Senin, 24 September 2012

[82] TOT BNPT: Menebar Adu Domba

http://mediaumat.com/media-nasional/3816-82-tot-bnpt-menebar-adu-domba.html

BNPT tak berani face-to-face dengan kelompok yang selama ini diasosiasikan
radikal dan fundamentalis bahkan yang sudah dalam justifikasi sebagai kelompok
teroris versi Amerika.

Program deradikalisasi terus bergulir. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme
(BNPT) akhir bulan 25-27 April lalu menyelenggarakan training of trainer (TOT)
bekerja sama dengan Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur.
Kegiatan ini melibatkan 45 peserta mewakili beberapa elemen ormas dan pesantren.

Acara yang berlangsung sebuah hotel di Mojokerto, Jawa Timur itu diikuti peserta
dari Surabaya, Mojokerto, Lamongan, Madura, Nganjuk dan Ponorogo. Semua biaya
ditanggung panitia, baik transportasi maupun akomodasi. Mereka pun mendapat
sertifikat TOT Anti Radikalisme dan Terorisme setelah dinyatakan lulus.

Itu bukan yang pertama kalinya BNPT mengadakan kegiatan seperti itu. Di Jawa
Timur BNPT juga pernah mengadakan acara serupa dalam tajuk Halqoh Nasional
Penangulangan Terorisme yang dilaksanakan pada tanggal 28 Nopember 2010,
bertempat di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya. Tak kurang dari 100 orang dari
berbagai ormas Islam se-Jatim dan pengurus MUI Gerbangkertosusilo, memenuhi
undangan acara tersebut.

Acara ini merupakan rangkaian acara serupa yang diselenggarakan di 6 kota besar
Indonesia, meliputi Jakarta, Medan, Solo, Bandung, Surabaya dan Makasar. Begitu
juga TOT BNPT kali ini adalah suatu rangkaian acara yang digagas langsung oleh
BNPT melalui koordinasi langsung oleh Presiden Republik Indonesia dan diadakan
serentak di beberapa kota diseluruh Indonesia.

Sebelumnya, TOT digelar BNPT di Solo pada 29-31 Maret. BNPT menggandeng Lembaga
Pengembangan Pendidikan dan Sumber Daya Manusia (LPPSDM), dengan tajuk "Training
Of Trainer (TOT) Anti Radikalisme dan Terorisme, Dalam Rangka Penangkalan
Radikalisme dan Terorisme". Seminar tiga hari di Hotel Sahid Kusuma Solo ini
dibuka oleh Deputi Kepala BNPT Mayjen Agus Surya Bakti pada Kamis (29/03) dan
ditutup hari Sabtu (31/03) oleh pendiri Jaringan Islam Liberal Ulil Abshar
Abdala.

Menurut pengamatan Media Umat di lapangam, TOT BNPT tersebut tidak lain
hanyalah propaganda proyek deradikalisasi bagi umat Islam yang sangat
merugikan. Bagaimana tidak, isinya adu domba antara umat Islam melalui dikotomi
Islam moderat dengan Islam radikal yang tidak pernah ada dalam khazanah Islam.
Sebagaimana acara-acara BNPT dalam roadshow sebelumnya, umumnya peserta hadir
tanpa memaham tujuan acara tersebut utuh bahkan terkesan pragmatis.

Melihat format acaranya, TOT akan menyasar kaum Muslim secara lebih luas. Ini
berarti semacam sosialisasi sistemik dan massif kepada kaum Muslim agar kaum
Muslimin secara luas ikut mendukung program deradikalisasi ala BNPT. Ini yang
benar-benar membahayakan kaum muslim karena terbentuknya pemahaman yang salah
khususnya dalam hal deradikalisasi.

Humas DPD HTI Jatim, Muh Usman menyatakan, menolak proyek BNPT dengan beberapa
alasan. Pertama, sesungguhnya proyek itu adalah bagian dari strategi Global War
on Terrorism (GWOT) yang dikomandani oleh Amerika Serikat sebagai respon dari
ketakutan Barat atas bangkitnya Islam sebagai ideologi dunia yang mengganti
kapitalisme dan liberalisme.

Kedua, lanjutnya, subtansi proyek itu sarat dengan nuansa adu domba antara kaum
Muslimin. Sedangkan yang ketiga, hanya akan merealisasikan monsterisasi Islam
sebagai ekspresi terhadap Islamphobia Barat. Dan keempat, "Proyek itu menjauhkan
dari kebangkitan Islam secara hakiki dan komprehensif sebagaimana telah
dijanjikan oleh Allah dan menjadi kewajiban kaum Muslimin tentang datanggnya
Nasrullah dengan tegaknya syariah dan khilafah," urainya.

Langkah BNPT ini tidak ubahnya seperti pepatah Jawa "nabok rai nyilih tangan"
(Menampar muka orang dengan meminjam tangan orang lain). Kenapa demikian?

Menurut pemerhati Kontra-Terorisme Harist Abu Ulya dari acara TOT terlihat
secara sengaja BNPT dan panitia yang menjadi patnernya menghindari face to face
dengan komponen yang selama ini diasosiasikan radikal dan fundamentalis bahkan
yang sudah dalam justifikasi sebagai kelompok teroris versi Amerika.

"Memasukkan kelompok JAT dan lainya hanya berdasarkan informasi dan data-data
sekunder dari opini dan propaganda media. Terlihat mereka cenderung menfitnah
banyak kelompok dan person. Jadi acara TOT tidak lebih sebagai upaya mengadu
domba tokoh-tokoh masyarakat dan key person lainnya dengan elemen umat Islam
lainya, tanpa disadari oleh peserta bahwa ada kepentingan untuk penguatan
liberalisasi umat Islam di Indonesia adalah target yang hendak diraih oleh
BNPT," jelasnya pada Media Umat.

Dan terlihat argumentasi-argumentasi BNPT banyak yang sumir untuk membungkus
langkah-langkah pembungkaman gerakan yang menghendaki formalisasi syariah dalam
tatanan sosial politik Indonesia. Dan ini cara-cara yang manipulatif.[]
badar/fatih

Tidak ada komentar: