai objek penindasan atas nama HAM. Di satu sisi, AS
dan negara negara Barat begitu getol menjual ide ide HAM termasuk kebebasan
berekspresi ke negara negara ketiga termasuk Indonesia. Ironisnya, pada saat
bersamaan negara negara barat secara sadar dan sengaja melakukan pelanggaran
HAM berat terhadap warga negaranya yang beragama Islam. Sebagai contoh, di
Perancis para muslimah dilarang mengenakan jilbab. Sementara di Swiss umat
Islam dilarang membangun menara masjid. Di Bulgaria, pemerintah setempat
melarang paspor dengan foto perempuan yang mengenakan jilbab. Di kawasan
Katalunia, Spanyol, banyak umat Islam yang harus sholat di tempat terbuka karena
pemerintah menolak pengajuan pembangunan masjid dengan alasan tidak sesuai
dengan tradisi dan budaya Katalan. Terhadap itu semua, Amnesti Internasional
dengan jujur mengakui terjadi diskriminasi terhadap umat Islam di Eropa.
Sebagaimana yang diberitakan BBC online (24/4/2012) negara-negara Eropa
melakukan diskriminasi terhadap pemeluk Islam, khususnya dalam bidang pendidikan
dan pekerjaan

Yang mengherankan, AS dan negara negara Eropa seolah buta dan tuli terhadap
pelanggaran HAM yang dialami puluhan juta kaum muslim yang tinggal di negara
negara barat tersebut. Coba bandingkan dengan sikap AS begitu getol melakukan
intervensi guna mendukung konser artis liberal Lady Gaga di Jakarta meski
mendapat penolakan mayoritas rakyat Indonesia. Tak salah kalau banyak pihak
menuding AS dan negara negara Barat bersikap hipokrit (munafik) terhadap Islam
dan kaum muslimin. Dan ciri utama orang munafik adalah tidak sama antara kata
dengan perbuatan. Paham kebebasan hanya berlaku dan dinikmati oleh masyarakat
barat nonmuslim, namun menjadi tumpul ketika yang menjadi korban adalah seorang
muslim.

Seandainya paham kebebasan berkespresi tanpa batas yang kerap diklaim sebagai
bagian dari nilai nilai HAM universal semacam ini diadopsi Indonesia, apakah
mungkin negeri ini akan semakin damai dan sejahtera. Siapapun yang masih
berpikir waras akan mengatakan tidak. Sederhananya, jangankan Rasulullah
Muhammad SAW, seandainya ada pihak lain yang menuduh orang tua kita sebagai
orang gila, saya yakin kita tidak akan pernah rela dan marah besar terhadap
penghinaan tersebut. Berarti hanya orang sinting saja yang rela melihat orang
lain menghina kehormatan keluarga dan orang tuanya. Dan lebih sinting lagi kalau
ada umat Islam yang diam dan rela melihat pihak lain menghina kehormatan
Rasulullah SAW. Sebab, di mata umat, kecintaan terhadap Rasul SAW melebihi
kecintaan kepada orang tua dan sanak keluarga.

Kekerasan : dampak pelecehan

Meski demikian, pemerintah AS tetap merasa besar kepala dan balik mengecam aksi
kekerasan yang terjadi pada sejumlah kedutaan AS di Timur Tengah. Juru bicara
Gedung Putih, Jay Carney, mengatakan pemerintah AS mengutuk kekerasan di
sejumlah negara Islam yang dipicu oleh film tersebut. Menurut dia, perusakan
fasilitas AS di Mesir, Libya, dan Yaman tidak dapat dibenarkan dan tidak bisa
dibiarkan oleh pemerintah setempat. Padahal, tak ada asap tanpa ada api. Meski
keliru, kekerasan yang terjadi hanya merupakan dampak dari pembiaran pemerintah
AS terhadap beredarnya film yang menghina Rasulullah. Bukankah itu sama saja
seperti seseorang yang dipukuli bertubi tubi namun tidak boleh melawan atau
membela diri. Ketika berusaha untuk membela diri, lantas dituding melakukan
tindakan kekerasan. Sungguh sebuah logika yang sangat tidak rasional dan
menyesatkan.

Sampai di sini, menjadi jelas bahwa paham kebebasan berekspresi tanpa batas yang
kerap disuarakan barat hanyalah kedok untuk menikam Islam dan kaum muslimin. Ide
ini tidak netral karena kental dengan nilai nilai kehidupan berbasis ideologi
sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan) yang bertolak belakang dengan
risalah Islam. Tak layak menjadi panduan hidup bagi kaum muslim dan umat
beragama karena hanya akan menjadikan kehidupan semakin rusak oleh berbagai
penistaan dan tindakan desktruktif atas nama kebebasan.

Islam : Agama kebebasan

Islam sebagai risalah rahmatan lil alamin bukanlah agama yang anti terhadap
kebebasan termasuk kebebasan berekspresi. Sebaliknya, Islam justru memberikan
jaminan kebebasan tidak hanya kepada umat Islam namun juga non muslim tentunya
dalam batasan batasan yang telah ditetapkan hukum syara. Jauh sebelum lahirnya
ide HAM, Islam sudah memberikan jaminan kebebasan sekaligus perlindungan
terhadap hak hak individu dalam bentuk kebebasan beribadah, kebebasan berusaha
dan kebebasan sosial. Ketika daulah khilafah (negara Islam) masih tegak dan
menerapkan hukum Islam, masyarakat muslim maupun nonmuslim dapat bebas
menjalankan ibadah tanpa harus takut mengalami penistaan, diskriminasi dan
intimidasi. Terbukti, hingga kini di Timur Tengah masih berdiri kokoh gereja
gereja dan sinagog yang berumur ratusan tahun. Selain itu, hubungan antara
sesama umat beragama dapat terjalin harmonis karena mendapatkan jaminan
perlindungan yang adil dari negara. Bahkan, hingga kini non muslim dapat
menikmati kebebasan yang luar biasa di negeri mayoritas muslim seperti
Indonesia. Kalau kita mau jujur, siapa sebenarnya yang anti kebebasan dan
bersikap diskriminatif. Barat ataukah Islam ? (Dimuat kolom opini Mimbar SKH
Borneonews, Senin/17/09/2012)


===================================================

"Innocence of Muslims", Film Tak Bermutu Garapan Sutradara Dungu

Penghinaan terhadap Nabi Saw kembali terjadi kesekian kalinya, pihak anti Islam
melakukan pelecehan terhadap Muhammad Saw. Kali ini muncul sebuah film berjudul
"Innocence of Muslims" garapan Sam Bacile, Sutradara asal Israel yang kini
tinggal di California, Amerika Serikat.

Bacile menjelaskan, film berdurasi dua jam ini telah menghabiskan biaya produksi
US$ 5 juta (Rp 48 miliar). Seluruh dana tersebut ditanggung renteng oleh lebih
kurang 100 donatur Yahudi. Dalam film tersebut, Bacile menggambarkan Nabi
Muhammad adalah seorang penipu, hidung belang, dsb. (lihat: tempo, 12/09)

Sebuah tuduhan yang jauh dari kenyataan, kalau tidak mau disebut bodoh dan
dungu. Hanya orang-orang yang hati dan pikirannya terkunci saja yang menuduh
Muhammad Saw sebagai penipu. Sedang orang-orang yang menjadi saksi hidup beliau,
bahkan orang-orang kafir Quraisy sekalipun masa itu berkenan memberinya gelar
"Al-Amin', atau orang terpercaya. Sebuah gelar yang tidak ada satu pun perguruan
tinggi di dunia ini yang berani mengeluarkan gelar tersebut.

Dan hanya orang-orang yang kalbunya dibisiki bisikan setan saja yang mengatakan
Muhammad sebagai orang yang memiliki kelainan seksual. Sebab tidak ada ceritanya
bahwa Rasulullah melakukan penyimpangan seksual. Keputusannya untuk beristri
lebih dari satu tidak semata-mata berdasar hawa nafsu, melainkan didasari
petunjuk dari Allah, untuk kepentingan dakwah, mempererat kekerabatan dengan
sahabat-sahabat terdekatnya, dsb.

Fakta membuktikan, beliau Saw adalah orang yang paling lembut terhadap istri,
orang yang paling baik memberlakukan istrinya. Beliau mencontohkan sekaligus
memerintahkan kaum muslim mantaati perintah Allah Swt "Dan bergaulah dengan
mereka (para istri) dengan cara yang baik." (An-Nisa: 19) Imam Ibnu Katsir dalam
tafsir ibnu katsir, menyatakan: "Yakni perindah ucapan kalian terhadap mereka
(para istri) dan perbagus perbuatan dan penampilan kalian sesuai kadar
kemampuan. Sebagaimana engkau menyukai bila ia (istri) berbuat demikian, maka
engkau (semestinya) juga berbuat hal yang sama."

Penyebab

Beredarnya film ini akhirnya mengakibatkan reaksi keras umat Islam di berbagai
belahan dunia termasuk Indonesia. Mereka mengutuk pembuatan film berdurasi dua
jam itu. Pergolakan hebat terjadi di Libya, Mesir, dan beberapa negara lain,
mereka menggelar unjuk rasa besar-besaran. Di Libya, kaum muslim yang geram
tersebut akhirnya menyerbu kedutaan AS di Libya. Sedangkan di Indonesia, hampir
seluruh elemen umat Islam mengutuk keras film tersebut.

Pihak anti Islam tak henti-hentinya melakukan pelecehan kepada nabi Muhammad
Saw, mulai dari pembuatan film, mencetak buku, hingga melukis karikatur sosok
mulia panutan umat Islam tersebut. Ada beberapa penyebab kenapa perbuatan yang
menghina Rasuluullah Saw marak. Diantaranya:
Pertama: Kebencian orang-orang kafir kepada Islam dan kaum Muslim. Penyebab
pertama ini merupakan sunatullah, dimana mereka tidak senang dan akan berusaha
sekuat tenaga membuat umat Islam keluar dari agamanya alias murtad.

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti
agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang
sebenarnya)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah
pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan
penolong bagimu." (QS. al-Baqarah : 120).

Kedua: Berusaha menghadang pesatnya perkembangan dakwah Islam di seluruh dunia.
Sebagaimana diketahui, meski banyak tudingan-tudingan miring terhadap Islam
justru perkembangan jumlah penduduk pemeluk Islam semakin bertambah, termasuk di
dunia barat.

Menurut Data World Almanac and Book of Fact, #1 New York Times Bestseller, bahwa
jumlah total umat Islam sedunia tahun 2004 adalah sekitar 1,2 milyar
(1.226.403.000 jiwa), tahun 2007 sudah mencapai lebih dari 1,5 milyar
(1.522.813.123 jiwa).Artinya, dalam 3 tahun, kaum Muslim mengalami penambahan
jumlah sekitar 300 juta orang, setara dengan jumlah umat Islam yang ada di
kawasan Asia Tenggara.

Menurut Carl Ellis, peneliti terkemuka masalah keagamaan di AS dan penulis buku
"The Changing Face of Islam in America, menyatakan, "Populasi warga muslim di AS
mengalami pertumbuhan 6 persen. 80 persen di antaranya berasal dari penganut
kristen yang baru masuk Islam. Sementara 20 persennya lagi berasal dari kaum
muslim imigran". Dia menambahkan, "Jika Islam terus mempertahankan persentase
pertumbuhannya itu, maka hingga 17 tahun lagi, jumlah warga muslim di kota-kota
besar AS akan melebihi jumlah warga Kristen".

Melalui pembuatan film berjudul "Innocence of Muslims", atau film maupun bentuk
penghinaan terhadap rasulullah Saw inilah mereka berupaya memberikan gambaran
negatif pada Islam, dengan berharap macetnya dakwah Islam.

Namun hal itu hanya akan sia-sia, justru dakwah Islam menjadi pesat, meski
selalu dipojokkan. Lihat saja contohnya ketika pemerintahan Amerika Serikat
dikomandoi G.W. Bush pasca tragedi 9/11 menyematkan gelar teroris pada umat
Islam, ternyata 20.000 orang Amerika masuk Islam setiap tahun setelah peristiwa
itu.

"Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan)
mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun
orang-orang yang kafir tidak menyukai". (QS at-Tawbah: 32)

Ketiga: Menghambat perjuangan penegakkan ideologi Islam. Pembuatan film ini
memiliki tujuan politis yakni berupaya menghambat kembalinya penerapan ideologi
Islam. Hal ini diakui sendiri oleh Bacile dengan mengatakan "Ini adalah film
politik. Amerika Serikat kehilangan banyak uang dan pasukan dalam perang Irak
dan Afganistan, namun kami sedang bertempur melawan ideologi." (tempo, 12/09)

Seperti diketahui, Bacile merupakan warga AS, negara kampiun ideologi
kapitalisme, ia sadar betul dominasi negaranya terancam dengan tanda-tanda
tegaknya negara super power khilafah Islamiyah. Padalal, sifat sebuah ideologi
yang berkuasa adalah mempertahankan dominasinya. Dan AS menggunakan cara hard
power dan juga soft power dalam mempertahankan hegemoninya.

Hard power sebagaimana yang dilakukannya di Iraq, Afghanistan, dsb, dengan cara
melakukan invasi miiter. Sedangkan Soft Power ialah dengan kampanye Islam
moderat, kampanye sekulerisme, pluralisme, liberalisme. Termasuk salah satu
uslubnya ialah dengan membuatan film "Innocence of Muslims", tampak Bacile ingin
membantu perang ideologi ini. Meski pemerintahan AS mengaku tidak terlibat dalam
pembuatan film, namun mereka tidak mencegah pemutaran film tersebut.

Keempat: lemahnya kaum Muslim. Pihak anti Islam seperti tidak ada jeranya atas
kelakuan-kelakuannya menghina Islam, hal ini menunjukkan umat Islam dalam
kondisi lemah, disepelekan oleh orang-orang kafir tersebut. Maka Islam harus
bangkit dengan cara kembali pada ideologi Islam. Yakni melalui penerapkan
syariah Islam secara kaffah dalam bingkai negara khilafah, dengan itu maka
kekuatan umat Islam menjadi luar biasa, baik secara geo-politik, geo-ekonomi,
maupun militer, sehingga tidak disepelekan lagi.

Kita layak marah, mereka harus tahu, bahwaapa yang dilakukan mereka tidak akan
mampu mempengaruhi kemuliaan Nabi Muhammad Saw. Seorang utusan Allah,
sebagaimana Musa yang telah diberi wahyu kitab Taurat, sebagaimana Isa binti
Maryam yang telah diberi Injil. Dialah Saw nabi dan Rasul penutup zaman yang
seharusnya risalah Islam yang dibawanya diikuti oleh seluruh umat. Sebagai
satu-satunya agama yang diridhoi Allah.

Mereka harus tahu, kita begitu mencintainya, melebihi cinta pada diri ini,
ataupun keluarga-keluarga kita. Apapun bisa kita perbuat demi Allah dan
Rasul-Nya.

Ali Mustofa Akbar

Analis CIIA (The Community Of Ideological Islamic Analyst).

sumber : HTI

Tidak ada komentar: