Jumat, 18 Februari 2011

Belajar dari Kasus Mesir, AS Terus Membendung Kebangkitan Ummat Islam

Belajar dari Kasus Mesir, AS Terus Membendung Kebangkitan Ummat Islam


HTI Press. Gejolak Timur Tengah masih menjadi issu terhangat yang dibicarakan di negeri ini. Setelah Tunisia terjadi peristiwa penggulingan rezim, dalam perkembangannya, massa di Mesir telah mendorong perubahan rezim dan juga berhasil membuat rezim Mubarak tumbang. Dunia kemudian bertanya-tanya bagaimana keadaan konstalasi politik di Timur Tengah setelah terjadi penggulingan rezim ? apakah sejarah akan mencatat revolusi di Tunisia dan mesir akan membawa perubahan bagi nasib warga Negara disana ? lalu bagaimana dengan dunia islam pada umumnya ? atau sebaliknya, justeru ada kemungkinan nyata bahwa seruan perubahan ini dibajak oleh kekuatan-kekuatan asing ? sejumlah pertanyaan ini cukup menggelitik untuk kemudian di bahas, sembari mendiskusikan peta skenario potensial untuk konstalasi politik Timur Tengah dan dunia Islam pada umumnya.

Atas pemikiran tersebut, DPD I HTI sulsel sebagai bagian terintegra dengan ummat Islam mencoba untuk memberikan pandangan politiknya terkait krisis di Timur Tengah. Dalam diskusi rutin yang diadakan setiap bulan yakni HALQOH ISLAM DAN PERADABAN, pada tanggal 12 Februari 2011 , DPD I HTI sulsel mengangkat tema “Gejolak mesir dan masa depan dunia Islam”. Adapun narasumber yang dihadirkan diantaranya Drs. Aspiannor masrie (Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Hasanuddin), Mustajab al Musthafa, S.IP (pemerhati dunia Islam), dan Muhammad Kemal Shodiq (DPD I HTI Sulsel). Acara HIP ini dimulai tepat pukul 09.00 Wita, bertempat di Aula Kementrian Agama Kota Makassar Jl. Rappocini Raya)

Dalam sambutan di awal acara, Humas DPD I HTI sulsel kembali menegaskan tentang latar belakang kegiatan Halqah Islam dan Peradaban ini, menurutnya bahwa Hizb menginginkan terwujudnya sebuah tatanan peradaban baru. Peradaban yang dimaksud tersebut tentunya adalah peradaban yang berdasarkan Islam. Adapun gejolak politik yang terjadi di Timur Tengah juga sangat penting untuk dicermati karena sangat berkaitan dengan sebuah peristiwa politik yang mengindikasikan adanya upaya perubahan. Masalahnya adalah apakah hanya sampai sebatas itu saja (gantii rezim red).


Bapak Apiannor Masrie berpendapat bahwa sebelum berbicara tentang gejolak politik dii Timur Tengah, hal yang perlu dipahami terlebih dahulu adalah adanya kepentingan Negara barat (AS) disana. Sehingga secara otomatis bisa dikatakan bahwa setiap peristiwa politik yang terjadi di Timur Tengah ada campur tangan AS didalamnya. Lebih jauh lagi beliau menjelaskan tentang tiga hal yang menjadi domain kepentingan AS di Timur Tengah. Yang pertama adalah masalah minyak, kedua adalah eksistensi Negara Israel, dan yang ketiga yang jarang diungkap oleh pengamat adalah upaya pembendungan barat terhadap kebangkitan Ummat Islam.

dalam kasus Mesir misalnya beliau menyebut Mesir dijadikan benteng pertahanan bagi kepentingan AS di Timur Tengah. Posisi Mesir secara geopolitik sangatlah strategis. Keberadaan Terusan Suez yang berfungsi sebagai jalur distribusi minyak mentah dunia dan senjata nuklir membuat AS merasa berkepentingan untuk tetap mempertahankan pengaruhnya di Mesir. Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah AS berkeinginan untuk mengamankan eksistensi Israel di Palestina. ” Jika Mesir dikuasai oleh Kelompok Islam yang anti AS, maka jalur gaza akan terbuka, yang menyebabkan akses ke Palestina akan semakin besar, dan ini berbahaya bagi Israel” ungkap beliau.

Contoh lain yang diberikan adalah kasus di Sudan selatan. “AS sangat mendukung upaya referendum yang terjadi disana. Faktanya, Sudan Selatan telah merdeka. Artinya apa, Sudah selatan yang menjadi pintu masuk ke Afrika, telah dikuasai orang non muslim. Dimana 70 % penduduk disana adalah Kristen. Jelas ini upaya AS untuk membendung pengaruh Islam ke benua Afrika” jelas pakar hubungan Internasional Universitas Hasanuddin ini.


Hal senada juga di ungkap oleh Mustajab al Muthafa. Bahkan menurutnya gejolak yang terjadi di Mesir hanyalah riak-riak politik belaka. Yakni gerakan rakyat yang sudah “muak” dengan rezim korup dan orotiter, yang ujung dari gejolak ini hanya berhenti pada turunnya rezim, jadi salah besar jika dikatakan sebagai sebuah revolusi Islam yang membawa angin segar bagi dunia Islam.

Namun demikian, beliau tetap berpesan agar kita menyikapi peristiwa politik ini secara benar. Sebab menurut beliau krisis yang terjadi di Timur tengah adalah pertarungan politik kepentingan Barat dan Islam. ”jika Negara Islam lemah, maka itu masalah bagi bagi ummat Islam. Sebaliknya jika Negara Islam kuat, maka itu akan menjadi masalah bagi AS. Makanya, barat berusaha untuk terus menjaga kepentingannya untuk tetap menjadi Domain dalam konstalasi politik di timur tengah. Yakni diantaranya memastikan siapapun yang menjadi pemimpin di Negara-negara timur tengah haruslah agen AS” lanjut beliau.


Adapun Muhammad Kemal Shodiq mengawali penjelasannya dengan mengutip terjemahan surah Al Hasyr ayat 2 ” Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran . Hai orang-orang yang mempunyai pandangan “.

Menanggapi gejolak yang terjadi di mesir yang hanya berakhir pada pergantian rezim, beliau mengatakan bahwa langkah tersebut bukanlah sesuatu yang dikatakan sebagai ” perubahan “, yakni yang terjadi di hanyalah pergantian agen baru AS di Mesir. Yang jika dicermati, hampir seluruh kalangan menuntut agar perubahan yang terjadi bermuara pada pelaksanaan pemerintahan yang lebih demokratis. Padahal, menurut beliau demokrasi adalah akar masalah dari rezim yang korup dan diktator yang ditentang oleh masyarakat Mesir. ” Karena demokrasi adalah sistem kufur, maka tidak layak untuk dijadikan sebagai ide perubahan. Yang harus dijadiikan landasan perubahan adalah Islam ” pungkas beliau.


Dalam pembahasan selanjutnya Muhammad kemal Shodiq lebih banyak menguraikan tentang arah perubahan yang seharusnya diambil oleh ummat Islam. Yakni mengubah suatu peradaban jahiliyah menuju peradaban Islam. Sebagaimana yang telah di contohkan oleh Rasulullah dan para sahabat dalam membangun peradaban Islam dengan tegaknya Daulah khilafah Islamiyah [ ] Aulia yahya (lajnah I’lamiyah DPD I HTI Sulsel)

Tidak ada komentar: