Kamis, 16 Februari 2012

Anti Kapitalisme Mendunia

Anti Kapitalisme Mendunia

Kapitalisme menimbulkan kesenjangan kesejahteraan yang cukup dalam. Kaum muda menuntut perubahan sistem.

Tak ada yang menduga Occupy Wall Street (OWS) bisa sebesar sekarang. Awalnya gerakan ini hanya berlangsung di Zuccotti Park di distrik keuangan Wall Street, New York City, Amerika Serikat. Di situlah bursa saham terbesar di dunia berada.

Semboyan utama mereka adalah ”We are 99 %”. Slogan ini sebagai bentuk protes atas kekayaan dan pendapatan yang terkonsentrasi hanya kepada 1 persen dari populasi Amerika. Aksi itu diluncurkan untuk menentang keserakahan korporasi dan menuntut kehidupan yang lebih adil bagi 99 persen rakyat Amerika.

Aksi ini digerakkan oleh adalah anak-anak muda yang mulai muak dengan situasi yang terjadi di Amerika. Negara adidaya itu mengalami krisis keuangan yang parah. Dalam situasi seperti itu, pemerintah AS justru memberikan bantuan keuangan kepada perusahaan-perusahaan besar. Sementara rakyatnya sendiri dibiarkan terlunta-lunta karena kemiskinan dan pengangguran yang meningkat serta jaminan kesehatan yang mulai dihapuskan. Padahal merekalah yang selama ini selalu ditarik pajak.

Protes pertama kali berlangsung pada 17 September 2011. Aksi mereka membuat pemerintah New York meradang. Beberapa aktivis gerakan ini ditangkap oleh aparat keamanan. Alasannya, protes mereka mengganggu ketertiban umum. Namun bukannya tambah surut, justru muncul solidaritas yang kian luas.

Aksi serupa menyebar ke seantero kota-kota di Amerika. Slogannya pun kian bervariasi dengan tema yang sejenis. Ada ’Occupy Chicago’, ’Occupy Los Angeles', 'Occupy Seattle', dan lainnya.

Rupanya gerakan ini pun menginspirasi kaum muda di seluruh dunia. Dalam waktu sebulan sejak aksi pertama berlangsung, aksi serupa berlangsung di 951 kota di 82 negara mulai dari Eropa, Asia, Amerika, dan Afrika.

Suara mereka pun sama: melawan bankir dan politisi. Mereka dituduh merusak ekonomi dan menimbulkan kesulitan melalui keserakahan dan pemerintahan yang buruk.

Kebanyakan demonstrasi berskala kecil. Nyaris media yang dikuasai para kapitalis tak banyak menyiarkannya. Demonstrasi terbesar terjadi di Roma, yang diikuti sedikitnya 100 ribu orang.

"Pada tingkat global, kita tahu utang publik tidak diciptakan oleh kita, tetapi oleh pemerintah maling, bank korup, dan spekulator yang tidak peduli tentang kita," kata Nicla Crippa, 49, demonstran di Roma. "Mereka menyebabkan krisis internasional dan masih pula mengambil keuntungan dari itu."

Sebelumnya, ribuan mahasiswa menyerbu kantor Goldman Sachs di Milan, Italia. Dalam aksi ini ada demonstran yang melemparkan telur di markas UniCredit, bank terbesar Italia.

Di Selandia Baru, beberapa ratus orang berbaris di jalan utama di Auckland, kota terbesar Selandia Baru, bergabung dengan sebuah reli di mana 3.000 orang bernyanyi dan memukul drum, mencela keserakahan korporasi.

Di Sydney, sekitar 2.000 orang, termasuk perwakilan dari kelompok Aborigin, komunis, dan serikat buruh, protes di luar pusat bank sentral Reserve Bank of Australia.

Di Tokyo, massa anti kapitalisme bergabung dengan demonstran anti-nuklir. Di Manila, ibukota Filipina, beberapa lusin berbaris ke kedubes AS melambaikan spanduk bertuliskan: "Ganyang imperialisme AS" dan "Filipina tidak untuk dijual."

Lebih dari 100 orang berkumpul di bursa Taipei, meneriakkan "Kita 99 persen Taiwan," dan mengatakan pertumbuhan ekonomi hanya menguntungkan perusahaan, sementara rakyat jelata hampir tidak bisa menutupi melonjaknya biaya perumahan, pendidikan, dan kesehatan.

Di Jerman, ribuan orang berdemo di kota-kota besar negara Hitler tersebut. Mereka memprotes dominasi bank. Di Berlin, sekitar 2 ribu orang menuntut perubahan sistem alternatif demokrasi ketimbang kapitalisme. Mereka berarak menuju gedung Bundestag (parlemen Jerman) di pusat kota Berlin.

Di London, Inggris, sekitar 70 tenda peserta aksi mengembang di kaki tangga Katedral St Paul. Sekitar 2.000-3.000 orang ambil bagian dalam protes ini. Aksi serupa juga digelar di Bristol, Birmingham, Glasgow dan Edinburgh. Selain membawa poster bertuliskan "Kita 99%", mereka juga membawa poster bertuliskan kalimat yang artinya: "Bankir ditalangi, kita yang dihabisi".

Perubahan

Ada satu kesamaan perasaan dari aksi anti kapitalisme di seluruh dunia itu. Mereka marah terhadap tatanan kehidupan yang ada. Mereka menyadari bahwa sistem kapitalisme menyebabkan ketidakadilan bagi perekonomian global. Spirit kapitalisme telah melahirkan ketimpangan sosial yang menganga antara kalangan kaya dan miskin, bahkan di negara tempat lahir dan tumbuh ideologi ekonomi itu sendiri.

Mereka pun mulai sadar bahwa pemerintahan yang ada tidak lain adalah kepanjangan tangan dari para kapitalis—pemilik modal. Ada kolaborasi antara penguasa dan pengusaha untuk memeras keringat rakyat—melalui pajak—dan mengeksploitasi kekayaan alam demi kepentingan mereka sendiri. Sementara rakyat, tak mendapatkan bagian yang layak sebagai pemilik kekayaan alam tersebut. Rakyat tertindas, sedangkan penguasa dan pengusaha culas.

Makanya, gema ajakan untuk mengadakan revolusi sudah mulai muncul di Amerika. Salah satu slogan mereka: ”The Revolution Begins at Home” (Revolusi mulai dari rumah—Amerika). Mereka sudah muak dengan kapitalisme. []Mujiyanto
Adidaya yang Tak Berdaya



Boleh jadi banyak orang terpesona dengan Amerika dan Barat pada umumnya. Inilah hasil propaganda kapitalisme global dengan penguasaan medianya. Mereka berhasil mengemas sedemikian rupa sehingga seolah-olah kapitalisme itu adalah ideologi paripurna bagi umat manusia. Bahasa orang sekarang: ideologi yang sudah final.



Namun, tak banyak orang tahu bahwa Amerika dengan kapitalismenya gagal membangun kesejahteraan bersama, termasuk keadilan dan keamanan. Kini, negara ini adalah negara pengutang terbesar di dunia yakni sebesar 14,3 trilyun dolar Amerika.



Di dalam negeri, kemiskinan menghantui. Sebanyak 2,6 juta orang Amerika Serikat (AS) jatuh miskin per 2010, menjadikan total orang miskin negara tersebut 46,2 juta orang. Angka itu tak hanya suram, namun juga mencetak rekor tertingginya.

Berdasarkan Biro Sensus AS, angka kemiskinan itu merupakan yang tertinggi dalam 52 tahun lembaga tersebut melakukan pendataan ini. Bahkan, pemasukan rumah tangga kelas menengah turun ke level yang sama seperti 1996. Setelah disesuaikan, ternyata angka itu yang terendah sejak Great Depression.

Temuan biro ini lebih buruk ketimbang prediksi para ekonom, seakan membuka mata lebih lebar mengenai tekanan apa yang sebenarnya dirasakan penduduk Amerika. Bukan hanya masyarakat miskin, kelas menengah pun kini sudah tercekik.

Jumlah orang Amerika yang hidup di bawah garis kemiskinan per 2010 mencapai 15,1 persen dan merupakan level tertinggi sejak 1993. Garis kemiskinan untuk 2010 bagi keluarga Amerika dengan empat orang anggota adalah pendapatan US$ 22.314 atau ke bawah, per tahun.

Ekonom merasa, tahun ini tak lebih baik. Dana stimulus telah habis, pemerintah pusat dan daerah mengurangi jumlah staf serta anggaran untuk program-program sosial. Langkah tersebut harus ditempuh untuk menghindari makin banyak orang masuk ke jurang kemiskinan.

Analisa Brookings Institution memperkirakan, pada kecepatan saat ini, resesi akan menyebabkan 10 juta orang lagi menjadi miskin pada pertengahan dekade ini. Pengangguran merupakan masalah terbesar yang menyebabkan orang menjadi miskin.

“Tahun lalu, 48 juta penduduk usia 18-64 tak bekerja, bahkan untuk sepekan dalam setahun. Jumlah itu naik dari 45 juta pada 2009. Begitu anda tak bekerja, bakal sulit mendapat pekerjaan lagi,” kata Trudi Renwick, pekerja Biro Sensus.

Resesi juga memaksa penduduk usia produktif (25-34 tahun) terpaksa tinggal dengan keluarga dan kawan-kawannya untuk menghemat. Di kelompok ini, hampir setengahnya hidup di bawah garis kemiskinan.



Seiring dengan itu, krisis sosial dan kriminalitas muncul bak air bah. Tak bisa dicegah. mujiyanto


http://mediaumat.com/media-utama/3464-69-anti-kapitalisme-mendunia.html

Tidak ada komentar: