Jumat, 30 April 2010

Memahami Sengketa Amerika-Israel Saat Ini

Memahami Sengketa Amerika-Israel Saat Ini

Oleh: Adnan Khan

Memburuknya hubungan antara Amerika Serikat dan Israel saat ini telah menyebabkan banyak analis untuk meninjau kembali pendapat mereka mengenai hubungan AS-Israel. Hubungan erat antara AS dan Israel telah menjadi salah satu ciri yang paling menonjol dalam kebijakan luar negeri AS selama hampir tiga setengah dekade. Uang senilai $ 3 miliar bentuk bantuan militer dan ekonomi digelontorkan setiap tahunnya kepada Israel dengan Washington dan masalah ini jarang dipertanyakan di Kongres, bahkan oleh kaum liberal yang biasanya menentang bantuan AS kepada pemerintah yang terlibat dalam pelanggaran luas hak asasi manusia, atau oleh kaum konservatif yang biasanya menentang bantuan luar negeri pada umumnya. Hampir semua negara-negara Barat berbagi dengan Amerika Serikat dalam memberikan dukungan kuat bagi hak-hak Israel untuk hidup dalam perdamaian dan keamanan. Amerika sering kali berdiri sendiri bersama Israel di PBB dan forum-forum internasional lainnya bila ada keberatan yang diajukan atas pelanggaran-pelanggaran Israel yang terus-menerus yang terkait hukum internasional.

Ini sebabnya kejadian ini telah mengejutkan banyak pihak dan membuat heran banyak orang lain. Perselisihan ini pecah ketika pemerintahan Netanyahu mengumumkan akan membangun 1.600 rumah bagi orang Yahudi di Yerusalem Timur di wilayah Palestina. Hal itu diumumkannya selama kunjungan Wakil Presiden Amerika Biden Israel yang bermaksud untuk mendorong proses perdamaian. Washington mengkritik tindakan itu sebagai penghinaan dan menuntut bahwa Israel membatalkan keputusan itu. Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menyerukan kepada Israel untuk bekerja ke arah perbaikan hubungan dengan Amerika Serikat dengan memperlihatkan melalui tindakan nyata bahwa Negara itu “berkomitmen untuk memperbaiki hubungan ini untuk proses perdamaian.” Israel menutupi permintaan maafnya dengan menegaskan bahwa pengumuman program pembangunan perumahan yang baru itu adalah kesalahan teknis yang tidak bermaksud untuk melakukannya.

Untuk memahami bila masalah ini adalah penting, dalam arti bahwa hal itu akan mengubah arah hubungan AS-Israel; hal-hal yang berikut perlu dipahami:

- Sejak terjadinya Perang Enam Hari tahun 1967, Israel telah membangun pemukiman di Palestina dan bahkan ketika diperingatkan Negara itu terus melakukannya. Israel mengakui instruksi-instruksi Amerika tapi pada dasarnya ia bermain mata dengan AS dalam hal pelaksanaannya.

- Kadang-kadang Amerika dapat bergerak maju pada solusi dua negara, telah terus-menerus dipaksa untuk berurusan dengan isu-isu yang lebih mendesak yang berarti bahwa Israel telah berusaha untuk secara sepihak menentukan fakta demografis dan geografis di wilayah Palestina dengan pembangunan pemukiman dan pelanggaran wilayah Palestina yang semakin jauh. Amerika berkomitmen untuk melindungi Israel, menjamin keamanan dan mengamankan nya dan memastikan standar hidup yang makmur bagi orang Yahudi yang tinggal di sana. Hilary Clinton menegaskan hal ini dalam sambutannya untuk AIPAC saat ia menggambarkan pemerintahan Obama sebagai “teman tak tergoyahkan bagi Israel.”

- Amerika menolak untuk mengizinkan Israel untuk berbagi pengaruhnya di wilayah itu. Dalam rangka mencegah ekspansi Israel dan penyebaran pengaruh Israel di kawasan itu, kebijakan Amerika telah didasarkan pada upaya untuk mengisolasi Israel dari wilayah itu dalam upaya mengurangi dan meminimalkan perannya dalam penyelesaian masalah Palestina dan isu-isu Timur Tengah lainnya. Kebijakan Amerika berpusat di sekitar pembentukan negara Palestina sebagai instrumen penjaganya; dengan membangun jaminan internasional dan dengan membawa pasukan multinasional yang akan ditempatkan di sepanjang perbatasan antara Israel dan negara-negara Arab tetangganya- Yordania, Suriah, Mesir dan Negara Palestina di masa depan. Kebijakan Amerika juga telah didasarkan pada usaha menuju internasionalisasi Yerusalem, karena Amerika melihat internasionalisasi Yerusalem ini sebagai solusi terhadap krisis sensitif Yerusalem yang akan menyenangkan orang-orang Kristen dan menjamin kehadiran Amerika yang kuat melalui PBB.

- Israel mengetahui hal ini dan telah mengambil keuntungan dari kesibukan Amerika di wilayah-wilayah lain dan mencoba untuk secara sepihak menentukan penyelesaian akhir, melalui pembangunan berbagai permukiman. Partai Likud yang telah menjadi kekuatan partai yang berkuasa pada sebagian besar sejarah Israel belakangan berusaha untuk secara sepihak menentukan perbatasan dengan membangun permukiman dan mengusir umat Islam, namun Israel masih membutuhkan Amerika untuk penyelesaian akhir dan untuk alasan-alasan ini telah mengorganisir lobi di Amerika dan media-media dunia untuk mencapai hasil yang menguntungkan. Upaya untuk mencapai Eratz Israel (Tanah Israel) adalah rumit karena adanya fakta bahwa partai Buruh di Israel percaya dalam menyerahkan lahan untuk perbatasan yang permanen, mereka percaya ini adalah harga yang layak dibayar untuk keamanan yang dibutuhkan.

- Israel melindungi kepentingan Amerika di kawasan melalui dimilikinya keseimbangan kekuatan militer yang menguntungkannya yang terus menguras tenaga dan emosi umat. Israel diciptakan oleh Inggris untuk memastikan tetap terpecahnya umat dan terus-menerus bisa terkuras tenaganya dalam perjuangan tanpa henti melalui perpanjangan tangan Barat. Inilah sebabnya mengapa Israel akan selalu dibanjiri dengan teknologi militer dan bantuan keuangan. Pada saat berdirinya Khilafah Israel tidak lagi berguna. Israel adalah aset strategis yang penting bagi Amerika, karena Israel sejak awal telah melakukan sesuatu yang diluar kemampuannya dan berusaha membangun sebuah citra - meskipun itu adalah lemah, dan bahwa Amerika membutuhkan Israel.

- Baik Obama maupun Netanyahu berada di posisi yang relatif lemah di dalam negeri. Harapan Obama akan perubahan telah lenyap dengan adanya realitas yang mencolok atas krisis keuangan global yang telah menghentikan ekonomi Amerika. Obama telah terlihat lemah dalam menghadapi ancaman Iran walaupun dengan sanksi-sanksi dan pertemuan-pertemuan puncak telah disusun tapi kemudian telah gagal terwujud. Perhatian Obama berada pada penarikan pasukan di Irak, yang masih terganggu oleh banyak ketidakpastian dan setiap kegagalan yang terjadi di sana akan sangat menghambat prospeknya dalam pemilihan presiden tahun 2012. Oleh karena itu proses perdamaian sebenarnya adalah satu-satunya proyek Obama yang dapat digunakan untuk membuktikan kepercayaan atasnya dalam suatu kondisi di mana dia menghadapi banyak rintangan untuk membuat kemajuan yang berarti.

- Di sisi lain, Netanyahu merupakan bagian dari pemerintahan koalisi yang dipenuhi oleh kaum garis keras, yang membuat dia terlihat sebagai seorang moderat. Orang Israel terus khawatir tentang jangkauan Obama atas Iran dan dunia Muslim. Sikap keras Netanyahu mengenai pembangunan pemukiman adalah untuk konsumsi dalam negeri karena posisinya yang lemah, sehingga dia perlu menunjukkan bahwa ia telah mengambil sikap yang kuat demi kepentingan nasional Israel.

- Israel telah sangat efisien dalam mempengaruhi kebijakan Amerika. Amerika mengorganisir Timur Tengah pada banyak isu-isu, dan Amerika dan Israel memiliki kebijakan yang sama. Israel seperti seorang anak manja yang akan terus menentang orang tuanya dari waktu ke waktu dan Amerika akan bersikap waspada pada Israel yang merongrong kepentingan Amerika di kawasan itu. Israel tidak mempunyai kecenderungan untuk berbuat lebih banyak dari hal itu dan Amerika tidak ingin merusak aset strategisnya itu di kawasan itu. Ketika Amerika memutuskan untuk bergerak maju dengan tujuan-tujuannya di kawasan itu, Negara itu akan memaksakan hal ini pada Israel, sehingga diharapkan Israel akan terus melanjutkan langkah-langkah arogannya karena alasan-alasan dalam negeri.

Perselisihan saat ini sama sekali tidak mengubah kecenderungan mendasar antara Amerika dan Israel, karena Israel melindungi kepentingan Amerika di kawasan itu, sebagai balasannya Amerika Serikat kembali memberikan Israel standar hidup dan kesejahteraan, dimana Israel akan selamanya tergantung padanya. Dengan cara ini Amerika telah mengaitkan nasib bangsa Israel dengan kepentingan Amerika. Otoritas Palestina, Presiden Mahmoud Abbas dan apa yang disebut sebagai pemerintahannya, yang suka menggambarkan citra otonomi dan kemerdekaan, hanyalah sekadar penonton atas peristiwa-peristiwa ini, yang tidak mampu mempengaruhi apalagi menentukan kepentingan warga Muslim di Palestina. Dukungan Amerika bagi pemerintah Israel, seperti juga dukungan Amerika kepada sekutu-sekutunya di tempat lain di dunia, tidaklah didorong oleh kebutuhan akan keamanan objektif atau komitmen moral yang kuat bagi Negara itu. Sebaliknya, seperti juga di tempat-tempat lainnya, kebijakan luar negeri Amerika terutama termotivasi untuk memajukan kepentingan strategisnya sendiri.

sumber : Khilafah.com (25/3/2010)

Tidak ada komentar: