Kamis, 16 Februari 2012

Iffah Rahmah (Jubir MHTI): Negara: Pilar Utama

Iffah Rahmah (Jubir MHTI): Negara: Pilar Utama

Pengantar

Tidak bisa ditampik bahwa kehidupan generasi muda negeri ini dirudung banyak masalah. Pornografi, pornoaksi, seks bebas, narkoba, aborsi, HIV/AIDS, dan berbagai PMS dan sebagainya marak menghinggapi generasi muda. Bagaimana menyelamatkan generasi muda kita sekaligus menggapai kemajuan? Siapa yang bertanggung jawab? Bagaimana peran keluarga, masyarakat, dan terutama Negara? Itulah beberapa topik wawancara Redaksi dengan Jubir MHTI, Iffah Rahmah. Berikut petikannya.

Ada yang mengatakan, dengan liberalisme bangsa Eropa dan Amerika bangkit. Bagaimana pandangan Ibu?

Benar, bangsa Eropa dan Amerika memang ‘bangkit’ dan memperoleh kemajuan-kemajuan materi sejak meninggalkan doktrin jumud gereja dan mengadopsi sekularisme-liberalisme. Hasil dari pembangunannya bisa dilihat dari infrastruktur yang memadai dan kemudahan akses ekonomi yang mensejahterakan warga negaranya. Kebanyakan orang mudah mendapatkan fasilitas umum seperti perawatan kesehatan, pendidikan, keamanan hingga mudah untuk memperoleh keadilan.

Namun, kemajuan materi tersebut tidak menjamin kebahagiaan. Mayoritas masyarakat Eropa dan Amerika kering spiritualitas. Selain menoleh pada sekte-sekte sesat, pencari kebahagiaan itu lari ke narkoba dan petualangan seks. Narkoba hampir tidak bisa diatasi. Konon lebih banyak korban narkoba daripada korban Peristiwa WTC 911 dan perang Irak. Kasus pelecehan seksual dan perkosaan juga menjadi momok yang menakutkan. Lebih dari 700 ribu perempuan Amerika diperkosa setiap tahunnya. Sekitar 75 persen dari satu juta perempuan di sana hamil di luar nikah.

Tidak kalah menakutkan adalah pornografi. Seni berbasis porno telah menjadi identitas Eropa dan Amerika. Para seniman Eropa dan Amerika berkompetisi menampilkan karya-karya pornonya. Amerika adalah produsen terbesar konten pornografi. Rasa malu, harga diri dan kesucian telah kehilangan warna dan nilainya. Fondasi tatanan berkeluarga dan pembinaan generasi juga telah hancur.

Kemajuan materi yang dibalut kehancuran moralitas ini akan menyegerakan akhir peradaban Barat. Hasil polling Newsweek menyatakan 76% rakyat Amerika percaya bahwa telah terjadi kehancuran moral di negaranya. Ini menunjukkan adanya kekhawatiran besar akan masa depan dan kelanjutan peradaban yang mereka miliki.


Secara moral Barat memang bermasalah. Namun, dibandingkan dengan Dunia Islam, Barat jauh lebih maju. Mengapa?

Setiap pemikiran ideologis—termasuk liberalisme di dalamnya—berpotensi membawa pemeluknya ke arah kemajuan, asal dijalankan secara konsisten oleh pemimpin yang cakap dan mampu memenej sumberdaya yang ada. Liberalisme yang mengarah pada perilaku bebas tanpa batas telah membawa Eropa dan Amerika kaya materi. Namun, mereka miskin orientasi hidup. Bukan hanya itu, karena cacat bawaan yang dimiliki, sustainability (sifat keberlangsungan di masa depan) ide ini juga tidak bisa dijamin. Boleh jadi hingga abad 20 kemarin Barat mengalami kemajuan, namun hari ini tanda-tanda kehancuran ekonomi, politik dan sosialnya tak bisa ditutupi lagi.

Lebih dari itu, kemajuan negara Barat membutuhkan ‘tumbal’ negara berkembang. Kekayaan materi mereka diperoleh melalui penghisapan SDA dan penjajahan politik di negara berkembang. Kebebasan perilaku mereka telah menuntun mereka untuk mengekspor perilaku maksiat dan amoralnya ke negeri-negeri Muslim.

Liberalisme yang dijual ke negeri-negeri Muslim semacam Indonesia saat ini juga mulai dirasakan pengaruh buruknya. Negara ini harus mengeluarkan dana yang luar biasa besar untuk pemberantasan narkoba. Bahkan Indonesia menjadi tempat paling favorit bagi mafia narkoba internasional. Keuntungan materinya dinikmati negara Barat, sementara anak dan remaja kita menjadi korbannya.

Negara juga ibarat menggarami lautan, sia-sia, saat menetapkan adanya pendidikan moral tanpa membuat regulasi tegas untuk melarang pornografi dan pornoaksi. Kecanduan pornografi yang dialami sebagian anak dan remaja Indonesia jelas berpengaruh besar pada penurunan kualitas generasi masa depan. Seks bebas yang merebak telah menghasilkan wabah HIV/AIDS dan secara pasti merusak kehidupan keluarga. Maraknya aborsi menjadi masalah berikutnya yang menuntut penyelesaian. Perkosaan dan kejahatan seksual yang marak baru-baru ini juga buah busuk adopsi liberalisme.

Fakta kehancuran moral, kerusakan tatanan berkeluarga, ancaman lost generation dan tanda-tanda kehancuran peradaban Barat seharusnya menjadi bukti nyata ketidaklayakan kita mempertahankan sistem liberalisme-kapitalisme. Ide ini terbukti menghasilkan generasi lemah fisik dan akal, tak memiliki orientasi hidup dan selanjutnya menghancurkan masa depan bangsa. Selayaknya semua menyadari kebutuhan kita terhadap Islam termasuk untuk membangun generasi dan memajukan generasi muda.


Lalu bagaimana Islam memajukan generasi muda?

Kualitas generasi muda adalah salah satu penentu masa depan bangsa. Islam memberikan amanah agar masa muda benar-benar dimanfaatkan untuk menyiapkan bekal untuk berkiprah dan membangun masyarakat. Nabi saw. telah bersabda, “Tidak beranjak kaki anak Adam dari hadapan Allah hingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya, dihabiskan untuk apa; tentang usia mudanya, diisi dengan apa; tentang hartanya, dari mana dia dapatkan dan digunakan untuk apa; dan amalannya dari ilmu yang dia miliki?” (HR at-Tirmidzi).

Islam menetapkan generasi muda harus mendapatkan pendidikan dari keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat untuk menetapkan orientasi hidupnya sebagai hamba Allah, membangun kepribadian Islam serta menyiapkan modal ilmu pengetahuan dan ketrampilan sebagai bekal mengarungi kehidupan.

Islam menghilangkan semua faktor yang berpotensi merusak proses pembangunan kepribadian semisal beredarnya konten pornografi, berkembangnya pemikiran yang merusak (termasuk liberalisme, hedonisme, sekularisme), beredarnya minuman keras dan narkoba yang melemahkan akal, tren olahraga yang melenakan atau hiburan yang tidak mendidik dsb, dari dalam maupun luar negeri.

Islam memberikan tanggung jawab pembinaan generasi muda di pundak individu, orang tua/keluarga, lingkungan dan negara.


Sejauh mana peran penting keluarga dalam mencetak generasi muda?

Keluarga dalam bahasa Arab disebut al-usrah, yang artinya al-birru al-hasinah (benteng yang kokoh). Saat ini—ketika peradaban Kapitalisme yang destruktif merajai dunia—keluarga diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai Islam secara kaffah. Secara praktis, selain menyampaikan pemahaman Islam sesuai usia anak, secara praktis orangtua harus bisa menuntun anak menyeleksi tontonan, buku, teman dan perilaku yang boleh dilakukan sejalan dengan pendidikan. Keluarga Muslim sejati juga selayaknya memahami bahwa syariah Islam telah ditinggalkan dalam pengaturan kehidupan ekonomi, sosial-politik dan pemerintahan. Peradaban Islam yang memuliakan telah jauh ditinggalkan. Bahkan kehidupan keluarga Muslim pun telah banyak meninggalkan tuntunan Islam. Hal ini bisa disaksikan pada semakin lemahnya penanaman nilai Islam pada keluarga-keluarga Muslim. Sangat jarang didapati orangtua yang sungguh-sungguh mendidik dan membina putra-putrinya agar memiliki pemahaman Islam yang utuh. Semua itu terjadi sejak kaum Muslim tidak lagi memiliki Khilafah Islamiyah. Karena itu, setiap keluarga Muslim memiliki tanggung jawab besar untuk mengembalikan tegaknya Khilafah Islamiyah. Dengan itu seluruh syariah Islam bisa diimplementasikan pada berbagai aspek kehidupan dan peradaban Islam kembali menjadi mercusuar dunia.


Bagaimana peran negara?

Islam menggariskan harus adanya imam/negara yang menjadi penjaga dan pelindung bagi segala hal yang berpotensi merusak pemikiran, akal, perilaku dan suasana keimanan di tengah-tengah masyarakat. Rasulullah saw., bersabda “Sesungguhnya iman (khalifah) itu laksana perisai.” (HR Muslim).

Negara harus memberlakukan kurikulum pendidikan Islam untuk semua jenjang sekolah baik sekolah negeri maupun sekolah swasta. Semua sekolah untuk anak didik Islam harus berbasis akidah Islam, memilki orientasi hidup Islam dan memberikan tsaqafah Islam sebagai modal sebelum mendapat pemikiran asing. Negara juga harus menyediakan sarana dan prasarana yang mamadai untuk mengoptimalkan tercapainya tujuan pendidikan.

Negara harus membuat aturan tegas untuk menghilangkan sumber-sumber pornografi, menutup semua produksi narkoba, miras dan barang-barang yang merusak fisik dan akal lainnya.

Negara harus membuat regulasi terhadap media di dalam negeri untuk memastikan tidak ada konten yang berisi pemikiran atau perilaku yang mencontohkan kemaksiatan atau kontraproduktif membangun jatidiri Muslim. Misal larangan kampanye gender yang bermuatan kontrol populasi, sementara pacaran dikampanyekan lewat film, novel, lagu dsb. Kampanye ini justru memicu maraknya pergaulan bebas.

Negara harus melarang media, individu dan lembaga asing yang mengenalkan dan mengembangkan pemikiran dan perilaku merusak. Misal larangan impor film asing yang merusak, larangan masuknya artis asing ikon porno, konser musik yang campur-baur, dsb.

Negara perlu mendukung dan memfasilitasi semua kreativitas generasi muda untuk mengembangkan ilmu dan ketrampilan agar lebih berdaya guna bagi umat. Misal memfasilitasi penyempurnaan rekayasa mobil murah karya siswa sekolah menengah, memfasilitasi olimpiade sains dan teknologi dan memberikan sarana agar bisa mengimplementasikan hasil riset dan karya pemenangnya.


Bagaimana sumbangan Muslimah HTI untuk kebangkitan generasi muda Islam?

Generasi muda hari ini tidak akan memiliki kualitas sebagai pemimpin besar jika sistem kapitalisme-liberalisme masih merajai. Tanggung jawab individu, orangtua dan lingkungan untuk menyokong pembinaan generasi muda juga sulit diwujudkan dalam sistem kapitalisme saat ini. Karena itu, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia mengajak semua kalangan—remaja, orangtua, guru dan masyarakat yang peduli pada masa depan bangsa ini—untuk serius menyebarluaskan pemahaman Islam dan berjuang menegakkan Khilafah. Khusus untuk para remaja, jadikan dirimu sebagai role model remaja abad ke-21 dengan aktif dalam kegiatan-kegiatan MHTI. Kegiatan-kegiatan khusus untuk remaja dalam MHTI tidak hanya mengoptimalkan kemampuan remaja di masa golden age-nya, namun juga melatih memiliki kepekaan terhadap perbaikan nasib umat. Bukankah menjadi pemimpin yang baik membutuhkan kemampuan memahami persoalan umat dan serius mengupayakan solusinya? []

Tidak ada komentar: