Kamis, 16 Februari 2012

Kapitalisme, Sistem Cacat yang Sekarat

Kapitalisme, Sistem Cacat yang Sekarat

Friday, 03 February 2012 15:20

Islam menjadi satu-satunya alternatif terhadap sistem ekonomi kapitalisme saat ini.

Bukan hanya kali ini kapitalisme mengalami guncangan. Berkali-kali sistem ekonomi ini terseok-seok. Dengan tambal sulam, yang berarti melepaskan diri dari prinsip dasar, kapitalisme terselamatkan untuk sementara. Namun akankah krisis kali ini akan bisa diatasi?

Banyak pakar ekonomi berpendapat, krisis kapitalisme saat ini melebihi krisis yang pernah terjadi sebelumnya. Bahkan jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan great depression, Oktober 1929, yang juga dimulai di Wall Street.

Krisis ini bukan disebabkan faktor luar tapi faktor dalam yakni kapitalisme itu sendiri. Kapitalisme, Sistem Cacat yang Sekarat

Bukan hanya kali ini kapitalisme mengalami guncangan. Berkali-kali sistem ekonomi ini terseok-seok. Dengan tambal sulam, yang berarti melepaskan diri dari prinsip dasar, kapitalisme terselamatkan untuk sementara. Namun akankah krisis kali ini akan bisa diatasi?

Banyak pakar ekonomi berpendapat, krisis kapitalisme saat ini melebihi krisis yang pernah terjadi sebelumnya. Bahkan jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan great depression, Oktober 1929, yang juga dimulai di Wall Street.

Krisis ini bukan disebabkan faktor luar tapi faktor dalam yakni kapitalisme itu sendiri. Dr Mohammad Malkawi, penulis buku berjudul: The Fall of Capitalism and Rise of Islam, menjelaskan, adanya cacat serius dalam sistem kapitalisme dan ketidakmampuannya untuk mempertahankan stabilitas ekonomi dunia di bawah kapitalisme.

Sistem ini sangat rapuh. Bahkan juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) M Ismail Yusanto menyebut sistem ekonomi kapitalis ini bersifat self-destructive (menghancurkan diri sendiri).

Paling tidak ada tiga pilar utama sistem ekonomi kapitalis ini. Yakni (1) riba yang diwujudkan dalam perbankan (baik bank komersial yang memberikan kredit, maupun bank investasi/lembaga sekuritas yang membeli surat utang (umumnya melalui pasar modal); (2) judi yang mewujud dalam bursa saham dan pasar uang; (3) sistem uang kertas yang standarnya dolar.

Sistem ribawi ini menyebabkan uang yang beredar di sektor riil (produksi) jauh lebih kecil dibandingkan dengan di sektor non riil. Ini karena perbankan harus bisa memutar uang yang ada demi memberikan bunga kepada nasabahnya. Tentu uang itu tidak diputar di sektor riil seperti pemberian kredit tapi di sektor lain seperti pasar uang dan surat utang. Makanya, begitu gejolak terjadi dampaknya akan sangat dahsyat karena tidak bertumpu pada ekonomi riil. Inilah yang disebut bubble economy (ekonomi balon).

Sistem ribawi ini juga menyebabkan harta hanya beredar di kalangan orang kaya saja. Orang miskin tidak dapat menikmati dana banyak yang ada di perbankan karena tidak punya agunan. Orang kaya akan mudah mendapatkan kucuran dana. Nah, dana yang mereka peroleh dapat dijadikan mesin uang lagi dengan diinvestasikan di sektor non riil misalnya dengan mencari bunga lagi yang lebih besar. Jika terjadi sesuatu, uang itu bisa habis tanpa sisa karena memang tidak ada yang riilnya.

Sistem ini meniscayakan uang tidak lagi dijadikan sebagai alat tukar semata tapi sudah berubah menjadi komoditas yang diperdagangkan misalnya dalam bursa valuta asing dan dalam bursa saham. Dari uang bisa ditarik keuntungan (interest) alias bunga/riba dari setiap transaksi peminjaman atau penyimpanan. Bursa-bursa itu penuh spekulasi alias judi.

Ketika bursa saham gonjang-ganjing maka para pemilik saham pun rugi dan jatuh ‘miskin’. Padahal, mereka adalah pemilik perusahaan. Akibatnya, banyak perusahaan yang mengalami kredit macet. Gagal bayar perusahaan mengakibatkan likuiditas bank menurun. Kinerja bank yang sebelumnya jeblok menjadi semakin hancur. Sedangkan nilai perusahaan/kekayaan menurun sehingga perusahaan dijual murah atau mem-PHK karyawannya.

Turunnya harga saham menyebabkan turunnya ekspor dan berkurangnya arus modal masuk, yang menyebabkan kurs uang melemah. Ini karena mata uangnya kertas dan standarnya adalah dolar. Siapa yang bisa menghentikan pencetakan uang ini? Ketika dolar terguncang, sudah pasti semua mata uang dunia ikut terguncang

Islam sebagai Solusi

Malkawi yang tinggal di Amerika ini menegaskan, keruntuhan kapitalisme pasti akan terjadi. Sebagai gantinya adalah sistem Islam. Menurutnya, Islam memiliki ide-ide dan pemikiran yang dirumuskan dengan baik dan sistem yang terstruktur. Selain itu, Islam memiliki catatan sejarah penerapan lebih dari 1300 tahun yang menunjukkan bahwa Islam mampu menghasilkan sistem produktif yang dapat mengatasi dan menyelesaikan masalah-masalah manusia yang paling dasar seperti makanan, keamanan, kesehatan, pendidikan dan stabilitas. ”Masalah satu-satunya pada hari ini hanyalah bahwa Islam tidak diterapkan dalam kerangka negara dan masyarakat,” katanya.

Dalam Islam, uang dikembalikan kepada fungsinya sebagai alat tukar saja. Mata uang dibuat dengan basis emas dan perak (dinar dan dirham di mana 1 dinar emas syar’i beratnya 4,25 gram emas dan 1 dirham perak syar’i beratnya 2,975 gram perak). Mata uang ini akan stabil, bebas guncangan.

Sedangkan ekonomi digerakkan hanya oleh sektor riil saja. Tidak akan ada sektor non riil—dalam arti orang berusaha menarik keuntungan dari mengkomoditaskan uang dalam pasar uang, bank, pasar modal dan sebagainya.

Dalam sistem seperti ini, uang yang beredar pasti hanya akan bertemu dengan barang dan jasa — bukan dengan sesama uang seperti yang terjadi pada transaksi perbankan atau pasar modal dalam sistem kapitalis. Semakin banyak uang beredar, semakin banyak pula barang dan jasa yang diproduksi dan diserap pasar. Akibatnya pertumbuhan ekonomi akan terus meningkat sehingga lapangan pekerjaan terbuka, pengangguran bisa ditekan, kesejahteraan masyarakat meningkat. Semua pertumbuhan itu berlangsung secara mantap (steady growth), tanpa ada kekhawatiran terjadi kolaps.

Persoalannya tinggal menunggu negara yang menerapkannya. Tentu negaranya bukan negara kapitalis atau sosialis, tapi negara Islam. Itulah Daulah Khilafah Islamiyah. [] Mujiyanto
Ekonomi Judi

Prof Maurice Allais, peraih Nobel ekonomi 1997 dalam tulisannya The Monetary Conditions of an Economy of Market” menyebut bursa saham dunia saat ini sebagai big casino (kasino besar) dengan meja judi yang disebar ke seluruh antero dunia mulai dari New York, London, Tokyo, Hongkong, Frankfurt, hingga Paris.

Dalam penelitiannya yang melibatkan 21 negara besar, Allais menunjukkan bahwa uang yang beredar di masyarakat (sebagai private goods) jauh lebih banyak daripada yang berputar di sektor riil (sebagai public goods). Menurutnya, uang yang beredar di sektor non riil tiap hari mencapai lebih dari 440 milyar US dolar, sedang di sektor riil hanya sekitar 30 milyar US dolar atau kurang dari 10 persennya.

Kondisi ini membuat fungsi uang sebagai lokomotif penggerak kegiatan ekonomi tidak lagi efektif karena telah berubah fungsi menjadi komoditas. Bila beredarnya uang diharap akan menyebarkan kemakmuran dan mengurangi pengangguran, maka harapan itu kini tidak lagi dapat diwujudkan. Fakta sudah bicara![] MJ


http://mediaumat.com/media-utama/3466-69-kapitalisme-sistem-cacat-yang-sekarat.html

Tidak ada komentar: