Minggu, 29 Januari 2012

PEMBEBASAN YERUSALEM

PEMBEBASAN YERUSALEM

Di ambil dari kitab : Al futuhat Al -islamiyah ( abdul Aziz as shinnawiy )

Sebelumnya kota tersebut di kenal dengan nama Iliya'.

Dzul Ishba' mengatakan ''Ya Rasulullah.
A

pabila kami masih hidup setelah engkau wafat , kemana engkau perintahkan kami pergi?'' Rasulullah saw menjawab, ''Pergilah ke Baitul Maqdis . Mungkin Allah akan memberi kalian keturunan yang datang dan pergi ke sana.'' Dalam riwayat lain di katakan, ''Mungkin engkau akan mempunyai anak-anak yang pergi ke masjid itu dan datang darinya “ ( HR . Ibnu Zanjawih dan Ibnu Nafi '. Thabrani dalam Al-Kabir dan Ibnu an-Najjar

Abu Dzar al-Ghifari berkata ''Wahai Rasulullah, manakah yang lebih baik, shalat di masjidmu ini atau shalat di (masjid) Baitul Maqdis ''Rasulullah saw menjawab ''Shalat di masjidku adalah lebih baik daripada shalat empat kali di Baitul Maqdis, sekalipun ia adalah tempat yang paling baik untuk shalat karena ia adalah tanah kebangkitan. Akan tiba waktunya, manakala seseorang dapat melihat Baitul maqdis melalui jerat tempat ia menggantungkan cambuknya (maksudnya amat dekat denganya) dan hal itu lebih baik daripada segala kenikmatan di dunia ini.''


Maimunah, pembantu Rasulullah saw, pernah bertanya kepada Rasulullah ''Wahai Rasulullah, katakan kepadaku tentang Baitul Maqdis ''Rasulullah saw menjawab ''Negeri kebangkitan dan tempat berkumpul. Pergilah ke sana dan shalatlah di sana, karena shalat di tempat tersebut seribu kali lebih utama dari pada shalat di masjid-masjid lainnya.'' Maimunah kembali bertanya ''Bagaimana jika seseorang tidak dapat pergi ke sana? ''Rasulullah menjawab, ''Orang yang tidak dapat pergi kesana dapat mendermakan sebuah lampu minyak untuk meneranginya, karena siapa saja yang mendermakannya sama halnya dengan orang yang shalat di sana.'' (HR Abu Dawud, Imam Ahmad , dan Ibnu Zanjawih dari Maimunah, pembantu Rasulullah saw)

Pemberangkatan Pasukan Menuju Yerusalem


Abu ' Ubaidah bin Jarrah ra memberangkatkan tujuh pasukan yang masing masing di komandani oleh seorang panglima. Beliau menugaskan lima ribu pasukan berkuda pada masing-masing pasukan tersebut dan memberikan sebuah panji-panji kepada setiap komandannya. Dengan demikian keseluruhan pasukan berjumlah tigapuluh lima ribu tentara berkuda. Para panglima yang ditunjuk adalah Khalid bin Walid, Yazid bin Abi Sufyan, Syurahbil bin Hasanah, Mirqal bin Hasyim bin 'Utbah bin Abi Waqash, Qais bin Hubairah al-Muradi, Musayyab bin Najiyah al-Fazazi, dan 'Urwah bin Muhalhil bin Zaid al-Khail.

Pasukan berkuda yang dikomandani Syurahbil berangkat dari Yaman. Abu 'Ubaidah bin Jarrah memerintahkan Mirqal bin Hasyim untuk langsung menuju benteng pertahanan, dan ia pun segera berangkat.


Ketujuh panglima beserta pasukannya bergerak sendiri-sendiri. Setiap hari ,seorang panglima dan pasukannya bergerak untuk menakut-nakuti dan membuat bingung musuhnya. Pasukan yang pertama yang bergerak dengan membawa panji-panjinya adalah pasukan Khalid bin Walid , yang selalu meneriakkan '' Allahu Akbar ! Allahu Akbar ! '' takkala datang menyerang .


Pasukan Kalid bin Walid menyaringkan suara mereka saat berseru 'Allahu Akbar!' Ketika orang- orang Yerusalem mendengar suara riuh-rendah yang ditimbulkan oleh seruan tersebut, mereka merasa takut dan kebingungan. Lalu mereka menaiki dinding kota dan mencari tahu sumber keributan itu; ternyata mereka mendapati bahwa pasukan yang ada di balik dinding kota mereka hanya sedikit jumlahnya. Maka mereka pun menganggap remeh pasukan Muslim itu. Orang-orang Bizantium mengira bahwa pasukan yang ada di balik dinding kota itu semuanya adalah Muslim. Kemudian, Khalid dan pasukannya berkemah di dekat Ariha.


Pada hari kedua, Yazid bin Abi Sufyan dan pasukanya bergerak maju. Pada hari ke tiga, pasukan Syurabil bin Hasanah pun maju kedepan; menyusul kemudian pasukan Mirqal bin Hasyim maju kedepan pada hari keempat. Pada hari kelima mereka menyaksikan kedatangan pasukan Musayyab bin Najiyah; sedangkan pada hari keenam datanglah Qais bin Hubairah dan pasukanya. Terakhir, pada hari ketujuh, datanglah pasukan, Urwah bin Muhalhil bin Zaid al-Khail dari jalan menuju Ramallah.

Pergerakan Pasukan

Pasukan Muslim berkemah di sekitar Yerusalem selama tiga hari tanpa bertempur atau menyerang. Pasukan Muslim tidak menemui atau berbicara dengan orang-orang Bizantium. Namun, orang-orang Bizantium itu sudah bersiap mempertahankan dinding kotanya dengan manjaniq, pedang, perisai, dan baju besi yang paling bagus. Musayyab bin Najiyah meriwayatkan, ''Kami belum pernah pergi ke suatu kota di Syam dan melihat perhiasan dan persiapan sebagaimana yang kami saksikan di Yerusalem. Kami belum pernah mengepung penduduk suatu kota, kecuali mereka meminta belas kasihan kepada kami akibat ketakutan dan kengerian yang mereka rasakan. Tetapi tidak demikian dengan penduduk Yerusalem. Kami berkemah di dekat mereka selama tiga hari tetapi tidak seorangpun yang berbicara dengan kami atau meninggalkan kota tersebut.''


Pada hari kemepat, salah seorang Badwi berkata kepada Syurahbil bin Hasanah, ''Wahai panglima! Nampaknya orang-orang ini tuli, bodoh, atau buta. Mari kita serbu saja mereka.”


Pada hari kelima, setelah kaum Muslim selesai melaksanakan sholat Shubuh, salah seorang panglima pasukan Muslim, Yazid bin Abi Sufyan, mengendarai kudanya untuk berbicara dengan penduduk Yerusalem. Ia mengeluarkan pedang dari sarungnya, dan berjalan mendekati dinding benteng. Ia diiringi seorang penerjemah yang bertugas menerjemahkan dan menyampaikan seruanya. Yazid berdiri menghadap dinding benteng agar mereka dapat mendengar ucapanya, tetapi mereka tetap diam takkala penerjemah tersebut menyampaikan kata-kata Yazid bin Abi sufyan.


Kepda penerjemahnya, Yazid berkata, ''Katakan kepada mereka, bahwa para pemimpin Arab menyeru kepada kalian semua: 'Agar kalian menyambut seruan untuk masuk Islam dan untuk menyatakan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah . Dengan pernyataan ini, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian yang terdahulu dan dengan demikian kalian dapat menyelamatkan jiwa kalian. Kalau kalian menolak dan tidak mau mengikuti seruan ini, maka berdamailah dengan kami atas nama kota kalian, sebagaimana yang dilakukan orang-orang selain kalian, yang lebih kuat daripada kalian. Kalau kalian menolak kedua tawaran ini, maka kalian akan hancur binasa dan neraka akan menjadi tempat tinggal kalian.''


Si penerjemah maju ke depan dan menyeru kepada mereka, “Panglima ini menyeru kalian untuk memilih salah satu di antara tiga tawaran yang diajukan: masuk Islam, membayar Jizyah, atau perang. “Kemudian, salah seorang pendeta menjawab, “Kami tidak akan meninggalkan agama yang mulia ini. Membunuh kami adalah lebih baik bagi kami daripada hal itu.”


Yazid bin Abu Sufyan lembali dan menemui para panglima yang lain, lalu menyampaikan jawaban dari pendeta tersebut. Yazid bertanya, “Apa yang membuat kita harus menunggu lebih lama?” Panglima yang lain menjawab, “Abu 'Ubaidah tidak memerintahkan kita untuk menyerang atau berperang dengan orang-orang ini. Sebaiknya kita menulis surat kepada 'Pelindung Umat Abu 'Ubaidah. “Maka, setelah itu, Yazid bin Abi Sufyan menulis surat kepada Abu 'Ubaidah untuk menyampaikan jawaban orang-orang Yerusalem dan meminta petunjuk tentang langkah berikutnya.


Abu 'Ubaidah membalas surat tersebut dengan perintah untuk maju menyerang, dan memberitahukan bahwa beliau akan segera menyusul setelah surat itu dikirimkan.
Ketika para panglima membaca surat Abu 'Ubaidah itu, mereka merasa senang, berharap penuh, dan menunggu-nunggu datangnya pagi hari. Masing-masing tentara Muslim berharap agar futuhat dapat diwujudkan melalui tangan-tangan mereka, sehingga mereka bisa segera melaksanakan shalat di Yerusalem dan menyaksikan peninggalan para nabi. Ketika adzan shubuh dikumandangkan, para tentara Muslim segera melaksanakan shalat; Yazid membacakan firman Allah Swt:

Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi”. (TQS. Al-Maidah (5): 21)

Ketika shalat shubuh selesai dilaksanakan, mereka segera berseru, “Persenjatai diri kalian! Persenjatai diri kalian! Kuda-kuda Allah, majulah!”
Kelompok pertama yang melakukan penyerangan adalah pasukan Muslim dari Himyar dan Yaman. Kaum Muslim bertempur habis-habisan seperti singa-singa yang gagah berani. Orang-orang Yerusalem menyaksikan kaum Muslim yang datang menyerang dengan penuh semangat. Mereka pun menghujani pasukan Muslim dengan perisai kulit. Pertempuran itu berlangsung dari terbit fajar hingga senja. Ketika matahari terbenam, kedua belah pihak mundur ke posisi mereka masing-masing. Sementara itu, kaum Muslim menjalankan ibadah shalat yang mereka tinggalkan pada hari itu.

Kedatangan Pasukan Abu 'Ubaidah

Pasukan Muslim menggunakan waktu malam hari untuk memulihkan kondisinya; mereka makan, beristirahat, dan tidur secukupnya. Keesokan harinya, pasukan panah maju ke depan dan kemudian menghujani penduduk Yerusalem dengan anak panah sembari memuji kebesaran Allah dan memohon rahmat-Nya.


Peperangan seperti itu berlangsung terus selama beberapa hari. Pada hari ke sebelas, Abu 'Ubaidah dan pasukannya tiba; panji-panji pasukan dibawa oleh pembantunya, Salim. Pasukan berkuda mengelilingi beliau dari segala sisi dengan panji-panji merej\ka masing-masing. Para perempuan dan uang juga tiba bersama pasukan Abu 'Ubaidah. Pasukan Muslim yang berada di tempat itu bersorak kegirangan.
Kegembiraan pasukan Muslim dalam memuji dan bersyukur kepada Allah Swt ternyata membuat penduduk Yerusalem merasa ngeri. Pendeta Shopronius menaiki dinding yang persis berada di tempat Abu 'Ubaidah berada, akan tetapi dinding itu terlalu tinggi. Salah seorang yang mendampingi sang oendeta berseru, “Wahai pasukan Muslim! Hentikanlah serangan, agar kami dapat berbicara kepada kalian dan menjelaskan sejumlah perkara.”


Pasukan Muslim menghentikan serangan. Salah seorang di antara penduduk Yerusalem berbicara kepada pasukan Muslim dengan Bahasa Arab yang fasih, “Kalian lebih mengenal sifat-sifat orang yang akan menaklukan kota kami, Yerusalem; dan kami mengenal seluruh negeri yang berada di bawah kekuasaan kami. Kalau kami mendapati sifat-sifat tersebut pada diri panglima kalian, maka kami akan menyerah kepada kalian dan berhenti berperang. Bila tidak, maka kami tidak akan pernah menyerah dan akan terus melanjutkan peperangan.”


Mendengar kata-kata tersebut, beberapa tentara muslim menemui Abi 'Ubaidah dan menyampaikan kata-kata yang mereka dengar. Lalu, Abu Ubaidah mendekati orang-orang Bizantium itu. Pendeta Sophronius memandangi Abu 'Ubaidah kemudian berkata, “Dia bukan orang yang kumaksud.” Selanjutnya, ia melihat ke arah pasukannya, dan berseru, “Bersemangatlah dan berperanglah demi kota, agama, dan perempuan-perempuan kalian!” Maka, mereka kembali melanjutkan peperangan. Sophronius pergi meninggalkan Abu 'Ubaidah tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepadanya. Kaum Muslim bertempur habis-habisan melawan orang-orang Bizantium itu.


Peperangan yang dahsyat itu berlanjut dari hari ke hari, hingga berlangsung selama empat bulan penuh. Kaum Muslim sempat mengalami musim dingin yang berat, hujan salju, dan juga hujan yang sangat deras. Ketika orang-orang Yerusalem menyadari betapa kokohdan kuatnya tekad pasukan muslim yang mengepung mereka, maka mereka mendatangi pendeta Sophronius dan menceritakan kesulitan yang mereka hadapi; mereka juga memintanya untuk berunding dengan pasukan Muslim dan mendengarkan tuntutan mereka.


Pemuka Yerusalem itu pun menaiki dinding benteng bersama beberapa penduduk Yerusalem dan mamandangi tempat dimana Abu 'Ubaidah berada. Salah seorang penduduk Yerusalem berseru, “Wahai orang-orang Arab! Pemuka Nasrani dan pelaksana hukum-hukumnya datang untuk berbicara dengan kalian. Maka, panggillah pemimpin kalian untuk maju ke depan!” Abu 'Ubaidah diberitahu pasukan Muslum apa yang diinginkan oleh orang-orang Bizantium itu, lalu beliau menjawab, “Aku akan pergi menemuinya.'
. Kemudian, Abu 'Ubaidah bersama para panglima, pengawal, dan seorang penerjemah berdiri berhadapan dengan pendeta Sophronius. Penerjemah dari kalangan penduduk Yerusalem berkata, “Apa sesungguhnya yang kalian inginkan dari kami atas kota suci ini, sehingga orang yang merencanakan hal ini akan menghadapi kemurkaan Tuhan.'
Abu 'Ubaidah menjawab, “Benar, ini adalah kota yang mulia, tempat di mana nabi kami diangkat ke surga. Kami lebih layak menguasai kota ini daripada kalian, dan kami akan memerangi kalian sampai Allah memberikan pertolongan kepada kami untuk menguasai kota ini, sebagaimana pertolongan yang Ia berikan kepada kami untuk menguasai kota-kota lainnya.'


Sang pendeta bertanya, “Apa yang kalian kehendaki dari kami?”
Abu 'Ubaidah menjawab, “ Yang pertama, kami menyeru kalian untuk mengakui bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Bila kalian menyatakan demikian, mka kalian akan mendapatkan hak sebagaimana yang kami miliki dan mempunyai tanggung jawab sebgaimana yang kami miliki.”
Pendeta Sophronius menjawab, “Itu adalah pernyataan yang sangat besar. Kami akan menyatakan hal itu, namun kami belum percaya bahwa nabi kalian Muhammad adalah seorang rasul. Alternatif ini tidak akan kami pilih. Apa alternatif kedua?”
“Hendaklah kalian berdamai dengan kami atas nama kota kalian, membayar jizyah, baik secara sukarela maupun terpaksa, sebgaimana yang dilakukan orang-orang Syam,” kata Abi “Ubaidah.


Kemudian Sophronius mengatakan, “Dinyatakan dalam kitab kami bahwa orang yang akan menaklukkan kota Yerusalem ini adalah seorang sahabat Muhammad yang bernama 'Umar, atau dikenal dengan sebutan al-Faruq, yaitu orang yang mampu membedakan yang haq dan yang bathil. Dia dikenal sebagai orang yang tegas, yang tidak pernah takut menyalahkan orang lain dalam perkara-perkara yang berkaitan dengan Allah. Namun, kami tidak melihat orang dengan sifat-sifat seperti itu di antara kalian.”
Ketika Abu 'Ubaidah Jarrah mendengar kata-kata tersebut, beliau tersenyum dan berkata, “kalau begitu, kami membebaskan kota ini atas kehendak Tuhannya Ka'bah.' kemudian beliau mendekati Sophronius dan bertanya, “Dapatkah engaku mengenali jika engkau melihatnya?”


Pendeta itu menjawab, “Tentu saja. Bagaimana mungkin aku keliru, padahal aku sangat mengetahui kemuliaan, kehidupan, dan jasa-jasanya.'
Abu 'Ubaidah berkata, “Dia adalah Khalifah kami dan merupakan salah seorang sahabat nabi kami. Dalam hal ini aku bersumpah dengan nama Allah.”


“ Kalau memang benar begitu kata-katamu, maka itu berarti engkau memahami kesungguhan kata-kata kami. Selamatkanlah darah kami dan datangkan Kalifah kalian kepada kami. Bila kami melihat dan mengenalinya, serta dapat memastikan sifat-sifat dan kemuliaannya, kami akan membuka kota ini baginya tanpa sedikitpun kesulitan dan penderitaan, dan kami akan membayar jizyah.'


Abu 'Ubaidah menjawab, “Kami lebih memilih untuk berperang, atau apakah kalian menghendaki gencatan senjata?”


Sophronius menjawab, “ Hai kalian orang-orang Arab! Tidak bisakah kalian menghentikan sikap keras kalian? Bagaimana kami dapat meyakinkan kalian bahwa kami percaya dengan kata-katamu dan menghendaki gencatan senjata, sementara tidak ada yang kalian inginkan kecuali berperang?”


Abu “Ubaidah menjawab, 'Memang begitu, sebab hal itu lebih berharga bagi kami daripada hidup ini. Karena, inilah jalan dimana kami dapat memohon ampunan dari Tuhan kami.” Kemudian, Abu ' Ubaidah mmerintahkan pasukannya untuk menghendikan pertempuran melawan orang-orang Yerusalem dan membiarkan pendeta Sophronius pergi dari tempat itu.


Surat Abu 'Ubaidah kepada Khalifah 'Umar bin Khaththab

Abu 'Ubaidah bin Jarrah menulis surat kepada 'Umar , Amirul Mukminin sebagai berikut:


“Bismillahirrahmanirrahim. Kepada hamba Allah, Amirul Mukminin, 'Umar bin Khaththab, dari panglima yang ditugaskan olehnya, Abu 'Ubaidah bin Jarrah. Assalamu”alaikum. Aku bersyukur kepada Allah -tiada tuhan selain Dia- dan shalawat untuk nabi-Nya, Muhammad saw. Perlu kami sampaikan kepada Amirul Mukminim, bahwa kami telah empat bulan bertempur melawan orang-orang Yerusalem. Setiap hari kami menyerang mereka; dan mereka pun menyerang kami. Sebelum aku menulis surat ini, pendeta mereka -yang sangat mereka hormati- telah datang menemui kami dan mengatakan bahwa dalam kitab mereka disebutkan bahwa tidak ada orang yang akan membebaskan kota mereka, kecuali sahabat nabi kita, yang bernama “Umar. Pendeta itu menambahkan bahwa ia mengenal sifat-sifat dan ciri-ciri orang tersebut, yang dinyatakan dalam kitab mereka. Pendeta itu meminta kami menghentikan pertumpahan darah. Maka, datanglah kepada kami dan selamatkan kami. Semoga Allah berkenan membebaskan kota ini melalui tanganmu.”

Abu 'Ubaidah menandatangani surat tersebut dan menyegelnya, kemudian Maisarah bin Masruq al-Abbasi membawanya kepada Khalifah 'Umar bin Khaththab.

Khalifah Bermusyawarah dengan Sahabat-sahabatnya

Ketika Khalifah 'Umar ra menerima surat Abu 'Ubaidah bin Jarrah, beliau bermusyawarah dengan sahabat-sahabatnya. 'Utsman bin Affan ra berkata, “Amirul mukminin, janganlah engkau pergi ke Syam. Aku berpendapat sebaiknya kita meneruskan pertempuran.”


'Ali bin Abi Thalib ra mempunyai pandangan yang berbeda, “Wahai Amirul Mukminin, pergilah, dan semoga engkau dikaruniai kemuliaan dan berkah.”
Khalifah 'Umar bin Khaththab ra menerima pendapat 'Ali, dan memetintahkan sebagian kaum Muslim untuk pergi bersamanya. Khalifah 'Umar pergi ke Masjid Nabawi dan melaksanakan shalat empat rakaat. Setelah itu, beliau pergi ke makam Rasulullah saw dan menyampaikan salam kepada beliau saw dan Abu Bakar ra. Selanjutnya, beliau mewakilkan kepemimpinan sementara Negara Khilafah kepada 'Ali bin Abi Thalib.
Khalifah 'Umar meninggalkan Madinah diiringi oleh tatapan mata para penduduknya. Beliau mengendarai seekor unta merah yang juga membawa dua buah karung, satu berisi gandum dan yang satunya lagi berisi kurma. Di depan tempat duduk 'Umar terdapat sekantong air minum, sedangkan di belakang beliau terdapat sebuah kantong berisi roti.


Khalifah 'Umar dan rombongannya bergerak menuju Yerusalem. Setiap kali beliau beristirahat di suatu tempat, beliau tidak meninggalkannya kecuali setelah menjalankan shalat Shubuh. Setelah selesai menunaikan shalat Shubuh, beliau memandangi kaum Muslim yang menyertai beliau, lalu berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menaikkan derajat kita semua dengan islam, yang memuliakan kami dengan keimanan, dan mengistimewakan kita dengan Rasul-Nya saw. Allah yang Maha Kuasa telah membimbing kita setelah kita melakukan kesalahan, menyatukan kita dengan kalimat takwa meski sebelumnya kita saling bermusuhan, menyingkirkan kebencian dari hati-hati kita, menganugerahkan kemenangan kepada kita atas musuh-musuhkita, mengkaruniakan kekuasaan di negeri-negeri kita, serta menjadikan kita saling bersaudara, saling mencintai, dan saling menjaga antar satu dengan yang lain. Maka, bersyukurlahkepada Allah, wahai hamba-hamba Allah, atas rahmat dan karunia yang tak terhitung banyaknya, karena Allah akan melipatgandakan pahala orang-orang yang berjuang di jalan-Nya, serta akan menyempurnakan rahmat-Nya atas orang-orang yang mau bersyukur kepada-Nya.”

Khalifah 'Umar Tiba di Syam

Ketika Abu 'Ubaidah mendapatkan informasi bahwa Khalifah 'Umar hampir sampai ke Syam, beliau pergi untuk menyambut kedatangannya bersama sejumlah prang Muhajirin dan Anshar. Ketika khalifah 'Umar dan rombongannya bertemu dengan rombongan Abu 'Ubaidah , beliau menatap Abu 'Ubaidah, yang pada saat itu mengenakan baju besi, dengan pakaian dari katun, dan sedang memegang busur panah di atas punggung untanya. Sesaat mereka saling berpandangan, lalu mereka menghentikan untanya, turun dari punggung unta, dan kemudian saling mendekat. Abu 'Ubaidah mengulurkan tangannya untuk menyalami 'Umar bin Khaththab; setelah itu, keduanya saling berpelukan. Pasukan Muslim yang menyertai Abu 'Ubaidah satu persatu memberikan salamnya kepada Khalifah 'Umar bin Khaththab. Kemudian mereka semua mengendarai unta dan kudanya masing-masing menuju perkemhan pasukan Muslim. Di sepanjang perjalanan, Khalifah 'Umar dan Abu 'Ubaidah saling bercakap-cakap hingga sampai Yerusalem. Setelah mereka tiba di sana, Khalifah 'Umar memimpin kaun Muslim melaksanakan shalat Shubuh.

Kesederhanaan dan kecermatan Khalifah 'Umar bin Khaththab

Khalifah 'Umar mengendarai untanya dengan mengenakan sehelai baju yang mempunyai empat belas tambalan; beberapa tambalan di antaranya terbuat dari kulit. Kaum Muslim berkata kepada beliau, “ Wahai Amirul Mukminin, bagaimana jika engkau mengendarai kuda sebagai ganti unta merah anda itu; demikian pula, bagaimana jika engkau mengenakan baju putih ini sebagai ganti baju yang penuh tambalan itu?” Khalifah 'Umar menerima saran tersebut dan berkenan memakai sehelai baju putih. Zubair bin Awwam meriwayatkan, “Aku mengira baju putih itu milik seseorang dari Mesir yang berharga lima belas dirham.”


Khalifah 'Umar mengenakan sehelai selendang di atas pudaknya; selendang yang tidak lagi baru, tetapi juga belum terlalu tua. Seekor kuda berwarna abu-abu yang sebelumnya milik orang Romawi dibawa ke hadapan beliau. Ketika beliau menaikinya, kuda itu mulai menggoyangkan tubuhnya sementara Khalifah 'Umar berada di atas punggungnya. Secepat kilat Khalifah 'Umar melompat turun, lalu berkata, “Naikkan aku setelah kejatuhanku! Semoga Allah mengangkatmu dari kejatuhanmu di Hari Kebangkitan, karena pemimpin kalian akan dihancurkan oleh kesombongan dan keangkuhan yang menembus hatinya. Aku mendengar Rasulullah bersabda:


Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya teerdapat kesombongan walau hanya seberat sebutir debu. (HR. Muslim dari Ibnu Mas'ud)

Kemudian Khalifah 'Umar memukul kepala kuda itu sambil berkata, “Semoga orang yang mengajarkan kepadamu kesombongan seperti itu akan hancur.' Beliau berkata lagi, “Pakaian putihmu dan kuda yang bergoyang ini dapat menghancurkan aku.”

Maka Khalifah 'Umar melepas baju putih itu dan mengenakan kembali pakaian beliau yang penuh tambalan dan compang-camping itu. Kemudian, beliau pergi menuju 'Aqaba dan dari sana beliau berangkat menuju Yerusalem.


Dalam perjalananya, Amirul Mukminin, 'Umar al-Faruq bertemu dengan sekelompok Muslim mengenakan pakaian dari sutera. Beliau memerintahkan agar wajah mereka dilempari debu dab pakaian mereka di cabik-cabik. Kemudian beliau melanjutkan perjalanannya hingga sampai di kota yerusalem. Beliau memandangi kota tersebut dan berkata, “Allahu Akbar! Ya Allah, bebaskanlah kota ini dengan mudah dan anugerahkan kepada kami kemenangan dan kekuasaan dari-Mu.'


Kemudian beliau meneruskan perjalananya dan bertemu dengan para pemuka-pemuka kabilah serta pasukan Muslim lainnya. Beliau beristirahat di tempat Abu 'Ubaidah berkemah. Sebuah tenda dari kain wool didirikan untuk beliau, dimana beliau duduk di atas sehelai alas duduk yang berdebu. Kemudian beliau berdiri dan melaksanakan shalat empat rakaat.

Khalifah 'Umar Menemui Pendeta Sophronius

Ketika Amirul Mukminin tiba di Yerusalem, kaum muslim bversorak-sorai dan berteriak dengan suara keras, “La ilaha illa Allah!Allahu Akbar!” Sorak-sorai dan teriakan itu didengar oleh orang-orang Yerusalem. Pendeta bertanya, “Apa yang menyebabkan keributan itu?” Ada yang menjawab, “Umar, Amirul Mukminin telah tiba dari Madinah ke Yerusalem.”


Pada hari berikutnya, Khalifah “Umar mengimami pasukan Muslim pada saat shalat Shubuh. Selesai menunaikan shalat Shubuh, Khalifah 'Umar berkata kepada Abu 'Ubaidah, “Pergilah menemui orang-orang Yerusalem, dan sampaikan kepada mereka perihal kedatanganku.”


Abu 'Ubaidah maju ke depan dan berteriak, “Wahai penduduk Yerusalem! Pemimpin kami telah tiba. Apa yang akan kalian lakukan berkaitan dengan pengakuan kalian?.”
Sang pendeta meninggalkan gerejanya diiringi banyak orang. Ia memanjat dinding benteng dan memandang ke arah Abu 'Ubaidah yang berkata, “Amirul Mukminin, yang tidak ada 'agi pemimpin di atasnya, telah tiba.” Pendeta Sophronius menyatakan keinginannya untuk bertemu dengannya.


Khalifah 'Umar hendak menemui pendeta tersebut, akan tetapi beberapa orang sahabat menghentikan langkahny. Mereka berkata, “Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau akan pergi sendirian tanpa senjata, kecuali dengan pakaian yang penuh tambalan ini? Kami merasa khawatir jikalau mereka mengkhianati atau menipumu.


Khalifah 'Umar menjawab dengan menyitir ayat al-Qur'an:
Katakanlah, 'Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dia-lah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (TQS. At-T aubah (9) : 51)

Sahabat Muhammad bin 'Abdullah

Unta milik Khalifah 'Umar dibawa kepada pemiliknya; lalu beliau pun menaikinya. Saat itu beliau masih mengenakan pakaian yang penuh tambalan itu. Ini semata-mata karena kesederhaan beliau radiyallahu'anhu; mengingat sebagaiseorang pemimpin Negara Khalifah beliau mampu mengenakan pakaian yang paling yang paling bagus dan paling mewah, mengendarai kuda yang paling baik, serta memakai perhiasan yang paling indah. Namun, beliau meninggalkan itu semua karena ingin mengikuti teladan yang deberikan Rasulullah saw. Kembali kami sampaikan di sini bahwa Khalifah 'Umar bin Khaththab ra saat itu hanya mengenakan sehelai pakaian yang penuh dengan tambalan dan mengikat kepalanya dengan sepotong kain. Tidak ada yang mengawal beliau, kecuali Abu 'Ubaidah yang berjalan bersama beliau hingga sampai di dekat dinding benteng dan berdiri di sana.


Pendeta Sophronius memandangi Khalifah 'Umar bin Khaththab secara seksama; ternyata sang pendeta langsung mengenali beliau, dan kemudian berkata kepada penduduk Yerusalem, “Buatlah perjanjian dan kesepakatan dengannya, karena sesungguhnya dia adalah sahabat Muhammad bin 'Abdullah.” Maka dari itu, penduduk Yerusalem membuka pintu gerbang benteng dan segera menemui Khalifah 'Umar bin Khaththab untuk mengajak beliau membuat perjanjian damai.


Mendapati kejadian ini, Khalifah 'Umar bin Khaththab menyampaikan pujian kepada Allah Swt, merendahkan diri di hadapan-Nya, serta membungkukkan badannya di atas punggung untanya. Kemudian beliau turun dari punggung untanya dan berkata kepada orang-orang Yerusalem, “Kembalilah ke kota kalian. Kalian akan mendapatkan perjanjian damai dan jaminan keamanan bila kalian menghendakinya serta bersedia membayar jizyah.” Penduduk Yerusalem kembali ke kotanya tanpa menutup pintu grbangnya. Khalifah 'Umar kembali kepada pasukannya dan menghabiskan malam di tengah-tengah mereka.



Khalifah 'Umar bin Khaththab di Yerusalem

Ketika memasuki kota Yerusalem, Khalifah 'Umar berkata, “Inilah aku, ya Allah, siap melaksanakan amanat-Mu!” dari 'Abbad bin 'Abdullah bin Zubair).


Pada hari berikutnya, Khalifah 'Umar memasuki Yerusalem tanpa menimbulkan rasa takut di hati para penduduknya. Waktu itu hari Senin, dan beliau tetap berada di Iliya' pada saat ibadah Jum'at dilaksanakan. Pada hari Jum'at beliau menetapkan mihrab -yang menunjukkan arah kiblat- di bagian Timur, yang merupakan lokasi masjidnya; kemudian bersama-sama para sahabatnya, beliau menunaikan ibadah Jum'at.
Pasukan Muslim tidak mengambil sedikit sedikit pun harta milik penduduk Yerusalem. Khalifah 'Umar berada di Yerusalem selama sepuluh hari.


Beliau menetapkan perjanjian damai dengan penduduk Yerusalem, yang diakhiri dengan kalimat, “Saksi-saksi dalam perjanjian ini adalah Khalid bin Walid, 'Amr bin 'Ash, 'Abdurrahman bin 'Auf, dan Mu'awiyah bin Abu Sufyan. Perjanjian ini dinyatakan dan dilaksanakan pada tahun ke lima belas setelah Hijrah.”
Kemudian, Khalifah 'Umar bertanya kepada Ka'ab al-Akbar, pemuka agama Yahudi, “Menurut kalian, dimana aku dapat melaksanakan shalat?”


Ka'ab menjawab, “Kalau engkau mau mendengar pendapatku, shalatlah di belakang kubah batu; dengan demikian engkau akan menyaksikan seluruh Yerusalem di depan matamu.”


Khalifah 'Umar berkata, “Kalau begitu engkau melampaui orang-orang Yahudi. Tidak . Aku akan shalat dimana Rasulullah saw menjalankan shalat.” Lalu beliau menuju mihrab dan menjalankan shalat. Setelah itu beliau membentangkan jubahnya dan memunguti sampah yang ada di tempat tersebut, dan orang-orang pun mengikuti apa yang beliau lakukan. (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab ad-Dhiya' al-Maqdisi, yang dipilih dari 'Ubaid bin Adam).


Setelah itu, beliau kembali ke Madinah -kota Rasulullah saw- setelah membuat perjanjian damai dengan penduduk Yerusalem yang bersedia membayar jizyah . Beliau menempuh perjalanan bersama pasukan Muslim yang mengiringinya sampai Jabiyah, dimana beliau bermalam selama bebrapa waktu. Di tempat tersebut beliau membagi Syam menjadi dua wilayah. Abu 'Ubaidah bin Jarrah mendapatkan tugas untuk memimpin wilayah yang membentang dari Huran hingga ke Halab. Beliau juga memerintahkan Abu 'Ubaidah untuk bergerakmenuju Halab dan memerangi penduduknya hingga Allah Swt menganugerahkan kemenangan kepadanya. Sementara itu wilayah Palestina, Yerusalem, dan daerah pesisir ditempatkan di bawah kepemimpinan Yazid bin Abi Sufyan.

Tidak ada komentar: