Kamis, 20 Oktober 2011

DNA Politik

Oleh : Adnan Khan

Kami menerima banyak pertanyaan tentang metodologi dari analisis politik serta banyak pertanyaan seputar analisis spesifik yang telah kami buat mengenai wilayah-wilayah yang berbeda di dunia. Dengan pemikiran seperti itu, Khilafah.com menguraikan metodologi yang digunakannya untuk melakukan analisis politik. Hal ini akan membantu memberikan pemahaman tentang bagaimana kami sampai pada beberapa kesimpulan dan cetakbiru yang kami gunakan.

Sebelum melakukan suatu analisa, alasan mengapa seseorang melakukan suatu analisa politik haruslah jelas. Kami terlibat dalam membuat analisa politik karena kami dipercaya untuk mengemban dakwah ke seluruh dunia. Ini adalah alasan mengapa hal ini sangat penting bagi umat agar bisa mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia, memahami tren-tren terbaru, memahami situasinya, dan mengikuti isu-isu kunci yang terjadi setiap hari. Hal ini hanya dapat dilakukan dengan memperhatikan politik global. Menganalisis kecenderungan politik bukanlah suatu tindakan akademis, tetapi hal ini dilakukan untuk melindungi ummat dan mengemban agama.

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Dia lah yang telah mengutus RasulNya (Muhammad s.a.w) dengan membawa hidayah petunjuk dan ugama yang benar (agama Islam), supaya Ia memenangkannya dan meninggikannya atas segala agama yang lain, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya.(As-Saff: 9)

Dalam usaha ini, perlu dipahami permasalahan politik pada beberapa hal prinsipil secara umum dan secara terus-menerus mengikuti perkembangan berita dan kejadian-kejadian yang terjadi. Dengan cara seperti ini, prinsip-prinsip berikut ini memberikan ringkasan mengenai cetakbiru yang kami lakukan:

1. Politik adalah kebijakan, rencana dan gaya yang digunakan untuk mengurus urusan dalam negeri sebuah negara, yang dilakukan oleh pemerintah dan rakyatnya, sementara kebijakan luar negeri sebuah negara adalah hubungan negara itu dalam membangun hubungannya dengan bangsa-bangsa di dunia dalam rangka untuk mencapai tujuan-tujuannya.

2. Bangsa-bangsa di seluruh dunia secara alami memiliki suatu ideologi dimana mereka mengadopsi ideologi itu yang memberikan arah kepada bangsa itu dan mengambilnya sebagai dasar yang darinya dihasilkan perundang-undangan, membangun kebijakan dan menghadapi isu-isu baru, seperti Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan Jerman dengan ideologi Kapitalisme-nya. Kemudian ada bangsa lain yang tidak menganut suatu ideologi, tetapi memiliki kepentingan-kepentingan yang didefinisikan oleh sejarah atau lokasi mereka, bagi mereka perlindungan atas kepentingan-kepentingan mereka adalah hal yang mendorong pengembangan kebijakan seperti yang dapat dilihat pada India dalam memandang Pakistan atau Tibet yang menginginkan kemerdekaan dari Cina. Penerapan ideologi dan upaya-upaya untuk melindungi dan mencapai kepentingan-kepentingan nasional menyebabkan interaksi-interaksi di seluruh dunia dan inilah situasi internasional.

3. Keadaan permasalahan dari setiap bangsa di dunia tidaklah akan tetap sama; melainkan berjalan melalui banyak perubahan. Keadaan itu bisa melalui kekuatan dan kelemahan, dapat pula menghasilkan kekuatan dan pengaruh yang besar atas banyak negara lain atau bahkan menjadi negara yang berada di bawah pengaruh bangsa-bangsa lain. Inggris adalah contoh yang baik atas hal ini, dimana negara itu dulunya adalah sebuah negara superpower di dunia sebelum Perang Dunia I dan kemudian ditantang oleh Jerman. Kekalahan Jerman kemudian memperkuat Inggris. Inggris tetap menjadi negara yang paling berpengaruh hingga Jerman menantangnya lagi, hingga menyebabkan Perang Dunia II. Setelah PD II, Inggris menjadi lemah dan digantikan oleh Uni Soviet dan Amerika. Dalam kurun waktu 60 tahun, Inggris mengalami pengaruh, sehingga kekuasaan dan keperkasaannya melemah. Inilah sebabnya mengapa mustahil untuk menggambarkan suatu kerangka atau seperangkat pedoman yang konstan untuk melihat situasi internasional karena situasi internasional selalu dalam keadaan turun naik. Namun suatu analisa situasi internasional pada setiap waktu tertentu merupakan suatu sikap yang muncul dalam pikiran yang bertanggung jawab atas perubahan. Hal ini juga memungkinkan untuk menganalisis kekuatan-kekuatan di dunia yang mengingatkan kembali bahwa penilaian semacam itu bertanggung jawab atas perubahan.

4. Situasi internasional adalah struktur hubungan antara bangsa-bangsa di dunia. Ini adalah status negara adidaya dan negara-negara yang bersaing dengannya. Memahami keseimbangan kekuatan global adalah hal yang berbeda dari mengetahui bangsa-bangsa mana yang merupakan kekuatan dunia, kebijakan-kebijakan dan tujuan-tujuannya dan memerlukan pengetahuan tentang hubungan internasional, yang merupakan persaingan konstan antara kekuatan-kekuatan dunia untuk mengambil alih posisi negara adidaya. Inilah sebabnya mengapa situasi internasional tidak stabil; karena situasinya melalui banyak perubahan. Oleh karena itu, setiap analisa keseimbangan kekuatan global adalah suatu deskripsi dari suatu titik dalam kurun waktu tertentu, ketika situasi internasional berubah maka suatu analisa seperti itu menjadi bagian dari sejarah. Untuk keseimbangan kekuatan global pada saat ini, bisa dibaca pada Strategic Estimate 2011.

5. Situasi internasional akan selalu dalam keadaan yang fluktuatif karena hal ini ditentukan oleh situasi politik-ekonomi dari beberapa negara yang merupakan bagian dari satu keadaan kepada keadaan yang lain. Perubahan situasi-situasi semacam ini disebabkan baik karena suatu bangsa menjadi lebih kuat atau menjadi lebih lemah, atau juga karena hubungan dengan negara-negara lain menjadi kuat atau lemah. Dalam kasus seperti ini, suatu perubahan dalam keseimbangan kekuatan global akan mengakibatkan perubahan keseimbangan kekuatan-kekuatan yang ada di dunia. India dan Cina adalah contoh yang baik atas hal ini. Cina bisa dianggap jauh lebih serius pada percaturan politik internasional karena pembangunan ekonominya. Dengan menjadi mesin kekuatan ekspor global, kekuatan-kekuatan di dunia dipaksa untuk berinteraksi dengan China pada sebuah pijakan yang sama. Hal ini berbeda sangat mencolok hanya 30 tahun yang lalu ketika Cina masih dianggap sebagai negara yang dilanda kemiskinan. Demikian pula perubahan yang terjadi pada India dalam hal kemajuan ekonominya yang telah menjadikan bangsa itu diperhitungkan jauh lebih serius pada percaturan politik internasional dibandingkan dengan 20 tahun yang lalu. Inilah alasan, mengapa memahami status dari masing-masing negara yang memiliki pengaruh pada situasi internasional merupakan dasar untuk memahami keseimbangan kekuatan global. Untuk informasi lebih lanjut bisa dibaca pada ‘‘Constructing the Khilafah’s foreign policy.’

6. Memahami situasi global pada kurun waktu tertentu bukanlah berarti bahwa seseorang harus memahami dengan baik setiap isu politik dan setiap detail kepentingan global. Negara-negara yang tidak membentuk keseimbangan kekuatan global tidak perlu diikuti perkembangannya, seperti Luxemburg, karena tindakan-tindakan utama di dunia merupakan hasil dari kekuatan-kekuatan dunia yang bersaing satu sama lain di arena yang berbeda di seluruh dunia. Contoh-contoh berikut menggambarkan hal ini:

* Kebuntuan pembicaraan soal senjata nuklir Korea Utara dengan AS adalah akibat langsung dari upaya AS untuk mengekang China. China sedang berusaha untuk melakukan pembicaraan multilateral bagi reunifikasi Korea Utara dan Korea Selatan sambil memastikan ketidakstabilan tidak terjadi di wilayah itu. Pernyataan-pernyataan dari pertemuan-pertemuan tersebut adalah bertentangan dimana China menjadi pesimis dan mengambil jarak dalam pembicaraan dalam banyak isu sementara AS terus-menerus memberikan pernyataan mengenai negosiasi-negosiasi yang sukses. AS tidak secara langsung melakukan negosiasi dengan Korea Utara yang memperkeruh masalah. Hanya terjadi kemajuan yang lambat atas alasan yang tepat bagi pembicaraan mengenai perpanjangan kehadiran hampir 100.000 pasukan AS di wilayah tersebut. J Rielly menggarisbawahi permasalahan ini dalam sebuah makalah kebijakan: “Kehadiran pasukan AS di wilayah tersebut tidak hanya untuk melawan “kelompok-kelompok teroris” yang menyebabkan ketidakstabilan lokal, tapi juga untuk meningkatkan kontrol militer AS atas wilayah di Laut Cina Selatan. Daerah strategis dengan luas potensial cadangan minyak ini berada berdampingan dengan jalur pelayaran ke Timur Tengah dan menawarkan akses ke sebagian besar wilayah di Asia Tenggara. Kehadiran AS yang diperluas dan aliansi militer yang baru lahir dengan negara-negara Asia Tenggara memperparah kecemasan Cina dan menghambat kesepakatan independen di antara negara-negara Asia meskipun ada mekanisme seperti Forum Regional ASEAN.

* Seruan bagi kemerdekaan Ossetia Selatan dari Georgia adalah akibat langsung dari persaingan antara AS dan Rusia untuk menguasai Eropa Timur. AS memanfaatkan perang Balkan untuk mengekang Rusia di dunia pasca-Soviet dan membawa negara-negara bekas komunis berada di bawah pengaruh AS. Rusia mampu membawa Serbia di bawah pengaruhnya dan telah menggunakannya sebagai tameng untuk menggagalkan dominasi AS di kawasan itu. Serbia telah menjadi penghalang bagi agenda Amerika dan sebagai hasilnya AS ingin melemahkannya yang awalnya dilakukan dengan merancang pemisahan Montenegro dari Serbia, dan memisahkan Kosovo darinya dan kemudian melakukan serangan NATO pada angkatan bersenjata Serbia di Kosovo serta di wilayah Serbia sendiri. Ossetia Utara adalah daerah semi otonom di Rusia, sementara Ossetia Selatan jatuh kepada Georgia pada hari-hari terakhir keruntuhan Uni Soviet. Rusia menggunakan hubungannya dengan Ossetia Utara untuk memaksa Ossetia Selatan untuk menyerukan kemerdekaan hingga dengan demikian menggagalkan tujuan-tujuan AS di wilayah tersebut. Rusia mempertahankan hubungan yang erat dengan unsur-unsur di Ossetia Selatan di mana kaum separatis menyambut sikap mendukung Moskow. Bagi Georgia yang merasa terganggu, rakyat Ossetia Selatan memiliki paspor Rusia dan mata uang rubel Rusia yang umumnya digunakan dalam perdagangan.

Seruan oleh Tibet untuk memisahkan diri dari Cina juga merupakan pertentangan antara Cina dan Amerika Serikat. Campur tangan AS di wilayah itu dimulai pada tahun 1950 melalui CIA dalam rangka melawan penerapan ideologi komunisme oleh China. Pemberontakan berdarah pada tahun 1959 oleh Gerakan Free Tibet merupakan kampanye skala besar yang terselubung yang dilakukan oleh CIA terhadap orang-orang komunis China di Tibet. Puluhan ribu rakyat Tibet mati, sedangkan Dalai Lama dan sekitar 100.000 pengikutnya terpaksa mengungsi ke Himalaya yang berbahaya, wilayah yang melewati India dan Nepal. CIA mendirikan kamp pelatihan militer rahasia bagi para pejuang perlawanan Dalai Lama di Camp Hale di dekat Leadville, Colorado, AS. Para gerilyawan Tibet dilatih dan dipersenjatai oleh CIA untuk melakukan perang gerilya dan operasi sabotase terhadap China yang komunis. China dihadapkan dengan masalah yang signifikan, yakni kaum Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang, dan aktivitas Falun Gong di antara banyak kelompok-kelompok pembangkang lainnya yang bertujuan untuk kemerdekaan. Rakyat Tibet menemukan diri mereka terjebak antara Beijing yang menindas dan manipulatif dan Washington yang mencoba untuk melemahkan Cina

7. Persaingan antara kekuatan-kekuatan dunia adalah sesuatu yang sudah ada sejak awal sejarah dan akan terus berlanjut hingga hari kiamat. Pada zaman Mesir kuno di bawah Firaun, negara itu adalah negara adidaya dan bersaing dengan Mesopotamia. Kekaisaran Romawi menjadi negara adidaya dan Imperium Persia kemudian bersaing dengannya. Khilafah kemudian mengalahkan sisa-sisa Imperium Persia dan Bizantium dan merupakan negara adidaya dunia hingga abad ke-17 dengan menghadapi tantangan dari Mongol dan tentara salib selama kurun waktu tersebut. Kemudian Perancis dan Inggris bersaing dengan Khilafah Utsmaniyah dan mampu melemahkannya. Ketika Perang Dunia I, Jerman menggeser keseimbangan kekuatan global, sementara Perancis dan Inggris bersaing dengan negara itu. Setelah Perang Dunia I, Inggris muncul sebagai negara adidaya dunia dan Perancis bersaing dengan negara itu. Jerman kemudian menantang Inggris sebagai negara adidaya di dunia dan hanya Perang Dunia II yang menghentikan hegemoni Jerman. AS muncul sebagai negara adidaya di dunia setelah Perang Dunia II dan kemudian ditantang oleh Uni Soviet selama lima dasawarsa hingga keruntuhan Soviet pada tahun 1990.

8. Ada dua alasan mendasar mengapa ada pertarungan dan persaingan internasional di antara bangsa-bangsa dan alasan-alasan ini akan selalu tetap terjadi. Hal ini terjadi baik karena supremasi atau karena persaingan atas sumber daya. Supremasi bisa terjadi karena rakyat atau bangsa seperti yang terjadi dengan Nazi Jerman. Supremasi juga dapat terjadi karena penyebaran nilai-nilai dalam rangka menjunjung nilai-nilai itu menjadi yang tertinggi seperti pada kasus Khilafah dan Komunis Rusia. Persaingan untuk sumber daya adalah apa yang mendominasi Barat pada hari ini. Persaingan antara Amerika, Inggris, Perancis dan Jerman di Eropa, Irak, Afghanistan dan di wilayah-wilayah lainnya semuanya adalah dilakukan karena kolonialisme dan untuk mengontrol sumber daya di wilayah-wilayah tersebut.

9. Setiap analisis politik mengharuskan seseorang untuk memahami siapakah kekuatan dunia, bagaimana sejarah mereka - karena hal-hal ini akan membentuk suatu bangsa. Hal ini juga dapat menjelaskan bagaimana strategi politik mereka serta menjelaskan motif-motif mereka. Setelah hal ini, seseorang perlu untuk mengikuti peristiwa-peristiwa yang terjadi sehari-hari melalui berita-berita dan menilai tindakan-tindakan politik dari masing-masing negara itu secara relatif terhadap peristiwa-peristiwa politik yang terjadi. Hal ini hanya dapat dicapai dengan terus-menerus mengikuti peristiwa-peristiwa yang terjadi. Juga dengan memahami sejarah bangsa-bangsa yang menjadi kekuatan-kekuatan dunia itulah seseorang dapat memahami bagaimana negara-negara tersebut bekerja. Amerika, Inggris dan Prancis adalah negara-negara kapitalis, tetapi sejarah mereka didefinisikan dengan berbeda. Walaupun mereka semua mengemban Kapitalisme tapi mereka semua berbeda dalam cara menangani isu-isu global. Untuk informasi lebih lanjut baca ‘‘The end of the American century and the rise of the rest.’

10. Negara-negara yang merupakan kekuatan-kekuatan dunia saat ini adalah AS, yang merupakan negara adidaya dunia, meskipun negara itu mulai melemah tapi ia masih memiliki pengaruh terbesar di seluruh dunia pada percaturan politik internasional. AS sejauh ini merupakan negara dengan ekonomi terbesar di dunia dan sebuah bangsa degan teknologi paling maju, dan memiliki pangkalan-pangkalan militer di seluruh dunia untuk melindungi kepentingan-kepentingannya. Namun, perang selama satu dekade menjadikan AS mengalami pendarahan hingga membuatnya sekarat dan hal ini telah menyebabkan munculnya tantangan-tantangan yang lebih besar, lebih dalam dan lebih luas bagi AS di berbagai wilayah di dunia yang telah disimbolkan sebagai kebangkitan ‘negara-negara sisa’ (the rest). Hari ini AS tidak menikmati keunggulan yang sama seperti yang dialaminya sebelum invasi terhadap Irak, sebagai akibat dari kelemahan Amerika yang jelas, tantangan-tantangan yang berasal dari para pesaing itu telah tumbuh menjadi besar dalam hal ukuran dan lingkup dan pada saat ini jauh lebih kuat.

Negara-negara yang mampu bersaing dengan AS adalah Rusia, Inggris, Perancis dan Jerman; keempat negara itu memiliki ambisi internasional di seluruh dunia. Rusia dalam dekade terakhir telah berhasil mendapatkan kontrol atas sumber daya mineral dan utilitas dan membuang banyak oligarki yang diuntungkan dari pecahnya Uni Soviet. Dengan cadangan energi terbesar dunia yang dimilikinya, negara itu saat ini sedang mengembangkan militernya dan bersaing secara langsung dengan Amerika Serikat di wilayah di mana hegemoni AS selama hampir satu dekade tidak tersaingi.

Inggris secara historis telah menjadi suatu kekuatan dunia dan masih memiliki pengaruh di bekas jajahannya. Inggris adalah pemain utama di Eropa dan telah membuat frustrasi banyak rencana AS. Kebijakan luar negeri Inggris dibangun agar memiliki peran di Eropa dan mempengaruhi Amerika Serikat. Para pembuat kebijakan di Inggris telah menerima kelemahan-kelematan bangsa itu setelah Perang Dunia II dan mengembangkan suatu kebijakan pelestarian ketimbang persaingan langsung dengan AS. Inggris telah berhasil mencapai kepentingan-kepentingannya melalui suatu kebijakan mempertahankan ambisi globalnya dengan bekerja sama dengan AS dan Uni Eropa, sementara pada saat yang sama bekerja untuk mengalihkan, mengubah, mempersulit dan membatasi tujuan-tujuan dari keduanya. Inggris sebagai bangsa akan selalu bersaing dengan AS, tetapi selain ini tidak memiliki sumber daya atau perekonomian untuk mencapai sesuatu yang substansial. Inggris bekerja dengan AS dalam masalah Palestina dan Korea Utara dan juga Iran, sementara negara itu bekerja melawan AS di Sudan, Libanon, Nigeria dan Libya.

Seperti juga Inggris, Prancis telah menjadi pemain kunci dalam sejarah dan politik Eropa, dan kebijakan-kebijakannya selama puluhan tahun telah menciptakan pengaruh yang berpusat di seluruh dunia melalui negara-negara jajahannya, budaya Perancis dan melalui kekuatan-kekuatan ekonomi.

Jerman adalah salah satu negara dengan ekonomi terbesar dan suatu kekuatan ekonomi di Eropa. Pada tahun 2004, negara itu adalah eksportir terbesar di dunia dengan nilai $ 912 milyar. Pengaruh Jerman secara ekoomi telah diperluas melalui serangkaian kebijakan ekonomi yang berbeda dengan suatu hegemoni virtual di Eropa Timur. Kebijakan luar negeri Jerman didominasi oleh tujuan-tujuan ekonominya, namun hal ini tidak diterjemahkan ke dalam kekuasaan politik. Sikap apologetik Jerman dalam urusan global dikarenakan perannya dalam Perang Dunia II yang menyebabkan negara itu mengejar tujuan-tujuannya melalui Uni Eropa daripada secara sepihak menggunakan keuntungan ekonomi bagi bangsa sendiri.

Setelah bangsa-bangsa yang secara langsung bersaing dengan AS di seluruh dunia, China memiliki pengaruh yang paling besar. China telah menjadi kekuatan ekspor global, dengan ekonomi terbesar di dunia setelah AS. China sekarang menunjukkan tanda-tanda ambisi luar wilayahnya namun untuk saat ini merupakan tantangan ekonomi bagi AS daripada tantangan politik. Selama ekonomi tidak meledak China tetap menjadi tantangan bagi AS di Asia Tenggara dan mungkin di juga luar wilayah itu.

Jepang adalah kekuatan ekonomi dengan salah satu ekonomi terbesar di dunia setelah AS. Namun, di luar lingkup ekonomi, negara itu tidak memiliki pengaruh. Kebijakannya pada saat ini yang ikut ambil bagian dalam koalisi di Afghanistan dan penghapusan pasal 9 dalam konstitusi pasifis yang memungkinkannya untuk mengerahkan pasukan dan mengembangkan senjata nuklir, adalah usaha AS untuk melawan pengaruh keseimbangan Cina di wilayah tersebut.

11. Setelah kekuatan-kekuatan besar itu, ada beberapa negara yang memiliki pengaruh dalam beberapa keadaan pada isu-isu spesifik dikarenakan sejarah atau lokasi mereka. India memiliki populasi yang besar dan memiliki senjata nuklir dan memiliki potensi di masa depan untuk mempengaruhi wilayahnya, sementara Italia pernah menjadi kekuatan sebelum Perang Dunia II.

12. Ini adalah keseimbangan kekuatan global saat ini, yang bertanggung jawab untuk mengubah setiap saat, memahami sejarah negara-negara ini, bagaimana mereka berkembang, keyakinan-keyakinan mereka dan nilai-nilai serta ideologi-ideologi yang telah mereka emban akan memberikan seseorang satu pemahaman tentang motif-motif dari negara-negara itu secara individu. Negara-negara itu semua bersaing satu sama lain secara global serta dengan negara adidaya AS.

13. Situasi internasional dapat dipahami dengan sangat jelas pada kurun waktu tertentu karena situasi global adalah persaingan antara kekuatan-kekuatan dunia untuk mencapai kepentingan-kepentingan mereka.

14. Jika kita menerapkan semua hal ini pada Turki, kita dapat melihat bahwa Turki telah membuat kepentingan-kepentingan terbatas dan sebagian besar kepentingan-kepentingan yang merupakan dasar kebijakan luar negerinya ketimbang menggunakan kepentingan-kepentingannya sebagai sarana untuk menyebarkan sekularisme. Turki telah memihak Barat dalam semua masalah hampir semua isu global, bergabung dengan NATO dan berpihak pada Amerika Serikat dalam Perang Dingin melawan Komunisme. Walaupun kepemimpinan Turki memeluk sekularisme, Turki sebagai bangsa tidak pernah menyebarkannya kepada dunia sebagai sebuah ideologi, namun Turki selalu tetap terlibat di wilayahnya baik di Siprus, Balkan, Kaukus maupun Timur Tengah. Hal ini terutama karena sejarah, di mana negara itu pernah menjadi kekuatan dunia. Munculnya AKP telah menjadikan Turki tumbuh lebih dekat kepada AS dan bertindak sebagai agen yang disewa dalam isu-isu global seperti yang terjadi baru-baru ini yang dikutip oleh duta besar AS dalam sebuah rilis Wikileaks. Dalam menganalisis Turki, kita dapat melihat bahwa apa yang dikatakan kepemimpinan Turki adalah berbeda dengan apa yang dilakukannya. Apa yang dikatakannya terutama adalah retorika, yang tidak pernah diterjemahkan kedalam tindakan. Semua retorika untuk melawan Israel tidak mengubah kebijakan Turki terhadap Israel. Turki hanya bermanuver dalam ruang yang AS telah izinkan untuk hal itu. Mediasi Turki dalam isu-isu Palestina terjadi ketika AS telah memutuskan negosiasi tidak langsung harus dilakukan pada penyelesaian akhir. Demikian pula kebijakan Amerika yang mengekang Rusia sehingga mendorong tindakan tegas Rusia untuk sepnuhnya kembali ke wilayah Rusia telah membuat kita melihat Turki memainkan peran utama dalam masalah Kaukus untuk mempersulit tujuan-tujuan Rusia. Turki tidak menawarkan sesuatu yang baru pada masalah ini, tetapi mengambil bagian dan memastikan tujuan tersebut tercapai. Apa yang dilakukan kepemimpinan Turki ketika kepentingan-kepentingan mereka secara langsung bertentangan dengan AS akan membuktikan secara fundamental apakah Turki merupakan kekuatan yang independen yang tumbuh.

Kesimpulan

Sebagaimana disiplin ilmu yang lain, analisis politik memiliki metodologi, namun berbeda dengan disiplin ilmu lain ia tidak memiliki aturan rinci. Inilah yang sering membuat orang sulit untuk memahami motif politik negara-negara dalam banyak peristiwa yang terjadi, dengan prinsip-prinsip yang sangat sedikit yang pasti, yang berarti bahwa seseorang tidak memiliki suatu kerangka kerja komprehensif untuk melihat kejadian-kejadian. Hal ini tidak mungkin dalam politik karena berbeda dengan disiplin ilmu lain, politik terlalu cair untuk memiliki prinsip-prinsip yang tetap. Namun disiplin ini memang memiliki beberapa prinsip-prinsip umum, yang memungkinkan seseorang untuk mengamati peristiwa-peristiwa yang terjadi dan kemudian bertindak untuk menjadikannya sebagai panduan dalam memahami keadaan-keadaan mereka. Mengikuti peristiwa-peristiwa politik ketika hal itu terjadi merupakan hal yang sentral dari analisis politik karena prinsip-prinsip umum dalam disiplin ini berlaku pada isu-isu ini. Pertanyaannya adalah apa yang harus diikuti dan harus menjadi fokus. Banyak orang yang mencoba untuk mengikuti semua kejadian-kejadian ini termasuk mereka yang tidak mempengaruhi politik global, tapi hal ini mungkin berguna untuk mengikuti analisis domestik maupun lokal tapi persaingan antara kekuatan-kekuatan dunia adalah jantung dari analisis politik, semua berita-berita dan kejadian-kejadian yang terkait dengan hal ini perlu diikuti.

Dalam mengikuti berita-berita, seseorang harus berhati-hati dalam memahami bagaimana fakta-fakta itu disajikan. Banyak outlet berita yang memiliki agenda tersendiri, sementara banyak juga wartawan yang dapat menyajikan beberapa fakta dengan suatu cara tertentu untuk menyebarkan pandangan tertentu. Hal ini dapat diatasi dengan melakukan referensi silang atas fakta dari berbagai sumber, dan hal ini juga mengharuskan seseorang untuk membedakan antara opini dan fakta. Dalam mengikuti peristiwa-peristiwa itu, seseorang harus mencari tindakan apa yang terjadi untuk bisa menafsirkannya, karena itu perlu kehati-hatian dalam membedakan antara fakta dan opini.

Sumber: Khilafah.com (2/10/2011)

http://hizbut-tahrir.or.id/2011/10/17/dna-politik/

Tidak ada komentar: